
Minggu kedua musim semi. Sebulan berlalu semenjak jalur perdagangan kota Mytla kembali dibuka dan benar-benar terbebas dari ancaman para bandit.
Serikat Dagang Lorian yang langsung berbelok haluan ke pihak pemerintahan mendapat beberapa hak khusus sebagai investor kota, salah satunya mereka mendapat keringanan pajak dan bisa dengan bebas melakukan ekspor-impor di kota pesisir tersebut.
Pada urusan pembersihan markas-markas bandit yang masih tersebar di daerah Rockfield, sang Baron, Oma Stein, selaku Walikota Rockfield telah melakukan pembersihan meski tidak bisa secara penuh karena kelompok bandit cenderung terpencar di dalam hutan dan sukar untuk dibasmi.
Kota pesisir yang tahun lalu tertinggal dalam berbagai aspek mulai mengalami progresif. Rute perdagangan yang terbuka bebas antar kota membuat mobilitas suplai barang meningkat. Ditambah dengan beberapa kerja sama yang dibuat antara keluarga Stein dan Mylta setelah kejadian Kemunculan Raja Iblis, hal seperti pertukaran hasil komoditas pasar semakin pesat meski para nelayan baru bisa mendapat hasil laut setelah teluk yang membeku mulai mencair.
Perselisihan kekuatan politik antar Pihak Religi dan Pihak Pemerintah juga mengamali titik terang dimana kedua pihak dapat menjaga keseimbangan pengaruh politik. Meski masalah seperti paham dari Moloia masih samar-samar tersisa, Pihak Religi yang bertitah bahwa paham seperti itu adalah salah dan menyimpang dari ajaran membuat para penganut sedikit demi sedikit meninggalkan paham dari luar tersebut.
.
.
.
.
Siang hari yang cerah dan hangat, Odo Luke membuka mata dengan wajah sedikit muram. Sinar yang masuk melalui jendela yang terbuka membuatnya menyipitkan mata di atas ranjang. Segera bangun dan duduk, pemuda itu sedikit melindur dan melihat kanan kiri seakan mencari sesuatu.
Sadar kalau dirinya tidak sedang di Mansion, Odo menghela napas. Ia berada pada salah satu kamar Penginapan Porzan, sudah lima hari dirinya meminjam kamar tersebut untuk tempat istirahat selama berada di Mylta.
“Sudah bangun, Odo?” sapa suara yang dikenal pemuda itu.
Menoleh ke arah jendela, di sana terlihat sang Roh Agung Penguasa Laut Utara. Ia berdiri di dekat jendela, dengan penampilan berbeda. Vil tidak mengenakan pakaian khas Ungea yang dirinya suka, sekarang ia memakan pakaian sederhana seperti tunik yang dirangkap dengan kemeja putih. Untuk bawahan, ia mengenakan celana panjang ketat berwarna hitam yang dirangkap rok pendek berwarna hitam dengan pola garis kotak-kotak biru.
Odo merasa kalau penampilan Vil meniru dirinya. Namun kehilangan kesempatan untuk bertanya mengapa Roh Agung itu mulai berpakaian seperti itu sejak tiga hari lalu, Odo memilih tak membahas hal itu.
“Ya, sudah bangun,” jawab Odo. Menatap datar Roh Agung tersebut, pemuda itu kembali berkata, “Tidur lama-lama memang gak enak, badanku rasanya sakit semua .... Tapi kalau tidak tidur tubuhku akan drop langsung. Tch! Rasanya kayak jadi orang penyakitan memang.”
“Yah, kamu belum pulih sepenuhnya, sih .... Jujur aku juga kaget waktu kamu ambruk setelah ngobrol dengan pedagang itu.”
Vil berjalan ke arah tempat tidur, duduk di sebelah Odo dan menatapnya dari dekat. Menyentuh kening pemuda itu dan memeriksa suhunya, ia berkata, “Kurasa kau tidak demam atau apa. Tapi ... kenapa wajahmu selalu pucat? Sejak kamu datang ke kota, loh.”
“Ah, di sini roh tingkat rendah sangat jarang, sih. Pemulihan tubuhku butuh bantuan mereka, jadinya ....”
“Mau ambil milikku?” Vil mengulurkan tangannya.
“Eh? Bukannya kamu bisa ada di sini berkat kekuatanku? Kalau kau semakin melemah itu sama saja aku harus meningkatkan konsentrasi kekuatanku ....”
“Ah, percuma dong.”
“Tuh, sudah tahu jawabannya ....”
Pemuda rambut hitam itu bangun dari tempat tidur. Melepas kemeja dan celananya, ia mengambil pakaian ganti dari lemari. Seperti biasanya ia pun selalu mengenakan kemeja lengan panjang dan celana hitam, dengan sebuah sarung tangan hitam pada kedua tangan.
Pemuda itu dengan tanpa malu berganti pakaian meski Vil masih berada di kamar, seakan memang tidak peduli dengan hal tersebut. Sama halnya pemuda itu, Roh Agung berambut biru itu pun sama sekali tidak terganggu.
“Ini mungkin tidak ditanyakan Julia dan yang lainnya, tapi diriku memang penasaran. Odo, dari mana kamu kenal dengan pedagang itu sampai-sampai dia mau meminjamkan kamar gratis seperti ini?” tanya Vil.
Sembari mengancing kemeja, Odo menjawab, “Waktu aku datang sama Mbak Fiola aku kenal dengannya. Cuma kebetulan, kok.”
“Kebetulan ..., ya.” Vil menatap datar.
Sedikit melirik, Odo berkata, “Kenapa?”
“Mendengar kata kebetulan dari kamu rasa tak wajar saja. Rencana yang kau berikan padaku ini ... rasanya terlalu sempurna karena tadi berjalan terlalu lancar. Kebetulan malah terdengar aneh.”
“Terlalu lancar? Apanya yang terlalu lancar?”
Vil sedikit menghela napas. Ia melepaskan sepatunya dan naik ke atas ranjang, lalu berbaring dengan kedua tangan telentang ke atas sampai melebihi ranjang.
“Semuanya .... Dari hari pertama kamu datang, masuk ke penginapan ini dan melakukan pembicaraan dengan pedagang itu. Membiarkanku untuk berdiskusi dengannya setelahnya, lalu membongkar identitasku sebagai Roh Agung padanya dan membuat pedagang itu semakin tertarik dengan rencanamu.”
Mendengar itu, Odo hanya terdiam dan segera mengenakan celananya. Selesai merapikan diri, ia sedikit menghela napas. Merentangkan kedua tangan ke atas dan mengulat.
“Ah ..., apa aku perlu mandi dulu, ya?” gumam Odo seraya mencium ketiaknya sendiri.
“Tenang saja, kamu sama sekali tidak mengeluarkan bau, kok.” Vil duduk sila di atas ranjang, menatap dengan wajah tanpa ekspresinya dan kembali berkata, “Kali ini mau apa lagi? Lanjut dengan rencana yang kamu berikan padaku? Entah mengapa aku jadi sedikit percaya diri berkat informasi yang kamu berikan ini ....”
Berbalik menghadap Roh Agung tersebut, Odo menjawab, “Ya, kita pakai rencana itu ...”
Berjalan ke arah pintu dan membukanya, pemuda itu keluar dan berjalan lorong. Vil segera turun dari ranjang dan mengenakan sepatu, ikut keluar bersama Odo dan menutup pintu. Kamar tempat mereka berada di lantai dua Penginapan Porzan, dipinjamnya secara gratis setelah beberapa perjanjian dengan Eksekutif Serikat Dagang Lorian, Aprilo Nimpio.
Dalam perjanjian hitam di atas putih yang secara resmi proses pelobiannya dilakukan oleh Vil, disepakati beberapa hal mengenai toko yang ingin Odo Luke bangun. Salah satu isi dari perjanjian itu adalah memberikan sewa dua kamar gratis selama setahun di Penginapan Porzan, hal ini didasari atas Aprilo yang menjadi sponsor dari penginapan tersebut.
Isi penting dari perjanjian tersebut adalah Odo harus memberikan beberapa produk baru yang akan dijual pada toko khusus yang akan dibangunnya. Dalam pelobian yang dilalukan Vil mengungkapkan kalau toko yang akan dibangun Odo akan menjual barang-barang yang tidak bertabrakan dengan barang dagangan Serikat. Menggunakan dasar tersebut, Aprilo mengincar barang Odo untuk dijual pada wilayah lain dengan tujuan bagi hasil.
“Odo, ngomong-omong sebenarnya barang apa yang ingin kamu jual? Toko ..., yang kamu bangun itu untuk toko, ‘kan?” tanya Vil yang berjalan di sebelah pemuda rambut hitam tersebut.
Sedikit melambatkan langkah kaki, Odo menjawab, “Intinya bukan barang mentah. Sebuah olahan yang mungkin bisa menarik perhatian.”
“Hmm, apa itu?”
“Entahlah, aku masih memilahnya mana yang kiranya menarik.”
“Eh? Belum diputuskan, ya?”
“Sudah, tapi harus dipilah mana yang diutamakan.”
Sembari mengobrol ringan, mereka berdua sampai pada anak tangga dan turun ke bawah. Mereka berpapasan dengan seorang pelayan penginapan, bertukar salam ringan dan segera melanjutkan keperluan masing-masing.
Sampai di lobi, Minda dan Gariadin terlihat duduk dan telah menunggu mereka. Odo dan Vil segera menghampiri, ikut duduk dan pemuda rambut hitam itu berkata, “Maaf, Kak Gari ... Kak Minda. Aku baru bangun.”
“Hmm, Anda benar-benar jadi bangun siang, ya. Tidak saya sangka,” ucap Minda. Perempuan yang terlihat selalu mengenakan seragam pelayan itu menatap heran, sembari mengingat-ingat Odo yang bisa dikatakan selalu bangun sangat pagi.
“Yah, kondisiku sedang memburuk, sih. Ini bentuk adaptasi .... Jadi, apa lancar pembangunannya?”
Perempuan rambut hitam panjang tersebut menarik napas dalam-dalam. Menatap ringan dan tersenyum, ia dengan percaya diri berkata, “Semuanya berjalan lancar. Para Dwarf dan orang-orang yang disewa bekerja maksimal dan mungkin bisa selesai akhir bulan ini.”
“Kalau Kak Gari?” tanya Odo.
Tersenyum penuh rasa bangga, Gariadin menjawab, “Ah, lancar banget! Jujur aku tak mengira kalau pihak Religi dan Pemerintah bisa akur seperti ini. Memang setiap kota ada pembagian pihak seperti itu, tapi aku tidak mengira mereka bisa punya titik toleran seperti ini. Yah, mereka seperti minyak dan air, sih. Sukar menyatu.”
“Gariadin ...! Jaga cara bicaramu! Padahal kau juga Shieal, tapi malah bicara santai seperti itu di depan Tuan!” tegur Minda.
“Gak masalah, lah. Lagi pula Tuan Odo juga tidak mempermasalahkannya. Benar’kan, Tuan Odo?” ucap pria berpakaian kemeja hitam itu dengan santai.
“Ya, aku tak masalah, kok. Lagi pula kalau kaku rasanya juga aneh,” jawab Odo.
“Tuh, dengar!”
“Tapi ....”
Odo terdiam, mencermati perkataan pria rambut merah tua itu. Menatap ke arah Gariadin, pemuda itu mengamatinya dengan cermat dan memperkirakan apa saja yang dilakukan pria itu sebelum duduk di lobi.
Apa yang dikenakan oleh Gariadin itu adalah pakaian yang hampir mirip dengan kemeja hitam yang pernah Odo kenakan, semacam seragam pendeta. Dari itu dirinya tahu kalau salah satu Shieal tersebut baru saja mendatangi Gereja Utama atau semacamnya untuk mengurus persoalan yang ada.
Odo sedikit menghela napas karena tinggal satu masalah yang tersisa dari persoalan terkait politik kota Mylta. Memegang dagu dengan tangan kanan, pemuda itu memalingkan pandangan dan memikirkan beberapa hal lain.
“Tuan Odo ..., boleh saya tanya sesuatu?”
Mendengar suara Minda yang terasa kaku, Odo berhenti melamun dan menatap ke arahnya. Tersenyum tipis, ia berkata, “Apa itu?”
“Sebenarnya ... sejauh mana Tuan Odo merencanakannya?”
“Itu benar! Tuan! Sebenarnya Anda merencanakannya sampai titik apa?” sambung Gariadin.
Mendapat pertanyaan dari Minda dan Gariadin, Odo sesaat terdiam. Dirinya paham kalau rasa penasaran seperti itu memang wajar muncul mengingat orang-orang yang diperintahkannya sama sekali tidak tahu tujuan Odo yang sebenarnya.
“Kenapa Mbak Minda dan Kak Gariadin merasa begitu?” tanya balik Odo.
“Rencana Anda terlalu sempurna,” ucap Minda.
Odo hanya terdiam, tersenyum tipis dan menunggu Minda kembali mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.
Menatap mata Odo, Minda berkata, “Itu sampai-sampai membuat saya merinding. Dari Anda memberitahu saya tentang orang-orang yang menjual kayu, batu, pasir dan bahkan meminta para penyihir dari toko di Distrik Niaga untuk membuat beton ..., semuanya terasa sangat terarah.”
“Hmm, memang semua itu terarah,” ucap Odo santai.
“Jujur ..., bahkan saat meminta para Dwarf, saya tidak menyangka kalau Anda menggunakan koneksi Osel dan mengundang beberapa Dwarf dari Rockfield untuk membantu .... Bukan hanya itu saja, posisi lahan juga saya rasa sempurna .... Perencanaan pembangunan Anda juga. Desain, cara pembangunan, arsitektur dan semuanya rasanya sangat sempurna, dan itu ... menakutkan.”
Mendengar perkataan Minda yang terasa sangat jarang untuk perempuan tersebut untuk berpendapat, Odo sedikit tersenyum tipis dan merasa lega salah satu Shieal yang dirinya kenal menjadi sedikit terbuka.
“Aku memang telah merencanakan semuanya. Dari awal sampai selesai .... Kalau Mbak Minda merasa itu terlalu sempurna, itu sebenarnya hanya karena Mbak Minda selalu melihat orang membuat rencana tidak matang. Bagiku rencana seperti ini wajar dan biasa ....”
“Biasa ...? Semua ini?” Minda sedikit tercengang.
“Ya ....”
Gariadin menyela masuk pembicaraan dan bertanya, “Kalau soal Pihak Pemerintah dan Religi, apa Anda juga merencanakan itu dari awal? Untuk menemukan titik toleransi mereka, Anda sudah merencanakannya?”
Odo sedikit memalingkan pandangan, mengamati lobi yang terasa sepi dan berkata, “Ya. Aku dari awal merencanakannya. Kak Gariadin kenal Biarawati di Gereja Utama? Yang namanya Siska?”
“A— Nona Siska, ya. Benar juga ..., dia mengurus Panti Asuhan yang sering Tuan datangi. Apa sejak itu Anda merencanakannya?”
“Hmm, kurang lebih.” Odo berhenti mengamati sekitar, kembali menatap keduaShieal tersebut dan berkata, “Jadi, sebelum aku mengarahkan Mbak Minda dan Kak Gariadin lagi, apa yang ingin ditanyakan?”
“Itu ...”
“Sebenarnya ....”
Mereka berdua terlihat canggung. Ingin menanyakan sesuatu namun terlihat sedikit enggan untuk bertanya karena beberapa alasan.
“Hmm? Apa?”
“Sebenarnya bukan kami saja yang penasaran, Julia dan Imania juga,” ucap Minda ragu.
“Penasaran soal apa?”
“Waktu Anda datang ke tempat ini dan tawar menawar dengan Eksekutif Serikat Dagang itu .... Kalau tidak salah, namanya Tuan Nimpi, ya? .... Kenapa ... Vil bisa melobi seaktif itu? Bukannya dia ....”
“Dia kutu buku, bukan? Gak tahu bermasyarakat? Kenapa bicaranya lancar begitu dan bahkan bisa membujuk orang,” sela Gariadin langsung pada intinya.
Vil yang duduk di sebelah Odo langsung terusik, merasa tersinggung dan menatap datar pria rambut merah tersebut.
“Ah, soal itu ....Yah, memang sih kalau Vil gak punya skill sosial. Dia kutu buku, introvert lagi ....”
“Odo ....” Vil melirik kesal, merasa dipermainkan oleh mereka.
Menoleh ke arah Vil, Odo tersenyum ringan dan berkata, “Tapi, ya .... Jujur aku sulit menjelaskannya, tapi anggap saja seperti ini. Vil sikapnya berubah, bisa melobi lancar dan aktif karena kekuatanku ....”
“Kekuatan ... Tuan Odo?” tanya Minda.
“Ya .... Asal Mbak Minda tahu, aku punya kekuatan untuk berbagi informasi. Orang cerdas karena pola pikir dan sikap dari lahir, namun orang pintar karena belajar dan hasil pengalaman .... Singkatnya, aku bisa membuat orang menjadi pintar.”
“Eh ...?”
“Ah ....?”
Mereka benar-benar tercengang mendengar itu. Saling menatap, Minda dan Gariadin memang paham namun tetap tidak bisa mempercayainya karena hal itu terdengar tak masuk akal.
Tersenyum kecil melihat reaksi mereka, Odo kembali menjelaskan, “Berbagi informasi, itu sama saja aku berbagi pengetahuan dan pengalaman.”
Mereka tetap tidak bisa menerima sesuatu yang tak masuk akal itu. Kalau memang apa yang Odo katakan benar, hal seperti latihan dan belajar menjadi tak diperlukan lagi. Hanya dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan itu sudah bisa membuat seseorang menjadi ahli dalam sesuatu.
“Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraannya,” ucap Odo.
Setelah itu, pemuda itu kembali melakukan pengarahan untuk mereka. Minda diminta untuk tetap mengurus proses pembangunan toko karena dirinya dan Imania lah yang diberikan tanggung jawab pada hal tersebut. Untuk Gariadin, mantan pendeta itu masih ditugaskan untuk perantara antar Pihak Religi dan Pihak Pemerintah.
Pada pengarahan, Odo memberikan beberapa tambahan untuk mereka supaya mengawasi tentang paham luar yang masih tersisa serta kemungkinan bahaya luar lainnya mengingat kondisi politik antar negeri sedang memanas.
Minda dan Gariadin bergantian setiap dua hari sekali dengan Julia dan Imania untuk berada di kota Mylta, karena itu Odo meminta nanti pesan tersebut disampaikan pada Julia dan Imania yang sekarang berada di Mansion. Alasan dilakukan shift seperti itu karena pemintaan Odo, dirinya merasa cemas dengan keamanan di Mansion karena beberapa hal.
.
.
.
.
Setelah melakukan pembicaraan dengan kedua Shieal tersebut, Odo dan Vil kembali naik ke lantai dua penginapan. Mereka tidak pergi ke kamar mereka lagi, namun menuju kamar lain di lantai tiga. Sembari berjalan Vil mengikuti dengan wajah sedikit muram, mengetahui apa yang akan Odo lakukan nantinya.
“Apa ... harus benar-benar dengan cara seperti ini, Odo?” tanya Vil.
Tidak melambatkan langkah kaki, pemuda itu menjawab ringan, “Ya, memangnya apa lagi. Aku sudah melakukannya, mana mungkin berhenti di tengah jalan.”
Sampai di depan sebuah pintu di lantai tiga penginapan, Odo mengetuk empat kali.
“Kalian sudah bangun? Burung hantu berwarna putih saat kecil, namun saat dewasa bulu mereka berubah hitam. Manusia berhati murni saat belia, akan menghitam saat dewasa.”
Dari dalam suara lirih terdengar, “Kami bukan manusia, hanya burung kecil.”
Pintu terbuka dari dalam, terlihat seorang perempuan Demi-human tipe kukang yang sedang menggendong putrinya yang tertidur lelap. Ibu dan anak itu adalah Isla Tenebris dan putrinya, Suigin. Mereka merupakan istri dan anak dari Pemimpin Kelompok Bandit, Tox Tenebris.
“A-Ada apa, Tuan?” tanya Isla gentar. Wanita rambut cokelat keemasan itu menatap dengan penuh rasa takut dan prasangka buruk.
Tersenyum ramah, pemura rambut hitam itu berkata, “Aku mau bicara, boleh masuk?”
“Si-Silakan ....”
Wanita yang biasanya selalu terlihat lemas itu terlihat gemetar. Membiarkan Odo dan Vil masuk, dengan rasa was-was dan penuh ketidaknyamanan. Vil yang terakhir masuk menutup pintu, seakan memang tidak memperbolehkan wanita itu keluar dari kamar.
Alasan istri Pemimpin Bandit itu berada pada salah satu kamar yang dipinjamkan kepada Odo, itu karena pemuda tersebut memang memintanya untuk ikut bersamanya.
Pada sehari setelah dirinya melakukan perjanjian dengan Aprilo, Odo segera mendatangi Iitla Lots di kantornya. Melakukan pembicaraan dengan orang yang bertanggung jawab mengenai Pemimpin Bandit yang ditangkap, Odo berhasil mendapat titik terang dan mengeluarkan Isla dan putrinya dari kemungkinan eksekusi.
Odo melakukan hal itu bukan karena iba atau semacamnya, hal itu dilakukannya dengan kepala dingin dan tanpa perasaan ikut campur di dalamnya. Hanya berupa keharusan dan keuntungan yang ada, dirinya membebaskan Isla dan putrinya tersebut.
Odo duduk bersebelahan dengan Isla di pinggir ranjang. Menimang putrinya, wanita itu hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Vil yang bersandar di dekat pintu menatap datar, meski paham dengan tujuan Odo namun dirinya merasa tak suka dengan cara yang ingin pemuda itu lakukan.
“Nona Isla, ini soal tawaranku kemarin .... Apa kau ingin suamimu bebas?” tanya Odo tanpa menatap wanita itu.
“Te-Tentu saja! Tuan! Apa anda bisa membebaskan suamiku ...?”
Wanita lemah itu langsung terjerat tawaran Odo dengan muda, menatap dengan wajah memelas dan benar-benar memohon. Balik menatapnya, pemuda rambut hitam itu berkata, “Tentu saja bisa. Kalau Nona Isla mau bekerja sama denganku, akan aku lakukan itu.”
“Sungguh? Terima kasi—”
“Namun,” potong Odo langsung. “Tentu saja harus ada bayaran yang setara. Nona tahu kesalahan suami Anda, bukan? Dia bandit, bahkan seorang pemimpin. Saya tahu kalau kalian keluarga, tetapi kalian sendiri sadar banyak orang yang kalian bunuh juga memiliki keluarga, bukan? Apa ... kalian benar-benar berpikir bisa bebas tanpa hukuman sama sekali?”
“I-Itu ....”
“Jadi, apa yang ingin Nona bayar padaku?”
Setelah itu, Odo menawarkan sesuatu yang terdengar sangat manis. Setiap kata yang keluar darin mulutnya bagaikan bisikan malaikat yang menuntun Isla untuk setuju. Namun pada kenyataannya, pemuda itu hanya menjerat istri pemimpin bandit itu pada sebuah perjanjian bagai kontrak dengan iblis.
Tanpa memedulikan dosa keluarga bandit, tanpa rasa iba, tanpa kepedulian, dan tanpa rasa ingin menolong. Apa yang Odo tawarkan hanya untuk kepentingannya sendiri, untuk memanfaatkan keluarga penjahat itu dengan dosa-dosa mereka sebagai penebusan.
Vil yang mendengar dan melihat Odo mengumbar kata-kata manis hanya terdiam. Menatap datar dan sama sekali tidak terkejut ataupun menjadi jijik pada pemuda itu. Ia tahu kalau memang seperti itulah orang bernama Odo Luke itu, begitu terang dan baik namun pada saat yang sama begitu kotor.