Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 61 : Aswad 8 of 15 “To know who I am” (Part 03)



 


 


 


 


««»»


 


 


Matahari mulai terbit, sebuah hari cerah menyambut kota yang terletak pada salah satu pesisir laut wilayah Luke, Kerajaan Felixia. Pada panti asuhan Inkara yang berada tak jauh dari pelabuhan kota, anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana telah memulai kegiatan mereka bahkan sebelum matahari muncul di ujung cakrawala.


 


 


Anak laki-laki memotong kayu dari gudang untuk perapian, sedangkan anak perempuan pergi mencuci pakaian ke kanal buatan di pinggiran kota. Untuk anak-anak kecil yang belum bisa mengerjakan pekerjaan berat, mereka membantu sang biarawati untuk menyiapkan sarapan di dapur. Keseharian seperti itulah yang menjadi rutinitas mereka pada hari-hari biasa di musim semi.


 


 


Pada halaman panti asuhan, Daniel — Seorang anak laki-laki berambut kecokelatan dengan mata merah darah terlihat baru saja selesai memotong kayu bakar. Sesudah meletakkan kapak ke gudang, ia kembali ke halaman depan untuk mengikat kayu-kayu dengan tali akar dan akan dibawanya ke dapur untuk bahan bakar perapian.


 


 


“Daniel, Firkaf ke mana? Kok malah sendirian?” tanya Nesta yang baru saja kembali setelah mencuci di kanal.


 


 


Ia adalah seorang anak perempuan rambut cokelat dengan ikat kepang tunggal, matanya berwarna biru cerah dan memiliki kulit sedikit pucat. Sembari membawa keranjang penuh berisi pakaian yang baru saja dicuci, ia membuka pintu pagar dengan kaki dan melangkah masuk ke halaman. Melihat ke kanan dan kiri, Nesta kembali bertanya, “Apa dia kabur lagi?”


 


 


Setelah mengikat kayu bakar dan memanggulnya, Daniel memasang wajah cemberut dan menjawab, “Aku kira dia ikut kamu. Kalau tidak, berarti Firkaf langsung ke tempat pantai besi itu lagi. Kemarin dia katanya ada pelajaran penting yang tak boleh dilewatkan, sih.” Tanpa menjelaskan lebih lanjut, anak laki-laki tersebut melangkah ke arah pintu masuk panti asuhan.


 


 


“Kalau Nanra?” tanya Nesta kembali.


 


 


“Ah, kali ini sangat jarang sekali dia tidak kabur.” Daniel terhenti, menoleh ke arah Nesta dan kembali berkata, “Nanra sedang membantu Kak Sisika di dapur. Kakak sepertinya tadi malam pulang kemalaman. Dia bangun kesiangan dan telat buat sarapan.”


 


 


“Wah, tumben sekali Kak Siska kesiangan.”


 


 


Daniel sedikit mengerutkan keningnya. “Bukannya kau yang bangunnya paling dulu? Kalau lihat Kak Siska masih tidur, kenapa gak dibangunkan?” ucapnya ketus.


 


 


Nesta memalingkan pandangan, lalu dengan nada bergurau menjawab, “Aku juga sekarang sedang buru-buru hari ini. Setelah selesai menjemur, aku harus segera pergi ke Gereja Utama karena mendapat panggilan untuk datang kemarin.”


 


 


“Hmm, kamu sudah diterima jadi Biarawati, ya?”


 


 


“Enggak, belum!” Nesta mendapat kesal dan merasa pertanyaan tersebut merupakan sebuah sindiran. “Aku hanya disuruh membantu upacara pembaptisan akhir bulan ini,” jelasnya dengan nada menggerutu.


 


 


“Ah ....” Mendengar hal tersebut, Daniel sedikit teringat dengan usia si kembar Mila dan Erial. Menyadari sesuatu, kedua matanya terbuka lebar dan berkata, “Benar juga! Mereka berdua sekarang usianya sudah menyentuh tujuh tahun, ‘kan?”


 


 


Sembari berjalan ke tempat jemuran di halaman samping, Nesta sedikit tersenyum kecil dan berkata, “Baru sandar? Usia mereka sekarang sudah tujuh tahun. Bagi anak-anak yatim yang tak tahu kapan tanggal lahirnya, pada awal tahun biasanya ditetapkan sebagai tanggal lahir mereka.” Meletakkan keranjang rotan berisi kain cucian, Nesta mulai menjemur pada tempat jemuran yang ada di halaman samping. Sembari memeras kain-kain basah sebelum dijemur, ia kembali menjelaskan, “Pada usia tujuh tahun anak-anak akan melakukan pembaptisan untuk menyucikan mereka, lalu pada usia dua belas tahun mereka akan melakukan pembaptisan kedua untuk upacara kedewasaan.”


 


 


“Ngomong-omong, aku sudah dibaptis belum ya?” Daniel memalingkan pandangannya dan menatap ke arah langit fajar dengan ragu. Kembali melihat ke arah Nesta, anak laki-laki itu berkata, “Aku sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan sebelum ke tinggal di sini, aku ....”


 


 


“Bukannya kau dan aku sudah dibaptis?” Nesta sekilas melirik, lalu dengan ramah berkata, “Kau tahun kemarin dan aku kemarinnya lagi. Pada awal setiap pertengahan musim semi, di sekitar awal tahunan seperti ini.”


 


 


“Bukan Upacara Kedewasaan supaya kita diperbolehkan mulai belajar pada magang pada pekerjaan kita, tapi yang awal,” ucap Daniel seraya menundukkan kepala di depan pintu masuk.


 


 


Melihat ekspresi muram tersebut, sekilas Nesta sedikit cemas. Daniel memang anak yang riang dan penuh semangat, namun kadang-kadang aura gelap seperti itu nampak saat dirinya membahas masa lalu. “Menurutku sudah,” ucap Nesta seraya kembali menurunkan kain yang hendak dijemur kembali ke keranjang.


 


 


Ia sejenak berhenti menjemur pakaian, menatap ke arah salah satu anak panti asuhan yang sudah dirinya anggap bagaikan adik kandung itu dan mulai melemparkan senyum ringan. “Kau datang ke sini setelah usia lebih dari tujuh tahun, wajarnya sudah, bukan?” ucapnya seraya berjalan ke arah Daniel.


 


 


Anak laki-laki itu menghadap ke arah Nesta, hendak menyanggah namun seketika perkataan terhenti ketika melihatnya berjalan mendekat. Berdiri di hadapan Daniel, Nesta menempelkan keningnya ke kening anak laki-laki bermata merah tersebut.


 


 


Itu sempat membuat anak laki-laki itu terkejut dan hampir menjatuhkan kayu bakar yang dipanggul. Namun merasakan kehangatan yang aneh, ia sejenak memejamkan mata dan merasa tidak masalah pada hal semacam itu.


 


 


Daniel sedikit berbeda dengan anak-anak lain yang tinggal di panti asuhan. Berbeda dengan mereka yang memiliki masa lalu untuk dijadikan fondasi dan alasan hidup, atau juga dengan si kembar Mila dan Erial yang terlalu kecil untuk bisa mengingat apa saja yang telah dilalui mereka sebelum sampai ke panti asuhan, Daniel tidak ingat masa lalunya.


 


 


Kapan dirinya lahir, siapa kedua orang tuanya, atau berasal dari mana ia, hal-hal semacam itu sama sekali tidak dirinya ingat. Apa yang Daniel tahu, pertama kali dirinya terbangun ia berada di hutan pepohonan cemara dan pernah diselamatkan oleh seorang prajurit dari keributan yang disebabkan para bandit. Sebab itulah itu bercita-cita ingin menjadi seorang prajurit dan mengagumi profesi tersebut.


 


 


Memang Daniel pernah diberitahukan kalau ia dulunya adalah anak seorang pedagang yang dirampok oleh para bandit di hutan. Kehilangan ingatan karena trauma berat dan benturan keras di kepala. Namun setelah mentalnya mulai pulih dan mendengar semua itu langsung dari Siska dan prajurit yang menolongnya, hal tersebut tetap sama sekali tidak memicu ingatan Daniel kembali seakan memang semua itu bukan miliknya.


 


 


Daniel membuka matanya, melangkah mundur dan berkata, “Terima kasih, Nesta.” Memasang senyum tegar, anak laki-laki yang bercita-cita menjadi seorang prajurit itu dengan semangat berkata, “Jangan cemas! Seorang pria seperti diriku ini tidak akan goyah hanya karena hal semacam itu! Entah tidak punya masa lalu atau apa! Asalkan ada ingatan bersama kalian, diriku akan selalu kuat!”


 


 


“Huh!” Nanra mengendus ringan, segera berbalik dan meledek, “Siapa yang mencemaskan orang bodoh sepertimu!”


 


 


“Bukannya bodoh itu berlebihan?” Daniel sedikit cemberut, memalingkan pandangan dan dengan tidak percaya diri berkata, “Aku tak terlalu bodoh, loh.”


 


 


“Kalau kau sesemangat itu, setelah menaruh kayu bakar di belakang bantu aku menjemur, ya!


 


 


“Eeeeh?” Daniel memasang wajah enggan. Namun saat sekilas melihat ekspresi Nesta yang sedikit muram, anak laki-laki mata merah darah itu bertanya, “Kita jarang membahas hal seperti ini, tapi kau datang ke tempat ini lebih dulu dariku, ‘kan? Saat usia berapa? Dari mana?”


 


 


 


 


Dalam rasa heran, sekilas Daniel tertegun melihat ekspresi dan perkataan yang terkesan sangat berbeda dari Nesta yang biasanya. Ketika ia hendak bertanya, tiba-tiba pintu panti asuhan terbuka dan mendorongnya dengan kuat sampai tersungkur ke depan. Kayu yang dipanggulnya jatuh berserakan, talinya lepas dan beberapa menimpanya. Nesta sempat menoleh dengan cemas mendengar suara keras kayu berjatuhan.


 


 


Namun ketika melihat itu ulah kecerobohan Nanra yang membuka pintu tanpa bilang-bilang dan membuat Daniel tersungkur, senyum mulai nampak pada wajah Nesta yang sebelumnya sekilas muram.


 


 


“Maaf, Daniel .... Aku tak tahu ada kau,” ucap Nanra dengan tatapan datar. Ia sama sekali tidak ada niat membantu Daniel membereskan kayu-kayu yang berserakan.


 


 


Selesai mengumpulkan kembali semua potongan-potongan kayu dan mengikatnya, Daniel menatap kesal sampai kedua alisnya hampir menyatu ke tengah. Ia menunjuk Nanra dan membentak, “Paling tidak bantu aku membereskannya! Malah berdiri doang!”


 


 


Tak mengindahkan hal tersebut, Nanra malah memalingkan wajahnya dan meledek, “Kau laki-laki, ‘kan? Jangan berisik soal hal sepele seperti itu, paling tidak coba tiru sikap Tuan Odo yang pemurah.”


 


 


“He~eh~?” Daniel menatap curiga, merasa kalau hubungan Nanra dengan anak Marquess tersebut semakin dekat. “Kau juga sering pulang sore sejak Tuan Muda itu membangun toko di distrik perniagaan itu, ‘kan? Memangnya apa saja yang kalian lakukan?” tanyanya dengan nada meledek.


 


 


Sembari meninggikan dagu dan membusungkan dada, Nanra dengan bangga berkata, “Sesuatu yang hebat! Itu bukan urusanmu! Kau bekerja saja layaknya orang gila otot, dasar dungu.”


 


 


Kening Daniel sedikit mengerut, lalu dengan kesal ia menggerutu, “Kalian berdua seenaknya bilang begitu, ya? Hatiku bisa-bisa patah, nih.”


 


 


“Kalian?” Nanra segera melihat ke arah halaman samping di mana Nesta sedang menjemur. Rasa tak enak mulai muncul dalam benaknya dan segera menawarkan, “Mau aku bantu, Nesta?”


 


 


“Tak perlu,” belas Nesta seraya berbalik ke arah mereka berdua. Memasang wajah cengengesan, ia terlihat berusaha keras menahan tawa. Memalingkan pandangan, Nesta dengan tawa yang sedikit bocor bertanya, “A ... Eng, kau banyak berubah, ya? Apa terjadi sesuatu? Itu, sampai memakai pakaian yang tak cocok untukmu seperti itu?”


 


 


“Eh? Tak cocok?”


 


 


Apa yang Nanra kenakan sekarang adalah kemeja putih yang cukup kedodoran pada bagian dada, sedangkan untuk bawahannya adalah rok hitam panjang sampai mata kaki. Pada pinggang melingkar tali singel dan sebuah dasi pita merah sebagai pernik tambahan di dada, lalu pada kedua kakinya mengenakan sepasang sepatu kulit dengan alas kayu.


 


 


Hanya dengan sekali lihat, Nesta langsung tahu kalau apa yang dikenakan oleh gadis rambut putih keperakan tersebut adalah pakaian dan sepatu milik Biarawati Siska saat masih kecil.


 


 


Selesai menjemur pakaian terakhir dari keranjang, Nesta meletakkan ujung telapak tangan ke depan mulut dan menyinggung, “Yah, bagaimana bilangnya. Biasanya ‘kan kamu cuma pakai celana panjang sama gaun tunik doang, sih.”


 


 


Nanra sama sekali tidak merasa aneh dengan apa yang dikenakannya, karena memang seperti itulah seharusnya penampilan seorang sekretaris pada saat bekerja. Menatap ke arah Daniel dan Nesta yang menegangkan pakaian sederhana berupa kaos tunik dan gaun kusam, Nanra sekilas mulai merasa apa yang dirinya kenakan sekarang cukup berlebihan.


 


 


“Ka-Kalau dipikir-pikir, benar juga! Sebaiknya aku ganti yang biasa saja.” Ia segera berbalik dan hendak masuk lagi untuk mengganti pakaian.


 


 


Namun di depan pintu, Siska yang baru selesai memasak dan masih mengenakan piyama menghadang. Perempuan rambut pirang itu meletakkan telapak tangan kanan ke atas kepala Nanra, lalu dengan lembut menegur, “Hari ini kamu ingin bekerja di tempat Tuan Odo, ‘kan? Kalau begitu, pakailah baju yang pantas supaya tidak memalukannya. Tak masalah kalau sekarang pinjam dari kakak. Saat kamu sudah mendapat upah, kamu bisa membeli milikmu sendiri nanti.”


 


 


Daniel dan Nesta sempat terkejut saat sosok wali mereka keluar dari dalam dan mencegah gadis rambut putih keperakan tersebut seperti itu. Siska segera menatap ke arah kedua anak tersebut secara bergantian, lalu dengan lembut menegur, “Nesta juga jangan bicara seperti itu. Saat nanti menjadi seorang biarawati secara resmi, kamu juga akan mengenakan pakaian yang berbeda dari apa yang kamu kenakan sehari-hari. Lambat laun, pakaian itu juga akan melekat padamu dan menjadi hal yang biasa.”


 


 


“Ma-Maaf ....” Nesta menundukkan kepalanya dengan sedikit menyesal.


 


 


“Tak masalah selama kamu paham,” ucap Siska sembari memasang senyuman.


 


 


Meski gemetar grogi, Nanra mengangkat wajahnya dan dengan lantang berkata, “Ka-Kalau begitu, aku berangkat dulu! Kak Siska!”


 


 


“Hmm, selamat jalan.” Siska mengangkat tangannya dari kepala Nanra, lalu dengan suara lembut mendoakan, “Semoga harimu menyenangkan dan para dewa memberkati.”


 


 


“Ya!” Anak gadis itu segera berbalik, berjalan ke arah pintu pagar dan pergi ke tempat di mana dirinya menemukan apa yang menjadi jalan hidupnya. Meski terlihat ceroboh dan kikuk menghadapi hal baru, Nanra tetap melangkah dengan penuh semangat.


 


 


Mengawasi kepergiannya ke tempat yang membuatnya tumbuh semakin dewasa, Siska sekilas tersenyum dan merasa bangga dalam benak. Ia lega bisa melihat salah satu anak asuhnya telah menemukan tujuan yang jelas dalam hidup, merasa diberkahi jiwa dan raganya.


 


 


Cara pandang Daniel dan Nesta terhadap Nanra sedikit berubah setelah mendengar perkataan wali mereka. Kedua anak itu mengira kalau Nanra adalah anak yang bandel dan sama sekali tidak memiliki motivasi hidup serta impian. Namun setelah melihatnya mengambil garis start lebih awal daripada mereka dalam kehidupan masyarakat, rasa tidak percaya diri mulai menyelimuti kedua anak tersebut.


 


 


“Kenapa kalian murung?”


 


 


Siska mengelus kepala Daniel, lalu memanggil Nesta untuk mendekat dengan melambaikan tangannya. Dalam langkah penuh keraguan, anak perempuan itu berjalan mendekat dengan wajah tertunduk. Mengusap kepala kedua anak tersebut, sang biarawati langsung memeluk mereka dengan penuh kehangatan.


 


 


Setiap anak pasti akan tubuh dewasa, menemukan masa depan mereka sendiri dan meninggalkan rumah mereka. Siska tahu hal tersebut pasti kelak akan terjadi dan anak-anak yang dirinya asuh akan menjadi orang dewasa, bergerak menuju mimpi-mimpi mereka. Itu patut disyukuri mereka bisa terus hidup dan bergerak meraih mimpi dengan penuh rasa bangga.


 


 


Namun sebagai wanita yang telah merawat mereka, Siska tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan cemasnya. Dengan tetap mendekap Daniel dan Nesta, dalam lembut sang Biarawati berbisik, “Semoga masa depan cerah menyambut kalian, semoga kalian bisa menemukan kebahagiaan yang lebih besar dan membaginya kepada orang-orang lain.”


 


 


Sekilas dalam benak Siska rasa takut mulai bercampur, mengingat kembali kejadian kemarin yang seakan membuat akal sehatnya tentang dunia mulai runtuh. Tambah erat memeluk mereka berdua, perempuan rambut pirang itu benar-benar bersyukur tidak mengeluarkan anak-anak dari dalam bangunan. Ia sangat bersyukur mereka tidak tahu tentang sosok tengkorak mengerikan yang bisa dengan mudahnya menghancurkan mimpi-mimpi mereka layaknya ombak menerjang istana pasir yang belum selesai dibangun.