Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 24: Tahun baru bisa menjadi awal baru lainnya (Part 01)



 


 


|Odo POV|


Setelah berbicara dengan Vil di perpustakaan, segera aku keluar dari tempat itu dan pergi ke taman di halaman depan. Tak terlihat satu orang pun di tempat itu, mungkin mereka masih berada di Mansion dan menghitung hasil ekspedisi. Jujur saja hasil yang ada memang sangat banyak, tetapi saat tahu apa yang kubawa lebih banyak dari itu sedikit membuatku tidak bisa merasa terpuaskan dengan hasilnya.


Melihat ke arah langit yang sudah berubah gelap dan butiran salju masih turun, sekilas rasa lega terasa dalam benakku. Memang masih banyak yang belum selesai dan baru saja akan dimulai dari titik ini, tetapi itu bukan berarti seperti saat pertama kali aku mulai memutuskan untuk bergerak. Sejak aku paham tujuan utamaku hidup di dunia ini, apapun pasti akan kulakukan demi mencapainya.


“Aku pasti akan mencegah kehancuran itu ....”


Membersihkan bangku taman dari tumpukan salju, aku duduk di tempat sunyi ini seraya menarik napas lega dan menghembuskannya menjadi kepulan uap putih. Menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kiri, sejenak aku menyandarkan punggung ke bangku dan mematikan sihir pengatur suhu yang kugunakan untuk menahan hawa dingin.


Tubuhku menggigil seketika, tetapi itu tak apa. Rasa ini, sensasi yang membuat diri ini merasa lebih hidup tak apa terasa. Belakangan ini aku terlalu sering mematikan dan mengacuhkan indraku yang seperti ini, mengacuhkan rasa sakit pada tubuh dan belas kasih pada benak. Terlalu sering menggunakan Auto Senses  untuk hal semacam itu rasanya mengurangi tingkat kemanusiaanku.


Mengingat pembicaraan dengan Vil tadi, sekilas aku kembali memikirkan konsep kehidupan yang kami bicarakan. Pada dasarnya apa itu hidup? Mengapa setiap orang mati-matian untuk bisa bertahan  hidup? Jawaban seperti itu mungkin sudah jelas, tetapi saat kembali ditinjau itu menjadi buram. Tak ada jawaban yang pasti, setiap orang berbeda-beda pendapatnya tergantung persepsi mereka.


Membuka kedua telapakku dan melihatnya, dari dalam diriku seakan ada sesuatu yang melarangku untuk mati. Meski diriku sendiri sebenarnya sudah terpuaskan, meski diriku telah mendapat banyak hal yang tidak bisa kumiliki di kehidupan sebelumnya, tetapi hasrat untuk tetap hidup memang dengan jelas terasa dari dalam.


Aku sudah mendapat keluarga yang perhatian dan selalu menyayangiku, sosok yang bisa dipanggil kakak, dan seorang teman meski belum dekat. Itu sudah cukup .... Tetapi, sungguh sebenarnya hasrat apa ini yang melarangku untuk merasa puas.


“Jangan bilang kau ingin mati, hiduplah!” kata itu seakan mengiang dalam kepalaku. Itu bukan Auto Senses atau pun Seliari, hanya sebuah hasrat dalam diriku sendiri. “Hiduplah tanpa menyerah! Masih banyak yang harus kau lakukan!” perintah semacam itu seakan terus mendorongku sampai sekarang. Itu semua berasal dari dalam diriku, aku sangat memahami itu. Tetapi, entah mengapa semua itu tanpa kusadari berasal dari luar. Seperti halnya kehidupanku dulu, semua itu muncul dalam diriku karena pengaruh lingkungan dan semua orang yang ada di sekitarku.


Seseorang tidak akan bisa hidup tanpa pengaruh orang lain, hidup itu berisi perjalanan untuk pertemuan dengan sesuatu yang berharga di luar sana dan mengubah diri kita sendiri.


Kedua tangan ini, tubuh ini, kesempatan yang diberikan padaku ini, semua itu bagaikan sebuah rantai yang mengikatku dan memaksa untuk terus maju. Diriku memaksa diriku sendiri untuk tetap melangkah ke depan dan melakukan yang terbaik. Aku paham itu tidak ada yang salah, memang seperti itulah seseorang harus hidup. Keluar dari zona nyaman, berkembang dan melangkah ke depan.


Tetapi, ada sesuatu yang memang terasa menjanggal. Aku tidak peduli pada semua itu, rasa kesadaran memang ada tetapi diriku tidak peduli akan semua itu. Tak apa kalau aku mati, tapi aku tak mau melihat orang di sekitarku mati .... Itu menyedihkan,  karena pemikiran seperti itu ada dalam pola sikapku, aku bergerak. Bukan berarti aku benar-benar peduli, tetapi hanya untuk demi kepuasan pribadi saja diriku bergerak dan bahkan rela mengorbankan nyawa.


Itu sama halnya konsep kehidupan, tak ada batasan nyata yang jelas antara orang yang benar-benar hidup dan benar-benar mati. Bukan masalah fisik atau jiwa saja, tetapi secara pikiran dan moral. Hidup seakan mati, istilah seperti itu sering diberikan kepada orang-orang yang tak memiliki makna atau tujuan hidup. Tetapi, di sisi lain ada sebuah kontradiksi. Di dunia ini tak ada yang tidak bermakna, semua memiliki arti.


Bahkan sebelum diriku mengenal sihir yang dapat memungkinkan batasan konsep kehidupan dan kematian itu memudar, hal seperti itu sangatlah penuh dengan masalah. Inkarnasi tak mengubah konsep tersebut, hanya akan memperkeruh semuanya.


“Ah, bokongku dingin .... Bisa-bisa kena radang ....”


Bangun dari bangku, aku mulai kembali mengaktifkan sihir untuk menghangatkan tubuh. Uh, rasanya enak sekali sensasi penaikan suhu ini. Menarik napas ringan, aku mulai berjalan kembali menuju Mansion. Masuk melalui pintu utama, segera diriku berjalan menuju kamar dengan menghindari para Shieal yang masih sibuk mengurus pekerjaan setelah ekspedisi.


Berjalan di lorong, sekilas melirik keluar terlihat kegelapan malam yang tak terasa asing bagiku. Itu seperti saat aku dulu menonton film, saat melihat keluar jendela jarak pandang terbatas dan salju turun dengan lembut. Langkah kaki terhenti dan aku pun mendekat ke jendela, melihat keluar dan menikmati pemandangan yang menurutku apik itu.


“Tuan Muda, bukannya anda tidur? Julia tadi bilang seperti itu ke Nyonya ....”


Eh? Aku menoleh saat mendengar suara itu. Tepat di belakangku berdiri Minda, seorang perempuan rambut hitam panjang yang terlihat dewasa. Dia adalah salah satu Shieal dan bisa dikatakan tugas utamanya adalah mengurus tata letak perabotan Mansion dan perawatannya. Tidak mengherankan kalau ia berkeliling sebelum tidur malam.


“Aaaa ..., aku tadi ....”


“Menyusup keluar lagi?”


Ah, dia benar .... Sungguh sangat tepat. Aku membohongi Mbak Julia lagi. Tidak, kurasa aku kali ini tidak bohong. Aku benar-benar tidur meski hanya sebentar. Menatap perempuan rambut hitam itu, aku menjawab, “Hmm, tidak juga, Mbak Minda. Tadi aku ke perpustakaan.”


“Oh, rutinitas baca buku rupanya.”


“Eh?” Alisku terangkat kaget. “Sejak kapan itu jadi rutinitas?” tanyaku.


“Bukan, ya? Semua orang di Mansion tahu kalau anda sering pergi ke perpustakaan,” ucap Minda. Ia sekias melirik ke ujung lorong, terlihat seperti memang ada sesuatu yang harus dirinya lakukan.


“Apa belum selesai ... itu ... penatakan hasil ekspedisi dan barang-barangnya?”


“Surat apa memangnya?”


“Saya tidak tahu. Tapi ..., menurut Fiola yang tadi bersama Nyonya ..., sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi. Ratu katanya ... telah meninggal dunia.”


Ah, Soal itu. Aku tidak terkejut, takkan. Jelas, aku sudah tahu kabar soal itu dan hal itu juga yang mendorongku untuk tidak berdiam diri dulu setelah salah satu tujuan awalku selesai. Setelah utang wilayah ini selesai, harus dilakukan perubahan besar-besaran dalam beberapa aspek untuk bisa bertahan melawan gelombang yang mungkin akan datang setelah ini dalam waktu dekat.


Kematian seorang pemimpin itu sama saja sebuah perubahan tatanan pemerintahan, terutama bagi Kerajaan Felixia yang pada dasarnya pemimpin tertinggi adalah Ratu. Tahta Raja Gaiel kemungkinan akan goyah, para bangsawan mulai berkoalisi dan siklus seperti saat pergantian kepemimpinan sebelumnya akan terjadi.


Layaknya apa yang tertera dalam arsip tentang perselisihan para bangsawan yang terjadi saat Ratu sebelumnya meninggal, alur seperti itu juga akan terjadi dalam waktu dekat. Mempertimbangkan kalau Keluarga Luke ini cukup disokong oleh Raja Gaiel, perubahan kepemimpinan yang mungkin akan terjadi pasti akan berdampak besar.


Sebelum itu aku harus menyiapkan semuanya ....


Sedikit memiringkan wajah, aku memasang senyum seraya bertanya dan pura-pura tak tahu menahu soal itu, “Apa kabar ini sudah sampai pada ayahanda, ya? Ayah belum pulang, bukan?”


“Tuan Dart sepertinya sudah tahu, Tuan Muda .... Surat itu ... ditulis oleh Tuan Dart sendiri yang berada di Ibukota. Katanya dia setelah selesai membagikan persediaan musim dingin, beliau langsung datang ke Ibukota setelah mendapat kabar itu ....”


“Eh?” Aku benar-benar tidak memperkirakan hal itu. Orang itu sudah ke sana dulu? Apa separah itu keadaannya sampai-sampai  .... Tidak, mungkin karena alasan lain. Kalau tidak salah Ayah juga sangat dekat dengan Raja, mungkin karena itu dia segera datang.


“Oh, iya .... Tuan, apa anda setelah ini mau tidur?” tanya Minda.


“Ya, begitulah .... Memangnya ada apa, Mbak Minda?”


“Tolong jangan pasang sihir ilusi optik kalau sudah bangun, kasihan kalau Julia kena marah Nyonya terus ....”


Eh? Dia menyadarinya??! Aku benar-benar lupa kalau insting dan tingkat kepekaan Mbak Minda lebih tajam dari yang lain soal sihir jenis seperti itu. Memalingkan pandangan darinya, aku hanya memasang wajah datar.


“Yah, meminta itu dari Tuan Muda rasanya percuma .... Kalau begitu, saya izin pergi dulu, Tuan. Pekerjaan saya yang menumpuk perlu diselesaikan malam ini ....”


“Oh, bersih-bersih akhir tahun?”


“Penyusutan akhir tahun dan penataan,” koreksinya.


Ia pun segera pergi dengan mempercepat langkah kakinya. Melihat punggung perempuan rambut hitam tersebut, sekias aku mengingat sesuatu. Segera berbalik dan melangkahkan kaki, aku menuju kamarku untuk membuat beberapa hal di sana. Tetapi sebelum itu, aku sempat mampir ke ruang kerja untuk bertemu Ibuku dan meminta setumpuk kertas perkamen darinya.


Ia tidak menanyakan hal lain, tidak seperti biasanya Ibu langsung setuju akan permintaanku. Meski merasa aneh dengan itu, tetapi karena hal tersebut tidak terlalu bermasalah jadi aku tidak mempertanyakannya.


Membawa kertas-kertas yang kudapat ke kamar, aku langsung meletakkannya di atas meja di pojok dan menutup pintu. Seperti yang kuduga, lampu kamarku sudah dimatikan kembali. Mbak Minda benar-benar menyadari apa yang aku lakukan dengan memasang sihir ilusi optik. Berjalan ke arah sakelar, aku kembali menyalakan lampu.


Duduk di depan meja dengan kursi kayu yang sedikit lebih tinggi dan dibuat sesuai untukku, aku mengambil pena bulu dan kotak mangsi dari laci meja. Menyiapkan semua itu, dengan segera aku menulis surat pengantar.


Dalam standar umum, sebuah surat pengantar sangat diperlukan untuk melakukan kunjungan pada sebuah instansi. Surat semacam itu serba guna karena bersifat fleksibel berdasarkan tujuan pembuatan. Dengan mengatasnamakan Keluarga Luke dan menulis surat pada kertas perkamen yang sudah memiliki cap Pemerintah Kerajaan Felixia, aku menggunakannya untuk membuat surat pengantar yang tak akan bisa ditolak oleh instansi manapun di Kerajaan ini.


Surat yang kubuat berisi satu tujuan, yaitu untuk bertemu Walikota Mylta di kota pesisir. Tujuan pertemuan aku tulis hanya untuk pembicaraan rencana awal tahun, tetapi di dalam rincian aku sisipkan sedikit ancaman dengan sebuah kata “Investigasi” atas tindakan kemungkinan penyelewengan wewenang yang diberikan oleh Kerajaan Felixia.


Aku tidak hanya menggertak soal itu, fakta tentang catatan korupsi pada beberapa aspek memang ada. Sebenarnya korupsi yang dilakukan oleh Walikota itu tidaklah besar, malah harta pribadi lebih banyak yang digunakan untuk memajukan kota. Tetapi, fakta bahwa Baron tersebut menggunakan alokasi dana negeri untuk hal lain sangatlah jelas tercatat dan karena itu pembangunan menjadi terhambat. Dana tersebut tidak dikonsumsi secara pribadi. Dalam catatan lain yang kutemukan dalam arsip tentang dana itu, ada juga jejak kalau dana tersebut digunakan untuk membeli bahan pangan pokok selama kritis yang disebabkan penarikan dana untuk Ekspedisi Dunia Astral pertama.


“Padahal kami yang berulah, malah kami yang menuntut ....”


Ah, rasanya seperti menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri. Sungguh mengerikan ..... Aku meletakkan pena di meja dan menutup mangsi supaya tidak kering. Meletakkan surat pengantar itu terpisah dengan tumpukan lain, aku kembali mengambil perkamen yang masih polos dan kembali menulisnya dengan surat lainnya.


Malam ini aku paling tidak harus menulis lebih dari puluhan surat resmi untuk beberapa instansi. Karena tidak ada mesin fotokopi di dunia ini, semuanya harus manual. Surat-surat itu aku tujukan bukan instansi pemerintahan saja, tetapi perusahaan dagang swasta dan beberapa cabang Guild tak luput dari sasaran rencanaku.


Demi membuat jaringan koneksi yang luas semua itu diperlukan, yang penting adalah perkenalan dulu dan mereka harus tahu. Demi alasan tersebut, aku tidak menyembunyikan identitas dan menulis nama terangku. Mereka pasti pernah mendengar kabar tantang Pembunuh Naga, itu sudah menjadi bekal kuat dan persepsi mereka terhadapku seharusnya cukup baik di mata orang-orang yang kutuju ini.