Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 62 : Aswad 9 of 15 “Yang menyedihkan dari masa lalu” (Part 04)



««»»


Awan mulai menutupi langit gelap beserta gugusan bintangnya, membuat cahaya bulan menjadi redup namun tidak sampai membawa tanda-tanda hujan akan turun. Angin bertiup bersama ombak, menabrak dermaga dan bebatuan karang yang cukup jarang ada di daerah teluk tersebut. Tidak seperti tempat-tempat lain di kota Mylta yang masih ramai sampai malam, distrik pelabuhan benar-benar terlihat sunyi. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang menjaga gudang-gudang hasil laut di tempat tersebut.


Pada panti asuhan Inkara yang letaknya tak jauh dari dermaga, pintu depan tempat itu terbuka dan seorang pemuda rambut hitam keluar dari sana. “Aku pergi dulu, Mbak Siska. Nanti bilang ke Nanra saat dia bangun, jangan terlalu memaksakan diri. Nanti kalau sakit malahan jadi tambah repot yang lainnya,” ucap pemuda itu seraya hendak menutup pintu.


Siska menahan dengan kakinya dan kembali membukanya lebar-lebar. Biarawati yang terlihat mengenakan piyama itu menatap sedikit cemas, lalu sembari memasang senyum tipis menawarkan, “Apa tidak mampir dulu? Memangnya malam-malam begini mau ke mana?”


Tatapan perempuan rambut pirang itu membuat Odo terdiam sesaat, memalingkan pandangan dan memikirkan jawaban yang tepat. “Ada banyak hal yang masih harus ku urus di toko. Ini hari pertama sih, banyak yang perlu disesuaikan,” jawab pemuda itu seraya menatap Siska.


Sekilas perempuan rambut pirang tersebut merasa ada kebohongan di kalimatnya, sorot mata Odo yang sekilas berpaling tanda orang yang sedang mencari-cari kalimat untuk menyembunyikan sesuatu. Paham tak memiliki hak untuk ikut campur pada masalah putra seorang Marquess tersebut, Siska hanya mengangguk dan berkata, “Ya, sudah. Hati-hati di jalan. Nanti akan saya sampaikan ke Nanra pesannya kalau dia sudah bangun.”


“Hmm, terima kasih.”


Odo berbalik dan melangkah pergi dari panti asuhan tersebut. Saat pemuda itu sampai di pagar, Siska menutup pintu panti asuhan sembari berkata, “Hati-hati di jalan, Tuan Odo ....”


“Ya!”


Odo melangkah keluar dari halaman dan menutup kembali pintu pagar. Sembari waspada pada sekitar, pemuda itu segera berjalan cepat di jalan utama pelabuhan. Namun bukannya menuju ke balai kota dan kembali ke toko di distrik perniagaan, pemuda rambut hitam itu malah belok di pertigaan dan mengambil jalan menuju distrik rumah bordil.


Siska yang membuka sedikit pintu panti asuhan dan mengintip sempat terkejut pemuda itu belok di persimpangan. Ia tidak merasa salah lihat, lampu jalan yang ada di persimpangan jelas-jelas memperlihatkan Odo belok menuju tempat kompleks pelacuran. Dalam rasa bingung biarawati tersebut terdiam mengintip dari balik pintu, ingin segera mengejar dan mencegahnya.


Tetapi memikirkan sifat beberapa kalangan konglomerat dan aristokrat yang suka hal-hal perbau pelacuran, Siska mengurunkan niatnya dan segera kembali menutup pintu. Sekilas perempuan itu terdiam, menundukkan kepala dan bergumam, “Apa sebaiknya kukejar saja? Tapi aku tidak punya hak merangnya .... Kalau dia marah—”


“Kak Siska?”


Perempuan itu tersentak mendengar suara tersebut, lalu perlahan menoleh ke belakang dan melihat Nesta yang masih belum tidur. Gadis kecil itu berjalan menghampiri Siska, lalu dengan penasaran bertanya, “Apa Tuan Odo sudah pulang?”


“Hmm, sudah tadi.” Siska berbalik, mengusap kepala gadis rambut cokelat ikat kepang tunggal tersebut. Sembari memasang senyuman hangat ia berkata, “Ayo tidur. Besok kamu juga sibuk, ‘kan? Nanti kesiangan, loh .... Tadi pagi katanya kamu hampir telat datangnya, ‘kan?”


“Itu gara-gara si Daniel minta bantu-bantu segala, sih.” Gadis dengan gaun cokelat sederhana itu memalingkan pandangan, lalu sembari memasang wajah asam ia dengan kesal mengeluh, “Menghitung dua digit saja masa belum lancar sampai sekarang. Jangan-jangan otaknya juga sampai dipenuhi otot, menyebalkan sekali. Bukannya kalau begitu terus dia gak bisa lolos seleksi prajurit?”


“Jangan bicara begitu, Nesta. Bukannya hal baik Daniel mau belajar?”


“Iya, sih ....”


Siska sekilas tersenyum lega, merasa senang melihat anak-anak asuhnya bisa tumbuh dengan cerita seperti itu. Mengingat kondisi awal tahun kemarin, sulit membayangkan Netsa dan anak-anak lain bisa membicarakan soal belajar atau membahas masa depan yang ingin mereka capai.


Siska mengangkat tangannya dari kepala gadis itu, lalu sembari melangkah ke arah lorong ia berkata, “Ayo kembali ke kamar dan tidur, kita harus bangun pagi-pagi besok.”


“Hmm ....” Nesta mengangguk, lalu mengikuti biarawati tersebut menuju lorong untuk pergi ke kamar.


Dalam langkah kakinya, ia meresa sangat berterima kasih pada Odo Luke. Karena hal tersebut jugalah, dalam benak sedikit tumbuh rasa cemas sebab sebelumnya ia melihat pemuda dari keluarga Luke itu pergi di kompleks pelacuran. Siska cemas Odo tumbuh menjadi pria dari keluarga aristokrat yang kecanduan dengan hal-hal semacam itu.


.


.


.


.


Odo melangkahkan kakinya di antara rumah-rumah pelacuran di sepanjang distrik rumah bordil. Tiang lampu kristal sangat jarang terlihat sampai ujung jalan, bahkan dari semuanya yang masih menyala hanyalah dua buah saja.


Cahaya remang-remang dari lentera yang digantung pada tiap-tiap pintu rumah pelacuran menjadi penerang utama di sepanjang jalan, aroma wewangian semerbak kuat sampai ke sudut-sudut, dan pemandangan para bunga latar yang memamerkan tubuhnya menjadi hal yang sangat wajar di tempat tersebut. Pada beberapa rumah pelacuran terlihat juga para Alku — Induk semang bagi para wanita tunasusila yang menjadi mayoritas penghuni distrik tersebut.


Suara ******* yang merembes keluar dari dinding kayu tipis, para pria hidung belang yang datang berkunjung, serta kegiatan tawar menawar kehormatan wanita bisa Odo lihat di setiap sudut jalan. Bagi mereka para pelacur yang tak tergabung dalam sebuah rumah bordil hanya bisa menjual tubuh mereka dengan harga murah, lalu bersanggama dengan pelanggannya di gang-gang sempit.


Tentu saja, orang-orang yang mau membeli pelayanan dari para perempuan paling buangan seperti itu hanyalah pria-pria miskin yang haus perempuan, tak berpendidikan dan tidak tahu kalau hal seperti itu bisa membawa penyakit mematikan untuk mereka. Melihat sudut lain jalan, pemuda rambut hitam itu juga menemukan para pria hidung belang dari luar kota dan bahkan ada yang berasal dari kekaisaran.


“Serius ....Paling tidak jangan pakai pakaian tradisional kalian kalau ke sini,” benak Odo saat melihat para pedagang dari kekaisaran tersebut masuk ke dalam salah satu rumah pelacuran.


Ketika melangkah semakin dalam ke tempat penuh kebejatan tersebut, orang-orang mulai menyadari keberadaan putra dari keluarga Luke itu dan menatap ke arahnya dengan cemas. Di bagian yang hampir paling ujung adalah kawasan rumah papan atas. Salah satunya adalah rumah bordil Alms Lilac, milik sang Madam Theodora Mascal.


Para pelacur yang kemarin malam ikut sang Madam ke distrik perniagaan pasti tahu wajah Odo, mereka menatap waspada dan enggan untuk mendekatinya. Bagi para pelacur kelas menengah seperti mereka status sosial keluarga Luke terasa terlalu berat. Mereka takut jika menyinggungnya sedikit saja, pemerintah wilayah Luke akan menggugat mereka dan membuat skandal besar yang pada akhirnya mempengaruhi seluruh distrik rumah bordil.


Seakan tidak memedulikan tatapan mereka, putra tunggal dari keluarga Luke tersebut berjalan tegap dan tetap mengamat sekitar. Menilai kondisi lingkungan yang ada, memikirkan bagaimana cara mengurangi orang-orang bernasib seperti mereka dan hal-hal lain untuk kompleks pelacuran tersebut.


“Hmm, sepertinya memang yang paling berat itu di sini. Berbeda dengan distrik lain yang terkesan terpaksa bernasib terpuruk, mayoritas wanita di sini sudah erat dengan pekerjaannya dan menjadikan itu sebagai gaya hidup mereka,” gumam pemuda tersebut sembari melihat-lihat sekitar. Tanpa memedulikan tatapan sinis yang diarahkan kepadanya, ia tetap meninjau sekeliling dan memasukkan informasi-informasi ke dalam kepala.


“Hei, Kamu!” Seorang perempuan mencegat Odo dan menghentikannya, melipat kedua tangan ke pinggan dengan angkuh dan menatap tajam ke arah putra dari keluarga Luke tersebut.


Langkah kaki pemuda rambut hitam itu terhenti, tatapannya terarah ke perempuan yang tidak terlalu tinggi tersebut. Dengan segera Odo langsung tahu kalau perempuan di hadapannya tersebut adalah seorang Courtesan, pelacur panggilan yang tidak semua orang bisa tidur dengannya. Menyipitkan pandangan, pemuda itu mengamati gestur tubuh dan pakaian perempuan tersebut.


Rambut abu-abu panjang sepunggung yang sebagian disanggul, gaun merah muda tipis yang samar-samar membuat kulitnya terlihat jelas, riasan yang tebal, bibir merah yang memikat dan aroma wangi yang menyengat. Dari balik pakaian tipisnya terlihat lingerie merah, pakaian dalam wanita yang dikhususkan untuk memamerkan lekuk tubuhnya. Pada kedua kaki perempuan itu mengenakan sepatu hak tinggi, menutupi tinggi badannya yang bisa dikatakan pendek meski dadanya berisi.


“Kamu putra dari kediaman Luke itu, bukan?” Dengan cepat ia segera menempelkan dadanya ke Odo, melingkarkan kedua tangannya ke leher pemuda itu dan dengan suara lembut berkata, “Nama saya Yor’an Botan, seorang pelacur papan atas dari rumah pelacuran Jasmine .... Apa Tuan Muda mau mencicipi kesenangan dunia bersama kakak? Meski dari tempat seperti ini, kakak punya banyak teknik untuk menghibur Tuan Muda.”


Odo hanya terdiam dengan ekspresi datar meski digoda secara agresif oleh pelacur ternama tersebut. Jangankan tergoda, pikiran pemuda rambut hitam itu malah berputar cepat untuk menebak latar belakang pelacur tersebut. Memasang senyum ramah dan menampilkan ekspresi polos, putra keluarga Luke tersebut berkata, “Lucah sekali pakaian kakak, apa tidak dingin malam-malam begini pakai begituan?”


Odo sekilas gemetar dan mulai terangsang mendengar suara tersebut, hasrat seakan menjalar ke sekujur tubuhnya. Raganya mulai terasa menghangat, kedua tangannya bergerak sendiri dan hendak memeluk tubuh pelacur tersebut. Tetapi saat sadar kalau bisikan tadi mengandung sebuah mantra dari sebuah sihir, tangan pemuda rambut hitam itu terhenti dan langsung menghapusnya dengan mudah dengan Aitisal Almaelumat.


“Apa kakak seorang Bunga Mewah?” tanya Odo dengan nada santai.


Melihat daya pikatnya sama sekali tidak berhasil, Yor’an segera melangkah melepaskan Odo dan mundur dengan tatapan penuh rasa cemas. Dari semua pria yang digodanya, tak ada satu pun yang bisa lepas dari daya pikat mutlak tersebut. Bahkan sekelas ksatria sekalipun bisa langsung jatuh dengan mudah. Sorot matanya mulai terlihat seperti para pelacur kelas menengah lain, takut dengan status sosial keluarga Luke dan pengaruhnya.


Keringat dingin mulai membuat luntur riasnya. Menarik napas dan menenangkan diri, pelacur tersebut bertanya, “Anak dari keluarga ahli sihir memang berbeda. Apa kamu punya artifak atau alat sihir untuk menghalau mantra? Kakak sangat terkejut, loh.”


Odo mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka, lalu sembari memasang senyum ringan berkata, “Seperti yang kakak lihat, aku sama sekali tidak membawa apa-apa kecuali pakaian yang aku kenakan.”


“Hmm ....” Yor’an memasang senyum simpul penuh rasa tak percaya, lalu seraya mengusap keringatnya ia berkata, “Kalau begitu kamu lepas dari sihir Pemikat kakak dengan apa? Jangan bicara hal konyol seperti kehendak sendiri, bahkan orang yang bernafsu lemah pasti akan tergoda tadi.”


“Aku tidak lepas, kok.” Odo menurunkan tangannya, tersenyum kecil dengan sorot mata tajam dan kembali berkata, “Sekarang aku juga masih tergoda dengan kakak. Hanya saja ....”


“Hanya saja?”


“Rasa kewajibanku lebih besar daripada nafsu. Karena itu aku berhenti dan tak memeluk kakak, hanya itu.”


“Hah!” Yor’an benar-benar muak mendengar omong kosong semacam itu. Ia berjalan mendekat, lalu dengan ekspresi kesal berkata, “Bicara apa kamu ini! Mana mungkin kalian para aristokrat punya rasa tanggung jawab seperti i—!”


Sebelum Yor’an menyelesaikan kalimatnya, kalah kakinya terhenti dan ia dibuat terkejut karena Odo Luke benar-benar menatapnya dengan sorot mata mengasihani. Bukan nafsu duniawi atau terpukau karena kecantikannya, namun hanya sebuah tatapan mengasihani seakan pemuda itu telah melihat semua apa yang telah perempuan itu lalui sampai sekarang.


Odo Luke menurunkan bahunya yang kaku dan mengerutkan wajahnya dengan mimik sedih, lalu sembari mempeletakkan tangannya ke depan mulut ia bertanya, “Kakak orang berpendidikan, ‘kan? Kenapa kakak memilih jadi pelacur?”


Yor’an benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam seumur hidupnya, itu pertama kalinya ada seorang aristokrat menatapnya penuh rasa kasihan seperti itu. Dari semua orang-orang kalangan atas yang pernah Yor’an temui, semuanya selalu menatapnya dengan penuh rasa nafsu atau kagum.


Menggelengkan kepala dan berusaha untuk tidak terpengaruh, pelacur tersebut dengan nada kesal berkata, “Apa yang kamu bicarakan? Kalau berpendidikan, mana mungkin diriku berakhir di tempat seperti ini. Kamu meledekku?”


“Aku sungguh bertanya, kok.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya. Menatap lurus wanita bermata biru tersebut, ia segera membuang jauh-jauh ekspresi mengasihaninya dan berkata, “Tadi kakak tidak bingung saat aku menggunakan kata-kata yang biasa ditemukan dalam buku dongeng dan sejarah, ‘kan? Berarti paling tidak kakak pernah dekat dengan sastra, pernah memegang buku. Dari usia kakak, seharusnya waktu kakak kecil mendapat akses buku untuk dibaca itu cukup sulit. Saat awal-awal Perang Besar berakhir orang yang bisa membaca masih sangatlah sedikit. Apa kakak pernah tinggal di kediaman bangsawan—?”


“Tutup mulutmu!” Yor’an terlihat sangat marah saat disinggung hal tersebut. Rasa percaya dirinya untuk menggoda Odo benar-benar hilang, tatapannya menjadi tajam dan dengan lantang berkata, “Memangnya tahu apa kau?! Orang yang selalu tinggal di rumah mewah takkan pernah mengerti kalangan bawah sepertiku!”


“Huh, memang konyol.”


Ekspresi Odo berubah 180 derajat, dari tadinya mengasihani menjadi merendahkan. Melebarkan senyum gelap sembari mengulurkan tangannya ke depan, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Padahal kau sendiri yang mulai, tapi malah terbawa emosi begitu.”


Yor’an hanya tertegun mendengarnya, benar-benar tak mengerti kenapa pemuda yang tadinya terlihat polos bisa memasang ekspresi wajah sangat licik seperti itu. Samar-samar terasa hawa tidak enak darinya, membuat pelacur tersebut melangkah mundur menghindari uluran tangannya.


“A-Apa yang kamu bicarakan?” tanya Yor’an dengan gemetar.


“Tak ada.” Odo mengambil satu langkah ke depan, lalu sembari memasang ekspresi datar ia berkata, “Aku hanya sedang bergurau dengan kakak. Bagaimana ... rasanya dipermainkan? Para pria yang kakak goda mungkin merasakan hal serupa, hanya saja bedanya ini adalah ketakutan dan apa yang kakak lakukan adalah mengecewakan mereka.”


Yor’an terdiam mendengar perkataan tersebut, mengerti apa yang dimaksudnya namun tidak bisa memahami kenapa pemuda itu mengatakan hal tersebut. Saat Odo kembali mengulurkan tangan ke arahnya, pelacur itu terperangah dan memejamkan matanya dengan segera.


“Imutnya~” Odo menyentil kening pelacur tersebut, lalu memasang senyum tipis yang terlihat sejuk.


Yor’an memegang keningnya yang sedikit memerah, termenung mendengar ucapan pemuda itu. Senyumannya benar-benar terasa aneh, ia sama sekali tak bisa menebak apa yang sebenarnya tersirat dalam tindakan pemuda itu.


“Lain kali jangan pakai sihirmu saat menggoda pria,” ucap Odo sembari berjalan melewati pelacur tersebut.


Sekilas Yor’an hanya terdiam, rasa aneh muncul pada dada dan perkataan Odo tertinggal tak kunjung hilang dari benaknya. Segera berbalik dan menatap ke arah pemuda itu, dengan suara lantang bertanya, “Apa maksudmu?”


Odo sedikit menoleh, lalu sembari tersenyum menjawab, “Aku tak ada maksud apa-apa kok, hanya sebuah saran. Di luar sana pasti ada tempat lain yang lebih pantas untuk kakak.”


Setelah melontarkan kalimat tanpa tanggung jawab tersebut, putra keluarga Luke itu kembali menatap ke depan dan melangkah. Ia tidak memedulikan ekspresi terkesima Yor’an yang sekilas dirinya lihat, tidak memikirkannya lagi dan hanya melontarkan kalimat tersebut dengan niat percobaan.


Setelah menghela napas kecil, Odo dalam benak berkata, “Salah satu cara mengubah gaya hidup adalah dengan menemukan hal baru, hal paling cepat yang bisa memberi perubahan adalah cinta. Dengan datangnya itu ke dalam diri seseorang pola pikir bisa berubah, cara pandangannya terhadap dunia akan meluas.” Langkah kaki pemuda itu sesaat terhenti, merasa hina dalam benak dan kembali menarik napas dengan resah.


“Lalu ... pada akhirnya dia menjadi ingin melihat dirinya di cermin, apakah dirinya pantas atau tidak,” gumam Odo dengan suara sangat pelan.


Yor’an ingin mengejar pemuda itu dan kembali bertanya. Namun melihatnya masuk ke kawasan rumah bordil Alms Lilac, langkah kaki pelacur itu terhenti dan segera mengurungkan niatnya. Ia hanya menatap, tanpa bisa memanggil atau mengejar karena memang batasan tempat yang sudah ditentukan oleh para mucikari tiap-tiap rumah bordil di tempat tersebut.


Melihatnya masuk ke dalam bangunan rumah Alms Lilac, sekilas rasa dengki tumbuh dalam benak Yor’an. Itu sangat jarang dirasakannya, mulai meresap ke dalam dada dan sekilas membuat giginya menggertak kesal. Hal seperti gagal merayu pelanggan hanya pernah dirinya rasakan saat tahun pertama menjadi pelacur, berkali-kali sampai muak dan pada akhirnya ia mempelajari sihir pemikat dari salah satu kenalannya di distrik pengrajin.


Gagal merayu pelanggan bukanlah hal baru baginya dan ia seharusnya sudah terbiasa. Namun ketika melihat Odo belok ke tempat lain setelah menolak tawarannya, dengan asing rasa kesal tersebut tidak lekas hilang seperti dulu yang dirinya rasa. Dalam rasa kesal ia lekas berbalik, kembali ke rumah bordil tempatnya bekerja.


“Yor’an? Mau ke mana? Malam ini kau belum dapat pelanggan, ‘kan?” tanya salah satu kenalannya sesama pelacur.


“Malam ini aku pulang lebih awal, tolong sampaikan ke Madam.”


“Tak perlu sedih begitu, dia orang dari keluarga Luke. Tentu tak mudah menjatuhkannya. Malah aku salut kau berani menantang dari depan seperti itu.”


“Siapa yang sedih!”


Yor’an segera masuk ke dalam rumah Jasmine untuk mengambil pakaiannya dan berganti. Rekan-rekannya dari tempat pelacuran yang sama sekilas merasa heran, sedangkan para pelacur dari seberang jalan sebagian ada yang mengejek karena dia telah gagal menggoda anak dari keluarga Luke.