
Matahari telah sampai pada batas tertinggi, teriknya sinar di tengah hari menjadi waktu istirahat orang-orang yang lalu-lalang kota pesisir itu. Ada yang memilih untuk meneduh ke rumah makan, bar atau pulang ke rumah mereka masing-masing yang bertempat tinggal dekat dengan tempat kerja. Pada toko perusahaan Ordoxi Nigrum di distrik perniagaan, Nanra, Arca dan ketiga bawahannya berkumpul untuk membahas agenda yang masih harus di lakukan pada hari ini juga.
Setelah berkeliling pasar dan mengumpulkan barang-barang selama lebih dari dua jam, kelima orang tersebut melakukan rapat untuk meninjau pembagian tugas demi mengefisienkan proses penyelesaian rencana. Mereka duduk di lantai ruang luas pada lantai satu toko, tanpa ada kursi yang bisa digunakan.
Di pojok ruangan terlihat beberapa karung kain berisi roti tawar berkualitas rendah dan ada juga karung berisi beberapa kilo daging sapi yang telah mereka beli sebelum datang ke toko tersebut. Arca duduk sila berhadapan dengan Nanra yang duduk bersimpuh, sedangkan ketiga bawahannya duduk di belakang pemuda yang mengenakan jas berwarna merah gelap tersebut.
Meletakkan ke lantai kantung kecil berisi sisa uang koin yang Arca dapat dari Dwarf yang ditemuinya beberapa jam lalu, pemuda itu berkata, “Dari 2.000 Rupl yang kita miliki sebelumnya, hanya tersisa dua koin perak besar. Memangnya untuk apa roti murah dan daging sapi itu?” Arca menunjuk ke arah tiga tumpuk karung di sudut ruangan, merasa kalau semua itu tidak layak untuk dijual kembali atau diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
Nanra sedikit tersenyum ringan, lalu mengacungkan jari ke depan mulutnya sendiri dan berkata, “Tenang saja, itu sesuai dengan keinginan Odo. Lagi pula uang yang digunakan itu juga milik Odo, bukan?”
“Memang ....” Arca berhenti menunjuk, memasang ekspresi sedikit cemas dan meragukan, “Tapi, bukannya ini aneh? Di agenda seharusnya kita sekarang sedang mengajak beberapa imigran gelap untuk bekerja di bawah naungkan kita?”
“Memangnya kerja apa?” Nanra menajamkan tatapan, lalu dengan nada menekan ia berkata, “Kita bahkan belum punya pekerjaan untuk mereka.”
“Kita bisa menyuruh mereka untuk membereskan tempat ini.” Arca kembali mengambil uang koin dan memasukkannya ke kantong, lalu menyentuh permukaan lantai dengan jari telunjuk dan berkata, “Seperti yang kau lihat, tempat ini masih penuh debu konstruksi dan banyak kotoran.”
Nanra sekilas mengamati ruangan, mencolek debu pada lantai dengan ujung jari dan sedikit setuju dengan saran Arca. Mengangguk satu kali, anak perempuan rambut putih keperakan itu menunjuk perempuan rambut cokelat keemasan di belakang Arca dan dengan tegas berkata, “Kalau begitu, bisa Tuan Arca minta pelayan itu untuk membersihkan tempat ini?”
“Hah?” Kening Arca sedikit mengerut.
Nanra bangun, membersihkan gaunnya dari debu dan berkata, “Kita sekarang akan pergi ke tempat imigran gelap. Odo sudah melakukan kontak dengan salah satu dari mereka, kurasa membujuk orang-orang itu tidak memerlukan waktu lama.”
“Tunggu sebentar!” Arca ikut bangun, menatap heran dan bertanya, “Sudah?”
“Ya, sudah. Saya sendiri kurang tahu kapan, namun Odo sudah pernah bicara dengan salah satu keluarga imigran gelap dan membantu mereka.”
“Apa Odo juga sudah menawarkan pekerjaan?”
“Sepertinya belum .... Karena itu, kita yang akan menawarkan pekerjaannya pada mereka. Menggunakan nama Odo sebagai wajah depan.”
Arca terdiam, mulai paham kenapa Odo sebelumnya menyampaikan untuk menggunakan namanya dalam merekrut para imigran gelap. Sedikit menatap datar dan memikirkan hal lain, pemuda rambut cokelat itu menatap ke arah tumpukan karung di sudut ruang dan memang merasa heran dengan semua itu.
“Nona Nanra, apa pekerjaan mereka ada hubungannya dengan roti-roti tawar dan daging sapi itu?”
“Ya, sepertinya. Itu akan menjadi bahan makanan.”
“Bahan makanan?”
“Resepnya masih dipegang Odo, dia tidak memberitahukan itu pada saya.”
Arca merasa aneh mendengar itu karena seharusnya Odo tidak bisa datang ke kota Mylta karena sedang menjadi tahanan rumah. “Kalau Nanra juga tidak tahu, siapa yang tahu cara pengolahannya? Apa akan ada orang lain lagi yang telah disiapkan Odo dan tiba-tiba datang seperti Dwarf waktu itu?” benak Arca seraya memalingkan pandangan.
“Oh, iya.” Kedua alis Nanra sekilas terangkat, mengingat sesuatu dan ia berkata, “Bisa tolong Tuan Arca perintahkan salah satu Butler anda untuk memanggil dua orang yang ada di penginapan Porzan? Itu ..., dua orang yang itu ....”
“Tox— Maksudku, Matius Mitus dan Isla Tenebris?”
“Iya!” Nanra mengangguk, lalu menunjuk Arca dan berkata, “Mereka .... Anda juga tahu soal itu rupanya.”
“Ya, kurang lebih.”
Berhenti menunjuk dan sedikit memasang senyum tipis, anak perempuan itu melipat kedua tangannya ke belakang pinggang dan berkata, “Anak mereka juga boleh dibawa, bilang kalau mereka akan pindah ke toko ini di lantai tiga.”
Arca sesaat terdiam, mempertimbangkan banyak hal dan merasa pengetahuan perempuan di hadapannya lebih banyak daripada dirinya. Sedikit mengerti hierarki yang ada, putra keluarga Rein itu menghela napas ringan dan berkata, “Baiklah ....”
Melihat ke arah salah satu Butler pribadinya yang masih duduk, Arca memerintah, “Logi, kau yang pergi. Bilang saja seperti yang Nona Nanra perintah.”
“Siap, Tuanku!” jawab Butler tersebut seraya berdiri. Dua orang yang masih duduk pun ikut bangun, merasa sedikit heran dengan sifat Arca yang cenderung patuh dan tidak menunjukkan kesombongan yang biasa pemuda itu perlihatkan.
“Satu lagi!” Nanra mengacungkan jari telunjuk ke depan dada, lalu dengan nada mengingatkan ia berkata, “Ini untuk furnitur .... Kira-kira siapa yang paling paham soal itu? Odo meminta kita untuk memeriksa harga dan kalau ada yang murah untuk beli itu, bukan?”
“Benar juga ....” Arca mengangguk, sembari menatap Nanra ia mempertimbangkan beberapa hal dan berkata, “Sekarang sudah mau sore dan kebanyakan toko di distrik pengrajin akan tutup saat pukul tiga nanti.”
“Saya cukup ahli memeriksa kualitas furnitur, Tuanku,” ucap Logi.
“Eng?” Arca dan Nanra menatap ke arah salah satu Butler tersebut. Memegang dagu dan memikirkan alternatif, Arca Rein berkata, “Kalau begitu, kau saja yang memeriksa harga-harganya dan kalau ada yang murah sekalian pesan. Bilang saja pembayarannya akan dilakukan saat barangnya datang. Untuk menjemput mereka yang ada di penginapan ....”
Arca menatap ke arah Butler satunya, lalu sembari menunjuk ia memerintah, “Ligh, kau yang ke sana!”
“Siap, Tuan Arca.”
“Hmm!” Nanra meletakkan kedua tangan ke pinggan dan membusungkan dada, dengan rasa bangga ia berkata, “Pembagian tugas selesai, kalau begitu kita berangkat. Saya dan Arca akan bicara dengan salah satu keluarga imigran gelap. Untuk kuncinya, sebaiknya dipegang pelayan—a”
Perkataan Nanra terhenti, baru sadar kalau dirinya mengenal keempat orang di hadapannya dengan jelas. Ia menatap, mengingat-ingat mereka selama pembicaraan dan hanya ada satu orang yang sama sekali dirinya tidak dengar namanya. Menatap ke arah perempuan berseragam pelayan di belakang Arca, gadis itu dengan ramah bertanya, “Nama Mbak siapa, ya?”
“Elulu ....” Perempuan itu menatap dengan ekspresi datar, ia terlihat sulit bicara karena mulutnya terluka. Berusaha menjawab dengan baik, perempuan itu kembali berkata, “Nama saya ... Elulu Indul Kalama.”
Nanra sekilas melihat gigi perempuan itu ada yang lepas dan bibirnya terluka. Mengurung dalam-dalam hasrat untuk bertanya karena merasa hal buruk di balik alasan tersebut, anak gadis mengambil kunci toko dan dengan senyuman berkata, “Kalau begitu, tolong jaga toko ini selama kami pergi.”
“Baiklah ....”
.
.
.
.
Saat hari menjelang sore dan setelah istirahat beberapa puluh menit di toko, Arca dan Nanra baru keluar dari bangunan tersebut tepat setelah Logi dan Ligh pergi untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan pada mereka. Meninggalkan Elulu sendirian di bangunan pada ujung distrik perniagaan tersebut, pemuda rambut cokelat dan gadis rambut putih keperakan itu berjalan di jalan utama distrik sembari melihat-lihat ke arah gang yang ada di setiap sela antar bangunan.
Tempat sepanjang mereka berjalan masihlah ramai, distrik perniagaan dengan masa operasional rata-rata dari pukul dari 08.00 pagi sampai 19.00 malam tersebut akan terus dipenuhi orang-orang sampai matahari terbenam. Lalu-lalang gerobak menjadi pusat keramaian di tengah jalan, sedangkan di pinggiran dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan atau membuka stan di depan toko mereka untuk meraup keuntungan lebih dengan beraneka ragam produk jualan.
Arca melihat ke arah jejeran lapak pedagang kecil yang menjual dari sayur, herbal, hasil ladang seperti jagung kering, kacang, beraneka ragam tepung, daging dan sampai makanan siap santap seperti ikan asap dan olahan hasil laut lainnya. Nanra sekilas melirik kecil ke arah pemuda yang terlihat sangat tertarik seakan baru melihat hal-hal tersebut, gadis itu menghela napas dan kembali melihat ke arah gang-gang yang ada untuk kembali mencari.
Menatap ke arah salah satu buruh yang sedang mengangkut karung dari atas gerobak ke dalam sebuah toko roti melalui pintu belakang, langkah kaki Nanra terhenti. Ciri-ciri pria Demi-human yang dilihatnya itu terlihat mirip dengan ciri-ciri yang Odo sampaikan dalam paket informasi. Demi-human tipe garbil, rambut krem dengan corak cokelat hitam yang dikuncir ke belakang.
Menarik lengan pakaian Arca dengan kasar dan menghentikannya melangkah, gadis itu menunjuk ke arah buruh yang dilihatnya dan berkata, “Tuan Arca! Apa ... dia orangnya?”
“Hmm?” Arca memalingkan wajah dan menatap ke arah orang yang Nanra tunjuk. Karena dirinya tidak tahu menahu soal orang yang sedang gadis itu cari, tentu saja pemuda itu memasang ekspresi datar dan berkata, “Mana aku tahu, yang kenal bukannya kamu?”
“Saya juga tidak kenal, hanya sebatas tahu ....”
“Kita coba, percuma kalau diam terus. Itu hanya buang-buang waktu.”
Arca melangkahkan kakinya dan menghampiri Demi-human yang sedang mengangkat karung-karung tepung dari gerobak itu. Nanra sekilas terdiam dan sedikit paham kelebihan pria itu, ia memalingkan pandangan dengan sedikit resah dan mulai mengerti kenapa Odo memilihnya untuk menjadi manajer dalam rencana progresif kota.
Demi-human yang sedang mengangkat karung itu menoleh, langkah kakinya terhenti dan menatap dengan sorot mata bingung. Segera tahu dan kenal dengan pemuda yang sebelumnya pernah naik ke panggung eksekusi pemimpin bandit beberapa hari lalu, buruh tersebut dengan cepat mengacuhkan Arca karena tak ingin terlibat dengan masalah dan kembali berjalan ke arah pintu belakang toko roti sembari membawa karung tepung di punggung.
“Apa itu caramu membalas kebaikan orang yang pernah menolongmu?” ucap Arca dengan nada menekan.
Itu membuat Demi-human itu kembali terhenti, sekilas bingung dan tidak mengerti apa yang diucapkan pemuda itu. Arca menepuk pundak kiri pria itu yang tidak digunakan untuk memanggul karung, lalu mendekatkan wajah ke telinga dan berkata, “Aku utusan orang yang dulu pernah memberikan obat pada keluargamu saat musim dingin.”
“Kau?” Pria dengan pakaian kumuh itu berbalik, menatap datar dan terlihat tidak percaya.
“Ya ....” Arca sekilas tersenyum tipis dan mengambil satu langkah mundur, lalu sembari mengulurkan tangan ia berkata, “Aku datang untuk bicara. Jangan cemas, ini hanya pembicaraan kecil. Bisa aku minta waktu bapak sebentar?”
Pria Demi-human itu terlihat ragu. Namun mempertimbangkan kebaikan orang yang pernah memberikan adik terkecilnya obat, ia menganggukkan kepala dan menjawab, “Baiklah. Tapi —”
“Apa yang kau lakukan, Totto!! Cepat angkut barang-barangnya!” perintah seseorang pedagang gendut yang duduk gerobak penuh karung tepung.
“Tunggu sampai aku selesai mengangkut karung-karung ini ....”
Arca sekilas ingin menggunakan wewenangnya dan membuat pedagang yang menyela pembicaraan itu bungkam. Namun mempertimbangkan beberapa hal, ia menatap Demi-human tipe garbil tersebut dengan ramah dan berkata, “Baiklah. Akan aku tunggu ....”
Pria rambut krem itu pun kembali bekerja mengangkut kantung-kantung tepung. Nanra yang melihat hal tersebut mendekat ke Arca, lalu bertanya, “Bagaimana? Apa benar dia orangnya, Tuan Arca?”
“Ya, sepertinya memang benar.” Arca menatap ringan gadis di sebelah kanannya, lalu dengan nada sedikit kesal berkata, “Katanya nanti dia mau bicara setelah menyelesaikan pekerjaannya.”
Sekitar setengah jam berlalu dan pekerjaan Demi-human itu selesai. Mereka tidak langsung berbicara di depan toko roti tersebut, namun masuk ke dalam gang yang ada di antara bangunan toko roti dan toko di sampingnya. Itu terlihat sangat kumuh, tidak terawat dan aroma tak sedap sekilas tercium pekat untuk mereka yang tak terbiasa dengan bau seperti itu.
Sesampainya mereka di gang tersebut, Arca terkejut karena itulah tempat tinggal sang buruh. Demi-human yang memiliki ciri telinga dan ekor tikus gurun tersebut memiliki tiga orang adik yang semuanya perempuan, dengan umur berbeda-beda dari belasan sampai di bawah sepuluh tahun. Pakaian mereka sangat kotor, wajah mereka penuh debu dan kusam, terlihat kurus dan benar-benar membuat Arca Rein tertegun.
Nanra sekilas melirik ke arah pemuda di sebelahnya, memastikan kalau Arca memang tidak pernah melihat langsung kondisi orang-orang seperti itu di pelosok kota pesisir. Menepuk pinggan pemuda itu dengan keras dan membuatnya tersentak, gadis itu berkata, “Jangan bengong! Ini tugasmu, Tuan Arca ....”
“Ya ....”
Pemuda itu berjalan masuk ke dalam gang sempit tersebut, mengamati mereka dengan tatapan iba dan benar-benar tak tega saat memikirkan bahwa hampir semua imigran gelap hidup seperti keluarga Demi-human itu dan bahkan ada yang lebih buruk. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha tidak memedulikan aroma tak sedap, pemuda itu memberikan ekspresi ramah kepada empat Demi-human tipe garbil tersebut.
“Namaku Arca Rein .... Kalau boleh, bisa aku tahu nama kalian?”
Tidak ada dari mereka yang langsung menjawab, bahkan pria yang mengajak ke dalam gang tersebut menatap dengan sorot mata penuh kecurigaan. Ia berjalan ke arah kain jubah yang menutupi tubuh adik perempuan terkecilnya, lalu mengambil sebuah botol kaca dari balik itu dan kembali ke hadapan Arca.
“Aku kembalikan ini,” ucap pria itu sembari menyodorkan botol tersebut. “Kata penyihir muda itu, botol ini harganya mahal.”
“Ya ....” Arca menerima itu, sekilas tersenyum karena memastikan bahwa Odo memang pernah memberi bantuan pada mereka. Melongok ke arah adik-adik pria itu yang berdiri di belakangnya dengan wajah takut, Arca Rein bertanya, “Apa ... adikmu sudah sembuh?”
“Tak usah berkelit, Tuan. Untuk apa kau datang? Bukannya kau orang yang mencari masalah dengan penyihir muda itu?” tanya pria tersebut.
Rein terkejut, menggaruk bagian belakang kepala dan sedikit menghela napas sembari bertanya, “Kabar itu sudah menyebar ke seluruh kota ini, ya?”
“Tentu saja, itu duel yang bahkan membuat Orang Suci di kerajaan ini sampai keluar dari kediamannya.”
“Apa kau juga sudah tahu kalau penyihir muda yang menolongmu itu anak sang Saint itu?”
“Aku ... baru tahu saat mendengar kabarnya kemarin-kemarin.”
“Hmm!” Arca mengangguk paham, menegakkan tubuh dengan hela napas ringan dan berkata, “Diriku tahu rasa cemas dan kecurigaanmu. Tapi tenang saja! Aku bukan ingin mencari masalah atau balas dendam soal duel itu . Aku benar-benar datang sebagai utusannya. Kalau kau tidak percaya ....”
Arca menggenggam tangan Nanra, lalu mengangkat lengan kanan gadis itu untuk menunjukkan gelang hitam yang dikenakannya. Itu membuat gadis rambut putih keperaan tersebut terkejut, menarik tangannya dengan kasar dan menatap kesal pemuda rambut cokelat di sebelahnya.
Dengan kesal gadis itu membentak, “Apaan?!”
“Jangan marah begitu. Coba ambil sesuatu dari Gelang Dimensi itu, mungkin dia bisa percaya. Odo mungkin pernah mengambil obat dari penyimpanan pada gelang itu ....”
“Haah, begini?” Nanra menekan permukaan gelang, mengaktifkan penyimpanan dan mengambil sebuah potion dari Gelang Dimensi tersebut.
“I-Itu ... gelang yang dikenakan penyihir muda!”
Pria rambut krem tersebut terkejut, ia dan keluarganya pernah melihat Odo menggunakan gelang tersebut untuk mengambil potion dan selimut untuk mereka. Mengamati botol kaca yang dipegang Nanra, pria itu langsung tahu kalau itu sangat mirip dengan botol ramuan yang pernah dirinya terima.
“Apa kau percaya?” tanya Arca.
“Me-Memangnya kalian ingin apa? Apa Penyihir Muda itu ingin sesuatu dari kami?”
Arca sekilas tersenyum, merasa kalau inti pembicaraan sudah mulai bisa dilakukan. Memegang dagu dengan tangan kanan, pemuda itu menyipitkan mata dan berkata, “Aku di sini datang sebagai perwakilannya, untuk menawarkan kalian sebuah kehidupan yang lebih layak. Aku tanya, apa bapak muak hidup sebagai gelandangan di tempat seperti ini?”
“Itu ....”
Pria itu dan kedua adik perempuan yang usianya belasan tahun menundukkan wajah. Mereka memang merasa seperti itu, terlihat kecewa karena kehidupan mereka tidak berubah meski jalur perdagangan telah dibuka kembali. Anggota terkecil keluarga mereka keluar dari selimut jubah, lalu dengan lantang bertanya, “Aku tak suka terus tinggal di tempat ini!!”
Ketiga kakaknya menatap anak yang bahkan usianya belum mencapai satu dekade itu, merasakan hal yang serupa namun tidak bisa berbuat banyak karena memang seperti itulah nasib orang-orang yang tidak mendapat pengakuan warga negara oleh kerajaan Felixia. Arca sekilas tersenyum mendengar jawaban anak itu, mengulurkan kedua tangan ke depan sembari menawarkan.
“Kutanya padamu, kepala keluarga kecil ini! Orang yang paling tua di keluarga ini! Apa kalian muak hidup tertindas layaknya orang rendahan? Kalau iya, biarkan diriku ini mengeluarkan kalian dari kehidupan seperti itu .....”
Keluarga Demi-human itu terlihat bingung, penuh keraguan dan cemas dengan tawaran semacam itu. Mereka memang berharap bisa keluar dari kehidupan dan berhenti menjadi gelandangan, tetapi tetap saja mereka tak bisa langsung percaya pada bangsawan tersebut. Pria yang berperan sebagai tulang punggung keluarga kecil itu menatap lurus Arca, mencari kepastian dari perkataan pemuda itu dan bertanya, “Apa yang ingin Tuan inginkan? Ingin kami bekerja untuk Tuan? Kesetiaan? Tenaga? Atau ....”
“Akan kuberi semuanya!” jawab putra sulung keluarga Rien itu dengan penuh percaya diri. “Pekerjaan, kehidupan yang layak, dan kesejahteraan! Asal kalian bekerja sesuai apa yang kuperintahkan, akan kuberi semua itu.”
“Memangnya ... Tuan ingin mempekerjakan kami sebagai apa? Apa ... yang harus kami lakukan supaya bisa keluar dari kehidupan seperti ini? Kami ... sama sekali tidak memiliki keahlian. Apa yang bisa kami berikan hanya tenaga.”
Perkataan tersebut sama saja terdengar sebagai tanda setuju di telinga Arca. Meletakkan kedua tangan ke pinggang dan berdiri tegap, pemuda itu dengan angkuh berkata, “Tenang saja, ini mudah! Orang yang kulayani sudah menyiapkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Patuhi saja perkataanku, lalu kuberi makan dan sandang yang layak.”
Pada akhirnya, keluarga kecil itu setuju untuk menerima tawaran Arca dan hal tersebut dipastikan dengan ucapan kakak tertua mereka. Sebelum melakukan pembicaraan lebih lanjut terkait pekerjaan yang akan dilakukan keempat Demi-human tersebut, Arca dan Nanra mengajak mereka ke toko Ordoxi Nigrum dan sesampainya di sana memerintahkan mereka untuk membersihkan tubuh secara bergantian mengingat betapa dekilnya keempat Demi-human tersebut.
Seperti kompor dan lampu yang ada pada toko, kamar mandi juga menggunakan kristal sihir untuk sumber air dan memiliki struktur sirkuit yang terhubung dengan reaktor sihir tempat tersebut. Terdapat kolam untuk menampung air, lalu sumber dari air pada kolam tersebut berasal dari bola kaca yang digantung di atas kolam seperti lampu dan di dalamnya terdapat kristal beratribut air yang terhubung dengan sirkuit sihir di tempat tersebut.
Sesaat setelah para Demi-human itu membersihkan tubuh dan mendapat pakaian yang lebih layak berupa kemeja dan celana hitam yang diambil Nanra dari Gelang Dimensi, Logi yang sedari sore pergi untuk mencari mebel kembali dengan laporannya. Butler tersebut telah memesan beberapa meja dan kursi untuk toko, begitu pula meja dan kursi kerja untuk kantor di lantai dua. Semua mebel tersebut akan dikirim besok nanti karena alat angkutnya terbatas dan pembayaran juga akan dilakukan setelah barang sampai.
Di dalam ruangan tanpa kursi dan meja di lantai satu toko, semua orang berkumpul untuk membahas tugas masing-masing dan persiapan usaha. Nanra dan Arca berperan menjadi pemimpi dalam pembicaraan, lalu Ligh, Logi, Elulu, dan keluarga Demi-human yang baru saja masuk dalam anggota menjadi pendengar arahan yang diberikan. Matius Mitus dan Isla Tenebris, kedua keluarga mantan bandit yang telah pindah ke toko pun ikut dalam pembicaraan dan disamakan posisinya dengan keluarga Demi-human tipe gabril.
Pada tugas yang harus selesaikan sebelum malam tengah malam sangatlah sederhana, mereka hanya disuruh untuk memotong-motong roti tawar yang telah dibeli tadi siang menjadi dadu-dadu kucil dan mengolah daging sapi dengan mengiris-iris tipis supaya mudah dikeringkan. Tidak ada yang tahu pasti untuk apa pekerjaan itu dilakukan dan mau apa bahan makanan itu digunakan nantinya, namun mereka tetap menggerakkan tangan dan mengerjakan itu sampai pukul delapan malam. Tentu saja semua orang itu menginap di toko tersebut.