Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 50 : Mutual-Evîn 10 of 10 “To ....” (Part 04)



 


 


“Gila keadilan?” Putra sulung keluarga Rein itu memasang ekspresi bingung, memiringkan kepalanya dan tidak bisa menangkap pertanyaan itu dengan baik.


 


 


“Itu, semacam orang yang anarkis menegakkan keadilannya sendiri sampai membuat orang lain menderita. Asal menangkap yang salah tanpa mempertimbangkan konsekuensi keseimbangan yang bisa runtuh ....”


 


 


Pemuda rambut cokelat itu paham apa yang dimaksud Odo, dengan maksud menyindir ia pun bertanya, “Seperti ... Roh Agung yang mendampingimu?”


 


 


“Uwah, kalau Vil dengar itu dia pasti melemparmu dengan tombak air. Yah, salah satu contohnya memang dia.”


 


 


“Kenapa kau mengira aku bukan tipe orang seperti itu?” tanya Arca.


 


 


“Sederhana .... Waktu di lobi penginapan, kau telah mendapat informasi untuk menjebloskan semua di sana. Tapi, kau tidak langsung melakukannya dan malah memilih menungguku untuk bicara. Kau mencari jalan keluar lain soal itu ....”


 


 


“Bisa saja aku melakukan itu hanya untuk bersenang-senang.” Arca memasang ekspresi tidak suka dengan ucapan tersebut, seakan-akan Odo tahu sifatnya dengan sangat jelas. Dengan nada seakan mencari-cari alasan, Arca berkata, “Kau tahu, meladeni para bangsawan itu membosankan. Aku hanya mencari tantangan dengan menekanmu seperti itu.”


 


 


“Hmm, itu bohong. Kalau bohong paling tidak buat yang meyakinkan.”


 


 


“Tch! Kau memang menyebalkan.”


 


 


“Maaf, maaf. Aku tahu itu. Jadi, ini permintaanku. Penuhi keinginan perempuan itu, gunakan kekuatannya untuk alat komunikasi seperti ini. Sederhana dan efektif, ‘kan?”


 


 


Arca memegang kepalanya sendiri dan sejenak berpikir, mempertimbangkan dampak negatif, positif, serta risiko yang ada jika ia melakukan apa yang diperintahkan Odo tersebut. Karena merasa lebih banyak risiko, pemuda dari keluarga Rein itu kembali menyanggah, “Kau tahu, Odo .... Keluarganya sangat buruk, asli kriminal dan pedagang busuk. Itu tidak seperi serikat dagang di kota ini, namun benar-benar busuk sampai dalam. Asal kau tahu! Saat persidangan! Bajingan itu, ayah dari perempuan ini, dia bahkan tidak ragu menggadaikan kedua putrinya.”


 


 


Sesaat suara Odo tak terdengar, itu memang butuh bertimbangan setelah mendengar hal tersebut. “Maaf, Arca. Aku tidak bisa menilai orang hanya dengan deskripsi seperti itu. Lagi pula, itu hanya persepsimu .... Aku tidak bisa memasukkannya ke dalam kalkulasi. Informasi yang aku dapat hanyalah tentang perempuan yang akan kau buang itu, aku pernah bicara dengannya dan paham sifatnya. Kurasa permintaanku tidak terlalu memberatkan. Eng ..., kalau tetap saja tidak bisa, bebaskan adiknya saja. Kurasa anak kecil masih bisa ditolerani, bukan?”


 


 


Elulu yang juga mendengar itu langsung terlihat heran, tidak mengerti kenapa pemuda dari keluarga Luke itu meminta hal tersebut untuknya. Arca sekilas melihat perubahan ekspresi perempuan tersebut, lalu menghela napas dan kembali bertanya, “Memangnya untuk apa kau menolong perempuan ini? Dia ... orang yang membocorkan semua informasimu kepadaku, loh!”


 


 


“Apa kau ingat perkataanku? Itu ..., saat aku bicara dengan ibuku di depan kantor utama barak .... Aku hanya tak ingin ada dendam. Kalau kau melakukan hal seperti itu pada perempuan di hadapanmu, kau kelak pasti akan ditusuk. Kau tahu, aku yang selalu memikirkan itu bahkan pernah ditusuk dari belakang. Aku hanya khawatir.”


 


 


“Khawatir padaku? Hah, yang benar saja!” benak Arca.


 


 


“Hahah, aku sungguh-sungguh, loh. Asal kau tahu, aku cukup suka tipe orang sepertimu. Jangan salah paham, ya! Bukan arah ke itu, tapi hanya untuk sebagai rekan.”


 


 


“Rekan ...?”


 


 


Arca tidak pernah ada orang yang menganggapnya seperti itu. Keluarga Rein adalah salah satu dari Tiga Keluarga Kerajaan yang secara khusus bertugas untuk membantu Raja mengatur pemerintahan dan menjaga kestabilan kondisi politik para bangsawan. Selama masa hidupnya, dalam dunia seperti itu Arca tidak pernah menemukan sosok yang bisa dianggap rekan. Musuh dan bawahan yang selalu ada di sekitarnya, tentu saja orang tuanya adalah pengecualian.


 


 


“Arca, serapi atau sebaik apapun rencana yang kubuat, itu mustahil dilakukan sendirian. Aku butuh orang lain, terlebih lagi dengan kondisiku seperti ini.”


 


 


Arca menyindir, “Itu salahmu sendiri membuat Nyonya Mavis marah dan sampai menangis seperti itu! Tch! Apa tidak ada cara yang lebih baik ...?”


 


 


“Itu ... aku tidak bisa memikirkan yang lain. Cara itu pilihan terbaik. Asal kau tahu, ini bukan berarti aku suka membuat orang tuaku sendiri menangis.”


 


 


Arca sesaat terdiam, menundukkan wajah dan memutar-mutar gelang hitam dengan ujung jari telunjuknya. Menggenggam itu, pemuda rambut cokelat tersebut berkata, “Hah, baiklah. Akan kulakukan perintahmu, akan kuatur supaya adik perempuan ini bebas. Tapi! Adiknya akan masuk dalam pengawasanku sebagai jaminan supaya perempuan ini tidak berkhianat, apa kau tidak masalah dengan itu, Odo?”


 


 


Elulu yang mendengar hal tersebut langsung memasang ekspresi lega meski dalam benak masih tertinggal rasa cemas.  Kedua Butler pribadi Arca serentak menghembuskan napas lega, merasa kalau pilihan itu memang sesuai dengan kondisi yang ada dan perempuan itu pantas mendapat imbalan seperti itu atas kerja kerasnya meski berujung kegagalan.


 


 


“Arca ..., padahal sudah kuperingatkan .... Ya sudahlah, terserah saja. Hanya itu yang ingin aku sampaikan, tolong perintahkan perempuan itu untuk mematikan kekuata—”


 


 


“Tunggu!” ucap Arca tegas.


 


 


“Eng? Apa?”


 


 


Arca sejenak terdiam, menghela napas dan menghentakkan kedua kakinya ke lantai. Dengan nada sedikit ragu, ia bertanya, “Apa kau juga telah tahu alasanku mencari masalah denganmu, Odo? Apa karena itu kau menantangku duel dan menyeretku dalam situasi ini?”


 


 


“Eng, saat memancingmu duel aku tidak tahu. Tapi saat kau menerimanya, aku langsung tahu alasan orang yang seharusnya berperan di belakang layar rela menantangku dari depan seperti itu.”


 


 


“Hmm?” Arca dengan heran bertanya, “Memangnya kenapa saat aku menerima tantanganmu?”


 


 


“Kau tidak ingat? Eng, pasang telinga— Ah, kekuatan ini langsung mengirim suara jadi telinga tidak terlalu diperlukan, ya. Eng, pokoknya dengarkan baik-baik ini. Saat kau akan menerima tantanganku ..... Arca, kau berkata ‘Aku salah menilaimu! Kau memang sampah! Kenapa Ayahanda selalu memuji-muji orang sepertimu!!’ dengan sangat lantang. Saat itu aku paham alasanmu mengincarku dan orang-orang yang terkait denganku.”


 


 


“Begitu, ya ....” Arca sekilas menyeringai, bukan dengan rasa sombong namun dengan rasa senang. Dengan nada yang terkesan santai, ia berkata, “Lain kali aku sebaiknya tidak mudah terbawa emosi seperti itu. Tidak kusangka hanya dari itu kau bisa langsung tahu.”


 


 


“Jadi, apa aku sesuai kriteria, wahai timbangan ...?”


 


 


“Ya, kau lebih dari cukup, dasar sialan!”


 


 


“Hmm, terima kasih. Semoga kita bisa menjadi sahabat?”


 


 


“Eh?! Kenapa tiba-tiba! Menjijikkan!” ucap Arca kesal. Wajahnya sedikit tersipu, merasa sedikit jijik mendengar itu namun dirinya merasa tidak terlalu buruk untuk mendapat seorang sahabat.


 


 


“Ah, kejamnya. Aku serius, loh. Asal kau tahu, aku tidak pernah dapat teman bicara yang bisa diajak debat begitu. Meski ada, itu perempuan.”


 


 


Kening Arca mengerut, lalu dengan kesal berkata,  “Kau suka mencari masalah, ya? Dasar sialan ....”


 


 


“Tidak juga. Yang aku suka hanya sihir dan keluargaku .... Oh, iya. Aku lupa menambahkan sesuatu.”


 


 


“Menambahkan? “ Arca mulai cemas dengan waktu yang dimiliknya, menggelengkan kepala dan dengan resah berkata, “Kau ini ya, agenda yang kau berikan sudah penuh!”


 


 


“Ini tidak berat, kok. Tak wajib ....”


 


 


“Hah, katakan!”


 


 


“Kalau sempat, tolong cek furnitur di distrik pengrajin. Mungkin ada mebel bagus dengan harga murah, biar aku bisa menyesuaikan anggarannya.”


 


 


“Anggarannya pakai uangku, oi!” Arca terlihat kesal, dengan kasar ia berkata, “Kau sama sekali tidak memberiku uang, ‘kan? Dasar sialan!”


 


 


“Di gelang itu ada uangnya. Bukan uang sih, lebih tepatnya kristal sihir kualitas terbaik.”


 


 


“Eh?” Arca melihat gelang yang dipegangnya, menatap datar karena sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa dengan itu.


 


 


 


 


“Nih orang ....” Arca cukup tersinggung mendegar itu.


 


 


“Kalau Butler pribadimu? Apa mereka bisa?”


 


 


“Eng, kalian bisa, Ligh? Logi?”


 


 


Arca menunjukkan gelang itu kepada kedua Butler pribadinya. Namun setelah melihat gelang dimensi itu dan sadar kalau struktur serta formula yang digunakan benar-benar berada pada tingkat yang tidak mereka ketahui, kedua pria itu menggelengkan kepala mereka.


 


 


“Mereka tidak bisa,” ucap Arca.


 


 


“Hmm, padahal Vil bisa langsung memakainya.”


 


 


Kening Arca kembali mengerut, dengan kesal ia berkata, “Jangan samakan mereka dengan Roh Agung itu ...!”


 


 


“Hmm, kalau begitu sekalian saja bilang sama Nanra. Seharusnya dia juga punya metode pembuka dimensi penyimpanan, aku juga sudah mengirimkan paket informasi itu padanya.”


 


 


“Nanra?” Arca sekilas bingung mendengar nama itu. Menyadari sesuatu, ia memastikan, “Ah, sekretaris itu? Kau sangat mempercayainya, ya? Padahal ..., bukannya dia yang menusukmu?”


 


 


“Oh, kau bahkan tahu soal itu. Tapi tenang saja, dia bisa dipercaya. Dia menusukku karena aku mengacuhkannya, itu kesalahanku .... Saat bertemu dengannya, tunjukkan saja gelang itu dan beritahu padanya kalau kau kenalanku. Dia bisa cepat paham. Kalau dia tidak percaya, gunakan saja kekuatan  perempuan di depanmu itu untuk mengirim suaraku. Nama asli perempuan di depanmu—Eh? Elulu? Namamu unik, ya?”


 


 


Arca langsung menatap tajam perempuan yang duduk lemas di depannya. Dari suara Odo tadi, Arca tahu kalau perempuan itu juga sedang berkomunikasi dengannya tanpa tahu apa yang sedang kedua orang itu bicarakan.


 


 


“Odo, apa yang kau bicarakan dengan perempuan ini?” tanya Arca.


 


 


“Ah, tidak banyak. Oh, iya! Aku melupakan sesuatu!”


 


 


“Apa?” Arca memasang ekspresi lelah karena merasa diseret-seret dalam pembicaraan.


 


 


“Ini soal bandit.”


 


 


“Hmm ....” Seketika Arca juga mengingat persoalan itu, memasang ekspresi serius dan dengan nada menekan berkata, “Aku sudah memeriksa kamar yang sebelumnya kau larang untuk dimasuki siapa saja di penginapan ini. Awalnya aku dapat informasi kalau perempuan dan anak kecil itu kau culik untuk mengancam seseorang. Tapi saat memastikannya lagi dan ada pria di kamar itu, aku menyadari sesuatu.”


 


 


“Kau masuk ke dalam?”


 


 


“Tidak ....” Arca menggelengkan kepala, lalu menjawab, “Aku hanya memastikannya dengan salah satu Grimoire milikku. Di dalam sana dengan jelas ada tiga tanda kehidupan, satu wanita, anak kecil dan pria.” Sekilas Arca terdiam, lalu dengan nada meragukan ia bertanya, “Mereka itu ... Tox Tenebris dan keluarganya, ‘kan?”


 


 


“Tepat, hebat kau menyadarinya. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?”


 


 


Arca dalam benak merasa kalau Odo memang sudah merencanakan sesuatu dari awal soal mereka. Menghela napas panjang, pemuda dari keluarga Rein itu bertanya, “Ada dua pertanyaan. Pertama, kenapa kau menolong mereka? Untuk yang kedua, siapa yang sebenarnya dieksekusi?”


 


 


“Pertanyaan pertama jawabannya hampir sama dengan alasanku menolong perempuan di depanmu. Aku menilai tinggi Native Overhoul, aku butuh kekuatannya. Hanya itu ....”


 


 


Arca meletakkan tangan kirinya ke depan mulut, lalu bergumam, “Kekuatan Tox Tenebris itu kalau tidak salah ... semacam teleportasi, ‘kan? Perpindahan objek dengan cepat.”


 


 


“Hmm, itu salah satu komponen yang kuperlukan.”


 


 


Arca terdiam, hal yang sering Odo sebut dengan komponen selalu dijelaskan secara abstrak dan sengaja tidak diberitahukan secara gamblang. Dengan nada datar Arca kembali berkata, “Aku tidak akan bertanya lebih lanjut soal itu. Untuk pertanyaan sebelumnya, sebenarnya siapa yang dieksekusi?”


 


 


“Kolt Luis ....”


 


 


“Begitu, ya .... Salah satu pimpinan bandit lain.” Arca tidak terkejut, ia sudah memperkirakan hal tersebut saat tahu kalau Tox Tenebris yang asli masih hidup.


 


 


“Hmm, kau tidak tanya rinciannya, ya? Soal bagaimana aku mengubah wajah mereka atau semacamnya ....”


 


 


“Sudah kubilang, aku hanya akan tanya dua hal.”


 


 


Sesaat suasana di dalam ruangan itu berubah senyap, suara Odo tidak terdengar karena sedang mempertimbangkan beberapa hal. Namun tidak sampai satu menit, suaranya kembali terdengar, “Akan kujelaskan saja, ini juga penting soalnya .... Kau tahu kalau aku pergi ke pemukiman Klista itu, ‘kan? Soal mereka yang diserang oleh pasukan Moloia yang menyusup.”


 


 


“Oh!” Kedua mata Arca terbuka lebar, merasa bangga karena tebakannya tepat dan ia pun memastikan, “Di sana kau menangkapnya, ya? Apa para bandit itulah yang sebenarnya membuat ulah?!”


 


 


“Sebaliknya, para bandit itu hanya digunakan oleh pasukan Moloia. Ini penting, jadi dengar baik-baik. Aku memang bisa menghabisi beberapa orang Moloia itu, tapi ada beberapa yang kabur. Kalau kau mendapat rumor pergerakan mereka atau menemukan mereka, laporkan padaku!”


 


 


Arca memasang ekspresi ragu mendapat perintah seperti itu, lalu dengan serius ia bertanya, “Apa ... tak perlu dihabisi saja?”


 


 


“Aku butuh informasi. Tangkap mereka, senjata mereka juga tolong amankan. Kau tahu kalau Moloia menggunakan senjata khusus yang hanya diproduksi di negeri mereka, ‘kan?”


 


 


“Ya ....” Arca mengangguk ringan dan menjawab,  “Itu mereka sebut senapan mesin atau senjata api. Kekaisaran juga pernah membuat seperti itu, tapi tingkat kerumitan senjata yang diciptakan Moloia lebih tinggi.”


 


 


“Aku ingin membongkar itu, tentu saja aku perlu orang yang paham cara kerjanya.”


 


 


Arca memahami alasan Odo ingin menangkap orang-orang Moloia yang masih berkeliaran di wilayah Luke. Mengangguk satu kali, pemuda rambut cokelat itu berkata, “Baiklah, akan kulaporkan kalau ada informasi tentang mereka.”


 


 


“Hmm, sudah dulu pembicaraannya, ya. Kau lanjutkan saja membuat agendanya, seharusnya masih ada setengah jam lagi.”


 


 


“Eh?!”


 


 


“Dah.”


 


 


“A ....”


 


 


Kekuatan milik Elulu, Radd Sendangi, dimatikan. Dalam hitungan detik partikel cahaya yang tersebar di penjuru ruangan lenyap dan jendela terbuka sendiri. Koneksi ruangan dengan satu individu yang jaraknya jauh langsung terputus.


 


 


“Hah, dia memang seenaknya saja,” keluh Arca. Meski berkata seperti itu, pemuda itu terlihat cukup menikmati tantangan yang ada akan dihadapinya untuk beberapa bulan ke depan.