
Matahari dengan cepat meninggi di ujung cakrawala, sinarnya memapar hangat permukaan tanpa ada awan mendung yang menutupi. Kehangatan tersebut tidaklah pilih kasih dan juga mendatangi kota Mylta, membawa hari indah nan cerah di kota pesisir tersebut. Meski setelah apa yang terjadi kemarin, semua orang tetap memulai rutinitas mereka saat hari baru datang.
Rasa takut seakan tidak mengubah apa-apa dari kota tersebut, setiap orang butuh makan dan kegiatan perekonomian tetaplah berjalan seperti biasanya. Gerobak-gerobak mulai memenuhi setiap jalan besar, gerbang utama mulai diisi oleh lalu-lalang kereta pedagang yang keluar masuk kota, dan setiap distrik yang menjadi jantung kota Mylta memulai operasionalnya untuk menggerakkan roda perekonomian tempat tersebut.
Apa yang berbeda dari biasanya hanyalah para prajurit dan penjaga yang terlihat di beberapa titik vital kota. Meski dengan adanya mereka, para pedagang dan orang-orang sama sekali tidak terlalu memedulikannya karena memang mereka semua memiliki kesibukan masing-masing yang tak bisa ditunda. Untuk para pedagang luar yang baru pertama kali datang ke kota tersebut pagi hari ini, adanya penjaga sedikit membuat mereka khawatir dan tak bisa bergerak bebas dalam mengatur harga dagangan.
Sekitar 15 menit sebelum toko Ordoxi Nigrum dibuka, Odo kembali bersama dengan seorang penyihir dari Lokakarya Hulla, Canna Miteres. Pemuda rambut hitam itu terlihat memanggul sebuah karung, sedangkan sang penyihir yang mengenakan gaun ungu polos terlihat membawa stoples berisi cairan berwarna kuning keemasan.
Matius yang sudah sampai dan telah bersiap sejak beberapa belas menit lalu langsung mendatangi mereka, lalu segera melaporkan, “Tuan, bubuk kopi dan susu sapinya sudah saya dapat. Tapi karena harganya lebih mahal dari yang aku kira, untuk bubuk kopi aku hanya membeli yang kualitasnya rendah. Itu pun hanya 80 gram saja.”
Langkah kaki Odo dan Canna terhenti di depan toko, tepat sebelum mereka masuk ke dalam. Menatap ke arah pria rambut pirang tersebut, Odo memastikan, “Kalau susu sapi?”
“Kalau itu tidak ada kendala. Tadi pas ada orang-orang dari peternakan yang baru saja datang, jadi aku membelinya dari sana dengan harga sedikit lebih murah.”
“Hmm, berarti tak masalah.”
Odo menurunkan karung yang ia bawa, ia sekilas melihat sekeliling dan merasa memang pasar sudah mulai ramai dengan lalu-lalang orang. Kebanyakan yang terlihat masihlah ibu-ibu yang belanja kebutuhan pokok, sayuran, dan daging. Namun di antara mereka, terlihat juga para konglomerat yang sedang meninjau kondisi distrik perniagaan.
Kembali menatap ke arah Matius, pemuda rambut hitam itu memerintahkan, “Bawa karung ini ke dalam. Katakan ke Elulu kalau lidi buat tusuknya sudah ada.”
“Lidi?” tanya Matius heran.
“Hmm, aku titip Canna untuk memesannya. Tusuk dari bambu, mempermudah pembeli makan nanti kalau pesannya dibawa pulang,” jelas Odo. Ia melangkah ke arah tangga di sebelah bangunan, namun terhenti saat mengingat sesuatu.
“Oh, iya!”
Pemuda itu segera menoleh, lalu sembari menunjuk karung berkata, “Di dalam situ juga ada beberapa bahan tambahan kalau kurang nanti. Sampaikan itu juga ke Elulu atau Isla. Nota belanjanya ada di dalam, suruh mereka simpan dulu.”
Odo pindah menunjuk ke arah Canna, lalu dengan cepat kembali berkata, “Dan juga, nanti stoples yang dibawa perempuan ini ditaruh juga di dapur. Akan kuletakkan dulu di meja depan ini.”
“Siap!” Tanpa bertanya lebih lanjut, Matius segera memanggul karung yang Odo bawa sebelumnya dan masuk ke dalam toko.
Odo Luke menoleh ke arah Canna, lalu sembari menatap datar berkata, “Apa yang kau tunggu? Letakkan itu dan ayo ke atas! Aku punya pekerjaan untukmu.”
Sekilas perempuan rambut putih itu terheran, melihat sosok yang dirinya sebut Ayahanda tersebut begitu semangat dan cekatan menangani pekerjaannya. Sembari tersenyum, ia meletakkan stoples ke atas meja dan menjawab, “Siap~!”
Alasan Odo mengajak Canna adalah untuk membantu Nanra di lantai dua, mengurus berkas-berkas yang bisa dikatakan terlalu banyak untuk seorang anak kecil. Menilai bahwa Canna merupakan orang berpendidikan, mengurus berkas seharusnya tidak terlalu sulit baginya.
Setelah mengantar perempuan itu ke atas, Odo kembali turun bersiap untuk membuka toko pertama kalinya. Semua yang ia perlukan telah siap, para pegawai juga telah menyiapkan diri dan tinggal membuka pintu toko lebar-lebar untuk memulai bisnis.
Berdiri di depan toko, Odo Luke sejenak memejamkan mata dan menghitung mundur dalam benak. Merasa waktu yang tepat telah datang, pemuda itu langsung bertepuk tangan satu kali dengan keras sampai-sampai membuat semua orang yang lalu-lalang di dekat toko menoleh ke arahnya.
“Mari mulai! Ordoxi Nigrum dengan ini dibuka!”
Tanpa berkata lagi, ia segera berbalik dan membuka pintu toko lebar-lebar. Melangkah masuk ke dalam, ia langsung menunjuk ke arah dapur dan berkata, “Siapkan masing-masing menu makanan, satu, dibungkus!”
Tak selesai di situ saja. Ia lekas menunjuk ke arah Ritta dan Sittara secara bergantian, lalu dengan tegas berkata, “Kalian bersiap di pintu untuk menyambut pelanggan!”
Menghampiri Mattari di meja counter, pemuda rambut hitam tersebut menegur, “Jangan menunduk terus, angkat wajahmu! Tatap mata pelangganmu dan dengarkan pesanan! Mereka datang bukan untuk melihat ubun-ubun kepalamu!”
“Si-Siap!” jawab Mattari sedikit takut.
Tidak sampai satu menit setelah Odo meminta satu-satu dari setiap menu makanan yang ada, lonceng kecil tanda pesanan sudah siap terdengar. Mattari segera mengambil pesanan dari dapur, lalu menyerahkannya kepada Odo.
“Bagus! Kurang dari lima belas menit lagi gelombang akan datang, persiapkan diri kalian!”
Setelah melontarkan peringatan tersebut, pemuda rambut hitam itu melangkah keluar sembari membawa nampan berisi penuh semua menu makanan di toko. Saat berada di pintu, ia menatap ke arah si kecil Sittara dan dengan halus berkata, “Bilang ke Kak Elulu, semua menu minuman, dua. Nanti dibawa ke depan, ya.”
“Baik, Kak Penyihir!”
Odo segera keluar setelah menyampaikan hal tersebut. Ia meletakkan nampan ke atas meja kios, lalu berdiri tegak di balik meja seraya memejamkan mata sejenak. Ritta sedikit melongok keluar, lalu dengan heran bergumam, “Gelombang?”
Bahkan belum sepuluh menit setelah Odo berdiri di meja kios, orang-orang yang biasa melintas di distrik perniagaan saat jam sarapan akhirnya datang. Mereka adalah pejabat dan pegawai negeri dari daerah deretan kantor di sekitar balai kota, bercampur dengan para perwira yang belum masuk waktu kerja mereka.
Keramaian tersebut langsung mengarah ke toko-toko makanan langganan mereka masing-masing, benar-benar bagaikan ombak besar yang lewat. Para penduduk biasa yang belanja sampai menyingkir dari jalan, gerobak-gerobak tidak bisa melaju dan jalan menjadi penuh dengan cepat.
Dari semua orang yang lewat di depan toko milik Odo yang ada di ujung distrik, sama sekali tidak ada yang belok karena mereka memang telah mendengar kejadian tadi malam. Secara insting orang-orang cenderung menghindari masalah, Odo dengan jelas paham hal tersebut. Karena hal itu, pemuda dari keluarga Luke ini menggunakan cara yang bisa dikatakan sedikit curang.
Pemuda rambut hitam itu menatap ke arah kerumunan prajurit, lalu seraya mengangkat tangan kanannya dengan lantang memanggil, “Paman Iitla Lots!! Mampir dong!”
Nama itu membuat beberapa prajurit dalam kerumunan menoleh, lalu tentu saja pemilik nama yang juga ada di antara mereka ikut melihat ke arah Odo. Memasang senyuman ramah yang terlihat begitu mencurigakan untuk orang sepertinya, pemuda rambut hitam itu melambai dan kembali berkata, “Ayo mampir ke sini dulu! Kebetulan kami sedang memberi sampel gratis, loh!”
Mendengar apa yang dikatakan putra dari Tuannya tersebut, sang Kepala Prajurit tidak bisa langsung menolaknya secara langsung. Melewati kerumunan di jalan, ia menyeberang ke tempat Odo Luke berada. Tentu saja para bawahannya yang datang ke distrik untuk sarapan berasma Iitla mengikuti.
Kebanyakan prajurit adalah lajang sebab fokus pada pelatihan mereka, belum memiliki istri namun sudah hidup sendiri di asrama barak. Karena hal tersebut, sebagian besar dari mereka yang bosan dengan menu asrama cenderung sering keluar untuk sarapan seperti sekarang.
“Jangan cuma menyanjung, dong.” Odo sedikit melempar senyuman dengan lirikan tajam. Mengangkat salah satu wadah daun jati berisi Nugget Ikan yang telah diberi mayones, pemuda itu menawarkan, “Silakan cicipi, mumpung masih hangat.”
Iitla mengambil satu Nugget yang telah ditusuk dengan lidi kecil, lalu langsung memakannya habis dalam sekali gigit. Saat masuk ke mulut, dengan cepat ia terkejut dan kedua matanya terbuka lebar.
“Hmm, apa ini? Enak juga .... Rasanya segar, agak kecut tapi rasa daging ikannya sangat terasa di dalam! Eng? Ikan?” Kepala Prajurit tersebut sekilas terlihat bingung, lalu sembari mengunyah bertanya, “Ini, benar-benar ikan, ya? Kok amisnya sama sekali tidak terasa, tapi malah rasa ikannya kuat sekali? Lagian ikan apa ini memangnya? Saya hidup 35 tahun di sini tidak pernah mencoba ikan dengan rasa seperti ini.”
“Itu ikan tongkol yang dicampur dengan beberapa jenis ikan lain serta diberi bumbu rahasia,” jelas Odo dengan nada sedikit melebih-lebihkannya.
Mendengar apa yang disampaikan oleh pemuda rambut hitam tersebut, para prajurit yang berdiri di belakang sang Kepala Prajurit mulai penasaran dengan apa yang disajikan tersebut. Salah satu Prajurit di belakang Iitla melongok salah satu wadah daun jati di atas meja dan tertarik pada menu dengan bentuk luar serupa, lalu sembari menunjuknya bertanya, “Kalau yang ini apa sama? Sepertinya aromanya sangat berbeda ....”
“Ah, kalau itu Nuggtet dari daging sapi.” Odo meletakkan wadah daun jati berisi Nugget Ikan ke atas meja, lalu sembari menunjuk satu persatu menu ia menyebutkan, “Dari kanan ke kiri, Nugget Daging Sapi, Ayam, dan Ikan. Lalu untuk yang seperti rumah siput itu adalah Rolade, dan yang di sebelahnya adalah Ayam Fillet.”
“Ayam Fillet?” tanya Prajurit itu dengan heran.
Sembari mengangkat wadah jati berisi makanan yang membuat prajurit itu tertarik, Odo Luke kembali menawarkan, “Kalau mau, sialkan coba satu gigit.”
Seakan tidak sabar, ia segera mengambil satu tusuk Ayam Fillet yang telah dipotong sedemikian rupa supaya bisa disantap dengan mudah. Memasukan itu ke dalam mulut dan mengunyahnya, rasa empuk dan sensasi daging ayam tanpa tulang pecah di mulut. Bukan hanya itu saja, bumbu saus mayones di atasnya menambah rasa meriah rempah-rempah. Setiap ia mengunyah, suara renyah kulit tepung yang menyelimuti daging terdengar, namun pada bagian dalamnya daging terasa begitu lembut.
“Ini ...” Prajurit tersebut mengunyah dagingnya dengan bergairah, terlihat begitu menikmatinya sampai lembut di mulut dan ditelan habis ke dalam tenggorokkan. “Hmm, lebih enak dari yang kukira. Padahal hanya mengeluarkan tulangnya saja tapi bisa seenak ini,” ujarnya seraya ingin mengambil satu tusuk lagi.
Namun sebelum bisa mengambilnya, Odo menarik wadah daun jati berisi Ayam Fillet tersebut dan berkata, “Ini hanya sampel, gak boleh dihabiskan begitu. Kalau mau ....” Mengambil papan dari kolong meja, pemuda rambut hitam itu menunjukkan harga menu makanan yang disajikan. Sembari memasang senyum ia berkata, “Silakan beli ke dalam, harganya terjangkau, kok. Bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang juga bisa.”
Melihat harga yang terjangkau dengan rasa seenak itu, Prajurit tersebut segera merogoh sakunya dan berkata, “Baiklah, aku beli! Pak Iitla, maaf tapi aku mampir di sini saja!” Ia segera berjalan masuk ke toko dengan tak sabar.
Melihat rekannya berkata seperti itu, para prajurit yang ikut dengan Iitla menjadi semakin tertarik dan ikut mencicipi. Mereka memiliki selera masing-masing, ada yang suka Nugget Ikan dan Ayam, ada yang suka Rolade, ada yang suka Nugget Sapi, dan ada juga yang suka Ayam Fillet. Dari semua menu yang ada, seperti yang Odo rencanakan Nagget Ikan yang paling laris karena menu itulah yang ia pertama kali sarankan.
Saling bersilangan di pintu dengan seorang Prajurit yang pertama kali menjadi pembeli, si kecil Sittara keluar membawa nampan berisi dua Jus Apel dan Kopi Susu Kocok. Meski tubuhnya kecil, anak itu terlihat cukup mahir membawa nampan berisi minuman kendati langkahnya lambat. Meletakkan itu ke meja, Sittara dengan cerita berkata, “Ini Kak Penyihir, jus apel dan kopi kocok-kocok!”
“Kopi susu kocok,” koreksi Odo.
“Hmm, susu-susu kocok.”
Mendengarnya tetap salah menyebutkan nama menu, Odo hanya memasang senyum simpul. Ia mengusap kepala anak kecil itu dan berkata, “Terima kasih, ya. Kau bisa masuk ke dalam dan bantu Kak Ritta.”
“Hmm, tentu!” jawab anak itu dengan semangat. Sekilas telinga garbil gadis itu berkedut-kedut, menandakan ia begitu menikmati kegiatannya.
Odo mengangkat nampan berisi minuman tersebut untuk ditawarkan kepada para Prajurit yang mencicipi, lalu sembari memasang senyum ramah berkata, “Kalau haus, kalian bisa meminum ini. Minuman spesial buatan kami! Silakan, Paman Iitla! Ini juga masih sampel gratis, loh.” Orang yang pertama kali Odo tawari tentu saja yang paling penting di antara mereka, untuk menjerat rasa tertarik yang lain.
Menyadari hal tersebut, sekilas Iitla menghela napas dan dengan sedikit enggan masuk ke dalam ajakan tersebut. Ia mengambil gelas kayu berisi jus apel, lalu sembari mengangkatnya ia berkata, “Saya coba dulu yang ini.”
“Hmm, silakan.”
Saat satu teguk melewati tenggorokkan pria paruh baya tersebut, seketika kedua matanya melek lebar dan merasakan sensasi segar yang sangat kuat. Rasa asam membuat tubuhnya seakan gemetar, namun manisnya sari apel membuatnya tidak bisa berhenti meminum jus tersebut. Menghabiskannya dalam sekali tenggak, pria itu langsung meletakkan gelas kosong ke meja.
“Uwah! Sensasinya mirip Bir tapi sangat segar dan tidak ada alkoholnya! Minuman apa ini?! Bagaimana caranya Anda mengolah jus apel begini?!” tanya Iitla dengan sedikit beringas.
“Itu rahasia kami.” Odo memasang senyum simpul. Seraya mengacungkan jari telunjuknya ke depan, ia dengan ramah menegur, “Jangan tanya resep terus tanpa beli, dong. Kalau mau yang menarik lagi, silakan masuk dan coba dulu. Semua menu kami belum perah dijual di toko manapun, loh!”
Iitla dan para prajurit yang ikut bersamanya semakin tertarik. Beberapa perwira yang lewat dan melihat sang Kepala Prajurit itu ikut merapat, lalu saling berbincang dengan rekannya tentang sampel yang telah dicicipi.
Setelah mencicipi dan menemukan menu yang mereka sukai, para Prajurit dan Perwira tersebut berbondong-bondong masuk ke dalam toko. Tidak langsung mengikuti mereka, sang Kepala Prajurit menatap ke arah Odo Luke dengan senyum tipis melebar sampai pipinya sedikit terangkat.
“Tak saya sangka Anda juga pandai menarik orang seperti ini dalam berbisnis,” ucapnya seraya menggelengkan kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia juga ikut masuk ke dalam toko karena rasa tertarik dan memang menikmati cita rasa baru yang disajikan toko.
Kedatangan rombongan Perwira dan Prajurit itu membuat para pegawai negeri yang datang ke distrik ikut tertarik mencicipi. Layaknya satu kail pancing yang menjerat seekor ikan, lalu ikan tersebut memancing ikan lainnya, orang-orang mulai berdatangan silih berganti. Ada yang memesan untuk dimakan di dalam toko, ada juga yang memilih untuk dibawa dengan wadah daun jati karena tempat sudah penuh.
Setelah rombongan prajurit dan perwira yang dibawa Iitla selesai sarapan dan keluar dari toko, rombongan pegawai sipil masuk, lalu barulah para pedagang sekitar yang juga tarik untuk mencoba makanan baru tersebut. Itu berlangsung sampai jam sarapan berakhir dan memasuki jam kerja. Pada pukul 10.00 sampai tengah hari nanti, toko-toko yang menjual makanan seperti itu cenderung akan sepi pengunjung.
Dalam jam sibuk kerja itulah para pegawai di toko Ordoxi Nigrum mulai membersihkan meja-meja serta mencuci alat makan. Para pria keluar untuk membeli bahan-bahan yang telah habis, lalu untuk yang bekerja di dapur mengambil istirahat sejenak sebelum bahan datang. Para pelayan juga istirahat setelah membersihkan meja dan mencuci, lalu untuk sang kasir harus memindahkan uang terlebih dulu karena laci sudah penuh dengan koin-koin uang.
Untuk Isla yang masih mempunyai anak, ia segera naik ke lantai tiga karena sedikit cemas dengan keadaan putrinya. Keluarga Demi-human memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di lantai satu, saling berbincang tentang pengalaman pertama mereka bersama Elulu yang bisa dikatakan telah menjadi salah satu sosok pengajar di mata mereka semua.
Pada dua jam sebelum waktu makan siang tersebut juga menjadi kesempatan mereka untuk menyiapkan stok olahan makanan serta minuman yang hampir habis, lalu barulah benar-benar bisa mengambil waktu istirahat. Namun ketika jam makan siang datang, gelombang kedua menerjang dan kali ini jumlah pembeli tentu lebih banyak dari biasanya sampai-sampai Odo harus ikut turun tangan ke bagian kasir dan meninggalkan kios yang telah habis sampelnya.
Dalam konsep pelayanan, pelanggan yang tidak puas akan langsung protes atau berkata jelek terhadap sebuah perusahaan atau toko di belakang, lalu pada akhirnya tidak akan datang kembali dan mencegah rekannya datang ke tempat tersebut. Namun ketika pelanggan mendapat kepuasan yang tercukupi, mereka akan menyebarkan kabar tentang perusahaan atau toko tersebut, lalu pada klimaksnya akan mengajak orang lain untuk mencobanya juga.
Persis seperti apa yang Odo perkirakan, gelombang pembeli yang kedua tersebut dua kali lipat lebih banyak jika dibandingkan dengan yang pertama. Bahkan sebelum waktu tutup toko yang telah ditentukan di awal, mereka sampai kehabisan bahan dan tidak bisa melayani pembeli lagi pada pukul 14.00 sore. Meski pada pertengahan mereka telah menambah stok bahan sebelum jam makan siang datang.
««»»