
Tahun 599 Kalender Pendulum.
Sebuah negeri di timur laut jauh.
Meski langit telah menelantarkan mereka yang ada di daratan, para Mortal sama sekali tidak mengintrospeksi diri atau berusaha memperbaiki kesalahan mereka. Bukannya bertambah baik dari masa ke masa, generasi-generasi baru di daratan Michigan malah terus menerus merusak tanpa memedulikan masa depan dunia.
Perang menjadi hal biasa, perdamaian hanya berfungsi untuk persiapan perang lainnya. Keadilan hanya digunakan untuk dalih tindak kejahatan, lalu dipakai untuk membenarkan kejahatan tersebut. Hal-hal bejat yang dulunya dianggap tabu menjadi tidak mereka pedulikan lagi, dilanggar dengan mudah tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Orang bisa dengan bebas memberi nilai kepada orang lain, merendahkan, menindas dan menganggap diri mereka sendiri lebih tinggi. Dari tahun ke tahun yang tertindas semakin tertindas, yang berada di puncak terus memanjat tanpa memedulikan sekitarnya.
Penguasa hanya memuaskan diri mereka, menggemukkan badan tanpa memikirkan rakyat yang kurus kerempeng. Begitulah kondisi sebuah zaman pada tahun yang hampir menginjak abad ke-6 dari kalender Pendulum.
Pada sebuah zaman dimana peperangan antar kerajaan menjadi hal biasa di daratan Michigan, sekelompok pedagang budak menyusuri sebuah hutan bambu dalam perjalanan menuju kota pusat untuk menjual para anak-anak serta wanita yang mereka culik dari desa.
Sistem menilai dan menjual sesama mereka para Mortal adaptasi dari salah satu Dewa. Itu dulunya merupakan sebuah pengetahuan yang digunakan untuk menilai sesama, demi bisa memberikan pekerjaan yang sesuai untuk mereka yang ingin berkontribusi pada negeri tempat tinggal.
Namun karena kerakusan dan keserakahan para Mortal, pengetahuan tersebut diubah menjadi sistem perbudakan dan bisa membuat mereka menilai orang lain sampai hak asasi dilucuti sampai setara dengan ternak. Hanya untuk diperas tenaganya, diperlakukan tak layak, setara dengan binatang untuk dipakai, itulah budak.
Suara-suara yang terdengar dari semilir angin di antara bambu menemani perjalanan para budak tersebut. Kedua tangan mereka diikat, dipaksa berjalan puluhan kilometer sedangkan para juragan budak menunggangi kuda besar mereka dan memecut dari belakang.
Para budak hanya mengenakan kimono lusuh dan compang-camping, sedangkan beberapa pria kekar yang menunggang kuda mengenakan pakaian dari sutra dan berhiaskan logam mulia.
“Cepat jalan! Dasar tak berguna‼ Dasar menyusahkan saja!” ucap salah satu pedagang budak seraya memecut wanita yang berjalan paling belakang.
Wanita itu tersungkur ke atas tanah, menggigil kesakitan dan dengan suara pelan menangis, “Maaf …. Hiks …. Maafkan aku. Aku sudah tidak kuat berjalan lagi. Kakiku tidak sekuat yang lain.”
“Bicara apa kau! Beraninya membantah, dasar ternak sialan!”
Tak memedulikan hal tersebut, salah seorang pedagang budak mengendarai kuda besarnya ke dekat si wanita lemah tersebut. Tampa ragu, pedagang tersebut menarik kerah kuda dan membuat kuda setinggi lebih dari tiga meter tersebut langsung menginjak kepala wanita rapuh itu. Suara tulang remuk terdengar jelas, kepalanya pecah dan isinya terpencar ke mana-mana.
““Hiiiii‼‼””
“Mama, aku takut!”
“Kejamnya ….”
Para budak lain seketika ketakutan, segera berjalan cepat karena tak ingin berakhir seperti wanita malang tersebut. Mereka meninggalkan jasad wanita itu begitu saja di tengah hutan bambu.
Seketika para pedagang budak tersenyum lebar, mulai tertawa lepas dan menikmati ketakutan mereka. Ketika seseorang menindas orang lain, hasrat merasa paling tinggi akan menguasai dan memberikan kepuasan. Itu adalah fakta yang ada pada para Mortal.
Para budak dari berbagai ras tersebut tak bisa melawan mereka yang lebih kuat, hanya bisa pasrah dan tunduk. Di antara para budak tersebut, terdapat seorang anak perempuan yang dari lahir tidak mengenal ibu atau ayah kandungnya.
Ia tidak memiliki nama, namun orang-orang di sekitarnya memanggilnya Leben karena selalu bisa bertahan hidup dalam kondisi genting meski dirinya terlihat sangatlah rapuh dan lemah.
Dijual oleh pedagang budak bukanlah kali pertama baginya. Sejak bayi Leben dibesarkan oleh budak, lalu saat masih anak-anak ia juga dijual menjadi budak, dan saat remaja sekarang pun ia hidup sebagai budak.
Ia dilempar dari pedagang satu ke pedagang lain, karena terlihat rapuh dan tak ada seorang pun yang mau membelinya. Di zaman dimana peperangan adalah hal wajar, wanita sangatlah sulit mendapat tempatnya apalagi seorang gadis sepertinya.
Apa yang Leben bisa andalkan hanyalah pengetahuan dan pengalamannya. Ia telah banyak melihat berbagai cara orang mati, karena itulah ia bisa paham apa saja yang menjadi penyebabnya dan bisa menghindarinya.
Ia bisa merasakan kematian yang menghampiri dirinya sendiri dan orang lain. Jauh di masa depan, kekuatan yang dimiliki orang-orang sepertinya akan disebut Native Overhoul dan ditakuti oleh banyak orang.
Ketika malam datang, rombongan tersebut bermalam di dalam hutan pepohonan bambu tersebut. Para pedagang budak tidur di dalam tenda-tenda dengan api unggun sebagai penghangat di dekat mereka, sedangkan para budak tidur kedinginan di luar. Memang ada banyak kesempatan untuk para budak kabur, namun mereka bukanlah orang-orang pandai yang tahu harus pergi ke mana dan tak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Menggigil ketakutan dan kedinginan, saling merapat untuk menghangatkan diri. Jumlah budak dalam rombongan tersebut sekitar 18 orang, terdiri dari beberapa anak-anak dan selebihnya adalah perempuan. Ada yang satu keluarga, ada juga yang sebatang kara. Beberapa dari mereka terlihat saling kenal dan telah menjadi budak dalam waktu lama, lalu sebagian lagi baru pertama kali menjadi budak dan sama sekali tidak memiliki kenalan.
Mereka yang baru saja dijadikan budak menatap tajam ke arah tenda para pedagang, penuh kebencian dan mengutuk orang-orang itu karena telah membunuh keluarganya. Bagi para pedagang budak, salah satu cara yang biasa mereka lakukan untuk mendapat budak adalah membantai satu keluarga dan mengambil beberapa yang masih kecil untuk dididik menjadi budak.
Di antara pada budak, Leben tidak ikut dalam kerumunan. Gadis berbalut kimono kusut dan berambut pendek sebahu itu berjalan ke arah barisan kuda-kuda yang sedang tidur di dekat tenda.
Ia tanpa rasa takut mengambil karung perbekalan dari salah satu kuda dan mengeluarkan semua isinya ke tanah. Seakan tidak memedulikan tatapan budak-budak lain atau takut dibunuh oleh pemiliknya, ia masuk ke dalam karung tebal tersebut dan membungkus dirinya sendiri.
Pada budak lain bingung dengan apa yang dilakukan gadis kecil itu. Namun, tidak ada satu pun dari mereka peduli atau menegur. Bagi orang-orang seperti mereka, mempertahankan nyawa sendiri dan keluarga sudah sangat sulit. Tak ada ruang untuk bisa memedulikan orang lain.
Beberapa jam berlalu dan tengah malam benar-benar datang. Di dalam suasana sunyi tanpa tiupan angin atau suara-suara pepohonan bambu yang bergoyang, tiba-tiba sebuah lolongan terdengar ke penjuru hutan dan memecahkan kesunyian malam. Para pedagang budak seketika terbangun, mereka mengira itu suara lolong para serigala yang kelaparan.
“Tch! Ikat beberapa budak ke bambu! Kita segera pergi dari sini! Lagi-lagi kita rugi karena budak akan banyak yang mati!” ucap pemimpin kelompok pedagang budak.
Mereka segera menyeret beberapa budak dan mengikat mereka ke bambu, untuk mengenyangkan perut para serigala supaya tidak mengejar rombongan. Penuh tangis dan ketakutan, para budak tersebut memohon dan terus memohon.
“To-Tolong lepaskan aku, Tuan …. Aku masih punya anak di sana , dia masih kecil!”
“Ampuni aku, aku masih ingin hidup! Akan aku lakukan apa saja perintah Tuan! Kumohon, lepaskan aku ….!”
Para budak itu hanya memohon, tanpa berani melawan. Kesal mendengar ucapan berisik mereka, salah satu pedagang budak langsung menghajar mulut perempuan budak tersebut sampai giginya rontok dan kehilangan kesadaran.
“Tch! Menyusahkan!”
Mereka ⸻ Para pedagang budak tersebut berpikir bisa menggunakan para budak itu sebagai umpan para serigala kelaparan selagi bersiap untuk kabur. Tetapi, apa yang menghampiri mereka di tengah malam bukanlah para serigala atau hewan yang bisa mereka kelabui dengan umpan-umpan para budak.
Dari langit datang sesosok monster yang bentuknya mirip salah satu Hewan Suci yang pernah datang ke Dunia Nyata. Seekor serigala raksasa berbulu putih setinggi delapan meter lebih, memiliki sepasang sayap bulu putih pada punggung dan matanya menyala hijau dalam kegelapan. Sosok tersebut adalah makhluk penjaga hutan bambu itu, sang Tuan yang datang untuk menghukum para tamu yang tak tahu sopan santun.
Monster tersebut mendarat di tengah mereka, langsung menginjak para pedagang budak sampai tubuh mereka remuk. Salah satu pria pedagang budak mengangkat pedangnya, lalu mengayunkan senjatanya dan menebas salah satu kaki sosok monster yang meniru wujud Hewan Suci tersebut. Namun, bulu-bulu tebalnya dengan mudah menghalau tebasan dan serangan itu sama sekali tidak bisa melukainya.
Dengan satu ayunan ekor, tubuh pria yang menyerang monster serigala raksasa tersebut langsung terpelanting dan remuk menghantam tanah. Dalam waktu singkat, kelompok pedagang beserta para budak dihabisi tanpa pandang bulu.
Ia tidak pilih-pilih mana yang baik atau jahat, ia membunuh mereka secara membabi buta. Sosok monster tersebut tidak memangsa orang-orang tersebut, hanya membunuh para Mortal itu karena melanggar peraturan hutan dengan menumpahkan darah manusia di tanahnya saat pagi lalu.
Setelah menghabisi semua Mortal di tempat itu, sosok tersebut hendak beranjak pergi dari tempat penuh mayat. Namun saat merentangkan sayap dan akan terbang, sekilas ia merasakan hawa keberadaan mengerikan yang membuatnya sekilas menggigil.
Serigala besar itu menoleh ke kanan dan kiri dengan cemas, lalu tanpa mengecek sekitarnya lagi ia pun segera terbang pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke sarangnya.
Salah satu akar bergerak ke arah karung tebal yang masih utuh di dekat mayat kuda. Menyadari ada yang mengusiknya, Leben yang bersembunyi di dalam karung segera keluar. Ia seketika tertegun melihat pemandangan para mayat di tempat tersebut, mereka mulai diserap oleh akar pohon bambu hidup.
“Lagi-lagi mati semua ….” Gadis rambut hitam itu segera berdiri. Saat akar bambu menjalar ke arahnya mengusik, ia menangkap akar tersebut dan mematahkannya. Para akar lain seketika merespons, lalu kembali ke dalam tanah seakan mereka memang takut dengan keberadaan gadis tersebut.
Ia sesaat memejamkan mata dan fokus, seakan-akan sedang mendengarkan sebuah suara.
“Baiklah, aku juga tak mau menguburkan mereka semua. Mayat-mayat di sini akan menjadi nutrisi hutan, itu sudah tepat, ‘kan?” gumam gadis itu seraya berjalan pergi dari tempat penuh mayat tersebut.
Saat gadis kecil itu pergi, akar-akar kembali keluar dari tanah dan menusuk mayat-mayat untuk dijadikan nutrisi hutan. Leben sama sekali tidak menoleh, seakan memang dari awal dirinya terbiasa melihat pemandangan semacam itu.
Ia berjalan dan terus berjalan, menyusuri hutan bambu, melewati sungai dan menuruni ngarai. Leben sesekali bertemu dengan monster dan binatang buas, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyerang gadis kecil tersebut. Insting para makhluk buas itu dengan jelas sadar, bahwa sosok yang ada di dalam gadis kecil tersebut merupakan sesuatu yang tak boleh diusik mereka.
Saat dirinya keluar dari hutan, sebuah padang rumput lepas menyambutnya. Dari tempatnya berdiri sampai ujung cakrawala, semuanya terpentang luas tanpa pepohonan sama sekali dan hanya terlihat beberapa hewan nokturnal yang masih berkeliaran di sekitar.
Angin fajar bertiup, cahaya rembulan memapar wajahnya dan memberikan sedikit rasa lega. Membaringkan tubuh ke atas rerumputan, gadis kecil itu menarik napas pelan dan dengan suara lirih berkata, “Kau menyelamatkan diriku lagi …..”
“Tentu saja …. Berkat kau, aku makhluk lemah tanpa raga ini bisa hidup.”
Dari tubuh gadis tersebut, partikel-partikel hitam mulai keluar dan membentuk sesosok wujud orang yang tak terlalu tinggi. Wajahnya terlalu cantik untuk disebut laki-laki, namun tubuhnya sangatlah tidak feminin untuk disebut perempuan. Namun dari suaranya, dengan jelas itu terdengar seperti suara perempuan.
Sosok tersebutlah yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Pertama, entitas misterius yang tak bisa digolongkan dalam kategori makhluk mana pun.
Ia memiliki rambut hitam pekat, mata biru terang dan kulit yang sangat pucat. Setiap kali muncul di hadapan Leben, sosok yang menyebut dirinya sendiri Tak Bernama itu selalu mengenakan gaun putih polos dan tidak mengenakan alas kaki.
“Sungguh, kau benar-benar serius berkata seperti itu?” Leben segera duduk, menatap heran dan kembali bertanya, “Engkau sangat cerdas dan kuat. Kalau bukan karena dirimu, sekarang ini pasti diriku sudah tidak ada. Lantas apa yang membuatmu bisa mengaku lemah seperti itu ….”
Sosok bergaun putih tersebut memasang senyum tipis. Meletakkan jari telunjuknya ke depan mulut, ia dengan senang berkata, “Kau tahu, gadis kecil. Perempuan selalu ditakdirkan lemah. Ini bukan diskriminasi, namun seperti itulah dunia ini terbentuk. Diriku hanyalah tulang punggung tanpa tubuh ….”
Ia berbalik, menatap ke arah rembulan dan sekilas memasang senyum lepas penuh rasa kebahagiaan. “Sampai diriku bisa bertemu dengan sosok itu lagi, diriku akan terus mengaku lemah,” ucapnya sembari kembali menatap ke arah sang gadis kecil.
Leben menatap bingung. Pertama kali dirinya bertemu dengan sosok tersebut adalah ketika masih berusia 10 tahun sekitar 4 tahun yang lalu, saat dijual kepada seorang pedagang budak pada kota kecil. Pertemuannya bisa dikatakan merupakan sebuah takdir. Leben yang hampir mati di dalam hutan karena berusaha kabur ditolong oleh entitas yang bahkan tidak bisa memunculkan wujud fisik saat itu.
Di tengah hutan, sosok tanpa tubuh itu terlihat seperti mengulurkan tangannya tanpa berkata apa-pa. Namun dengan jelas Leben tahu kalau ia berniat menolong dan meraih tangan tersebut. Sejak saat itulah, sosok Tak Bernama tersebut hidup dalam tubuh Leben dan selalu membantunya setiap kali berhadapan dengan marabahaya.
“Memangnya ada hal seperti itu di dunia ini? Para pria hanya memandang kita para perempuan sebagai objek. Tak ada yang bisa kita harapkan dari mereka,” ucap Leben dengan hela napas.
Sosok perempuan bergaun putih tersebut tertawa kecil mendengarnya. Menatap sombong ke arah Leben, ia dengan percaya diri berkata, “Tolong jangan samakan dirinya dengan para pria di dunia ini. Di mataku, orang-orang itu hanyalah gumpalan daging. Bahkan tak pantas disebut makhluk hidup ….”
“Kalau begitu, di matamu aku ini apa? Paling tidak aku dianggap makhluk hidup, ‘kan?”
Sekilas gadis bergaun putih itu memalingkan pandangan, memikirkannya baik-baik dan kembali menatap ke arah Leben saat mendapatkan jawaban. “Engkau adalah temanku. Sosok yang telah menyelamatkan diriku ini. Makhluk yang pantas untuk dilindungi,” jawabannya dengan senyuman.
“Teman, ya …?” Leben menundukkan wajahnya dengan muram.
“Apa kau tak puas?” Sosok berguam putih itu berjalan ke arah Leben, lalu duduk di sebelahnya dan kembali berkata, “Kau punya kesempatan untuk berteman dengan diriku ini, loh.”
“Engkau tahu, dari kecil aku sebatang kara. Aku ⸻”
“Tak masalah!” potong sosok bergaun putih tersebut tanpa mendengar perkataan Leben sampai selesai. Ia menatap lurus, seakan dari awal telah tahu apa yang diharapkan oleh gadis kecil tersebut.
Melihat sorot mata perempuan tersebut berubah hijau sekilas, Leben merasakan ada sesuatu hal yang misterius di dalamnya. Mata sosok bergaun putih tersebut seakan telah tahu banyak hal dan bisa mengetahui apa yang ingin dirinya ketahui dengan mudah. Sebuah unsur kemahatahuan ada di dalam dirinya.
“Eng, kau yakin?” tanya Leben.
“Kau ingin menjadi keluargaku, bukan? Aku tak keberatan.” Sosok bergaun putih itu melihat ke arah rembulan, sekilas memasang wajah murung dan berkata, “Namun jika kau ingin menjadi keluargaku, ada syarat yang harus kau penuhi.”
“Syarat?”
“Hmm ….” Sosok Tanpa Nama tersebut kembali bangun, lalu berdiri di hadapan Leben dan dengan tatapan serius berkata, “Engkau tidak boleh mati ….”
Tentu saja Leben tak ingin mati, mendengar apa yang dikatakan sosok tersebut itu membuatnya bingung. Namun sebelum gadis kecil itu kembali bertanya, sosok bergaun putih tersebut kembali berkata, “Saat raga makhluk Mortal mati, jiwa mereka dengan sangat cepat terurai dan kembali ke alam. Aku tak ingin merasakan kesedihan saat kehilangan keluarga. Karena itu, kau harus hidup selamanya untukku. Ratusan, ribuan, bahkan sampai jutaan tahun, kau harus tetap hidup jika ingin menjadi keluargaku.”
“Hahaha! Bicara apa kau ini …. Mana mungkin aku bisa hidup selama itu!” Perkataan tersebut Leben tangkap sebagai gurauan. Sama sekali tak percaya, gadis itu dengan ringan berkata, “Yah, memang sih aku bisa menghindari bahaya dengan saran-saranmu, namun tetap saja hidup selama itu mustahil.”
“Itu tak mustahil bagiku ….” Sosok bergaun putih itu memasang ekspresi serius sampai-sampai Leben tak bisa menghiraukannya. Dengan nada sedikit sedih, sosok tersebut kembali berkata, “Asalkan engkau mau, diriku bisa memberimu sebuah keabadian. Ini adalah kode khusus, bisa juga disebut kutukan dalam pemahaman dunia ini. Jika engkau memiliki tekad untuk menjadi keluargaku, kau bisa mengambil kekuatan ini …. Setelah itu, aku akan berjanji akan menjadi keluargamu untuk selamanya, Leben.”
Sosok bergaun putih itu meletakkan kedua tangan ke depan dada, lalu partikel hitam mulai keluar dari tubuhnya dan membentuk sebuah kubus berukuran buah delima. Mengulurkan kotak hitam mengkilap di tangannya, dengan nada sendu ia menawarkan, “Ambil kotak ini. Ini berisi Kode Khusus itu. Jika kau ingin, diriku bisa menguraikan kodenya dan memberikannya kepadamu.”
Leben dengan jelas tahu kalau sosok tersebut tidak sedang bergurau. Samar-samar sadar beban yang ada di balik kekuatan tersebut, gadis kecil itu menawar, “Boleh … aku meminta waktu untuk berpikir dulu?”
“Tentu. Keabadian tak mudah untuk diputuskan. Tak selamanya hidup panjang itu membawakan hal baik, kau akan belajar arti kehilangan dan penderitaan. Keputusasaan akan selalu menghampiri setiap malam …. Kesengsaraan akan menjadi hal wajar bagimu.”
Pada waktu yang tak jauh setelah pembicaraan itu, pada akhirnya Leben menerima keabadian tersebut dan menjadi pemegang Kode Khusus ⸻ Sebuah kutukan dunia yang setara dengan berkah para dewa untuk mempengaruhi semesta.
Apa yang membuatnya mengambil kekuatan itu sangatlah sederhana, ia tak ingin hidup sendirian dan ingin selalu bersama sosok tersebut.
Itulah awal mula dari Dua Kaisar yang kelak akan dikenal sebagai pemimpin negeri kuno para Demi-human, kekaisaran Urzia. Mereka membangun sebuah negeri dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang melimpah, mengumpulkan berbagai keluarga dan membuat mereka loyal pada negeri.
Namun beberapa ratus tahun setelah negeri terbentuk, sosok yang memberikan kejayaan, tempat tinggal, pengetahuan, kehangatan, kehidupan, dan segalanya kepada Leben tiba-tiba harus menghilang dari dunia karena tugasnya telah berakhir.
“Semua yang bisa kuberikan telah kuberikan kepadamu, Leben. Kekuasaan, keluarga, kepercayaan, bahkan sampai nama yang sangat mulia, Cai Zi Shou Mao Naraka. Sekarang giliranku yang meminta. Apa yang ku harapkan dari awal hanya satu …. Aku ingin bertemu dengannya dan tinggal di sisinya. Entah seribu atau dua ribu tahun setelah ini, ia pasti akan datang. Benih telah ditanam oleh para Iblis Muda, aku telah menyiram benih itu bersamamu dan sosok Korwa akan memanen buahnya saat tumbuh nanti. Saat dirinya datang ke dunia ini ..., tolong selalu jadilah rekannya meski dunia akan menjadikannya musuh, wahai orang yang mencintaiku.”
Apa yang dikatakan sosok Tak Bernama tersebut sampai akhir adalah sebuah harapan untuk sang Kaisar Kedua. Leben tahu kelak sosok tersebut akan menghilang dari dunia. Karena itulah, saat mendengar permintaan tersebut ia seakan mendapat tujuan baru dalam hidup panjangnya.
Perpisahan itu sedikit membawa lega baginya. Namun tetap saja, kehilangan keluarga memang sangat menyakitkan bagi Leben.
Ketika malam saat sosok itu mengucapkan perpisahan, sang Kaisar Kedua menangis, menangis, dan terus menangis sampai tenggorokannya kering dan katung matanya menghitam.
Meski dalam kesedihan besar, sang Kaisar akan tetap hidup dan terus hidup sampai akhir dunia. Itulah kode yang dirinya terima, itulah kutukan yang dirinya ambil sebagai ganti kebahagiaan yang seharusnya tidak bisa didapat oleh seorang budak.