
Siska terdiam, terlihat bingung harus menjawab apa. Melihat hal tersebut, Nanra menarik jubah Odo untuk membuat pemuda itu menoleh. Dengan suara lirih gadis itu berkata, “Mbak Siska dan para pengajar di sini semuanya orang puritan, loh. Mereka tidak bekerja dan fokus mengabdi ....”
“Ah ....”
Odo sesaat terdiam, kembali menatap ke arah Siska dan sedikit menarik napas dengan berat. Ia mengerti pola kehidupan orang puritan yang cenderung mengandalkan dana dari sumbangan atau anggaran pemerintah. Kebanyakan tempat religius memang seperti itu, hal tersebut memang wajar dalam lingkup masyarakat.
“Kalau pekerjaan yang Tuan maksud itu untuk mencari uang, kami tidak melakukannya. Bagi kami itu dilarang ....” Siska menjalin jemari di depan dada, lalu dengan penuh keikhlasan menjelaskan, “Namun, kami sering menerima permintaan untuk menyembuhkan penyakit atau luka para pemburu. Dari itu, kami biasanya mendapat balasan yang setara ....”
Odo tersenyum tipis saat mendengar itu, menggaruk pipi kirinya sendiri dan dalam benak berkata, “Ukhti, oh ukhti .... Rajin banget sama ajarannya ....”
“Hiiiik ....” Suara guntur tiba-tiba terdengar dari langit, membuat biarawati tersebut menunduk terkejut dan mengeluarkan suara seperti kuda yang ekornya ditarik. Sadar mengeluarkan suara memalukan di hadapan Odo, wajahn Siska seketika memerah dan segera berbaling.
“Boleh tanya satu hal lagi? Tingkat sihir pemulihan yang digunakan di tempat ini sihir apa? Kalau boleh, namanya saja ....”
“E-Eng? Sihir pemulihan ...? Pengguna sihir pemulihan paling ahli adalah Pak Pendeta Andreass, beliau bisa menggunakan sihir khusus Druid, Blood Potion.”
Odo sekilas terkejut ada pendeta kota yang bisa menggunakan sihir unik semacam itu. Druid sendiri merupakan salah satu Kasta pengguna sihir yang fokus pada bidang pemulihan dan penyembuh penyakit, mereka cenderung lebih mengandalkan ramuan dan bahan-bahan alami dalam prakteknya, disebut juga gelar lanjutan dari seorang tabib. Dari semua kemampuan orang-orang yang sampai pada kasta Druid, ada kalanya terjadi kasus unik dimana darah mereka bisa berubah menjadi sebuah obat karena terlalu sering mencicipi ramuan saat meracik Potion atau obat-obatan. Itulah yang dimaksud dengan Blood Potion, darah mereka bisa berfungsi sebagai ramuan pemulih yang mujarab.
Odo tidak terlalu memikirkan hal tersebut dalam-dalam, karena pada dasarnya tubuhnya juga memiliki karakteristik mirip seperti Blood Potion setelah menerima beberapa benih Pohon Suci dari Reyah. Menatap ramah Siska, pemuda itu kembali bertanya, “Kalau Mbak Siska sendiri, sihir apa yang paling Mbak Siska kuasai?”
“Eng, saya tidak terlalu ahli sihir pemulihan, keahlian saya cenderung pada sihir cahaya yang bersifat destruktif,” jawab perempuan itu dengan sedikit malu. Sihir cahaya destruktif sama dengan sihir ilahi untuk pertarungan, dengan kata lain ia bisa digolongkan ke dalam Cleric yang merupakan orang puritan yang bertarung di garis depan saat perang.
Sekilas suasana berubah senyap, hanya ada suara hujan dan gemuruh yang terdengar. Berusaha tidak membahas hal tersebut karena dirasa kurang penting, Odo langsung berkata, “Kalau begitu, aku pergi dulu .... Ada hal yang harus aku lakukan.”
“Eh? Tapi ....” Siska sedikit heran, ia berhenti menjalin jemari dan bertanya, “Sekarang sedang hujan deras. Tidak masuk dulu?”
“Gak usah, aku ingat ada keperluan penting.”
“A-Aku juga, aku pergi dulu, Mbak Siska,” sambung Nanra.
Mendengar itu, Odo memegang lengan bahu pakaian gadis itu dan menariknya keluar. Menghadapkan anak itu kepada Siska, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kau tinggal di sini, sana belajar!”
“E-Eh? Odo ....” Nanra menoleh, wajahnya memucat dan terlihat sangat enggan untuk tinggal. Dengan suara pelan ia berkata, “Aku ikut, ya. Kalau tinggal, nanti aku dimarahi.”
“Eng, aku ada perlu sendiri. Mengajakmu rasanya bakal canggung nanti. Kau di sini saja.”
Odo mendorong Nanra supaya mendekat ke Siska, lalu mengambil karung berisi dedaunan yang ia letakkan di lantai dan melangkah keluar dari teras Gereja Utama. Ia berdiri di bawah hujan deras, namun saat butiran-butiran air akan jatuh ke tubuh pemuda itu, sebuah pelindung tak kasatmata menepis semua air yang turun. Itu seperti tembok udara berbentuk kubah, samar-samar terlihat di tengah hujan.
Untuk sesaat Siska dan Nanra terkejut melihat hal tersebut, apa yang Odo gunakan adalah sihir yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Namun segera memaklumi hal tersebut karena pemuda itu merupakan anak dari salah satu Ahli Sihir terbaik di Kerajaan Felixia, Siska segera fokus ke Nanra dan berkata, “Nanra ..., ayo masuk.”
“Ta-Tapi, aku juga harus ....”
“A!Yo! Ma! Suk!”
“Ba-Baiklah ....”
««»»
Di dalam hujan deras, pada salah satu persimpangan jalan seorang wanita rambut pirang berjalan dengan ekspresi cemas. Ia tidak memedulikan hujan yang turun, ataupun pakaiannya yang basah dan kotor karena lumpur. Ditemani perempuan rambut cokelat kehitaman yang mengikutinya di belakang, sang Penyihir Cahaya terus berjalan dari satu jalan ke jalan lain mencari Odo Luke.
Mengingat apa yang putranya lakukan kemarin malam, Mavis semakin cemas dan dalam benak ia mulai ingin menangis saking cemasnya. Bayangan-bayangan buruk terngiang dalam kepala, membuatnya semakin lemas dan langkah kakinya mulai melambat.
“Nyonya, sebaiknya kita kembali dulu .... Kalau seperti ini, anda bisa sakit,” ucap Fiola sembari berjalan mengikuti wanita rambut pirang tersebut.
“Aku takkan kembali sebelum menemukannya! Kita sudah membuang banyak waktu karena terjebak kerumunan di dekan toko, bisa saja Odo sekarang sedang membahayakan nyawanya lagi ....”
“Paling tidak .... Kita pakai payung atau semacamnya.”
“Itu hanya akan memperlambat!” Mavis menghentikan langkah kaki, menghadap kesal Fiola dan membentak, “Sebenarnya kamu ingin membantuku mencarinya atau tidak? Kau sadar kalau hawa keberadaannya tiba-tiba menghilang, ‘kan? Kau bahkan tidak bisa mendeteksinya lagi dengan Mata Batin! Pasti telah terjadi sesuatu padanya!”
“Te-Tetap saja .... Kalau Nyonya mencarinya dengan cara seperti ini, itu hanya akan membuat anda sakit.”
“Diriku tak peduli, asal putraku—!”
Perkataan Mavis terhenti, wajahnya dengan cepat berseri saat melihat pemuda yang berjalan di tengah hujan ke arah distrik perniagaan. Melihat perubahan ekspresi itu, Fiola menoleh ke belakang dan seketika memasang wajah kesal saat melihat Odo Luke berjalan santai memanggul karung di tengah hujan.
Tanpa memedulikan Fiola, wanita rambut pirang itu segera berlari ke arah putranya dan memanggil, “Odo! Putraku ...!”
Mendengar suara yang memanggilnya, Odo menoleh dan sedikit terkejut karena tidak merasakan hawa keberadaan ibunya tersebut. Mavis dengan haru terus berlari, meski lambat karena ia sedang mengenakan gaun panjang dan jalan yang dilalui becek. Namun saat hendak memeluk putranya tersebut, wanita itu menabrak sebuah dinding tak terlihat di dekatnya.
Melihat hal itu Fiola menahan tawanya mati-matian, sedangkan Odo sendiri menatap bingung mengapa mereka berdua bisa ada di tempat seperti itu. Baru sadar bahwa dinding utara tak kasatmata yang dipasangnya bisa menghalangi hawa keberadaan, pemuda itu sedikit memalingkan pandangannya dengan rasa bersalah.
.
.
.
.
Ordoxi Nigrum, pada lantai satu bangunan toko tersebut semua anggota perusahaan berkumpul, kecuali Arca dan kedua anak buahnya yang sedang ada urusan di tempat orang-orang serikat dagang. Pada ruangan dengan pencahayaan lampu kristal, suasana terasa berat karena tatapan kesal dari seorang wanita yang duduk pada salah satu meja mejanya.
Setelah terpeleset dan jatuh di genangan air berlumpur, Mavis Luke digendong Odo kembali ke tempat tersebut untuk membersihkan tubuhnya. Pakaian yang wanita rambut pirang itu pakai sekarang adalah milik Isla yang baru saja dibeli, sebab memang ia tidak membawa pakaian lain untuk ganti. Namun, bukan hal tersebut yang membuatnya terlihat kesal.
Melihat Odo bertingkah biasa-biasa saja dan memberi arahan kepada orang-orang di tempat itu, Mavis merasa seperti orang bodoh yang terlalu protektif pada anaknya sendiri. Sembari memegang secangkir gelas teh herbal hangat, ia menatap tajam ke arah putranya yang duduk pada meja yang berbeda.
Bernasib hampir sama seperti tuannya, Fiola juga mengganti pakaiannya dengan gaun cokelat polos yang dipinjam dari salah satu anak buah Odo. Ia memegang gelas berisi teh herbal hangat, menatap jengkel pemuda rambut hitam yang selalu membuat ulah tersebut.
“Selain Arca dan kedua Butler itu, semuanya sudah menyelesaikan urusan kalian, ‘kan?” tanya Odo kepada orang-orang yang berdiri menghadapnya. Tidak seperti Mavis dan Fiola, ia tak perlu mengganti pakaian berkat pelindung udara tak kasatmata yang dirinya pakai saat berjalan di tengah hujan meski pada bagian punggung terlihat sedikit basah.
“Hmm, kurang lebih semuanya selesai, Tuan Nigrum,” jawab Totto mewakili anggota keluarganya.
Melihat ke arah Matius, pemuda rambut hitam itu kembali bertanya, “Apa permintaanku juga sudah? Semuanya sudah dipungut?”
“Itu ....” Matius ragu untuk menjawab, ia sedikit mendongak ke atas dan berkata, “Untuk semua senjata yang ada di tempat itu sudah saya ambil dan sekarang ada di loteng, namun untuk tenda dan semacamnya ....”
“Ah, ruangnya tidak ada, ya?”
“Hmm ....” Pemuda rambut pirang itu kembali menatap Odo, lalu dengan cemas menjawab, “Saya tidak mengambilnya dan masih di hutan.”
“Kurasa tak masalah ....”
Odo sekilas terdiam, memegang dagu dan memikirkan beberapa hal lainnya. Memejamkan mata sesaat dan menyimpulkan dalam benak, ia mengambil karung berisi dedaunan yang ia cari di hutan dan meletakkannya ke atas meja. Membuka pengikat dan menunjukkan isinya, pemuda itu mengambil salah satu daunnya.
Dengan lihai, pemuda itu mulai membentuk daun jati hijau tersebut menjadi sebuah wajah. Menunjukkan itu kepada Elulu dan para perempuan, ia bertanya, “Apa kalian bisa membuat yang seperti ini? Aku ingin membuat daun-daun ini untuk wadah jualan nanti.”
Mereka memang tahu wadah daun jati yang Odo buat itu sering digunakan oleh para pedagang ikan asap, namun bukan berarti mereka bisa membuatnya, apalagi dengan bentuk serapi yang ada di atas telapak tangan pemuda itu. Seling menatap satu sama lain, Elulu dan keluarga Demi-human bingung harus menjawab apa. Mereka sedikit takut untuk berkata tidak setelah melihat jumlah daun yang Odo kumpulkan dalam karung.
“Jangan memasang wajah seperi itu.” Odo sedikit tersenyum tipis. Ia meletaknya wadah daun jati ke atas meja, lalu melepaskan jubahnya dan melipatnya rapi untuk diletakkan ke atas pangkuan. Sembari mengambil daun jati lagi, ia kembali membuat wadah dan berkata, “Kalau tidak bisa, kalian tinggal belajar. Tidak ada salahnya mencoba hal baru, lagi pula ini mudah, kok.”
Meski ragu mengisi benak Elulu, Ritta, Mattari, dan Isla, mereka memutuskan untuk mencoba dan ikut duduk pada meja yang sama dengan Odo. Masing-masing dari mereka mengambil satu daun jati, mengamati dengan seksama saat pemuda itu membuat wadah lain dan berusaha meniru. Satu sampai lima percobaan mereka gagal dan daunnya sobek, namun pada percobaan keenam Elulu pertama kali berhasil.
Pada percobaan berikutnya, Isla berhasil, lalu terus mencoba dan mencoba sampai mereka semua berhasil. Tidak butuh waktu sampai satu jam, semua perempuan yang berusaha menantang hal baru tersebut menguasai pembuatan wadah sederhana itu, bahkan Sittara yang masih anak kecil mulai bisa membuat wadah meski masih tidak rapi. Hal itu terlihat mudah, namun tidak sepenuhnya mudah karena butuh hasrat untuk memulai hal baru.
Saat mereka sudah bisa membuatnya sendiri tanpa contoh, Odo beranjak dari tempat dan memberikan tempat duduknya kepada si kecil Sittara karena dari tadi ia berdiri. Menarik napas dengan sedikit resah, ia melirik ke arah Mavis yang selama satu jam lebih terus menatap tajam ke arahnya.
“Jangan marah terus seperti itu dong, Bunda ....”
Mendengar itu Elulu dan orang-orang yang sedang membuat wadah jati tersentak, tangan mereka terhenti dan persepsi mereka kembali menyadari keberadaan sosok Penyihir Cahaya. Matius yang duduk pada meja berbeda dan sedang meminum teh herbal tersedak, keringat bercucuran dan perlahan menoleh. Totto yang duduk bersama mantan bandit itu pun ikut gemetar, melirik kecil tanpa berani menoleh.
“Be-Beliau benar-benar Lady Mavis yang terkenal itu, ya?” tanya Matius.
“Hmm?” Odo menatap pria bermata Heterochromia tersebut, lalu balik bertanya, “Aku kira kalian sudah tahu itu?”
“Memang, sih ....” Matius memalingkan pandangan, penuh rasa bingung dan dalam benak bertanya-tanya mengapa orang sepenting itu menatap putranya sendiri dengan sangat kesal.
Mavis kembali mengangkat gelasnya, meminum teh herbal yang sudah dingin dan berkata, “Kamu sangat akrab dengan mereka ya, Putraku.”
“Eng?” Odo menatap, tersenyum kecil dan menjawab, “Tentu saja akrab, mereka sudah cukup mendapat kepercayaanku. Kalau tidak, mana mungkin aku mempekerjakan mereka.”
Mavis menggertakkan gigi, meletakkan gelasnya dengan keras ke meja dan mimik wajahnya bertambah kesal. Seakan memang menghiraukan hal tersebut, pemuda itu kembali memakai jubahnya dan berkata, “Ah, apa Bunda kedinginan? Tadi hujan-hujanan, sih.”
Suasana menjadi senyap, perkataan tersebut seakan menyiram api dengan bensin. Fiola langsung menatap kesal, ingin segera bangun dan menegur pemuda rambut hitam itu. Namun anehnya, Mavis malah terdiam dan menatap heran putranya.
Merasakan suasana yang ada di dalam ruangan, wanita rambut pirang itu memang merasa tempat yang Odo bangun bukanlah hal yang buruk. Terasa hangat, penuh rasa percaya satu sama lain dan terasa hidup. Melihat putranya yang tadi terasa lebih banyak bicara daripada saat berada di Mansion, rasa iri sendikit muncul dalam benak wanita berparas cantik itu.
Dengan suara yang terdengar lembut bagi kebanyakan orang, Mavis menatap sendu dan bertanya, “Kamu habis melakukan apa memangnya?”
“Tadi pagi aku pergi ke hutan cari daun, lalu lanjut memasang pengamanan di kota ini dan beberapa persiapan,” jawab Odo Luke dengan ringan.
“Apa ... itu ada hubungannya dengan kejadian tadi malam?”