
Wanita berambut pirang itu benar-benar terkejut mendengar hal tersebut, wajahnya sangat terlihat jelas baru mengetahui kalau jiwa yang disebut Sang Pembawa adalah jiwa yang direinkarnasikan dari dunia Sebelum Awal Kiamat.
Setelah itu, wanita berambut pirang itu benar-benar menghujani Odo dengan pertanyaan tentang dunia yang ada sebelum hilangnya faktor kemungkinan. Itu benar-benar memakan waktu lebih dari tiga jam sampai rasa penasaran wanita tersebut benar-benar berkurang.
.
.
.
“Wah~! Begitu ya, ternyata ada dunia seperti itu!” ucapnya dengan penuh semangat setelah mendapat kepuasan atas keingintahuannya.
“Sebenarnya masih banyak yang diriku ingin tahu, tapi diriku rasa waktunya sudah hampir habis .... Dan juga ..., sepertinya mereka juga lelah menunggu,” ucap wanita berambut pirang tersebut. Melihat pintu yang masih terbuka saat mereka berdua masuk, wanita tersebut tersenyum tipis. Odo bingung saat itu juga dan ikut melihat ke arah pintu.
“Kalian semua, masuklah .... Ibu sudah selesai bicara dengannya.”
Secara otomatis Odo merasakan getaran beberapa pasang kaki yang mendekat. Saat melihat pemilik langkah kaki-kaki tersebut, Odo sangat terkejut dengan apa yang nampak. Enam anak yang terlihat masih berumur kurang dari sepuluh tahun melangkah masuk ke dalam ruang, mereka tidak jauh berbeda dengan anak pada umumnya. Tetapi, saat diamati paras wajah mereka ada sesuatu yang berbeda.
Mereka mirip, itu bukan hanya sekedar kembar, tetapi sangat mirip. Dari warna rambut, kulit, kornea mata, bahkan sampai tinggi badan mereka persis. Meski jenis kelamin dari keenam anak tersebut berbeda-beda, terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan, tetapi wajah dan penampilan mereka benar-benar mirip, kecuali rambut yang lebih panjang untuk ketiga anak perempuan.
Dari keenam anak kembar tersebut, anak perempuan semuanya mengenakan pakaian berupa gaun polos panjang selutut berwarna putih, sedangkan yang laki-laki mengenakan setelan formal dengan unsur warna gelap.
Melirik ke arah wanita berambut pirang yang duduk di hadapannya, Odo sedikit mengangkat kedua alisnya. “Banyak ya ... anakmu, tapi kok ibunya masih langsing begini?” sindir Odo.
“Hmm, tentu saja. Meski mereka semua anakku, bukan berarti diriku melahirkan mereka.”
“Eh?”
“Mereka Artificial Life, lebih tepatnya klon yang kubuat dari peta DNA milikku dan kekasihku. Karena itulah ..., mereka anakku.”
Odo bisa memahami istilah tersebut dengan sangat jelas, Artificial Life itu merupakan sebuah istilah untuk menyebut sebuah bentuk kehidupan buatan yang tercipta melalui rekayasa berbagai bidang pengetahuan. Tetapi mendengar hal semacam itu di dunia yang penuh dengan sihir dan hal-hal ajaib, anak berambut hitam itu tidak bisa langsung menerimanya.
“Me-Mereka klon? Ba-Bagaimana kau menciptakan mereka?” tanya Odo.
“Kenapa dikau jadi gagap seperti itu? Dan juga, seperti biasanya engkau bertanya hal yang tidak penting, ya. Tentu saja dengan pengetahuan Langit. Mereka ... tercipta dari proses pertumbuhan yang dipercepat dan rekayasa genetik, lalu diberikan kepribadian dengan cara pengaturan dasar pada neutron otak mereka. Yah, meski jujur diriku tidak terlalu pandai memberikan sifat, hasilnya mereka terlihat seperti boneka.”
Odo dan wanita itu kembali melihat ke arah keenam anak berambut pirang yang masih berdiri di dekat pintu masuk. Keenam anak itu hanya terdiam, dengan wajah tanpa ekspresi yang bahkan lebih parah dari sosok ibu keenam anak itu. Kembali melihat ke arah wanita berambut pirang di hadapannya, Odo merasa ada yang salah dengan pola pikir wanita tersebut.
“Mereka ... kau anggap anak, bukan?”
“Tentu saja, karena itu mereka diriku sebut anakku.”
“Nama mereka siapa?”
“Kalau laki-laki diriku beri nama Unit 01 sampai Unit 03, dan untuk yang perempuan diriku beri nama Unit 04 sampai 05, ada satu yang berjenis kelamin perempuan yang menyandang nama Main Cluster tipe 00.”
Mendengar perkataan seperti itu, Odo benar-benar sadar ada yang salah dengan wanita di hadapannya. Itu bukanlah nama yang pantas diberikan kepada seorang anak yang sudah dianggap sebagai darah daging, paling tidak Odo merasa seperti itu. Menarik napas dalam-dalam, anak berambut hitam itu mengajukan sesuatu yang membuat wanita tersebut terkejut.
“Sebelum melanjutkan pembicaraan kita, boleh aku memberi ceramah sedikit padamu?”
“Ceramah? Apa itu?”
“Hmm, kata yang lebih tepat apa ya?” Odo sekilas memalingkan pandangan dan berpikir. Mendapat kata yang sesuai, Ia kembali melihat ke arah wanita itu seraya berkata, “Kuliah ..., pembelajaran secara dalam. Aku akan mengajarimu tentang sesuatu.”
Odo berdiri dari tempat duduk, lalu berjalan ke arah keenam anak yang masih berdiri seperti patung di dekat pintu masuk. Menggandeng satu dari mereka, kelima anak lain mengikuti Odo dan berjalan ke arah wanita yang menjadi sosok ibu keenam anak tersebut. Membiarkan keenam anak tersebut itu duduk di kursi yang ada di sepanjang meja, Odo kembali menggandeng satu anak secara acak dan memintanya duduk di pangkuannya.
Melihat anak berbadan bongsor itu duduk memangku salah satu anak perempuan berambut pirang yang tubuhnya lebih kecil, sosok Witch tersebut terlihat bingung dengan apa yang akan dilakukannya.
“Kau anggap apa anak ini?” tanya Odo sambil memeluk anak perempuan di pangkuannya.
“Itu anakku, memangnya apa lagi?”
“Kau sebut apa anak ini?”
“Dia tipe 00, itu namanya.”
Odo benar-benar paham cara pikir wanita di hadapannya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya ke samping, anak berambut hitam itu memasang wajah gelap dan tatapannya berubah tajam. Secara pribadi anak berambut hitam itu tidak bisa menerima hal semacam apa yang ada di hadapannya.
“Kau tahu ..., seorang ibu tidak boleh seperti itu dan harus lebih menghargai anaknya. Meski mereka hanya klon, tetapi paling tidak kau harus melakukan mereka sebagai manusia.”
“Tapi mereka bukan manusia, mereka klon ..., lebih tepatnya homunculus karena kepribadian mereka juga buatan.”
Tatapan Odo bertambah gelap mendengar itu. Dirinya tahu kalau wanita di hadapannya itu tidak bermaksud buruk karena memang sudah seperti itu akal sehatnya, tetapi tetap saja hal tersebut mengganggu Odo. Menenangkan diri dan berusaha untuk tidak terbawa emosi, anak berambut hitam itu sedikit demi sedikit menjelaskan akal sehat yang pantas tentang cara seorang ibu memandang anaknya.
Satu jam, dua jam, sampai lima jam lebih dan hari sudah gelap, Odo dengan telaten menjelaskan apa itu arti seorang Ibu dan apa itu seorang anak, menjelaskan bagaimana hubungan yang ada dan ikatan apa yang tidak bisa diputuskan.
Wanita itu benar-benar baru pertama kali mendengar hal semacam itu, Ia memang tahu apa itu keluarga, tetapi konsep hubungan ibu dan anak dalam dirinya sangatlah kosong.
Mendengar apa yang dijelaskan Odo, wanita itu menerimanya tetapi masih tak bisa memahaminya secara penuh, itu terlalu rumit bagi dirinya dan tidak bisa diterima akal sehatnya.
“Mengapa seorang Ibu harus berkorban demi anaknya? Mereka bisa hidup karena ibu, bukannya anak yang seharusnya berkorban untuk Ibu? Dulu saat masih di Kayangan diriku juga seperti itu ..., terus berkorban untuk kedua sosok yang melahirkanku,” ucap wanita yang duduk di hadapan Odo.
“Cobalah pahami mereka, sayangi mereka, dan cara sesuatu yang membuatmu nyaman. Kau tahu, dunia ini bukan hanya tentang logis, efektif, dan efisien. Gunakan perasaanmu.”
“Tidak paham ..., diriku tidak paham. Mengapa harus seperti itu?” Wanita itu menatap dengan tatapan datar, tetapi matanya terbuka lebar seakan pikirannya kacau.
Di hadapan sosok Ibu tersebut, Odo meraba dada anak perempuan yang duduk di pangkuan. Ia meraba-raba dada kecil dari anak perempuan yang sama sekali tidak menujukan ekspresi dan tetap terdiam seperti boneka. Suasana hening terjadi, wanita itu menatap dengan bingung dengan apa yang dilakukan Odo.
Tidak memedulikan ekspresi yang mulai berubah dari wanita itu, Odo memeluk anak perempuan berambut pirang yang ada di pangkuannya dan tambah meraba-raba tubuhnya, dari dada, paha, bahkan sampai bagian yang tidak boleh disentuh. Saat Odo kembali melihat ke depan seraya menyeringai gelap, wanita berambut pirang itu masih memasang wajah bingung.
“Apa yang sedang dikau lakukan?”
Tidak menjawab pertanyaan tersebut, Odo melepaskan pelukannya pada anak perempuan di pangkuan. Odo membuka telapak tangan kiri dan mengumpulkan Mana dalam jumlah kecil, lalu mengubah atributnya menjadi petir. Tersenyum tipis, anak berambut hitam itu menyentuh pundak anak perempuan yang duduk di pangkuan dengan tangan berselimut petir tipis tersebut.
Anak perempuan itu langsung tersetrum, wajahnya tersentak memperlihatkan ekspresi kesakitan dan air liur membusa keluar dari mulutnya, serta matanya mulai berputar ke atas. Wanita di hadapan Odo mulai gemetar melihat itu, rasa cemas dengan jelas terlihat dari raut wajahnya.
“Apa ... apa yang kau lakukan!!?” tanya wanita tersebut dengan panik.
“Aku akan membunuhnya, anggap saja sebagai tanda kontra―”
Sebelum Odo menyelesaikan ucapannya, wanita berambut pirang itu berdiri dan langsung menapak wajah anak berambut hitam tersebut dengan tangan kanan. Dalam hitungan kurang dari satu detik, sebuah reaksi sihir terjadi dan ledakkan dari telapak tangan wanita itu langsung menerbangkan tubuh Odo ke udara, kaki kursi tempatnya duduk patah dan membiar laju terpelantingnya sedikit condong ke samping dan tubuh Odo berhenti saat membentur dinding, lalu jatuh ke atas meja berisi perabotan di atasnya.
Wanita itu terkejut saat tubuh bergerak sendiri dan menyerang Odo seperti itu. Rasa khawatir menyelimutinya, tetapi bukan kepada Odo, melainkan anak perempuan yang tadi disetrum. Wanita berambut pirang itu kacau, ia gemetar melihat anak perempuan yang jatuh terbaring di atas lantai dengan mata terbuka lebar dan sama sekali tidak bergerak. Dadanya langsung sakit, bahkan lebih sakit daripada saat jantungnya tertusuk tombak.
“Benar ..., kau sakit bukan?”
Mendengar suara Odo, wanita itu terkejut melihat anak berambut hitam itu bisa langsung bangun setelah mendapat serangan telak. Anak berambut hitam tersebut mulai bangun dengan sebagian wajahnya terdapat luka bakar dan dari mulutnya mengeluarkan darah yang mengalir.
“Auto Regen ....” Dalam hitungan detik, partikel Mana yang telah tersebar di sekitar anak berambut hitam itu berkumpul, lalu membentuk kulit dan daging anak itu yang terkelupas. Tidak butuh sampai sepuluh detik, wajahnya kembali seperti semula dan beberapa tulang beserta organ dalamnya yang rusak pulih dengan cepat.
“Rasanya sakit, padahal bukan diriku yang tersakiti, kurang lebih itu yang kau rasa sekarang, bukan? Pahami perasaan itu ..., dan biasakan. Kalau tidak, kau akan merasakan penyesalan atau rasa sakit yang lebih parah,” ucap Odo.
Anak berambut hitam itu berjalan mendekati anak perempuan yang terbaring di lantai, lalu membalik tubuhnya supaya terbaring terkapar. Menyentuh dada kiri, lalu kembali menyetrumnya supaya detak jantungnya kembali. Tidak butuh sampai lima kali, detak jantung anak perempuan itu kembali berdetak dan kembali bernapas.
Odo berdiri, lalu sekilas melihat ke arah anak-anak lain yang terlihat lega saat anak perempuan itu kembali bernapas. “Ah, bukan berarti mereka tidak punya perasaan ternyata. Apa mereka juga belajar?” pikir anak berambut hitam tersebut.
Melihat ke arah wanita berambut pirang yang berdiri dengan wajah terkejut, Odo sedikit memasang wajah gelap seraya bertanya, “Apa sudah paham? Hubungan Ibu dan Anak itu seperti ya begitu. Untuk sekarang, paling tidak pahami itu dan lebih hargai mereka ....”
Perkataan tersebut kali ini benar-benar dipahami wanita itu. Ia memasang wajah dengan mata berkaca-kaca karena lega, dan merasakan sesuatu yang belum dirinya pernah rasakan sebelumnya.
“Terima kasih ..., sudah memberitahukan hal seperti ini kepada diriku ....”
“Odo Luke ....”
“Eh?”
“Namaku Odo Luke. Penting untuk saling kenal, bukan? Paling tidak bertahu namamu ..., dan juga ... berikan nama yang pantas untuk mereka.”
“Nama .... Sayang sekali diriku tidak memilikinya. Itu sudah ....”
Wanita itu menundukkan wajah dan terlihat sedih. Melihat itu Odo menghela napas, merasa lelah meladeni hal semacam itu.
“Pakai saja nama Dewa milikmu.”
“Eh? Tapi .... “ Wanita itu terdiam seraya mengingat kembali berbagai hal. Mengangkat wajah dan berusaha tegar, Ia berkata, “Baiklah ..., diriku akan menggunakannya.”
Di dalam ruangan tersebut, Witch yang telah membuang namanya lebih dari ribuan tahun yang lalu kembali menyebutkan nama pembawa kesalahan tersebut. Mendengar apa yang diucapkannya, Odo hanya tersenyum kecil.
“Hmm, namamu memang lebih manusiawi. Kenapa tidak berikan saja nama semacam itu pada anak-anakmu?” tanya Odo.
“Diriku ... tidak pandai memberi nama.”
Odo terdiam sesaat, memalingkan pandangan dan merasakan hal yang serupa dengan apa yang dirasakan wanita tersebut.
“Kenapa tidak dikau saja yang mengganti nama mereka? Nama yang lebih pantas dan penuh makna,” ucap wanita berambut pirang tersebut.
“Eh?”
Pada akhirnya, Odo benar-benar dimintai untuk mengganti nama keenam anak berambut pirang yang ada. Karena memang selera penamaan Odo tidak terlalu bagus, nama yang diberikan sangat sederhana. Untuk yang berjenis kelamin laki-laki, Unit 01 sampai 03 diberikan nama En, Karl, dan Santo, sedangkan untuk yang perempuan diberikan nama Riria dan Wulan.
Untuk anak perempuan yang tadi disetrum Odo, nama yang diberikan untuknya lebih dipikirkan olehnya karena sedikit rasa bersalah yang ada. Hilya, itulah nama yang Odo berikan peda tipe 00 yang tadi dirinya setrum, di ambil dari salah satu bahasa di kehidupan sebelumnya, yang berarti perhiasan dari dasar laut.
======================================================
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!
Catatan Penulis:
Next akan menjadi akhir dari Arc 01 “101” ini!!
Setelah itu epilog, lalu akan masuk istirahat dulu.
Kenapa? Karena bakal dibuat sebuah Past-Story yang menceritakan Perang Besar (Terpisah dari ini.)
Sekarang sedang tahap pembuatan Cover nya, kalau mau lihat versi beta nya dulu silakan kunjungi FB ane Dirjen Magang.