
Hari sudah pagi dan seharusnya matahari telah terbit cukup tinggi menurut waktu yang ada, namun apa yang terlihat di langit masihlah gelap penuh dengan awan petir yang sesekali menyambar.
Melihat hal tersebut, para prajurit, pemburu, dan penyihir terheran. Mereka awalnya mengira kalau awan di atas sana adalah pertanda badai salju yang sering datang pada penghujung musim dingin daerah pegunungan, namun setelah waktu berlalu semalam mereka sadar kalau telah salah mengira.
Salah seorang penyihir dari Miquator menunjuk ke arah langit, lalu berkata, “Sepertinya memang petir di awan itu muncul karena distorsi ruang. Kepadatan energi sihir di atas sana terasa tidak wajar.” Penyihir tersebut mengenakan pakaian jubah bertudung warna ungu gelap dengan pola renda warna keemasan di sekitar kerah, membawa tongkat sihir dari kayu dan mengenakan topi kerucut seperti layaknya keempat rekannya yang berasal dari Miquator.
Mendengar perempuan berjubah hitam itu berkata, seorang pria dengan profesi pemburu mendekat dan bertanya, “Sihir? Apa itu semacam kontrol cuaca?”
“Entahlah, saya tak tahu .... Hanya saja, itu jelas-jelas ada tanda-tanda distorsi ruang. Karena ada daya tarik yang sangat kuat pada ujung semua awan-awan itu pergi, sebuah pusat yang membuat distorsi muncul di sana ....”
Selain rekan-rekannya, orang-orang yang mendengar itu kebingungan dan tidak paham apa yang hendak penyihir perempuan itu katakan, bahkan Lisia pun tidak bisa menangkap maksudnya. Seakan tidak memedulikan kecemasan penyihir Miquator yang ahli dalam sihir cuaca itu, pemburu di dekatnya berkata, “Baiklah! Kita bersiap dulu saja dan lanjutkan perjalanannya!”
Penyihir muda itu terkejut mendengar keputusan pria yang menjadi pemimpin para pemburu. Para prajurit segera lanjut membereskan tenda dan alat-alat. Arang bekas api unggun yang digunakan untuk memasak sarapan tadi benar-benar dimatikan dengan salju, lalu log kayu yang digunakan untuk duduk digelindingkan ke dekat pepohonan.
Bergegas menghampiri pria yang tadi bicara padanya, penyihir muda dengan gelar Expert Tingkat Pertama itu dengan lantang memanggil, “Tuan!” Pria rambut cokelat dengan sabuk penuh pisau dan wadah panah melingkar di pinggang serta bahu itu menoleh. Memasang wajah sangar, pemburu itu bertanya, “Apa apa? Bukannya tadi kau sudah menjelaskan situasi aneh ini?”
Ia gemetar ketakutan mendengar itu, menundukkan kepala dengan kikuk dan berkata, “Pu-Pusat awan-awan itu adalah tujuan akhir kita juga .... Sebaiknya ..., kita tunggu dulu sampai kejadian ireguler itu selesai.”
“Kita sudah terlalu lama melakukan perjalanan. Lebih dari ini, Nona Lisia bisa mengeluarkan dana lebih untuk menyewa kalian dan kami para pemburu .... Aku tak bisa mengecewakan harapannya,” ucap pria pemburu itu.
“Tapi —”
Rekan penyihir muda itu menepuk pundaknya. Menoleh ke belakang, penyihir berjubah ungu khas Miquator yang merupakan rekannya itu menggelengkan wajahnya. “Tak usah cemas, itu hanya distorsi ruang,” ucap rekannya yang bergelar Expert Tingkat Kedua itu. Rekan perempuannya tersebut memang menutup kepala dengan tudung jubah, namun rambutnya yang berwarna putih polos diikat dua dan terurai ke depan dada. Kornea berwarna keunguan rekannya itu seakan menghipnotis dengan karisma mistik.
“Tapi .., senior ... distorsi seperti itu.”
“Tuh, dengar seniormu! Jangan terlalu delusi seperti itu, wahai penyihir ahli cuaca.” Pria rambut cokelat itu berjalan meninggalkan mereka, sama sekali tidak mengindahkan peringatan yang diberikan dan tetap memberitahukan semua orang untuk tetap langsung melanjutkan perjalanan.
“Tu-Tunggu! Tuan Barca!”
“Sudahlah, Opium .... Meski kita membujuknya, perempuan bangsawan yang memimpin rencana ini pasti ngotot ingin lanjut. Kita ikuti saja keinginan mereka, lagi pula uang muka kita dalam misi ini cukup banyak dan kita tak bisa berkomuter lebih tentang keinginan mereka.”
Bujukan itu membuat penyihir muda bernama lengkap Opium Matha itu menundukkan wajah dan mengangguk. “Baiklah, senior Canna .... Saya akan menurut saran Senior,” ucapnya lesu.
Senior yang dikenal sebagai Canna Mitere itu tersenyum kecil, menepuk pundak juniornya dan berkata, “Hmm, hmm, terima kasih, Opium. Kau memang juniorku yang sangat mendengar perkataan seniormu ini.”
Saat kedua orang itu berbincang tanpa mengajak ketiga rekan penyihir lainnya, Odo yang berdiri cukup jauh dari mereka menatap tajam. Meski lalu-lalang dari orang-orang sesekali menghalangi pandangan, namun tatapan mata datar dan terlihat hampa itu benar-benar diarahkan kepada mereka dengan cara aneh.
Canna Miteres gemetar mendapat tatapan seperti itu. Kebanyakan penyihir memang memiliki insting tidak lebih kuat daripada pemburu, namun Canna tahu kalau sedang mendapat tatapan seperti sedang diincar oleh pemangsa. Melihat ke arah Odo, mata mereka berdua saling bertatapan dan tambah membuat perempuan rambut putih itu gemetar.
Saat mereka saling menatap di antara lalu-lalang, Canna melihatnya menggerakkan bibir dan mengucapkan sesuatu. Itu dengan jelas dirinya pahami, membuat bulu kuduk berdiri karena rahasia besar yang disimpan penyihir paling senior di antara kelima penyihir tersebut gemetar.
“A ... apa beliau menyadarinya? Kenapa? Sejak kapan? Kenapa bisa?” benak Canna dengan pucat.
“Ada apa, Senior Canna?” tanya Opium. Membuka tudungnya, rambut cokelat kemerahan penyihir ahli cahaya itu terurai tanpa bebas sampai bahu.
“Tidak apa ....” Ia menatap juniornya, tersenyum kecil dan berusaha tidak menunjuknya ekspresi panik.
Saat penyihir rambut putih itu kembali melihat ke arah Odo, pemuda tersebut sudah pergi dari tempat untuk ikut membantu yang lainnya mengangkut barang-barang dan membereskan tenda. Tidak butuh waktu sampai satu jam, semua barang-barang telah dibereskan ke atas kargo dan mereka pun segera melanjutkan perjalanan.
.
.
.
.
Dalam perjalanan, rute yang mereka lalui tidaklah seterjal sebelumnya. Jalan di daerah pegunungan yang sudah memasuki teritorial dalam kota Rockfield tergolong cukup mulus, meski memang salju yang ada pada permukaan membuat jalan licin dan mereka tidak bisa melaju terlalu cepat.
Pemandangan pada sisi kanan jalan adalah jurang dengan daerah hutan pinus yang tertutup salju putih di bawahnya, ujungnya berbatasan langsung dengan sisi lain Pegunungan Perbatasan dan di baliknya terdapat Hutan Pando tempat para monster tinggal. Pada sisi kiri jalan, sebuah tebing bebatuan yang cukup curam menjadi pembatas mereka dan cukup rawan dengan longsor salju dari atas.
Melewati jalan yang terus naik secara bertahap, berliku dan cukup sempit sampai hanya bisa dilalui oleh satu kereta kuda saja. Tak butuh waktu sampai sehari dan langit masih terlihat mendung meski masih sore, akhirnya mereka sampai di sisi lain Pegunungan Perbatasan untuk sampai titik akhir dari rencana.
Seperti yang Odo sarankan sebelumnya, mereka memang langsung melaju ke markas utama para bandit yang tetaknya telah diketahui menurut informasi yang didapat sebelum rencana dimulai. Sampai pada salah satu puncak dari barisan Pegunungan Perbatasan, orang-orang dari Mylta itu disambut dengan badai yang cukup lebat dan membuat jarak pandang terbatas.
Seorang prajurit yang menggunakan kuda tunggal mendekat ke kereta tempat Lisiathus Mylta berada. “Nona, kita sebaiknya mencari tempat untuk berkemah lagi! Meski kuda kita sudah dipasang sihir untuk menghalau suhu dingin oleh Nona, tapi tetap saja bahaya melanjutkan perjalanan dengan jarak pandang seperti ini!’ ucap prajurit itu dengan mengeraskan suara.
Melihat ke depan, badai salju memang semakin lebat dan gelap. Jarak pandang yang ada hanya beberapa meter saja, akan sangat berbahaya jika kuda menginjak bagian pinggir jalan yang rapuh dan jatuh ke jurang. Menoleh ke arah Odo yang duduk di depannya, perempuan rambut merah itu bertanya, “Tuan, bagaimana menurut Anda?”
Odo melirik datar, lalu menjawab, “Eng? Yah, kurasa memang lebih baik kita berhenti dulu.”
Mendengar itu, perempuan tersebut memerintah, “Cari tempatnya! Kita akan berkemah lagi!”
“Siap!”
Prajurit yang memakai pakaian tebal musim dingin itu memacu kudanya lebih cepat, melaju lebih dulu berasma satu rekannya yang seorang pemburu untuk mencari lahan berkemah. Tidak butuh waktu lama sejak mereka melesat dulu ke depan, rombongan berbelok ke lahan bebatuan yang ada di pinggir jalan bertebing.
Segera bersiap, mereka mulai menurunkan kotak-kotak peralatan dan tenda. Odo turun bersama Fiola dan Lisia, berjalan dengan hati-hati karena badai salju yang menerpa benar-benar lebat dan membuat jarak pandang sangat terbatas.
“Cuaca di pegunungan memang tidak bisa ditebak, ya .... Padahal tadi terus mendung semalaman, tapi sekarang malah badai seperti ini,” ucap Lisia di dekat Odo.
“Ya, namanya juga pegunungan. Kita orang pesisir, mana tahu daerah cuaca di sini,” balas Odo santai.
Mereka bertiga berjalan ke arah para prajurit yang sudah mendirikan satu tenda, lalu hendak mendirikan tenda lainnya. Saat hampir semua tenda dan persiapan berkemah selesai disiapkan, tiba-tiba salah satu prajurit berterik keras, “Ada orang mendekat di arah jalan!!”
“Oi! Jangan teriak! Nanti ada longsor!” tegur rekannya.
Kepala Prajurit yang ada di dekatnya menegur, lalu berkata, “Kau juga jangan teriak, dasar bodoh.”
“Ah, maaf ....”
Semua orang yang mendengar itu menghentikan pekerjaan. Para prajurit segera mengambil pedang dan bersiaga, sedangkan para pemburu mengambil panah dan busur untuk membidik. Dengan cekatan dan siap siaga untuk menyerang kapan saja, mereka menunggu siluet di balik tirai badai salju itu benar-benar terlihat.
“Siapa ... saja ..., tolong ... istriku. Kumohon ..., siapa saja ....”
Dari balik badai salju lebat, seorang pria berlumuran darah berjalan dengan menggendong anak dan perempuan yang tidak sadarkan diri. Badan pria itu memang sangatlah kekar, namun pakaian hangat yang dikenalkan compang-camping dan tidak bisa menahan hawa dingin yang ada. Berewok dan alisnya membeku, wajahnya benar-benar pucat dan bahkan darah yang mengalir pada beberapa lukanya juga sampai membeku.
Melihat kondisi pria itu, mereka tahu kalau dirinya telah melewati badai salju dalam waktu lama membawa perempuan dan anak yang merupakan keluarganya itu. Kepala Prajurit segera mendekat dan hendak menolong. Namun saat melihat wajah pria itu dengan jelas, langkah kaki terhenti dan ia pun terbelalak.
“Tox ... Tenebris? Kenapa dia bisa ada di sini?” ucap Iitla Lots gemetar. Kepala Prajurit itu benar-benar tidak bisa mengerti, kenapa Pemimpin Kelompok Bandit yang menjadi prioritas musuh dalam rencana mereka malah datang dengan kondisi memprihatinkan seperti itu.
Dua anak buat Iitla Lots yang hendak menolongnya pun ikut terhenti saat melihat wajah pria yang terus meminta tolong itu. Mereka sangat jelas mengenal wajah pria tersebut dari sketsa buronan, seketika menaikkan pedang dan hendak menyerangnya.
“Tunggu!” Kepala Prajurit mencegah kedua anak buahnya. “Apa yang dibawanya itu anak dan istrinya?” ucapnya seraya menatap tajam dan mengamati.
“Siapa yang peduli itu, Pak! Dia jelas-jelas musuh! Dia sumber masalah kita!”
“Itu benar! Siapa yang peduli! Bunuh dia!!”
Salah seorang pemburu melesatkan anak panah, tepat mengenai pinggang kiri Tox Tenebris dan membuatnya rubuh ke depan tertindih istri serta anaknya. Panah yang tertancap pada tubuh pemimpin bandit itu tambah masuk ke dalam dan patah.
Kepala Prajurit menoleh dengan niat memarahi karena pemburu itu memanah dulu tanpa menunggu perintah. Namun ketika melihat raut wajah pemburu itu dan sebagian dari pasukannya, pria rambut pirang tersebut tahu kalau mereka sudah tidak bisa menahan kebencian saat melihat Pemimpin Bandit itu.
“Tunggu! Jangan tembak!!”
Terikkan itu membuat pemburu panah yang melesat dari pemburu lain melesat, hanya menggores kaki Tox Tenebris yang terbaring di atas permukaan salju. Hawa terasa sangat mencekam, Iitla sangat paham kalau sebagian dari mereka memendam dendam kesumat kepada para bandit. Sebagian besar orang yang ikut rencana memang anggota keluarga mereka ada yang menjadi korban dari kekejaman yang sering dilakukan kelompok penjahat yang dipimpin pria itu.
“Kenapa kau melarang, Pak! Dia musuh! Dia pemimpin musuh kita!”
“Itu benar! Karena itu aku mau disewa untuk ikut rencana ini!!”
“Bunuh dia!!”
“Tunggu!” ucap Kepala Prajurit. “Dia membawa perempuan dan anak kecil! Jangan panah dia!” tegasnya.
“Memangnya kami peduli! Mereka membunuh istri dan anakku saat sedang mencari tanaman herbal di hutan empat tahun lalu! Memangnya aku akan mengampuninya!!”
Barca Richa, pemimpin Party Pemburu yang ikut rencana menarik busurnya dan membidik. Dengan kebencian meluap-luap, ia melepaskan anak panah dengan sasaran tepat mengarah ke kepala pria yang jatuh tengkurap itu.
Iitla sempat ingin menghalau panah itu meski harus mengorbankan tangan kanan. Namun saat anak panah yang lewat di dekatnya hendak tertangkap, tiba-tiba jalur berubah karena Battle Art milik Barca dan panah itu tetap melesat ke arah kepala pemimpin bandit itu.
Namun saat akan mengenai sasaran, sekilas kilatan elektrik keluar dari ujung busur dan membuat lajunya berubah, hasilnya panah itu hanya mengenai bahu Tox Tenebris.
“Ke-Kenapa meleset? Seharusnya dia berada dalam jangkauan Teknik Busur Elangku!”
“Tuan, tolong jangan bunuh dia,” ucap Odo seraya menepuk bahu pria rambut cokelat cepak itu. Sekilas melihat petir keluar dari tangan pemuda itu, Barca tahu kalau laju panahnya diubah karena sihir yang digunakan pemuda tersebut.
“Apa maksudmu!? Dia biang keladi semua kejahatan! Memangnya apa alasanmu memintaku untuk tidak membunuhnya!”
“Informasi. Kalau kau membunuhnya sekarang, kita tidak tahu kenapa pemimpin bandit itu bisa ada di sini.”
“Memangnya aku peduli!”
“Hah, Tuan Barca tahu ..., dia itu pemimpin bandit yang jago kabur. Tidak mungkin datang dengan kondisi menyedihkan seperti itu, pasti ada alasan tepat atau dia memang sedang kabur sampai seperti itu ....”
Barca Richa menggertakkan gigi dengan kesal, menatap tajam penuh rasa kesal dan benci. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha memahami situasi, ia memikirkan pendapat pemuda rambut hitam tersebut. “Kau benar, dia tidak boleh mati dengan mudah .... Akan kubuat sialan itu membayar tindakannya!” ucap Barca bengis.
Mengangkat tangan dari pundak pria itu, Odo berjalan ke arah Kepala Prajurit bersama Fiola. Lisia mengikutinya dari belakang, terlihat cemas dengan kondisi perempuan dan anak kecil yang dibawa musuh utamanya.
Tanpa melirik dan tetap berjalan, Odo menjawab, “Tolong atau tidak, kurasa tentu saja kita seharusnya menolong mereka. Tapi kalau membiarkan hidup atau tidak, itu terserah mereka yang ada di belakang.”
Lisia menghentikan langkah kaki dan berhenti di sebelah Kepala Prajurit, tidak ikut bersama Odo dan Fiola yang berjalan ke arah pria yang tengkurap sekarat di atas permukaan salju itu. Sampai di depan Tox Tenebris, Odo berjongkok dan langsung mengajukan pertanyaan.
“Kenapa kau—?”
“To ... long ... anak ... dan istri ... ku .... Aku ... mo .... hon ... to ... long ... mereka ....”
Itu membuat niat menginterogasi dalam benak Odo hilang. Dirinya memang juga membenci para bandit karena merekalah yang membuat Nanra menjadi yatim piatu. Namun, mendengar permintaan pria yang benar-benar memohon untuk keluarganya itu membuat Odo tak bisa acuh. Menghela napas ringan, ia berkata, “Baiklah, akan aku tolong mereka. Tapi, sebagai gantinya nanti kau harus menjawab semua pertanyaanku ....”
“Ba ...iklah ... Aku ... janji ....”
Berhenti jongkok, Odo sedikit menghela napas seraya menatap ke arah wanita dan anak perempuan yang menindihi Tox Tenebris. Kondisi mereka cukup mengenaskan, kaki wanita membeku parah dan kemungkinan besar harus diamputasi, sedangkan anak gadis yang didekapnya terlihat memucat tidak bernapas.
Berdiri di sebelah Odo, Fiola berkata, “Kita tidak punya tabib atau ahli medis, loh. Sihir penyembuh tidak serba guna, kondisi mereka ....”
“Ya ..., aku tahu. Nona Fiola tolong bujuk orang-orang di belakang saja, di sini biar aku yang urus.”
“Apa Tuan bisa menggunakan sihir penyembuhan tingkat atas pada mereka?”
“Aku tidak ahli menyembuhkan orang lain.”
“Terus mau apa? Kondisi mereka sekarat, dalam kondisi ini mustahil—”
Menoleh dengan tatapan tajam, Odo berkata, “Sudahlah, bujuk saja orang-orang di belakang sana. Kalau aku yang bicara, mereka tidak akan mendengarkan dan situasi malah tambah keruh ....”
Fiola sedikit terkejut mendapat tatapan marah seperti itu. Sedikit mengalihkan pandangan, ia berbalik seraya berkata, “Baiklah, akan saya usahakan.” Huli Jing itu pun pergi ke arah orang-orang yang menatap pria bandit menyedihkan itu dengan kebencian.
“Nona Lisia dan Tuan Iitla juga, tolong bujuk mereka. Di sini biar aku yang urus,” ucap Odo seraya melihat ke arah kedua orang tersebut.
“Hmm, baiklah.”
“Aku percayakan mereka padamu, Tuan Nigrum.”
Kata Iitla dan Lisia sebelum berbalik, lalu berjalan mengikuti Fiola untuk membujuk orang-orang yang naik pitam.
Odo sedikit menghela napas ringan tahu mereka memasang ekspresi tak puas saat melangkahkan pergi. Kembali melihat ke arah Tox Tenebris, pemuda itu memutari pria yang jatuh tengkurap di atas salju itu, lalu berjongkok di sampingnya dan memegang nadi leher istri dan anak gadis pria tersebut. Memastikan mereka masih hidup, Odo dengan sangat cepat mengambil potion dari Gelang Dimensi.
Meminum potion itu sendiri, Odo segera membuang botolnya sebelum ada yang melihat ke arahnya. Ramuan tidak ditelan, itu dikumpulkan dalam rongga mulut dan bercampur dengan air liurnya.
“Auto Senses, tolong perubahan sifat dan peningkatannya,” benak Odo.
Menggunakan struktur sihir dan kalkulasi dari Sihir Pertahanan Terakhir, pemuda itu melakukan peningkatan kualitas ramuan penyembuh dalam mulutnya. Liur yang bercampur dengan obat tersebut mulai bereaksi, mengubah beberapa komposisi dan meningkatkan efek penyembuh berkat manipulasi sifat yang dilakukan Odo secara otomatis oleh Auto Senses.
Odo memilik anak perempuan untuk disembuhkan terlebih dulu. Namun saat hendak mengangkat anak gadis yang usianya sekitar dua tahun tersebut, sang ibu dengan kencang mendekap anaknya itu dan tidak melepaskan meski kesadarannya belum kembali. Melepaskan satu persatu jemari wanita yang memeluk anak gadis tersebut, dalam benak Odo sangat paham betapa cintanya wanita tersebut pada anaknya.
Selesai melepaskan anak gadis dari dekapan ibunya yang sebagian tubuhnya membeku dan bengkak, Odo mengangkat anak gadis itu dengan hati-hati. Hangat, itulah yang Odo rasakan saat menggendong anak kecil itu dengan kedua tangannya. Meski seharusnya mereka telah melewati badai salju dalam waktu lama, namun tubuh anak gadis rambut cokelat itu terasa sedikit hangat dan tidak dingin.
Merasakan dan paham hal tersebut dengan jelas, dalam benak Odo merasa, “Kalau mereka tahu arti kehidupan dan paham betapa berharganya itu, mengapa tetap saja merampas? Mengapa mereka tetap melakukan kejahatan meski sudah tahu hal seperti ini seharusnya sudah cukup untuk kebahagiaan dan kepuasan?”
Mata Odo berkaca-kaca, merasakan sakit yang terasa tidak asing dalam benak. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin namun karena rasa kesal dengan pertentangan yang ada. Anak yang digendong menggenggam erat jemari pemuda rambut hitam itu, mulai bernapas dengan berat dan terlihat mengalirkan air mata dengan tetap terpejam.
“Kenapa ... selalu saja aku dihadapkan dengan hal seperti ini?” benak Odo.
Pemuda itu menyentuh bibir kecil anak gadis itu dan membuka mulut, lalu menuangkan perlahan cairan dari mulutnya ke mulut anak gadis tersebut. Satu sampai lima tetes cairan masuk ke dalam mulutnya, membuat anak gadis itu tidak pucat lagi dan napasnya mulai teratur. Dengan cairan obat itu masuk ke dalam anak gadis tersebut, seharusnya ia dalam beberapa menit akan mendapat kemampuan regenerasi dan daya tahan Odo untuk memulihkan tubuh dari dalam.
Melihat ke arah sang Ibu, kondisinya lebih parah dari anaknya. Odo sedikit menyipitkan mata melihat kondisi istri pemimpin bandit itu. Kedua kakinya bengkak membeku, serpihan tajam seperti tulang menancap pada punggung kiri dan dengan jelas tanda-tanda dehidrasi terlihat pada wajah pucatnya.
Odo mengangkat anak gadis dengan satu tangan, lalu ia menarik wanita yang tengkurap mengenaskan di atas suaminya itu. Menyentuh tangannya, itu terasa sangat dingin dan licin seperti es. Tubuh wanita bernama Isla Tenebris itu benar-benar membeku, membuat Odo semakin tercengang mengingat anak yang didekapnya tadi cukup hangat.
Menyingkirkan pikiran tak perlu itu dengan segera, Odo menyangga tubuh wanita Demi-human Tipe Kukang tersebut dengan tangan kiri. Sekilas bingung karena kedua tangannya penuh, Odo tanpa ragu mencium wanita itu dan memasukan cairan obat langsung ke mulutnya.
Tenggorokkan Isla bergerak, cairan obat bercampur liur masuk ke dalam tubuhnya. Selesai memberikan memasukkan semuanya dan menghabiskan ramuan dalam mulut, Odo segera menjauhkan wajah dan mengusap mulutnya sendiri ke pundak. Membaringkan tengkurap wanita itu ke permukaan salju, Odo perlahan menarik serpihan tulang tajam yang menancap pada punggungnya.
Seperti yang diduga, tulang tersebut mirip dengan rusuk manusia. Memikirkan kenapa perempuan itu bisa tertusuk tulang dengan panjang sekitar dua jengkal itu, Odo kurang lebih paham apa yang telah terjadi di markas utama para bandit. Memasukkan jari telunjuk kanan ke luka wanita itu dan membuatnya bergerak sakit, pemuda itu memastikan kalau indra Isla telah kembali dan itu merupakan tanda kondisinya mulai membaik mengingat tubuh membeku itu sangatlah berbahaya kalau sudah tidak merasakan apa-apa.
“Huh, anak dan ibunya paling tidak sudah diberi pertolongan pertama.”
Membalik tubuh Isla dan membuatnya berbaring telentang, Odo menurunkan anaknya ke atas tubuh wanita itu. Memegang lengan sang ibu dengan telapak tangan kanan, Odo menempelkan lingkaran sihir untuk menghalau hawa dingin kepada mereka.
Dengan sedikit resah pemuda itu menoleh ke arah Tox Tenebris, lalu menghela napas panjang dengan rasa lelah. Odo Luke bangun, berjalan ke depan pemimpin bandit tersebut dan berjongkok tepat di depan kepalanya.
“Cuih!”
Odo meludahi wajah pria bandit itu. Sedikit ludah masuk ke mulut pria itu, efek dari ramuan yang masih bercampur dengan air liur yang masuk itu memberikan efek penyembuhan dan meningkatkan ketahanan fisik untuk beberapa saat. Berbeda dengan istri dan anaknya, efek tersebut sangat kuat untuk tubuh Tox Tenebris dan membuat pemulihan luka serta kondisi tubuhnya berlangsung dengan sangat cepat.
Tidak butuh waktu satu menit, kesadaran pria itu kembali dan ia mulai mengangkat wajah dari permukaan salju. Wajahnya memerah radang dingin, bola mata kirinya sedikit membengkak dan terlihat seperti membusuk saat Odo menatapnya itu dari dekat.
“A-Apa Istri dan putriku baik-baik saja?” tanya pria itu panik.
Mendengar apa yang ditanyakan pemimpin bandit tersebut untuk pertama kalinya saat baru sadar, rasa aneh yang bercampur aduk muncul dalam benak Odo. Itu sangat membuatnya kesal, namun Odo sendiri tahu reaksi semacam itu wajar untuk seorang ayah.
Tersenyum ringan tanpa memperlihatkan resah dalam benak, Odo berkata, “Mereka kurang lebih sudah melewati masa kritis.”
Saat Odo menunjuk ke arah Isla dan anaknya, Tox Tenebris segera bangun dan menghampiri mereka. Segera mengangkat tubuh kedua keluarganya itu, pria kekar yang dikenal dengan kekejamannya itu mengalirkan air mata penuh rasa lega seraya mendekap mereka.
Odo hanya menatap datar, merasa sedikit aneh dalam benak dan membuatnya memalingkan pandangan. Menarik napas dalam-dalam dan menyingkirkan hawa tidak enak dalam benak, pemuda itu berkata, “Aku sudah menepati janji .... Sekarang giliranmu, penjahat.”
Tox Tenebris tersentak mendengar itu, ia seperti mengingat sesuatu yang mengerikan dan seketika gemetar ketakutan. Tambah memeluk erat istri dan putrinya, pria itu dengan gentar berkata, “A-Aku akan bicara .... Ta-Tapi ..., sebelum itu bisa kita segera pergi dari tempat ini? Sebelum ... monster itu sampai kemari ....”
“Monster ...?”
“Ya! Monster .... Makhluk seperti itu tidak seharusnya ada di dunia ini .... Kenapa ... bisa mereka memanggil Iblis mengerikan seperti itu ke dunia! Mereka gila! Untuk apa mereka memanggil malapetaka seperti itu ....!”
Odo bangun, menatap datar pria yang seakan hanya mengucapkan delusi itu. Saat hendak bertanya lebih jelas, Barca Richa menghampiri dan menyela mereka, “Apa yang kau katakan?! Jangan mempermainkan kami! Cepat beritahu kenapa kau pemimpin para bajingan itu bisa ada di tempat ini!?” Pria rambut cepak itu benar-benar termakan amarah dendam.
Menghampiri Tox Tenebris, Barca mencengkeram kerahnya dan menarik pria kekar tersebut. Namun saat melihat wajah pemimpin bandit itu dari dekat dan mata mereka saling bertatapan, rasa jijik sekilas muncul saat melihat mata kiri pemimpin itu yang membusuk.
“Tch!” Barca melepaskannya, dengan kesal itu berbalik dan menggerutu, “Sialan! Menjijikkan sekali, aku gak niat lagi ...!” Berbalik kembali dan menatap pemimpin bandit itu, ia berkata, “Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?”
“Itu benar, kenapa pemimpin bandit bisa kabur menyedihkan seperti itu? Kau lari dari apa?” ucap Kepala Prajurit yang datang dan ikut bergabung dalam pembicaraan.
“Apa ... kalian semua berkumpul di sini untuk menyerang markas kelompok bandit yang dipimpinku?” tanya Tox dengan ekspresi penuh ketakutan.
“Ya, tentu saja! Memangnya apa lagi! Kami dari Mylta, kebanyakan dari kami sangat membencimu dan sangat ingin membunuhmu sekarang juga!! Dasar bajingan!” hardik Barca.
“Ka-Kalau kalian ingin memusnahkan kelompok banditku, itu sudah tak perlu .... Me-Mereka sudah musnah, semuanya hancur tak tersisa .... Entah itu markas utama atau kecil, semua kelompok bandit di dekat kota Rockfiled sudah diporak-porandakan oleh Iblis itu.”
“Iblis?” tanya Fiola yang baru kembali ke tempat dan mendengar itu. Ia diikuti oleh orang-orang yang telah dibujuk dan menemukan titik toleransi.
Seperti orang gila yang penuh dengan ketakutan, pemimpin para bandit itu berkata, “I-Iya .... Mereka ..., orang-orang berjubah itu tiba-tiba datang dan menyerang kami. Membunuh semuanya, entah itu perempuan atau anak-anak tanpa pandang bulu! Menjadikan mereka sebagai tumbal, me-mereka memanggil Iblis itu.”
Fiola menyeringai, dengan penuh gelora gelap ia berkata, “Aliran Sesat itu benar-benar ada di sekitar sini .... Heh! Iblis apa yang mereka panggil?”
“Raja Iblis ..., Odrania Dies Orion.”
Semua orang tercengang mendengar itu. Iitla Lots yang merupakan veteran perang sangat paham kengerian Raja Iblis Kuno yang disegel dalam celah dimensi itu. Dengan gemetar, ia segera berbalik dan berteriak lantang, “Kita kembali! Ekspedisi ini selesai! Mulai detik ini haluan kita berubah dan kita harus segera kembali ke wilayah kita untuk memberitahu ini kepada Tuan Dart!!”
Keputusan itu tidak disanggah oleh siapa pun, sebagai besar dari prajurit bawahannya yang ikut dalam rencana paham akan kengerian Raja Iblis Kuno tersebut. Memahami situasi yang ada, Iitla juga samar-samar paham kalau Iblis Kuno tersebut berhasil dipanggil, tidak seperti saat kejadian di Lembah Gersang Sianama.
Para pemburu dan penyihir kebingungan mendengar keputusan mendadak tersebut. Barca memegang pundak Kepala Prajurit dan menghentikannya, dengan kesal ia berkata, “Apa maksudnya itu, Pak Iitla?! Bukannya kita akan menghabisi semua bandit?! Bisa saja itu cuma bualan berengsek itu!”
Menoleh dengan sorot wajah pucat, pria rambut pirang itu berkata, “Lihat dia baik-baik, apa alasan pria menyedihkan itu untuk berbohong? Kau tangkap dan ikat saja dia, nanti kita akan mengadilinya saat kembali ke kota .... Yah, aku juga ragu kalau kita akan sempat.”
Kepala Prajurit segera mengomando para bawahannya untuk segera berkemas tanpa memedulikan badai yang ada. Lisia juga terkejut mendengar keputusan pria itu, tanpa sempat bertanya ia hanya terdiam bingung. Menoleh ke arah Fiola, perempuan rambut merah itu bertanya, “Kalau Nona, apa Nona setuju dengan keputusan Tuan Iitla?”
“Kalau kalian mau kembali, silakan saja. Aku tak peduli,” ucap Huli Jing itu dengan raut wajah gelap. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Lisia, ia berjalan menuju Odo dan menepuk pundak pemuda itu dari belakang.
“Apa kita akan menyerang mereka dulu?” bisik Fiola.
“Sepertinya itu tak perlu .... Para Korwa, semuanya sudah mati.”
“Hah? Mati? Kenapa Anda bisa bicara seperti itu?”
Odo menunjuk ke arah kaki gunung sebagai jawaban. Saat semua orang ribut dengan masalah dan urusan mereka masing-masing, malapetaka sedang berjalan mencari sisa-sisa kehidupan untuk dilenyapkan. Di tengah badai salju, dari tempat mereka yang berada di salah satu puncak pegunungan, terlihat sesosok jerangkong raksasa yang berdiri bungkuk di kaki gunung.
Di tengah badai salju yang mulai mereda, tengkorak raksasa itu berdiri setinggi 530 meter lebih. Dari kejauhan terlihat jelas raksasa itu nampak, bergerak-gerak dengan cepat, menoleh kanan kiri dan melangkahkan kaki menginjak apa yang ada di bawahnya.
Suara gemuruh dari kejauhan mulai terdengar saat suasana sedikit senyap. Semua orang menoleh ke sumber suara, menyadari keberadaan malapetaka berjalan tersebut. Putih tulangnya seakan menyatu dengan badai, namun noda kusam dari cuilan daging membuatnya terlihat di tengah badai salju.