
Matahari terbenam dan malam telah tiba, keramaian pada alun-alun pun berubah menjadi semakin sepi dengan hanya ada beberapa orang yang lalu-lalang. Meski tengah malam masih jauh, baik penduduk kota atau orang-orang yang datang dari luar kota memilih untuk beristirahat setelah seharian berdiri di bawah teriknya matahari.
Odo dan Vil berada pada persimpangan pusat kota tersebut, berdiri di bawah bulan sabit yang dihiasi gugusan bintang dengan cahaya samar. Langit musim semi terlihat tidak begitu terang, namun mereka berdua dengan jelas melihat wajah satu sama lain.
“Kalau begitu, diriku akan mengurus surat tanda penduduk itu. Mungkin Minda juga sudah datang ke penginapan, kalau pakai wewenangnya pasti lebih mudah,” ucap Vil sembari menatap pemuda rambut hitam di hadapannya. Ia berbalik dan berjalan pergi sembari melempar senyuman.
“Ya, aku serahkan itu padamu ....” Odo membalas senyuman itu. Seraya melambaikan tangan, ia mengingatkan, “Jangan sampai lupa! Durasi gelangnya itu hanya 12 jam saja.”
“Hmm ....” Seraya berputar dan menghadap Odo, perempuan rambut biru itu dengan senyum berkata, “Akan diriku ingat. Setelah selesai diriku akan serahkan itu pada orangnya.” Ia kembali berbalik, lalu berjalan menuju penginapan.
Setelah bertukar kalimat seperti itu, Odo memasang ekspresi datar dan benar-benar menghapus senyuman. Ia berbalik, lalu mengambil jalan yang berbeda dengan Vil. Pemuda itu tidak kembali ke penginapan, namun pergi ke distrik pengrajin untuk melakukan pembicaraan terakhir yang harus dipenuhinya sekarang juga.
Wajah lelah sekilas nampak padanya saat berjalan di dalam malam, sedikit merasa jenuh dengan permasalahan yang terus menghampiri dan seakan tidak ada habis-habisnya. Odo sendiri paham kalau dirinya bukanlah masa kuasa atau punya kekuatan yang sangat luar biasa untuk menyelesaikan semua masalah dengan sangat mudah, apa yang dirinya dapat sepenuhnya merupakan hasil kerja keras dan membutuhkan waktu.
Memiliki tahapan, harus ditekuni satu persatu dan sangat rapuh dengan kesalahan. Satu-satunya hal membedakkannya dengan yang lain adalah dirinya dapat melakukan simulasi dalam pikiran dan mendapat pengalaman lebih banyak dari yang lain dalam waktu yang singkat.
Sekilas melihat ke kanan kiri jalan, pemuda itu tersenyum tipis dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak mencerminkan rasa bahagia. Meski seharusnya sebagian rencananya berjalan lancar, namun ada banyak hal yang membuatnya tidak bisa tersenyum.
“Sebenarnya ... apa yang kuharapkan? Jujur ini benar seperti kata Fiola, untuk apa aku berjuang sekeras ini? Padahal bisa saja aku berhenti pada titik aman dan membiarkannya. Hanya saja ... kemungkinan ini memang tak bisa ku acuhkan. Orang-orang seperti itu, kalau tidak diladeni memang bisa saja membawa kerusuhan lebih parah dan melahirkan tragedi lainnya.”
Dalam langkah kakinya, Odo sekilas mengingat kembali perkataan bandit yang telah diselamatkannya dari eksekusi. Pria itu juga korban, dari ketidakadilan dunia dan kekejaman yang tersusun rapi sampai terlihat sangat normal di mata banyak orang. Cara pandang yang sempit membuat orang-orang seperti itu muncul, menyeret yang lainnya dan membuat rantai kebencian terus memanjang.
Meski itu seharusnya telah dipotong melalui pisau Guillotine dalam eksekusi tadi siang, namun dalam benak Odo meresa hal sepeti itu tidak sepenuhnya bisa menghilangkan masalah. Bisa saja Tox Tenebris lainnya muncul dan mengumpulkan orang-orang senasib untuk membuat kelompok, kembali mengacau dan membuat kejadian serupa. Didorong oleh beberapa pihak, lalu menjadi hal-hal seperti sebelumnya dan tidak bisa berakhir.
Menghentikan langkah kaki dan menatap ke arah bulan sabit, Odo bergumam, “Memang masalahnya ada pada cara pandang. Kalau saja perkataan bisa selalu efektif seperti tadi ..., itu akan sangat memudahkanku. Hanya saja ada beberapa orang bebal yang tak bisa paham sebelum dihajar.”
Menggelengkan kepala dan berusaha menyimpan permasalahan itu untuk diselesaikan lain waktu, Odo kembali melangkahkan kakinya menyusuri distrik pengrajin yang terlihat sepi. Lampu-lampu bangunan tidak dirinya pedulikan dan suara-suara yang merembes keluar dari dinding bangunan-bangunan tidak dirinya hiraukan, hanya menatap lurus dan melangkahkan kaki dengan tujuan pasti.
Sampai di depan Toko Alat Sihir dan Ramuan yang juga berfungsi sebagai Atelier, Odo sekilas menarik napas dalam-dalam dan melakukan Spekulasi Persepsi untuk mengecek apa saja yang bisa terjadi di dalam nantinya. Mendapat beberapa kesimpulan, ia memasang ekspresi malas dan bergumam, “Ujung-ujungnya bahas itu, ya.”
“Permisi, aku Odo! Masih buka, ‘kan?” ucap pemuda itu seraya mengetuk pintu lokakarya tersebut.
Dari dalam seseorang menjawab, “Tunggu sebentar! Duh, siapa sih yang datang malam-malam be—?” Seorang perempuan rambut putih murni membuka pintu, ia sudah mengenakan piama berwarna gelap dengan pita merah di dadanya. Mulut perempuan itu terbuka, dan perkataannya terhenti seakan memang tidak mengira akan kedatangan Odo. Menatap terkesima, perempuan rambut kepang tunggal itu tanpa sadar berkata, “Ayahanda?”
Kali ini Odo tidak menutup mulut Canna, merasa tak masalah penyihir dari Miquator tersebut memanggilnya seperti itu. Sedikit tersenyum ringan, pemuda itu bertanya, “Kau sendirian, Canna? Apa Luna juga ada di dalam?”
“Saya jaga sendirian .... Senior sedang pergi, ia diajak keluar oleh Kepala Prajurit. Opium juga ikut dengannya. Katanya ... ada tugas di dataran tinggi Rockfield.”
“Ah, pasti mengurus itu.”
“Eng, memang mengurus itu.”
Canna menggelengkan kepalanya, berusaha berhenti terkesima dan membukakan pintu lebar-lebar untuk mempersilakan Odo masuk, “Ayo, ke dalam. Rasanya bicara di depan pintu seperti ini kurang enak.”
“Hmm, aku juga ingin bicara panjang lebar.”
“Panjang lebar?” Canna menatap heran, sedikit memiringkan kepalanya dan beranya, “Tidak biasanya suka panjang lebar, memangnya apa yang ingin Ayahanda bicarakan? Ah, kalau soal benda itu saya belum menyelesaikannya.”
“Bukan soal itu. Ada banyak hal lain yang ingin aku bicarakan .... Tapi yang terpenting, mungkin tentang kerja sama dan ... soal Awal Permulaan yang kalian cari-cari.”
.
.
.
.
Pada ruang untuk menerima pelanggan di Atelier Hulla, Odo duduk pada sebuah kursi dengan sebuah kue kering disandingkan untuknya. Papan tanda dibalik dan toko ditutup karena beberapa alasan selain karena sudah malam. Sekilas menyandarkan punggung pada kursi, Odo menghela napas ringan sembari melepas rasa lelah.
Ruangan tersebut seakan tidak memedulikan siang atau malam, intensitas cahaya yang ada terasa sama dan memiliki kesan remang-remang — Ruang tertutup yang memiliki pencahayaan kristal-kristal sihir di gantung bersama pot tanaman herbal, dengan beberapa kristal besar yang menjadi penerangan utama. Aroma khas obat-obatan, bau tanah dan mineral, serta udara yang terasa sedikit pengap sedikit mengingatkan Odo dengan kamarnya sendiri di Mansion.
“Mau teh atau kopi?” Canna menawarkan. Perempuan itu berdiri di balik meja Counter, mengambil alat pemanas air, terlihat seperti kompor kecil dengan berupa tabung kaca dan kristal api untuk memanaskan air.
“Kopi ....”
“Eh?” Canna terkejut saat memeriksa sesuatu di kolong meja.
“Kenapa?”
“Adanya teh bunga Rosella,” ucap perempuan itu seraya mengambil kotak kayu kecil berisi kuncup bunga merah kering yang disebutnya. Tertawa kecil, ia berkata, “Sepertinya belum diisi ulang.”
“Ya, sudah. Itu saja gak masalah.”
“Hmm ....”
Sembari menunggu Canna selesai menyeduh teh, Odo sekilas memejamkan mata dan mengakses inti sihir dengan kesadarannya. Sebuah retakkan besar memang terdapat dalam susunan struktur, sangat kacau dan bisa berakibat fatal jika menggunakan struktur dasar tersebut.
Sebelum menyentuh struktur untuk kembali mengotak-atiknya, Canna selesai menyiapkan tehnya dan datang dengan poci dan cangkir. Meletakkan piring cawan dan cangkir ke atas meja, ia menuangkan seduhan daun Rosella. Aroma yang ada sedikit membuat Odo mengantuk, merasa ada sesuatu yang lain tercampur dalam minuman tersebut.
“Silakan diminum,” ucap Canna.
Mengangkat cangkir dan menghirup aromanya dengan jelas, Odo memastikan kalau teh tersebut mengandung obat tidur dalam dosis tinggi. Ia segera menatap Canna, bertanya-tanya mengapa penyihir itu berlagak tidak tahu soal itu.
“Bisa aku minta gula?” tanya Odo.
Canna mengambil apa yang diminta Odo. Menerima stoples kaca berisi gula balok dari perempuan itu, Odo mengambilnya dengan tangan dan memasukkan gula ke dalam minuman. Mengaduknya merata dengan sendok, pemuda itu langsung meminum tehnya sampai habis.
Meletakkan cangkir ke atas piring cawan, pemuda itu berkata, “Kalau begitu, kita mulai pembicaraannya.”
Canna terlihat bingung karena dosis yang Odo minum itu seharusnya bisa membuat seekor beruang langsung tertidur beberapa hari, namun tanda-tanda mengantuk sama sekali tidak terlihat pada pemuda itu.
“Kenapa? Duduklah, kita akan bicara,” pinta pemuda rambut hitam tersebut.
“I-Iya ....”
Canna duduk berhadapan dengan pemuda itu, terlihat tidak tenang dan baru menyadari kalau mengenakan piyama di depan lawan jenis membuatnya tidak tenang. Namun saat menatap mata Odo yang seakan paham semua gelagatnya, perempuan rambut putih itu tidak bisa beralasan meminta waktu untuk mengganti pakaian.
“Pintunya ... itu sudah dikunci, ‘kan?”
“I-Iya!” jawab Canna gugup.
“Kalau begitu, aku langsung saja ke intinya. Kau ... salah satu dari Korwa, ‘kan?”
Pertanyaan itu membuat Canna tidak bisa bertingkah layaknya perempuan, rasa grogi berduaan dalam satu ruangan dengan lawan jenis dirinya langsung buang jauh-jauh. Perempuan rambut putih itu seketika serius, menatap tajam dengan mata ungunya dan berkata, “Seperti yang telah Ayahanda ketahui, diriku memang salah satu dari anak-anak Korwa. Lebih tepatnya, diriku adalah individu yang lepas dari jaringan mereka. Saya adalah individu independen.”
“Independen?”
“Ayahanda pasti sudah tahu kalau anak-anak Korwa itu sebenarnya adalah versi-versi lain dari kepribadian Korwa sendiri, bukan?” ucap Canna. Ia mengambil cangkir untuknya sendiri, lalu menuangkan teh bunga Rosella yang tidak mengandung obat tidur. Sembari memasukkan gula dan mengaduknya, ia menjelaskan, “Dalam pembawaan kepribadian dari dasar dimensi, itu dibantu sistem pembuatan Homunculus yang dikembangkan oleh sosok Mother dari Moloia dan Witch hutan Pando .... Diriku tercipta sebagai salah satu individu buatan Miquator namun kepribadianku adalah Korwa.”
Odo menyadari ada beberapa hal aneh pada perkataan itu. Dari cara bicara Canna, itu seakan semua individu yang disebutnya bisa dengan bebas membuat klon melalui rekayasa genetik dan menciptakan Homunculus. Sedikit menyipitkan mata, Odo sekilas menghela napas dan bertanya, “Berarti kau berbeda dengan anak-anak Korwa itu?”
“Struktur tubuh saya berbeda,” jawab Canna. Mengangkat cangkirnya dan meniup teh yang masih mengeluarkan asap, ia menjelaskan, “Namun dalamnya sama. Nyatanya, diriku juga sering terhubung dengan mereka. Ayahanda tahu, meski umur saya terlihat sudah dua puluhan tapi saya baru saja keluar dari tabung penstabil sekitar sebelas tahun lalu, loh. Berbeda dengan anak-anak Korwa yang diciptakan untuk memanggil jiwa Ayahanda, diriku masih sangat muda.”
“Memanggil jiwaku, ya ....” Odo sekilas tidak suka dengan tindakkan seperti itu. Apa yang dilakukan para Korwa, semua kekacauan dan malapetaka yang dilakukan mereka seakan memang diperlukan untuk kedatangannya ke dunia.
“Ayahanda sudah mendengar itu dari Orgin, bukan?” tanya Canna sembari kembali meletakkan cangkirnya dan tidak jadi minum.
“Orgin?”
“Inti dari kami, sumber dari kepribadian kami dan kesadaran yang paling tepat disebut Korwa.”
Odo mengingat-ingat ciri tersebut. Memegang dagu dan sedikit menunduk, ia menyadari sesuatu dan berkata, “A ..., wanita itu .... Hmm, kurang lebih aku paham apa dirimu. Jujur aku sempat bingung karena ada Korwa berambut putih dan bukan Elf.”
Canna menyangga, “Aku juga Elf, loh. Meski bukan murni karena peta genetikku cenderung dipenuhi dengan milik Witch seperti para Intara Hexe.”
Odo sedikit terpancing dengan nama seri pertama dari Homunculus yang diciptakan Miquator. Setahunya dari catatan di kediaman Luke, semua Intara Hexe berambut pirang dan memiliki mata biru. Namun ciri seperti itu tidak ada pada Canna dan bahkan perempuan di hadapannya itu sama sekali tidak mirip dengan Mavis.
Mengesampingkan itu sesaat, Odo bertanya, “Dari cara bicaramu, apa Penyihir Agung yang kamu maksud itu Penyihir Agung yang menguasai Miquator, ‘kan?”
“Iya, tentu saja.”
“Apa dia juga Korwa. Maksudku, dia dengar-dengar rambutnya ungu.”
Canna sedikit mengerti kenapa Odo sampai menyimpulkan seperti itu. Menarik napas dengan sedikit bingung, ia coba menjelaskan, “Eng .... Penyihir Agung bukan Korwa, tapi ia — Darahnya menjadi dasar pembuatan tubuh para Korwa. Karena perjanjiannya dengan Mother kerajaan Moloia, ia memberikan peta genetiknya yang telah mendapat formula keabadian. Diriku tak tahu perjanjian itu isinya apa, namun karena itu kebanyakan Korwa berambut ungu dan basis Elf berasal dari tambahan Mother sendiri.”
Odo menatap datar, merasa benar-benar muak dengan semua itu. Dari penjelasan Canna dirinya dengan jelas paham kalau semua kekacauan yang ada memang terjadi hanya untuk memanggil jiwanya ke dunia setelah kiamat ini. Memejamkan mata, pemuda itu merasa bebannya bertambah lagi setelah memastikan sesuatu.
Kembali membuka mata dan menatap dengan rasa lelah, Odo berkata “Jadi bukan berarti Korwa — Tepatnya, apa yang kalian sebut Orgin itu memiliki wujud seperti itu, ya. Hanya menyesuaikan.”
Canna sedikit cemas melihat ekspresi muram seperti itu, lalu bertanya, “Kenapa Ayahanda tiba-tiba ingin menanyakan hal ini? Bukannya ... Ayahanda sudah mendapat ingatan Raja Iblis dan seharusnya sekarang ... Ayahanda lebih tahu dari kami?”
Odo tersenyum tipis dengan sarkasme, menatap datar dan berkata, “Sayang sekali ingatanku penuh lubang. Meski bisa dikira-kira, tetap saja aku butuh kepastian. Lagi pula, itu hanya ingatan masa lalu. Bukan berarti aku tahu apa yang telah kalian lakukan selama ini ....”
Suasana menjadi senyap sesaat, udara di ruang tertutup terasa berat dan membuat Canna tidak bisa berkata apa-apa soal itu. Memang bagi sosok yang ada di hadapannya dipanggil ke dunia sangatlah tidak menyenangkan. Saat seseorang mati itu seharusnya menjadi akhir, namun setelah itu dirinya malah kembali dilahirkan dan dibebankan untuk mengubah dunia dengan keberadaannya.
Odo menghela napas, memasang senyum tipis dan berkata, “Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembahasannya.”
“Be-Benar juga, Ayahanda ingin membahas kerja sama dan tentang ... Awal Permulaan. Apa tak masalah hal seperti itu? Bukannya Awal Permulaan itu sangat berharga?” ucap Canna dengan ragu. Rasa cemas masih tertinggal dalam benak perempuan itu.
“Tak masalah. Keduanya masuk dalam satu pokok pembicaraan.”
“Satu pokok?”
“Hmm ....” Odo mengacungkan jari telunjuknya setinggi dada, lalu berkata, “Kalau begitu, untuk tes awal jawab pertanyaanku. Ini untuk mengecek sebera tepat pengetahuanmu.”
Melepas rasa cemas, penyihir Miqutaor Expert Tingkat Kedua itu dengan percaya diri berkata, “Silakan, saya pasti akan menjawabnya dengan tepat.”
“Bagus, percaya diri seperti itu sangat bagus. Ya, ini paling dasar, sih. Kalau begitu, coba jelaskan tentang elemen paling dasar yang membentuk dunia!”
Canna sesaat terdiam memikirkan jawabannya. Tak butuh waktu sampai lima menit, ia pun menjawab, “Elemen paling dasar adalah Empat Elemen Utama, terdiri dari Api, Air, Tanah, dan Udara. Keempat itu memiliki pengembangannya masing-masing. Semua meteri di dunia ini memiliki keempat elemen tersebut. Selain itu, ada juga sebuah elemen Klasik yang sering disebut Aether yang tersebar di udara. Tubuh manusia adalah gambaran nyata dunia dan elemen-elemen itu dimiliki tubuh manusia sebagai fondasi pembangunnya. Dalam pendekatan lain, atribut tanah juga dapat didefinisikan sebagai debu dan udara dikenal sebagai angin.”