
Ibukota Kerajaan Felixia, Millia. Kota yang menjadi pusat pemerintahan itu mengambil nama danau Millia yang menjadi tempat ikonis tersebut tempat tersebut. Millia memiliki kepadatan penduduk yang terus berkembang pesat setiap tahunnya setelah Perjanjian Keempat Negeri, dan saat ini menyentuh titik 2.500 jiwa per kilometer kubik.
Dari segi arsitektur bangunan Millia telah mengalami banyak perubahan meski masih mempertahankan unsur benteng yang kental—dikelilingi tembok raksasa dan menara-menara pengawas di berbagai sudut. Memiliki jalan bebatuan indah yang tersusun rapi, saluran irigasi merata yang bersumber dari danau Millia.
Sejak meningkatnya jumlah penduduk karena banyaknya orang yang transmigrasi ke kota tersebut, bangunan-bangunan baru terlihat di pojokkan tiap distrik sampai membabat habis lahan yang ada di kota. Hasil dari itu, Millia berubah menjadi kota dengan tingkat industri tinggi dan benar-benar meninggalkan unsur agraris.
Dalam pola pembangunan di Ibukota tersebut bertambah dari lima belas jalan utama menjadi dua puluh — semuanya menyatu ke arah empat gerbang utama yang terletak di keempat arah mata angin dari pusat kota.
Dengan mengadaptasi pembagian sektor utama menggunakan fungsi kuadran, pemukiman terbagi menjadi beberapa distrik seperti pemukiman rakyat dan pekerja, pemukiman para bangsawan, kegiatan industri umum seperti jasa dan dagang, dan terakhir adalah wilayah untuk Keluarga Kerajaan yang luasnya paling sempit dari semua wilayah kota.
Letak Keluarga Kerajaan berada pada tempat paling strategis karena berdiri di atas bukit yang berbatasan langsung dengan danau Millia, bisa dengan bebas mengawasi kota. Ada juga wilayah militer yang tersebar melingkar mengikuti garis benteng. Dalam hal itu, wilayah militer menjadi wilayah khusus yang pengaturannya independen tidak di bawah bangsawan atau para penjabat, tetapi tetap berada dalam pengawasan Raja.
Pada istana kerajaan, terlihat ramai para bangsawan dan tamu diplomatik dari kerajaan Ungea. Meski belum lama setelah meninggalnya sang Ratu, Raja Gaiel seakan ditekan oleh para diplomatik serta bangsawan untuk segera mengambil keputusan mengenai calon raja selanjutnya sekaligus tunangan Putri Arteria.
Pada ruang rapat utama di istana megah tersebut, orang-orang keluar setelah selesai membahas keputusan tentang Pangeran Ryan. Para diplomat dengan ekspresi tak senang keluar dari ruangan, orang-orang bersorban dari kerajaan Ungea itu tidak puas dengan hasil yang didapat dalam rapat.
Mengikuti mereka, para bangsawan kelas atas yang statusnya antara Viscount sampai Marquess keluar dengan wajah puas karena berhasil membantah banyak tuntutan yang diberikan oleh orang-orang utusan negeri gurun tersebut. Para bangsawan kerajaan tersebut adalah para kepala keluarga yang memiliki kekuasaan cukup tinggi, kebanyakan dari wilayah Garados dan Jakall. Untuk selebihnya adalah Dart Luke sendiri dan Thomas Rein.
Karena beberapa alasan, Kepala Keluarga dari dua keluarga bangsawan paling berpengaruh di kerajaan Felixia tersebut tidak membawa bangsawan lain sebagai pendamping. Hanya pelayan dan penjaga yang dipercaya mereka yang diajak ke Ibukota untuk mendampingi— itu pun mereka tidak ikut dan berjaga di luar ruang.
Sebelum pergi bersama para bangsawan lain, Raja Gaiel di ruang rapat memanggil, “Dart! Bisa kita bicara sebentar?”
Pria yang rambutnya sudah menguban itu menoleh, menatap datar dan merasa tidak bisa menyukai keputusan sahabatnya tersebut saat rapat terakhir. Dengan nada tidak peduli, Kepala Keluarga Luke tersebut berkata, “Ada apa? Bukannya kau sudah puas menyeret keluargaku untuk masalah ini?”
Thomas Rein sedikit menghela napas melihat Dart mulai naik pitam. Menoleh ke arah penjaga di sekitar tempat tersebut, pria rambut cokelat klimis itu memberikan tanda perintah dengan gerakkan tangan melambai.
Seperti dugaan Thomas, Dart yang selama rapat menahan amarah mulai habis kesabarannya. Pria rambut kuncir itu berbalik, berjalan masuk kembali ke ruang rapat dan berkata, “Kau tahu, Gaiel! Wilayahku diserang oleh para Aliran Sesat itu dan Iblis paling menjijikkan itu dipanggil! Lalu kau mencegahku untuk tetap di sini?! Untuk ikut hal tidak berguna seperti mendengarkan ocehan tak jelas orang-orang tak tahu diri itu!?”
Itu Dart katakan dengan suara keras, membuat para bangsawan serta diplomat yang belum pergi jauh mendengarnya. Tidak memedulikan mereka yang mulai bergumam, Kepala Keluarga Luke itu tetap memberikan tatapan tak suka kepada sang Raja.
Di dalam terdapat meja dan kursi yang disusun melingkar, dengan bagian tengah ruangan terdapat lilin hiasan dan proyektor sihir hologram yang digunakan selama presentasi untuk membantah tuntutan para diplomat. Cahaya redup, hanya ada lilin-lilin yang menyala di ruangan tersebut sebagai pencahayaan.
Dart menatap Raja Gaiel yang duduk di ujung ruangan pada kursi khusus dan lebih megah dari tempat duduk lain. Ia tidak memberikan toleran meski sahabatnya itu baru saja kehilangan orang yang paling dicintainya. Menunjuk lurus, Dart tegas berkata, “Kau ini kenapa?! Bukannya ini yang kau inginkan? Kau sudah tahu hal ini pasti akan terjadi saat kau menikahi Dalia, bukan?!”
Dua penjaga segera menutup pintu ruangan sebelum Dart dan Raja menjadi tontonan para bangsawan serta diplomat. Sadar kalau pintu sudah tertutup, kepala Keluarga Luke itu berjalan ke depan salah satu meja dan menggebraknya dengan keras sampai permukaan keramik meja itu retak.
Sang Raja tetap kalem, menatap datar dan berkata, “Aku tahu itu, Dart. Aku minta maaf, sahabatku.”
“Maaf? Kau tahu! Kalau saja Odo tidak ada di sana dan mengalahkan Raja Iblis Kuno itu! Wilayahku bisa musnah!!” bentak Dart.
“Odo ...? Putramu? Bukannya tadi kabar yang masuk mengatakan kalau yang mengalahkan Odrania itu Hewan Suci yang menjadi bawahanmu?” tanya bingung pria tua dengan jubah merah tersebut.
“Mana mungkin Fiola bisa melakukannya. Dia memang sangat kuat, tapi tingkatnya masih belum setara dengan Raja Iblis itu atau bahkan Naga Hitam .... Akh, pasti anak itu berulah lagi.”
Dart menarik kursi dari kolong meja, lalu duduk dan meletakkan tangan ke kening dengan ekspresi lelah. Melihat itu Gaiel merasa kalau sahabatnya yang cenderung temperamental itu tidak sedang bergurau atau mengatakan itu karena emosinya melonjak.
“Sungguh anakmu yang melakukannya? Dia masih anak-anak, loh. Apa lagi kita bicara soal Raja Iblis Kuno itu, tangannya saja sudah bisa membuat Naga Hitam kewalahan.”
Mengangkat tangan dari kening dan menatap sahabatnya, Dart dengan kesal berkata, “Dia memang tak terlalu kuat .... Tapi, dia tahu cara menggunakan kekuatan! Asal kau tahu, Gaiel! Dalam segi kecerdasan dia jauh di atasmu!”
Gaiel terkejut mendegar Dart berkata seperti itu, Raja merasa kalau sahabatnya tersebut terlalu menilai tinggi anaknya sendiri. Sedikit menegakkan posisi duduk, ia berkata, “Hmm, aku semakin senang kalau dia menjadi Raja selanjutnya setelah diriku.”
“Kau tak mengerti maksudku, Gaiel. Putraku itu selalu terlalu melebihi ekspektasiku. Memang aku senang punya anak sepertinya, namun kalau dia diberikan wewenang dan hak lebih dari itu bisa-bisa dia akan mengambil semuanya.”
“Mengambil ... semuanya?”
“Kasusnya sama dengan putramu. Apa kau pernah merasa kalau dia pasti kelak akan melakukan hal berbahaya?”
Raja Gaiel sedikit mengingat tentang putranya, Ryan vi Felixia. Pangeran Ryan bisa dikatakan juga anak yang sangat cerdas karena pada usianya yang baru menyentuh 13 tahun telah menguasai banyak jenis sihir dan sudah sangat ahli dalam teknik pedang khusus Keluarga Kerajaan. Bukan hanya itu, Pangeran Ryan juga telah menyelesaikan pendidikan dasarnya tentang seluk beluk kerajaan dan peraturan pemerintahan, sejarah, serta pengetahuan umum tiga tahun lebih cepat dari kebanyakan anak bangsawan pada umumnya bisa lakukan.
“Ya, Ryan juga bisa dikatakan genius dalam banyak bidang. Meski pencapaiannya tak sebanding dengan puramu, kurasa putraku itu juga bahaya kalau sifatnya tidak didik dengan baik.”
“Itu masalahnya ..., perbedaan itulah inti persalannya. Putraku tak pernah memikirkan pencapaian, ia bahkan tidak berpikir untuk mengejar prestasi atau semacamnya.”
“Bukannya itu bagus? Dia tidak akan menjadi orang yang serakah dengan prestasi atau jabatan.”
“Itu sebaliknya. Karena dia tidak pernah tertarik dengan pencapaian, anak itu terus bergerak tanpa henti. Kalau dia menjadi Raja, kelak dia pasti akan menyeret paksa daratan bahkan dunia ini ke arah yang tidak terduga .... Kita ... tak tahu berapa banyak korban yang dibutuhkan. Ditambah sekarang kemungkinan perang sudah sangat tinggi, bisa dipastikan dia pasti akan melakukan sesuatu ....”
Gaiel mulai ikut cemas mendengar perkataan Dart. Jika benar Odo Luke persis seperti apa yang dikatakan oleh Dart, ia merasa kalau anak itu adalah pilihan terburuk sekaligus terbaik untuk seorang calon Raja. Tanda seseorang terus bergerak namun tidak memedulikan prestasi atau pandangan orang lain adalah karena ia memiliki tujuan lain yang menjadi prioritas.
“Berarti itu tergantung dirinya .... Kalau apa yang diharapkan anak itu sebuah perdamaian, maka itu lebih baik. Kuharap dia anak seperti itu.”
“Kau yakin berkata seperti, Gaiel? Aku ayahnya saja tak paham apa yang diinginkan Odo dan apa yang ditujunya? Aku bahkan selama satu bulan ini mendapat tiga kabar beruntun yang hampir membuat jantungku berhenti.”
“Hmm, sepertinya kau sudah pantas sebagai seorang Ayah. Kurasa wajar untuk cemas seperti itu pada anak, aku juga merasakan hal sama saat Ryan atau Arteria berulah.”
Dart menatap jengkel, sedikit kesal karena perkataan Raja seakan-akan paham rasa gelisahnya. Sedikit menarik napas dan untuk menurunkan emosi, Kepala Keluarga Luke itu bertanya, “Ngomong-omong, si Putri bagaimana keadaannya? Minggu lalu ... dia sudah sepenuhnya selesai menjalin Kontak Jiwa dengan Roh Kudus, bukan?”
Raja Gaiel terlihat sedikit muram, memalingkan tatapan dari sahabatnya dan berkata, “Ya .... Dengan itu, Arteria sah menjadi kandidat Ratu Kerajaan ini setelah aku turun tahta.”
“Apa kau menyesal? Maksudku, Kontak Jiwa yang dilakukan dengan Roh Kudus itu ....”
“Hmm, efeknya membuatnya hanya bisa hidup sampai usia 35 sampai 40 tahunan. Selain itu, Arteria mewarisi ingatan dari Leluhur dan bentuk fisiknya berubah. Efek samping lainnya dia juga kehilangan indra atau fungsi tubuhnya seiring berjalannya waktu. Itu terlalu ....”
Meski sang Raja telah membulatkan hati dan membiarkan putrinya melaksanakan kewajiban keluarga yang telah berlangsung turun-temurun itu, namun tetap saja sebagai seorang Ayah tak rela membiarkan putrinya hidup dalam situasi seperti digerogoti tubuhnya oleh kekuatan yang memang diperlukan kerajaan.
“Jadi ..., apa pertama yang diambil oleh Roh Kudus itu apa?” tanya Dart.
“Penglihatan.”
“Hmmm ....” Dart berusaha tidak menunjukkan rasa kasihan, karena menurutnya itu hanya akan menghina keputusan Gaiel untuk membiarkan putrinya menjadi semacam tumbal bagi kerajaan.
“Maaf, Dart .... Aku sebenarnya tak ingin memaksa anakmu untuk menikahi anakku. Dia pasti punya jalan yang lain, tapi situasinya memang seperti itu .... Dan juga, yang paling bisa kupercaya hanya kau. Aku tak ingin menyerahkan Arteria pada para bangsawan yang mementingkan diri mereka sendiri.”
“Aku benci keputusanmu itu. Tapi ... kurasa seharusnya kau tidak mengatakan itu padaku. Saat putraku datang ke sini nanti, katakan permintaan maafmu padanya. Putraku itu berhak mendapat itu.”
“Ya ..., aku pasti akan mengatakannya langsung. Aku ... pasti akan minta maaf padanya.”
««»»
Sinar matahari turun melewati mendung yang masih menutupi langit. Meski salju tak lagi melayang turun, namun hawa dingin dan pemandangan putih masih memenuhi Istana Utama Kerajaan Felixia tersebut.
Pada teras istana yang dekat dengan taman bunga, seorang anak remaja rambut cokelat cerah berjalan dengan congkak dan sedikit mengumbar rasa bangga pada dirinya sendiri. Ia mengenakan tunik hitam bersulam benang keemasan pada bagian sekitar leher dan dirangkap dengan jubah berwarna biru gelap.
Dengan kaki berbalut sepatu bot setinggi lutut, anak laki-laki yang usianya sekitar belasan tahun itu berjalan dengan penuh rasa percaya diri. Entah itu pelayan, penjaga, atau bahkan tamu bangsawan, mereka menyingkir dari jalan saat anak rambut cokelat itu lewat. Ia adalah Putra Pertama Raja Gaiel, Pangeran Ryan.
Dengan sorot mata hijau dan kewibawaan tinggi seperti ayahnya, Ryan sering diagungkan oleh orang-orang istana dan tumbuh menjadi anak yang sedikit sombong. Di teras ia berjalan dengan cepat, melihat kanan dan kiri mencari seseorang di sekitar taman bunga di tengah istananya.
“Padahal masih dingin .... Kenapa sih dia pergi? Kalau sakit memangnya siapa yang repot?” gumam Ryan. Menatap tajam ke arah salah seorang pelayan yang ditemui, ia bertanya, “Kau! Apa kau lihat adikku?”
“Pangeran,” ucap pelayan yang membawa keranjang berisi kain kotor itu seraya menunduk hormat. Mengangkat wajah kembali, ia menjawab, “Saya rasa Putri Arteria tadi lewat ke sini beberapa saat lalu ....”
“Pergi ke mana dia?”
“Saya rasa ... ke taman mungkin.”
“Hmph! Begitu, ya. Terima kasih, kau boleh pergi.”
Segera berjalan kembali, sang Pangeran melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah yang tadi diberitahukan pelayan. Sampai pada pusat taman yang masih tertutup salju, Pangeran Ryan menemukan adiknya. Pada bangku di depan air mancur yang masih sebagian membeku, seorang perempuan duduk di sana. Dialah sang Tuan Putri Arteria.
Perempuan tersebut terlihat lebih dewasa dari Ryan, meski seharusnya usianya masih sangat muda. Ia memiliki rambut berwarna biru langit yang lurus dan halus, kulit sepucat salju, terlihat halus dan rapuh. Di tengah dinginnya udara yang ada, perempuan itu hanya mengenakan Bunad— jenis pakaian yang terdiri dari gaun putih dan mantel biru berbahan utama wol, memiliki motif bordir unik berwarna merah yang menambah aksen dan untuk alas kakinya dikombinasikan dengan sepatu model mary jane warna hitam.
“Hari ini dingin, ya,” ucap Putri Arteria, namun bukan kepada Ryan. Perempuan itu menatap ke arah lain, seakan mengajak sosok tak terlihat di hadapannya berbicara dan kembali berkata, “Ouh~! Ignis lihat hal seperti itu di luar, ya? Enaknya .... Kalian juga, Aqua? Ventum? Hmm, begitu rupanya.”
Melihat adiknya berbicara sendiri seperti itu dengan sosok-sosok yang tidak bisa dilihatnya, Ryan merasa sedikit sedih. Sejak dulu Arteria memang memiliki kecocokan tinggi dengan para Roh bahkan sampai bisa memanggil mereka dari Dunia Astral tanpa menggunakan Gerbang. Meski itu hanya tingkat rendah sampai menengah, namun adiknya itu memang lebih dekat dengan para Roh daripada orang-orang.
Ditambah dengan Kontrak Jiwa yang dilakukannya dengan Roh Agung dan Roh Kudus, adiknya tersebut semakin menjadi sosok yang jauh dari dunia manusia. Menghela napas dengan ringan, Ryan memanggil, “Arteria!”
“Hmm, Kakanda?”
Sang Tuan Putri menoleh, namun bukan berarti dirinya bisa melihat sosok kakaknya tersebut. Penglihatan telah direbut darinya, apa yang Arteria bisa lihat hanyalah energi kehidupan dari makhluk hidup sebagai ganti salah satu indranya yang hilang. Dalam sudut pandang perempuan itu, kakaknya itu hanya terlihat seperti sebuah titik cahaya berwarna merah terang di tengah kegelapan.
Ryan menghampiri dan duduk di sebelah adiknya tersebut. Menatap ringan, Pangeran itu bertanya, “Siapa yang mengajakmu keluar? Bukannya kondisi tubuhmu belum pulih sepenuhnya setelah membuat Kontak Jiwa?”
“Arteria diajak para Roh ..., bahkan sekarang mereka masih menemaniku. Benar ‘kan, teman-teman?”
Perkataan adiknya tersebut membuat Ryan termenung. Dirinya sama sekali tidak memiliki kecocokan dengan para Roh. Ditambah dirinya lebih sering mendapat pendidikan dari ibu kandungnya sendiri, Sarawati, Ryan bisa dikatakan tidak terlalu suka dengan hal-hal tak kasatmata seperti itu.
“Kenapa kau tahu bisa tahu kalau tadi yang memanggil adalah aku? Apa karena suara? Biasanya kalau penglihatan hilang, indra lain kemampuannya akan meningkat.”
“Bukan itu, Kakanda ....” Arteria menoleh, membuka mata yang seakan terlihat sangat gelap dan kosong tersebut. Seakan tidak berbicara dengan Ryan karena bola matanya menghadap ke arah lain, Arteria berkata, “Ini semacam persepsi energi kehidupan. Arteria bisa melihat Kakanda karena aura yang terpancar dari Kakanda.”
“Hmm, memangnya aku terlihat seperti apa.”
“Api merah ..., dikerumuni oleh titik-titik cahaya warna-warni. Uhm! Kakanda sangat diberkahi.”
“Begitu, ya.” Ryan sedikit memalingkan pandangan, memasang wajah murung dan melihat ke arah air mancur yang membeku.
“Kenapa murung?” tanya Arteria sembari tersenyum kecil.
“Kau bahkan bisa tahu kalau aku sedang murung, ya?”
“Hmm, kita saudara. Arteria bisa langsung tahu kalau Kakanda sedang murung.”
Pangeran sedikit tertegun mendengar perkataan itu. Ia memang menganggap Arteria sebagai adik, namun hanya dirinya seorang. Ryan tidak dekat dengan Ibu Arteria, Mendiang Ratu Dalia, karena beberapa alasan terkait hubungan ibu kandungnya dengan sang Ratu.
Memasang senyum yang dipaksakan meski tahu Arteria tidak bisa melihat itu, Ryan berkata, “Kakak hanya sedang memikirkan nasib kerajaan ini nanti .... Seharusnya kau sudah dengar, situasi Michigan sekarang sedang memanas dan perang mungkin akan segera terjadi lagi. Kalau itu benar-benar terjadi, kemungkinan besar kamu ....”
“Tenang saja!” ucap Putri dengan cerita dan penuh rasa percaya diri. “Arteria paham dan sudah menerima takdir ini! Sihir Tingkat Nasional yang bisa digunakan oleh Arteria adalah sebuah jaminan terakhir, Kakanda tak perlu secemas itu. Lagi pula, tidak seperti waktu nenek yang terpaksa menggunakannya, sekarang situasinya berbeda. Ibunda juga berakhir tak perlu menggunakan sihir itu.”
“Maaf ....” Ryan semakin sedih mendengar itu.
“Kenapa Kakanda minta maaf?”
“Padahal kamu baru saja kehilangan orang paling berharga bagimu, tapi malah dibebankan dengan kewajiban seperti itu.”
“Itu tak masalah, Kakanda .... Lagi pula, Arteria bukan berarti benar-benar berpisah dengan Ibunda.” Meletakan kedua tangannya ke depan dada, Arteria berkata, “Dirinya selalu ada dalam benak ini. Bersama dengan para leluhur Kerajaan Felixia, Ibunda selalu menemani Arteria.”
Itu sedikit membuat Ryan terkejut, setahunya adiknya itu adalah gadis yang sedikit cengeng dan selalu meminta bantuan padanya. Namun mendengar Arteria berkata seperti itu, Ryan sedikit leha dan berkata, “Kamu ... berubah, ya. Apa itu efek dari warisan ingatan?”
“Berubah seperti apa memangnya? Arteria tetap Arteria, Kakanda aneh,” ucap perempuan itu sembari tersenyum. Meski matanya terlihat mati, tetapi ekspresinya sangat hidup bahkan lebih hidup dari Ryan sendiri.
Tersenyum tipis, Ryan berkata, “Rasanya kamu sedikit lebih pemberani, sampai-sampai bisa berkata seperti itu. Padahal dulu saat kita lomba naik ke atas pohon, kamu ujung-ujungnya malah menangis karena tidak bisa turun.”
Arteria mengembungkan pipinya saat mendengar hal tersebut. Memalingkan pandangan dengan jengkel, ia menggerutu, “Uhh~ tak usah bahas hal seperti itu, dong!”
Ryan kembali tersenyum, merasa kalau adiknya tersebut memang tak selemah yang dirinya kira. Memalingkan pandangan dan melihat ke arah air mancur, ia berkata, “Oh, iya. Tentang rapat tadi, katanya keputusan akhir sudah dibuat, loh.”
“Kakanda menguping lagi? Kebiasaan buruk loh itu ....”
Kening Ryan sedikit mengerut, segera menoleh dan berkata, “Sudahlah, jangan permasalahkan itu.”
“Jadi, apa memangnya yang Kakanda ketahui dari rapat?” tanya Arteria penasaran.
“Katanya tunanganmu sudah diputuskan dan hasil akhir terkait diriku sudah ditentukan. Mau dengar yang mana dulu?”
“Eng ...” Sejenak berpikir, Arteria menjawab, “Tenang Kakanda dulu.”
“Kenapa?”
“Arteria lebih penasaran dengan orang lain daripada diri Arteria sendiri.”
“Dasar aneh ... Aaah, baiklah ....” Mendongak ke arah langit mendung, Ryan berkata, “Keputusan mereka tentangku adalah memberikan status seorang Duke secara utuh.”
“Hmm, bukannya Kakanda sudah menjadi Duke? Setahu Arteria semua Keluarga Kerajaan itu bergelar Duke ....”
“Bukan!” Ryan menatap dengan sedikit tegas, merasa kalau adiknya itu kurang belajar dengan hal-hal semacam itu. Dengan nada menggurui, ia berkata, “Aku hanya anak seorang Raja, Kakakmu ini seorang Pangeran! Meski nantinya kamu atau aku punya anak nanti pun itu bukan berarti anak itu jadi Duke, dia akan sekadar menjadi anak Duke. Intinya, meski seorang anak bangsawan lahir dari ayah bergelar tinggi, bukan berarti anak itu gelarnya sama dengan ayahnya.”
“Ouh, begitu. Arteria baru tahu hal seperti itu. Berarti Kakanda dapat dua gelar bangsawan sekaligus?”
“Aku masih seorang Pangeran, status itu tidak berubah. Itu hanya permainan politik Ayahanda sepertinya, untuk membuat para diplomat itu berhenti menuntut. Hanya saja, sepertinya saya nanti diberikan beberapa hak khusus lain untuk membuat mereka tidak protes lagi.
“Hmmm .....”
Sesaat suasana menjadi senyap karena topik pembicaraan pertama habis. Memalingkan pandangan dari adiknya, Ryan bertanya, “Untuk informasi tentang tunanganmu ... apa mau dengar juga?”
“Tentu!” jawab Arteria semangat.
“Dia adalah Odo Luke, anak tunggal Tuan Dart dan Penyihir Cahaya. Kau sudah tahu kabar tentangnya, bukan?”
“Hmm! Arteria sudah dengar beberapa hal tentangnya.” Mengangkat jari telunjuk dan meletakkannya ke depan bibir, sembari memiringkan kepala ia berkata, “Katanya Tuan Odo sangat genius dan kuat, bahkan di usianya yang sangat muda beliau sudah bisa mengalahkan Naga Hitam dan mendapat julukan Pembunuh Naga.”
“Ah ..., dia sangat tidak masuk akal, bukan? Katanya juga dia bahkan bulan lalu ikut membantu mengalahkan Raja Iblis Kuno bersama Nona Fiola.”
“Raja Iblis Kuno? Odrania itu?!” tanya Arteria terkejut.
“Ya .... Bukan hanya itu, dia juga dikatakan menjadi pelopor rencana pembasmian para bandit di wilayah Tuan Dart bersama pewaris Keluarga Mylta.”
Wajah Arteria langsung berseri-seri, penuh rasa penasaran dan kagum ia berkata, “Tuan Odo ..., dia orang yang sangat mengagumkan, ya.”
“Hah! Apanya yang mengagumkan!” ucap kesal Ryan. Memalingkan pandangan dengan bibir dinaikkan, ia dengan nada sarkasme ia berkata, “Kalau aku diberi kesempatan untuk tampil lebih, pasti aku juga bisa melakukannya!”
“Hmm, tidak biasanya Kakanda iri dengan orang lain.”
“Siapa yang iri!” ucapnya tegas seraya menatap Arteria. “Aku tidak iri padanya! Satu-satunya hal yang membuatku iri padanya karena dia bisa berlatih teknik pedang tingkat tinggi dengan bebas!”
“Tuh, Kakanda iri.” Arteria menunjuk kakaknya itu sembari tersenyum tipis.
“Ah, biarlah! Jangan membahas hal itu.”
“Ehemm, Arteria semakin penasaran dengan Tuan Odo. Kalau ia nantinya menikahi Arteria, apa Kakanda akan restu?”
“Takkan! Aku takkan merestui kalian!”
Sang Tuan Putri tertawa kecil, merasa senang mendapati kakaknya sangat mengkhawatirkan dirinya sampai seperti itu. Sedikit memalingkan wajah ke arah para Roh yang sebelumnya ia ajak bicara, perempuan itu bergumam, “Ya ..., Arteria juga berharap dia orang yang baik seperti Ayahanda.”
\======================================
[Catatan: {Kayangan = Heaven} {Surga = Paradise}]
Kayangan = Tempat para Dewa/ Makhluk ilahi/ Surgaloka
Surga= Tempat untuk menyenangkan/membahagiakan jiwa, juga masuk kategori Surgaloka.
Barang kali ada yang tanya ....
Tarik napas dalam-dalam .... Satu, dua, tiga.
Akhirnya keluar juga Cewek di Cover!!!!!!!!!!!!!!!!
Akh, dari sekian panjang seri ini berlangsung, akhirnya muncul juga Main Heroin seri ini!!
See You Next Time!
Terima kasih para penikmat. Silakan dukung dengan Komentar, Vote, Share, dan bila bisa donasi koin.
Jika ingin tahu info-info lain seri Resaif, silakan kunjungi juga medsos:
IG @Kenikmatan7
FB Dirjen Magang / Halaman FB Re:Start/if
Atau juga bisa mampir ke Blog https://darkfantasia7.blogspot.com/
Di sana ada juga seri yang mungkin menarik untuk dibaca.
Juga ada ilustrasi yang saya dan rekan buat;v
See You!!