Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 59 : Aswad 6 of 15 “To Speak” (Part 02)



Di tengah persiapan mereka, tiba-tiba hawa yang terasa amat asing membuat ketiga Prajurit Peri itu tertegun untuk sesaat. Apa yang terpancar dari permukaan terasa hampir sama dengan sihir peri yang mereka gunakan, namun esensinya seakan benar-benar berlawanan dan lebih mengerikan dari semua tekanan sihir yang pernah mereka rasakan.


Saat mereka berhenti tertegun, angin berhembus kuat ke arah mereka dan membuat awan hitam di langit mulai menggumpal ke satu titik. Pusaran awan kelabu memusat tepat di langit kota Mylta dan semakin gelap pada intinya. Itu pada ketinggian hampir mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut, begitu tinggi dan sangat lebar pusat pusarannya. Mendongak ke atas, seketika mereka paham kalau di dalam pusaran awan tersebut terjadi distorsi ruang dalam sekala besar.


Fenomena tak wajar tersebut sekilas mengingatkan mereka dengan cara para Iblis datang ke Dunia Nyata melalui proses Ritual Pemanggilan. Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh Aliran Sesat, sering terjadi sepanjang masa Perang Besar. Namun, distorsi pada pusaran awan yang ada sekarang terasa berbeda. Itu tidaklah menjijikkan atau memancarkan aura busuk, melainkan terasa amat begitu suci dan mutlak.


Mata merah mulai nampak di dalam distorsi sekala besar itu. Pusaran awan yang mengitarinya membentuk sebuah wajah raksasa, menyeringai dalam kegelapan langit seakan menertawakan mereka yang ada di bawahnya. Kilatan-kilatan petir yang sekilas terlihat dalam awan tiba-tiba lenyap, gemuruh tidak terdengar lagi dan pada satu titik dalam pusaran terpancar cahaya terang yang terasa begitu hangat.


Dari awan berbentuk wajah tersebut, sosok aslinya mulai mewujudkan dirinya ke dunia. Tengkorak raksasa tanpa kulit atau daging, besarnya begitu masif dan terlihat tidak masuk akal. Itu setara dengan ukuran sang Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion. Tubuh raksasa tengkorak itu keluar dari pusaran awan hanya sampai pada bagian pinggang, lalu terhenti dan mulai menyatukan kedua telapak tangan tengkoraknya seperti sedang berdoa.


Meski tubuhnya hanya terwujud ke dunia hanya sebagian, panjangnya sudah melebihi 200 meter dan memancarkan aura yang tak wajar. Wujud tengkorak raksasa itu sangatlah mirip dengan Odrania, namun permukaan tulangnya lebih bersih dan tidak memiliki daging busuk di sela-sela sendinya.


Apa yang melapisi dan menjaganya tetap tersambung antar bagian tulang satu dengan tulang lain adalah energi petir putih. Itu dipadatkan menjadi seperti secuil daging yang menyatukan sendinya, memancarkan cahaya terang dan bersuhu sangat tinggi. Foton yang dikeluarkannya berakselerasi tak wajar, membuat molekul-molekul gas di sekitarnya seakan terhisap masuk ke dalam tulang dan menjadi energi baginya.


Semua Prajurit Peri yang melihat itu seketika terbelalak, ukuran masif tersebut benar-benar tak masuk akal bagi mereka. Lebih besar dari bangunan bertingkat atau bahkan bukit, telapak tangan raksasanya terlihat seakan bisa meratakan kota dengan mudahnya. Dengan tubuh gemetaran, ketiga Prajurit Peri membidik ke arah tengkorak raksasa itu. Namun, secara insting tubuh mereka menolak untuk menyerangnya.


Keberadaan yang superior, wujud dan esensi untuk disembah. Bagi mereka yang merupakan makhluk dunia fana, wujud tersebut benar-benar berada pada tingkat yang berbeda. Keringat dingin bercucuran, jari siap berada pada pelatuk namun tak bisa langsung menariknya.


Notmarina menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, menggunakan rasa sakit tersebut untuk lepas dari kekuatan karisma mistis makhluk dari dimensi tinggi tersebut. Membidik lurus ke arahnya, High Elf rambut hijau pucat itu menarik pelatuk senapan revolvernya. Peluru dipicu dan melesat dalam selongsong, lalu menabrak lingkaran sihir di ujungnya dan menciptakan tombak energi berwarna hijau terang.


“Akkhhhh!!!”


Tombak cahaya itu melesat dengan kecepatan suara, langsung menghantam kepala tengkorak raksasa tersebut pada bagian di dekat matanya. Tetapi, itu sama sekali melukainya atau bahkan menggoresnya. Tepat saat tombak hasil pemadatan energi bersuhu tinggi tersebut menyentuh permukaan tulang, struktur yang mengikatnya hancur dan semua energi terurai menjadi partikel cahaya tanpa sifat destruktif.


Merespons serangan, tengkorak itu berhenti menyatukan telapak tangannya. Ia membuka tapak tangan kanan ke arah mereka, lalu mulai mengayunkannya ke bawah. Besarnya bisa mencangkup keempat Prajurit Peri itu sekaligus, bagaikan tidak memberikan ruang untuk kabur.


“Apa yang kalian lakukan! Tembak!!” teriak Notmarina.


Magda dan Ul’ma tersentak, mereka berdua sontak menarik pelatuk senapan yang terarah ke tangan tengkorak raksasa yang datang.


H&R Tamer 20 ditembakkan Ul’ma dengan struktur peluru sihir pedang angin. Sebaran proyektil yang melesat dari selongsongnya langsung aktif saat bergesekan dengan udara, lalu menciptakan pisau tajam yang membuat proyektil-proyektil tersebut bergetar dan terlihat seperti berhenti sesaat di udara. Pisau angin berbentuk pipih tercipta pada setiap proyektil, lalu berakselerasi lurus dengan cepat ke arah tangan tengkorak raksasa tersebut. Namun sebelum menyentuh permukaannya, struktur sihir tersebut lenyap seketika dan peluru-peluru pisau angin itu hancur menjadi partikel energi di udara.


Pada waktu yang hampir bersamaan, Magda menembakkan Nock Volley dengan struktur peluru sihir peledak. Amunisi pada tujuh selongsong senjatanya dipicu menggunakan konsep pemantik dan menciptakan percikkan api serta asap. Proyektil berisi mantra peledak melesat menyebar dari ketujuh ujung selongsong, lalu menghantam permukaan tangan tengkorak raksasa yang mulai turun. Namun bernasib sama dengan sihir angin, ledakkan tersebut sama sekali tidak menggoresnya seakan memang tangan tersebut membongkar semua struktur sihir dan kebal terhadap hasil hukum fisika.


Mereka sesaat terbelalak, tak percaya semua serangan seakan tak berarti di hadapan sosok tengkorak itu. Ul’ma dengan cepat kehilangan pikiran tenangnya. Bukannya mengaktifkan sihir untuk kabur, ia malah membuka megasin H&R Tamer 20 dan mulai menciptakan peluru baru di atas telapak tangan menggunakan teknik pemadatan Mana.


“Apa yang kau lakukan?! Cepat mendekat! Gunakan sihirmu!” bentak Notmarina.


High Elf rambut pirang itu segera menarik tangan rekannya tersebut, lalu mendekat ke arah Laura yang dengan segera memperpendek ruang tekanan udara panas di sekitarnya. Magda juga ikut mendekat, membuka megasin-nya dan menciptakan tujuh amunisi sekaligus di tangannya. Ia memasukkan semua amunisi ke Nock Volley, kembali menutup megasin dan mulai memasukkan mantra ke dalam peluru sihir.


Membidik ke atas, pelatuk ditarik dan seketika sihir aktif. Itu bukanlah sihir peledak seperti sebelumnya, melainkan sihir api yang diasimilasikan dengan air untuk menciptakan asap pekat. Dari ujung ketujuh senapannya, ditembakkan secara serentak bola asap yang menutupi mereka dengan cepat.


“Ul’ma!!” bentak Notmarina sekali lagi.


High Elf rambut pirang ikat kepang tunggal itu segera mengaktifkan sihir bersyaratnya yang telah disiapkan sebelumnya. Ia membuka megasin H&R Tamer dan mengambil kembali peluru sihir yang sebelumnya dimasukkan. Menelan peluru itu bulat-bulat, Ul’ma menggunakannya sebagai katalis untuk mempercepat aktivasi sihir.


“The Wind Chopper! Aktif!”


Sayap partikel pada punggungnya mulai berubah, dari bentuk sayap kupu-kupu menjadi baling-baling besar yang sekilas terlihat seperti salib. Itu melayang di belakang punggung Ul’ma, mulai berputar kencang dan menyebarkan distorsi ruang di sekitarnya dalam jarak dua meter lebih. Sebelum tangan raksasa meremukkan tubuh para Prajurit Peri, menggunakan distorsi ruang mereka berpindah dalam hitungan detik. Tentu saja itu juga mencangkup Laura yang tidak bisa bergerak dari tempatnya, ikut membawanya menghindari tepakkan tengkorak raksasa tersebut.


Kembali muncul di udara ratusan meter dari tangan raksasa itu, mereka sekali lagi tertegun melihat ukurannya yang tak wajar. Terbang di atas laut yang dekat dermaga, mereka sesaat terdiam lega dan bisa sedikit menghirup napas lega.


Asap kamuflase yang disebarkan Magda tidaklah mudah menghilang terkena air hujan atau hembusan angin karena dihasilkan memaui reaksi khusus. Namun saat telapak tangan tengkorak raksasa itu mengenainya, semua asap lenyap seakan terhisap masuk ke dalam tubuh makhluk tersebut.


“Notmarina! Bagaimana sekarang?! Ini tak termasuk perkiraan dalam rencana kita!” ujar Magda panik.


“Hmm, apa sebaiknya kita mundur?” tanya Ul’ma gemetar.


Notmarina sekilas merasa kesal pada sifat Ul’ma dan melirik tajam ke arahnya. Paham bertengkar hanya memperburuk keadaan, ia kembali menatap ke arah tengkorak raksasa dan dengan lantang berkata, “Saat Letda mengaktifkan sihirnya, pilihan mundur telah lenyap!!” Ia meningkatkan sinkronisasinya ke Dunia Astral, menambah jumlah partikel energinya dan memuat sayap tujuh warnanya semakin membesar. Sembari menyalurkan sihir ke dalam senapan yang dirinya angkat dengan kedua tangan, ia bertanya, “Ul’ma! Berapa lama kau bisa berada di mode itu!”


“Ka-Karena hanya sebagian struktur yang kusiapkan, The Wind Chopper hanya bisa aktif sekiltar lima menit lagi .... ”


Magda dengan cemas berkata, “Apa yang ingin kau lakukan?! Kau masih ingin melawannya?! Kau lihat sendiri sihir kita tidak berpengaruh, ‘kan?!”


Notmarina menarik martil senapannya, meletakkan jari pada pelatuk dan membidik ke arah tengkorak raksasa. Saat tekanan sihir dikumpulkan ke dalam senjata dan aura membunuh terpancar kuat dari Notmarina, wujud raksasa dari awan tersebut menemukan mereka berempat seakan memang bisa merasakan tanda permusuhan yang dipancarkan ke arahnya. Ia bergerak bersama pusat pusaran awan, tanpa mengeluarkan bagian tubuhnya yang masih berada di dalam distorsi.


Beberapa orang di kota mulai menyadari keberadaan tengkorak raksasa tersebut. Suara lonceng berdentang kencang dari menara-menara, tanpa siaga dan membuat para prajurit bergegas dengan senjata-senjata mereka dari barak serta berbagai tempat di kota.


Tidak memedulikan mereka yang ada di bawah, Notmarina tetap mengumpulkan sihirnya dalam frekuensi tinggi. Selongsong senapannya mulai memerah, tanda suhu semakin panas sampai ujungnya mengeluarkan asap. Namun sebelum Notmarina membulatkan tekad untuk menyerang tengkorak raksasa itu seorang diri, Laura selesai menyusun struktur akhir sihir Parva Nuclear.


“Ignis. Tin. Aer. Simul in unum: agente mutationem ....”


Mendengar rapalan akhir tersebut, Notmarina langsung menurunkan tekanan sihirnya dan menoleh ke belakang. Kedua rekannya juga segera mengerti apa yang akan dilakukan Letnan mereka. Ketiga Prajurit Peri itu segera melayang menjauh dari lajur bidikan senapan Laura, lalu masing-masing dari mereka menciptakan ruang isolasi menggunakan partikel cahaya yang mereka pancarkan.


“Sihir Peledak : Parva Nuclear ....”


Laura menarik pelatuk M1 Garand. Susunan Rune yang bersinkronisasi dan bergetar di sekitar tubuhnya mulai mengitari laras senapan, mengumpul daya pendorong dan langsung mengakselerasi Matahari Mini di ujungnya. Bola dengan suhu tinggi dan pekat dengan radiasi tersebut melesat ke arah tengkorak raksasa dengan kecepatan lebih lambat dari peluru biasa.


Tengkorak raksasa yang bergerak ke arah mereka menjalarkan petir putih terang dengan kecepatan tak wajar, menyelimutinya dan menamakan akselerasi elektron pada tubuh besarnya. Dengan kecepatan yang seharusnya tak mungkin dicapai oleh ukuran yang dimilikinya, tengkorak itu membuka kedua telapak tangannya dan memusatkan petir putih dalam jumlah sangat banyak.


Permukaan kedua telapak tangan seperti dilapisi oleh kulit sempurna, tertutup oleh petir putih yang memadat di permukaannya. Membentuk sendi, daging, lapisan kulit dan pada akhirnya membentuk kedua tangan utuh sampai siku. Dengan kecepatan cahaya dan mengacuhkan semua hukum fisika yang ada, kedua telapak tangannya berayun kencang dan menepuk Matahari Mini layaknya mematikan serangga.


Ledakkan tidak terjadi, reaksi fusi dibatalkan dengan cara di luar akal sehat. Elektromagnetik yang ada pada kedua tangan tengkorak raksasa itu tidak memiliki massa, namun dapat memuat momentum dan memiliki medan elektromagnetik yang kuat. Dalam sifat tersebut, petir itu juga bisa membuat transmutasi dalam sekala besar menggunakan energi pada jumlah yang sangat banyak.


Matahari Mini yang dihimpit oleh dua gelombang elektromagnetik seketika tiap-tiap fotonnya diuraikan, lalu materinya dibentuk kembali menjadi energi. Sebuah anti materi tercipta dalam tubrukan tersebut, lalu meniadakan dampak ledakkan energi yang seharusnya tercipta melalui reaktor fusi Matahari Mini.


Matahari berukuran sebesar bola pingpong tersebut terhimpit oleh dua tangan petir raksasa, mulai terurai dan energi kinetiknya benar-benar diredam elektromagnetik. Saat kedua telapak tangan menyatu sepenuhnya, Parva Nuclear yang ditembakkan Laura lenyap tanpa menimbulkan dampak apa-apa. Meteri yang ada berubah kembali menjadi gas hidrogen dan energi yang tercipta dari tubrukan seketika diserap oleh tengkorak raksasa tersebut.


Seketika keempat Prajurit Peri yang melihat itu jatuh dalam keputusasaan, merasa sama sekali tidak bisa menang di hadapan wujud ilahi mengerikan itu. Tubuh mereka gemetar tak karuan, keringat dingin bercucuran keluar dan wajah pucat pasi semakin kental. Saat mereka menatap mata merah sang tengkorak raksasa yang seakan memiliki karisma misterius, kesadaran mereka seakan terhisap dan membatu di tempat.


Senapan yang hampir dijatuhkan Laura menyentuh kakinya sendiri, membuatnya tersadar karena panas yang dihasilkan saat menggunakan sihir Parva Nuclear. Ia kembali mengangkat senjatanya, menarik napas dalam-dalam dan menggertakkan gigi dengan ambisi ingin bertanah hidup yang amat kuat.


“Angkat senjata kalian! Misi ini gagal! Gunakan seluruh kekuatan kalian untuk pergi dari tempat ini!!!”


Rekan-rekannya seketika tersentak, menggelengkan kepala dan segera mematuhi perintah atasan mereka. Namun saat sadar Laura tidak memiliki tenaga untuk terbang dengan cepat, mereka terhenti dan tidak langsung melesat pergi.


Notmarina, rekan lamanya tersebut mendekat ke arah Laura, lalu dengan lantang berkata, “Apa yang kau pikirkan?! Dasar bodoh! Kita akan kembali bersama!”


“Ini perintah, Notmarina .... Per—”


Seakan dari awal hanya mempermainkan mereka, sosok tengkorak raksasa itu menunjukkan kekuatan aslinya. Distorsi pada awan dalam hitungan detik berpindah ke dekat mereka, tentu saja itu bersama dengan tubuh masif sang raksasa tengkorak. Akselerasi yang dihasilkan oleh elektrik membuat sifat foton tertanam pada bentuk fisiknya, membuat massanya dengan cepat hilang dalam sesaat dan bergerak dalam kecepatan cahaya bersama awan distorsi.


Para Prajurit Peri itu masuk dalam jangkauan tangannya. Tanpa membiarkan mereka menyiapkan sihir atau menghindar, tengkorak raksasa tersebut menepuk mereka dengan kedua telapak tangan berselimut petir putih. Itu bagaikan menepuk seekor nyamuk, begitu cepat dan langsung hancur di tangannya.