
“Itu memang sangat aneh, Ayahanda …. Tak disangka-sangka itu akan bertahan sampai akhir, sebuah gagasan pengecut yang menyerah di tengah jalan untuk menyelamatkan dunia. Mereka yang menolaknya tidak paham. Dunia tak butuh diselamatkan, merekalah yang butuh.”
Mendengar suara tersebut, perlahan Odo Luke membuka kedua matanya dengan gejolak dalam benak yang terasa keruh. Tempatnya berdiri adalah Realm yang dipenuhi kabut, lantai memancarkan cahaya dan sejauh mata memandang hanya ada hitam. Perlahan mengangkat wajah dan melihat ke depan, apa yang menjadi sumber dari suara yang membangunkannya adalah sosok yang dirinya kenal.
Mahia ⸻ Sosok perempuan rambut putih tersebut berdiri di sana dengan senyuman manis. Ia mengenakan gaun putih polos, alas kaki sederhana dan terlihat begitu bahagia saat dengan senyuman lebar. Namun saat menatap lurus mata merah perempuan itu, kali ini Odo sadar bahwa di dalam ekspresi senang itu terdapat kebencian pekat pada sesuatu.
“Kenapa kau ada di Realm ini?” tanya Odo sembari membuka kedua telapak tangannya sendiri. Menatap dan bisa merasakan tubuh dengan jelas, ia sekilas menarik napas ringan karena tidak harus mengalami ketidakberdayaan yang sama saat bertemu Mahia terakhir kali.
Perempuan yang selalu tampak lekat dengan senyuman tersebut berjalan mendekat. Sekitar tiga meter dari tempat Odo berdiri, ia berhenti dan kembali melempar senyum lebar. “Tenang saja, di Realm ini jiwa Ayahanda terbentuk secara konstan,” ucapnya dengan nada ringan.
Mendengar itu Odo hanya bisa menarik napas dalam-dalam, tetap memasang tatapan datar dan tak bisa merasa senang mendengar hal tersebut. Mengetahui kalau Mahia memang berada di Dunia Kabut, itu membuat sebuah perkiraan terburuk Odo menjadi pasti.
Kembali mengingat kalimat-kalimat yang menggema di dalam kepala beberapa saat lalu, pemuda itu meletakkan tangan ke wajah dan terdiam. “Ternyata aku pernah memikirkan hal seperti itu …, jauh sebelum menurunkan para Dewata dari singgasana, ya?” ujarnya sembari menurunkan tangan dari wajah dan kembali menatap Mahia.
“Hmm, Ayahanda pernah mencetuskan gagasan tersebut. Begitu jauh, amat jauh, sangat jauh sebelum semua kekacauan di mulai. Jika saja mereka bisa memahami Ayahanda, mungkin hasil akhir akan berbeda.”
Odo hanya tersenyum kecut mendengar hal tersebut, sedikit memalingkan pandangan dan berkata, “Hasil akhir, ya? Hasil akhir ya adalah kondisi ini, ‘kan? Hanya aku yang tersisa, dipaksa untuk terus ada di panggung diorama tanpa diperbolehkan turun sebelum menyelesaikan peran.”
Mengangkat telapak tangan dan mengarahkannya ke Mahia, Odo menatap tajam dan kembali berkata, “Karena itulah aku diberikan hal seperti ini ….”
Mahia hanya tersenyum ringan melihat rajah pada telapak tangan pemuda rambut hitam tersebut. Mengambil satu langkah ke belakang dan berputar penuh satu kali dengan kaki kanan sebagai tumpuan, ia meletakkan jari telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Itu hadiah untuk Ayahanda …. Bagaimana? Apa Ayahanda menyukainya? Cobalah berbalik dan lihat apa yang ada di belakang.”
Tatapan Odo semakin datar. Menarik napas dalam-dalam dan berbalik mengikuti perkataan Mahia, pemuda itu seketika terkejut dengan apa yang ada di Dunia Kabut tersebut. Tubuh bergelimpangan di mana-mana, dengan bentuk dan wajah yang sangat mirip dengan dirinya sendiri. Rambut hitam, mata biru dan mimik wajah serta bentuk tubuh yang mirip dengan Odo Luke.
Beberapa detik terkejut, pemuda rambut hitam itu segera tenang dan hanya menatap dingin para tubuh cadangan tersebut. Jumlahnya sekarang hanya sekitar 13 tubuh, namun di antara tubuh-tubuh itu ada kabut yang berkumpul dalam jumlah tak wajar pada satu tempat dan memulai proses pembuatan tubuh baru lainnya
Dalam proses tersebut pembuatan tubuh tak terjadi secara instan, melainkan bertahap dari jaringan sel, otot, organ dalam, tulang, daging, otak, dan barulah kulit luar serta organ-organ indra. Dari tahapan dan cara tubuh tersebut terbentuk oleh kabut yang bertahap mengkristal membentuk susunan sel, Odo seketika paham bahwa susunan sihir Auto Regen ikut ambil dalam proses pembentukannya.
Sejenak terdiam dan memikirkan persentase terbentuknya tubuh sempurna yang tidak bisa membusuk di Realm tempatnya berdiri, Odo sekilas merasa itu sangatlah mustahil tanpa media penyokong lain. Meskipun sebuah tubuh bisa tercipta, sangat mustahil hal itu dicapai dengan sangat cepat. Kembali berbalik dan menatap ke arah Mahia, pemuda itu berhenti memperlihatkan tatapan tajam dan sekilas ekspresi enggan tampak.
Setelah sejenak menghela napas pemuda itu pun bertanya, “Apa kau menggunakan Spekulasi Persepsi? Mengasimilasi dalam proses pembuatannya, untuk meningkatkan persentase penciptaan tubuh-tubuh itu?”
“Tepat!” Mengacungkan jari telunjuknya ke depan, Mahia dengan ceria mulai menjelaskan, “Realm ini memiliki perbedaan waktu dengan Dunia Nyata, meski begitu penciptaan tubuh-tubuh cadangan untuk Ayahanda tetap akan memakan waktu dua tahun dalam durasi tempat ini. Itu terjadi karena kegagalan beruntun, mencitakan tubuh dari proses kristalisasi buatan dan perubahan zat lain bukanlah hal mudah …. Untuk mempercepatnya diriku perlu memasang Spekulasi Persepsi pada dunia ini. Mempercepat prosesnya supaya dalam durasi Dunia Nyata hanya sebatas beberapa jam saja.”
Odo hanya terdiam dan merasa bukan hal semacam itu yang benar-benar ingin didengar. Menatap lurus ke arah Mahia, pemuda itu dengan nada malas bertanya, “Kenapa kau melakukan hal menyusahkan seperti ini? Kalau untuk membantu, bukannya kombinasi Auto Regen dan Spekulasi Persepsi sebelumnya sudah tepat?”
“Seharusnya Ayahanda sudah tahu apa yang ingin putrimu ini lakukan.” Mahia menurunkan jarinya, memasang senyum manis dan melangkah ke samping Odo. Mendekatkan mulut ke telinganya, perempuan dengan bermata merah darah tersebut dengan lembut berbisik, “Diriku ingin menjadikan Ayahanda sebagai Primordial dunia selanjutnya.”
Kembali melangkah ke belakang, Mahia berputar penuh dua kali dan berdiri tegak. Sembari melempar senyum, ia merentangkan kedua tangannya ke samping seakan menunggu reaksi lawan bicaranya. Namun Odo tidak membahas, hanya menatap datar dan terlihat begitu kesal.
Bertepuk tangan sekali, Mahia tersenyum lebar dan sekali lagi berkata, “Bukankah itu indah, Ayahanda?”
Odo tetap terdiam, sangat mengerti apa yang ingin Mahia tuju dengan semua hal yang telah dirinya siapkan. Meletakkan telapak tangan ke kening dan menundukkan kepala, pemuda itu sama sekali tidak bisa tersenyum dan merasa lelah dengan semua hal yang ada.
“Primordial ⸻ Berarti dunia ini ingin kau hancurkan? Untuk menjadikanku Adam di dunia selanjutnya?” tanya Odo geram.
“Tentu saja tidak, dunia ini sudah sekarat dan nantinya akan hancur sendiri. Mungkin satu atau dua juta tahun lagi …. Atau jika Dewi itu ikut campur, mungkin akan lebih cepat.”
Mendengar itu. Odo segera menurunkan tangan dari wajah dan merasa muak dengan waktu sangat lama tersebut. Sebagai jiwa yang konstruksi dasarnya hanyalah sebatas manusia, durasi yang disebutkan itu di luar standar waktu hidupnya. Sekilas dirinya kembali memikirkan hidup panjangnya di dunia sebelumnya, merasa kalau hal seperti itu akan terulang kembali.
Perkataan Odo terhenti, segera berbalik ke belakang dan melihat para tubuh cadangan yang bergelimpangan di lantai bercahaya. Dalam kondisi yang ada saat ini, sebuah proses penciptaan makhluk hidup baru bisa terjadi dengan mudah hanya dengan sentuhan jari dan transfer informasi.
“Ya, seperti yang Ayahanda pikirkan.” Mahia langsung berjalan mendekat, meloncat ke arah Odo dan memeluknya dari belakang. Sembari menempelkan pipi ke pipi, perempuan rambut putih tersebut berkata, “Ayahanda sekarang bisa menciptakan bentuk kehidupan baru. Posisi Ayahanda sekarang bukanlah Dewa, Iblis, Naga, atau bahkan Manusia. Ayahanda adalah sosok yang mendekati Pencipta ….”
Mahia turun dan berdiri di samping Odo. Memegang tangan kanan pemuda itu, Mahia mengangkat dan mengulurkannya ke depan. Sembari mendekatkan mulut ke telinganya, perempuan itu dengan lembut berbisik, “Sentuh mereka dengan Aitisal Almaelumat dan berikan bentuk kehidupan baru …. Ayahanda bisa melakukan itu kepada para tubuh cadangan yang memiliki susunan informasi tak stabil itu. Ayahanda sudah pernah memikirkan beberapa bentuk kehidupan baru, bukan? Yang lebih sempurna, tak perlu makan atau minum dan selalu bertindak efektif serta kompeten.”
Odo menurunkan tangan kanannya dengan paksa dan langsung mencengkeram wajah Mahia dengan kasar. Mengangkat tubuh perempuan itu yang terasa sangat ringan, ia langsung melemparnya sampai jatuh ke lantai dengan keras. Meski diperlakukan kasar seperti itu, Mahia tetap tersenyum dan segera duduk sembari menatap ke arah Ayahnya.
Sembari berjalan ke arahnya perempuan itu, Odo menatap tajam dan bertanya, “Untuk apa memangnya? Demi apa? Kau yang bahkan tidak tahu apa itu sebenarnya Awal Permulaan, kenapa ingin terus melanjutkan kehidupan jiwa penuh penyesalan ini? Jika tujuanmu hanya demi memperoleh informasi untuk menghilangkan dahaga pengetahuan, aku akan berikan semua pengetahuanku kepadamu saat kewajibanku selesai nanti.”
“Engkau salah, Ayahanda ….” Perempuan itu berdiri tegak dan menunjuk pelipisnya sendiri, layaknya seseorang yang siap menembak kepala dengan pistol. Menyipitkan mata dan memperlihatkan ekspresi penuh rasa pasrah, Mahia dengan tanpa beban berkata, “Apa yang diriku harapkan sama seperti para Korwa di luar sana. Jika itu berarti di sisimu, diriku bahkan rela mengorbankan dunia ini …. Ayahanda adalah harapan, tujuan, dan alasan keberadaanku. Apa hal seperti itu tidak boleh putrimu ini dambakan?”
Perkataan tersebut membuat langkah Odo terhenti, mulutnya rapat membisu dan keraguan mulai tampak pada wajah. Perkataan yang benar-benar terdengar tulus itu membuatnya gemetar, sekali lagi pemuda itu dihadapkan pada dosa yang telah diperbuatnya di masa lalu.
Dalam benak ia mulai merasa seharusnya tidak mencitakan Mahia, dalam benak ia merasa seharusnya tidak ikut campur dalam siklus kehancuran dan penciptaan, dan dalam benak dirinya berharap sebuah akhir mutlak benar-benar mendatanginya kali ini. Odo muak dengan awal baru, ia telah jenuh hal-hal semacam itu.
“Ketika aku mengira telah kehilangan semuanya, selalu saja ada yang tersisa dan memaksakan kewajiban. Mengapa harus aku? Kenapa kalian selalu bergantung pada sesuatu dari masa lalu?” benak Odo sembari sedikit membuka mulut. Tidak bisa menyampaikan kalimatnya, pemuda itu hanya menghela napas ringan.
Meletakkan telapak tangan kanan ke kening, Odo sejenak terdiam dan berpikir. Mencari cara untuk masalah utama yang ada di hadapannya, mencari jalan untuk menyelesaikan semua hal yang dipaksakan kepadanya. Menurunkan tangan dan menatap lurus ke arah Mahia, ia merasa kalau memang perempuan itu tidak akan pernah memaksakan sesuatu kepadanya.
Namun, bukan itu persoalannya. Hanya dengan Mahia ada dan berharap Odo terus hidup, itu sudah menjadi sebuah masalah bagi dunia. Pemuda bernama Odo Luke adalah individu yang seharusnya tidak boleh ada di dunia karena bisa mengganggu susunan takdir hanya dengan keberadaannya, karena itulah beberapa Immortal dan Catatan Kuno menyebutnya Unsur Hitam ⸻ Sebuah noda dalam buku takdir. Membuat sesuatu yang bisa diperkirakan menjadi abstrak.
Melihat ke arah tubuh cadangan yang bergelimpangan, Odo merasa semua itu adalah kumpulan kegagalannya di masa lalu. Mayat-mayat dari potensi yang dirinya miliki, satu persatu hilang setiap kali dirinya gagal dan bertambah seiring dirinya memilih sesuatu dalam lajur waktu yang tak terhenti.
Saat perlahan kembali menatap ke arah Mahia, Odo merasa semua tubuh cadangan bergerak merangkak ke arahnya dan menggerayang kedua kaki. Bagikan mayat hidup yang tak menerima kematian, mereka mengeram dan mengutuk karena tak diberikan kesempatan untuk memilih jalan mereka sendiri ⸻ Hanya digunakan untuk cadangan tubuh utama.
Membulatkan keputusan dalam benak, Odo menarik napas dalam-dalam dan dengan tatapan datar bertanya, “Mahia, apa keinginanmu selaras dengan Dewi itu?”
“Jika Dewi yang mengaku sebagai Helena itu masih memegang teguh dan janjinya di masa lalu, sebagai putrimu diriku menjamin kalau dia juga mengharapkan apa yang diriku harapkan.”
Jawaban tersebut terdengar tak meyakinkan. Bagi Odo sendiri yang cukup mengenal sosok yang dikenal dengan nama Helena, Dewi tersebut bukanlah entitas yang bisa menjaga sikapnya sampai akhir. Odo sendiri pernah berseteru dengannya, namun pada waktu lain sosok tersebut pernah meminta pertolongan dan membuang idealismenya. Itu sudah cukup untuk menunjukkan sifat tidak kompeten dan kurangnya kapabilitas entitas tersebut untuk menjaga janji.
Namun, setelah mempertimbangkan hal tersebut pun Odo tetap tidak memiliki pilihan lain. Apa yang bisa dirinya lakukan sekarang hanya tersenyum pasrah dan berkata, “Baiklah, aku takkan menentang keinginanmu. Aku akan hidup selama yang kau mau, tapi ….”
Ekspresi pasrah Odo seketika berubah menjadi sedih, penuh rasa sesal dan dengan rasa tak berdaya ia meminta, “Tolong musnahkan aku saat sifat asli ku bangkit.”
Mendengar itu Mahia terlihat terkejut, sifat asli ayahnya seharusnya apa yang dirinya lihat sekarang karena semua ingatan masa lalu pemuda itu telah kembali. Dengan sorot mata bingung ia pun bertanya, “Sifat asli? Apa yang Ayahanda maksud, bukannya sekarang ini sifat⸻”
“Apa yang kau tahu hanya sebatas apa yang dengar dan lihat.” Odo kembali melangkah mendekat dan berdiri di hadapan Mahia. Sembari mengelus kepalanya dengan lembut, pemuda itu dengan penuh penyesalan berkata, “Aku adalah orang dungu yang merasa paling benar. Padahal pemalas, namun selalu mengeritik pekerjaan orang yang berusaha keras. Individu paling tak berguna di dunia sebelumnya …. Apa yang kau lihat waktu itu dan sekarang adalah bentuk penyesalan diriku, penebusan dosa karena tidak pernah memanfaatkan kesempatan dengan maksimal”
Untuk pertama kalinya, Mahia melihat Odo gemetar seperti itu. Bukan karana rasa takut atau marah, namun begitu menyesal dan frustrasi pada keadaan. Pemuda itu sedikit membungkuk dan menempelkan keningnya ke kening Mahia, lalu dengan penuh sesal ia sekali meminta, “Karena itu, Mahia …. Kelak pasti aku akan kembali ke sifat ku yang begitu sampah. Itu pasti akan terjadi, kelak saat aku mulai menganggap dosaku hanyalah sebatas kesalahan. Sebelum itu terjadi, kumohon kau harus memusnahkan ku.”
“A-Apa yang Ayahanda bicarakan! Mana mungkin aku melakukannya! Aku tak bisa hidup tanpa ayahand⸻”
“Kalau begitu, mari musnah bersama.” Pemuda itu menjauhkan kening, memegang kedua sisi pundak Mahia dan menatap penuh rasa frustrasi. Dalam penuh rasa kacau pemuda itu kembali berkata, “Kita berdua akan lenyap dari dunia ini selamanya. Jika waktunya datang, berjanji lah kau harus melenyapkan ku sebelum terlambat.”