
“Ratu Roh?” Odo sedikit tertarik dengan sebutan yang Vil pakai.
“Hmm ….” Vil mengangguk ringan, lalu dengan ekspresi sedikit murung ia mulai menjelaskan, “Mungkin Odo sudah menduganya, Kontrak Jiwa yang dilakukan Tuan Putri berbeda dari Kontrak biasa. Itu dilakukan oleh garis keturunan seorang Dewi, dengan kata lain hampir seperti dibuat oleh Deity, inkarnasi Dewi itu sendiri. Mungkin Odo baru pertama kali mendengar ini, tapi para Roh itu sebenarnya makhluk yang secara tidak langsung diciptakan oleh Dewi yang dipuja oleh masyarakat Felixia. Karena itulah, jumlah Roh di negeri ini sangat banyak dan memiliki gerbang yang bisa terhubung secara langsung.”
Odo sudah tahu beberapa hal yang disebutkan oleh Vil, namun dirinya baru pertama kali mendengar kalau para Roh bukanlah makhluk yang tercipta secara alami namun muncul karena ikut campur seorang Dewi. Memikirkan kecenderungan para Roh yang memiliki sifat seperti koloni semut dimana Ratu disembah dan menjadi prioritas utama, Odo sedikit paham mengapa Vil tampak sedikit takut dengan Arteria.
“Lalu, ikrar yang dimaksud itu apa? Apa kau tahu itu, Vil?” tanya Odo.
“Jika dilihat dari sudut pandang para Roh, ikrar itu berarti sumpah setia untuk melayani. Hal tersebut sering dilakukan oleh para Roh Tingkat Rendah yang baru saja menjadi Roh Tingkat Menengah, mereka melakukan Ikrar untuk mendapat tempat tinggal dan melayani Roh Agung yang menjadi penjaga ekosistem Dunia Astral.”
“Semacam menjadi pelayan, ya?” Odo menoleh ke arah Arteria, lalu tanpa ragu sedikitpun berkata, “Aku tidak mau melayani siapa-siapa loh, jadi nanti aku tolak saja kalau disuruh ikrar.”
Mendengarnya mengatakan hal tersebut secara terang-terangan, pada saat yang bersamaan Arteria dan Vil merasa kalau pemuda itu terlalu blak-blakan. Arteria hanya memalingkan pandangan dan mengangguk ringan, sedangkan Vil memasang wajah pucat karena merasa telah menjelaskan hal yang seharusnya tidak perlu Odo ketahui sebelum pertunangannya.
.
.
.
.
Sekitar setengah jam beralu. Kepala Pelayan memasuki ruangan, ia segera memberi pengumuman kepada para tamu bahwa salah satu tahapan prosesi pertunangan telah selesai. Hal tersebut juga berarti bahwa sebentar lagi tahap selanjutnya akan segera dimulai.
Saat pintu utama aula dibuka lebar-lebar oleh dua Prajurit Elite, setiap tamu yang ada di dalam ruangan menurunkan gelas mereka dan menundukkan kepala kepada anggota Tiga Keluarga Bangsawan Utama yang masuk.
Suasana yang sebelumnya ramai seketika berubah tenang, keagungan para bangsawan kelas atas tersebut membawa atmosfer yang membuat mereka seakan sulit untuk bernapas bebas.
Untuk beberapa alasan, Odo yang berada di antara para tamu merasa memang seperti itulah seharusnya acara formal berlangsung. Bukan berisi obrolan keserakahan para bangsawan yang hanya ingin mengamankan tempat nyaman dan sumber isi periuk mereka.
Menatap ke arah Raja yang masuk bersama beberapa anggota keluarga Luke dan Rein, Odo menarik dalam-dalam. Secara paksa dan sangat cepat ia mengubah bentuk fisik Vil menjadi astral. Tubuh Roh Agung tersebut dalam hitungan detik berubah menjadi partikel cahaya, masuk ke dalam raga pemuda rambut hitam tersebut dan keberadaannya seketika lenyap.
Mavis yang sekilas melihat hal tersebut sempat terhenti, tampak tak percaya melihat sang Roh Agung dipaksa kembali ke dalam bentuk astral seperti itu. Sebagai seorang penyihir yang memahami konsep Sihir Roh, apa yang dirinya lihat tampak begitu tak wajar.
Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi terkejut lebih lama di hadapan para tamu, Mavis segera menutup mulut yang sedikit terbuka. Wanita berbalut gaun hijau dengan hiasan renda itu mendekatkan mulut ke telinga Dart di depannya, lalu terlihat membisikkan sesuatu kepada suaminya tersebut.
Odo tersenyum kecil melihat reaksi yang diambil Ibunya. Segera menoleh ke arah Arteria, ia berlutut layaknya seorang pangeran di hadapan sang Tuan Putri. Sembari menawarkan tangan, pemuda itu mengangkat wajah dan mengajaknya, “Mari kita ke sana, Tuan Putri ….”
“Tentu saja, Tuan Odo. Mari pergi ….”
Arteria meraih tangannya. Saat pemuda itu berdiri, sang Tuan Putri merangkul lengannya dan berjalan menuju ke tengah aula untuk menghadap ke wali mereka.
Pada waktu bersamaan, Wolnir Yhoan dan perempuan rambut putih uban yang mendampingi masuk ke dalam aula melalui pintu utama. Sang perempuan yang mengenakan Vestimentum membawa tongkat perak berhiaskan timbangan dari logam mulia campuran di ujungnya, sedangkan sang Archbishop, Wolnir Yhoan, membawa cawan perunggu berisi 12 kelopak bunga musim semi.
Untuk orang-orang yang tidak mengenal sang perempuan, peran itu tampak terbalik. Tetapi bagi mereka yang paham statusnya di Pihak Religi, hal tersebutlah yang paling sesuai.
Raja Gaiel, Pangeran Ryan, Dart Luke, Mavis Luke, Thomas Rein, Calista Rein, Arca Rein, dan Fiola. Di depan orang-orang tersebut Odo dan Tuan Putri Arteria berlutut, lalu mereka berdua dengan anggun meletakkan telapak tangan ke depan dada kiri.
““Wahai Raja tempat kami bernaung, kami memberi hormat layaknya kami menghormati para leluhur. Wahai sang surga, kami meminta doa dan rahmat kepada Ayahanda dan Ibunda …. Wahai keluarga pendiri negeri ini, kami ucapkan terima kasih dan rasa hormat atas kedatangan kalian …. Wahai perwakilan para Dewa, kami sejenak mengucapkan syukur atas lantunan doa yang kalian berikan kepada kami. Berkatilah kami dengan rahmat.””
Mereka serempak memberikan salam, begitu kompak seakan-akan telah berlatih sebelumnya. Raja Gaiel berjalan menghampiri Odo, sedikit membungkuk dan meletakkan tangannya ke atas ubun-ibun pemuda itu.
“Angkat kepalamu ….”
Mengikuti perintah Raja, Odo mengangkat kepalanya dan menatap lurus mata penguasa Kerajaan Felixia. Untuk sesaat Raja Gaiel merasa banyak hal yang berubah darinya, terasa seperti pemuda itu telah melalui banyak hal dalam satu malam.
Sembari membawa pedang perak di atas bantal bersuamikan sutra dan hiasan logam mulia, Fiola berjalan ke arah mereka dan berdiri di sebelah kanan sang Raja. Huli Jing yang sekarang tampak seperti Kepala Pelayan wanita pada umumnya tersebut berlutut, menyerahkan pedang yang dibawanya kepada sang Penguasa Kerajaan.
“Silahkan, Yang Mulia.”
Raja Gaiel mengambil pedang perak tersebut, lalu meletakkan bilahnya ke pundak kanan Odo sembari berkata, “Engkau telah memperlihatkan kompetensi serta kapabilitas sebagai seorang pemimpin …. Kegagahan dan ketangkasan yang engkau miliki, diriku ini telah melihat dan mengakuinya. Engkau juga telah berkontribusi banyak untuk negeri ini …. Karena itulah, Odo Luke, Putra Dart Luke, diriku anugerahkan gelar bangsawan kepadamu.”
Sang Raja mengangkat bilah pedangnya, lalu meletakkannya kembali ke pundak kiri Odo dan bertitah, “Atas nama leluhur Kerajaan Felixia, diriku, Gaiel vi Felixia, dengan ini menganugerahkan gelar bangsawan Viscount di bawah naungan Keluarga Bangsawan Rein.”
Mendengar gelar yang diberikan oleh sang Raja, Odo memperlihatkan reaksi terkejut karena langsung mendapat gelar Viscount dan bukan Baron. Dalam sejarah, sebesar apapun kontribusi seseorang kepada Kerajaan mereka hanya akan diangkat menjadi bangsawan ksatria atau paling tinggi pun itu adalah Baron.
Odo sejenak menutup matanya, segera paham kalau sang Raja telah membicarakan masalah pemberian gelar dengan orang-orang dari Tiga Keluarga Utama dan Pihak Religi. Saat kembali membuka mata, Odo Luke dengan nada tanpa semangat berkata, “Saya bersumpah akan bijak menggunakan status ini. Melakukan yang terbaik untuk Negeri ini, Wilayah Luke dan semua rakyat Felixia.”
Raja Gaiel mengangkat pedangnya, lalu mengembalikannya ke atas bantal yang dibawa Fiola. Huli Jing tersebut segera bangun, mengambil dua langkah mundur dan beranjak kembali menuju ke belakang majikannya, Mavis.
Salah satu dari bangsawan yang tidak setuju langsung ambil bicara, “Yang Mulia! Bukankah itu terlalu berlebihan memberikan gelar Viscount kepada anak kecil sepertinya!” Pria paruh baya berambut cokelat kemerahan tersebut melangkah keluar dari tempat para bangsawan, lalu dengan tegas kembali berkata, “Dalam kurun waktu sekitar dua dekade terakhir, tidak ada lagi pemberian gelar bangsawan Viscount di Wilayah Luke! Jumlah bangsawan kelas menengah atas sudah cukup banyak dan pembagian wilayah kami sudah sesuai! Jika Anda memberikan gelar tersebut, susunan yang ada harus dirombak kembali! Bukankah itu terlalu berlebihan untuk anak⸻!”
“Anak?” Raja Gaiel menatap datar Hietza Ilan, pria dengan gelar bangsawan Baron tersebut. Sorot mata sang penguasa Felixia dengan cepat terlihat seperti mengasihani, lalu dengan nada kecewa berkata, “Setelah mendengar semua berita tentang Putra Tunggal Keluarga Luke, engkau tetap menganggapnya anak-anak? Apa perlu diriku sebutkan semua pencapaian Odo Luke di sini?! Engkau tahu, untuk seorang Baron sikapmu terlalu tidak sopan!”
Baron Ilan wajahnya langsung menciut, segera berlutut dengan penuh rasa takut dan dalam suara lirih berkata, “Yang Mulia …, saya tidak bermaksud menyinggung Anda ….”
Para tamu yang ramai seketika menjadi senyap, tidak ada lagi yang bergumam di belakang atau protes karena itu sudah menjadi keputusan sang Raja. Namun saat semua orang baru terdiam, sang Archduke dari Tanah Rendah angkat bicara.
“Yang Mulia, dengan segara hormat saya juga mengajukan keberatan atas keputusan kali ini,” ucap Midir Martanka, pemimpin Wilayah Garados. Ia berjalan menuju ke bangsawan yang pertama kali mengajukan keberatan, lalu dengan suara lantang pria tua dari kalangan militer tersebut menyampaikan, “Sebesar apapun kontribusi Tuan Odo, tetap saja gelar Viscount terlalu berlebihan …. Lagi pula, Yang Mulia tadi juga berkata bahwa ia akan menjadi wakil dari Count Thomas Rein. Untuk Garados sendiri, hal tersebut terlihat seperti Tiga Keluarga Bangsawan Utama ingin menyatukan kekuatan! Hal itu bisa mengacaukan keseimbangan yang telah dibangun sejak dulu. Dengan segala hormat, tolong Yang Mulia pertimbangkan kembali keputusan tersebut!”
Raja menatap datar Archduke Midir, begitu memahami alasan pria tua tersebut menolak pemberian gelar. Pada dasarnya, dari kelima Provinsi atau dalam konsep pemerintahan Felixia disebut dengan Wilayah, dua di antaranya sebenarnya adalah sebuah Negara Vasal.
Garados dan Jakall dulunya sebuah Kerajaan Independen yang lebih tua sejarahnya jika dibandingkan dengan Felixia. Dalam masa Perang Besar, kedua Kerajaan tersebut tumbang dan berakhir menjadi bagian dari Felixia sekarang ini.
Pemimpin dari kedua wilayah tersebut masih memiliki garis keturunan dengan Raja terdahulu mereka, karena itulah keluarga inti Garados dan Jakall diberikan gelar bangsawan kelas atas untuk menghormati sejarah yang ada di masa lampau. Atas kemenangan bersyarat di masa lalu, Kerajaan yang ditundukkan diubah menjadi provinsi dan seiring berjalannya waktu berakhir menjadi seperti sekarang ini.
Raja Gaiel sendiri paham kecemasan tersebut. Meski itu hubungan yang telah terjalin lebih dari empat generasi, namun tetap saja tak ada jaminan Tiga Keluarga Utama tidak akan menyingkirkan Keluarga Bangsawan Besar Garados untuk memperluas wewenang.
“Tuan Midir, engkau tak perlu cemas …. Gelar bangsawan yang diriku berikan hanyalah bersifat sementara. Mengapa engkau langsung protes saat Odo Luke diberikan gelar Viscount? Seperti yang engkau tahu, ia adalah calon Rajamu di masa depan. Bukankah terdengar aneh jika engkau menentang keputusanku ini?”
Perkataan sang Raja membuat Pemimpin Wilayah Garados tersebut bungkam, ia juga sebenarnya paham saat para Tetua mengeluarkan keputusan bahwa Tuan Putri akan dijodohkan dengan Putra Tunggal Keluarga Luke. Hal itu tidak bisa diganggu-gugat, karena memang sudah menjadi semacam tradisi dalam Tiga Keluarga Bangsawan Utama.
Tetapi, tetap saja gelar Viscount yang dianugerahkan merupakan hal yang membuatnya tidak bisa tenang. Itu sama saja seperti memberikan seorang anak kecil sebuah gunting besar untuk memotong tangkai-tangkai bunga di kebun, yang berisi bunga kuncup pun pasti tak luput.
“Tetap saja Yang Mulia! Saya tidak setuju! Di tempat ini pun pasti tidak sedikit yang sependapat dengan saya dan Tuan Ilan! Tolong pertimbangkan kembali⸻!”
Perkataan sang Archduke terhenti, ia tiba-tiba terdiam dan gemetar. Pada waktu yang bersamaan, semua orang di tempat tersebut merasakan semilir angin dingin yang seakan menggerayang leher mereka dan perlahan mencekik semakin kencang.
“Kolot. Sampai seperti itu kah kau ingin mempertahankan kenyamanan, Tuan Midir?”
Odo berdiri tegak dan menatap datar ke arah Archduke dari Tanah Rendah tersebut. Tatapannya begitu dingin, sampai-sampai udara yang ada di dalam aula ikut turun suhunya dan membuat hampir semua orang kesulitan bernapas.
Memalingkan sorot matanya ke arah Arteria yang masih berlutut tanpa terkena efek manipulasi suhu udara tersebut, Odo sekilas menarik napas ringan dan berkata, “Ini adalah hari pertunangan kami, hari yang akan kami kenang di masa depan ….”
Odo kembali menatap ke arah Archduke, lalu dengan aura intimidasi terpusat ia mengancam, “Jika kalian ingin protes, lakukan itu di tempat lain …. Paham? Ini adalah acara ku dan Tuan Putri.”
Odo membuka telapak tangan kanannya ke arah Midir, lalu mulai memanipulasi tekanan udara di dalam ruangan dan berkata, “Namun kalau kalian ingin tetap melakukannya di sini, dengan senang hati pada saat itu juga aku akan⸻”
“Tuan Odo, tolong hentikan ….” Arteria segera berdiri dan merangkul tangan Odo yang terulur ke depan.
Udara di dalam ruangan dengan cepat berubah normal, suhunya pun turun dan semua tamu yang ada segera menarik napas dengan terengah-engah. Mavis dan Dart segera menghampiri Odo, lalu memegang pundak Putra mereka dan berdiri di belakangnya sebagai tanda bahwa mereka berdua sepenuhnya mendukung keputusan Raja.
Mavis menatap Archduke, lalu dengan sedikit cemas berkata, “Tuan Midir, benar seperti yang putra kami ucapkan. Jika Anda ingin protes soal itu, lakukan di lain waktu. Pemberian gelar kali ini hanyalah untuk formalitas pertunangan. Anda tahu sendiri Tuan Putri tidak bisa menikahi pemuda tanpa gelar bangsawan, bukan?”
Tidak seperti istrinya, Dart hanya menatap datar kedua bangsawan yang secara terang-terangan menolak pemberian gelar tersebut. Ia bisa memaklumi jika Pemimpin Wilayah Garados tak setuju, namun dirinya tidak menyangka bahwa yang pertama kali menolak secara langsung adalah bangsawan dari Wilayahnya sendiri.
“Sepertinya memang banyak yang tidak lagi menghormati ku,” gumam Dart seraya melirik sang Raja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.