Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 67 : Aswad 14 of 15 “Bangsawan, Kewajiban, dan Ambisi” (Part 04)



 


 


“Hah?” Odo menoleh dan mengerutkan keningnya mendengar perkataan bagaikan omong kosong seorang fanatik itu. Dengan sorot mata datar ia pun menjawab, “Aku bukanlah inkarnasi Dewa atau semacamnya⸻”


 


 


“Ah‼ Mata keemasan itu!” Archbishop sama sekali tidak mendengarkan perkataan Odo, ekspresinya benar-benar terkesima saat melihat kornea mata Odo yang berubah keemasan saat esensi makhluk dimensi tingkat tinggi lebih dominan.


 


 


Melangkah naik ke atas teras, Wolnir Yhoan kembali berkata, “Tidak diragukan lagi! Mata keemasan dan aura agung seorang Dewa! Engkaulah sosok inkarnasi penguasa yang disebutkan dalam Catatan Dunia! Melebihi para Iblis! Melebihi para manusia! Melebihi para Malaikat! Melebihi para Roh! Sang ilahi!”


 


 


“Uwah, seperti ini lagi?” benak Odo dengan ekspresi muak.


 


 


Kedua bola matanya berputar ke samping saat mendengar hal tersebut, merasakan pola yang sama seperti orang-orang yang membawakan banyak masalah kepadanya. Menghela napas sekali, ia meletakkan telapak tangan ke wajah dan bergumam, “Lagi-lagi seperti ini …. Menyebalkan sekali, kenapa sih dia meninggalkan informasi-informasi menyusahkan itu di dunia.”


 


 


Odo menurunkan tangan dari wajah dan menatap kakek berlapis pakaian Vestimentum tersebut. Melihat ekspresi penuh harapan layaknya pengikut yang patuh, dalam benak amarah kembali naik ke permukaan. Itu bukan berarti Odo membenci orang yang mendalami kepercayaan atau semacamnya, namun rasa berharap yang sampai membuat seseorang buta adalah hal yang dibencinya.


 


 


“Kenapa selalu saja ada orang-orang sepertimu ⸻!”


 


 


Saat Odo hendak membentak kakek tersebut, ia seketika terhenti dan menyadari sebuah kejanggalan. Amarah ⸻ Emosi semacam itu seharusnya tidak akan meluap-luap dengan cepat seperti itu, apalagi setelah Seliari mengambil beberapa bagian dari emosinya.


 


 


Mengingat apa yang telah Mahia lakukan dengan mengambil alih Puddle dan membuatnya berpindah ke tempat yang tidak dirinya harapkan, Odo seketika berusaha menenangkan diri dan sejenak memejamkan mata. Ia mengosongkan pikiran untuk sesaat, lalu mengubah pola pikirnya dan kali ini benar-benar mengontrol emosi secara penuh.


 


 


“Apa dia ingin mempercepat prosesnya? Supaya identitas ku terbongkar di hadapan semua orang dan⸻ Ah!”


 


 


Pikiran Odo terhenti saat mengingat ada yang bisa membaca pikiran di tempat tersebut. Segera menoleh ke arah Fiola yang berdiri di belakang Mavis, alis kiri Odo berkedut setelah melihat ekspresi terkejut Huli Jing itu. Sekali lagi hal yang tidak diharapkan terjadi dan rahasia Odo terbongkar oleh pelayan paling setia ibunya.


 


 


Paham ada hal penting yang harus diselesaikan terlebih dulu, Odo menunda persoalan dengan Fiola dan kembali menatap ke arah sang Tetua Tinggi tersebut. Menarik napas dan berusaha untuk setenang mungkin, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Maafkan ketidaksopanan saya, namun sepertinya Anda salah paham …. Saya bukanlah Inkarnasi Dewa atau semacamnya, saya murni lahir sebagai anak manusia dari rahim Ibunda.”


 


 


Perubahan tingkah laku tersebut membuat Wolnir Yhoan terkejut, begitu pula sang Raja dan orang-orang yang melihat ke arahnya. Itu seakan-akan kepribadian pemuda itu telah berganti sepenuhnya, dari sosok pemarah dan provokatif menjadi orang dengan penuh kewibawaan dan sopan santun.


 


 


Tidak mempermasalahkan perubahan sikap tersebut, Yhoan tetap bertanya, “Lantas mengapa aura kedewaan ada pada dirimu, wahai pemuda? Terlebih lagi, warna mata itu ….”


 


 


“Ah ….” Odo sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan warna mata keemasan karena tak pernah bercermin saat esensi entitas Dewa dalam dirinya cenderung dominan. Sembari memalingkan pandangan ia pun berusaha menjelaskan, “Ini hanya sihir kuno. Salah satu metode untuk menarik kekuatan ilahi dari dimensi tingkat tinggi, bisa disebut juga tahap lanjutan dari Manifestasi Malaikat⸻”


 


 


“Tuan Odo berbohong, Kakek Yhoan! Ia benar-benar inkarnasi seorang Dewa yang tertera dalam Catatan Dunia di Ibukota!” sela Putri Arteria. Perempuan rambut biru tersebut berhenti bersembunyi di belakang kakaknya, menghadap sang Archbishop dan kembali berkata, “Ialah sosok yang diramalkan Dewi Asmali Oraș! Sang Raja yang lahir untuk mengubah dunia⸻ Eh?”


 


 


Odo langsung memegang tangan Putri Arteria dan menariknya mendekat, lalu membungkam mulutnya sebelum mengatakan hal yang tak perlu lainnya. “Apa yang kau lakukan …! Jangan malah melempar kayu ke dalam api dong,” ucap pemuda itu dengan suara pelan.


 


 


Wajah Putri Arteria seketika memerah saat dibungkam, matanya berputar-putar dan begitu malu saat disentuh serta ditatap Odo dari dekat. “Ah …, dia masih Arteria toh,” benak Odo seraya melepaskan perempuan itu.


 


 


Putri Arteria segera melangkah mundur, terlihat panik dan wajahnya merona sampai semerah delima. Saat sadar menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya, gadis itu segera berlari ke belakang kakaknya dan kembali bersembunyi.


 


 


“Bu-Bukannya lebih baik dianggap sebagai Inkarnasi Dewa daripada Titisan Iblis?” Arteria melongok dari belakang Pangeran Ryan, kembali terlihat seperti gadis pemalu seperti dirinya yang biasanya. Dengan suara gemetar ia pun berkata, “A-Arteria hanya ingin membantu …. Tolong jangan marah, Tuan Odo.”


 


 


“Tidak diriku sangka Arteria akan berkata sampai seperti ini ….”


 


 


Raja Gaiel menatap penasaran pemuda rambut hitam tersebut. Balik menatap sang Raja, Odo merasa ada sedikit hal yang berubah darinya. Semangat hidup terlihat dari dalam sorot mata pria tua tersebut, seakan telah menemukan hal untuk mengisi penghujung hidupnya sebagai seorang pemimpin.


 


 


“Uwah, tatapan apa itu? Seperti bocah yang baru menemukan mainan baru,” benak Odo dengan ekspresi sedikit kesal.


 


 


Memasang senyum tipis, sang Raja sedikit membungkuk dan menatap lurus mata Odo Luke. Itu membuat pemuda rambut hitam tersebut melangkah mundur, menurunkan esensi dewa dalam dirinya dan kornea matanya pun berubah kembali biru.  Halo yang muncul di atas kepalanya perlahan menghilang, lalu hawa keberadaannya pun kembali menjadi seorang manusia yang bercampur dengan iblis dan naga.


 


 


“Luar biasa …. Engkau benar-benar memiliki beragam bentuk entitas seperti yang tertulis dalam Prasasti Suci,” ucap sang Archbishop dengan ekspresi tak percaya. Ia berjalan naik ke teras, menatap Odo dengan penuh rasa penasaran dan terkesima.


 


 


“Jadi, engkau sebenarnya apa? Dilihat dari ekspresi Mavis dan Dart, sepertinya dirimu juga menyembunyikan banyak hal dari kedua orang tuamu, ‘kan?”


 


 


“Eh?”


 


 


Odo segera menoleh ke arah Dart dan Mavis. Melihat mereka berdua terlihat begitu terkejut, alis kanannya berkedut dan merasa telah melewatkan hal penting lainnya. Ekspresi terkejut memang wajar terlihat pada Dart yang baru tahu kalau Odo bisa melakukan sihir tingkat lanjutan dari manifestasi malaikat, namun Mavis terkejut pada hal yang berbeda seperti sosok yang diramalkan seperti yang dimaksud Putri Arteria dan Archbishop.


 


 


Melihat ke arah Fiola yang sedari tadi hanya terdiam, Huli Jing tersebut malah memalingkan wajah dan terlihat tak ingin ikut campur dalam pembicaraan. “Sialan, aku ditelantarkan! Padahal sudah tahu banyak rahasia ku tapi malah diam!” benak Odo dengan rasa kesal.


 


 


“Odo Luke ….” Raja Gaiel tersenyum lebar, memegang kedua pundak Odo dan membuat pemuda itu menghadap ke arahnya. Sembari mendekatkan wajah penuh gairah ingin tahu ia pun bertanya, “Dirimu itu apa? Siapa engkau sebenarnya dan untuk apa dirimu terlahir di Keluarga Luke? Jawab rasa penasaran kami, wahai putra dari kawanku!”


 


 


 


 


Mendapat tatapan tajam penuh permusuhan dari Pangeran Ryan, pemuda rambut hitam itu hanya bisa tersenyum kecut tanpa bisa melakukan apa-apa pada hal tersebut. Kembali menatap ke arah sang Raja, Odo melingkis lengan kanan kemejanya sampai memperlihatkan bahu.


 


 


Menonaktifkan sihir transformasi yang dirinya pasang secara paten pada bagian sekitar itu, sebuah Rajah Putih berbentuk Khanda mulai tampak dengan jelas. Itu terukir di tubuhnya dari bahu kanan sampai pangkal lengannya, begitu sempurna dan menyatu dengan kulit.


 


 


Dalam sekali lihat semua orang paham arti simbol tersebut, bahkan Pangeran dan Tuan Putri sekalipun. Kembali mengaktifkan sihir transformasi, Odo menyembunyikan simbol itu dan menurunkan lengan kemejanya. Ia menghela napas ringan, menatap datar ke arah sang Raja.


 


 


“Si-Simbol itu⸻!”


 


 


“Tunggu sebentar!” Odo membuka telapak tangan ke depan dan meminta sang Raja tidak melanjutkan kalimatnya. Menarik napas dalam-dalam dan memasang ekspresi serius, pemuda itu menyampaikan, “Jika Yang Mulia ingin membicarakan hal tersebut, bisakah kita pindah tempat? Anda paham ini bukanlah pembicaraan yang boleh dilakukan di tempat terbuka seperti ini, ‘kan?”


 


 


“Hmm, memang ….”


 


 


Raja Gaiel sekilas melirik ke arah para tamu yang berkumpul, merasa setuju dengan perkataan Odo. Simbol tersebut bukanlah hal yang boleh diketahui oleh banyak orang, apalagi dalam situasi sekarang.


 


 


“Bagaimana kalau kita bicara di dalam, Yang Mulia? Anda datang untuk bertamu di kediaman kami, bukan?”


 


 


Raja Gaiel menatap ke arah Mavis dan Dart, ingin meminta persetujuan mereka sebagai orang tua Odo Luke dan Tuan Rumah. Namun saat melihat ekspresi kedua orang tersebut yang terlihat begitu terkejut, Raja Gaiel menghela napas ringan.


 


 


Ia pindah melihat ke arah para bangsawan serta tamu yang ada, mengamati apakah ada orang lain yang menyadari simbol Khanda pada tubuh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut. Paham kalau beberapa perwakilan ada yang telah menyadarinya meski hanya melihat dari jauh, Raja menepuk punggung Odo.


 


 


“Masuklah dulu bersama yang lain, diriku harus menjelaskan sesuatu kepada mereka semua ….” Raja berbalik menghadap ke arah Mavis dan Dart, lalu dengan senyum tipis bertanya, “Kalian berdua tak masalah dengan hal itu, ‘kan?”


 


 


“Tak masalah …, diriku juga ingin tahu,” jawab Dart.


 


 


“Hmm ….” Mavis hanya mengangguk dengan rasa cemas.


 


 


Saat Odo menatap sang Raja dari samping, Spekulasi Persepsi aktif dan beberapa kesimpulan dirinya dapat. Saat paham Gaiel sebagai seorang Raja masih belum mati sepenuhnya, Odo Luke sekilas memasang ekspresi senang karena tak harus segera menggantikan posisi pria tua itu.


 


 


“Menjadi seorang Raja memang susah, ya? Harus memedulikan pandangan banyak orang,” sindir Odo dengan senyum tipis.


 


 


“Itu benar, putranya Dart ….” Raja menoleh ke arahnya, mengangkat wajah dengan penuh martabat dan berkata, “Engkau tahu, menghabiskan sisa hidupku untuk mereka sangat menyedihkan. Setelah kehilangan belahan jiwaku, dunia ini terlihat monokrom …. Meski ia meninggalkan sesuatu untuk diriku lindungi, namun tetap saja diriku telah kehilangan hasrat untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang Raja.”


 


 


“Jadi, mengapa sekarang Anda berubah pikiran, Yang Mulia?”


 


 


“Karena diriku rasa engkau akan membawa perubahan pada zaman ini …” Raja menatap ke arah orang-orang yang berkumpul ke taman, memasang senyum lebar dan dengan semangat tipis ia pun berkata, “Entah itu ke arah buruk atau baik, tapi fase semu ini pasti akan berakhir dalam jalan yang akan engkau buat. Langkah yang dirimu ambil pasti akan mengubah sesuatu, diriku yakin itu. Buktinya kau telah membuat jiwa pria tua ini bangkit lagi.”


 


 


“Lagi?” Odo mengerutkan kening saat mendengar hal tersebut, sama sekali tidak terlihat bangga atau senang saat dipuji sang Raja.


 


 


“Lagi?” Raja Gaiel merasa heran melihat respons tersebut, sembari menatap Odo ia pun bertanya, “Apa ada orang lain yang bicara seperti itu kepadamu?”


 


 


“Ada, bahkan lebih dari satu ….”


 


 


“Hmm, ia pasti punya cara pandangan yang menarik ….” Raja Gaiel kembali menatap ke arah para tamu yang berkumpul, turun dari teras seraya berkata, “Sudahlah, masuk ke dalam dan kita mulai pembicaraannya setelah diriku menenangkan orang-orang di sini ….”


 


 


“Hmm ….”


 


 


Odo segera berjalan menuju pintu utama Mansion, membukanya lebar-lebar dan segera masuk ke dalam diikuti Dart, Mavis dan Fiola. Sang Archbishop pun ikut masuk ke dalam, mengajak seorang Tetua yang dirinya percayai. Pangeran Ryan sempat bingung harus ikut masuk atau tidak. Namun saat melihat adiknya tanpa ragu mengikuti Odo, remaja rambut merah tersebut memutuskan untuk ikut.


 


 


Raja sekilas menoleh ke arah mereka, memasang senyum lega melihat putrinya bisa bertindak tanpa rasa ragu dan mulai dewasa. Pindah melihat ke arah Thomas dan istrinya yang masih diam di tempat, sang Raja memerintah, “Tuan Thomas, Anda tetap di sini untuk membantu diriku. Untuk Nyonya Calista, Anda bisa masuk ke dalam ….”


 


 


““Baik, Yang Mulia ….””