
۞۞۞
Terbaring pada ranjang dan terpapar cahaya remang-remang dari lampu kristal, Odo perlahan membuka matanya dan sedikit menghela napas. Saat hari baru saja akan berganti sekitar satu jam lalu, suara dari luar kamarnya perlahan mulai sirna dan keheningan pun datang.
Di luar keramaian para pelayan yang menyiapkan acara untuk besok tidak lagi mengusik telinganya, digantikan oleh suara-suara nyaring serangga pada musim semi di halaman. Sejenak hal tersebut mengingatkan Odo dengan kesan asri sebuah pedesaan, begitu damai sampai membuatnya ingin melupakan semua kewajiban dan melanjutkan tidur.
Paham dirinya tak memiliki hak untuk hanya berdiam diri dan masih mempunyai banyak hal yang perlu dilakukan, Odo segera bangun dan duduk di ujung tempat tidur. Ia sejenak menarik napas ringan, segera melepas kemejanya yang lusuh dan melemparnya ke lantai.
Pada waktu yang seharusnya untuk istirahat, ia malah turun dari tempat tidur dan langsung bersiap untuk push up. Tanpa rasa lelah atau pun kantuk, pemuda rambut hitam itu mulai melatih tubuhnya di awal hari, bahkan sebelum matahari terbit. Sembari melakukan hal tersebut, ia kembali memikirkan apa yang dirinya lihat di kota pesisir.
Meski paham ada hal lain yang harus diselesaikan terlebih dulu, namun tetap saja kejadian sebelumnya sedikit mengingatkannya dengan kenangan dunia sebelumnya. Membuat dirinya tak tenang, merasa dekat dan tak bisa lepas dari hal-hal menyedihkan seperti itu. Meski jauh dari lubuk hati Odo sangat membenci pelacuran, ia merasa tak bisa lepas.
“Kenapa aku selalu dekat dengan para wanita penghibur? Dari dulu, bahkan sampai sekarang,” benak pemuda itu seraya berbaring di lantai.
Dari push up untuk melatih tangan, ia lanjut melakukan sit up untuk melatih otot perutnya. Hal semacam itu dirinya lakukan bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan fisik, namun untuk penelitian dan mencari tahu apakah kondisi dasar dari tubuh fisiknya juga bisa disimpan ke Inti Sihir atau tidak.
Karena itu, ia harus mendapatkan perkembangan kemampuan fisik pada tubuh terlebih dahulu sampai bisa melihat perbedaannya dengan jelas.
Selama satu jam lebih, pemuda itu melakukan push up dan sit up secara terus menerus sampai tubuhnya mencapai batas. Keringat berceceran di lantai, aroma asam tercium pekat di dalam kamarnya. Saat mulai kelelahan, Odo merentangkan kedua tangannya dan berbaring di lantai.
Merasakan otot perut dan tangannya mengencang, ia sekilas menghela napas kecil dan memejamkan mata. Ia mulai menggunakan Aitisal Almaelumat untuk membaca informasi fisiknya sendiri, lalu menyalin hal tersebut dan menerapkannya pada sirkuit eksternal. Dalam proses itu, garis-garis merah menjalar dari dada kiri ke seluruh tubuh Odo, terutama pada bagian perut dan kedua tangan.
Saat garis-garis merah padam, sirkuit sihirnya telah menyalin informasi fisik tubuhnya dan secara bertahap mengangkut semua susunan informasi tersebut ke dalam Inti Sihir. Proses itu sama seperti saat Odo menyimpan perkembangan sihir, sangat memberikan tubuhnya beban dan darah mulai mengalir keluar dari hidung.
Tidak seperti saat pertama kali menggunakan metode tersebut, kali ini ia tak sampai mati dan hanya mendapat luka dalam ringan seperti beberapa pembuluh darah pada kedua tangan pecah dan pendarahan ringan.
Melihat pergelangan tangan kanan yang sedikit membiru, sekilas Odo memasang senyum tipis karena perkembangan kemampuan fisiknya dapat disimpan hanya dengan sedikit efek samping.
“Yah, bukan berarti aku harus sampai kekar atau maskulin. Asalkan stamina bertambah sampai tingkat dimana aku hanya perlu tidur satu jam dalam sehari itu sudah cukup. Karena efek reset setelah menggunakan Nyawa Cadangan, kondisi fisik tubuhku juga terkena dampaknya sih.”
Ia segera bangun, meregangkan kedua tangannya dan mulai meloncat-loncat kecil untuk memastikan tidak ada yang janggal. Mencium badannya sendiri, Odo sekilas merasakan aroma yang tidak sedap karena keringat. Ia terdiam sesaat, merasa kalau mandi hanya akan membuang waktunya. Namun paham tidak bisa keluar dengan aroma tak sedap seperti itu, ia menggunakan Aitisal Almaelumat untuk memanipulasi aroma tubuh supaya tidak memancarkan bau asam.
“Hmm, cara seperti ini memang efektif. Tanpa mandi, aroma tak sedap pun hilang tanpa bekas⸻ Eng?”
Perkataan Odo terhenti dan keningnya mengerut. Ia baru sadar kalau kamarnya juga memancarkan aroma yang sama, begitu asam dan membuatnya sampai menutup hidung. Mengingat kembali kalau dirinya tidak mandi selama beberapa hari dan tidak memperhatikan bau badan, ia merasa aroma tersebut memang wajar keluar darinya saat berkeringat.
“Uwah, jelas Canna mengendus-endus ke arahku saat di Atelier. Untung saja waktu itu aku gak terlalu berkeringat …. Huh, memang banyak sihir pasif yang hilang karena efek Nyawa Cadangan. Mungkin sebaiknya aku memasangnya lagi, sihir-sihir praktis semacam penghilang bau badan atau semacamnya.”
Sejenak melihat bintang melalui jendela kamar, raut wajahnya tampak sedih dan merasa gugusan bintang di langit sana menunjukkan banyak hal yang telah berubah.
Bagi Odo yang paham kalau tiap-tiap bintang di langit sana adalah sebuah matahari yang jaraknya sangat jauh dan kemungkinan besar memiliki bentuk kehidupan lain, untuk sesaat ia merasa kalau dunia telah berkembang ke arah yang benar-benar tidak dirinya ketahui.
“Meski dikatakan tiap tata surya bisa memiliki bentuk kehidupan masing-masing, namun di dunia sebelumnya yang bertahan hanyalah bangsa yang menyerupai manusia. Bentuk makhluk hidup yang berdiri dengan dua kaki dan memiliki dua tangan adalah yang paling ideal, itu sudah dibuktikan oleh alam sendiri.”
Odo berpaling dari langit, sejenak menundukkan kepala dan menatap datar ke arah beberapa tanaman di kebun herbal. Sekilas ia merasa heran, lalu dalam rasa bingung isi hatinya pun terucap, “Lalu, apa di dunia ini juga serupa? Atau di langit sana hanyalah sebuah titik-titik cahaya tanpa bentuk kehidupan? Sebuah imitasi untuk membuat dunia ini mirip dengan sebelumnya?” Ia tidak bisa membuktikan spekulasi itu benar atau tidak, jangkauannya terlalu luas dan informasi yang dirinya miliki tentang dunia sangatlah sedikit.
Dalam keheningan pada pagi-pagi buta, ia kembali mendongak dan merasa seperti sedang dikurung dalam sebuah kotak. Begitu sesak, terbebani dan seakan dikekang oleh banyak hal yang membuatnya tidak bisa pergi bebas ke tempat yang dirinya inginkan.
“Sudahlah, kurasa itu bukan hal yang perlu aku tahu sekarang.”
Odo kembali menutup jendela, berjalan ke arah lemari untuk mengambil kemeja dan celana ganti. Tidak seperti biasanya, pemuda itu mengambil pakaian dengan dominasi warna gelap untuk keseluruhannya. Melepas sabuk dan celana, ia pun mulai berganti pakaian.
Pakaian atas adalah tunik berwarna merah darah yang dirangkap hem lengan panjang berwarna hitam dengan kerah tegak, sedangkan untuk bawahan ia mengenakan celana hitam dan sepatu kulit warna cokelat gelap.
Apa yang Odo kenakan tersebut sedikit mirip dengan pakaian yang pernah ia pinjam dari Siska sebelum ekspedisi pembasmian para bandit, tampak seperti orang yang sedang berkabung.
Mengambil satu sarung tangan lagi dari lemari, ia memakainya di tangan kiri untuk melengkapi sarung tangan kanan. Sejenak ia menghela napas ringan, menyisir rambut dengan jemari dan merapikannya. Tanpa berkaca terlebih dahulu, pemuda itu membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
\===============
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.