Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 37: Reş û Rabe 4 of 5 (Part 03)



Fiola hanya bisa menganga melihat ukuran tersebut, ia untuk pertama kalinya melihat Iblis dengan ukuran tidak masuk akal seperti itu. Tubuhnya gemetar, rasa percaya diri untuk menghabisi musuh bebuyutannya hilang seketika dan insting Huli Jing tersebut berteriak ingin kabur.


 


 


Berdiri di samping Fiola, mulut Lisia menganga dan air mata penuh ketakutan mengalir. Tubuhnya gemetar melihat ketidakwajaran malapetaka bergerak itu, hanya bisa membatu tanpa bisa melangkahkan kaki atau berbiara.


 


 


Kepala Prajurit dan rekan-rekannya yang melihat Raja Iblis Kuno itu pun ikut membantu dalam ketakutan. Para pemburu yang tadi paling ingin melanjutkan perjalanan seketika terlihat lemas, bahkan Barca langsung berlutut sampai akan pingsan. Itu sudah bukan kategori yang bisa dilawan dengan kemampuan atau kegigihan, keberadaan Odrania Dies Orion adalah sebuah bencana  mutlak dengan ukuran dan kecepatan yang tidak masuk akal.


 


 


Meski ukuran lebih dari 530 meter, Iblis Kuno itu terlihat berjalan cepat menuju ke arah kota Rockfiled, sembari menginjak-injak hutan dan bukit di bawahnya.


 


 


Menunjuk ke arah raksasa itu dengan menggigil kacau, pemimpin bandit mendekat erat keluarganya dengan tangan kiri dan berkata, “I ... tu ..., sudah datang! Makhluk itu benar-benar sepenuhnya dipanggil ke dunia ini ....! AKHHH!!!”


 


 


Jeritan tiba-tiba Tox Tenebris membuat semua orang gentar. Pemimpin bandit itu segera melepaskan keluarganya, lalu melangkah menjauh sembari memegang sebelah mata kirinya yang membusuk.  Cairan bening seperti nanah mengalir keluar, menetes ke permukaan salju dan kemudian bola matanya itu menggelinding jatuh. Pemimpin bandit itu langsung kehilangan kesadaran, ambruk dan terkapar.


 


 


Odo, Fiola, Lisia, Iitla, dan Barca yang melihat itu terkejut. Bola mata yang lepas dari pria itu mulai melayang ke udara. Dengan cepat Ether dengan kepadatan tinggi bergerak ke arah bola mata tersebut dan berkumpul, menyatu dan mulai menciptakan daging berbentuk kepala tanpa kulit atau rambut dengan satu mata


 


 


Kepala tersebut melayang ke udara, membuka mata satu-satunya dan berkata, “Ah~ Akhirnya aku menemukanmu~ Akhirnya kau—”


 


 


Duark!!


 


 


Kepala itu pecah dengan sendirinya dan sangat tiba-tiba, danging busuk terpencar ke segala arah dan menempel ke pakaian beberapa prajurit. Itu masih bergerak, masuk ke dalam sela pakaian dan mulai mengontaminasi dengan cepat.


 


 


“Lepaskan bajumu!” teriak Iitla.


 


 


Namun itu terlambat, empat orang yang terkena pecahan daging cukup banyak benar-benar terkontaminasi dan tubuh mereka membusuk dengan cepat menjadi mayat hidup tanpa akal. Pemburu yang sedikit terkena pecahan daging busuk segera memotong beberapa jemarinya sendiri yang terkontaminasi, lalu menjauh.


 


 


“Mundur! Lindungi kuda!!”


 


 


“Mundur! Mundur!”


 


 


Mereka segera berlari dari gumpalan-gumpalan denging yang masih bergerak di atas permukaan salju. Tidak mengikuti para prajurit, pemburu, atau penyihir yang segera berlari ke arah perkemahan, Odo hanya menatap datar ke arah Odrania Dies Orion. Fiola memegang tangan pemuda itu, lalu menariknya.


 


 


“Ayo! Tuan Nigrum!”


 


 


“Lepaskan ....” Odo tidak mau ikut dan dengan paksa melepaskan tangan. Pemuda itu menoleh ke arah Tox Tenebris yang terkapar dan berjalan menghampirinya, lalu mengulurkan tangan dan berkata, “Cepat bangun dan bawa keluargamu.”


 


 


Tanpa gentar sedikit pun, ia memapah pria dengan kaki pincang dan panah menancap pada pinggang dan bahunya itu. Menggertakkan gigi, Fiola dengan kesal segera menggendong wanita dan anak yang terkapar di atas permukaan salju.


 


 


Lisia yang hendak pergi ke arah tenda mengurungkan niat dan kembali. Membantu Fiola, perempuan itu membawa anak gadis bernama Suigin dan segera berlari bersamanya pergi ke tempat aman. Berbeda dengan dua orang itu, Odo yang memapah Tox Tenebris hanya berjalan pelan tanpa memedulikan sekitar.


 


 


“Tox Tenebris, apa kau siap menebus dosamu?” bisik Odo kepada pria yang dipapahnya.


 


 


“Begitu, ya .... Jadi ini ... memang hukuman untukku.”


 


 


“Kurasa bukan untukmu seorang, aku juga termasuk.”


 


 


“Lari!!!” teriak Kepala Prajurit.


 


 


Semua orang segera naik ke atas kereta kuda tanpa memedulikan barang-barang mereka, lalu segera memacu kereta kuda. Melihat ke arah Odrania Dies Orion berada, jerangkong raksasa itu berjalan cepat menuju ke tempat mereka berada. Itu sangatlah tidak wajar dengan ukuran setinggi 400 meter untuk bergerak seperti itu, melangkahkan kaki lebar dan dari rongga mata tengkoraknya mulai memancarkan cahaya merah yang seakan menatap tajam ke arah mereka.


 


 


Secara insting Fiola merasakan firasat mengerikan, bersama Lisisa ia berlari sekuat tenaga menuju kereta kuda terakhir yang belum dipacu. Saat sampai dan naik ke atas kereta kuda membara anak dan wanita yang dibawa, Fiola dan Lisia baru sadar kalau Odo masih tertinggal dan tetap berjalan pelan memapah pria kekar itu.


 


 


“Lari!! Cepat lari Tuan Odo!!!”


 


 


“Apa yang kau lakukan!! Lari!!”


 


 


“Lari!!!”


 


 


Fiola, Lisia, dan Iitla berteriak sekuat tenaga dan histeris, namun di antara mereka tak ada satu pun yang berani turun dari kereta kuda dan membantu pemuda itu. Mereka terus berteriak-teriak, bahkan Fiola dan Lisia sampai memanggil nama asli pemuda itu.


 


 


Menatap mereka dengan tatapan datar, Odo menghentikan langkah kaki. Dengan suara pelan, ia berkata, “Tox Tenebris, tebus dosamu dan buat juga keluargamu menebus kesalahan yang kau buat. Hiduplah ....” Odo berhenti memapah pria itu, mendorongnya dan menggunakan sihir pelontar pada punggungnya.


 


 


“Eh?”


 


 


Sebuah lingkaran sihir dua lapis muncul, lalu seketika tubuh pria itu terlempar kencang ke arah kereta kuda dan masuk ke dalam. Satu lingkaran sihir yang masih menempel pada punggung pria itu aktif, membuat sambaran elektrik ringan dan membuat dua kuda yang menarik kereta tersebut terkejut. Kuda-kuda pun berlari memacu kereta dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


 


 


“Tu-Tuan Odo?!”


 


 


Fiola langsung meloncat turun tanpa berpikir dua kali. Lisia yang hendak ikut langsung dicegah Kepala Prajurit, ditahan meski perempuan itu meronta dan berteriak, “Odo!! TUAN ODO!!”


 


 


Kereta itu melaju pergi, meninggalkan dua orang tersebut di tempat yang menjadi tujuan Odrania Dies Orion. Dengan gemetar Fiola berjalan ke arah Odo, Huli Jing itu sendiri tidak percaya kalau dirinya akan meloncat turun dan melawan rasa takut yang tak pernah dirinya rasakan sebelumnya.


 


 


Melangkahkan kaki ke arah Odo, wanita rambut cokelat itu bertanya, “Kenapa ... Anda memilih tinggal ...? Apa Anda berniat melawan malapetaka itu?”


 


 


Menoleh ke arahnya, Odo dengan tatapan dingin menjawab, “Katanya tadi ingin menghabisi mereka dan para Iblis, kenapa malah jadi pengecut seperti itu?”


 


 


“Jangan berdebat seperti itu! Anda lihat sendiri monster itu! Apa Anda berniat melawannya sendiri?!”


 


 


“Memang itu niatku. Kalau kita semua pergi, Iblis itu pasti akan mengejar dengan cepat. Lihat saja, sialan itu berlari seperti atlet.”


 


 


Odo menunjuk ke arah jerangkong raksasa tersebut. Raja Iblis Kuno itu memang berjalan dengan cepat, seakan-akan memang tubuh besarnya tidak membuatnya lambat.


 


 


Fiola benar-benar gemetar ketakutan, wajah Huli Jing itu mengerut dan pucat. Berusaha membujuk Odo, ia berkata, “Tuan ... Anda ini .... Kumohon, ayo pergi! Jangan keras kepala seperti ini!”


 


 


“Kalau Mbak Fiola ingin kabur, silakan saja. Mbak Fiola larinya cepat, bukan? Kalau lari sekarang pasti masih sempat ....”


 


 


“Tuan Odo juga harus ikut!”


 


 


“Aku tak bisa, aku harus menahannya di sini .... Lagi pula ....”


 


 


Odo memejamkan mata, melepas pembatas kekuatan yang dirinya gunakan selama rencana berlangsung. Seketika aura sihir luar biasa terpancar dari tubuh pemuda itu, membuat salju di sekitarnya meleleh dan kilatan listrik merah darah menjalar dari tubuhnya. Lingkaran sihir muncul di atas kepala pemuda itu, pada bagian tengah berlubang dan melebar membentuk halo yang menyala merah


 


 


“Para Dewa menangis ..., tangisan menjelma menjadi badai penuh halilintar yang menari-nari di antara ubun awan. Ia merupakan sosok penguasa cuaca, penguasa telaga, petir dan merupakan salah satu raja kayangan. Ialah yang memimpin delapan Wasu, perwujudan kekuasaan alam.”


 


 


Petir menyabar tubuh Odo dari langit gelap, membuat Fiola sampai terjatuh karena gelombang hentak dan gemetar melihat ke arah pemuda itu. Sosok yang tadinya seorang manusia telah melewati batasnya, kodrat makhluk fana terlepas menggunakan kekuatan pinjaman dari langit. Halilintar menyambar-nyambar merah dari tubuh pemuda itu, garis-garis sirkuit muncul pada lengan dan kakinya, membakar pakaiannya dan mengubahnya menjadi jubah petir yang menyala merah.


 


 


“Malak ...?” ucap Fiola gentar.


 


 


“Indra Fragmen, Intihasa..., Telaga Petus Buana.”


 


 


Pakaian pemuda itu sepenuhnya terbakar, sebagai gantinya pakaian jubah yang terbentuk dari petir menyelimuti dan menyala merah. Pakaian itu panjang sampai menyentuh permukaan tanah berbatu, terbuat dari sulaman petir-petir yang dengan rapi membentuk kain berpola merah dan hitam. Suara gelegar keluar bersama sambaran-sambaran merah yang liar darinya, kornea mata pemuda itu dengan cepat berubah merah darah, dan secara signifikan penglihatannya meningkat drastis.


 


 


“Tu-Tuan Odo? Itu ... Malak? Kenapa Anda bisa menggunakan sihir Imitasi Malaikat itu?”


 


 


Odo menoleh ringan, dengan nada datar menjawab, “Ini bukan Malak, tapi bentuk pengembangannya, Gott fällt. Sebuah sihir ritual yang digunakan untuk meminjam kekuatan Dewa secara paksa.”


 


 


Fiola gemetar mendengar itu, dirinya tidak pernah mendengar ada manusia bisa meminjam kekuatan langsung dari kayangan, apalagi Dewa Tingkat Atas seperti Indra. Tubuhnya gemetar membayangkan konsekuensi dari kekuatan pinjaman tersebut. Segera bangun dan hendak bertanya, namun kilatan petir di sekitar Odo yang menyambar-nyambar membuat Huli Jing itu terdiam.


 


 


Odo mengulurkan tangannya ke depan, mengatur pernapasan dan berkata, “Vajra!” Replika senjata sang Dewa Petir tercipta di genggaman tangan kanan pemuda itu. Bentuknya adalah sebuah logam sula yang dapat digenggam dengan tangan, memiliki dua ujung tumpul dari gabungan sula yang di tengahnya memiliki rongga. Mengumpulkan petir yang menyelimuti tubuhnya, Odo menciptakan sebuah tombak yang menyatu dengan tongkat logam pendek tersebut.


 


 


Melebarkan kaki dan memasang kuda-kuda, pemuda itu langsung berancang-ancang dan melemparkan halilintar ke arah Odrania Dies Orion. Kilatan merah itu melesat dengan kecepatan cahaya, langsung mengarah ke kepala Raja Iblis Kuno itu dan tepat mengenai sasaran. Ledakkan dahsyat tercipta dan langkah kaki jerangkong raksasa tersebut terhenti, namun ia tidak rubuh dan tetap menatap tajam ke tempat mereka dengan mata merahnya.


 


 


Odrania Dies Orion juga ikut berancang-ancang, dalam jarak yang sangat jauh Iblis raksasa itu melemparkan sesuatu ke tempat Odo dan Fiola. Duark!!! Suara benturan dengan keras terdengar, sesuatu yang dilempar raksasa itu membentur tebing. Saat asap dan debu menghilang, dua buah Golem Hitam terlihat. Mereka setinggi lima meter, hitam mengkilat dan memiliki daging-daging busuk yang bergerak seperti tentakel di setiap sela sendi.


 


 


Berusaha melawan rasa takut yang masih tersisa, Fiola melepas semua pengekangnya dan langsung menggunakan bentuk ekor sembilan dengan kekuatan penuh. Aura dari kekuatan suci terpancar transparan dari tubuhnya, seperti api putih yang membara dan bercampur dengan kilatan keemasan. Kesembilan ekornya membesar, cakar menajam dan aura membuat para Golem mengincarnya karena kekuatan suci yang terpancar.


 


 


Seraya berlari ke arah salah satu Golem, Fiola mengumpulkan Mana dan melakukan perubahan bentuk serta sifat secara bersamaan. Tombak petir langsung tercipta dan digenggam dengan tangan kedua tangan. Sampai di depan Golem, ia membiarkan Iblis itu melancarkan serangan dulu dengan pukulan dan menghindarinya. Menaiki tangan Golem sebagai pijakkan, Fiola langsung  meloncat dan menusuk kepalanya.


 


 


Senjata yang terbuat dari Mana tersebut aktif dan masuk ke dalam tubuh Golem, lalu kilatan kuning menyambar dari dalam tubuh besar Iblis itu dan membakarnya dari dalam. Saat hendak meloncat turun dari atas Golem tersebut, Golem satunya bergerak lebih cepat dari dugaan dan langsung melancarkan serangan dengan tinju besinya.


 


 


“Cepat!”


 


 


Namun sebelum pukulan tersebut mengenai Fiola, tubuh Golem langsung tertarik ke bawah dan dipaksa berlutut. Medan elektromagnetik menarik tubuh logam raksasa tersebut, ikut merubuhkan Golem yang telah dikalahkan Fiola.


 


 


 


 


Duark!!! Duark!!! Duark!!! Duark!!! Duark!!!


 


 


Golem-golem berjauhan dari langit, dilemparkan oleh Odrania Dies Orion. Itu sudah bukan lagi satu atau tiga buah, namun sampai puluhan dan mulai mengepung mereka dari segala arah. Di atas tebing, menaiki jurang dan menghadang jalan.


 


 


Memang para Golem Hitam mengkilat dengan daging busuk di sela-sela sendi itu tidak jauh berbeda satu sama lain, namun jumlah yang ada benar-benar menjadi ancaman untuk Odo dan Fiola yang harus fokus mencari cara mengalahkan Odrania Dies Orion.


 


 


Odo dan Fiola berdiri saling membelakang, saling menjaga satu sama lain dan menutupi titik buta masing-masing. Sama-sama menggunakan elemen petir sebagai instrumen penyerang utama, kedua orang tersebut tidak butuh komunikasi verbal untuk menjalin kekompakan bergerak. Elektrik yang menjalar di antara kulit mereka memberitahukan gerakan masing-masing.


 


 


Fiola merentangkan tangan kanannya, Odo merentangkan tangan kirinya. Saat tombak petir keemasan diciptakan Huli Jing tersebut, Odo mengirimkan petir merahnya dan menyelimuti senjata itu. Menodongkannya ke arah barisan para Golem, petir langsung melesat tanpa dilempar dan menyebar secara menyebar ke arah mereka. Itu tidak acak, struktur koordinasi serangan yang Odo tanamkan pada petir merah membuat semua sambaran tepat mengenai bagian daging para Golem yang menjadi kelemahan mereka.


 


 


Dengan berbagai cara serangan kombinasi lain, Odo dan Fiola bertahan dari gempuran para Golem yang seakan tidak ada habisnya. Namun saat mereka sudah cukup kewalahan melawan para Golem, suara gemuruh yang lebih keras terdengar.


 


 


Mereka menoleh ke sumber suara, itu adalah Odrania Dies Orion yang meloncat tinggi ke arah mereka. Dengan ukuran sebesar itu sangat tidak masuk akal jerangkong raksasa itu meloncat setinggi itu, menembus awan mendung dan jatuh di hutan tepat di bawah jurang tempat Odo dan Fiola berada.


 


 


Duuuuarkkkk!!!!!!!


 


 


Suara sangat keras itu diikuti dengan pepohonan yang beterbangan karena hempasan angin dari raksasa itu saat mendarat. Kengerian sesungguhnya benar-benar menghampiri mereka. Meski belum berdiri tegak dan hanya berlutut, kepala raksasa belulang itu sudah lebih tinggi dari tempat mereka berdua yang sedang melawan para Golem.


 


 


“Aaw ..., serius?” Odo tersenyum kaku, merasa tidak bisa memang melawan Iblis itu dengan kondisi yang ada.


 


 


Saling mendekatkan punggung dengan Fiola di belakangnya, pemuda itu menghela napas dan berkata, “Apa ... sudah dulu? Mereka mungkin sudah kabur cukup jauh, mengulur waktu kurasa sudah cukup.”


 


 


Fiola menyipitkan mata, rasa takut benar-benar telah lenyap darinya dan ekspresi wanita itu terlihat bagaikan air yang hening dengan petir keemasan menyambar dari tubuh. Sedikit menghela napas, ia menjawab, “Memang mau kabur ke mana? Meski kita berlari sangat kencang, tengkorak sialan itu akan mengejar kita dengan beberapa langkah saja.”


 


 


“Benar juga, sih.”


 


 


Odo mengatur pernapasan, berdiri tegak dan keluar dari kuda-kudanya. Mengambil pedang dengan pola bara api dari Gelang Dimensi, pemuda itu menyalurkan petirnya dan menimpa roh-roh tingkat rendah pada mata pedang dan menggabung muatan api mereka dengan petir. Kobaran api besar membara pada mata pedang, dibalut petir merah dan benar-benar menyala di tengah badai salju.


 


 


Seakan merasakan perubahan aura di sekitar Odo, Odrania Dies Orion menoleh dan menatap rendah makhluk kecil tersebut. Daging busuk yang ada di sekitar belulangnya seakan menggeliat kesenangan, suara rintihan dan erangan mengisi menggema dan membuat daratan seakan bergetar. Bola kristal kemerahan pada dada tengkorak itu bersinar merah seperti matanya, memancarkan aura sihir mengerikan yang terasa berbeda dengan apa yang terpancar dari para Golem.


 


 


Odrania Dies Orion mengangkat tangan kanannya, lalu dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukurannya, raksasa itu menepak lereng di mana jalan yang Odo dan Fiola injak berada. Itu sangatlah cepat dan tidak wajar, dalam jarak kehancuran yang luas dan langsung membuat lereng tersebut rata dengan tanah hanya dengan satu tepak saja. Dampak hempas tidak terjadi secara menyabar, namun terpusat dan membuat tanah masuk ke bawah. Mengangkat telapak tangan, belas dari tepakkan tersebut dengan jelas terlihat sangat lebar dan dalam.


 


 


Odo dan Fiola tak ikut remuk bersama puing-puing, mereka telah lari terlebih dulu. Menggunakan sihir pelontar milik Odo dan kemampuan prediksinya, mereka kabur terlebih dulu dan apa yang ditepak jerangkong raksasa itu hanyalah ilusi yang terbuat dari pembiasan cahaya yang minim.


 


 


Di balik bebatuan yang ada di bawah jurang, Odo dan Fiola bersembunyi dan menahan napas mereka. Dengan reaksi yang diberikan oleh Odrania Dies Orion tadi, pemuda itu tahu kalau raksasa itu bisa melihat sangat baik meski tidak memiliki bola mata. Di tambah dengan makhluk malapetaka itu bereaksi dengan perubahan tingkat pancaran kekuatan sihir, Odo memprediksikan kalau makhluk itu juga memiliki tingkat kepekaan sihir yang tinggi.


 


 


Odo dan Fiola tetap tidak bergerak di balik bebatuan dalam jurang, memanfaatkan bayangan yang ada dan menyembunyikan diri dengan benar-benar menghilangkan aura sihir yang terpancar. Odo lepas dari mode Gott fällt dan pakaian kembali ke bentuk semula meski bagian lengan telah terbakar sampai siku dan kaki sampai lutut, sedangkan Fiola juga menggunakan pengekang untuk menyembunyikan kekuatan suci yang terpancar.


 


 


“Padahal tidak punya mata, tapi kenapa bisa dia menyerang dengan sangat akurat. Terlebih, apa-apaan kecepatan itu? Padahal ukurannya sangat besar, tapi kenapa bisa mengayunkan tangan secepat itu?” keluk Fiola.


 


 


Seakan mendengar suara mereka yang berada di sekitar kakinya, Odrania Dies Orion yang masih berlutut menggerakkan kepalanya dan menoleh kanan kiri. Tidak menemukan apa-apa, Raja Iblis itu mulai memancarkan partikel-partikel hitam seperti kabut pekat yang keluar dari permukaan tulang dan daging busuknya.


 


 


Pepohonan yang terkena kabut itu langsung membusuk dari dalam, ditumbuhi semacam jamur dan langsung mati. Melihat pepohonan yang tumbang dengan cara tidak wajar, Odo dan Fiola merasakan pertanda buruk dari kabut tersebut.


 


 


“Serius ...? Padahal ukurannya saja sudah menjadi masalah, tapi sekarang dia punya kekuatan seperti ini?” ucap Odo.


 


 


Kabut yang ada semakin mendekat. Sembari menganalisis, Odo melangkah mundur bersama Fiola. Merasa tidak aman dengan partikel-partikel hitam tersebut, Fiola menggunakan sihir petir untuk membakarnya dan itu menjadi penunjuk keberadaan mereka untuk belulang raksasa tersebut.


 


 


“A ....”


 


 


“Gawat ....”


 


 


Odrania Dies Orion mengangkat tangan kanan, lalu langsung mengayunkannya dengan cepat ke tempat Odo dan Fiola berada. Namun saat akan menepak permukaan dan meremukkan tubuh mereka berdua yang bersembunyi di bawah jurang, tangan dengan secuil daging itu berhenti tepat di depan mereka berdua.


 


 


Kalkulasi Internal Odo langsung bereaksi dengan cepat dan memprediksi gerakan selanjutnya Odrania Dies Orion. Menggerakkan tubuh secepat yang dirinya bisa, Odo mengulurkan tangan ke arah Fiola di sebelahnya dan langsung menggunakan lingkaran sihir pelontar secara berlapis.


 


 


Bouz!


 


 


Tubuh Fiola langsung terpental jauh karena sihir tersebut. Saat melayang di udara dan melihat ke arah Odo, dengan jelas Huli Jing itu melihatnya. Tangan Odrania Dies Orion menutup dengan cepat dan langsung meremukkan tubuh Odo bersama tanah serta puing batu, suara remuk tulang terdengar bersama bebatuan yang hancur.


 


 


Berputar di udara dan segera mendarat di permukaan tanah yang tertutup salju dengan kedua kaki, Fiola dengan gemetar melihat ke arah tengkorak raksasa itu yang mulai mengangkat tangan yang menggenggam Odo. Odrania Dies Orion meletakkannya ke dada tempat kristal inti berada, lalu menyerap bebatuan bersama Odo di dalamnya.


 


 


Seakan tidak memedulikan Fiola, Odrania Dies Orion mulai memalingkan pandangan dan hendak bangun untuk meninggalkan tempatnya. Amarah Fiola langsung memuncak, bentuk ekor sembilan langsung digunakan dan sebuah halo bersinar putih muncul di atas kepala Huli Jing tersebut.


 


 


Amarah, kebencian, rasa ingin menyelamatkan, dan berbagai gelora emosi dalam benak Huli Jing tersebut menjadi pemicu evolusi terakhir dari rasnya. Naik menjadi makhluk dengan struktur kompleks dari dimensi yang lebih tinggi, ia menjadi Utusan Dewa seutuhnya.


 


 


Warna rambutnya memutih seluruhnya, kornea mata berubah merah darah dan sebuah lingkaran sihir berlapis-lapis muncul di belakang punggung Huli Jing tersebut. Pola Rajah merah muncul pada wajah Fiola, dua garis persegi pada kedua pipi dan pada kening muncul Rajah merah dengan bentuk simbol yupiter, sebuah simbol seperti angka empat.


 


 


“KEMBALIKAN DIAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”


 


 


Petir putih menggelegar kuat dari tubuh Huli Jing itu. Guntur bergemuruh dan kekuatan suci Pelayan Dewa itu terpancar dengan kuat sampai membuat iklim yang ada berganti, menghentikan badai salju dan membuat langit terang seketika.


 


 


Sang Raja Iblis menoleh ke arah sang Huli Jing, memandang rendah makhluk kecil tersebut. Fiola segera membuat tombak petir putih di tangan kanannya. Menggunakan petir yang dipadatkan sebagai pijakkan di udara, ia melesat ke arah sang Raja Iblis Kuno tersebut.


 


 


Namun sebelum sempat menyerang atau sampai, tangan Odrania Dies Orion berayun dengan cepat dan langsung menepak Fiola layaknya lalat. Suara tulang remuk terdengar sangta jelas, Huli Jing itu terpental sampai beberapa kilometer dan baru berhenti saat menabrak tebing di sisi lain dari hutan pinus.


 


 


Fiola masih mempertahankan kesadaran dan hidup, meski kondisi badannya sudah kacau balau. Kedua kaki dan tangan panah, tulang rusuk remuk berasma tulang punggung, dan tengkorak retak parah. Organ dalamnya kacau balau, dan darah berceceran keluar dari mulut, hidup, dan lukanya.


 


 


“Kem ... balikan ... dia!!!!!!!!!!”


 


 


Regenerasi Huli Jing itu berjalan secara tidak wajar dan sangat cepat, seakan batasan fisik hilang dan luka sangat parah seperti itu pulih dalam hitungan detik. Segera bangun dan memancarkan petir yang semakin kuat, kornea mata Huli Jing itu sepenuhnya memutih.


 


 


“Aaaakh, kalian makhluk rendahan selalu saja seperti itu ..., merebut apa yang mulai berharga bagiku .... Akan kupastikan kalian membayarkannya kali ini, dasar makhluk buangan.”


 


 


Ia sudah lepas dari kodratnya. Layaknya julukan yang diberikan kepadanya, itulah wujud asli dari Hewan Suci, Huli Jing. Buas dan beringas, berselimut petir dan aura putih. Memasang kuda-kuda hewan berkaki empat, ia merangkak dan bersiap menerjang ke arah Odrania Dies Orion yang masih terlihat dari tempatnya berada.


.


.


.


.


 


 


Reş û Rabe, di tempat yang hanya memiliki dua warna dasar tersebut, Odo perlahan membuka matanya. Hanya ada sebuah langit hitam dengan awan putih menyambut pemuda itu. Melihat telapak tangannya sendiri, itu hanya ada warna putih seperti sebuah kertas dengan beberapa garis-garis hitam.


 


 


Segera bangun dengan bingung, ia melihat ke kanan dan kiri. Tempatnya berada terlihat seperti sebuah ladang luas di pesisir dengan peternakan dan kebun kelapa sawit berjejer rapi. Di satu sisi terbentang laut sampai ujung cakrawala, dan di sisi lain terdapat daerah perumahan seperti desa. Meski apa yang dilihatnya sangatlah kompleks, warna yang ada hanya ada putih dan hitam.


 


 


“Tempat ... apa ini?”


 


 


“Ini adalah Realm milikku.”


 


 


Odo menoleh ke arah suara yang menjawab pertanyaannya. Terbelalak akan sosok itu, di sana berdiri seorang pemuda yang memiliki wajah sangat mirip dengannya. Wajah mereka memang sangat mirip, namun rambut pemuda yang datang itu sedikit panjang dan ikal cenderung kriwil.


 


 


Dengan senyum tipis, pemuda di hadapan Odo itu berkata, “Aku adalah Odrania Dies Orion, Raja Iblis Kuno sekaligus penguasa asli 72 pilar sebelum Solomon dan mendapat sebagian warisan Otoritas dari Dewa Iblis, Odrania Karln.”


 


 


Odo hanya terdiam mendengar itu. Berusaha memahami situasi yang ada dan tetap mengamati pemuda di hadapannya.


 


 


Odrania Dies Orion berjalan ke arah Odo Luke dan berkata, “Senang bisa bertemu denganmu, Ayahanda.”


 


 


“Ah?” Semua kalkulasi dalam kepala Odo hancur seperti menara pasir yang diterjang ombak laut.


 


 


 


 


\====================================================


Catatan:


 


 


Tinggi Odrania Dies Orion hampir sama dengan gedung CTF Finance Centre, gedung dari Tiongkok. Coba Google biar jelasnya.


 


 


Next bakal dari jadi CH pertengahan dari Arc 02 ini!! Dan bisa juga dianggap klimaks (?) Entahlah, bisa saja ide berubah di tengah jalan.


 


 


Btw, Silakan dukung terus cerita ini dengan Vote, Komen, dan Share kalian. Aku jujur tidak mendapat laba banyak karena seri ini tidak ambil kontrak, jadi jangan cemas aku garap hanya karena mengincar fee;v


 


 


Dukungan kalianlah satu-satunya semangatku untuk garap seri ini.