Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 57 : Aswad 4 of 15 “To Act” (Part 01)



 


 


Sekitar 14 tahun yang lalu di Kerajaan Moloia, tepat dua tahun setelah Perang Sipil di negeri logam dan mesin tersebut berakhir. Tahun 2.679 Kalender Pendulum, pada salah satu laboratorium sebuah kota di bawah wewenang Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian.


 


 


Dinding baja yang dingin, pintu logam dan lantai besi. Dari luar tempat tersebut terlihat layaknya sebuah pabrik yang sebagian besar bangunannya dibangun dengan beton dan kawat baja, lampu-lampu pada beberapa sudut dan sumber penggerak operasional ditenagai oleh pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada di bawah tanah.


 


 


Pada bangunan, terlihat beberapa tempat khusus dari lingkup laboratorium yang terletak di pojok kota itu. Dari beberapa yang ada, bangunan inti dari lingkup tempat tersebut adalah gedung bertingkat dua tanpa jendela keluar atau ventilasi, hanya memiliki satu pintu utama yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit.


 


 


Tempat tersebut didominasi oleh warna putih murni dan abu-abu, strukturnya sama sekali tidak mempertimbangkan rute evakuasi seakan memang apa yang tersimpan dalam kotak besar tersebut harus dijaga bagaimanapun caranya.


 


 


Masuk ke dalam bangunan tersebut, di bagian depan hanyalah berisi ruang-ruang kantor untuk mengolah hasil riset dan berapa administrasi. Semua orang yang ada bekerja di bangunan tanpa jendela ke luar itu adalah pegawai sipil, sebagian besar dari mengenakan mereka mengenakan jubah laboratorium dan sebagian kecil adalah tentara yang menjaga keamanan tempat tersebut.


 


 


Lampu pijar yang bertenaga listrik bukanlah hal yang aneh di tempat tersebut, ada di setiap tempat. Pendingin ruangan dipasang pada beberapa ruangan, proyektor untuk presentasi tersedia pada di setiap ruang diskusi dan laboratorium sudah menggunakan alat-alat yang terbuat dari kaca dan bahan sintesis.


 


 


Sejak perang sipil berakhir, fokus penelitian untuk senjata berkurang drastis dan alokasi dana yang ada diarahkan ke rana penelitian pemerbaikan kualitasi hidup. Pengembangan ilmu botani untuk rekayasa agraris, pengembangan ilmu kedokteran dan manipulasi genetik, pengembangan tata letak kota, dan berbagai macam ilmu dikembangkan ke arah yang berbeda — Bukan untuk senjata, namun kepentingan pembangunan dan banyak orang.


 


 


Beberapa sarjana yang sedang berdiskusi di lorong, beberapa orang yang membaca sambil berjalan saking antusiasnya dengan penelitian, dan di dalam ruangan-ruangan dapat diintip dari jendela sebuah diskusi serta penelitian-penelitian yang sedang berlangsung.


 


 


Meski tanpa akses keluar masuk bangunan yang memadai, di dalam bangunan tersebut memiliki pengamanan yang ketat dan antisipasi kecelakaan. Alat pemadam otomatis di setiap sudut langit-langit, pembatas tembok besi yang bisa tarik keluar masuk menggunakan panel, dan banyak jendela kaca di setiap ruang untuk memastikan keselamatan bersama dan saling mengawasi.


 


 


“Tata letak sistem buatanmu ada cacat di bagian sistem B18 ....”


 


 


Salah satu sarjana menghampiri rekannya yang sedang bersandar pada dinding. Perempuan yang mengenakan jubah putih itu berdiri di dekat pintu seraya memegang papan berisi kertas-kertas laporan, ia sedikit menghela dan menunggu pemimpin riset selesai melakukan eksperimen lain di dalam.


 


 


“Ada apa?” tanyanya dengan sedikit kesal karena kedatangan rekannya tersebut. Memalingkan pandangan, ia mengeluh, “Aku sedang pusing mengurus penelitian tentang rekayasa genetik kentang dan jenis ubi-ubian supaya bisa tumbuh di tanah yang mengandung radiasi. Langsung saja ke intinya.”


 


 


Perempuan rambut cokelat ikat kucir itu tersentak mendapat tatapan tajam dari rekannya tersebut. Ia merapikan kacamatanya, sedikit merapikan jubah laboratoriumnya dan segera menyerahkan kertas laporan yang dibawanya.


 


 


“Kalau ini dipakai untuk penduduk, bukannya akan memakai ruang penghijauan? Bukannya Nartaya sudah mengeluarkan keputusan untuk penghijauan?” ucap perempuan berkacamata tersebut.


 


 


Menerima dan membaca dengan seksama laporan tersebut, perempuan dengan raut wajah ketus dan kantung mata menghitam tersebut menghela napas ringan. Ia menyingkirkan rambut poni pirangnya yang turun saat membaca laporan sambil menunduk, lalu dengan nada ringan berkata, “Ah, soal sistem B18? Itu .... ada perubahan dari atasan. Cabang lain telah menemukan sistem penanaman baru  di bidang terbatas. Aku tidak terlalu paham, tapi cara-cara tanam itu disebut hidroponik, tabulampot, dan vertikultlur .... Penemuan mereka telah disetujui dan dimasukkan ke dalam rencana. Aku di sini juga sedang diarahkan untuk menyelesaikan laporan lain terkait itu.”


 


 


“Cabang lain? Jangan bilang ....”


 


 


“Ya, Cabang Ma’tar. Cabang yang pemimpin penelitiannya tahun kemarin baru saja dijadikan selir oleh Raja kita ....”


 


 


“Tch! Dasar penjilat!” Mimik perempuan berkacamata itu seketika berubah kesal, memalingkan wajahnya dan menggerutu, “Apa dia menjual tubuh untuk bisa cepat promosi ....”


 


 


“Kurasa bukan ....” Perempuan rambut pirang memutar bola matanya ke samping, lalu dengan nada sedikit malas berkata, “Penelitiannya, kecerdasan orang itu memang asli. Dia juga sudah mendapat kepercayaan dari Rhea untuk memegang salah satu ruang penelitian tingkat SS di basement bangunan ini ....”


 


 


“Di ... bawa sini ada tingkat keamanan SS?”


 


 


Sarjana berkacamata itu terkejut, menatap menganga dan benar-benar baru tahu hal tersebut. Dalam tingkat pembagian informasi, memang tingkat keamanan dibagi ke beberapa tingkat dan tingkat SS merupakan salah satu yang tertinggi.


 


 


“Ah, pangkatmu masih belum bisa mengakses informasi itu, ya?” Perempuan dengan kantung mata menghitam sedikit menarik napas lelah, menepuk pundak rekan di hadapannya dan berkata, “Maaf, aku tidak bisa memberitahumu lebih lanjut .... Saat pangkatmu memenuhi syarat, aku dengan senang hati membagi info ini denganmu ....”


 


 


“Hmm ....” Perempuan berkacamata itu hanya terdiam, menundukkan wajah dan merasa kecil karena ia hanya bisa mengakses informasi tingkat B saja dan itu butuh proses administrasi yang sangat panjang.


 


 


“Sudahlah ....” Perempuan dengan kantung mata menghitam segera menepuk kepala rekannya, lalu dengan nada ringan berkata, “Kembali ke ruangmu dan urus yang lain. Setelah aku membahas laporan ini dengan pimpinan riset, aku akan kembali dan melanjutkan perancangannya ....”


 


 


“Ba-Baiklah, senior ....”


 


 


Pembatasan informasi semacam itu merupakan hal yang wajar. Bukan hanya di laboratorium tersebut, namun pada semua tempat penelitian di Moloia. Informasi — Pengetahuan merupakan hal yang paling berharga bagi bangsa Moloia. Mereka menghargai itu karena sadar hal tersebut dapat mengubah arus politik, sosial, ekonomi, bahkan tatapan budaya yang ada.


.


.


.


.


Di bawah bangunan laboratorium tersebut, terdapat sebuah tempat penelitian khusus dengan akses informasi tingkat tinggi di kerajaan Moloia. Tidak banyak orang yang tahu keberadaannya apalagi penelitian apa yang dilakukan di tempat tersebut, bahkan yang bekerja di sana hanya segelintir orang terpilih dan tidak benar-benar paham apa yang sebenarnya sedang mereka tuju dalam penelitian di laboratorium bawah tanah tersebut.


 


 


Sistem pembagian pekerjaan yang diterapkan benar-benar ketat, lajur informasi yang ada sangat teratur dan terbatas, bahkan letaknya saja merupakan informasi tingkat S di Moloia. Tempat itu dibangun jauh sebelum laboratorium di permukaan berdiri, dan merupakan salah satu reruntuhan kuno yang direkonstruksi menjadi sebuah tempat penelitian.


 


 


Tak jauh berbeda dengan yang ada di permukaan, tempat tersebut memiliki lorong-lorong yang memisahkan antar ruangan satu dengan yang lain, lampu pijar yang bersumber daya listrik, lantai dan dinding besi serta beton, dan beberapa sarjana serta mekanis yang sedang lalu-lalang di lorong atau mengerjakan penelitian dengan kelompok-kelompok mereka di dalam ruangan.


 


 


Berbeda dengan laboratorium yang ada di permukaan, tidak ada orang militer pada tempat tersebut — Hanya sarjana dan teknisi terpilih yang ada. Pada ujung lorong utama, terdapat sebuah pintu baja dengan pengamanan ketat menggunakan kata pemindai wajah dan bio-elektrik. Ruangan di balik pintu tersebut adalah jantung dari laboratorium, tempat penelitian utama dilakukan dan sebuah informasi tingkat tinggi yang bahkan pihak keluarga kerajaan tidak boleh tahu. Karena apa yang tersimpan di dalam sana termasuk dalam Perjanjian Utama terkait Hak Khusus para A.I.


 


 


Salah satu anggota tempat penelitian itu berjalan di lorong utama, melewati ruangan-ruangan yang di dalamnya terlihat sibuk orang-orang dengan pekerjaan mereka masing-masing. Anggota yang bisa berjalan bebas tanpa pengawasan dari anggota lain itu adalah Laura Sam’kloi, seorang High Elf dan Letda Pasukan Peri yang baru saja dibubarkan setelah perang sipil berakhir.


 


 


Mata hijau zamrud perempuan itu melirik tajam ke salah satu ruangan, sedikit menyipitkan dan tetap melangkahkan kaki dengan suasana hati yang bercampur aduk. Apa yang diteliti pada tempat tersebut adalah sebuah rekayasa genetik. Bukan tumbuhan atau hewan, namun manusia dan ras dengan kecerdasan setara dengan manusia atau lebih tinggi.


 


 


Beberapa tabung kaca berisi Khimaira gagal yang dibekukan di dalam ruangan-ruangan, itu terlihat menjijikkan dan tidak bisa dikatakan makhluk hidup karena terlalu kacau bentuknya. Pada beberapa ruangan, Laura melihat anak-anak yang sedang bercanda gurau dengan beberapa sarjana.


 


 


Suara tawa anak-anak tersebut yang merembes keluar dari ruangan masuk ke telinga Laura, membuatnya tambah muram dan mempertanyakan apakah tempat tersebut benar-benar pantas untuk dipertahankan setelah masa peperangan berakhir. Menggelengkan kepala, dirinya paham memikirkan hal tersebut adalah percuma karena dirinya sudah masuk terlanjur masuk ke dalam dosa tersebut sejak lama.


 


 


Meski begitu, jauh dalam benaknya ....


 


 


“Ini Biadab ..., sangat biadab. Mereka benar-benar menggunakan anak-anak korban perang untuk bahannya ....”


 


 


Meski hatinya bercampur aduk, perempuan rambut pirang itu sudah terlalu terbiasa untuk acuh. Ia mengerti dunia adalah tempat yang kejam, orang bisa mendapat kebahagiaan dan tertawa karena ada yang menderita. Keseimbangan tersebut benar-benar nyata, terutama untuknya yang sudah hidup ratusan tahun.


 


 


Laura berdiri di hadapan pintu baja dengan pengamanan tingkat tinggi, dengan cepat sensor merespons dan kamera memindai wajah Laura serta memeriksa gelombang bio-elektromagnetik yang dipancarkan otak perempuan itu. Terdengar beberapa suara dari pengaman yang terbuka, lalu pintu tersebut dengan cepat bergeser masuk ke samping.


 


 


“Biarlah, lagi pula mereka bukan urusanku,” gumam Laura seraya melangkah masuk. Pintu dengan cepat tertutup kembali, beberapa pengaman dan kunci seketika aktif dan dalam hitungan kurang dari dua detik pintu baja tersebut tertutup rapat.


 


 


Lantai dengan permukaan logam berwarna metalik, dinding putih murni dari keramik unik yang tahan getaran dan perubahan suhu. Di balik pintu baja laboratorium rahasia itu, terdapat sebuah lorong menurun yang mengarah pada sebuah reruntuhan yang dulu menjadi tempat dimana Mahia Sistem dan salah satu A.I ditemukan.


 


 


Meski di sebut reruntuhan, tempat tersebut benar-benar futuristik dan dari tingkat teknologinya melebihi laboratorium yang ada di permukaan atau bahkan semua negeri yang ada di daratan Moloia. Setelah melewati lorong dari pintu masuk dengan keamanan tingkat tinggi, Laura sampai pada sebuah lingkungan yang benar-benar berbeda dari peradaban yang ada di permukaan.


 


 


Hanya ada satu ruangan yang dipenuhi kabel, permukaan dan dinding sama seperti yang ada di lorong namun terdapat panel-panel digital yang penuh dengan ratusan angkat dan huruf yang bergerak-gerak mengikuti algoritma rumit. Itu bagaikan tempat pemrosesan informasi raksasa, sebuah CPU yang mengolah data dari laboratorium di permukaan dan seluruh kerajaan Moloia.


 


 


Melangkahkan kaki di tempat tersebut, High Elf yang mengenakan gaun pendek hijau pucat tersebut mencari seseorang yang memanggilnya datang. Meski hanya ada satu ruangan luas, namun ruang tersebut cukup petang karena kurangnya pencahayaan. Namun saat kembali berjalan ke depan, seluruh lampu ruangan itu tiba-tiba menyala dan membuat mata Laura terpejam sesaat karena silau.


 


 


Perlahan membuka mata, wujud asli tempat tersebut nampak jelas di matanya. Di antara kabel-kabel yang menjalar di permukaan lantai, terdapat beberapa tabung kaca besar berisi cairan berwarna hijau gelap. Kembali melangkahkan kaki dan mendekat, apa yang ada di dalam tabung itu mulai nampak dengan jelas.


 


 


“Ini ... Manusia?” Laura menyentuh permukaan tabung besar tersebut, mengamati apa yang ada di dalam dan sekilas melihat beberapa panel dan tombol yang ada. Di dalam tabung tersebut benar-benar terlihat seperti manusia, anak perempuan yang lemah dengan kulit pucat dan rambut ungu pudar. “Sepertinya bukan Khimaira, apa ... ras yang genetiknya direkayasa lagi?” gumam High Elf tersebut.


 


 


 


 


Laura segera menoleh, melihat ke arah suara yang datang dari balik beberapa tabung penstabil tersebut. Di antara kabel-kabel yang ada, duduk seorang perempuan kurus di atas kursi roda otomatis yang terhubung langsung dengan saraf tulang belakangnya. Rambut ungu pudarnya sampai punggung, namun cukup jarang dan ada beberapa yang rontok.


 


 


Saat perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap dengan sorot mata merah, Laura tertegun dengan keringat mulai bercucuran. Ia mengenal perempuan tersebut, namun dirinya tidak menyangka akan melihatnya dalam kondisi seperti itu.


 


 


“Master Or’iama ...?”


 


 


“Ya ..., ini diriku, wahai salah satu karyaku.”


 


 


Beberapa kabel yang terhubung pada kursi roda Or’iama terlepas, lalu wanita kurus itu menggerakkan kursi roda tempatnya duduk layaknya itu bagian tubuhnya. Sampai di hadapan Laura, wanita yang mengenakan gaun putih panjang dengan bagian punggung terbuka itu mengulurkan tangannya.


 


 


Laura segera berlutut patuh di hadapan, menatap gemetar dan sekilas merasa sedih dalam benak. Laura memang membenci tindakan Or’iama yang menganggap makhluk hidup sebagai bahan percobaan dan tidak menghargai kehidupan. Namun di mata Laura, wanita itu adalah sosok yang bisa disebutnya orang tua.


 


 


“Kenapa ... Master Or’iama bisa sampai seperti ini? Bukannya ....”


 


 


Sembari menyentuh pipi Laura, wanita kurus itu menjawab, “Mahia hanya memberikan umur panjang, bukan keabadian. Waktuku hampir habis ....”


 


 


“Master ....”


 


 


Mata Laura berkaca-kaca. Meski dirinya sudah terbiasa kehilangan, tetapi tetap saja ia merasa tidak rela. Sosok yang ada di hadapannya adalah orang yang benar-benar menunjukkan dunia kepadanya, memberikannya arti hidup setelah kehilangan orang tua kandung dan mengajarinya banyak hal tentang dunia.


 


 


“Apa ... dirimu tak rela?” tanya Or’iama dengan suara lemas.


 


 


“Tentu saja! Aku ....”


 


 


“Sekuat, sepandai, atau secerdik apapun seseorang, semuanya akan binasa di hadapan sang waktu. Dimana ada pertemuan, di sana ada perpisahan ....”


 


 


“Tapi ....” Laura memegang erat tangan kurus yang menyentuh pipinya, mulai meneteskan mata dan tersedu. Kering seperti kertas, rapuh seperti ranting, tangan yang dulu biasa mengelus kepalanya itu terasa begitu lemah.


 


 


Or’iama tersenyum kaku, ia mengangkat tangannya dari Laura dan menyentuh tabung kaca yang sebelumnya dilihat oleh High Elf tersebut. Dengan suara lemas, wanita dengan kulit keriput itu berkata, “Jika dirimu tak merelakan perpisahan ini, jagalah anak yang ada di dalam tabung ini baik-baik ....”


 


 


“Anak ...?” Laura berdiri, melihat ke dalam tabung tempat seorang anak kecil yang terlihat sangat rapuh itu tersimpan.


 


 


“Tabung ini semacam janin imitasi, tempat untuk menciptakan kehidupan .... Dia adalah salinan dari peta genetikku.”


 


 


Sekilas Laura terdiam, melihat ke tabung yang lain dan bertanya, “Apa ... mereka semua juga?”


 


 


“Mereka bukan .... Mereka, ya .... Mungkin kau tidak suka dengan kata ini, tapi mereka memang adalah produk gagal.”


 


 


Laura sedikit tersentak, amarah tumbuh dan ia ingin mendebat sosok rapuh di hadapannya. Namun saat melihat raut wajah keriput wanita rambut ungu tersebut, High Elf itu mengurungkan niat dan memalingkan pandangannya.


 


 


“Memangnya ... apa perbedaan mereka?”


 


 


Sembari memasang senyum lega, Or’iama menatap lurus Laura dan menjawab, “Anak ini mewarisi 60% D.N.A-ku dan 40% D.N.A Raja kita, paling tinggi dan bisa dikatakan salinan yang hampir sempurna.”


 


 


“Ra ... ja?” Laura menatap dengan pucat.


 


 


Kembali tersenyum kecil, Or’iama melihat ke arah anak di dalam tabung dan berkata, “Ya .... Engkau tahu kalau diriku menjadi selirnya, bukan?”


 


 


“Jangan bilang ... anda tidur dengannya dan mengambil ....”


 


 


“Bicara apa dirimu ini?” Or’iama sedikit memasang wajah ketus, lalu dengan nada tersinggung berkata, “Mana mungkin Raja itu mau tidur dengan wanita rapuh seperti ini? Diriku hanya mengambil sampel darahnya dari istana keluarga kerajaan, lalu menyalin peta genetiknya dan menggabungnya denganku ....”


 


 


“Lalu ..., jadilah salinan ini?” Laura menyentuh permukaan kaca tempat klon tersebut itu berada, mengamati dan benar-benar merasakan kemiripan dengan sosok Or’iama saat masih muda dulu.


 


 


“Ya .... Anak ini memiliki akses Mahia Sistem yang sangat tinggi, mungkin melebihi Raja yang sekarang tingkat kemurnian gennya sangat rendah karena mulai pudar setelah beberapa generasi.”


 


 


Laura kembali terkejut, mulai mengira-ngira untuk apa salinan tersebut diciptakan. Menatap dengan cemas, perempuan rambut pirang itu bertanya, “Bu-Bukannya itu akan mengakibatkan konflik? Kalau keluarga kerajaan tahu hal ini, mereka bisa-bisa .... Nartaya dan Moska bisa menekan pergerakan Rhea, itu juga bisa mempengaruhi anda ....”


 


 


“Tenang saja, tidak ada yang tahu ini selain diriku ini, Rhea, dan sekarang dirimu ....”


 


 


Laura memasang wajah tak suka. Meski ia paham sifat Or’iama karena telah bersamanya dalam waktu yang tidak sebentar, tetap saja dirinya tidak bisa suka saat masternya tersebut mengambil keputusan secara sepihak.


 


 


“Kenapa ... Master memberitahuku?” tanya Laura dengan serius.


 


 


“Seperti yang dirimu tahu, waktu wanita tua ini sudah hampir habis. Dengar ini baik-baik, Laura. Jika engkau tidak rela perpisahan ini, lindungi keberadaan anak ini sampai ia remaja, lalu ... bunuh dia.”


 


 


“Bu-Bunuh?!!” Laura terkejut, melangkah mundur dan menatap pucat anak di dalam tabung.


 


 


“Ya .... Tentu, jangan sampai tubuhnya rusak. Pastikan anak ini mati dengan damai, biarkan ia menikmati masa hidup layaknya anak-anak pada umumnya .... Saat ia mati, kepribadiannya akan hancur dan digantikan olehku. Dengan kata lain, aku akan menjadi dirinya .... Namun jika dirimu merelakan kematianku ini, jagalah ia sampai dewasa, sampai dia tua dan meninggal karena usia.”


 


 


“Ke-Kenapa serumit itu? Apa ... waktu kematian ada perbedaannya?”


 


 


“Ada .... Saat dewasa, informasinya dari susunan kepribadian akan kuat melekat pada anak ini. Membuatnya utuh sebagai individu, sebagai seorang perempuan yang memiliki tujuan kuat .... Kalau sudah seperti itu, kepribadianku hanya akan berubah menjadi informasi baginya ....”


 


 


Rasa takut dan cemas pada benak Laura digantikan dengan kebingungan, ia berhenti gemetar dan menatap dengan tajam. Sedikit menyipitkan mata, ia bertanya, “Kenapa ... anda memberitahukan hal seperti ini padaku? Kenapa anda ... tidak langsung memerintahkannya langsung? Bunuh anak ini saat remaja ..., seperti itu?”


 


 


“Dirimu tahu, aku memang tak menghargai kehidupan. Namun, berkatmu yang selalu mendebatku ..., hal seperti itu mulai meresap dalam benak. Aku sudah putus asa pada dunia ini, sejak hari ini aku sudah menyerah untuk percaya pada dunia. Namun, anak ini tidak .... Aku berharap ia memilih jalannya sendiri .... Masa peperangan kejam telah berakhir, diriku ini ingin mempertaruhkan masa depan pada generasi berikutnya. Karena itu ... Laura, maukah engkau menjaganya untukku? Ini perintah sekaligus permintaan terakhirku.”


 


 


Mulut Laura yang ingin menolaknya mentah-mentah tidak bisa terbuka, rasa aneh dalam benak menguasai dan ia memalingkan wajahnya. Terdiam sesaat, mengingat waktu yang dihabiskan bersama Or’iama. Pertemuan di dalam sebuah pembantaian, kematian yang mulai meresap sampai menjadi hal biasa, dan pertengkaran yang sering terjadi. Memang kebanyakan momen yang dirinya habiskan dengan wanita tua itu sangat buruk bagi Laura, namun anehnya itu terasa sangat berharga.


 


 


Dengan sedikit kaku, High Elf tersebut menjawab, “Ba ...iklah .... Aku ... akan menjaganya, Master.”


 


 


“Terima kasih .... Datanglah ke sini dua bulan dari sekarang, masa penyesuaiannya akan selesai dan mungkin diriku sudah ....”


 


 


“.....” Laura terdiam, paham waktu Or’iama tidak lama lagi. Menarik napas dalam-dalam, ia menatap masternya dan untuk terakhir kalinya bertanya, “Kalau boleh tahu, siapa nama anak ini?”


 


 


“Nama, ya .... Bagaimana kalau Ulla .... Ulla Vrog Ma’tar. Diriku ini ingin ia tumbuh menjadi anak yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi. Nama Ma’tar adalah berkah dari negeri ini, sebuah milik ibu yang akan selalu dilindungi dengan kasih sayang ....”