Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 68 : Aswad 15 of 15 “According to dream” (Part 03)



“Kalau bisa, Arteria ingin menukarnya …. Namun, ini sudah menjadi bagian dari kontrak dan penglihatan normal Arteria takkan kembali.”


“Baiklah.” Odo sejenak menonaktifkan beberapa sirkuit eksternal untuk membuat rute ke dalam Inti Sihir. Menatap ringan ke arah Arteria, pemuda itu kembali berkata, “Tutup kedua kelopak matamu, Tuan Putri. Jangan buka sampai aku perbolehkan.”


“Eh? Memangnya Tuan Odo mau apa?” Arteria tampak enggan.


“Sudahlah, anggap saja ini sebuah hadiah dariku.”


“Eng ….”


Meski merasa curiga, Arteria tetap mengikuti perkataan Odo dan menutup kedua matanya. Ia juga menutup penglihatan jiwanya, membuat perempuan rambut biru tersebut benar-benar hanya melihat kegelapan. Saat kedua telapak tangan Odo menyentuh matanya yang tertutup, Arteria sempat terkejut. Namun rasa hangat membuatnya tidak menolak, sejenak menenangkan diri dan menarik napas dalam-dalam.


“Ingat, jangan buka sebelum aku izinkan. Mungkin ini akan sedikit sakit, tapi jangan berteriak atau meronta.”


“Sa-Sakit?”


“Aku mulai ….”


Dengan kedua telapak tangan diletakkan di mata kedua mata Arteria, Odo menggunakan Aitisal Almaelumat dan melakukan manipulasi informasi. Apa yang pertama ia lakukan adalah membuka rute ke dalam kedua mata Arteria, memindai dan mulai menyalin semua susunan informasi yang ada di dalamnya. Proses tersebut berlangsung hanya dalam beberapa detik saja, begitu cepat karena hanya dilakukan pada susunan informasi di permukaan.


Kesadaran Odo mulai masuk ke dalam susunan informasi Arteria, itu bagaikan lorong besar abu-abu yang dipenuhi rumus yang beterbangan. Dengan kesadaran yang terbentuk sempurna dan pada punggung menjalar keluar pengaman untuk bisa dirinya kembali ke tubuhnya sendiri, Odo berenang masuk ke dalam susunan infomasi yang ada.


Menyalin informasi, mengekstrak, lalu disesuaikan sebelum terapkan pada Inti Sihirnya.


Pada tahap kedua setelah informasi tersalin, Odo mengangkutnya dan menanamkan informasi tersebut ke dalam tubuhnya sendiri. Perlahan mata pemuda rambut hitam itu tertutup, melakukan pemasangan kekuatan mata batin milik Arteria pada tubuh serta Inti Sihir. Setelah tahap tersebut selesai setelah satu menit, ia mulai menyalin beberapa informasi dasar dari kemampuan penglihatan normal miliknya dan mengangkutnya ke dalam tubuh Arteria.


Dalam proses penanaman informasi penglihatan normal ke Arteria, itu tergolong proses lebih rumit karena mengubah informasi supaya cucuk dengan orang lain tanpa menimbulkan rasa sakit luar biasa sangatlah sulit. Terutama karena perbedaan informasi yang ada, dipengaruhi oleh jenis kelamin dan susunan informasi lainnya.


Secara bertahap Odo merombak informasi dasar kemampuan penglihatan Arteria, ia mengambil susunan rumus dalam lorong informasi dan menggantinya dengan salinan informasi penglihatannya. Pada proses tersebut rasa sakit mulai menyengat Arteria, ia merasa ada sesuatu yang diambil dan dimasukan dengan cepat.


“Tu-Tuan Odo?” tanya Arteria cemas.


“Maaf, jangan buka dulu matamu.”


Paham informasi tentang kemampuan penglihatan jiwa tersebut termasuk bagian paten dari Kontrak Jiwa dan tak bisa dihilangkan, Odo memilih cara alternatif dengan melakukan penambahan. Daripada menindih dan menghilangkan kemampuan tersebut, ia lebih memilih untuk fokus menanamkan kemampuan penglihatan normal pada mata kanan untuk mengembalikan penglihatan normalnya. Untuk penglihatan jiwa, ia mengalihkan semua kemampuannya kepada mata kiri Arteria.


“Eh?”


Saat proses tersebut selesai, sebuah efek balik timbul dan menyerang Odo sebagai bentuk pertahanan dari Kontrak Jiwa milik Arteria. Kesadaran Odo yang berada di lorong informasi Arteria seketika terbakar, membuat semua sistem sarafnya lumpuh dan ambruk ke pangkuan perempuan rambut biru tersebut  dengan kepala menghadap ke bawah.


Terkejut karena tiba-tiba Odo membaringkan kepalanya ke pangkuan, Tuan Putri sontak membuka kedua matanya dan berkata, “Tu-Tuan Odo?! Apa yang Anda laku⸻?” Perkataannya terhenti, ia tampak terkejut karena dapat melihat pemuda di pangkuannya dengan normal.


Ingin memastikannya, ia sesegera menatap sekeliling. Pada detik itu juga wajahnya berseri-seri, tampak begitu senang karena bisa kembali melihat dengan normal. Meski pun ia masih bisa melihat wujud jiwa pada setiap makhluk hidup yang ada dan tampak tumpang tindih dengan penglihatan normal, namun ia tak bisa mempermasalahkan hal tersebut karena merasa telah kembali mendapatkan cahaya.


“Tuan Odo! Tuan Odo! Arteria bisa melihat lagi! Apa yang sebenarnya Anda⸻?!”


Perkataan Arteria terhenti saat kembali menatap Odo di pangkuan. Darah yang merembes sampai membasahi gaunnya membuat perempuan itu seketika panik, berusaha membangunkan pemuda itu dengan menggoyang-goyang tubuhnya.


“Tu-Tuan?! Anda baik-baik saja …? Tuan Odo?” ucap Arteria panik.


“Eng, tak perlu cemas. Aku sudah bangkit lagi.” Odo bangun sendiri dan kembali duduk. Segera menyela darah dalam jumlah banyak yang keluar dari hidung, pemuda rambut hitam itu berkata, “Maaf, gaun milikmu jadi kotor karena darah.”


Pada hitungan detik, darah yang keluar dari hidungnya seketika kembali ke tempat. Bahkan darah yang merembes pada gaun Tuan Putri Arteria mulai berkumpul pada satu titik, membentuk bola darah dan langsung masuk ke dalam hidung pemuda itu.


“Ta-Tak perlu memikirkan gaun Arteria!” Tuan Putri menatap dengan cemas, ia mendekatkan wajah dan bertanya, “Yang lebih penting, Anda kenapa?”


“Aku baru saja mati. Tak kusangka kalau ada semacam proteksi dan kemampuan itu terhubung langsung dengan Kontrak Jiwa milikmu.” Setelah selesai menyeka darah yang keluar dari hidung, pemuda itu sejenak menarik napas ringan dan bertanya, “Apa penglihatannya tidak ada masalah?”


“Eh?”


Arteria begitu tercengang, dalam benak ia merasa kalau Odo sangat tidak peka pada kondisinya sendiri dan sama sekali tidak menghargai nyawa yang dirinya miliki. Meski tahu kalau Odo bisa bangkit kembali dari kematian, namun hal tersebut memang terasa sangat tak wajar untuk seorang makhluk hidup.


Dari tatapan  pemuda itu, Arteria merasakan rasa tak peduli terhadap nyawa.


“Bagaimana? Apa tak masalah?” tanya Odo sekali lagi.


Dengan sedikit tergagap Arteria menjawab, “I-Itu tidak ada masalah, Arteria bisa melihat normal lagi. Me-Meski masih bisa melihat bentuk jiwa, Arteria rasa ini lebih baik daripada penglihatan dipenuhi kegelapan.”


Mendengar jawaban seperti itu, Odo sekilas memalingkan pandangan dan mulai menganalisis. Ia tampak berpikir tentang sesuatu, sama sekali tidak menujukkan beban meski baru saja mati. Arteria yang melihat ekspresi Odo dari dekat semakin cemas, merasa bisa saja pemuda itu terus mati dengan mudah sampai tak bisa bangkit lagi.


Meski begitu, Arteria tidak tahu harus menyampaikan rasa khawatir pada benaknya dalam bentuk apa. Ia merasa terlalu asing untuk melarang Odo, terlalu tak tahu diri untuk memberikan nasihat, dan terlalu tak paham dengan apa yang sebenarnya pemuda lakukan itu untuk memberitahunya bahwa cara mengorbankan nyawa adalah hal yang salah.


Arteria hanya mendengarkan penjelasan Odo tentang bagaimana ia mengembalikan penglihatan normalnya, hanya menjawab pertanyaannya dan sama sekali tidak berani mengungkapkan pendapat. Dalam benak ia merasa sangat berterima kasih kepadanya, namun pada saat yang sama rasa takut dan cemas mulai tumbuh.


“Arteria, apa kau mendengarkan? Ingat, jangan dulu beritahu kepada orang lain kalau penglihatanmu sudah pulih loh. Kalau Ayah atau Kakakmu tahu, mungkin mereka akan heboh. Jaga rahasia ini sampai kau kembali ke Ibukota …. Aku tak ingin dimanfaatkan oleh Ayahmu sih.”


“Eh?” Arteria keluar dari lamunan, sedikit tersentak dan tampak bingung karena hanya mendengarkannya sampai pertengahan saja. Ditatap dari dekat oleh Odo, seketika perempuan rambut biru tersebut tersipu merah. Ia segera memalingkan pandangan sembari berkata, “Arteria mendengarkan kok …, hanya sebagian.”


“Hmm ….” Odo menjauh seraya menghembuskan napas ringan. Menutup kedua mata dan meletakkan telapak tangan kanan ke kening, ia tampak sedikit pucat. “Begitu rupanya, jadi ini dunia yang selalu dia lihat,” benak pemuda itu sembari menurunkan tangan.


Menatap ke depan, apa yang Odo lihat sedikit berbeda. Sekilas memang tidak ada yang berubah dari penglihatan biasanya. Namun saat menajamkan sorot mata, wujud jiwa para makhluk hidup mulai terlihat dan itu terlihat seperti sumber panas pada diri mereka. Hal tersebut mirip seperti penglihatan inframerah, visual tampak bersih dan sumber kehidupan terlihat seperti pijar api kecil.


Pada tumbuh-tumbuhan, energi kehidupan mereka terlihat seperti api hijau yang sangat kecil yang menjalar luas di sekitar daun dan akar. Sedangkan pada orang-orang yang ada di taman, terlihat seperti api pada bagian dada kiri dan kepala dengan warna yang berbeda-beda tergantung kepribadian individu. Untuk para roh tingkat rendah yang beterbangan juga serupa, mereka memiliki warna beragam sesuai atribut.


Melihat dunia dengan cara yang berbeda, sekilas Odo merasa pusing dengan kontras warna yang mencolok serta spektrum yang ada. Meski malam hari, di matanya dunia tampak begitu terang sampai harus menyipitkan mata.


Mendengar pertanyaan tersebut, Odo menoleh dan paham kalau Arteria memang tidak terbebani perubahan kemampuan visualnya. Pemuda itu sekilas merasa lega karena tak harus menenangkan Tuan Putri jiwa panik. Merasakan hal yang berbeda, Tuan Putri Arteria kembali tersipu saat ditatap tajam pemuda tersebut.


Melihat wajah calon tunangannya dengan saksama, Arteria merasa kalau wajahnya tampak begitu menawan sampai tak sanggup menatapnya lama-lama. Ia segera memalingkan pandangan, duduk dengan tegak dan meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan.


Odo sedikit heran melihat itu, namun ia tak terlalu memikirkannya karena masih butuh waktu untuk menyesuaikan penglihatan. “Eng, kurang lebih tak masalah. Putri Arteria tak perlu cemas,” jawab pemuda itu seraya mengambil sarung tangan dari saku. Memakainya kembali pada tangan kanan dan mengaktifkan sihir penguatan pasif, ia sejenak mulai mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan visual.


“Sungguh?” Arteria sedikit meragukan.


Tidak langsung menjawab, Odo menutup tangan mata kanannya dengan telapak tangan kiri dan segera memakai Aitisal Almaelumat untuk mengurangi kemampuan penglihatan. Sebagai ganti pengurangan tersebut, ia meningkatkan kemampuan fokus mata untuk mengontrol penglihatan jiwa.


“Hmm, ini lebih baik ….” Sekilas pemuda rambut hitam tersebut tersenyum tipis setelah selesai melakukan penyesuaian penglihatan. Menoleh ke arah Arteria, ia memasang wajah heran dan bertanya, “Kenapa wajahmu memerah, Tuan Putri?”


“Eh⸻?! Ti-Tidak kok! Arteria tidak tersipu!” Tuan Putri seketika salah tingkah.


Melihat hal tersebut, Odo hanya tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangan kirinya ke Arteria, lalu menyentuh lembut pipinya. “Imut sekali,” ucap pemuda itu tanpa maksud yang dalam.


Wajah Arteria semakin memerah dan matanya mulai berputar-putar, terlihat begitu gugup dan segera bangun dari tempat duduk. Memalingkan pandangan karena tak berani menatap pemuda itu, Tuan Putri dengan gugup berkata, “Bi-Bicara apa Tuan Odo! Jangan menggoda begitu dong!”


“Hmm!” Odo memasang seringai tipis, meletakkan tangan ke dagu dan berkata, “Ternyata Putri sudah tahu apa itu menggoda.”


“Tentu saja tahu! Usia Arteria sudah mau 12 tahun!”


“Eng ….”


Mendengar itu, Odo segera menurunkan tangan dari dagu. Sekilas Ia teringat dengan Nanra yang sekarang seharusnya baru menginjak usia 11 tahun namun telah melakukan upacara kedewasaan lebih cepat satu tahun. Karena kebohongan yang anak perempuan itu buat di depan Mavis dan yang lain saat di toko, Odo menyuruhnya untuk mengikuti upacara kedewasaan lebih cepat menggunakan koneksi Siska.


Kembali menatap lurus ke arah Putri Arteria, dalam benak Odo merasa adanya perbandingan kedewasaan di antara mereka meski usia tak terpaut jauh. Arteria memang tampak dewasa dan memiliki gestur seorang bangsawan yang bermartabat, namun dalam perkataan dan cara pikir ia masih seperti anak kecil yang manja. Begitu naif, lembut, polos, namun ada kesan tegas dalam dirinya.


Berbanding berbalik dengannya, Nanra memang tampak seperti anak kecil. Namun dalam sifat, ia sudah bisa berpikir lebih kritis terhadap lingkungan dan melakukan tindakan nyata untuk mengubahnya. Karena itulah gadis tersebut berpikir untuk mengikuti pemberontak dan insiden di dermaga itu pun terjadi.


“Ada apa, Tuan Odo? Kenapa Anda bengong seperti itu?”


“Tak apa-apa ….” Odo sekilas menarik napas ringan, bersender pada bangku dan sekilas melirik ke arah teras karena merasakan tatapan. Melihat sang Raja berdiri di sana bersama Pangeran Ryan, pemuda rambut hitam itu berkata, “Lebih baik kau segera masuk ke dalam, Tuan Putri. Ayah dan Kakakmu sudah menunggu.”


“Hmm⁓?” Arteria lekas menoleh ke arah teras. Saat paham bahwa yang telah memanggil sang Raja adalah kakaknya, mimik wajah perempuan itu seketika terlihat kesal. Ia pun menggerutu, “Kakanda berlebihan, kenapa ia selalu menganggap Arteria anak kecil.”


“Kakak memang seperti itu, jangan cemaskan aku dan pergi saja sana.”


Arteria kembali menatap Odo dengan heran, lalu dengan bibir sedikit dinaikkan ia pun berkata, “Apa Anda mau di sini dulu? Bukannya lebih baik masuk ke dalam juga?”


“Eng, memangnya?”


“Tuan Odo salah satu inti acara loh, bukannya nanti yang lain cemas kalau Anda tidak ada? Terutama Tante Mavis dan Paman Dart.”


Odo merasa setuju dengan hal tersebut. Sebagai anak Tuan Rumah dan calon tunangan dalam acara kali ini, ia memang harus berada di aula sampai acara selesai pesta penyambutan selesai. Namun merasa tak banyak yang bisa dirinya lakukan jika berada di aula, Odo tetap merasa tak ingin kembali.


“Kalau Ayah atau Ibuku tanya, bilang saja kalau aku sedang istirahat di kamar.” Pemuda rambut hitam itu bangun dari bangku, meregangkan jemarinya dan sekilas menoleh ke arah sang Raja. Kembali menatap ke arah Tuan Putri, ia dengan senyuman berkata, “Tolong ya, Arteria.”


“Baiklah …, akan Arteria sampaikan.”


Sekilas Arteria kecewa karena Odo tidak mau pergi bersamanya untuk kembali masuk ke aula. Berjalan menuju sang Raja dan Pangeran, ia sesekali menoleh ke arah pemuda itu dan tampak seperti anak kucing yang diusir dari rumah.


Odo hanya memasang senyum simpul, tak berkata apa-apa karena sang Raja dan Pangeran terus menatap ke arahnya dengan tajam. Balik menatap sang Raja, sekilas pemuda rambut hitam tersebut terkejut ketika melihat bentuk jiwa pria tua itu. Pancaran jiwa yang membara, melambangkan semangat yang begitu kuat.


“Meski telah kehilangan alasan untuk menjadi seorang Raja, dia memang telah masih seorang Pemimpin. Orang yang telah melewati banyak penderitaan memang berbeda dari yang lain,” benak Odo seraya menarik napas ringan.


Tidak mengatakan apa-apa kepada Odo, Raja Gaiel menggandeng putrinya dan mereka pun kembali ke aula. Sekilas Odo merasa tak bisa mengerti pola pikir pria tua tersebut, meski pernah memakai Spekulasi Persepsi secara terpusat untuk memperkirakan kepribadiannya.


Menarik napas ringan, pemuda rambut hitam itu segera beranjak pergi dari tempat sebelum para tamu lain tambah memberinya tatapan tak nyaman. Ia melangkahkan kaki menuju teras, mengambil arah yang berbeda dan segera menuju ke kamarnya sendiri.


Dalam langkah kaki, ia kembali ingat ada hal yang perlu dilakukan. “Hmm, benar juga. Sebaiknya aku ke sana dulu sebentar, kalau Canna marah bisa repot nantinya,” benak Odo seraya memasang senyum tipis.


“Hmm, sebaiknya aku ganti baju dan ambil beberapa buku dulu dari perpustakaan.”


\================


Silahkan dukung cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi ....!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.