
.
.
.
.
.
Ketika Odo mengira telah meraih sesuatu di tengah sensasi tenggelam, tangannya terulur keluar dari genangan air bercahaya. Menggapai permukaan yang bisa diraihnya, ia lalu mulai merangkak keluar dari genangan air di tengah jalan susunan batu pada kediamannya sendiri.
Tubuh dan kulitnya basah, air biru bercahaya tak segera hilang seperti biasanya karena telah mengalami perubahan pesat dalam segi kandungan. Berdiri sembari mengangkat rambut poninya ke atas dan menatap datar ke depan, seketika Spekulasi Persepsinya aktif dan memberitahukan beberapa informasi terkait hal-hal yang telah terjadi di Kediaman Luke.
Mavis dan Dart menatap ke arah Odo dengan penuh rasa terkejut, begitu pula Raja beserta sang Pangeran dan Putri. Berbeda dengan mereka berdua, Thomas Rein dan Istrinya benar-benar dibuat gemetar ketakutan karena hawa mengerikan yang terpancar kuat dari pemuda itu.
Melihat memindai mereka satu persatu, Odo Luke segera paham cara pandangan orang-orang yang terdiri di teras itu. Aura mengerikan dari para makhluk yang bersemayam dalam tubuhnya dengan jelas menjadi hal yang tak bisa diterima mereka, terutama hawa Iblis Kuno yang memancar paling menonjol.
“Sepertinya aku datang di waktu yang salah,” gumam Odo dengan ekspresi datar. Seraya memalingkan pandangan dalam benak ia merasa, “Apa yang sebenarnya ingin Mahia lakukan? Kalau begini, bukannya malah makin runyam?”
Pemuda itu melepaskan sepatu dan berdiri telanjang kaki untuk meningkatkan sihir pendeteksi. Menjentikkan jari tangan kiri, ia langsung menggunakan gelombang suara yang terpancar sebagai sonar dan melacak hawa keberadaan orang-orang yang telah datang ke Kediaman Luke.
“Hmm, jumlah tamunya tidak berkurang atau bertambah. Kurasa mereka semua sampai di sini tanpa ada masalah.”
Dalam sonar yang terpancar pada jangkauan seluruh Mansion, Odo dengan cepat mendeteksi Linkaron dan Kinkarta yang berlari kencang ke arahnya dari belakang. Kedua Shieal tersebut juga tidak mengenali wujud remaja Tuan Muda mereka sekarang karena pergi bersama Dart ke Ibukota.
Menggunakan teknik pemadatan Mana yang dirinya pelajari dari Tuannya, Kinkarta menciptakan kapak perang dengan pegangan sepanjang satu meter setengah dan langsung menyerang dari titik buta. Pada waktu yang bersamaan, Linkaron langsung menyelimuti tombak Schöningen miliknya dan melemparkannya ke arah Odo.
“Akselerasi Pikiran …. Aktif.”
Di mata Odo seketika semua pergerakan mereka terlihat sepuluh kali lebih lambat dari kondisi normal, akselerasi pikiran tersebut merupakan salah satu komponen yang ia pisah dari susunan sihir Spekulasi Persepsi. Menggunakan sihir perubahan sifat dalam skala sempit dan membebankan listrik ke dirinya sendiri, Odo memaksa tubuh untuk bergerak mengikuti pikiran yang dipercepat.
Dengan refleks di luar akal sehat, ia dengan cepat berbalik ke belakang dan mengamati serangan yang datang ke arahnya. Dari kalkulasi yang didapat, lemparan tombak dua detik lebih cepat dari serangan kapak perang. Odo segera melebarkan kaki kanannya ke belakang dan memasang kuda-kuda dengan posisi tubuh direndahkan.
Mengulurkan tangan kirinya ke depan di tengah lajur waktu yang di hadapannya seakan sedang Slow Motion, Odo langsung menangkap bagian tongkat tombak yang melesat ke arahnya. Telapak sedikit tergores dan darah melumuri ujung tombak yang terbuat dari kayu tua yang telah dimantrai.
Itu ia sengaja, dengan darah yang mengalir membasahi ujung tombak Odo dapat memanipulasi susunan sihir yang ada pada Schöningen dan menghilangkan sihir kutukan. Selain bisa mengunci dan bisa mengenai sasaran selama ujung tombaknya dilumuri sedikit saja darah target, tombak tersebut juga hanya bisa dipegang oleh pemiliknya karena dalam pembuatan Schöningen sendiri tergolong khusus dan masuk ke dalam senjata roh.
Memanipulasi susunan sihir yang ada, Odo menindih susunan informasi pemilik pada Schöningen dan menjadikan tombak tersebut miliknya. Itu dirinya lakukan dalam hitungan nanodektik, lalu ia membebankan listrik ke bagian tongkat tombak yang terbuat dari logam dan langsung memutarnya menggunakan gaya elektromagnetik untuk menyesuaikan posisi.
Linkaron dan Kinkarta terkejut melihat pemuda rambut hitam tersebut bisa memegang tombak berselimut kutukan itu. Namun tidak menghentikan serangannya, Shieal dengan gelar Ksatria malah mempercepat ayunan kapak hasil pemadatan Mana.
Odo melihat pergerakan tersebut dengan sangat lambat, namun bukan berarti tubuhnya bisa sepenuhnya mengikuti akselerasi pikiran. Tubuh hanya bisa mengikuti sekitar ¼ kecepatan pikiran, dengan kata lain hanya lebih cepat 2,5 kali dari pergerakan normal mereka.
Namun itu sudah cukup, dalam hitungan milidetik tersebut ia telah menganalisa pergerakan ayunan kapak dan tindakan yang akan diambil Kinkarta. Ayunan senjatanya datang dari arah kanan dan tepat menyerang bagian leher, sangat jelas ingin menghabisi lawan dengan sekali serang seperti cara bertarung Dart Luke.
Odo menarik mundur tangan kirinya yang memegang tombak, lalu melebarkan kaki kiri ke samping dan bersiap untuk menahan ayunan kapak. Pada milidetik sebelum itu mengenainya, Odo memasang punggung tangan kanan dalam posisi bertahan dan secara langsung menahan ayunan kapak tersebut.
Sihir penguatan pada sarung tangan menahannya dengan sangat sempurna, sama sekali tidak menggores tangan Odo dan terhenti. Momentum dari benturan ia alirkan ke permukaan jalan melalui tubuh ke kaki kiri dan sampai membuat beberapa susunan batu retak.
Kinkarta sekilas terkejut pemuda itu bisa menahan serangannya, namun ia tidak berhenti dan segera mengangkat tangan kirinya dari kapak perang. Tanpa rasa ragu sedikitpun, pria rambut cokelat tersebut langsung mengepalkan tinjunya dan menghantamkannya ke arah Odo.
Dalam posisi kedua tangan tidak bisa digunakan untuk menahan pukulan tersebut, Odo Luke mengaktifkan Hariq Iliah dan menciptakan dinding udara tipis untuk menahan serangan. Namun sebelum tinju mengenai dinding udara, pergerakan Kinkarta terhenti. Pada saat bersamaan saat Odo mengaktifkan Sihir Khususnya, aura Naga Agung meningkat drastis menggantikan hawa iblis.
Intimidasi ⸻ Hal semacam itu benar-benar efektif untuk menghentikan pergerakan Kinkarta. Memanfaatkan kesempatan yang tercipta, Odo segera melebarkan kaki kirinya ke depan sembari menegakkan tubuh dan mengayunkan tombak ke arah wajah Kinkarta.
Odo hanya menggunakan bagian tumpul mata tombak, namun itu sudah cukup untuk membuat otak Ksatria itu bergetar dan kehilangan keseimbangan. Saat kapak perang hasil pemadatan Mana di tangannya mulai terurai, Odo dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan kanan Kinkarta.
Mengangkat lutut kanan ke atas, pemuda itu menarik Kinkarta dan menghantamkan perutnya ke lutut dengan sangat keras. Ksatria tersebut langsung membungkuk dengan rasa mual yang membuat tubuhnya gemetar, dua serangan itu sudah cukup untuk melumpuhkannya.
Paham dengan sifat para Shieal yang cenderung keras kepala dan tetap bertarung sampai titik darah penghabisan demi Tuan mereka, Odo langsung mengangkat siku tinggi-tinggi dan menghantam bagian tengkuk Kinkarta dengan keras sampai kehilangan kesadaran. Tubuh ksatria tersebut ambruk, dagunya membentur permukaan jalan dengan keras sampai berdarah.
“Di-Dia mengalahkan Kinkarta secepat itu? Apa-apaan orang ini? Bukan hanya bisa memegang tombak sihir buatan Nyonya, tadi hawa naga yang begitu kuat juga sekilas terpancar darinya,” benak Linkaron sembari melangkah mundur dan mulai gemetar. Namun saat paham dirinya dilihat oleh Dart dan Mavis, pria berambut hitam pekat tersebut berusaha melawan rasa takutnya dan berhenti gemetar.
Odo menghela napas ringan saat mendapat tatapan penuh rasa takut salah satu orang yang dirinya kenal sejak kecil. Menjatuhkan tombak Schöningen ke jalan, pemuda itu bertepuk tangan satu kali untuk memecahkan suasana tegang yang ada. Linkaron tersentak, melangkah mundur dan kembali terlihat ketakutan.
Tidak memedulikan salah satu pria yang telah kalah dalam keberaniannya, Odo menoleh ke arah orang-orang di teras yang sedari tadi hanya diam di tempat. Tepat pada saat Odo Luke baru saja berpaling, Linkaron langsung menggunakan sihir penguatan pada kedua kakinya dan menggunakan teknik langkah angin untuk meringankan tubuh.
Meloncat ke arah Odo dengan kecepatan tinggi, Shieal tersebut berhasil mencengkeram pundak kanan pemuda itu dan hendak menggunakan teknik kunci untuk menangkapnya. Namun sebelum kaki bisa berpijak, tubuhnya Linkaron seketika dibanting ke jalan dengan keras. Linkaron sama sekali tahu apa yang telah terjadi, saat sadar dirinya telah terbaring menghadap langit.
“Tolong tidur saja seperti itu, Kak Linkaron,” ucap Odo sembari berjalan melewati Shieal tersebut dan menuju ke teras.
Sekilas Linkaron heran dengan cara pemuda itu memanggilnya, ia berusaha berdiri tetapi seketika rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Bantingan tadi sangatlah fatal, sesak napas menyusul beberapa detik kemudian dan pada akhirnya tubuhnya lumpuh untuk sementara.
Dart sama sekali tidak bergerak untuk membantu kedua Shieal yang benar-benar dipermalukan itu, begitu pula Mavis atau Sheial lain yang kenal siapa sesungguhnya pemuda rambut hitam itu. Berhenti tepat di depan teras, pemuda rambut hitam itu mengaktifkan Hariq Iliah untuk menguapkan air dan mengeringkan tubuhnya.
Menurunkan rambut poni, pemuda itu memasang ekspresi penuh kehangatan dan berkata, “Aku pulang …. Bunda, Ayah …, maaf membuat keributan tadi.”
Kalimat tersebut membuat kedua mata Dart dan Mavis terbuka lebar. Berbeda dengan suaminya yang masih ragu, Mavis langsung berlari ke arah Odo dan melompat ke arahnya. Wanita itu memeluk erat putranya, melepas rasa cemas yang menyelimuti hati.
“Syukurlah …. Engkau baik-baik saja, Odo ….”
“Hmm ….”
Odo sekilas terlihat bingung harus melakukan apa saat dipeluk erat oleh Mavis. Merasakan tatapan tajam dari Ayahnya sendiri, pemuda itu dengan segera melepaskan pelukan Ibunya dan bertanya, “Bunda ….”
“E-Eh? Ada apa?”
Melihat mata ibunya yang sedikit memerah, Odo segera paham kalau ia baru saja menangis. Menghela napas ringan, pemuda itu memegang kedua sisi pundak Mavis dan bertanya, “Bunda sudah tahu soal kondisiku ini, ‘kan? Dari Ayah atau Raja …. Aku⸻”
“Tak masalah! Meski kamu memiliki aura iblis atau semacamnya, Bunda tak mempermasalahkan itu! Engkau adalah putraku, Odo Luke! Bukan titisan iblis atau apapun itu! Melihat dirimu dari dekat seperti ini membuat Bunda yakin! Kau memang Odo!”
Jawaban langsung tanpa rasa ragu tersebut sekilas membuat Odo tercengang. Meski dirinya telah memperkirakan respons itu, namun tetap saja rasa senang sedikit terasa dalam benak saat mendengar ibunya tetap percaya. Odo memasang senyuman tipis penuh rasa bahagia, membuat Mavis sekilas bingung dengan ekspresi tersebut.
Dengan rasa lega memenuhi benaknya, Odo memeluk Mavis dengan sangat erat dan berbisik, “Terima kasih. Ibunda ….”
Kedua mata Mavis terbuka lebar, terdiam sesaat dalam rasa bingung. Paham kalau putranya tersebut juga merasakan cemas yang sama seperti dirinya, seketika matanya berkaca-kaca dan lekas balik memeluk Odo.
“Hmm …. Tentu saja, Putraku …. Tentu saja. Apapun yang orang lain bilang tentang dirimu, Bunda akan selalu berada di pihakmu.”
Meski telah melihat Mavis benar-benar menerima kenyataan tentang kondisi putranya yang sekarang memiliki aura iblis, dalam benak Dart masih tertinggal rasa tak percaya kalau pemuda rambut hitam tersebut benar-benar putranya. Sembari berjalan mendekat ia pun bertanya, “Kau …. Apa kau benar-benar Odo putraku?”
Mereka berhenti berpelukan, secara bersamaan menoleh ke arah Dart dan menatap lurus ke arahnya. Odo hanya memberikan tatapan datar, namun Mavis terlihat begitu kesal mendengar pertanyaan tersebut. “Kau masih berkata seperti itu, Suamiku?! Memangnya dia tidak terlihat seperti Putra kita!?” tanya Mavis dengan nada membentak.
Dart menghentikan langkahnya sebelum turun dari teras, merasa bersalah telah meragukan perkataan Mavis. Menatap mata pemuda rambut hitam secara langsung untuk kesekian kalinya, kali ini Ahli Pedang benar-benar memastikan kalau memang dia itu adalah Odo Luke.
Warna rambut dan mata, gaya bicara, ekspresi, dan caranya menatap, semua itu begitu mirip dengan Odo. Melihat istrinya begitu yakin dan sampai memeluk pemuda itu, Dart hanya bisa menghela napas dan menerima fakta tersebut. Meski ia menerima kalau pemuda itu putranya, ekspresinya terlihat tidak tenang mengingat pemuda itu masih hidup meski kepalanya terpenggal.
Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Mavis dan Dart, sang Raja memiliki pemikirannya sendiri. Ia dari awal tidak mengenal atau tahu wajah Odo. Dalam benak, meski pun pemuda itu memang Odo Luke, sang Raja masih memendam rasa curiga pada sosok yang dengan jelas-jelas memancarkan aura iblis tersebut.
Odo melepaskan pelukan Mavis, sorot mata lekas terarah kepada sang Raja yang sedari tadi menatap penuh rasa curiga. Perlahan Odo memalingkan sorot matanya, beralih ke arah Putri Arteria yang masih terlihat terkejut karena kedatangan Odo. Aura kehidupan bagaikan raksasa miliknya membuat sang Tuan Putri benar-benar terbelalak.
“Putri, bukannya sebelumnya aku minta untuk menjelaskan kesalahpahaman?” tanya Odo dengan tatapan datar.