
Hari berikutnya, penginapan Porzan. Sebelum matahari terbit, seorang pemuda rambut cokelat membuka matanya sorot dengan ekspresi penuh rasa lelah di atas tempat tidur. Ia segera bangun dan turun dari atas ranjang, sejenak menghela napas panjang.
Ia berjalan ke depan meja kerja pada kamar yang disewanya tersebut, mengambil Gelang Dimensi dari laci dan meletakkannya ke atas meja. Menekan permukaan gelang hitam, benda itu sama sekali tidak aktif karena memang Mana yang dihasilkan oleh seorang Native Overhoul sangat tidak cocok untuk mengaktifkan benda sihir semacam itu.
“Memang tidak bisa aktif .... Yah, biarlah. Aku heran untuk apa orang itu memberikanku benda semacam ini, kurasa bukan cuma untuk menyindirku karena tidak bisa mengaktifkannya.”
Arca memang bisa menggunakan Grimoire, namun bukan berarti dirinya menyalurkan Mana miliknya. Metode penggunaan buku sihir lebih cenderung seperti menggunakan kekuatan yang sudah ada pada Grimoire itu sendiri, hanya menggunakan Bayaran sebagai katalis aktivasi.
Meletakkan gelang hitam ke atas meja, Arca mengambil kertas perkamen dan pena tinta dari laci. Tidak memedulikan wajah dan rambutnya yang masih kacau karena baru bangun, putra sulung keluarga Rein itu mulai menulis susunan rencana yang dirinya dapat dari paket informasi yang Odo berikan padanya.
Apa yang ditulisnya adalah semacam agenda, susunan pekerjaan dan apa yang harus dilakukannya dalam beberapa bulan ke depan. Apa yang akan dilakukannya pada hari pertama antara lain seperti memeriksa bangunan toko yang seharusnya selesai pada hari ini, menemui sekretaris yang Odo maksud dan memastikan keputusannya, menemui para imigran gelap di distrik perniagaan dan memberikan masukan serta saran pada mereka menggunakan nama Odo Luke.
Saat menulis beberapa lembar agenda tersebut, suara pintu diketuk terdengar dan Arca lekas meletakkan penanya. Sembari menoleh ke belakang dan melihat ke arah pintu, pemuda rambut cokelat itu berkata, “Masuklah, Ligh! Logi! Kalian juga membawanya, ‘kan?”
““Ya, Tuanku!””
Kedua Butler pribadi Arca membuka pintu dan masuk, kedua pria dengan setelan jas dan celana hitam itu juga datang bersama seorang pelayan penginapan berambut cokelat kepirangan. Perempuan yang datang bersama mereka adalah mata-mata yang diperintahkan Arca untuk mencari informasi terkait dengan Odo dan mengumpulkan bukti-bukti untuk menjerat kedua pihak yang sebelumnya disebut dengan istilah Tikus.
Perempuan dengan gaun hijau berlapis celemek putih itu berdiri gemetar di antara kedua Butler, tak berani menatap tuannya dan dipenuhi rasa takut. Arca memindah kursi untuk menghadap mereka dan hanya memasang ekspresi datar yang dingin, sangat paham kalau perempuan itu takut karena merasa bersalah sebab penyamarannya terbongkar oleh Odo.
“Elulu, putri dari saudagar Indul Kalama. Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Arca.
“I-Iya ....” Perempuan itu merapatkan kedua telapak tangannya ke depan perut, matanya sesekali berbaling dari Arca dan dengan gemetaran ia menjawab, “Ka-Karena identitasku terbongkar, Putra Keluarga Luke itu bi ... bisa menyusun rencana untuk melawan Tuan dan akhirnya Anda ka-kalah dalam duel.”
“Kalah, ya ....” Arca sedikit menyipitkan mata dan mengintimidasi.
“Ma-Maafkan kelancangan hamba!” Perempuan bernama asli Elulu itu langsung berlutut di depan Arca, menundukkan wajah dan gemetar penuh keringat dingin.
Arca hanya menatap acuh, memalingkan pandangannya dan sesaat memasang ekspresi kesal untuk membuat perempuan itu tambah ketakutan. Menatap Elulu, dengan tegas Arca Rein berkata, “Kau gagal melaksanakan tugas penting ini. Setelah bicara besar menyusup dan menggali informasi itu gambang, malah ini yang kau peruat.”
“Saya sungguh minta maaf, Tuan Arca ....”
Suasana di dalam salah satu kamar penginapan Porzan itu seketika berubah tegang, terutama untuk perempuan yang sebenarnya berdarah asli kerajaan Ungea itu. Salah satu dari Butler, Logi, berjalan ke arah jendela dan membukanya. Angin masuk dan membuat sirkulasi udara sedikit teratur, namun tetap saja itu tidak menghilangkan rasa cemas perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut.
“Sudahlah ....” Arca memalingkan pandangan, dengan acuh ia berkata, “Berarti perjanjian kita batal. Soal aku akan membantu keluargamu bebas dari penjara dan membersihkan nama mereka, semua itu hangus.”
“A—!” Perempuan itu langsung bersujud sampai keningnya membentur lantai kayu dengan keras, lalu dengan segenap benaknya ia memohon, “Tolong ...! Tolong, Tuan Arca! Jangan batalkan perjanjiannya! Lain kali saya akan melakukannya dengan baik! Pemuda itu, anak keluarga Luke itu tidak wajar! Saya tidak mengira kalau penyamaranku terbongkar seperti itu! Kumohon! Beri saya kesempatan satu kali lagi ...!”
“Kamu gagal ....” Arca menatap datar perempuan itu, sama sekali tidak memberikan belas kasihan dan dengan tegas berkata, “Padahal sudah kuberi kesempatan dan berbagai sokongan, tapi tetap saja gagal. Aku tidak punya alasan untuk memberi kesempatan pada anak pedagang yang berani melakukan praktek suap besar-besaran di wilayahku, putri dari saudagar Kalama.”
Arca beranjak dari tempat duduknya, lalu tanpa menoleh ia berkata, “Kalian seharusnya saat itu paham sedang berdagang di tanah siapa dan tidak banyak tingkah, dasar orang-orang gurun.”
“Kumohon ...!” Perempuan itu langsung bangun, hendak memegang kaki Arca dan memohon. Namun sebelum bisa menyentuh pemuda itu, Ligh langsung menahan perempuan itu dari belakang dan menguncinya ke lantai.
Duak!
Wajahnya membentur lantai dengan cukup keras. Dengan air mata berlinang Elulu berusaha menatap pemuda dari keluarga Rein itu, lalu dengan isak tangis ia memohon, “Tolong .... Tuan Arca. Akan kulakukan apa saja, kumohon bebaskan keluargaku. Saya paham mereka bersalah karena telah melakukan suap tiga tahun lalu, tapi ... penjara seumur hidup itu terlalu berlebihan ...! Kumohon ....”
“Berlebihan, ya.” Arca bangun dari kursi berjalan ke atas tempat tidur, lalu duduk di pinggirannya. Menatap perempuan yang benar-benar memelas itu, pemuda rambut cokelat tersebut sama sekali tidak tersentuh hatinya. Layaknya sebuah batu giok yang dipoles mengkilat dan terasa dingin, pemuda itu menatap hina seakan tanpa kompromi.
Menunjuk perempuan yang kedua tangannya dikunci ke belakang punggung dan pipinya yang lecet menempel lantai karena ditahan Ligh, Arca Rein sekilas menyeringai dengan gelap dan berkata, “Asal kau tahu, di dunia ini ada dua tipe manusia. Pertama adalah mereka yang pantas diperjuangkan karena kompetensi mereka, lalu yang kedua adalah benalu yang hanya bisa mengganggu yang lain.”
Berhenti menunjuk, dengan nada sarkasme Arca kembali menegaskan, “Kau ..., keluargamu semacam itu. Benalu. Memang itu juga kesalahan pegawai di wilayahku dan tentu saja aku menghukum mereka, namun ... kriminal tetaplah kriminal. Tentu saja dengan ini kau akan kembali ke penjara gelap itu .... Kau gagal, sih.”
“Tuan .... Aku mohon. Kumohon .... Adikku, paling tidak tolong berikan kemurahanmu untuk adikku. Kumohon ....”
Perempuan itu benar-benar memelas, tidak memedulikan harga dirinya dan memohon pada pemuda yang sebenarnya juga berperan besar pada kasus yang membuat keluarganya masuk penjara. Arca hanya menatap datar, sekilas mengingat-ingat alasannya mengeluarkan Elulu dari penjara dan memberikannya tawaran untuk membebaskan keluarganya.
“Satu-satunya nilaimu adalah kekuatanmu itu sebagai Native Overhoul ....” Arca menatap menghela napas dengan rasa tidak peduli, memasang ekspresi merendahkan dan berkata, “Kekuatan untuk mengirim suara atau isi pikiran tanpa kendala waktu dan jarak. Itu lebih kuat dari sihir telepati biasa, bahkan penyihir Miquator kelas atas pun kurasa tidak ada yang bisa melakukan hal seperti itu .... Ya, karena kekuatanmu aku juga terbantu.”
Elulu memaksa berdiri sampai lengan pakaiannya sobek karena ditahan oleh salah satu Butler, namun ia kembali dijatuhkan ke lantai dan kedua tangannya dikunci. Menatap dengan wajah berlinang air mata, perempuan mantan konglomerat itu memohon, “Kalau begitu, saya akan menggunakan ini hanya untuk Tuan Arca! Saya bersumpah untuk setia selamanya ...!! Jadi kumohon, bebaskan keluarga saya! Paling tidak adik saya .... Dia masih punya masa depan, saya tidak tega membiarkannya meninggal di tempat seperti itu ...!”
“Memangnya aku peduli?”
Buak!
Arca bangun dan langsung menendang wajah perempuan itu dengan keras, beberapa gigi depan lepas dan mulutnya mengeluarkan darah. Seketika perempuan yang sebenarnya berasal dari golongan atas itu gemetar, air mata mulai tak terbendungkan lagi dan akhirnya Elulu menangis keras penuh rasa frustrasi. Suara memenuhi ruangan, terdengar begitu menyedihkan sampai membuat kedua Butler pribadi Arca memasang ekspresi tak tega.
“Lepaskan dia, Ligh ...!”
Salah satu Butler pribadi Arca melepaskan Elulu, namun perempuan itu tetap terbaring di atas lantai kayu dan terus menangis tak berdaya. Benar-benar pasrah, meratapi kelemahannya dan kegagalannya dengan isak tangis.
Arca hanya memasang ekspresi datar, hatinya sama sekali tidak tersentuh dengan nasib perempuan itu. Bangun dari atas ranjang, pemuda itu mengambil gelang hitam di atas meja. Ia berjongkok di depan Elulu, lalu menyodorkan benda itu dan berkata, “Haaah, akan kuberi kesempatan sekali lagi .... Gelang ini milik Odo Luke, pasti kau pernah melihatnya mengenakan ini, ‘kan?”
Elulu mengangkat wajahnya dengan kacau, menatap gelap penuh kebencian. Ia tidak menjawab, hanya dalam benaknya mengutuk dalam-dalam pemuda di hadapannya itu dengan segenap penderitaan yang dirinya dapat.
Arca sangat kenal tatapan seperti itu, ia sering melihat itu pada momen-momen ketika dirinya menghancurkan para bangsawan tak kompeten dan para pedagang yang menggunakan cara yang salah dalam melakukan bisnis mereka. Balik menatap tajam, pemuda itu kembali berkata, “Gelang ini sudah ditanami kutukan mematikan, saat kau menyentuhkan kutukan itu akan aktif dan dalam kemungkinan 1/3 kau akan mati. Jujur aku sudah tidak peduli lagi padamu, tapi Odo Luke memintaku untuk membiarkan mata-mata menyentuh ini, dengan kata lain kau.”
“Pemuda ... itu?” Tatapan tajam Elulu sedikit memudar, ekspresinya sekilas terlihat bingung.
“Ya, ini perintah Odo. Ini kesempatan terakhirmu, sentuh gelang ini dan kalau kau masih hidup akan kupikirkan lagi soal perjanjian kita.”
Elulu ragu untuk menyentuhnya. Namun saat mengingat soal adik dan keluarganya di penjara, perempuan itu memberanikan diri mengambil risiko dan mengulurkan tangan kanannya. Saat ujung jemarinya menyentuh permukaan gelap gelang tersebut, seketika informasi mengalir deras ke dalam kepalanya dan dalam sekejap perempuan itu langsung menemukan tindakkan yang sesuai untuk situasi yang ada.
Sorot mata perempuan itu dengan cepat tidak diisi kegelapan, ekspresi terlihat sangat tenang dan ia segera duduk bersimpuh di atas lantai kayu. Mengulurkan kedua tangannya ke arah Arca, dengan tatapan kosong Elulu berkata, “Radd Sendangi diaktifkan. Koneksi informasi satu individu dengan ruangan ditetapnya. Koordinasi dilacak, ditetapkan. Proses, penyelarasan, selesai ....”
Dari telapak tangan yang diulurkan Elulu ke depan, cairan bercahaya keluar dari pori-porinya dan dengan cepat berubah menjadi partikel cahaya keemasan. Itu dengan cepat tersebar ke udara, layaknya kunang-kunang dan jendela yang terbuka tiba-tiba tertutup rapat.
Logi yang berdiri di dekat jendela terkejut karena perempuan itu mengaktifkan kekuatannya dalam sekala luas seperti itu. “Tuan Arca! Menjauh darinya! Ini ...,” ucap salah satu Butler pribadi Arca.
“Yo! Apa agendanya sudah dibuat?” suara menggema di dalam ruang kamar tersebut. Hanya dalam sekali dengar Arca langsung paham suara itu milik siapa, segera menyipitkan mata dan bertanya, “Odo Luke?”
“Benar .... Ini aku. Hmm, sepertinya cara ini ternyata berhasil, ya. Hebat juga ini, wireless memang praktis.”
Mendengar suara yang menggema dalam ruangan, Arca langsung menatap Elulu yang terduduk lemas di atas lantai. Menyadari ekspresi kosong perempuan itu yang terkesan janggal, putra sulung keluarga Rein itu segera duduk pada kursi dan bertanya, “Apa .... yang kau lakukan? Kenapa bisa ....”
“Kenapa bisa perempuan itu tiba-tiba menggunakan kekuatannya dan menghubungiku?” suara Odo yang menggema di dalam ruangan. Seakan menebak segalanya, suara itu kembali terdengar, “Atau kenapa bisa aku tahu syarat dari kekuatannya dan bisa memenuhinya.”
“Ya .....” Arca menyipitkan matanya, sekilas merasa kesal saat membayangkan ekspresi sombong Odo yang bisa menebak semuanya.
“Sederhana .... Saat di dimensi itu kau pernah bilang kalau mata-mata yang berhasil aku tebak itu memiliki kekuatan khusus, itu wajar kalau kekuatannya semacam telepati. Syarat dari komunikasi jarak jauh adalah lokasi, media dan kekuatan koneksi. Pada gelang dimensi yang aku suruh untuk membiarkan mata-matamu itu menyentuhnya, aku menanamkan paket informasi bersyarat. Semacam apa yang aku pernah lakukan padamu, tapi lebih rumit dan informasinya terbatas. Kurasa tidak perlu dijelaskan lagi isinya informasi tentang apa, bukan?”
Kedua mata Arca terbuka lebar, benar-benar tidak percaya hanya dengan itu Odo bisa memprediksinya dan mengarahkan keadaan menjadi situasi sekarang. Melihat gelang yang ada pada tangan kanan, Arca sekilas gemetar kalau pemuda itu juga bisa melakukan hal seperti menanamkan informasi seperti itu pada sebuah objek. Sekali lagi putra sulung keluarga Rien itu dihadapkan dengan hal yang membuat jantungnya berdetak kencang karena tantangan.
“Begitu, ya ....” Arca menyeringai, itu membuat kedua Butler pribadinya yang melihat itu sedikit takut padanya. Menatap Elulu yang terduduk lemas di atas lantai, dengan nada datar Arca Rein berkata, “Kau memberitahukan koordinatmu dan menawarkan jalan keluar pada perempuan ini. Memaksanya menggunakan kekuatannya.”
“Hmm, benar.”
“Jadi ....” Menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri, pemuda yang duduk dengan ekspresi gelap itu bertanya, “Memangnya apa keperluanmu melakukan ini? Bukannya kau sedang diskors dan menjadi tahanan rumah?”
“Tanahan rumah, ya? Kalau dari sudut pandang keluarga aristokrat memang seperti itu. Huh, kita langsung ke topik utama. Pertama aku ingin kau berhenti menekan perempuan yang kau jadikan mata-mata itu.”
“Hah?” Kening Arca mengerut, lalu dengan heran ia bertanya, “Menekan? Memangnya kenapa—?”
“Kau tak perlu berlagak bodoh, aku sudah tahu. Saat ini perempuan itu ada di depanmu dan sedang mengaktifkan kekuatannya, dia mengirimkan beberapa isi pikirannya ke sini. Yah, sungguh hebat kekuatan ini. Praktis, praktis .... Apa tidak sayang kalau dibuang begitu saja?”
Arca menghela napas, menatap kesal perempuan di depannya dan sekilas ingin sekali lagi menendang wajahnya. Sadar kalau itu bisa saja membuat perempuan itu mengirim informasi tak perlu kepada Odo, Arca mengurungkan niat itu dan balik bertanya, “Apa yang ingin kau katakan? Jangan berbelit .... Bukannya kita sudah tidak banyak waktu.”
“Jangan cemas,” suara Odo terdengar sedikit tertawa. “Kita punya waktu sejam lagi sampai matahari terbit. Sebelum itu, mari bicara ....”
“Hah?! Aku belum menyelesaikan agendany—!”
“Arca, kau bukan tipe orang yang gila keadilan, ‘kan?”