Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 55 : Aswad 2 of 15 “To Be Hire” (Part 01)



 


 


[Sekitar 17 Tahun yang Lalu]


[Kerajaan Moloia]


 


 


Untuk menciptakan sebuah perdamaian selalu perlu pengorbanan yang besar, rentetan perjuangan dan dedikasi kuat untuk mencapainya. Namun untuk memulai peperangan, semua orang bisa mencari ribuan alasan mereka masing-masing.


 


 


Setiap orang tidak memerlukan alasan untuk saling menyayangi satu sama lain. Asal tujuan mereka sinkron, hal itu dengan cepat tercipta dan sebuah harmoni tercapai. Namun saat orang-orang mulai membenci satu sama lain, mereka dengan mudahnya mendapat ratusan sampai ribuan alasan untuk membenarkan tindakan mereka untuk melukai orang lain.


 


 


Tahun 2.682 kalender pendulum, 12 tahun telah berlalu setelah Perang Besar berakhir melalui Konferensi Keempat Negara. Meski begitu, kata perdamaian dan kesejahteraan masih sangat jauh dari apa yang diharapkan setelah masa peperangan panjang tersebut berakhir. Perjanjian yang terjalin seakan hanya mengubah konflik dari sekala makro ke mikro, namun tidak mengurangi kuantitas perang dan malah memperburuk kualitas dari kekacauan itu sendiri.


 


 


Setelah perjanjian terkait larangan saling melakukan agresi militer, setiap negeri mengalami konflik internal berkelanjutan yang tidak kunjung usai. Itu terus berkembang sampai pada akhirnya memicu perang sipil yang mengatasnamakan kebenaran masing-masing, saling menodongkan senjata pada rekan sendiri dan menusuk saudara seakan mereka musuh bebuyutan.


 


 


Konflik internal tersebut sangatlah jelas berlangsung di berbagai tempat. Bagi negeri yang berfokus perang selama puluhan tahun, mengubah sistem ekonomi serta politik secara cepat adalah hal mustahil. Senjata yang diproduksi secara masa menjadi tidak berguna, ribuan orang kehilangan pekerjaan karena perang berakhir dan ketidaksiapan tersebut menimbulkan revolusi besar-besaran dari kaum yang tertindas di negerinya sendiri.


 


 


Dari keempat negeri yang ada, Kerajaan Moloia menjadi penderita perang sipil terparah kedua setelah Kekaisaran. Tepat setelah perjanjian damai dibuat di Miquator, ratusan opini didapat oleh para A.I Super Cerdas dan dari semua senat yang ada lebih dari 40% suara menyatakan bahwa perdamaian adalah hal buruk bagi kondisi Kerajaan Moloia saat itu.


 


 


Sumber daya alam dari tanah rampasan, tenaga kerja budak dari negeri lain, produksi senjata massal untuk perang jangka panjang, fokus pabrik tanpa mempertimbangkan lahan-lahan gandum untuk persediaan makanan, dan akibat orientasi yang telah ditentukan menjadi negara maju tanpa mempertimbangkan akan berhentinya perang panjang. Setelah para pimpinan tiap negara memutuskan perdamaian secara tiba-tiba dan cepat, semua landasan-landasan Kerajaan Moloia yang telah membuat mereka sangat kuat langsung menjadi bumerang dan menghantam wajah dengan amat keras.


 


 


Hasilnya, lebih dari 70% penduduk kerajaan Moloia kehilangan pekerjaan dan jatuh ke dalam kemiskinan tanpa jalur keluar selama beberapa tahun. Kelaparan besar melanda negeri tersebut, bagian agraris seketika runtuh dan negeri itu dengan cepat langsung mengalami krisis moneter.


 


 


Satu-satunya tali penyelamat yang mempertahankan perekonomian eksternal Moloia adalah perjanjian penyetaraan mata uang yang disetujui dalam Konferensi Keempat Negeri. Dengan adanya hal tersebut, kerajaan Moloia tak harus mengalami krisis ekonomi eksternal yang menjadikan mereka harus meminjam dana dari negeri lain.


 


 


Namun, karena semua efek balik dari perdamaian eksternal yang didapat, sebuah konflik internal dalam sekala besar benar-benar terjadi. Kerajaan Moloia dengan cepat berubah menjadi sebuah negeri distopia, perbedaan strata karena sistem meritokrasi yang berlaku menjadi sangat jelas terlihat. Kaum buruh dan kaum penguasa, yang miskin dan yang kaya, yang dikuasai dan yang menguasai. Hal-hal tersebut menjadi timbul sangat jelas ke permukaan sosial Moloia.


 


 


Puncak dari hal tersebut adalah sebuah Dehumanisasi, sebuah perilaku merendahkan seseorang atau sebuah kaum karena kekurangan yang terlihat gamblang dari yang direndahkan. Melalui manajemen personalia totaliter yang diberlakukan oleh para kalangan atas, seketika hak manusia kalangan bawah jatuh dan mereka dianggap tidak lebih dari sekadar angka untuk alat produksi semata.


 


 


Para A.I yang menjadi fondasi Kerajaan Moloia sama sekali tidak ada yang mau mengalah. Sistem voting dari suara senat mereka tidak berubah secara signifikan meski telah melihat kekacauan yang ada. Pada akhirnya, mereka semua yang ada di kalangan atas hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri dan golongannya.


 


 


Satu dekade konflik sipil terjadi sejak Konferensi Keempat Negeri dimulai. Waktu demi waktu itu dengan pasti semakin menyengsarakan rakyat kecil, bagikan mencekik leher mereka dengan tipis kasatmata yang amat tajam. Kekacauan dari pemanggilan iblis yang juga melanda kerajaan besi dan mesin tersebut, membuat negeri itu semakin terpuruk. Pada tahun 2.681 akhirnya keputusan mengejutkan keluar dari Fraksi Pihak Militer, menjadi puncak kekacauan yang melanda Moloia.


 


 


“Jika kami kalah dalam hal voting, maka kami akan mengurangi suara pakta lawan!”


 


 


Dengan gagasan gila yang diajukan kepada Raja secara satu arah, Athena, salah satu A.I Super Cerdas langsung menggandeng orang-orang dari kalangan kecil untuk masuk ke dalam militer dan memulai perang sipil dalam sekala yang lebih terarah. Dalam kurung waktu hanya setengah tahun saja, Fraksi Militer berhasil menguasai dua dari lima negara bagian.


 


 


Krila dan Marlte, dua negara bagian tersebut menjadi kekuatan besar dalam perang sipil dan berhasil menambah suara untuk kembali memulai perang besar di benua demi mengembalikan kondisi internal negeri.


 


 


Namun, tentu saja pihak yang menginginkan perang berhenti tidak tinggal diam saja. Perang antar saudara menggunakan senjata yang seharusnya untuk melawan kerajaan lain dimulai, saling menodongkan senapan dan membunuh dengan timah napas, bahan peledak dan racun.


 


 


Tepat pada musim dingin pada penghujung tahun 2.682 kalender pendulum, pada tanah lapang nan tandus yang terletak di antara Negara Bagian Krila dan Jorda, puncak dari perang sipil tersebut terjadi. Salju turun dengan pelan, berbanding terbalik dengan suara tembakan dan ledakan yang tersebar di mana-mana.


 


 


Para prajurit bersembunyi dibalik parit-parit, gemetar menggigil dalam rasa dingin dan ketakutan. Mayat bergelimpangan seakan tidak berarti, nyawa dengan mudahnya melayang karena timah panas dari senapan lontak yang melesat bersama tarikan pelatuk. Komandan serta kapten pasukan seakan mengirim anak-anak muda menuju kematian, meniup peluit dan memerintahkan mereka keluar dari parit berlari menerjang lawan mereka.


 


 


Seorang Tamtama meringkuk memeluk senapan lontaknya di dalam sebuah parit, ia berasal dari fraksi militer dan dulunya hanyalah seorang buruh pabrik biasa tanpa pelatihan militer sebelumnya. Dengan gemetar ia memasukkan mesiu dan bola besi ke dalam selongsong senapannya, menyalakan sumbu dan bersiap menerjang barisan lawan bersama rekan-rekannya yang bersembunyi di dalam parit berlapis pagar berduri.


 


 


“Kenapa markas pusat tidak memberikan perintah mundur! Perang ini sudah kacau! Lebih dari ini kita hanya akan membuang-buang personel!” ucap seorang perwira tinggi militer dengan tanda pangkat Pembantu Letnan Satu di pundak seragam hitamnya. Memegang alat transmisi, ia terlihat sangat murka dan gemetar setelah mendengar keputusan untuk terus melanjutkan perang meski korban telah mencapai ribuan.


 


 


Menari napas dalam-dalam, ia meletakkan peluit ke mulut dan mengintip keluar dari parit. Dalam sorot matanya terlihat mayat-mayat, debu tebal yang tersebar di udara bersama asap, kobaran api dan awan kelabu di langit yang menurunkan salju kusam.


 


 


Tepat lurus dalam sorot matanya, terlihat lini depan dari benteng lawan yang berdiri kokoh di tengah medan perang. Pasukan lawan mereka berbaris-baris membangun tembok dengan tameng papan besi hitam, pagar kawat berduri, dan beberapa terlihat berjaga dan terus membidik dengan sumbu senapan yang menyala.


 


 


Naik dari parit, Perwira itu mengambil aba-aba dengan mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi dan langsung meniup peluit sekencang ia bisa untuk memulai serangan.


 


 


“Hoooooo!!!!!!”


 


 


Teriakan serentak terdengar bergemuruh, dari parit sepanjang enam kilometer yang menjadi lini depan fraksi militer tersebut keluar pasukan yang jumlahnya lebih dari 700 orang. Namun sebelum mereka sempat berlari menuju benteng, tembakan yang bahkan bunyinya tidak terdengar melesat dengan cepat dan langsung melubangi kepala Pembantu Letnan Satu yang memberi aba-aba serangan.


 


 


Mayat pria itu ambruk dan topinya melayang jatuh ke kaki seorang Tamtama yang sebelumnya gemetar ketakutan dalam parit. Di tengah kawan-kawannya yang tidak berhenti berlari menerjang ke arah benteng musuh, pemuda itu terdiam dan gemetar ketakutan melihat kepala pecah pria yang memerintahkan pasukan berjalan menuju kematian.


 


 


Ia ditabrak dari belakang oleh salah seorang rekannya, terbawa arus orang-orang dan akhirnya kembali berlari menuju kematian. Memantapkan benak dan menggertakkan giginya kencang-kencang, pemuda itu mengangkat senjata dan mempercepat larinya.


 


 


“Di’in .... Aku pasti akan kembali! Tunggu kakak di ruma—”


 


 


Duark!!


 


 


Timah panas dari arah pasukan musuh langsung menembus dada kanan Tamtama tersebut, membuatnya ambruk ke belakang tanpa sempat menarik pelatuk senjatanya. Napasnya terengah-engah, paru-paru kanannya benar-benar hancur, panas keluar bersama darah yang mengalir keluar dan perlahan berubah menjadi dingin yang menyebar ke sekujur tubuh dengan cepat. Di tengah pandangannya yang mulai pudar, pemuda yang terkapar di tanah itu melihat sosok peri di langit medan perang.


 


 


 


 


Peleton Prajurit Peri tersebut berjumlah 20 Elf dan 5 High Elf, semuanya terbang beberapa ratus meter di udara dan membawa senapan lontak yang telah dimodifikasi dengan Rune dan sihir mereka. Mengenakan seragam militer hitam dengan aksen beberapa garis hijau gelap, pasukan elit yang bergerak langsung di bawah wewenang Raja tersebut berada di medan perang untuk membantu Fraksi-Fraksi lain melawan Fraksi Militer.


 


 


Menjadi satu-satunya pasukan udara di medan perang, para pasukan bersayap itu menjadikan mereka yang ada di bawah target empuk layaknya orang-orangan sawah yang dengan mudahnya dibidik.


 


 


“Prajurit ... Peri? Kenapa mereka turun ke medan perang? Bukannya mereka unit khusus hanya untuk melawa —Agh!!”


 


 


Salah satu Elf langsung menghabisi Tamtama tersebut dengan senapan lontaknya, timah panas yang melesat dengan tepat menghujam jantung pemuda itu dan menghancurkannya layaknya sebuah meriam.


 


 


“Uwah ~ Kebiasaanmu sangat buruk, selalu saja membiarkan targetmu menderita dulu seperti itu,” ucap salah satu prajurit peri pada rekannya tersebut yang baru saja mengeksekusi targetnya.


 


 


“Diriku lupa kalau jantung manusia itu ada di dada kiri ....”


 


 


“Alasan itu lagi?”


 


 


“Siapa yang beralasan? Diriku benar-benar lupa ....”


 


 


Elf berambut hijau pucat tersebut mengambil bola timah dari kantung pada sabuknya, mengaktifkan Rune pada permukaan peluru tersebut dan memasukkannya ke dalam selongsong senapan lontak. Tanpa memerlukan bubuk mesiu, ia mengaktifkan Rune pada senapannya dan mengaktifkan pembakaran untuk mendapat momentum pendorong dalam selongsong. Ia kembali membidik, menarik pelatuknya dan langsung menghancurkan kepala salah satu prajurit yang ada di bawah dengan senapan berkekuatan setara dengan meriam tersebut.


 


 


“Kau .... sengaja melakukan itu, ‘kan?” tanya Elf rambut pirang yang merupakan rekan yang terbang melayang di dekat Elf berambut hijau pucat. Ikut mempersiapkan senapan yang telah dimodifikasi sesuai dengan sihirnya, Elf berambut pirang tersebut mengarahkan moncong senapan ke bawah.


 


 


Menarik pelatuknya tanpa membidik dengan akurat, peluru bercahaya langsung melesat cepat ke bawah dan mengarah ke jantung salah satu prajurit yang berlari ke arah benteng. Tidak berhenti pada satu target, peluru tersebut layaknya misil kendali bergerak dengan cepat dan melubangi jantung lima prajurit sebelum akhirnya berhenti.


 


 


“Menandai jantung yang merupakan sumber dari energi Mana untuk lintasan peluru, ya? Seperti biasanya, sihir engkau sangat mematikan dan kejam,” sindir Elf rambut hijau pucat.


 


 


“Bicara apa kau ini? Menghancurkan jantung adalah salah satu cara membunuh paling lembut ....”


 


 


“Lembut apanya? Membunuh ya tetap membunuh, tidak ada beda—”


 


 


“Kalian berdua!!!” tegur seseorang yang terbang lebih tinggi dari kedua Elf tersebut. Ia adalah pimpinan Prajurit Peri, seorang High Elf bernama Laura Sam’kloi. Rambut pirang panjang sebahu, mata hijau zamrud dan sayap partikel cahaya berbentuk kupu-kupu yang terbentang lebih lebar dari yang lain.


 


 


Ia mengangkat senapannya yang penuh dengan kekuatan sihir, membidik ke arah kedua bawahannya tersebut dan menatap dengan sorot mata dingin. Jenis senapan yang dipegang Laura berbeda dengan para bawahannya, berupa Springfield M1903 dengan terompong bidik. Kedua Elf tersebut seketika gemetar, merasa kalau atasan mereka tersebut benar-benar akan tanpa ragu menembak.


 


 


Saat Laura Sam’kloi menarik pelatuknya, peluru cahaya melesat melewati mereka dan langsung menghantam parit tempat para prajurit lawan bersembunyi. Seketika ledakan dahsyat tercipta, itu bagaikan belasan dinamit diledakkan secara bersamaan dan hembusan angin sampai mendorong kedua Elf yang sebelumnya sedang berdebat.


 


 


“Jangan lengah saat perang! Meski kita tahu jarak efektif senjata mereka, itu bukan berarti peluru mereka tidak bisa mengenai kita!!” tegur pimpinan para Prajurit Peri tersebut.


 


 


Menoleh ke arah ledakkan yang terjadi beberapa ratus di bawah tersebut, seketika semua Prajurit Peri gemetar dalam rasa kagum sekaligus takut. Di bawah sana benar-benar porak-poranda, semuanya luluh lantak sampai tanah terangkat dan membuat lubang kawah terbakar. Pada momen tersebut, alur perang benar-benar berubah dan para pemberontak yang menang dalam jumlah seketika dipukul mundur dengan kedatangan pasukan elit tersebut.


 


 


Para Prajurit Peri itu menggunakan sihir unik masing-masing yang diasimilasikan dengan senapan mereka. Membantai para pemberontak dari udara, tanpa cemas peluru dari bawah mengenai mereka karena jarak jangkauan efektif dari senapan lontak biasa yang hanya beberapa puluh meter saja.


 


 


Perbedaan kekuatan yang ada benar-benar mengubah arti perang di medan pertempuran tersebut, menjadi sebuah perang pembantaian satu arah yang benar-benar berat sebelah. Senjata yang seharusnya dikembangkan dengan tujuan untuk melawan negeri lain malah digunakan untuk membunuh saudara satu bangsa sendiri, begitu ironi untuk yang menarik pelatuk dan menjadi sasaran dari timah panas.


 


 


Dalam waktu kurang dari setengah jam, pasukan yang jumlahnya mencapai 700 orang lebih berubah menjadi tumpukan mayat di permukaan. Tidak sampai di situ, para Prajurit Peri tersebut terus terbang masuk ke wilayah lawan dan memukul mundur mereka sampai masuk ke kota-kota tempat tinggal warga sipil.


 


 


Kota terbakar api merah terang yang menyala di bawah langit kelabu. Salju yang turun langsung menguap, hilang dan tak berarti di tengah kekacauan yang ada. Layaknya salju-salju yang berjatuhan, hujam timah panas dari senapan membuat orang-orang bergelimpangan di jalan-jalan kota yang terbakar tersebut.


 


 


Dari udara, para prajurit peri melakukan hal yang tidak jauh berbeda, Mencari target untuk sasaran senapan mereka, membidik dengan akurat dan menarik pelatuk untuk mengeksekusi. Terbang paling tinggi daripada yang lain, Laura Sam’kloi menatap dengan sorot mata datar kota penuh mayat tersebut.


 


 


Ia dengan jelas tahu kalau di bawah sana warga sipil tercampur menjadi sasaran timah panas, prajurit elit yang mendapat julukan Bomber tersebut sekilas merasa perih dalam hati melihat orang-orang yang seharusnya dilindungi malah harus dihabisi dengan perintahnya sendiri. Menarik napas dalam-dalam dan mengurung rasa itu dalam benak, ia mengangkat senjata dan sekali lagi menyalurkan Mana ke dalam senapannya untuk mengaktifkan sihir pengebom sekala kota.


 


 


Rune mulai muncul mengelilinginya, lingkaran sihir tercipta di atas kepala perempuan itu dan mengaktifkan Mana dalam kuantitas tidak wajar. Cahaya terang seketika terpancar dari tubuhnya, sayap yang membentang lebar pada punggung dengan cepat berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan mulai masuk ke dalam selongsong senapan yang dirinya pegang dengan dua tangan.


 


 


“Ignis. Tin. Aer. Simul in unum: agente mutationem ....”


 


 


Laura mengarahkan senjatanya ke bawah, mengaktifkan susunan sihirnya dengan cepat dan menjalankan formula sihir jangkauan luas tersebut. Lingkaran sihir dan Rune seketika menghilang dari sekitar High Elf tersebut, lalu muncul lingkaran sihir dalam ukuran kecil di ujung moncong senapannya.


 


 


“Sihir Peledak : Parva Nuclear ....”


.


.


.


.