
Dari gerbang utama kota Mylta, tepat pada arah selatan terdapat jalan yang cukup lebar dengan salah satu sisinya dibatasi dinding besar kota pesisir yang merentang sampai arah laut. Lurus mengikuti jalan dengan susunan batu di dekat dinding itu, terdapat sebuah barak pelatihan prajurit dan penjaga kota Mylta. Itu terpisah dari pemukiman, namun cukup dekat dengan gerbang utama karena bisa ditempuh hanya dengan lima menit berjalan kaki.
Barak memiliki penataran bangunan hampir sama dengan balai kota, memiliki sebuah lapangan tarung yang cukup luas — Dikelilingi oleh kantor dan asrama para militer kota pesisir. Pada pagi hari menjelang siang tersebut, suasana di barak cukup ramai karena sedang waktu kerja mereka dan terlihat banyak orang yang sedang berlatih di lapangan.
Semua orang yang sebelumnya berada di lobi penginapan Porzan datang ke tempat itu. Sesegera Iitla berusaha membubarkan para anak buahnya yang sedang berlatih di lapangan, memberitahukan mereka kalau akan diadakan duel penting mempertaruhkan masa depan wilayah Luke— Antara Odo melawan Arca.
Secara otomatis keributan pun terjadi, mereka langsung mengutarakan berbagai argumen. Ada yang menganggap itu omong kosong dan tidak masuk akal, ada yang kesal karena memang tidak menyukai sifat Arca, dan ada yang hanya terheran dan bertanya-tanya kenapa bisa terjadi duel sepenting itu.
“Kenapa Bapak membiarkannya?! Bukannya taruhan itu tidak masuk akal? Mereka masih anak-anak!”
“Itu benar! Masa depan ini tidak boleh ditentukan seperti ini!”
“Kita tunggu Tuan Dart kembali dulu! Dia akan kembali pertengahan musim semi ini! Meski mereka masih anak-anak, kalau ada hitam di atas putih hubungan Luke dan Rein bisa kacau, Pak Iitla!”
Kepala Prajurit itu hanya bisa terdiam, ia sangat paham dengan pendapat-pendapat anak buahnya tersebut. Namun tetap saja ia tidak bisa menyampaikan kenyataannya, bahwa penyebab utama dari duel itu terjadi karena Nona yang mereka hormati melakukan beberapa kasus korupsi untuk menggolong dana demi rencana pembasmian bandit yang telah mereka lakukan pada musim dingin lalu.
Di depan bangunan penyimpanan senjata yang ada di pinggiran lapangan latihan, Arca memilah beberapa pedang yang dibawakan oleh kedua Butler pribadinya dari dalam gudang. Ia sekilas melirik ke arah Kepala Prajurit yang kewalahan menjelaskan masalah kepada para prajurit di tengah lapangan, lalu menyeringai kecil dengan ekspresi merendahkan.
“Lihat itu, apa benar pria di sana setingkat Knight denganku?” ucap Arca.
“Tentu saja orang itu tidak setara dengan Anda, Tuan Arca.”
“Itu benar, My Lord.”
Mendengar ucapan kedua Butler pribadinya itu, Arca hanya menyeringai kecil dan kembali memilah pedang yang akan digunakan untuk duel. Pedang yang ada hanyalah senjata biasa, tidak mengandung struktur sihir atau trik di dalamnya. Arca sendiri ingin bertarung dengan kemampuannya murni, tanpa taktik curang atau tipu muslihat.
Sedikit cemas, salah satu Butler Arca bertanya, “Tapi Tuan Arca, apa Anda yakin ingin melawan langsung Pembunuh Naga Hitam itu? Bukannya dia ....”
“Tenang saja ....” Arca menoleh dengan wajah penuh rasa percaya diri, sembari menyeringai ia berkata, “Meski aku tidak bisa menggunakan sihir, aku punya kekuatan itu. Apa kau lupa, aku Native Overhoul dengan jenis kekuatan terkuat ....”
Di tengah pembicaraan tersebut, Odo keluar dari gudang penyimpanan senjata dengan membawa pedang Gladius. Itu merupakan pedang yang hanya memiliki panjang sekitar 55 sentimeter, mengutamakan ketahanan mata pedang, kedua sisinya tajam dan ujungnya cukup runcing.
Melihat pemuda rambut hitam itu keluar dengan perempuan berambut biru yang selalu menemaninya, Arca sempat bingung. Senjata yang diambil pemuda itu cenderung tidak cocok dengan gaya bertarung aliran Luke yang terkenal dengan pedang tunggalnya.
“Kenapa dia memilih pedang pendek seperti itu? Bukannya keluarga Luke cenderung ke pedang tunggal dengan panjang lebih dari satu meter?” benak Arca.
Sebelum sempat menanyakan hal tersebut padanya, Odo dan Vil didatangi perempuan rambut merah dari keluarga Mylta, Lisia. Dengan napas terengah-engah sehabis berlari ia langsung bertanya, “Ke-Kenapa malah Anda menantang Tuan Arca duel dan mempertaruhkan hal seperti itu?! Tu-Tuan Arca tahu kalau Anda sedang lemah!”
Odo hanya menatap datar perempuan yang napasnya ngos-ngosan tersebut. Ia sangat mengerti hal itu dan kurang lebih paham kalau yang memberitahukannya adalah Lisia sendiri. Menghela napas ringan, Odo balik bertanya, “Kenapa kau malah kembali ke kota? Kau belum selesai mengurus suku Klista itu, ‘kan?”
“I-Itu .... Saya hanya ingin memastikan eksekusi bandit, jadinya ....”
“Dan ini yang kau dapat!” Odo menghadap perempuan rambut merah itu, menatap kesal dan kembali menekan, “Pasti kau juga langsung datang setelah mendapat pesan dari orang Rein itu tentang tawaran dana atau semacamnya, bukan?”
“A—!Eng ....” Lisia mengangguk dengan penuh rasa sesal.
Odo memang paham sifat Lisia seperti itu, sudah memperkirakan kalau perempuan itu akan menjadi salah satu yang terjerat jebakan sang Dalang yang ternyata memang orang Rein. Sedikit menghela napas, ia berusaha untuk menghapus rasa kesal.
Tidak memedulikan hal seperti itu dan berhenti menyalahkan, Odo segera menoleh ke arah Arca dan bertanya, “Arca Rein! Aku belum memutuskan apa yang akan kuminta jika menang, ‘kan?”
“Hmm?” Arca mengambil pedang satu tangan sepanjang satu meter lebih dari salah satu Butler Pribadinya, lalu menoleh dan berkata, “Bukannya kau ingin aku bungkam soal semua masalah mereka kalau menang?”
“Itu kurang setara dengan taruhanku.”
“Ya, benar juga.” Arca menyeringai kecil seraya mengamati mata pedang yang bilah tajamnya memantulkan cahaya matahari. “Hmm ....” Melirik kecil ia pun bertanya, “Jadi kau mau minta apa kalau menang? Merebut semua wewenang Rein? Memenjarakanku? Menjadikanku budakmu semumur hidup? Yah, semua itu mustahil bagimu, sih!”
“Semuanya ....”
“Heh?” Arca terkejut, begitu pula kedua Butler Pribadinya dan Lisia. Sedangkan Vil, ia menghela napas karena Odo menuntut hal yang lebih gila dari apa yang dipertaruhkannya.
“Hah?” Arca kembali kesal, menatap tajam dan membentak, “Bicara apa kau! Dasar gila! Mana mungkin aku menyetujuinya! Buat taruhan yang wajar dan layak! Dasar sialan!”
Odo sedikit mengangkat dagu, menatap rendah dan berkata, “Kalau kau menelan syarat itu, akan kuberitahukan kenapa Ibumu bisa-bisanya mengandungmu sampai 17 bulan. Bila perlu, akan kuberitahu juga kebenaran apakah kau benar-benar anak dari paman Thomas dan Lady Calista atau bukan ....”
“Hah?” Arca langsung gentar, tidak bisa menganggap itu bualan setelah mendapat tatapan serius Odo. Terpancing hal itu ia pun berusaha membantah, “Kenapa aku harus percaya padamu! Aku bisa bertanya pada Ibund—”
“Kau takkan bisa bertanya langsung,” potong Odo dengan dingin. Ia menatap datar, tersenyum ringan dan menegaskan, “Kau tidak akan berani. Buktinya kau tidak menanyakan hal itu selama masa hidupmu 15 tahun ini.”
“Tch! Memangnya apa yang kau tahu?!” bentak Arca.
Mengacungkan jari telunjuknya ke depan mulut, sembari menyeringai kecil Odo berkata, “Aku beri petunjuk, alasan ibumu bisa mengandung selama 17 bulan ada kaitannya dengan Ibuku, Mavis Luke. Mereka tahu sesuatu dan aku juga tahu hal itu. Selebihnya akan aku beritahu jika kau menelan syarat itu dan memang melawanku.”
“Kau—!” Perkataan Arca terhenti, menggertakkan gigi dan benar-benar tidak bisa mengacuhkan hal tersebut. Dalam lubuk hatinya ia memang sangat ingin tahu hal yang selalu menghantuinya tersebut, lalu dengan kesal ia pun menjawab, “Baiklah! Kalau memang itu yang kau inginkan! Aku terima syarat itu! Akan kupastikan kau menyesal karena menantangku, dasar sampah!”
.
.
.
.
Semua orang menyingkir dari lapangan latihan, menyediakan ruang untuk duel kedua pewaris keluarga aristokrat tersebut. Para penonton yang terdiri dari para prajurit, penjaga, beberapa pedagang dan yang pejabat berdiri di pinggiran. Mereka memasang berbagai ekspresi dan ramai dengan suara yang terkesan berdengung. Di bawah teriknya matahari siang, duel tersebut diadakan secara resmi dengan saksi Lisia dan semua orang yang menonton.
Lisia, Vil, dan kedua Butler Arca berdiri di dekat gudang penyimpanan. Mereka menatap dengan cemas dan merasa kalau duel yang akan dilakukan sangat tidak tentu siapa yang akan menang. Baik Odo atau Arca, keduanya adalah memiliki pamor tersendiri dan kekuatan yang bisa dikatakan di atas rata-rata jika dibandingkan dengan para Ksatria sekalipun.
Di tengah lapangan Odo berdiri sepuluh dari tempat Arca, menatap datar dan sama sekali tidak mempersiapkan sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang penyihir sebelum bertarung. Melihat itu Arca merasa kalau lawannya itu akan maju menggunakan teknik pedangnya saja, menemukan keuntungan besar dalam duel dan mulai menyeringai. Iitla Lots berdiri di antara mereka berdua, bertugas sebagai wasit duel tersebut dan dipilih atas persetujuan mereka berdua.
Arc mengacungkan senjatanya ke depan, itu berupa pedang satu tangan dengan panjang satu meter lebih dan memiliki dua sisi tajam yang mengkilat. Dengan menaikkan volume suara ia berkata, “Syarat kemenangannya bagaimana?! Apa sampai salah satu dari kita terkena tebasan dan menyerah?”
“Bicara apa kau!” Odo mengangkat pedangnya ke pundak, menatap datar dan lantang menjawab, “Kita mempertaruhkan semuanya, ketentuan itu sangat lembek! Kita bertarung sampai kesadaran hilang atau salah satu dari kita menyerah! Luka permanen sampai membuat lawan cacat diperbolehkan! Memotong tangan, menghancurkan mata, menusuk dada dan perut juga boleh! Asal tidak sampai membunuh itu sudah cukup!”
Iitla terkejut mendengar syarat itu, dengan panik ia pun berkata, “Tu-Tuan Odo! Ketentuan duel seperti it—!”
“Tak masalah,” sela Arca. Menarik napas dan kembali memasang seringai khas miliknya, pemuda rambut cokelat itu berkata, “Aku tak keberatan! Dengan syarat itu!”
“Hmm ....” Odo mengendus, menurunkan pedang dari pundak dan berkata, “Bagus! Kalau begitu kita mulai saja ....”
“Tuan Iitla, aba-abanya!” pinta Arca.
Kepala Prajurit itu sedikit bingung dan takut, segera melihat ke arah Lisia seakan meminta persetujuan atas apa yang menjadi tuntutan Odo dan Arca. Lisia di sudut lapangan hanya mengangguk kecil dengan ragu, tidak bisa melakukan apa-apa untuk duel tersebut.
Iitla terlihat pucat dan merasa cemas, takut akan mengkhianati sosok penguasa Wilayah Luke karena tidak mencegah duel berdarah yang akan dilakukan kedua pemuda dari keluarga aristokrat tersebut.
“Baiklah ....” Iitla berdiri di antara Odo dan Arca, menarik napasnya dalam-dalam dan lantang berkata, “Duelnya akan dimulai! Peraturan dan syarat kemenangan adalah membuat lawan kehilangan kesadaran atau menyerah! Diperbolehkan melakukan serangan fatal yang berakibat luka permanen! Penggunaan sihir diperbolehkan! Senjata diperbolehkan! Batas waktu duel tidak ada! Dilarang membunuh lawan! Dilarang ada ikut campur dari pihak luar! Dan kedua pihak wajib mematuhi syarat tersebut! Jika ada yang melanggar maka pihak lawan akan dinyatakan menang!”
Iitla mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu berkata, “Putra Marquess Luke, Odo Luke! Apakah engkau bersumpah akan mematuhi peraturan dan memenuhi janjimu dalam duel ini?”
“Aku bersumpah ....!”
“Putra Count Rein, Arca Rein! Apakah engkau bersumpah akan mematuhi peraturan dan memenuhi janjimu dalam duel ini?”
“Atas nama Ayahku, diri ini bersumpah!”
“Kalau begitu, pada siang ini duel akan dimulai!”
Suasana berubah hening seketika, orang-orang di pinggir lapangan tersebut terdiam seketika. Lapangan yang digunakan memiliki panjang sekitar 120 meter dan lebar 90 meter, dengan permukaan tanah rata yang sedikit berdebu dan tepat terpapar teriknya matahari yang telah naik ke puncak tertingginya.
Kedua pihak bersiap ....” Dalam suasana yang tegang tersebut, Iitla memantapkan benaknya dan lantang menurunkan aba-aba, “MULAI!!” Iitla menurunkan tangannya dengan cepat, tanda dimulainya duel tersebut.
Namun, tidak ada di antara mereka berdua yang mengambil langkah awal. Arca hanya mulai memasang kuda-kudanya dengan berdiri menyamping, mengangkat pedang dengan tangan kanan seakan pedang yang dipegangnya itu adalah jenis Rapier. Melipat tangan kiri ke pinggang, menegakkan tubuh dan membuat jarak antara kedua kaki pendek supaya bisa langsung mengambil langkah lebar untuk melakukan tusukan cepat.
Berbeda dengan anak keluarga Rein itu, Odo hanya berdiri tanpa memasang kuda-kuda sama sekali. Sikap tubuh, cara pandang dan pernapasan, semua itu tidak dirinya persiapkan dan hanya mengangkat pedangnya ke depan. Arca merasa terhina dengan sikap seperti itu, namun tentu saja dirinya paham kalau hal tersebut hanyalah provokasi karena sedikit memahami orang bernama Odo itu seperti apa sifatnya.