Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 35: Reş û Rabe 2 of 5 (Part 03)



 


 


Lima hari berlalu setelah pembasmian markas bandit pertama, dalam kurun waktu tersebut lebih setengah tujuan dari rencana pembasmian bandit sudah tercapai. Markas-markas bandit di teritorial kota Mylta sudah benar-benar dibereskan, dan pihak pemerintah kota itu pun sudah mulai memasuki teritorial kota tetangga untuk melakukan pembasmian lanjutan.


 


 


Rencana tersebut benar-benar berjalan dengan sangat mulus sampai semua yang mengikutinya sempat merinding. Lokasi, strategi, taktik, dan bahkan penanganan dari respons para bandit yang mulai sadar dengan pembasmian dilakukan dengan sangat tepat. Itu tidak seperti saat pembersihan bandit besar-besaran yang dilakukan oleh Tuan Tanah beberapa tahun lalu yang cenderung bermasalah.


 


 


Bagi mereka yang juga pernah ikut dalam rencana pembersihan beberapa tahun lalu jelas paham, apa yang membuatnya sangat berbeda seperti sekarang. Itu bukan karena jumlah bandit lebih sedikit atau mereka lengah, tetapi memang karena semua kerangka rencana yang diajukan pemuda itu sama sekali tidak memiliki celah. Bahkan untuk Lisia sendiri, hal tersebut sangatlah mengejutkan karena semua apa yang terjadi tepat seperti yang pemuda rambut hitam itu jelaskan pada malam sebelum keberangkatan.


 


 


Setelah berkeliling  selama lebih dari lima hari di wilayah kota Mylta untuk membantai para bandit, mereka beristirahat pada sebuah desa yang menjadi titik transit di daerah pegunungan Rockfield. Pihak pemerintah kota Mylta di sana mengisi persediaan, dengan waktu transit sekitar sehari untuk melanjutkan pembasmian yang belum selesai.


 


 


Desa tersebut memiliki koneksi dengan Lisia dan dirinya juga telah memesan beberapa persediaan di tempat itu sebelum rencana berlangsung. Sebagai pencetus rencana, Lisia menjamin kalau desa tersebut bisa dipercaya dan tidak akan membocorkan informasi meski diancam oleh bandit. Para prajurit yang memang merupakan bawahannya mempercayai itu tanpa ragu. Tetapi bagi pemburu dan penyihir yang tidak mengira kalau pembasmian akan menjadi misi yang berat, mereka sedikit mengeluh dan menunjukkan gelagat tak percaya.


 


 


Dalam rencana, mereka bukan berarti akan membantai seluruh bandit yang ada di wilayah Luke. Tetapi hanya pada tingkat sampai kelompok mereka bubar, terpencar menjadi penjarah-penjarah kecil yang tidak terorganisir dan membereskan itu secara bertahap pada rencana lain.


 


 


Tujuan utama dari rencana hanyalah membuka rute perdagangan dengan aman dari kota Mylta ke Rockfield, dan dengan itu secara otomatis jalur menuju kota Izta Maria yang berada di pusat wilayah Luke akan terbuka. Dengan terbukanya rute tersebut, jalur perdagangan yang berpusat pada kota Lignum akan terbebas untuk Mylta yang berada di ujung barat laut dari Kerajaan Felixia.


 


 


Di bawah langit cerah yang dihiasi dengan bintang redup dan warna-warni aurora, suasana desa yang terletak di daerah pegunungan tersebut terasa ramai. Pepohonan cemara yang tertutup salju putih dengan jelas terlihat berkat terangnya langit malam, terasa begitu asing bagi pemuda rambut hitam yang duduk pada salah satu gazebo sederhana yang terbuat dari kayu di balai desa.


 


 


Duduk dengan menggantung kakinya, ia melihat ke arah langit dan sekilas tersenyum. Tekanan batin atau rasa bersalah karena telah membunuh banyak orang selama lima hari terakhir sama sekali tidak terlihat padanya. Fiola yang duduk di sebelah pemuda itu sedikit melirik dingin, merasa memang ada yang berbeda pada tuannya jika dibandingkan dengan mental kebanyakan orang.


 


 


“Anda ... memang aneh. Sebelum berangkat Tuan bilang tidak pernah membunuh orang, tapi selama penyerangan ke markas bandit Anda malah terlihat selalu santai. Jangan-jangan Anda tipe orang sadis?”


 


 


Alis Odo sedikit berkedut mendengar itu, momen yang sedang dinikmatinya dengan memandang aurora terganggu. Melirik datar, ia balik bertanya, “Kenapa begitu? Apa lebih baik aku terpukul atau murung seperti para penyihir Miquator itu?”


 


 


Melihat ke arah beberapa penyihir yang duduk bersama dengan pemburu dan prajurit pada gazebo dekat api unggun yang dinyalakan di tengah balai kota, Fiola sedikit menghela napas resah. Menoleh dan menatap datar ke arah pemuda di sebelahnya, Huli Jing itu berkata, “Mana mungkin Anda bisa seperti itu, kalau bisa pasti itu sangat lucu dan saya akan terbahak melihatnya.”


 


 


“Kejam, aku juga bisa depresi, loh.”


 


 


“Masa?”


 


 


“Iya.”


 


 


Sesaat angin malam bertiup, membawa hawa dingin dan membuat beberapa orang di sekitar api unggun menggigil. Pada balai desa tersebut, terdapat lebih dari enam gazebu yang memang digunakan untuk menerima tamu. Tempat tersebut tidak memiliki penginapan karena terletak di perbatasan teritorial antara dua kota dan jarang sekali digunakan untuk singgah karena letaknya. Karena hal tersebut, para pengelana atau orang yang tanpa sengaja singgah biasanya akan diberikan tempat tidur pada gazebu di sekitar balai desa.


 


 


Memang itu terasa tidak sopan untuk membiarkan tamu tidur di luar, tetapi suku yang menjadi mayoritas di desa tersebut memiliki aturan tertentu untuk memperlakukan tamu. Mereka sebenarnya sangat ramah jika tidak melihat tradisi membiarkan tamu tidur di luar, bukti nyata dari itu adalah makan malam yang disediakan cuma-cuma oleh penduduk desa meski itu terbilang sederhana dan seadanya.


 


 


Saat mengamati beberapa penduduk desa yang berinteraksi dengan para prajurit, sekilas Odo menarik napas lega karena mendapat informasi tertentu dari pembicaraan mereka. Pindah melihat ke arah pemburu dan penyihir yang sedang diajak bicara oleh para perempuan dan orang tua dari desa, Odo langsung tahu kalau mereka sedang berusaha menghibur mereka yang murung.


 


 


“Hmm, jadi benar ini desa yang ramah seperti yang dikatakan Lisia,” gumam Odo.


 


 


“Ada apa, Tuan?”


 


 


“Yah, hanya saja aku pikir desa ini sangat ramah, ya.”


 


 


“Desa ini jauh dengan urusan politik dan terletak di pedalaman hutan, wajar kalau mereka bersikap seperti itu. Anda tahu, bahkan di sini masih tidak mau bertransaksi pakai uang, loh.”


 


 


Odo sedikit terkejut, segera menoleh dan bertanya, “Terus Nona Lisia pakai apa buat beli semua bahan makanan itu? Meski itu daging hewan buruan yang rasanya cenderung tidak enak di musim dingin seperti ini, tetap saja bayar, ‘kan?”


 


 


“Entahlah, saya tidak tahu soal itu .... Tapi, kepala desa di sini katanya dulu mantan dari Keluarga Cabang Mylta. Yah, itu selama Perang Besar dan karena beberapa alasan mereka melepaskan diri dan memilih tinggal di hutan seperti ini, sih.”


 


 


“Oh ..., masih ada relasinya ternyata. Hmm, relasi luas memang sangat berguna.”


 


 


Di tengah pembicaraan, Lisia yang tadinya sedang duduk bersama Kepala Prajurit beranjak dari tempat, Ia menghampiri Odo dan Fiola. Sejenak pemuda rambut hitam itu bingung melihat Walikota Pengganti tersebut berdiri di hadapannya dan hanya menatap dalam-dalam tanpa berbicara.


 


 


“Ada apa, Nona Lisia?” tanya Odo.


 


 


“Boleh saya duduk?”


 


 


Fiola peka dengan raut wajah Lisia yang terlihat muram, segera geser dan memberikan ruang untuk perempuan rambut merah itu duduk di sebelah Odo. Pemuda itu melirik dingin ke arah Lisia di sebelahnya, mengamati perempuan yang sama sekali tidak kedinginan meski tidak memakai pakaian musim dingin.


 


 


“Apa Nona Fiola dan Tuan Nigrum juga bisa menggunakan manipulasi suhu?”


 


 


Pertanyaan yang keluar dari Lisia terdengar tidak penting bagi Odo. Sedikit menyipitkan mata dan menghela napas, ia berkata, “Nona sudah lihat aku sangat ahli dalam penggunaan sihir api, bukan? Jangan tanya sesuatu yang sudah jelas .... Lagi pula, Anda mendatangiku bukan untuk bertanya seperti itu, ‘kan?”


 


 


“Maaf ....”


 


 


Suasanya terasa sedikit canggung. Fiola berusaha tidak masuk dalam pembicaraan, memalingkan pandangan dan menatap ke arah langit dengan pura-pura menikmati pemandangan aurora meski dirinya tidak terlalu suka dengan itu.


 


 


“Tuan, kenapa Anda bisa terlihat santai meski telah melakukan hal seperi itu?” tanya Lisia dengan suara lirih.


 


 


“Maksud Nona membunuh para bandit?”


 


 


“Iya ....”


 


 


Sejenak Odo terdiam, memikirkan jawaban dengan matang dan berkata, “Hmm, aku membunuh mereka karena keharusan. Asal Nona tahu, aku membunuh bukan karena suka, tetapi karena memang itu yang kurasa benar.”


 


 


 


 


“Tapi ....”Lisia menatap Odo, lalu menjawab, “Mungkin saja ada bandit baik di antara mereka .... Tidak semua mereka ingin menjadi seperti itu.” Meski menyanggah, perempuan rambut merah itu menundukkan wajah dan mulai ragu sendiri.


 


 


“Bandit baik, ya. Kalau mereka baik, tidak mungkin menjadi bandit. Entah apapun alasannya, merebut hak lain secara paksa tidak bisa dibenarkan. Lagi pula, apa Nona benar-benar memperhatikan penduduk kota tempat Nona tinggal?”


 


 


“Tentu saja saya memperhatikan mereka!” ucap Lisia dengan tegas seraya menatap lurus ke arah pemuda itu.


 


 


“Kalau begitu, Nona pasti tahu ada beberapa penduduk kota yang tidak beruntung dan bahkan tidak diakui sebagai warga Kerajaan Felixia ....”


 


 


“Itu ....”


 


 


“Meski dalam keterbatasan dan tertindas, mereka tidak melakukan tindakkan keji seperti menjarah atau membantai sebuah desa ....”


 


 


“Mereka lemah, mana mungkin berani melakukan hal itu.”


 


 


“Benar, benar sekali!” ucap Odo tegas. “Mereka lemah dan tidak memiliki kekuasaan ..., karena itu Nona harus melindungi mereka karena Nona memiliki kekuatan. Bukankah demi hal seperti itu Nona mengasah ilmu pedang?”


 


 


Memegang tangan Lisia dan menggenggamnya, pemuda itu menegaskan, “Pada kenyataannya, perbedaan para prajurit dengan para bandit sangatlah tipis. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan untuk memaksakan ego, tetapi hal seperti loyalitas, moral, nilai, sikap, dan hati membuat perbedaan yang jelas.”


 


 


“Tetap saja ... rasanya memang menakutkan.” Dengan jelas Odo tahu kalau perempuan itu gemetar, rasa bersalah benar-benar membuat semangatnya anjlok dan rasa percaya diri yang pernah dilihat darinya hilang entah ke mana. Mengangkat wajah dan menatap lurus Odo, Lisia berkata, “Anda tahu ..., hanya dalam lima hari ini saya membunuh lebih dari seratus orang .... Rencana dan taktik tempur yang Anda sarankan memang luar biasa, tetapi melihat hasil yang ada ini ... terasa seperti pembantaian!”


 


 


“Terus, Nona ingin ada korban dari bawahan Nona supaya tidak terlihat seperti pembantaian?”


 


 


“ .....!” Lisia benar-benar terkejut mendengar itu, matanya terbuka lebar dan rasa ragu serta takut hilang dalam sekejap. Menggantikan hal tersebut, dorongan kewajiban mulai menguat pada dirinya.


 


 


“Tidak, bukan? Nona tahu, dunia ini tidak seideal yang Nona pikir ....”


 


 


Mengangkat tangan dari Lisia, Odo menatap ke arah langit dan mengamati bintang redup di antara kilauan aurora. Dengan senyum tipis yang ingin, ia berkata, “Di dunia tidak ada orang yang benar-benar baik dan pada saat yang sama tidak ada yang benar-benar jahat. Mereka masing-masing memiliki alasan, tergantung cara pandang itu akan berubah. Aku tidak akan meminta Nona mengubah cara pandang itu, tetapi tolong ingat perkataanku ini  .... Cobalah lihat sekeliling Nona dan lebarkan sudut pandang, Nona pasti akan sadar pilihan yang tepat.”


 


 


Lisia ikut melihat ke arah langit, merasa sedikit kagum dengan pemandangan yang ada dan bertanya, “Apa Tuan tahu pilihan tepat itu?”


 


 


“Tidak ..., aku juga tidak tahu. Mungkin saja ada pilihan yang lebih baik dari ini, tetapi sayangnya yang tersedia untukku hanya sebatas ini.” Odo menundukkan wajah, membuta telapak tangan kanan dan melihatnya, lalu berkata, “Nona tahu ..., aku juga tidak suka membunuh orang terus menerus selama lima hari ini .... 277 orang aku bunuh dengan sihir dan 12 orang dua belas orang dengan pedang, itu jumlah bandit yang kubunuh selama lima hari ini. Kalau ditambah dengan jumlah yang terbakar pagar api yang kubuat itu tambah banyak.”


 


 


“Anda ... mengingat jumlahnya?” Lisia tercengang. Padahal dirinya ingin melupakan semua orang yang dibunuh dengan tangannya, tetapi pemuda itu malah mengingat jumlah orang yang dibunuhnya.


 


 


“Sayang sekali ingatanku sangat tajam. Meski tak ingin, itu tersimpan dengan rapi dalam kepalaku ....”


 


 


Melihat ekspresi muram yang jarang terlihat pada pemuda itu, Lisia merasa seperti orang buruk yang tanpa sadar ingin melihat ekspresi seperti itu darinya. Rasa lega sekilas terasa, membuatnya tersenyum tipis dengan rasa aneh dalam benak.


 


 


Setelah melakukan pembicaraan kecil lainnya dan menghilangkan rasa ragu, Lisia beranjak dari gazebu dan melangkah pergi. Baru beberapa langkah kakinya terhenti, menoleh ke arah Odo dan berkata, “Oh, iya. Lebih baik Tuan tidak terlalu dekat dengan Nona Fiola dulu, para prajurit bilang kalau Anda sedang selingkuh, loh.”


 


 


“Selingkuh?” Odo sekilas bingung. Tetapi saat paham yang dimaksud itu berkaitan dengan kebohongan yang dibuat beberapa waktu lalu, ia sedikit memasang tatapan datar dan melirik ke arah Fiola. Tidak mendapat respons, pemuda itu kembali melihat ke arah Lisia dan berkata, “Baiklah.”


 


 


“Hmm, terima kasih, Tuan.”


 


 


“Eh? Untuk apa ...?”


 


 


“Tidak apa, saya hanya ingin mengatakannya, Liebling ....”


 


 


Lisia berbalik dan pergi menuju tempat para prajurit yang sedari tadi mengawasi dari jauh. Mendengar kata asing yang diucapkan perempuan itu, sekilas Odo terlihat bingung karena tidak tahu artinya. Tetapi saat menoleh ke arah Fiola dan melihat perempuan itu terlihat tidak senang, mulut Odo tertutup rapat sebelum sempat bertanya.


 


 


“Dia ... ternyata orang seperti itu, ya. Jelas saya tidak suka dengan bocah itu,” ucap Fiola.


 


 


“Memangnya kenapa? Nona Lisia orangnya sopan dan ramah, loh. Yah, memang terkadang dia menatap sinis, sih.”


 


 


“Saya benci orang yang tidak tahu diri .... Sangat benci.”


 


 


Raut wajah kesal nampak pada perempuan rambu cokelat kehitaman itu. Berhenti duduk dan merapikan kimononya, Fiola berdiri di hadapan Odo dan berkata, “Ingat posisi Anda, jangan sampai perasaan seperti itu tumbuh dan membuat konflik yang tak perlu,” dengan nada sarkasme.


 


 


“Aku paham, jangan cemas .... Lagi pula ....”


 


 


Kata terakhir itu terhapus angin malam, tak tersampaikan dengan jelas kepadanya. Bersama rambut perempuan itu yang berkibar lembut, raut wajah terkejut nampak jelas pada dirinya yang dapat memahami perkataan itu meski tidak mendengar secara utuh. Itu benar-benar tak terduga datang dari orang seperti Odo, membuat senyum tipis mulai nampak.


 


 


“Anda tahu, rasa cemburu perempuan itu menakutkan. Nyonya kalau sedang cemburu bahkan tidak segan-segan melemparkan tombak cahaya ke Tuan Dart ....”


 


 


“Aku tahu, kurang lebih paham hal seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.”


 


 


“Apanya yang terlanjur, dasar Gigolo.”


 


 


“Kejamnya, aku bukan orang seperti itu, loh.”


 


 


Mereka berdua saling tersenyum, seperti komplotan dengan tujuan licik bersama.