Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 61 : Aswad 8 of 15 “To know who I am” (Part 02)



 


 


 


Odo memahami perubahan ekspresi pada wajah perempuan dengan seragam pelayan itu. Tidak memikirkannya lebih lanjut, ia menoleh ke arah Lisia dan bertanya, “Lisia, katamu tadi rencana perpindahan penduduknya akan dilakukan besok lusa, ’kan? Dua hari dari sekarang?”


 


 


“Hmm ....” Lisia mengangguk. Sembari berjalan mendekat ke arah meja dan meletakkan dokumen yang ia bawa, perempuan rambut merah itu berkata, “Besok lusa nanti. Semua berkasnya sudah diurus, tinggal pemutusan siapa yang akan menjadi kepala desa dan mengurus berkas-berkas perjanjian lainnya dengan kota Mylta.”


 


 


“Berarti tempat tinggalnya sudah ada? Bangunan seperti rumah atau semacamnya sudah siap, ya?” tanya Odo penasaran.


 


 


“Tentu saja sudah!” Lisia sedikit mengembungkan pipinya dengan kesal, lalu seraya memalingkan pandangannya berkata, “Saya tidak teledor seperti orang-orang itu katakan, loh.”


 


 


“Di mana?”


 


 


“Eh?”


 


 


“Tempatnya di mana?”


 


 


Lisia segera mencari sebuah kertas perkamen di antara tumpukan dokumen di atas meja. Ketika menemukannya, ia sekilas tersenyum dan segera menyerahkan itu kepada Odo. Pemuda itu meletakkannya ke atas meja, mengamati kertas perkamen berisi denah kecil dan beberapa keterangan tentang tersebut. Dalam sekilas, Odo segera tahu tempat apa yang akan dijadikan pemukiman baru suku Klista tersebut.


 


 


“Ini ... bukannya bekas desa?”


 


 


“Hmm ....” Lisia mengambil kursi dari kolong, lalu segera duduk di dekat Odo. Sedikit mendekat dan ikut melihat perkamen yang diletakkan di atas meja, perempuan rambut merah tersebut menjelaskan, “Itu memang bekas desa, letaknya hanya beberapa belas kilometer saja dari kota. Sekitar empat atau lima tahun lalu, bandit pernah menyerang desa itu sampai tidak bisa beroperasi lagi dan terlantar sampai sekarang.”


 


 


Odo sekilas terdiam, penjelasan tersebut benar-benar memastikan kalau desa tersebut merupakan tempat tinggal Nanra dulu sebelum hidup di panti asuhan Inkara. Meletakkan tangan ke kening, pemuda itu sekilas merasa kalau tempat tersebut bisa saja membawakan masalah kelak kalau tidak diurus dengan baik.


 


 


Berhenti meletakkan tangan ke kening, pemuda itu menatap ke arah sang Pengganti Walikota dan kembali bertanya, “Lisia, boleh aku tanya hal yang sensitif?”


 


 


“Saya akan berusaha menjawab, tergantung pertanyaannya.”


 


 


“Anggaran yang kau berikan untuk pemindahan ini berapa?”


 


 


Sekilas Lisia terdiam dan kembali mengingat-ingat agenda dan anggaran yang ada. Mendengar apa yang ditanyakan Odo, Arca sekilas menyipitkan sorot matanya dan samar-samar paham apa yang hendak ingin putra dari keluarga Luke tersebut lakukan. Namun, Arca memilih untuk diam dan membiarkan karena merasa pasti Odo juga memiliki rencana sendiri soal hal tersebut.


 


 


Menatap ke arah Odo dengan serius dan mengingat anggaran pemindahan, Lisia mulai menjelaskan, “Biasanya dalam membangun sebuah desa pada sekala seperti itu membutuhkan sekitar 50 sampai 70 koin emas besar, atau kisaran 50.000 sampai 70.000 Rupl. Namun karena sekarang tak perlu membangun bangunan baru dan hanya diperlukan beberapa perbaikan, dalam laporan perkiraan anggaran yang keluar hanya 40.000 Rupl untuk biaya utama dan 10.000 Rupl untuk biaya lain-lain.”


 


 


Mendengar jumlah tersebut, sekilas Odo terdiam dan merasa jumlah untuk membangun sebuah desa memang tidak sedikit. Penghasilan pajak wilayah Luke secara keseluruhan hanyalah sekitar 1.800.000 Rupl setiap tahunnya, dari tujuh kota dengan perekonomian mereka masing-masing. Dengan kata lain, pajak tiap kota dalam satu tahun hanyalah sekitar 250.000 Rupl saja.


 


 


Jumlah pajak tahunan tersebut hanyalah sekitar 20% dari jumlah pendapatan kotor sebuah kota, atau bisa disebut dalam satu tahun masing-masing kota bisa mendapat uang dalam jumlah 1.250.000 Rupl. Jika dikurangi dengan biaya-biaya dalam operasionalnya, penghasilan rata-rata kota tidak pernah sampai pada angka 1.000.000 Rupl setiap tahunya.


 


 


Biaya tersebut juga akan kembali dipotong untuk perawatan kota, pembagian keuntungan kepada para bangsawan yang memberikan investasi kepada kota, sumbangan-sumbangan dan juga dana wajib yang harus disalurkan kepada Pihak Religi. Dalam keseluruhan hal tersebut, kekayaan yang dapat disimpan selalu kurang dari 20% penghasilan kotor tahunan. Dengan kata lain, jumlahnya selalu di bawah 250.000 Rupl saja setiap tutup buku.


 


 


Mempertimbangkan kondisi kota Mylta dalam satu dekade sebelumnya, Odo merasa uang yang disimpan kota Mylta tidaklah sebanyak kota-kota lain. Ditambah untuk dana ekspedisi pembasmian para bandit tahun kemarin, kemungkinan besar seharusnya uang simpanan kota sedang sangat menipis. Meski begitu, dana sebesar 50.000 Rupl bisa dikeluarkan dari kas dengan wewenang Lisia sebagai Pengganti Walikota.


 


 


Menyadari sesuatu yang tak sengaja terlewat dari perkiraannya, kedua mata Odo sesaat terbuka lebar dan langsung memegang dagunya sendiri. Menatap ke arah perempuan rambut merah di sebelahnya, Odo Luke bertanya, “Apa kau menggunakan Dana Alokasi Umum dari pemerintah pusat?”


 


 


Lisia memasang wajah heran saat melihat ekspresi cemas Odo. Meletakkan tangan kanan ke depan dada, perempuan dengan seragam hitam seorang perwira itu berkata, “Itu tidak masalah, ‘kan? Dana Alokasi pada dasarnya untuk pengembangan kota, jadi wajar kalau saya gunakan untuk membangun sebuah desa, bukan?”


 


 


“Hmm, memang wajar. Sangat wajar. Tapi ....” Odo berhenti memegang dagu, menarik napas dalam-dalam dan menggaruk bagian belakang kepala dengan resah. Mengubah posisi duduknya menghadap Lisia dengan tatapan serius, pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Kau tahu, Lisia. Setiap tahun Dana Alokasi itu masuk ke kas kota, dicatat sebagai debit dan bisa dikatakan sebagai pendapatan. Dalam sistem pencatatan keuangan atau pembukuan, itu bisa menaikkan jumlah pendapatan kota secara kas.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Lisia tetap tidak paham apa yang hendak disampaikan Odo. Hal serupa juga dirasakan oleh Arca, apalagi Elulu yang sedari tadi tidak terlalu bisa mengikuti pembicaraan mereka semua.


 


 


Sedikit memiringkan kepala, putri keluarga Mylta itu malah bertanya, “Me-Memangnya apa yang salah? Kenapa anda menatapku seperti itu?


 


 


Odo langsung tepuk jidat, menarik napas dalam-dalam dan dalam hembusan napas bergumam, “Jelas saja tidak ada keluarga bangsawan yang berniat menolongmu saat itu.”


 


 


“Eh?” Lisia terkejut mendengar hal tersebut, segera mendekatkan wajah dan bertanya, “Memangnya apa yang salah? Kenapa bisa begitu?”


 


 


Odo mengerutkan kening, menatap datar dan menyindir, “Kau orang pemerintahkan, ‘kan? Biasa urus begituan, ‘kan? Masa gak paham?” Perempuan rambut merah itu hanya terdiam tanpa bisa membalas, segera menjauh dan menundukkan wajah tanpa mengucapkan satu patah kata pun untuk menyanggah.


 


 


Kembali menghela napas, Odo mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan berkata, “Reksa Dana mereka bisa terganggu karena tindakanmu. Pada dasarnya bangsawan-bangsawan dengan kasta setara atau di bawah keluarga Mylta menyumbangkan kekayaan mereka bukan karena sukarela, mereka ingin laba berkepanjangan.” Menarik tangan kanan dan meletakkannya atas pangkuan, pemuda itu kembali menjelaskan, “Dana Alokasi Umum yang biasa didapat masing-masing kota akan dicatat sebagai kas, penghasilan atau pemasukan. Kau tahu jumlahnya tidak sedikit, ‘kan? Itu sekitar ½  jumlah pajak yang kalian setorkan setiap tahunnya, sekitar 120.000 Rupl. Lalu, kau menggunakan hampir setengah Dana Alokasi itu di awal-awal tahun seperti sekarang.”


 


 


Lisia dan Arca terdiam mendengar penjelasan tersebut, memikirkannya dengan baik-baik dan mulai paham alasan orang-orang dari Pihak Pemerintah Kota sebelumnya bersikap tak begitu peduli jika pimpinan mereka diganti. Namun dengan cepat Arca merasa kesal dalam benak, ia menatap tajam ke arah Odo.


 


 


“Padahal tahu jumlah seperti itu banyak, tapi kau seenaknya menghabiskan ratusan ribu Rupl untuk membangun toko ini dan memberi investasi tak jelas ke banyak tempat, ya?”


 


 


Odo balik menatap pemuda rambut pirang itu, lalu dengan ekspresi sombong menjawab, “Terserah aku, dong. Itu uang-uang aku, bukan rakyat atau milik kamu.”


 


 


Seketika kening Arca mengerut, ia mengepalkan tangan kanannya dan bergumam, “Ingin kuhajar anak ini ...! Sumpah, ingin aku hajar! Sialan, sayangnya itu benar apa adanya!”


 


 


Lisia sedikit penasaran melihat ekspresi kesal Arca. Kembali menatap ke arah Odo, perempuan rambut merah itu bertanya, “Ngomong-omong, Tuan Odo. Berapa jumlah yang anda habiskan untuk membuka perusahaan dagang anda?”


 


 


Odo memegang dagu, sekilas memalingkan pandangan dan dengan sedikit ragu menjawab, “Sejauh ini, semuanya sekitar empat kali lipat biaya untuk membangun sebuah desa.”


 


 


Lisia seketika terbelalak dengan mulut menganga, begitu juga Arca. Elulu yang tidak terlalu memahami hal tersebut lekas menghitung jumlahnya dengan jari, membandingkannya dengan anggaran yang dikeluarkan untuk biaya pemindahan pemukiman suku Klista. Ketika mengetahui jumlahnya, seketika perempuan dengan seragam pelayan itu memucat dan gemetar ketakutan.


 


 


Melihat ekspresi mereka, Odo memasang senyum simpul dan kembali berkata, “Kalian tahu, bukan berarti aku punya uang sebanyak itu, loh. Apa yang aku gunakan hanyalah Kristal Sihir, nilainya tidak pasti dan bisa berubah-ubah.”


 


 


Mendengar itu Lisia tambah terkejut, memegang kedua sisi pundak Odo dan membuat pemuda itu menghadapnya. “Anda punya Kristal Kualitas Terbaik lagi? Sebenarnya berapa banyak yang Anda punya?!” tanya Lisia dengan panik.


 


 


Odo menyingkirkan kedua tangan Lisia dari pundak, lalu mendekatkan bibir ke telinga perempuan rambut merah itu dan berbisik. Mendengar jumlah dan jenis-jenis Kristal Kualitas Terbaik beserta kelas beratnya, Lisia seketika tambah memucat dan merasa jumlah sebanyak itu bisa digunakan untuk membangun sebuah kota baru.


 


 


“Jangan bilang siapa-siapa, ya.” Odo menjauhkan wajahnya, meletakkan jari telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Melihat reaksi orang-orang pemerintahan dari kejadian kali ini, kurasa jumlah itu bisa membuat mereka saling bunuh satu sama lain.”


 


 


Arca terpancing ketika mendengar kalimat tersebut. Ia merasa kesal sampai bibirnya sedikit terangkat maju, lalu dengan nada tinggi menyindir, “Apa kau tak masalah dekat-dekat dengan perempuan lain seperti itu? Kau akan menjadi tunangan Putri Arteria, ‘kan?”


 


 


 


 


“Enggak!” Arca menarik napas dalam-dalam, mulai merasa selalu terbawa emosi saat bicara dengan Odo. Setelah menenangkan diri, pemuda rambut pirang tersebut kembali fokus pada pembicaraan dan bertanya, “Setelah kau membahas panjang masalah Nona Lisia, apa kau tahu siapa yang menjadi dalangnya? Tidak seperti dirimu kalau membahas itu dengan cuma-cuma tanpa tindakan, ‘kan?”


 


 


Odo meletakkan siku kanannya ke meja, lalu menyangga kepala dengan punggung tangan dan dengan nada kelam berkata, “Aku tidak akan bicara.”


 


 


“A—! Kau ini!” Arca tambah kesal, ia bangun dari tempat duduk dan menghampiri Odo. Berdiri menghadap pemuda itu, Arca dengan tegas berkata, “Orang seperti itu seharusnya segera diberhentikan! Dia tanpa ragu menjatuhkan keluarga yang dilayaninya selama bertahun-tahun hanya karena masalah Alokasi Dana! Kalau dibiarkan ....”


 


 


“Tanpa ragu dan dengan mudahnya, ya?” Odo menatap datar, begitu gelap dan dengan suara menekan berkata, “Kau pikir, orang-orang dengan umur puluhan tahun itu mengambil keputusan tersebut dengan enteng? Kau yang bahkan belum hidup setengahnya tahu apa tentang pola pikir mereka? Mereka punya alasan masing-masing, begitu pula tujuan yang jelas dan kuat.”


 


 


“Tetap saja!” Arca menggebrak meja dengan tangan kiri, menatap tajam Odo dan kembali menekan, “Kalau dibiarkan, orang semacam itu pasti bisa dengan mudah mengkhianati kerajaan!”


 


 


Melihat sifat loyal tersebut, Odo sejenak terdiam dan merasa kalau orang-orang seperti itu juga memang ada di dalam sistem monarki sebuah negeri. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak terbawa alur suasana, Odo dengan ringan berkata, “Arca, kau pikir siapa yang membuat mereka melakukan tindakan seperti itu? Tak lain dan tak bukan adalah Lisia sendiri, pemimpin mereka.”


 


 


Perkataan itu begitu menyinggung perempuan rambut merah di dekatnya. Seakan tidak memedulikan hal tersebut, Odo menunjuk Arca dan dengan tegas berkata, “Tak semua orang menyukai perubahan, ada dari mereka yang takut akan lengser dan ditinggalkan masa. Karena itu, mereka akan melakukan apa saja demi mempertahankan kondisi.”


 


 


“Itulah yang membuatku cemas!” Arca kembali menggebrak meja, memasang ekspresi marah dan membentak, “Kau sendiri sudah paham hal itu!”


 


 


“Setelah menyingkirkan orang-orang seperti mereka, apa yang ingin kau lakukan? Apa kau benar-benar yakin tidak akan melakukan hal yang sama di masa depan? Apa kau dengan yakin bisa mencegah orang-orang seperti itu muncul pada orde kekuasaan baru kelak nantinya? Kau pasti tidak akan bisa melakukannya .... Pada setiap ladang, benalu selalu tumbuh menyerap pupuk yang seharusnya untuk tanaman yang dirawat.”


 


 


Arca sekilas mulai ragu pada argumennya sendiri. Dirinya memang yakin tidak akan bertingkah layaknya para benalu yang hanya bisa menjadi parasit, namun pada saat yang sama ia tidak begitu yakin bisa mencegah orang-orang di sekitarnya takkan bersikap seperti itu di masa depan. Setiap individu memuliki kebebasan, seketat apapun peraturan pasti akan ada sebuah celah untuk penyelewengan. Namun, tetap saja Arca tidak bisa mundur soal argumen tersebut.


 


 


Mengangkat tangan kanan ke depan dada dan mengepalkannya, dengan penuh keyakinan pemuda rambut pirang itu berkata, “Sebab itu, bukannya kita harus mencabutnya terus menerus? Kalau dibiarkan, mereka akan tumbuh semakin banyak!”


 


 


“Benar, itu benar.” Odo tak mengadili perkataan tersebut salah, namun tidak juga benar-benar menerimanya. Ia sekilas menyipitkan mata dan menatap datar Arca, lalu kembali menyanggah, “Namun, itu hanya berlaku pada benalu yang benar-benar merugikan, tergantung cara olahnya itu bisa bernilai tinggi dan bahkan bisa menjadi obat.”


 


 


Pola pikir tersebut sudah Arca perkirakan. Namun saat mendengar betapa naifnya hal tersebut, pemuda dari keluarga Rein itu berkata, “Kau sungguh-sungguh berniat memanfaatkan orang-orang seperti itu? Jika ceroboh, kau bisa-bisa terjerat dan tenggelam bersama mereka.”


 


 


“Tenang saja.” Odo berhenti menunjuk, memasang senyum ringan dan penuh rasa percaya diri berkata, “Kalau aku seceroboh itu, aku takkan berurusan dengan para pedagang kikir itu.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Arca mengingat hal lain yang harus dibahas terkait dengan Serikat Dagang Lorian. Pemuda itu segera melihat ke arah meja dan mulai memilah perkamen-perkamen dalam tumpukan dokumen. Lalu saat menemukan laporan yang dicari dan mengambilnya, pemuda itu berkata, “Aku baru ingat ini. Saat mengurus perjanjian dengan Serikat Lorian terkait cara memonopoli distrik pelabuhan, mereka benar-benar memberikan tekanan besar dan meremehkan perusahaan kita.” Putra keluarga Rein tersebut menyerahkan perkamen kepada Odo, lalu menambahkan, “Tapi, kurasa hasilnya cukup memuaskan untuk perusahaan baru seperti kita.”


 


 


“Tunggu dulu.” Sembari menerima perkamen tersebut, Odo menatap heran dan memastikan, “Kalian benar-benar berniat memonopoli distrik pelabuhan?”


 


 


“Ya, memang.” Arca melipat kedua tangannya ke depan, memasang senyum tipis dan dengan rasa bangga menjawab, “Kau memberi perintah untuk menyingkirkan pengaruh dari pedagang luar dan kekaisaran. Cara paling cepat adalah monopolinya, dengan begitu pedagang dari luar harus membeli hasil laut melalui Serikat Lorian atau bisa juga melalui perusahaan kita. Tentu saja, akan terkena biaya komisi.”


 


 


Itu memang terdengar sangat masuk akal untuk Odo. Dengan melakukan monopoli terhadap hasil laut, pedagang dari luar tidak bisa seenaknya menentukan harga yang bisa mencekik perekonomian para nelayan. Namun dari hal tersebut, ada sebuah masalah baru yang muncul. Odo kembali bertanya untuk memastikannya, “Kalian tidak akan menekan para nelayan seperti yang para pedagang dari kekaisaran lakukan, ‘kan?” Pemuda rambut hitam itu menatap datar, sedikit mengintimidasi putra keluarga Rein tersebut.


 


 


“Tentu saja tidak!” Arca berhenti melipat kedua tangannya ke depan. Mengacungkan jari telunjuknya, pemuda rambut pirang itu menjelaskan, “Kami akan membeli ikan mereka dengan harga dua kali lipat dari harga yang biasa dipakai oleh pedagang dari kekaisaran, itu malah menguntungkan para nelayan, ‘kan?”


 


 


Odo sejenak terdiam, memikirkan baik-baik rencana tersebut dan memang merasa ada beberapa kecacatan yang dapat menimbulkan risiko besar. Menatap serius ke arah Arca, pemuda rambut hitam itu kembali bertanya, “Kalau begitu, apa kalian yakin para pedagang dari kekaisaran itu tidak akan menawar dengan harga yang lebih tinggi lagi? Dan juga, kalau pun mereka tidak melakukannya, bukannya mereka tidak mau membeli hasil laut dengan harga dua kali lipat?”


 


 


“Tenang saja, Tuan Aprilo memberi saran menarik untuk itu.” Setelan menurunkan jarinya, Arca tersenyum lebar dan dengan penuh semangat berkata, “Kami akan mengambil antek-antek dari para pedagang luar. Dengan menawarkan beberapa potongan harga permanen dan akses dipermudah untuk pengurusan surat-surat, pedagang dari luar yang bekerja sama dengan kami pasti akan mendapat keuntungan lebih sebagai daya tariknya. Lalu setelah itu, sebuah stigma bahwa Serikat Dagang Lorian adalah sang juragan di distrik pelabuhan akan membuat para pedagang lainnya tidak akan melawan kita dengan perang harga.”


 


 


Odo mengerutkan kening, lalu dengan nada sedikit ketus berkata, “Ujung-ujungnya dalam fase itu akan ada perang dagang, ‘kan? Prosesnya butuh dana besar, lalu ada kemungkinan kalau pedagang dari luar bisa saja malah terus-terusan menekan.” Pemuda rambut hitam itu meletakkan tangan ke dagu, menatap datar dan memikirkan kemungkinan lainnya. “Dan juga, bisa saja mereka meminta bantuan dari perusahaan pusat di luar,” tambahnya dengan nada sedikit menekan.


 


 


Arca sejenak terdiam, baru benar-benar memikirkan risiko tersebut dan sekilas memalingkan pandangannya dengan cemas. Sebelum putra keluarga Rein tersebut berkata, Odo kembali membuka mulut dan meragukan, “Lagi pula, memangnya ada pedagang yang mau menerima tawaran seperti itu dan dijadikan antek-antek? Bisa-bisa pedagang itu saat pulang kampung direbus hidup-hidup sama rekan-rekannya.”


 


 


Arca tambah bungkam. Untuknya yang bisa dikatakan cukup awam dalam dunia pedagang, Arca melewatkan terlalu banyak hal peting dan beserta kemungkinan yang ada. Ia semakin memalingkan pandangan, merasa sedikit menyesal karena terlalu tergiur dengan kontrak yang Serikat Lorian tawarkan.


 


 


“Tapi ....” Menatap ke arah Odo dengan ragu, pemuda rambut pirang itu dalam suara pelan berkata,  “Kontraknya sudah ditandatangani. Atas namanya juga adalah perusahaan ini.”


 


 


Odo mengubah posisi duduk menghadap ke meja, meletakkan kedua sikunya ke atas dan menyangga kepala dengan kedua tangannya. Sejenak terdiam dan memejamkan mata, pemuda rambut hitam itu memikirkannya dengan hati-hati dan melakukan beberapa kalkulasi dari informasi yang telah ada.


 


 


Mendapat sebuah kesimpulan, Odo menoleh ke arah Arca dan kembali bertanya, “Apa Paman Aprilo yakin dengan rencananya?”


 


 


“Eh? Ah ....” Arca sedikit tersentak, ia balik menatap dan menjawab, “Asalkan ada dana, katanya itu tidak terlalu sulit.”


 


 


“Hmm ....” Odo mengangguk satu kali, bangun dari tempat duduk dan menghadap ke arah Arca. Menunjuk pemuda rambut pirang tersebut, ia dengan tegas berkata, “Kalau begitu, ikuti saja rencana yang dibuat Paman Aprilo! Jika kau sudah terlanjur naik perahu yang dibawanya, patuhi apa yang akan ditujunya dan dukung dia sebaik mungkin! Pastikan kau berhasil membersihkan pengaruh dari pedagang luar, terutama dari kekaisaran atau kerajaan tetangga! Paham?”


 


 


“Te-Tentu saja aku mengerti! Aku hanya melaporkan saja!” ucap Arca dengan sedikit panik.


 


 


Kembali duduk, pemuda rambut hitam itu mengambil perkamen lain dari tumpukan dokumen dan membaca tiap-tiap informasi yang mungkin akan berguna nantinya. Melihat itu, Arca kembali ke tempatnya dan duduk dengan sedikit heran. Di tengah suasana yang mulai terasa canggung, Elulu yang sedari tadi terdiam pada akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.


 


 


“Ngomong-omong, Tuan Odo .... Kedua perempuan dari Moloia itu anda perintahkan ke mana?”


 


 


Lisia sempat terkejut dan baru pertama kalinya mendengar hal tersebut. Segera menatap ke arah Odo, perempuan rambut merah itu sedikit menyipitkan mata dan bertanya, “Perempuan dari Moloia?”


 


 


“Kalau dilihat-lihat, dari tadi mereka memang tidak ada di sini lagi, ya?” ucap Arca seraya menatap ke arah pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Terlihat tak ingin menjelaskan hal tersebut, Odo memalingkan pandangan dan mulai terdiam. Wajahnya terlihat kecut, sangat tak ingin membahas hal tersebut dan sama sekali tidak menjawab. Tak tahan dengan tatapan penasaran mereka bertiga, pemuda rambut hitam itu bangun dari tempat duduk.


 


 


Saat ia hendak melangkah pergi, tangannya dipegang Lisia dan kembali ditanyai, “Siapa memangnya mereka itu? Kenapa bisa ada orang Moloia di kota ini?”


 


 


Mendapat pertanyaan seperti itu dari perempuan dengan ekspresi benar-benar ingin tahu, Odo hanya bisa menghela napas dan pasrah. Ia kembali duduk, lalu menjelaskan beberapa hal kepada Lisia dan yang lainnya. Tentu saja pemuda itu tidak menyampaikan alasan sebenarnya Di’in dan Ra’an dibiarkan pergi dari kota, pemuda itu hanya berkata kebohongan berupa adanya beberapa orang Moloia lain yang harus dibereskan di wilayah Luke.


 


 


Setelah membahas hal tersebut, Odo juga sempat kembali menyinggung tentang dana yang digunakan untuk proses pemindahan suku Klista. Dalam hal tersebut, pemuda dari keluarga Luke itu menawarkan untuk memberikan sebuah investasi jangka panjang berupa dana dan daya serap tenaga kerja. Mendengar hal tersebut, Lisia tak bisa langsung menyetujuinya dan memilih untuk memasukan hal tersebut ke dalam rapat umum kota yang dalam waktu dekat akan diadakan.