Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 46 : Mutual-Evîn 6 of 10 “White filler flowers” (Part 02)



 


 


Setelah mengendarai kereta kuda lebih dari dua puluh menit dari pemukiman Klista, akhirnya mereka berdua sampai pada sebuah tempat penuh bebatuan yang masih masuk teritorial Rockfield. Itu cukup jauh dari rute umum yang biasa dilalui oleh pedagang atau pengembara, dikelilingi oleh pepohonan cemara tua dan bebatuan besar yang memblokir udara dari arah puncak pegunungan dan laut.


 


 


Turun dari kereta dan mengikat kedua kuda pada pohon di dekat tempat mereka berhenti, Odo mengambil lentera minyak dan bergegas pergi ke dalam hutan. Di tengah kurangnya pencahayaan karena hanya membawa lentera, Odo berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup terjal menuju ke tempat yang diberitahukan Vil.


 


 


Berjalan kurang dari lima menit, sekilas cahaya biru keputihan terlihat di tengah kegelapan. Semakin mendekat ke cahaya tersebut, terlihat sosok perempuan rambut putih yang membawa tongkat dengan ujungnya menjadi sumber cahaya biru keputihan. Tak jauh darinya, terlihat juga seorang gadis kecil yang jongkok dan bersandar pada pohon.


 


 


Mereka adalah Nanra dan Canna, kedua orang itu telah lama menunggu dan menjaga target yang mereka tangkap. Di depan mereka berdua, seorang pria yang kedua kakinya terluka diikat dengan tali pada batu besar. Wajah pria itu sangat pucat, napasnya terengah, dan keringat dingin bercucuran. Ia kehilangan cukup banyak darah dan juga menderita demam karena infeksi pada lukanya.


 


 


“Akhirnya datang juga,” ucap Canna saat melihat Odo dan Vil datang.


 


 


Nanra segera bangun, berjalan cepat ke arah pemuda rambut hitam yang datang itu dan bertanya, “Odo ..., apa ... kau baik-baik saja?”


 


 


Sekilas pemuda itu menatap dan memberikan senyum ringan. Nanra menatap cemas, sedikit mengingat kembali kondisi pemuda itu saat terakhir kali dirinya lihat di pemukiman Klista. Nanra melihat Odo tidak sadarkan diri dengan darah berceceran, keluar dari pembuluh darah yang pecah.


 


 


“Ya, aku baik-baik saja.”


 


 


Melihat kemeja pemuda itu yang masih meninggalkan bekas darah, Nanra kembali bertanya, “Sungguh? Kamu tidak bohong?”


 


 


“Untuk apa aku bohong,” jawab Odo seraya memalingkan pandangan dari Nanra. Memasang ekspresi gelap dan menatap ke arah pria yang diikat pada batu besar, pemuda itu bertanya, “Jadi, kondisinya?”


 


 


Canna mendekat, memukul permukaan tanah dengan ujung bawah tongkatnya dan menambah intensitas cahaya pada tongkatnya untuk menerangi tempat tersebut. Dengan nada yang terkesan kurang puas, penyihir Miquator tersebut berkata, “Seperti yang Tuan Odo lihat, Kolt berhasil kami tangkap. Mungkin Tuan juga sudah mendapat penjelasannya dari Nona Vil, kondisinya seperti yang Anda lihat sekarang .... Kalau pun dimanipulasi wajahnya, bukannya akan ketahuan?”


 


 


“Eng ....” Odo meletakkan lentera yang dibawanya ke tanah, menatap datar dan berkata, “Tenang saja. Aku bisa mengakalinya. Pertama ....” Odo mengulurkan tangan ke arah Vil, lalu meminta, “Tolong ambilkan Potion dan belati, itu ada di H-33 dan WP-12.”


 


 


“Hmm ....” Vil menekan permukaan Gelang Dimensi, mengaktifkannya dan mengakses ruang penyimpanan yang disebutkan pemuda itu. Mengeluarkan barang yang diminta, Vil menyerahkan itu kepada Odo, “Ini ....”


 


 


Setelah menerima itu Odo segera mendekat ke arah pemimpin bandit, Kolt Luis, lalu menuangkan Potion ke luka pada kedua kakinya. Pria itu hanya terdiam dengan wajah pucatnya, demam parah membuat kesadaran Kolt Luis buyar dan tubuhnya mati rasa. Seakan tidak memedulikan hal tersebut, Odo berlutut di depannya dan memegang kedua kaki pemimpin tersebut dan melakukan manipulasi informasi.


 


 


“Identifikasi dimulai, membaca Form dasar. Selesai. Membaca Lines utama. Selesai. Identifikasi selesai. Pembangunan lapisan, menggunakan formula dari Infinity. Proses Re = construction dimulai.”


 


 


Informasi daging pada kedua kaki Kolt diubah, jaringan sarafnya dibuat ulang menggunakan cairan Potion dan tulangnya dibentuk kembali dengan kalsium yang dibuat menggunakan transmutasi zat besi pada darah. Luka parah pada kedua kaki pria itu perlahan tertutup, jaringannya kembali pulih dan efek lumpuh permanen dengan mudah dihilangkan.


 


 


Meski kakinya telah sembuh, namun demam yang diderita Kolt masih ada. Odo membiarkan itu, lalu menyentuh kening pria rambut cokelat cepak tersebut untuk menanamkan paket informasi ke dalam kepalanya dengan tatanan aktivasi jangka waktu. Bola mata Kolt terbuka lebar, seperti akan keluar dan mulutnya menganga dengan air liur mengalir keluar.


 


 


“AbKemla TolBalme MEial MAmcal NIEmal IMS .... Ak Ak Ak Ak.”


 


 


Kata acak keluar dari Kolt saat informasi masuk ke dalam kepalanya. Tubuhnya kejang-kejang, bola matanya berputar-putar dan ekspresinya berubah-ubah dengan cepat dari sedih, marah, kesakitan, dan bahagia.


 


 


Selesai menanamkan informasi ke dalam kepala pria itu dan membuatnya terdiam dengan ekspresi datar, Odo mengangkat tangan dari kepalanya dan sedikit melangkah mundur untuk memulai proses lainnya. Pimpinan bandit itu benar-benar terlihat rusak mentalnya, melihat ke kanan dan kiri layaknya orang gangguan jiwa.


 


 


“A-Apa yang Tuan lakukan padanya?” tanya Canna. Sebagai seorang penyihir, dirinya merasa apa yang telah Odo lakukan itu sangatlah keji karena membuat kepribadian seseorang sampai rusak seperti itu.


 


 


“Tak perlu cemas, aku hanya menanamkan paket virus ke dalam otaknya. Seharusnya itu akan mengatur kepribadiannya. Ini supaya saat dieksekusi dia tidak bicara yang tidak perlu. Selanjutnya ....”


 


 


“Hal ini ....”


 


 


Canna menatap dengan ekspresi enggan, merasa hal seperti itu lebih kejam daripada membunuh. Nanra yang tidak paham apa yang sedang Odo lakukan hanya terdiam, ia sama sekali tidak merasa kasihan pada bandit dan malah merasa pria itu pantas mendapat hal tersebut.


 


 


“Ini memang kejam. Karena itu ... akan aku lakukan dengan cepat.”


 


 


Odo melakukan persiapan untuk menguban bentuk fisik Kolt Luis. Dengan belati di tangan kiri, Odo mengiris tipis pergelengan tangan kanannya sendiri dan membiarkan itu mengalir menetes ke wajah pimpinan bandit tersebut. Darah yang mengalir mulai meresap masuk ke kulit, lalu bergerak-gerak seakan hidup dan mengubah postur wajah Kolt Luis.


 


 


Perubahan yang terjadi sangatlah kacau, wajah Kolt mulai terlihat seperti gumpalan daging yang bentuknya urakan dan sama sekali tidak terlihat seperti wajah manusia. Wajahnya seperti daging kemerahan dengan hidung di kening, mulut di pipi, dan telinga di sekitar dagu. Semua orang yang melihat itu merasa jijik, kecuali Odo.


 


 


Menyentuh wajah tak berbentuk itu dengan tangan kanan yang masih meneteskan darah, Odo mulai melakukan manipulasi informasi daging yang tumbuh dengan kacau itu supaya membentuk wajah yang diinginkannya. Odo memejamkan mata, melalukan pemrosesan informasi wajah Tox Tenebris yang dirinya ingat dan memasukkannya paksa ke dalam informasi pembentuk wajah Klot Luis yang kacau.


 


 


“Proses asimilasi dimulai. **** informasi Form dasar, Input informasi dimulai.”


 


 


Daging wajah Kolt berdenyut-denyut, mengeluarkan cairan dan perlahan mulai berubah bentuknya. Proses dilakukan cukup lama, menata daging dengan memanipulasi informasi pembentuk fisik dan mengakses genetik dasarnya. Dagu, mulut, pipi, mata, bibir, dan bagian-bagian wajah dibentuk ulang menyerupai Tox Tenebris.


 


 


Selesai melakukan modifikasi pada wajah Klot Luis, Odo mengangkat tangannya dari wajah pria itu sembari membawa sebuah bola mata yang memang tidak diperlukan dari komponen pembentuk wajah. Saraf pada bola mata yang pemuda itu ambil masih hidup meski lepas dari tempatnya, berdenyut dan memiliki suhu hangat.


 


 


“Vil, buka penyimpanan ODR-05 ....”


 


 


“Ba-Baik!”


 


 


Vil mendekat, menekan permukaan Gelang Dimensi dan membuka lingkaran sihir untuk ruang yang disebutkan Odo. Setelah memasukkan bola mata tersebut ke ruang penyimpanan, pemuda itu kembali menatap ke arah Kolt Luis yang wajahnya sekarang sangat identik dengan Tox Tenebris. Pria rambut cokelat dengan wajah sangar, memiliki jenggot dan berewok, serta bola mata kirinya tidak ada dan bekas hitam terdapat di sekitarnya.


 


 


Meski begitu, tubuh Kolt Luis sangat jauh dari kata mirip dengan Tox Tenebris yang memang cenderung kekar. Untuk mengatasi itu, Odo sedikit menghela napas dan berkata, “Sebaiknya kalian pergi dulu saja.”


 


 


“Eh? Kenapa?” tanya Canna bingung.


 


 


“Aku ... perlu menelanjanginya. Meski wajahnya sudah mirip, tubuh perlu diubah juga.”


“Ah ....” Wajahnya menunjukkan ekspresi paham.


 


 


“Baiklah,” ucap Nanra.


 


 


Mereka berdua pergi tanpa protes atau bertanya-tanya. Canna dan Nanra memang sedari tadi sudah ingin meninggalkan tempat tersebut karena mulai tidak tega dengan salah satu pimpinan bandit tersebut.


 


 


Saat Vil hendak pergi bersama mereka berdua, Odo memanggil, “Oh, iya. Vil, bisa bantu aku? Aku perlu penyimpanannya.”


 


 


“Eh?” Vil menoleh dengan enggan, ia memasang ekspresi jijik dan berkata, “Ehmm, baiklah.”


 


 


Setelah itu, Odo melakukan modifikasi pada tubuh Kolt Luis dengan cara yang sama seperti saat ia mengubah postur wajahnya. Itu butuh waktu sangat lama dan pemuda itu harus menggunakan darah lebih banyak sampai membuatnya lemas. Ada beberapa bagian tubuh yang ditambahkan pada Kolt dan ada juga yang dikurangi.


 


 


Tak ada suara jeritan, pria itu benar-benar tak berdaya dan hanya bisa terdiam. Tak merintih, menjerit, melawan, atau bahkan pasrah. Ia hanya kosong karena virus tertanam pada kepalanya, membuat kesadarannya tetap ada namun kepribadiannya mengalami gangguan.


 


 


««»»


 


 


Beberapa hari kemudian. Momen eksekusi pemimpin bandit, Tox Tenebris, telah tiba. Di bawah matahari yang sudah naik hampir pada puncak tertingginya, orang-orang berkumpul di alun-alun kota Mylta. Mereka datang bukan hanya dari kota pesisir tersebut, namun dari kota tetangga seperti Rockfield, Vadusi, Litista, St. Lacus, Izta Maria, Lignum, dan bahkan ada orang eksekutif dari Ibukota dan wilayah Rein yang datang sebagai saksi.


 


 


Panggung kayu didirikan di depan air mancur, menjadi sebuah tempat untuk eksekusi dengan Guillotine berada di atasnya. Pisau pemenggal itu terlihat mengkilat diterpa sinar matahari, telah diasah tajam oleh para pandai besi dan akan digunakan setelah terbengkalai selama bertahun-tahun di dalam gudang. Orang-orang berkumpul di depan panggung yang letaknya membelakangi arah laut tersebut, mulai ramai saling bicara dan berkata-kata seakan tak sabar menunggu eksekusi.


 


 


“Akhirnya datang juga hari ini, bajingan itu pantas mati!”


 


 


“Ah, benar! Keponakanku menjadi korban kebejatan para bandit saat dia pergi mencari taman di hutan! Dia pantas mendapat hukuman ini!”


 


 


“Karena sialan itu, kota ini jadi seperti tempat mati! Rute datang tertutup dan kita menderita! Huh! Akhirnya pihak pemerintah melakukan tugasnya juga!”


 


 


“Hey, katanya ada juga saksi yang datang dari Ibukota, loh!”


 


 


“Bukannya di sana sedang ada pertemuan penting terkait pemilihan calon pasangan Putri Arteria? Apa pemerintah pusat menganggap ini sangat penting? Atau calonnya sudah ditentukan?”


 


 


“Entahlah, aku juga tak tahu. Mungkin karena ini masalah wilayah Luke, bisa saja Lord memerintahkan salah satu utusan untuk menjadi saksi.”


 


 


“Aku tak peduli semua itu! Yang penting bandit itu akan mati! Tch! Kuharap eksekusi ini akan menyengsarakannya dulu sebelum membunuhnya!”


 


 


“Oi, oi, tenanglah ....”


 


 


“Mana mungkin aku bisa tenang! Kelompok yang dipimpin bandit itu telah membunuh tunanganku dan kakak perempuanku!”


 


 


Mereka yang berkumpul di alun-alun diisi dengan emosi dan tujuan yang berbeda-beda. Ada orang yang memendam dendam kesumat karena keluarganya menjadi korban kebrutalan para bandit, ada yang hanya ingin menyaksikan, ada pedagang yang merasa senang karena eksekusi juga menjadi tanda benar-benar terbebasnya rute perdagangan, dan berbagai hal lainnya mengisi benak tiap-tiap orang.


 


 


 


 


Pada pagi hari menjelang siang yang cerah tersebut, seorang pria dengan zirah lengkap naik ke atas panggung sembari membawa kertas perkamen resmi.


 


 


Membuka gulungan tersebut, ia dengan lantang membacanya, “Pengumuman!! Pada hari ini eksekusi pimpinan bandit, Tox Tenebris, akan dilakukan!! Atas gugatan umum dari Jaksa Tingkat Umum, Tingkat Kota, Tingkat Wilayah dan Tingkat Pusat, telah diputuskan bahwa Tox Tenebris bersalah! Gugatan berjumlah 539 perkara! Atas putusan dari Pihak Religi Kerajaan, eksekusi akan dilakukan dengan alat pemenggal hari ini dengan saksi luar Utusan dari Ibukota dan Wilayah Rein!”


 


 


Suasana senyap seketika. Prajurit dengan zirah lengkap itu menggulung perkamennya, lalu turun dari panggung melalui bagian belakang. Belum sepuluh detik setelah dirinya pergi dari panggung, suara sorak-sorai pecah.


 


 


“OUUUUUH!!!”


 


 


“MATI KAU!!! SIALAN!!”


 


 


“AKHIRNYA!!! AKHIRNYA”


 


 


“HAAAAA!!”


 


 


Dari arah samping panggung, seseorang yang kepalanya ditutup kain dikawal oleh para prajurit. Kedua tangannya diikat dengan borgol papan, pakaiannya compang-camping dan tubuhnya penuh luka lecet. Melihat itu, sorak-sorai mulai mereda dan perhatian hampir dari lima ratus orang yang berkumpul terarah pada orang yang datang tersebut. Pria yang dikawal itu dibawa ke atas panggung, dipaksa berlutut dan kain yang menutupi kepalanya dilepas.


 


 


Orang tersebut adalah pemimpin bandit, Tox Tenebris, pria bertubuh kekar dengan rambut cokelat dan memiliki berewok serta jenggot pendek. Mata kirinya tidak ada, memiliki bekas hitam di sekitarnya dan parasnya sangar


 


 


Orang-orang mulai menyerapah saat melihat wajah pria itu, melaknat dan memaki-maki Tox Tenebris. Dengan histeris, penuh kebencian dan benar-benar mengutuk pria yang menjadi sumber tragedi di wilayah Luke selama beberapa tahun terakhir.


 


 


Atas putusan dari semua tingkat gugatan, hanya pria itu yang akan dieksekusi karena secara kesaksian memang keluarganya tidak ikut dalam tindak kejahatan. Namun  karena masalah nilai masyarakat, istri pria itu akan masuk ke dalam status pengawasan meski tidak ditangkap dan pengawasannya akan diserahkan kepada salah satu pegawai sipil.


 


 


Kepala Tox Tenebris dimasukkan ke lubang Guillotine, kedua tangannya dipasung dan persiapan untuk eksekusi telah selesai. Algojo bertubuh kekar membawa kampak untuk memutus tali pemenggal.


 


 


“Penggal dia!”


 


 


“Cepat penggal bajingan itu!!”


 


 


“Bunuh!!”


 


 


Kesabaran mereka yang menunggu eksekusi sedari pagi sudah mulai habis. Para prajurit yang berdiri sebagai pagar betis di depan panggung sampai kewalahan, menahan mereka yang berusaha menerobos masuk.


 


 


Di tengah suasana yang mulai rusuh, salah seorang bangsawan yang datang sebagai saksi naik ke atas panggung. Ia terlihat masih sangat muda, memiliki rambut berwarna cokelat gelap yang khas dan kornea hijau cerah. Mengenakan pakaian rapi dan jas merah gelap yang menonjolkan kesan bangsawan, ia berdiri dengan gagah di atas panggung ditemani kedua pengawalnya.


 


 


Pemuda yang menjadi utusan dari wilayah Rein itu adalah Arca Rein, putra pertama dari Thomas dan Calista, seorang pewaris sah keluarga Rein. Di usianya yang baru hampir menginjak 16 tahun, Arca sudah mendapat gelar Knight dan menyelesaikan pendidikan dasar militer serta kebangsawanan. Ia datang ke tempat tersebut pun sebagai perwakilan Ayahnya yang sekarang masih berada di Ibukota.


 


 


Melihat salah satu utusan naik ke atas panggung, Iitla Lots yang menjadi pagar betis bersama para bawahannya langsung terkejut. Ia meninggalkan barisan dan naik ke atas panggung, “Tuan Arca! Ke-Kenapa Anda naik ke atas sini? Bukannya sudah saya bilang utusan duduk di sana bersama yang lain? Kena—?”


 


 


“Bicara apa kau, Tuan Iitla!” Arca mengangkat dagunya sendiri, menatap dengan sorot mata angkuh dan menunjuk ke arah para saksi, “Lihat di sana! Kalau aku duduk di sana, mana bisa aku melihat eksekusi ini!”


 


 


Kening Iitla mengerut, Kepala Prajurit itu mulai kesal dengan anak sulung keluarga Rein tersebut. Segera memegang pundaknya dengan kencang, ia membentak, “Tidak boleh! Tempat eksekusi harus ada algojo! Itu peraturannya!”


 


 


Arca menatap datar, memalingkan pandangannya dan melihat kedua pengawalnya yang mengenakan zirah lengkap sampai helm. Mereka berdua menggelengkan kepala. Kembali menatap Iitla, pemuda rambut cokelat gelap itu berkata, “Ah, terserahlah. Lakukan saja eksekusinya. Aku lelah menunggu, kau tahu.”


 


 


Arca menyingkirkan tangan Iitla, lalu turun bersama kedua bawahannya dengan ekspresi angkuh layaknya dirinya penguasa.


 


 


“Dasar bocah,” gumam salah satu bawahan Iitla yang menjadi pagar betis.


 


 


Mendengar itu, Arca yang hendak duduk bersama para saksi terhenti. Menoleh dan menghampiri prajurit tersebut, pemuda rambut cokelat gelap itu memegangnya dari belakang dan menekan, “Hmm, apa katamu? Kau tadi berkata apa?!”


 


 


“Ti-Tidak ....” Prajurit itu langsung gemetar karena takut dengan status pemuda itu.


 


 


Melihat itu dari atas panggung, Iitla menegur, “Tuan Arca! Tolonglah jangan membuat masalah, Anda ingin ini cepat selesai, ‘kan?!”


 


 


“Hah! Baiklah!”


 


 


Pemuda itu pun kembali duduk pada tempatnya. Para saksi yang berada pada satu tempat dengan Arca tidak ada yang berkomentar. Pemuda itu lahir dari keluarga yang memegang kekuatan politik terbesar di kerajaan setelah Raja, satu kalimatnya bisa menentukan masa depan mereka yang bekerja di ranah pemerintahan.


 


 


Iitla pun turun atas panggung, meninggalkan algojo yang siap untuk mengeksekusi pimpinan bandit. Berdiri di dekat para saksi, Kepala Prajurit itu sedikit melirik ke arah Arca dan memasang wajah resah karena keberadaan anak sulung keluarga Rein tersebut.


 


 


Arca terkenal di kalangan pemerintahan karena memang dirinya dididik untuk terjun ke dunia seperti itu. Ia memang pandai dan ahli seperti halnya keturunan Rein yang memang terlahir sebagai spesialis pemerintahan dan hukum. Namun karena masih mudanya Arca, putra sulung dari tiga bersaudara itu bisa dikatakan cukup arogan dan mudah terpancing emosi.


 


 


“Dia berbeda sekali dengan Tuan Odo,” benak Iilta Lots seraya menghela napas resah.


 


 


Karena naiknya Arca ke atas panggung, suasana menjadi aneh dan orang-orang yang berkumpul malah membicarakan anak sulung tersebut. Namun saat eksekusi akan dilanjutkan, suara serapah muai pecah dan keramaian kembali.


 


 


Algojo mendekati Guillotine dan bersiap memutus talinya untuk menurunkan pisau pemenggal.


 


 


“Apa ada kata-kata terakhir, kriminal?” pria kekar tersebut.


 


 


Tox Tenebris menoleh ringan, tersenyum pucat dan berkata, “Hari ini indah, ya.”


 


 


“Hah?”


 


 


Itu membuat algojo terheran, menatap datar dan sedikit mengingat laporan para sipir di penjara kota tempat pemimpin bandit itu ditahan sebelum dibawa ke panggung eksekusi. Menurut mereka, Tox Tenebris sedikit mengalami gangguan kejiwaan pada sehari sebelum hari eksekusi sekarang.


 


 


“Hari ini udara segar, ya.”


 


 


Pimpinan bandit itu hanya menjawab dengan kata-kata tak penting, seakan memang mentalnya telah rusak karena stres. Iitla yang berada di bawah memberikan tanda untuk algojo, mengangkat tangan kanannya lalu —


 


 


Tccht ....


Sring!!


 


 


Tali dipotong dan pisau jatuh, memenggal kepala Tox. Kepala menggelinding di lantai panggung eksekusi, darah mengalir dengan deras melalui jalur kayu yang ada pada alat pemenggal dan masuk ke dalam ember yang tersedia.


 


 


Dalam momen tersebut, suara sorak langsung pecah dan alun-alun langsung dipenuhi oleh kepuasan histeris orang-orang yang telah menunggu eksekusi tersebut. Iitla sebagai salah satu panitia eksekusi hanya memasang ekspresi datar, pikirannya penuh dengan masalah lain karena sehari sebelum eksekusi dirinya mendengar kabar buruk terkait pemukiman Klista.


 


 


Menghela napas dengan penuh rasa resah, Kepala Prajurit itu bergumam, “Apa ... Nona baik-baik saja di sana? Rasanya mengesalkan tidak bisa berdiri di sampingnya dan membantu.”


.


.


.


.


 


 


Di luar keramaian orang-orang yang menonton eksekusi, Odo berteguh di bawah bayang-bayang bangunan salah satu instansi pemerintahan. Sedikit menajamkan tatapannya, ia  melihat ke arah jasad tanpa kepala yang mulai digotong keluar dari atas panggung.


 


 


Pemuda rambut hitam yang selalu mengenakan kemeja dan celana hitam itu ditemani Vil, perempuan yang juga selama beberapa hari terakhir selalu mengenakan pakaian yang sama dan terdiri dari blus dan bawahan celana panjang ketat yang dirangkap rok pendek.


 


 


Vil menarik lengan kemeja Odo dari belakang, lalu dengan cemas bertanya, “Apa tak masalah seperti ini, Odo?”


 


 


Melirik kecil dengan senyuman tipis yang terkesan dingin, ia menjawab. “Ini sudah pas. Sekarang tinggal menekannya lagi ke orang itu .... Ayo kembali ke penginapan.”


 


 


“Huh, baiklah ....”


 


 


Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat tersebut. Orang yang dieksekusi bukanlah asli Tox Tenebris, namun Kolt Luis yang wajahnya telah Odo ubah sedemikian rupa. Pemuda itu telah menukar posisi mereka berdua sesaat setelah kembali ke kota.


 


 


Saat Canna membuat sibuk orang-orang pemerintah kota Mylta dengan laporan terkait pemukiman Klista, Odo menyusup ke penjara kota untuk menukar posisi kedua pemimpin bandit tersebut.


 


 


Tentu saja pemuda itu telah merencanakan hal tersebut sebelum dirinya berangkat mencari Kolt Luis, karena itulah ia mengamankan istri Tox Tenebris untuk membuatnya tidak bisa menolak tawaran.