Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 28: Memikirkan, hasil pemikiran dan pikiran (Part 01)



 


 


Catatan: Cerita ini tidak cocok untuk anak di bawah 18 tahun. Cerita ini tidak bermaksud menggunjing atau merendahkan kelompok, ras, agama, atau pihak manapun. Penulis tidak memiliki maksud buruk dalam pembuatannya.


 


 


 


 


Sudah setengah bulan sejak insiden yang terjadi di daerah pelabuhan Kota Pesisir. Salju masih turun meski tidak lagi lebat seperti beberapa hari belakangan. Di kamar pribadinya, Odo terlihat sibuk mengurus beberapa dokumen yang diperlukannya untuk membangun sebuah kantor perusahaan dan surat izinnya.


 


 


Karena pantangan dari Mavis untuk tidak pergi dulu ke Kota Pesisir setelah apa yang terjadi sebelumnya, anak berambut hitam itu hanya bisa mengandalkan para Shieal untuk mengurus surat-surat izinnya dengan Kantor Pusat Pemerintahan di Kota Pesisir. Sedangkan dirinya sendiri hanya duduk di kamar, mengurus surat-surat yang dibawa para pelayannya itu setelah pengurusan syarat-syarat selesai.


 


 


Mavis sendiri sudah mengetahui rencana seperti apa yang ingin dilakukan anak itu di Kota Pesisir dari Fiola dan Julia. Setelah apa yang terjadi di daerah pelabuhan memang akan sangat wajar untuk melarang anaknya sendiri datang ke tempat yang belum lama lalu hampir saja membunuhnya. Tetapi anehnya Odo masih tetap diperbolehkan untuk membuat perusahaan di tempat tersebut, meski dirinya tidak diperbolehkan untuk datang langsung ke tempat.


 


 


Duduk di depan meja, Odo memeriksa kembali apa saja kebutuhan yang diperlukan. Beberapa tabel dalam kertas perkamen ia centang sebagai tanda terpenuhinya barang-barang yang dibutuhkan. Dalam beberapa hal yang tercatat dalam kertas tersebut, tabel khusus untuk material bangunan sama sekali belum ada yang dicentang.


 


 


“Karena masih musim dingin, bahan bangunan seperti kayu, batu bata, atau kapur semen stoknya di kota benar-benar sangat terbatas. Apa memang harus menunggu sampai musim semi, ya. Kalau musim semi baru mencari material, pasti pembangunannya telat ....”


 


 


Meletakkan perkamen ke atas meja, Odo kembali menghela napas. Ia mengambil kertas lain, lalu memeriksanya dan menemukan hal yang membuat hatinya bertambah muram. Kertas kali ini berisi laporan dari Gariadin dan Imania yang dalam seminggu terakhir memeriksa kondisi kota setelah insiden.


 


 


Dalam laporan tersebut, tercatat kerugian dari rusaknya gudang penyimpanan yang ternyata berisi persediaan makanan untuk menghadapi musim dingin yang masih akan berlangsung sekitar dua bulan lagi. Bukan hanya itu saja yang membuat Odo menghela napas, sesuatu seperti laporan tentang menguatnya potensi penyebaran paham yang disebarkan orang-orang Moloia juga menjadi ancaman kuat yang dapat mengganggu rencananya.


 


 


“Hmm, rasanya menyusahkan sekali .... Kenapa juga ada yang seperti ini? Apa mereka belum mengerti? Padahal sudah ada insiden seperti itu—Tunggu, apa karena insiden itu gerakan seperti ini semakin kuat? Haaah ..., kalau tahu seperti ini, lebih baik aku menahan diri dan menangkap salah satu orang Moloia untuk dijadikan contoh.”


 


 


Odo meletakkan kertas perkamen ke atas meja, lalu menumpuk semua kertas yang ada dan mengikatnya dengan tali serat. Sedikit memasang wajah malas, dirinya merasa seperti terkekang karena larangan ibunya sendiri untuk pergi ke kota dimana Baron Mylta itu berkuasa. Larangan semacam itu memang wajar keluar dari seorang ibu yang cemas pada anaknya, tetapi bagi Odo itu sama saja seperti memasang rantai pada leher dan membuatnya sesak.


 


 


“Ah, bosan. Semua rencana kalau tidak dilaksanakan itu hanya jadi agenda .... Memang sangat melegakan Bunda tidak melarang atau mempermasalahkan bagaimana caranya aku mendapat koneksi dan dana untuk membangun usaha seperti itu, tapi ....”


 


 


Anak itu bangun dari tempat duduk, lalu berjalan ke depan pintu dan hendak keluar. Saat membuka pintu kamar, yang pertama kali dirinya lihat adalah Fiola yang berdiri dengan patuh menjaga Odo untuk tidak sembarang pergi dari Mansion. Dirinya sudah dijaga seperti itu selama satu minggu terakhir, lebih tepatnya setelah Mavis melihat kotak hitam yang dibawa oleh Odo.


 


 


“Mbak Fiola ..., mau sampai kapan berdiri seperti itu? Apa Mbak Fiola tidak capek di sini seharian? Ini ... sudah siang, loh.” Odo menatap kesal, ia merasa seperti dikurung karena keberadaan Fiola. Sebenarnya ia sempat beberapa kali mencoba untuk menyelinap keluar, tetapi itu percuma karena pengawasan Huli Jing tersebut lebih ketat daripada Julia.


 


 


Perlahan membuka matanya dengan anggun, gadis rubah berpakaian kimono itu berkata, “Tenang saja, saya sudah biasa berdiri berjam-jam. Anda tidak perlu cemas ....”


 


 


“Bukan itu maksudku! Kenapa juga aku harus dijaga seperti ini? Apa secemas itu Bunda soal senjata api? Padahal waktu aku lawan monster tidak terlalu masalah, tapi kenapa seka—”


 


 


“Nyonya Mavis tidak mempermasalahkan itu,” potong Fiola tegas.


 


 


“Terus apa?”


 


 


“Setelah Anda memperlihatkan kotak itu, surat dari Ibukota datang,” ucap Fiola seraya berjalan mendekati jendela dan bersandar ringan dengan memasang wajah sedikit muram.


 


 


“Surat? Bukannya Kak Linkaron dan Mbak Xua Lin katanya sedikit telat sampai di Ibukota karena kondisi Drake, kenapa surat dari ibukota datan—”


 


 


Perkataannya terhenti, Odo sadar kalau surat itu tidak ada sangkut pautnya tentang masalah insiden di pelabuhan atau soal penyerangan Kerajaan Moloia. Sedikit menyipitkan mata dan menatap dengan tajam, ia bertanya, “Surat itu ... isinya apa, Mbak Fiola?”


 


 


“Haaah,  sebenarnya saya diperintahkan Nyonya untuk tidak memberitahukan ini pada Anda, tetapi kalau seperti ini terus Tuan Muda pasti akan kabur, ‘kan? Surat rahasia itu ditulis oleh Tuan Dart sendiri sebelum Linkaron dan Xua Lin sampai ..., isinya ... tentang pemberitahuan kandidat calon raja Kerajaan Felixia.”


 


 


“Hmm, jadi sudah ditentukan tunangan si Tuan Putri kerajaan kita, ya. Untunglah, jadi perselisihan bangsawan mungkin bisa dihindari. Yah, di kerajaan ini sistemnya Matrilineal sih, jadi agak runyam saat posisi Ratu kosong dan kandidat belum memiliki calon pasangan sebelum menduduki singgasana.”


 


 


Odo sedikit tersenyum lega karena salah satu potensi hambatan dari rencananya hilang dengan adanya pemberitahuan hal tersebut. Tetapi saat melihat ekspresi Fiola, rasa lega itu mulai terusik dan rasa tidak enak menyerang benaknya.


 


 


“A ..., kenapa murung seperti itu? Apa Mbak tidak senang? Perselisihan bangsawan bisa ditekan, loh. Bunda juga pasti senang dengan itu ....”


 


 


Fiola memalingkan pandangan mendengar perkataan Odo tersebut. Sedikit melirik tajam, perempuan rubah berekor sembilan itu berkata, “Calonnya adalah Anda ....”


 


 


“A ....!!” Mulut Odo terbuka lebar saat mendengar itu, dirinya benar-benar tidak memperkirakan hal tersebut. Semua susunan rencana yang telah dibuatnya seakan hancur bagaikan istana pasir yang diterjang ombak.


 


 


Menutup wajah dengan kedua tangan, anak berambut hitam itu berjongkok dengan wajahnya yang mulai memucat. Ia benar-benar terguncang dengan hal tersebut, tanpa disadari masa depannya telah diputuskan tanpa persetujuannya.


 


 


Membuka wajah dan menatap Fiola dengan tatapan malas, ia bertanya, “Tunggu? Kenapa aku? Bukannya banyak calon lainnya? Contohnya anak-anak dari Keluarga Rein, bukannya di sana hebat-hebat semua? Kalau ingin mencari calon Raja, bukannya di sana lebih pantas? Mereka terkenal pandai-pandai, loh! Serius? Ini bukan candaannya Mbak Fiola?”


 


 


Fiola tersenyum kecil melihat wajah kesusahan Odo. Merapikan kimononya dan berjongkok di hadapan anak itu, ia berkata, “Tuan Muda, apa Anda lupa apa saja yang telah Anda lakukan belakangan ini?”


 


 


“Hmm, melawan Naga Hitam dan ekspedisi?”


 


 


“Terus ....?”


 


 


“Terus apa?”


 


 


“Saat Tuan Rein dan para pejabat pernah datang ke Mansion, apa yang Anda katakan pada mereka?”


 


 


“A ....”


 


 


Odo baru sadar kalau dirinya terlalu banyak berbicara hal yang tidak perlu saat itu. Memang dari apa yang dikatakan oleh anak yang bahkan belum genap berumur sepuluh tahun, itu memang terlalu berlebihan dan tidak normal untuk mengatakan tentang sistem pemerintahan otonomi daerah yang digunakan sementara untuk mengatasi krisis.


 


 


“Dalam surat yang ditulis Tuan Dart, katanya sih memang awalnya mereka ingin menjadikan salah satu anak dari Keluarga Rein sebagai pasangan Putri Arteria. Tetapi karena saran dari beberapa pejabat penting, mereka memutuskan untuk memilih Anda. Kata mereka lebih baik memilih Raja yang memiliki Otak sekaligus Kekuatan.”


 


 


Odo benar-benar menyesal saat mendengar penjelasan itu. Ia membaringkan tubuhnya di lantai dan meringkuk seperti bola, benar-benar frustrasi sampai menitikan air mata. Sebenarnya ia tidak terlalu mempermasalahkan soal pertunangan karena dirinya sendiri sadar lahir di keluarga bangsawan harus siap soal perjodohan, tetapi yang membuatnya frustrasi adalah dengan keputusan tersebut dapat dipastikan hampir sebagian rencananya gagal.


 


 


“Selamat, Tuan Odo .... Dengan ini Anda masuk dalam perselisihan para bangsawan di usia dini. Jadi jangan melakukan hal bodoh dan membahayakan nyawa Anda, ya. Kalau terjadi sesuatu, Kerajaan ini bisa saja bergerak,” ucap Fiola seraya tersenyum lebar.


 


 


“Menyidir?” tanya Odo kesal.


 


 


Fiola hanya tersenyum, lalu berdiri dan mulai membusungkan dadanya yang subur dengan bangga. “Ayo, bangun. Calon Raja tidak boleh tiduran di lantai! Ah! Cepat bangun, Tuan Odo!” ucapnya seraya berusaha mengangkat tubuh Odo dan membuatnya berdiri. Anak itu malah melemaskan tubuhnya dan sama sekali tidak niat berdiri dengan kakinya.


 


 


Plak!! Bokong Odo dipukul Fiola dengan keras sampai membuat anak itu tersentak. Odo langsung berdiri dengan gemetar. Melangkah menjauh sambil memegang bokong dengan kesakitan, mata anak berambut hitam yang selalu terlihat kalem itu tambah berkaca-kaca.


 


 


“.... Maaf, Tuan Odo. Saya kelepasan ....”


 


 


Menatap gelap Fiola seakan gadis rubah itu hama, Odo segera melangkah ke belakang sampai punggungnya menyentuh kusen pintu. Tanpa berkata apa-apa, ia segera masuk ke kamar dan membanting pintu. Suara kunci diputar terdengar dan itu benar-benar membuat jarak antara mereka berdua semakin jauh.


 


 


“Ah ..., diriku memang tidak cocok dengan anak-anak.”


 


 


««»»


 


 


Di ruang kerja milik Dart yang sekarang digunakan Mavis, wanita itu duduk di depan meja berisi dokumen-dokumen perhitungan hasil ekspedisi dan arah alokasi untuk membayar hutang kepada tiap wilayah. Semua perhitungan dan urusannya telah selesai, tetapi surat di mejanya membuat wanita berambut pirang itu merasa gelisah.


 


 


Atas apa yang disampaikan suaminya dalam surat tersebut, dengan sangat pasti kalau anak mereka akan masuk dalam perselisihan para bangsawan karena menjadi kandidat terkuat calon tunangan untuk sang Tuan Putri. Kebanyakan keluarga bangsawan pasti akan merasa sangat bersyukur kalau anak mereka bisa menjadi seorang Raja kelak nanti dengan itu, tetapi Mavis sama sekali tidak mengharapkan hal tersebut.


 


 


Sebagai seorang ibu, dirinya ingin memberikan kebebasan bagi Odo untuk memilih masa depannya. Memang dirinya sering membatasi anaknya sendiri dan melarangnya dalam beberapa hal, tetapi Mavis tidak pernah menentukan masa depan anaknya sendiri atau memaksanya dalam mengambil jalan hidup.


 


 


Pengungkapan nyata dari itu adalah keputusan Mavis untuk tidak melarang lagi Odo saat anak itu akan melakukan sesuatu, selama itu tidak membahayakannya dan masih dalam pengawasan. Entah itu Odo ingin menjadi pengusaha atau pedagang sebelum mewarisi wilayah Luke, Mavis tidak akan memaksanya untuk menjadi sesuatu di luar kehendaknya.


 


 


Mavis sadar dan mengerti betapa sakitnya sebuah kehidupan yang ditentukan oleh orang lain, itu mengingatkannya pada alasan awal dirinya yang diciptakan di dunia hanya untuk kepentingan tertentu saja. Wanita itu mengambil sepucuk surat di atas meja dan langsung meremasnya, lalu memasukkannya ke dalam laci.


 


 


Suara pintu diketuk terdengar, mengisi ruangan yang terasa sunyi tersebut dengan sedikit kasar. Mavis mengangkat wajahnya dan berkata, “Masuklah ....”


 


 


Julia membuka pintu dan masuk seraya membawa nampan dengan secangkir teh herbal dan poci keramik di atasnya. Gadis kucing berseragam pelayan itu berjalan ke arah Mavis, lalu menyajikan cangkir berisi teh herbal ke atas meja.


 


 


“Terima kasih ....” Mavis segera meminum teh tersebut meski masih sedikit panas. Itu terasa aneh bagi Julia karena biasanya majikannya itu cenderung menunggu tehnya sedikit dingin sebelum diminum.


 


 


“Ada apa, Nyonya? Kenapa Anda terlihat murung? Apa karena surat yang datang waktu itu?”


 


 


Mavis menghabiskan tehnya, lalu meletakkan cangkir ke atas meja. Menatap salah satu pelayan kepercayaan di kediaman Luke tersebut, ia berkata, “Ya ..., kurang lebih. Kamu jangan bilang-bilang sama Odo soal ini, ya. Kalau dia tahu, aku sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti.”


 


 


“Ah ....” Mulut Julia sedikit terbuka, memalingkan pandangan dengan ragu.


 


 


“Ada apa?”


 


 


“Sepertinya ... Fiola sudah memberitahukannya .... Tadi ... dia cerita begitu sebelum saya ke sini.”


 


 


“Eh?! Padahal sengaja diganti sementara supaya Odo tidak sadar, tapi kok malah .... Terus reaksi Odo?”


 


 


“Kata Fiola ..., dia ngambek.”


 


 


“Hah? Ngambek? Anak itu?”


 


 


“Ya, wajahnya berkaca-kaca dan menatap seakan-akan Fiola hama, lalu masuk ke dalam kamar. Saya tidak tahu selebihnya ....”


 


 


Mavis sebagai seorang ibu tidak bisa memahami sikap anaknya tersebut, ia hanya bisa menghela napas dan memegang kening dengan bingung. Mempertimbangkan sikap Odo yang belakangan sering memaksa saat ingin melakukan sesuatu, Mavis kira anaknya itu pasti akan melakukan dan meminta sesuatu dengan cara serupa padanya saat kabar putusan pertunangan itu sampai di telinganya.


 


 


“Kenapa juga dia ngambek ...? Membingungkan ....”


.


.


.


.


 


 


Sebelum hari berganti dan malam telah tiba, Odo tidak kunjung keluar dari kamarnya dan tetap mengurung diri. Fiola hanya berdiri di depan kamar selama setengah hari tanpa berani memanggil Tuan Mudanya tersebut, penuh rasa gelisah dan bingung harus melakukan apa.


 


 


Odo sendiri di dalam kamar hanya membaringkan diri di atas tempat tidur dan kembali menyusun rencana dalam kelapanya. Ia memperkirakan apa saja yang bisa terjadi nanti saat dirinya menjadi tunangan Tuan Putri dan terlibat dengan perselisihan para bangsawan. Dari pemikiran yang dilakukannya, bisa dipastikan Odo sudah menyerah dan pasrah pada persoalan tentang dirinya yang menjadi kandidat terkuat dari calon pendamping Putri Arteria.


 


 


“Hmm, kalau dipikir-pikir jadi tunangan Tuan Putri ternyata gak terlalu buruk juga. Aku bisa menggunakan wewenang yang bisa kudapat nanti, dengan itu .... Tunggu, kalau begitu pergerakkan nanti terbatasi. Buktinya aku juga dilarang keluar untuk sementara seperti ini ....”


 


 


Duduk di atas ranjang, anak itu kembali memikirkan hal lain dan mencari terobosan atas situasi yang ada. Berpikir, mencerna informasi, dan berspekulasi, ia memikirkan berbagai macam hal untuk mencari jalur tengah atas situasi yang ada.


 


 


“Apa memang harus pakai cara itu, ya .... Tapi ... jujur aku tidak tahu kepribadian si Tuan Putri, kalau dia orangnya angkuh bisa gawat. Lagi pula, aku juga tidak tahu apa-apa soal Putri Arteria selain kabar kalau dia membuat telah membuat kontrak dengan Roh Pedang Agung ....”


 


 


Tiba-tiba pintu diketuk saat dirinya sibuk berpikir. Sesaat Odo mengira kalau itu ulah Fiola, tetapi saat mendengar ibunya memanggil, “Putraku ...! Bisa kamu keluar sebentar? Bunda ingin bicara,” Odo segera turun dari atas ranjang dan berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.


 


 


“Ya ..., ada apa?” ucapnya seraya membuka pintu. Melihat ada juga Julia, Gariadin dan Imania, sekilas alis Odo terangkat. “Ada apa, Bunda? Kenapa semuanya ....”


 


 


“Bunda ingin bicara sebentar ..., ini pembicaraan serius ... tentang putusan yang dibuat oleh para pejabat penting Kerajaan.”


 


 


Odo segera paham apa yang hendak dibicarakan ibunya itu. Memasang wajah kalem, anak itu tersenyum seraya menjawab, “Iya! Tentu saja, aku juga ingin membicarakan itu dengan Bunda.”


 


 


Mereka semua pun pindah ke ruang kerja milik Dart. Tepat di dalam ruangan tersebut, Mavis dan Odo duduk berhadapan di atas sofa, sedangkan para Shieal berdiri di belakang Mavis untuk mendengarkan pembicaraan. Suasana sesaat terasa sedikit senyap, lampu kristal yang ada di ruangan tersebut seakan menambah suasana hening dengan suara desir berfrekuensi sangat rendah yang sampai terdengar sebab saking sunyinya ruangan.


 


 


Memulai pembicaraan, Odo dengan terang bertanya, “Bunda ..., apa itu benar soal aku yang katanya menjadi calon pasangan Putri Arteria?”


 


 


“Iya ..., itu benar anakku,” jawabnya dengan sedikit ragu. “Dari surat yang disampaikan Ayahmu dari Ibukota, hasil rapat para tetua dan pejabat di sana memutuskan engkau menjadi kandidat utama tunangan Putri Arteria. Meski itu terdengar buru-buru mengingat belum lama sang Ratu baru saja berpulang, tetapi memang benar itulah hasil keputusan yang ada.”


 


 


Mavis meletakkan amplop dengan segel lilin yang sudah terbuka ke atas meja. Kembali menatap ke arah Odo, ia berkata, “Surat itu dibawa oleh salah satu ksatria yang ditugaskan oleh Ayahmu.”


 


 


Sedikit memasang wajah kurang puas, sejenak Odo menyipitkan dan menunjukkan gelagat enggan untuk menyentuh surat kusut tersebut. Tetapi setelah menghela napas ringan, ia mengambil surat dalam amplop tersebut dan mulai membacanya. Di dalamnya dengan jelas terdapat pernyataan kalau nama Odo Luke tertera sebagai kandidat utama calon tunggangan dari Putri Arteria.


 


 


Kembali meletakkan surat itu ke atas meja, anak berambut hitam itu menundukkan kepala dengan sedikit rasa lega terlihat dari raut wajahnya. “Dengan ini masalah perselisihan para bangsawan pasti akan selesai, ya. Bunda ..., ini kabar bagus,” ucap Odo dengan senyuman lebar.


 


 


Melihat itu Mavis dan para Shieal di belakangnya terlihat kebingungan. Mereka tidak paham dengan pemikiran Odo, tidak bisa mengerti mengapa anak itu bisa tersenyum seperti itu mengingat sifatnya yang sangat tidak suka dikekang.


 


 


 


 


Sedikit menegakkan posisi duduk, Odo memasang wajah tanpa beban. Ia tersenyum kecil dan berkata, “Tentu saja tidak, untuk apa aku marah, Bunda? Bunda telah memberitahukan ini padaku, tidak sembunyi-sembunyi dan mengatakannya langsung seperti ini. Tidak ada alasan untukku marah. Aku lahir di keluarga bangsawan ternama, hal seperti pertunangan sudah siap aku hadapi. Yah, meski sedikit rasa sesal ada juga karena tidak bisa memilih pasangan hidup nanti saat sudah besar, sih.”


 


 


Rasa bangga melihat sifat dewasa anaknya membuat Mavis merasa senang, tetapi dalam benak dirinya juga merasa seperti orang tua yang buruk karena membatasi kebebasan masa depan anaknya sendiri. Ia merasa seperti melakukan hal yang paling tidak disukainya pada anaknya sendiri.


 


 


“Apa kamu sungguh tidak masalah soal ini, Putraku? Apa engkau tidak terbebani?”


 


 


“Bunda ..., tentu saja aku terbebani. Tetapi ... kalau hal ini dibatalkan bisa-bisa terjadi perselisihan seperti saat sebelum pelantikan Ratu dan Raja sebelumnya, bukan? Lagi pula, ini kesempatan emas untuk memperbaiki reputasi Keluarga Luke yang selama satu dekade ini memburuk.”


 


 


“Tapi ....” Mavis bangun dari tempat duduk dan memukulkan kedua telapak tangannya ke atas meja, seakan dirinya sendiri tidak setuju dengan pemikiran tersebut.


 


 


“Apa bunda menentang hal ini?” tanya Odo.


 


 


“Kalau engkau tidak mempermasalahkannya, Bunda juga keberatan. Tetapi kalau kamu menjadi tunangan Tuan Putri itu dan pada akhirnya menikah dengannya, itu juga berarti kamu akan menjadi Raja di Kerajaan Felixia ini .... Jalan seorang raja tidaklah mulus, penuh duri dan menyakitkan ....”


 


 


Odo tidak memahami apa yang dimaksud jalan seorang Raja itu seterjal apa, tetapi dalam kepala anak itu ia hanya melihat posisi Raja yang kelak didapatnya hanya sebagai batu loncatan. Apa yang dituju anak itu lebih jauh dari sekadar seorang pemimpin negeri, baginya itu semua hanya sekadar media dan alat. Baik itu pertunangan dan sebagainya, itu semua hanya sebuah komponen metode baginya.


 


 


“Terjal, ya .... Kalau memang bisa dihindari, aku juga ingin. Mereka sudah terlanjur melempar beban ini padaku ..., bahkan mungkin sejak pertama kali terlahir kembali di kesempatan ini,” benak Odo seraya tersenyum kecut seakan menyepelekan perkataan ibunya. Ia tidak benar-benar meremehkan perkataan tersebut, tetapi hanya saja merasa kalau itu terlambat untuk memperingatinya.


 


 


“Putraku ..., Bunda bicara serius ....”


 


 


“Ah, maaf, Bunda. Bukannya aku tidak mengindahkan perkataan Bunda, tapi ... hanya saja aku sudah tahu itu. Entah mengapa .... sejak lahir memang diriku sudah dibebani dengan hal-hal tersebut. Ini sudah seperti takdir.”


 


 


Ekspresi tak ikhlas terlihat jelas pada raut wajah Mavis saat mendengar itu. Ia paham apa yang dimaksud Odo, dirinya sangat paham akan hal tersebut. Kelahiran anaknya itu merupakan sebuah keegoisan besar wanita rambut pirang tersebut, sebuah harapan dari perempuan yang merasa iri atas apa yang ada di sekelilingnya dan tidak bisa mensyukuri apa yang telah dapat dari pengorbanan saudarinya.


 


 


“Takdir, ya .... Anakku tercinta, kalau boleh tahu bisa kamu memberitahu Bunda takdir seperti apa itu?”


 


 


Odo sedikit memiringkan kepala, lalu santai berkata, “Ah, maaf. Itu bukan takdir, sih. Hanya seperti pilihan yang diberikan padaku.”


 


 


“Pilihan?”


 


 


“Ya, pilihan untuk mengubah atau diubah, bergerak atau menetap, masa depan atau masa kini. Jutaan pilihan yang diberikan padaku, dibebankan padaku sejak lahir. Apa yang membentuk diriku sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan itu. Tidak ada takdir, hanya sebuah pilihan yang ada ....”


 


 


“Maksud kamu situasi yang ada sekarang adalah akibat dari pilihanmu?”


 


 


“Tidak juga, ini bukan pilahan seorang saja. Ini pilihan semua orang .... Kalau memang dunia ingin hancur, maka hancurlah. Jika dunia ingin damai, maka damailah. Jika dunia ingin kesejahteraan, maka sejahteralah. Keinginan dunia adalah keinginan dari penghuninya, itu sama saja dengan kerajaan. Kalau memang kerajaan ini menginginkan itu, aku tinggal mengikutinya dan memilih apa yang sesuai untukku.”


 


 


“Kalau seperti itu tidak ada bedanya dengan kekangan.”


 


 


“Memang, pada dasarnya makhluk itu tidak ada yang bebas benar-benar. Setiap makhluk hidup tidak bisa memilih jenis kelamin saat lahir, tidak bisa memilih di mana dan dari keluarga apa mereka lahir. Ada juga yang terlahir dalam keterbatasan fisik atau mental ..., tetapi ... ada satu kebebasan yang pasti dimiliki setiap makhluk hidup dan itu mutlak.”


 


 


“Satu kebebasan ...?” tanya Mavis dengan rasa penasaran, para Shieal di belakangnya pun seakan terserap dalam tiap kata yang dilontarkan anak itu.


 


 


“Setiap makhluk hidup bebas untuk berusaha. Entah apa itu hasilnya, mereka berhak berusaha ....”


 


 


Mavis tersenyum kecil mendengar itu, ia tidak menyangka akan digurui seperti itu oleh anaknya sendiri. Menyangga kepala dengan tangan kanan, ia berkata, “Engkau sudah sangat dewasa, ya. Padahal bahkan belum umur semilan tahun ..., sungguh engkau memang sangat unik, Putraku.”


 


 


“Hmm, kalau soal itu sudah selesai, boleh aku minta sesuatu, Bunda?”


 


 


“Eh?! Padahal baru saja dipuji sudah mulai, memangnya apa yang ingin kamu lakukan lagi?” ucap Mavis dengan sedikit cemas. Berhenti menyangga kepala, wanita berambut pirang itu duduk bersandar pada sofa, lalu berkata, “Asal kamu tahu, sekarang kamu ini calon tunangan dari sang Putri. Kalau terjadi apa-apa, apalagi dengan negeri tetangga, itu sudah cukup untuk memuat Kerajaan ini berperang ....”


 


 


“Aku paham .... Tenang saja, ini tidak soal masalah seperti itu, kok.” Odo sedikit menyeringai dengan penuh semangat, matanya terlihat sangat hidup dan penuh energi dengan seketika.


 


 


“Hmmm, jadi apa? Dari ekspresimu, Anakku ..., sepertinya itu bukan hal yang bagus ....”


 


 


“Apa Bunda tahu soal penyebaran paham yang ditinggalkan orang-orang Moloia di Kota Pesisir?”


 


 


“Ah, soal itu ada juga di laporannya Imania,” ucap Mavis seraya melihat gadis rambut abu-abu yang berdiri di belakang tempat duduknya. Gadis berseragam itu hanya mengangguk, dan pria rambut merah tua di sebelahnya menjawab, “Iya, Nyonya Mavis. Beberapa penduduk di Kota Mylta ada yang beranggapan sebaiknya sistem pemerintahan diganti saja. Mereka sungguh konyol dan bodoh, memangnya berkat siapa mereka bisa makan dan memiliki tempat terteduh dari hujan.”


 


 


“Tuh, apa kamu dengan, anakku. Mereka, pada penduduk memang orang-orang seperti itu. Halaman tetangga memang terlihat selalu lebih hijau, mereka tidak berusaha membuat halaman sendiri menjadi lebih hijau dan hanya merasa iri,” ucap Mavis dengan tatapan berharap Odo menghentikan niatnya.


 


 


“Memang benar, tetapi sebagai seorang pemimpin bukannya Keluarga Luke bisa mengendalikan hal seperti itu. Hmm, bagaimana untuk sebagai bukti kepantasanku dalam memimpin, Bunda memberikanku kesempatan untukku menyelesaikan masalah ini?”


 


 


“Bukannya kamu hanya ingin pergi ke Kota Pesisir itu? Apa ada anak yang kamu taksir di sana? Katanya kamu juga sering datang ke salah satu cabang Panti Asuhan Inkara?”


 


 


Odo langsung menatap Julia dan Fiola yang berdiri di belakang Mavis, mereka berdua memalingkan wajah ke arah berlawanan dan tidak menanggapi rasa jengkel anak itu. Sedikit menarik napas dalam-dalam, Odo tegas berkata, “Bukan seperti itu Bunda, saya hanya ingin menjaga teman-temanku. Bunda tahu ..., untuk anak usiaku ..., aku tidak punya teman sebaya selain mereka ....”


 


 


“Teman, ya ....” Wajah Mavis terlihat muram, menatap Odo ia berkata, “Hmm, kurasa itu juga penting. Tetapi ... kalau boleh Bunda beri saran, kurasa itu tidak akan bertahan lama.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


“Perbedaan kasta membuat hubungan teman cepat berubah menjadi bawahan dan majikan. Itu fakta, tidak bisa diganggu-gugat. Kalau kamu ingin mencari teman setia, carilah dari kalangan bangsawan. Bunda bukannya mendiskriminasi, tetapi itulah aturan tidak tertulis dalam masyarakat Kerajaan Felixia.”


 


 


Odo memahami itu, tanpa diberitahu pun dirinya sangat paham. Ia tidak akan pernah menjadi teman dengan anak-anak di Panti Asuhan Inkara, bahkan saat pertama kali datang pun mereka tidak menganggapnya seperti itu. Dalam persepsi orang-orang di tempat tersebut, Odo adalah sosok yang memberikan secerah cahaya masa depan bagi kondisi panti asuhan yang sedang mengalami krisis.


 


 


“Bunda, boleh aku langsung ke topiknya?” tanya Odo dengan mengacuhkan saran ibunya tersebut.


 


 


“Hmm, tentu. Apa itu, anakku?”


 


 


“Boleh aku pinjam reputasi Bunda?”


 


 


“Reputasi sebagai seorang Penyihir Cahaya?”


 


 


“Bukan, tapi reputasi Bunda sebagai seorang Saint. Pihak Religi Kerajaan Felixia menyebut bunda seperti itu , ‘kan?”


 


 


Mata Mavis sedikit terbuka lebar, ia terkejut anaknya sampai mengetahui hal itu juga. Menyangga kepala dengan tangan kanan, wanita itu berkata, “Saint, ya .... Jujur itu hanya mereka yang senaknya memanggil Bunda seperti itu karena pernah melakukan beberapa hal dulu. Bunda tidak merasa pernah menjadi seorang Saint ....”


 


 


“Itu tidak masalah, yang aku pinjam hanya reputasi. Bunda tak perlu datang atau melakukan sesuatu, hanya pinjamkan saja benda sebagai tanda kalau Bunda benar-benar dianggap sebagai seorang Saint oleh mereka ....”


 


 


“Tanda, ya .... Bunda rasa ada, dulu mereka perah memberikan semacam Rosario sebagai tanpa penghormatan ..... Tapi, buat apa memang reputasi Bunda sebagai seorang Saint itu?”


 


 


“Menindih paham dari luar dengan kepercayaan Kerajaan Felixia ini ....”


 


 


“A ....”


 


 


Tanpa dijelaskan lebih lanjut pun Mavis langsung paham apa maksudnya. Di dalam ruangan tersebut, hanyalah wanita itu seorang yang memahami perkataan Odo. Para Shieal yang berdiri di belakang sofa sama sekali tidak menangkap maksudnya.


 


 


“Anakku ..., menggunakan nama para Dewa untuk hal semacam itu .... Bisa-bisa engkau kenal murka langit, loh.” Mavis menatap sedikit tidak senang, kedua alisnya sampai saling mendekat ke tengah.


 


 


“Apa Bunda juga tipe orang yang Religinya kuat?” tanya Odo.


 


 


“Oh, kasar sekali pertanyaanmu, Putraku. Yah, Bunda sendiri berasal dari Miquator, Bunda sebenarnya tidak percaya pada keajaiban-keajaiban atau berkah. Dalam cara pandangan para penyihir, segala di dunia ini tidak ada hal seperti itu. Mereka yang menganggap adanya keajaiban hanya karena mereka tidak memahami konsep yang ada dibaliknya.”


 


 


“Kalau begitu tidak masalah, bukan?”


 


 


“Sayang sekali ..., Ayahmu itu dekat dengan pihak Religi .... Kalau Ayahmu tahu engkau memanfaatkan itu untuk kepentingan pribadi, dia pasti marah.”


 


 


“Tenang saja, aku tidak memanfaatkan itu untuk kepentingan pribadi. Bunda, aku ingin menggunakan reputasi Saint Bunda itu untuk membuat pihak pemerintahan menyerah pada harga diri mereka yang keras kepala tidak ingin dekat dengan Pihak Religi.”


 


 


“Hmm, memang benar kalau pihak pemerintahan di tiap kota memang cenderung bersaing seperti itu untuk mendapatkan hati rakyatnya. Kalau memang seperti itu ... mungkin tidak masalah. Baiklah, Bunda mengizinkannya .... Tapi janji jangan sampai menyelewengkannya ....”


 


 


“Hmm, terima kasih, Bunda.”


 


 


Saat Odo hendak beranjak dari tempat duduk, Mavis bertanya, “Oh, iya. Putraku ..., mungkin ini terdengar aneh kalau Bunda yang tanya, tapi boleh tetap Bunda tanyakan?”


 


 


“Hmm, apa?” Anak itu kembali duduk saat melihat ekspresi ibunya yang terlihat kembali serius.


 


 


“Apa kamu juga percaya pada kepercayaan utama yang ada di Kerajaan Felixia?”


 


 


Odo terdiam mendapat pertanyaan itu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dijawab langsung. Dirinya sudah memiliki jawaban, tetapi itu bisa membuat semua perbicaraan yang telah dilakukan runtuh seketika.


 


 


Melihat gelagat Odo yang hanya terdiam dengan ekspresi datar, Mavis sedikit cemas dan berkata, “Jangan terlalu dipikirkan, Bunda bukan orang puritan. Kalau kamu tidak mempercayai kepercayaan itu juga Bunda tidak marah, kok.”


 


 


“Hmm, Bunda .... Begini ..., aku memiliki kepercayaan sendiri. Pada dasarnya Politeisme itu sudah kurang tepat untuk menjadi gantungan hidup khalayak ....”


 


 


“Kurang tepat ...? Apa maksudmu? Apa percaya pada Dewa-Dewi itu salah?”


 


 


“Bukan begitu, hanya saja itu tidak bisa diterima akal sehat. Dewa-Dewi jumlahnya lebih dari satu, hanya dengan itu semuanya menjadi tidak masuk akal untuk disembah.”


 


 


“Tidak masuk akal dari mana?” tanya Mavis bingung.


 


 


“Banyak .... Dengan kata lain, mereka tidak akan bisa menciptakan dunia kalau ada banyak. Saat seorang Dewa ingin menciptakan dunia yang sesuai dengan kehendaknya, Dewa lain pasti akan menentang karena itu bisa saja merugikannya. Para Dewa juga berselisih, saling berperang dan berdebat. Karena itulah bentuk penyembahan pun terpencar-pencar ....”


 


 


“Bukannya di dalam ajaran kepercayaan ada yang tertera kalau mereka para Dewa-Dewi berdiskusi untuk menciptakan dunia dan menjaganya? Tidak aneh, kok.”


 


 


“Saat mereka saling berbicara dan berkompromi, itu sudah jelas kalau mereka tidaklah mutlak. Apa boleh sosok yang maha berkuasa tidak memiliki sifat seperti itu? Bagaimana bisa? Mereka butuh yang lain ..., itu sudah menjadi tanda tak absolutnya mereka.”


 


 


Dalam benak rasa kepercayaan Mavis dan cara pandangannya mulai goyah. Secara pemikiran memang itu sangat masuk akal, paham banyaknya dewa dalam Politeisme memang sangatlah aneh untuk menjadi pacuan utama kepercayaan. Imania dan Gariadin yang memang memiliki keyakinan terhadap kepercayaan tersebut pun mulai goyah mendengar perkataan Odo.


 


 


“Apa Tuan Odo ingin bilang kalau kepercayaan yang dianut kami salah?” tanya Gariadin dengan tatapan tidak senang.


 


 


“Tidak sama sekali .... Ajaran, kepercayaan, semua apa yang dianut kalian benar. Pada dasarnya kepercayaan hanyalah sebuah saran, pilihan jalan kehidupan.”


 


 


“Dari cara bicara Anda ..., itu seakan Anda tidak percaya adanya entitas yang lebih tinggi dari makhluk Mortal. Anda seperti orang-orang Mololia itu ....,” ucap Gariadin.


 


 


“Aku punya kok sosok yang menjadi gantungan dan menurutku sangat pantas disembah.”


 


 


“ .... Apa itu? Dewa mana?” tanya Gariadin tegas.


 


 


“Bukan Dewa, tetapi zat .... Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Maha Kuat dan Maha Abadi, Pemberi Jalan dan Hakim paling adil.”


 


 


“Hah? Apa ada Dewa yang seperti itu?”


 


 


“Sudah kubilang bukan Dewa .... Kak Gariadin, Kakak tidak perlu terlalu memikirkannya lebih lanjut. Kalau Kakak melakukan itu sekarang, bisa-bisa kakak membenciku. Genggam saja apa yang Kakak percayai itu benar, aku juga akan melakukan hal serupa. Aku tidak akan memaksakan apa yang kupercayai, jadi jangan paksakan apa yang Kakak percayai. Apa yang kupercayai ini adalah milikku seorang di dunia ini, aku tak akan pernah memaksa orang lain untuk memahaminya.”


 


 


Di dalam ruangan tersebut benar-benar tidak ada yang memahami apa yang ada dalam kepala anak itu. Mereka sedikit mulai sadar kalau sifat anak itu yang menyimpang mungkin saja karena hal tersebut, kepercayaan anak itu yang memang dari awal sudah berbeda dari mereka. Memahaminya , para Shieal dan Mavis memutuskan untuk memberikan toleransi karena anak itu juga tidak memaksakan apa yang dipercayainya pada orang lain.


 


 


Pembicaraan pun ditutup dengan suasana sedikit canggung dan tegang karena pembicaraan tersebut. Gariadin tidak merasa puas, sebagai seorang yang mendalami kepercayaan sepertinya memang sedikit tidak terima kalau apa yang dipercayainya ternyata memiliki keganjilan. Berbeda dengan pria tersebut, Imania sama sekali tidak mempermasalahkannya dan memilih untuk toleran seperti halnya apa yang Odo bicarakan.


 


 


Tidak seperti mereka berdua, Julia dan Fiola yang memang secara mendasar memiliki kepercayaan berbeda tidak bisa berkomentar. Mereka memang percaya pada hal-hal seperti itu dan keberadaan yang lebih tinggi, tetapi sedikit berbeda karena kepercayaan kedua orang tersebut cenderung condong ke arah Kekaisaran Suci yang menganggap kalau Kaisar di sana adalah sosok Mutlak yang memberikan kebebasan.