
Keheningan malam, kegelapan yang disinari gugusan bintang dan semilir angin yang berhembus ringan melewati sela-sela bangunan. Dalam penghujung persimpangan hari yang akan berganti, Odo Luke melangkahkan kakinya pada salah satu jalan di distrik pengrajin.
Sejauh mata memandang sudah benar-benar sepi, bahkan semua cahaya pada bangunan sepanjang jalan telah dimatikan. Kembali mengingat apa yang telah dilakukan di Atelier Hulla, Odo sekilas menghela napas ringan. Bukan karena waktu yang dirinya habiskan di sana lebih banyak dari rencana awalnya saat datang, namun karena ia berbicara beberapa hal yang tidak perlu terkait pengetahuan dari dunia sebelumnya.
“Kenapa aku punya kebiasaan menjelaskan hal seperti itu kepada orang lain?” benak pemuda itu seraya menghentikan kakinya.
Odo sesaat terdiam, mulai bingung dan kembali berbalik ke belakang. Sembari memasang ekspresi datar, Ia dalam benak bertanya-tanya kenapa dirinya berjalan sejauh ini dari Lokakarya dan bukannya langsung menggunakan Puddle untuk kembali ke Mansion.
Tanpa sengaja menyipitkan mata karena rasa bingung, Penglihatan Jiwa aktif dengan sendirinya dan kemampuan visualnya seketika berubah. Itu persis seperti saat pertama kali ia menyalin kemampuan Mata Batin milik Arteria, semua bentuk jiwa dari makhluk hidup dapat terlihat dengan jelas.
Seakan tanpa batasan ruang, Odo dapat melihat kobaran-kobaran api kecil dalam tiap bangunan yang ada. Satu orang memiliki dua titik api, saling berdekatan dan terletak pada bagian kepala serta dada sebelah kiri. Lokasi itu merupakan titik sambung sebuah jiwa pada tubuh, sumber pikiran dan sumber kehidupan.
Untuk kedua kalinya ia mengaktifkan kekuatan tersebut, Odo mulai mengerti perbedaan kobaran-kobaran api yang ada. Warna, ukuran, sampai bentuk kobaran melambangkan jiwa itu sendiri, memberitahu pemuda itu kepribadian jiwa dari orang yang dirinya lihat dan apa yang sedang mereka lakukan.
“Hmm, bahkan aku bisa tahu perbedaan jiwa mereka meski tak melihat orangnya langsung. Apa ini salah satu bagian dari kekuatan Penglihatan Jiwa?” gumam Odo sembari memejamkan mata.
Menarik napas ringan, pemuda itu menenangkan diri dan menonaktifkan salah satu kemampuan matanya.
“Yah, sebaiknya aku tak terlalu mengandalkan kekuatan ini. Dunia tampak terlalu berkilau sampai kepalaku pusing,” benaknya seraya berbalik dan kembali melangkah.
Namun saat ia hendak mengaktifkan Puddle dengan tangan kiri, langkah kakinya kembali terhenti ketika melihat seorang perempuan berjalan ke arahnya dengan wajah tertunduk. Tak merasakan adanya niat jahat atau permusuhan, Odo tidak segera waspada dan hanya berdiri tegak.
Perempuan itu pun menabrak dirinya, lalu terjatuh sendiri ke tanah dengan lemas. Perempuan rambut abu-abu panjang sepunggung tersebut tidak bisa segera bangun, ia sempoyongan dan kembali terjatuh. Sekilas Odo menatap heran dan mengira kalau perempuan itu seorang pemabuk. Saat mengulurkan tangan untuk membantu perempuan itu bangun, ia tidak mencium bau alkohol.
Odo mengamati perempuan dengan gaun cokelat sederhana tersebut. Tali pada gesper kulit yang ia kenakan tidak terikat rapi, pakaiannya tampak kusut meski tampak mahal, dan hanya satu kakinya saja yang mengenakan sepatu kulit. Melihatnya tak segera meraih tangan dan berusaha bangun sendiri, Odo kembali mengira kalau perempuan itu memang sedang mabuk.
Namun saat meraih tangan perempuan itu dan menariknya berdiri, Odo dengan cepat menyadarinya. Pergelangan tangan perempuan itu terasa dingin dan begitu kecil. Sedikit menyingsingkan lengan gaun perempuan tersebut, raut wajah Odo seketika berubah suram saat melihat urat nadinya tampak jelas di permukaan meski kulit serta telapak tangannya begitu halus.
Menatap wajah perempuan itu, Odo segera paham kalau dia adalah seorang pecandu. Putih mata yang sedikit menguning, wajah pucat, serta napas yang terengah-engah. Di bawah lubang hidung perempuan itu masih tersisa bubuk putih, saat mulutnya sedikit terbuka pun lidahnya berwarna sedikit ungu.
“Pecandu, ya? Kalau tidak salah perempuan ini dari distrik pelacuran,” benak Odo seraya memegang erat tangannya dan mulai mengerutkan kening.
Perempuan itu adalah Yor’an Botan, seorang Courtesan dari Rumah Bordil Jasmine. Melihat wanita yang dengan bangga pernah menggodanya malah bergantung pada narkotika, dalam benak Odo marah sampai giginya menggertak.
“Lepaskan!” Yor’an berusaha menarik tangannya dari genggaman Odo, dengan begitu lemah dan tanpa tenaga. Dalam benak, ia merasa bahkan seorang anak kecil bisa meronta lebih kuat. Mulai memukuli Odo dan berusaha melepaskan diri, ia pun memaki, “Dasar sialan …! Khuka! Huu⁓! Uwaha⁓! Ha⁓! Kenapa kau masih di sini! Jangan menghalangi, dasar jelek! Menyingkir sana! Lepaskan, dasar kau jelek! Busuk! Kau ini tak ada apa-apanya denganku, jadi jangan menghalangi dan lenyaplah⁓! Uhuhu⁓!”
“Halusinasi karena Overdosis, ya?” gumam Odo seraya melepaskan tangan Yor’an.
Perempuan itu langsung sempoyongan dan hampir jatuh lagi. Ia memasang wajah penuh kebahagiaan dalam euforia, tenggelam dalam halusinasi dan mulai berjalan ke depan. Odo segera menyingkir dari jalannya, membiarkan perempuan menyedihkan itu pergi.
Sesaat Odo terdiam dan hanya menatap punggungnya, memikirkan bagaimana bisa perempuan sepertinya bisa berakhir seperti itu. Dari tingkah dan tingkat Overdosis tersebut, ia memperkirakan kalau Yor’an telah mengonsumsi narkotika jauh sebelum bertemu dengan dirinya.
Odo langsung menyadari siapa itu. Sorot matanya berubah datar, mengingat beberapa tanaman dalam pot yang digantung di Atelier Hulla. Paham siapa yang mampu membuat obat semacam itu, ia tidak segera marah dan memikirkannya dengan baik-baik.
Pemuda itu sendiri paham dengan kepribadian Luna atau para penyihir yang menumpang di Lokakarya Hulla. Dalam benak ia merasa tidak mungkin mereka membuat hal semacam obat-obatan terlarang untuk mencari keuntungan. Kembali mengingat perkataan Madam Theodora soal obat pencegah kehamilan, ia merasa kalau kecanduan merupakan efek samping dari obat tersebut.
“Aku tahu kalau ada beberapa jenis Obat Kontrasepsi yang bisa membuat kecanduan. Namun …, memangnya berapa banyak yang dia meminum sampai jadi pecandu akut? Kalau sampai seperti itu, tuh wanita bukannya rahimnya sudah tamat.”
Odo menghela napas ringan, merasa masalah yang harus diselesaikannya bertambah setelah mengetahui hal tersebut. Bagi para bunga malam sepertinya, obat untuk mencegah kehamilan sangatlah penting. Meskipun mereka tahu efek samping dan bahayanya jika dikonsumsi secara terus menerus, para bunga malam itu tak punya pilihan karena tentu tidak ada di antara mereka yang ingin hamil karena menerima pelanggan.
Paham betul dengan latar sosial dan ekonomi orang-orang semacam itu, Odo kembali menghela napas ringan dan sejenak diam di tempat untuk memastikan sesuatu. Ia mengingat salah satu kenangan di kehidupan dunia sebelumnya, ia juga pernah hidup di lingkungan busuk semacam itu dan melihat akhir dari orang-orang yang jatuh menjadi pecandu.
Mengamati apa yang Yor’an lakukan, perempuan itu melakukan hal yang persis seperti apa yang Odo duga. Bunga malam tersebut mendatangi Lokakarya Hulla dan menggedor-gedor pintunya di tengah malam. Ia berteriak kencang sampai-sampai Luna sang pemilik harus bangun dan keluar untuk menemuinya.
Melihat dari kejauhan, Odo hanya menyipitkan mata dan merasa kalau hal semacam itu juga tak diperkirakan Luna saat membuat obatnya. Meski tak mendengar apa yang mereka katakan, Odo paham kalau Yor’an memaksa sampai-sampai mendorong Luna ke pintu. Bunga malam itu mengambil kantong kecil berisi uang dan melemparkannya ke arah Luna, lalu kembali memaki-maki. Meski begitu, Luna tetap tampak tidak ingin memberikan obatnya lagi.
Namun saat lampu tetangganya mulai dinyalakan, Luna tampak panik dan kembali masuk ke dalam untuk mengambil obatnya. Ia segera menyerahkan kain kecil berisi obat yang diminta Yor’an, lalu segera menutup pintu rapat-rapat tanpa mengambil koin-koin perunggu dan perak yang berserakan.
Saat melihat itu Odo memastikannya, kalau memang Luna tak berharap akan muncul seorang pecandu dari para bunga malam yang mengonsumsi obat pencegah kehamilan yang dirinya buat.
Tingkat seseorang bisa kecanduan obat pencegah kehamilan cukuplah rendah, karena kebanyakan perempuan yang mengonsumsi hal semacam itu secara terus menerus dan berlebihan akan mengalami pendarahan berat. Lalu, pada akhir mereka akan berhenti pada tahap tertentu. Harus merelakan rahim mereka atau kemungkinan paling buruk adalah kematian.
Melihat kasus kecanduan semacam itu di ada depan matanya, Odo hanya merasa kalau narkotika bukanlah sesuatu yang boleh dipasarkan sebarangan. Meski hanya terkandung dalam sebuah obat pencegah kehamilan, tetap saja itu harus memiliki hukum dan peraturan ketat untuk mengawasi peredarannya.
“Padahal di kedokteran itu sangat berguna, tapi kalau seperti ini malah merugikan. Padahal seharusnya itu digunakan hanya untuk meringankan rasa sakit dalam proses pembedahan,” gumam Odo seraya berbalik dan mulai mengaktifkan Puddle.
Odo berusaha tidak memedulikan Yor’an, ia paham meskipun mengajaknya bicara sekarang itu akan percuma. Menyimpan masalah tersebut dalam kepala, ia hanya menghela napas ringan dan segera pergi dari kota pesisir.
\============
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.