Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 69 : Regalia I (Part 04)



 


 


.


.


.


.


 


 


Mentari perlahan terbit, suara ramai orang-orang yang mempersiapkan pesta sampai terdengar ke perpustakaan yang berada pada bangunan yang terpisah dari Mansion. Duduk di kursi sembari menyilangkan kaki kirinya ke atas kaki kanan, Vil menatap datar dan merasa heran melihat Odo yang sedang bermeditasi.


 


 


Pemuda rambut hitam itu duduk sila di lantai, menjalin jemari dan membentuk segel tangan Mutlak yang tidak pernah Vil lihat. Menghela napas ringan dan sekilas memalingkan pandangan, Roh Agung rambut biru tersebut memasang ekspresi suram. Meski seharusnya ia juga merasa bahagia di hari pertunangan Odo, namun dalam benak Vil memang tidak menyukai hal tersebut.


 


 


“Padahal ini hari pertunangannya, tapi kenapa malah bermeditasi di sini. Apa Odo sama sekali tidak gugup? Pertunangan hal yang penting bagi manusia, ‘kan? Terutama untuk bangsawan …. Atau malah, Odo tidak ….”


 


 


Berhenti memikirkan hal tersebut lebih dalam, Vil sekilas menarik napas ringan dan menatap ke arah Odo. Vil  kembali merasa tak mengerti jalan pikiran pemuda itu, meski beberapa saat yang lalu ia bisa melempar canda dan saling membuka hati.


 


 


Di tengah suasana tenang yang ada di antara mereka, pintu utama perpustakaan terbuka dan suaranya membuat Vil tersentak. Roh Agung tersebut segera menoleh dengan rasa bingung melihat Putri Arteria yang memasuki Luke Scientia seakan itu tempatnya sendiri.


 


 


Seakan Odo telah tahu Arteria akan datang, ia perlahan membuka kedua mata dan bertanya, “Apa tak masalah kamu datang ke sini, Arteria? Bagaimana kalau Kakak dan Ayahmu cemas?”


 


 


Vil sempat terkejut mendengar apa yang dikatakan Odo, ia juga merasa janggal karena seharusnya di seluruh bangunan menara terdapat lapisan sihir yang membuat sang Roh Agung bisa mendeteksi siapa saja yang masuk.


 


 


Merasakan aura aneh yang menyelimuti sang Tuan Putri, Vil langsung bungkam sebelum bisa bertanya. Secara insting, sebagai seorang Roh Agung ia tak bisa menentang kehendak sang pemegang Kontrak Jiwa sekaligus wadah dari Dewi Kota.


 


 


Sekilas mendapat tatapan dari mata ungu Arteria, tanpa dirinya sadari Vil segera memalingkan pandangan. Takut, patuh, dan tubuhnya pun gemetar di atas tempat duduk. Ia pun terdiam seraya perlahan menundukkan kepala, tanpa mengomentari kedatangan Arteria di perpustakaan yang merupakan rumahnya.


 


 


“Arteria sudah izin sama Ayahanda, Tuan Odo tidak perlu cemas soal itu,” jawab Putri Arteria sembari berjalan mendekati Odo yang masih duduk di lantai.


 


 


Sekilas kening pemuda rambut hitam itu mengerut, menatap datar calon tunangannya tersebut yang masih mengenakan piyama. Penampilan tersebut tanda sang Tuan Putri baru saja bangun.


 


 


Odo merasa sedikit heran dengan sifat Arteria, terutama kepribadian sang Dewi yang bersemayam dalam perempuan tersebut. Meski terkesan kekanak-kanakan, namun dengan jelas intuisi tajam dan pemikiran yang luas memang ada pada sang Tuan Putri.


 


 


Odo berhenti membuat segel tangan dengan jemarinya, mengulurkan tangan kanannya ke Arteria dan tersenyum kecil.


 


 


Tuan Putri meraihnya dan membantu pemuda itu berdiri, lalu dengan tatapan sedikit penasaran bertanya, “Kenapa Tuan Odo pagi-pagi ada di sini? Tadi Arteria sempat mampir ke kamar Tuan Odo, tapi tidak ada ….”


 


 


Mengingat kemampuan penglihatan Arteria sekarang, Odo merasa gadis di depannya memang bisa melihat bebas ke dalam ruangan tanpa membuka pintu atau terbatas oleh dinding. Karena itulah, Arteria bisa tahu Odo tidak ada di kamar dan menemukannya di perpustakaan.


 


 


Namun melihat gadis tersebut masih mengenakan piyama seperti sekarang, sebagai seorang pria Odo merasa sedikit tak nyaman karena bisa saja disalahpahami orang lain.


 


 


“Aku hanya sedang melakukan penyesuaian kecil. Kalau kau, mau apa mencari ku sampai-sampai masih pakai piyama begitu?”


 


 


“Eng, tidak juga. Arteria hanya ingin memastikan sesuatu, tadi malam Arteria lupa menanyakannya .…”


 


 


“Memastikan? Apa itu?”


 


 


“Apa … Tuan Odo adalah Tuan Odo?”


 


 


 


 


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Odo sembari menajamkan tatapan.


 


 


Arteria langsung gemetar, api jiwa pemuda di depannya memancarkan hawa tajam yang sangat keruh dan gelap. Dengan sedikit tergagap, Arteria segera menjawab, “No-Nona Dewi memberitahu Arteria tadi malam setelah bicara dengan Tuan Odo⸻ Ah!”


 


 


Arteria segera menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan saat ingat kalau di ruangan masih ada Vil.


 


 


“Kau tak perlu khawatir soal dia,” ucap Odo seraya sedikit memalingkan pandangan.


 


 


Ia segera fokus memikirkan perkataan Arteria, merasa kalau Dewi Kota yang bersemayam dalam calon tunangannya tersebut memang memiliki pengetahuan setara dengan The Witch of Orgin. Tahu beberapa hal terkait identitas Odo di dunia sebelumnya.


 


 


Kembali menatap ke arah Arteria, pemuda itu dengan tanpa ragu menjawab, “Dari lahir sampai sekarang, aku adalah Odo Luke. Itu fakta yang tidak terbantahkan. Tolong percayalah hal tersebut dan jangan bertanya lebih dalam lagi, Arteria.”


 


 


Mendapat jawaban jelas dari pertanyaannya, Arteria memastikan kalau Odo memang seorang inkarnasi dari sosok yang diberitahukan Dewi Kota kepadanya. Memasang senyum kecil tanpa mengetahui siapa sebenarnya Odo sesungguhnya, ia dengan polos berkata, “Tentu! Jika Tuan Odo tidak menginginkannya, maka Arteria tidak akan bertanya lagi. Jawaban Anda sudah lebih dari cukup ….”


 


 


Sekilas suasana menjadi sedikit canggung, wajah Arteria sedikit memerah dan tatapannya sesekali berpaling dari lawan bicara. Namun saat mengamati penampilan Odo, Arteria mulai merasa sedikit heran dan segera kembali bertanya, “Omong-omong, Tuan Odo …. Kenapa Anda pakai serba hitam begitu? Jangan bilang Anda mau memakainya untuk acara utama nanti⸻?”


 


 


Mulut Arteria langsung tertutup rapat saat ditatap tajam Odo, ia segera sadar telah langsung melingkari perkataannya sendiri untuk tidak bertanya lagi. Wajahnya berubah muram, menundukkan wajah dan berkata, “Maaf ....”


 


 


 


 


“Huh ….” Menepuk kepala Arteria, Odo memasang senyum kecil dan menjawab, “Tak masalah kau bertanya soal ini. Aku mengenakan pakaian hitam karena sedang berkabung, aku ingin menghormati mu …. Maksudku, ibumu baru saja ….”


 


 


Arteria sedikit tersentak, menundukkan kepalanya dan tidak membalas perkataan tersebut. Dalam benak, ia merasa Odo sangat bisa mengerti dirinya. Meski Arteria sudah bisa tersenyum dan terlihat tidak lagi berkabung atas kepergian ibunya, namun sebagai seorang anak ia memang tak bisa langsung menatap ke depan dan melupakannya dengan mudah.


 


 


Perkataan pemuda itu membuat rasa senang mengisi benaknya, namun pada saat yang sama sedih mengikuti bersama kenangan Tuan Putri yang kembali naik ke permukaan. Mengangkat wajah dan memasang senyum kaku, ia dengan sedikit gemetar berkata, “Apa … sebaiknya Arteria juga pakai warna hitam nanti?”


 


 


Odo tidak menjawab pertanyaan itu, hanya menatap lurus calon tunangannya karena dirinya tak punya hak untuk menentukan hal tersebut.


 


\===============


 


 


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


 


 


Tapi!


 


 


Dilarang promo di cerita ini!


 


 


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


 


 


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.