Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 58 : Aswad 5 of 15 “To Love” (Part 05)



 


 


««»»


 


 


Hujan yang turun di kota Mylta masih belum kunjung berhenti, waktu yang ada terasa begitu lambat bagi mereka yang menunggu reda. Pada lantai satu toko Ordoxi Nigrum, Fiola melihat keluar jendela dan berkata, “Lama sekali hujannya, ya? Padahal ini sudah hampir malam ....”


 


 


Di luar memang hujan masih turun, namun tidak begitu lebat seperti sebelumnya. Terlihat beberapa orang yang berjalan di luar, mereka terlihat sibuk membawa beberapa peralatan tukang untuk memperbaiki bangunan yang rusak karena terpaan angin kencang. Ada juga beberapa penjaga yang tergesa-gesa menuju ke arah gerbang, setelah beberapa menit lalu terdengar lonceng yang dibunyikan untuk peringatan air bah yang datang dari daerah perbukitan.


 


 


Berbalik ke dalam ruangan dan menatap ke arah majikannya, Huli Jing itu kembali berkata, “Tuan Odo juga tidurnya lama, ya? Padahal tadi ia bilang mau tidur satu jam, tapi malah ini sudah tiga jam lebih.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Mavis hanya melirik kecil dan tetap duduk melipat kedua kakinya di atas kursi. Sorot matanya sedikit terlihat mengantuk, sesekali hampir tertidur namun tetap memaksa untuk bangun. Melihat hal tersebut, Fiola hanya memasang ekspresi cemas dan memilih untuk kembali duduk pada meja yang sama dengan majikannya tersebut.


 


 


Orang-orang yang sebelumnya bekerja di dapur telah menyelesaikan pekerjaan mereka, menghabiskan semua bahan untuk diolah dan disimpan pada lemari pendingin. Elulu duduk bersama dengan dua perempuan Moloia pada meja yang sama dengan sedikit canggung, sedangkan keluarga Demi-human duduk bersama dan terlihat sedikit ramai karena si kecil Sittara terus mengajak kakak-kakaknya bercanda gurau. Pada meja di dekat tempat Odo tertidur, Matius duduk bersama dengan Isla yang sedang mengemban putrinya yang kembali tertidur pulas.


 


 


Dalam satu ruang tersebut, tidak ada yang naik ke lantai atas karena satu-satunya akses anak tangga harus keluar dari ruangan dan berjalan di bawah hujan. Bukan berarti mereka tak ingin kehujanan, namun alas kaki kotor setelah berjalan di atas tanah becek bisa saja mengotori lantai dua yang akan digunakan sebagai ruang arsip.


 


 


Mavis mengamati mereka dan berusaha mengingat wajah orang-orang di hadapannya. Memejamkan mata dan menghela sesaat, wanita berkulit pucat itu merasa tidak senang melihat putranya terasa lebih dekat dengan orang luar daripada para pelayan yang dirinya pilih untuk bekerja di Mansion.


 


 


Di tengah suasana yang terasa sedikit berat tersebut, Odo yang tidur di atas barisan kursi tiba-tiba bangun dan duduk dengan sorot mata lemas. Rambutnya yang sedikit kacau kembali rapi dengan sendirinya, kilatan elektrik sekilas keluar dari tubuh pemuda itu. Mengusap wajah dengan jubah yang dijadikannya selimut, pemuda itu bertanya, “Di luar hujannya awet banget, ya?”


 


 


“I-Iya,” jawab Matius dengan kaku.


 


 


Setelah melipat jubah yang dijadikan lap wajah dan meletakkannya di atas meja, Odo sekilas merasa heran melihat Matius dan Isla menatap dengan ekspresi penasaran. Pemuda rambut hitam itu sekilas menaikan alisnya dan kembali bertanya, “Ada apa—?” Kalimatnya terhenti, ia segera sadar kalau ada perubahan fisik pada wajahnya karena penglihatan yang ada terasa berbeda. Kornea mata kanan Odo berubah merah, pupil matanya menjadi terlihat seperti reptil dan terlihat lebih tajam dari biasanya.


 


 


“Odo ....” Mavis segera bangun dengan cemas, berjalan ke arah Odo dan bertanya, “Kamu tidak apa-apa, ‘kan?”


 


 


Pemuda rambut hitam itu menatap ibunya dengan tenang, lalu sembari tersenyum ringan menjawab, “Tak masalah, ini hanya transformasi kecil. Tak ada efek sampingnya, nanti juga kembali normal.”


 


 


Mavis tidak mempercayai perkataan itu mentah-mentah. Perubahan secara fisik seperti itu tidaklah biasa, terutama jika itu terjadi secara tidak sadar dan tidak bisa langsung dibatalkan. Fiola ikut bangun dari tempat duduk dan melihat mata kanan Odo, ia mendekatkan wajah dan mengamatinya dari dekat.


 


 


“Ini ... mata seekor Naga, ya? Apa Tuan ingin menguasai sihir transformasi progresif?” ucap Huli Jing itu dengan ringannya.


 


 


Dengan cepat kening Odo mengerut, menatap datar wanita rambut cokelat kehitaman tersebut dan wajahnya seakan berkata, “Lagi-lagi bicara tak perlu!” Menyadari hal tersebut, Fiola tersentak dan segera menjauh.


 


 


“Sihir transformasi? Naga?” tanya Mavis penasaran. Ia menatap lurus mata Huli Jing tersebut, memaksanya untuk menjelaskan lebih lanjut.


 


 


“I-Itu, loh ....” Fiola melangkah sedikit menjauh, memalingkan pandangannya dan berkata, “Nyonya tahu sihir transformasi yang saya gunakan untuk menyembunyikan ekor-ekor saya seperti sekarang, ‘kan?”


 


 


“Hmm, terus? Apa hubungannya dengan kondisi Odo saat ini?” tanya Mavis serius.


 


 


Fiola mengangkat jari telunjuknya ke depan, lalu kembali menjelaskan, “Itu ada jenis dan tingkatnya. Yang sekarang membuat wujud Tuan Odo terlihat seperti remaja hanyalah transformasi wujud manusia ke manusia, hanya berubah secara fisik dan kekuatannya sama sekali tidak berubah. Sedangkan transformasi yang saya gunakan adalah versi Regresif, itu juga bisa berguna untuk menekan kekuatan dan perubahan saya dari wujud Huli Jing ke seperti manusia.”


 


 


Mavis kembali melihat ke arah Odo, mengangguk paham dan berkata, “Berarti yang kamu maksud sihir transformasi sekarang adalah versi progresif, bukan? Dari wujud manusia ke Naga ....”


 


 


Mendengar Fiola dan Mavis melanjutkan pembicaraan yang seakan mengambil kesimpulan sepihak, Odo hanya memasang ekspresi datar. Ia menghela napas, bangun dari tempat duduk dan berkata, “Ini bukan transformasi seperti itu, loh.”


 


 


““Eh?””


 


 


Mavis dan Fiola terkejut dengan kompak. Memalingkan pandangan dari mereka dan berjalan ke arah pintu keluar, pemuda itu kembali berkata, “Tanpa transformasi aku juga sudah bisa menggunakan kekuatan Naga Hitam. Lagi pula, ogah amat menyelimuti tubuhku dengan cangkang-cangkang keras dan mengorbankan kecepatan.”


 


 


Memegang gagang pintu utama, pemuda rambut hitam itu sesaat terhenti. Mata kirinya yang masih biru sekilas berubah menghijau, menganalisa beberapa hal dan persepsinya seketika diperluas sampai beberapa kilometer. Merasakan ada sesuatu yang aneh di langit kota Mylta, Odo menarik napasnya dalam-dalam dan mengurungkan niat untuk membuka pintu.


 


 


Ia berbalik ke arah orang-orang yang ada di dalam, lalu dengan suara sedikit serak berkata, “Mereka datang .... Di’in, Ra’an, ambil senjata kalian di atas! Matius, siapkan kekuatanmu supaya bisa langsung membawa Arca ke sini, kirim Puddle Hole di depan pintu masuk Penginapan Porzan! Saat sampai di sini, beritahu dia untuk mengaktifkan The Ritman Library supaya aku juga bisa mengaksesnya. Untuk Elulu dan yang lainnya, kalian di sini saja. Jangan keluar, atau membuka pintu dan jendela.”


 


 


Tanpa mempertanyakan perintah Odo, Di’in dan Ra’an segera bangun dari tempat duduk dan berlari ke arah pintu. Mereka melewati pemuda itu, membuka pintu dan langsung bergegas ke arah tangga di bagian samping bangunan untuk mengambil senjata mereka di lantai atas.


 


 


Matius terlihat bingung dan tak mengerti kenapa wajah kedua perempuan Moloia itu terlihat pucat saat pergi. Namun tanpa mempertanyakan perintah Odo, ia segera mengaktifkan kekuatannya. Membuka telapak kedua telapak tangan, cairan biru terang mengalir keluar dari pori-porinya dan menetes ke lantai. Membuat genangan pada tempatnya berpijak, cairan tersebut dengan cepat menghilang dan pergi ke tempat yang telah ditetapkan disebutkan Odo.


 


 


“Pu-Putraku? Memangnya ada apa? Siapa yang datang?” tanya Mavis dengan cemas.


 


 


Ia segera berjalan ke arah Odo, ingin memastikan kenapa raut wajah putranya tersebut tiba-tiba terlihat begitu kesal. Namun sebelum sampai, sebuah aura mengerikan dari arah luar membuat langkahnya terhenti. Itu terasa begitu kuat dan mengerikan, sebuah tekanan sihir yang terasa sangat asing bagi Mavis.


 


 


Fiola yang juga merasakan tekanan itu langsung merinding, ia melepas transformasinya dan kembali ke bentuk Huli Jing. Kesembilan ekor wanita rambut cokelat kehitaman itu keluar dari bawah gaun, telinganya rubahnya muncul dengan cepat dan ia mulai menggeram dengan sepasang taring tajam yang sedikit terlihat pada mulutnya.


 


 


“Mbak Fiola dan Bunda di sini saja, ini tidak akan lama ....”


 


 


Pemuda itu berbalik dan melangkah keluar, tanpa memedulikan hujan atau sekelilingnya. Ia tidak menggunakan dinding tak kasatmata untuk menghalau hujan, membiarkan tubuh diterpa hujan angin dan mendongak ke atas dengan tatapan datar. Sekilas mengamati sekeliling, pemuda melihat masih ada beberapa orang yang sedang memperbaiki genteng yang rusak di beberapa bangunan.


 


 


“Kurasa jaraknya aman,” gumamnya seraya berhenti di tengah jalan. Ia sekilas menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengaktifkan inti sihirnya. Pancaran aura tipis menyelimuti dirinya, membuat tekanan angin yang membelokkan air hujan yang turun ke arahnya.


 


 


Mavis dan Fiola segera berlari keluar mengejar Odo. Namun saat melihat apa yang ada di langit kota, kedua perempuan itu seketika terbelalak. Ratusan meter di langit pusat kota Mylta, terlihat empat High Elf yang terbang dengan sayap tubuh warna mereka. Aura yang terpancar dari arah para Prajurit Peri itu begitu kuat, terasa mengerikan dan membuat bulu kuduk Mavis berdiri.


 


 


Di mata Fiola, dengan jelas energi dalam jumlah tidak masuk akal terkumpul cepat ke arah para Prajurit Peri dan tentu saja itu bersifat destruktif. Secara insting dirinya langsung paham kalau mereka musuh yang harus segera dihentikan. Huli Jing itu segera melepas limit-nya, masuk ke dalam Mode Ilahi dan seketika seluruh rambutnya memutih. Pola garis merah muncul pada wajah, lalu lingkaran sihir dengan simbol Rune kuno mulai terbentuk di belakang punggungnya.


 


 


 


 


Odo menutup telapak tangan kanannya yang terulur lurus ke atas, seakan sedang menggenggam sesuatu yang tidak terlihat. Dengan suara pelan ia berkata, “Susunan awal diaktifkan ....”


 


 


Seketika tiga Teblet Talisman Perak yang Odo sebar aktif, masing-masing tablet tersebut menjadi katalis pada titik-titik Nadi Sihir di sekitar kota Mylta aktif dan membuat reaksi berantai. Itu dengan cepat membuat garis  tak terlihat yang menghubungkan ketiga titik terpisah, membentuk sebuah segi tiga sempurna yang memicu susunan-susunan struktur tata letak kota menjadi sebuah susunan sihir dalam sekala besar. Setiap titik Nadi Sihir terhubung, dengan rapi alirannya dengan cepat menyebar ke beberapa jalan di kota.


 


 


Susunan struktur itu memanfaatkan konsep feng shui, menggunakan topografi bangunan-bangunan yang ada sebagai simbol untuk menjalankan sebuah ritual dengan Odo sendiri sebagai pusatnya. Aktifnya susunan tersebut membuat keberadaan Fiola yang masuk ke Ranah Ilahi langsung dilengserkan, kekuatan sucinya seketika terpencar ke udara dan diserap oleh salah satu aliran sihir yang melintasi jalan tempatnya berdiri.


 


 


Fiola kembali ke wujud normalnya, langsung berlutut lemas di atas tanah becek karena kekuatannya habis diambil oleh aliran sihir yang ada.


 


 


“Akh .... Sebuah Pemencaran?”


 


 


“Fiola? Ada apa?! Kau kenapa?” ucap Mavis panik.


 


 


“Tuan Odo, jangan bilang susunan sihir ini ....”


 


 


Odo menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Seketika susunan tersebut dengan cepat menjadikannya pusat, memberinya kontrol atas semua energi yang bersirkulasi di dalam kota Mylta. Saat pemuda itu bertepuk tangan sekali, seketika hujan yang turun berhenti dan hanya menyisakan hembusan angin beserta awan mendung di langit.


 


 


“Surga dalam telapak tangan ini, dunia berada di tempatku berpijak .... Surya diselimuti kegelapan, aliran air datang dari tempat yang tinggi dan membawa segalanya dari atas. Hutan tempat kehidupan merupakan gambaran kegelapan, kota menjadi cahaya terang penuh keganjilan. Keseimbangan dan keadilan, buana raya para brahmana.”


 


 


Pemuda itu melangkahkan kakinya, hawa keberadaannya dengan cepat berubah dan unsur manusia seketika menghilang darinya. Kembali bertepuk tangan, satu, dua, tiga, empat, lima dan enam, lalu terakhir ia menyatukan kedua telapak tangan seperti sedang berdoa. Tujuh tepukan melambangkan tujuh cincin kehidupan, menjadi salah satu simbol dari ritualnya.


 


 


Sebuah jubah dari kumpulan energi padat tercipta, menyelimuti tubuh pemuda itu dan mengangkat menjadi salah satu pertanda kastanya telah naik ke ranah ilahi. Itu berwarna putih murni, berkobar seperti api dan terlihat oleh semuanya meski orang biasa sekalipun. Lumpur yang menempel pada kaki tanpa alasnya mulai tersingkir, kotoran menjauh dari pemuda itu dan distorsi mulai membuat keberadaannya menjadi samar-samar secara visual.


 


 


Saat ia bertepuk untuk sekian kalinya, tubuh pemuda itu mulai melayang ke udara dan keberadaannya seketika berubah. Itu bukanlah sihir Gott fällt yang membuat penggunanya menjadi Dewa dengan meminjam kekuatan. Struktur yang pemuda itu gunakan lebih secara langsung menciptakan singgasana ilahi dan wilayah teritorial sucinya menggunakan kota Mylta sebagai wadah, lalu mencapai Ranah Dewa dengan kekuatan yang dikumpulkannya sendiri.


 


 


“Wujud seorang Askara tercipta di sini! Buana, samudra, telaga, menjadi saksi! Anala membara! Di ujung Nirwana, panji baru dunia terlahir pada waktu ini! Sambutlah! Pujalah dan rayakanlah! Oh, wahai kalian ada yang di langit! Ulurkan tangan dan bawalah diriku! Oh, wahai kalian yang ada di buana ini! Rayakanlah kelahiran baru dari salah satu anggota langit!”


 


 


Berhenti melayang di ketinggian sepuluh meter dari permukaan, dua pasang tangan mulai muncul dari jubah pemuda itu. Keempat tangan tersebut tercipta dari pemadatan energi berwarna putih gading, mulai membuat Mudra’s (Segel Tangan) dengan bentuk Mutlak dan Dimensi.


 


 


“Odo—!!”


 


 


Sebelum Mavis selesai memanggil, tiba-tiba sebuah distorsi ruang terjadi dalam sekala sempit dan sosok pemuda itu menghilang dari tempatnya. Benar-benar lenyap sampai keberadaannya sama sekali tidak terasa. Namun selang beberapa detik, awan mendung di langit mulai bergemuruh dan seketika membentuk pusaran pada satu titik di bawah para Prajurit Peri yang terbang di udara.


 


 


Pusaran awan tersebut mengingatkan Mavis dengan pertanda buruk, sebuah kenangan pada medan perang dimana Raja Iblis Kuno dipanggil ke dunia oleh Aliran Sesat. Para prajurit peri yang sedang menyiapkan sihir mereka seketika kebingungan karena perubahan cuaca dan gumpalan awan di langit tersebut, merasakan hawa keberadaan mengerikan yang membuat mereka terdiam.


 


 


Dari dalam pusaran awan, sepasang mata merah raksasa mulai terlihat dan awan yang ada mulai membentuk wajah dengan seringai mengerikan di dalam sana.


 


 


\====================================================


Catatan tambahan :


 


 


Mudra’s / Mudra/ Segel Tangan : Mudrā adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalam Hinduisme dan Buddhisme. Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari.


 


 


(Bagi yang nonton Naruto pasti tahu gambarannya :v)


 


 


Secara dasar Mudra ada 12, digambarkan oleh 12 Shio (Zodiak China). Namun, dalam beberapa versi dari meditasi ada sekitar 6 tambahan, yang antara lain :


- Kekuatan


- Tenaga


- Harmoni


- Penyembuhan


- Intuisi


- Kesadaran atau pemahaman


- Dimensi


- Penciptaan


- Kemutlakan


 


 


Dalam seri ini sendiri Mudra bisa digunakan untuk simbol dalam sebuah ritual, menutup dan membuka aliran sihir dan bisa juga digunakan untuk memperkuat fisik dengan manipulasi keduanya.


 


 


Pada ritual, seperti yang dilakukan Odo. Menggambarkan Mutlak dan Dimensi untuk menciptakan distorsi dalam tingkat rendah.


 


 


Kalau penggunaan sihir, itu menutup bisa membuka dan menutup aliran Mana pada sirkulasi sirkuit sihir. Kalau diumpamakan, aliran Mana pada sirkuit sihir itu seperti ratusan sampai ribuan cabang sungai, dari hulu utama yang bernama Inti Sihir. Layaknya sifat air, jika sebuah aliran tertutup, maka air akan mencari aliran lain dan aliran lain tersebut akan semakin kuat.


 


 


Saat menggunakan Mudra, beberapa aliran Mana pada sirkuit akan tertutup dan membuat aliran lain menjadi kuat. Konsepnya seperti selang air kalau ditutup sedikit ujung selangnya, maka air akan semakin kencang. Tiap Mudra memiliki efek masing-masing, itu akan dijelaskan di lain waktu.


 


 


Kalau saya ingat:D


 


 


Btw, kalau ingin gambar silakan cari di google. Ketik saja Mudra, bila perlu ditambahi keyword naruto. Kalau enggak, bisa-bisa kalian bakal ketemunya gambar-gambar pose meditasi.


 


 


See You Next Time!


 


 


Jalan pelit komentar dan vote, ya! :D


Gratis, kok! Jangan Cuma lihat dan menikmati doang, dukung penulisnya!


Yah, memang nama penaku Kenikmatan, sih.


Tapi bukan berarti bisa menikmati seenaknya, ya:v


Only Joke ....