Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 67 : Aswad 14 of 15 “Bangsawan, Kewajiban, dan Ambisi” (Part 06)



Pernyataan tersebut sekali lagi membuat Midir dan yang lainnya terkejut, terlihat tak percaya mendengar kalimat tersebut. Itu terdengar tak masuk akal sebab yang menaklukkan Raja Iblis Kuno tersebut hanyalah seorang anak-anak, apalagi usianya belum genap sepuluh tahun.


“Dia yang mengalahkan malapetaka paling ditakuti di daratan Michigan ini?” benak Rick seraya menatap ke arah Odo.


Berbeda dengan Kepala Keluarga Wilayah Garados dan Jakall serta bawahan mereka, sang Raja yang telah mendengar perkiraan semacam itu dari Dart hanya memasang ekspresi datar. Wajahnya tampak ingin segera melanjutkan pembicaraan dan bertanya.


Midir Martanka Garados menyeringai lebar. Sembari menatap Odo dengan penuh ambisi, sang Adipati pun berkata, “Bukan hanya mengalahkan Naga Hitam, tapi engkau juga mengalahkan Raja Iblis Kuno itu …. Dengan kekuatan seperti itu, Kerajaan Felixia pasti⸻”


“Aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk perang,” potong Odo dengan cepat. Tanpa menunggunya menyelesaikan kalimat, ia sangat paham dengan apa yang ingin diucapkan sang Adipati mengingat rumor dan sikapnya di kalangan para bangsawan.


“Mengapa?!”


Midir kembali menggerbak meja. Sembari mengepalkan kencang tangan kanannya ke arah Odo, pria yang tumbuh dan besar di medan perang tersebut berkata, “Perdamaian ini hanyalah sementara, fase sebelum memulai peperangan besar lainnya! Jika kita hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa, kelak negeri tetangga pasti akan menghancurkan kita semua! Kau pasti sudah dengar rumor tentang Kerajaan Moloia yang ingin memulai peperangan, bukan?!”


“Hmm, aku sudah tahu itu ….” Odo menatap datar sang Archduke, menganalisis kepribadian serta cara pikirnya. Spekulasi Persepsi aktif secara terpusat, fokus menjamah kemungkinan tindakan serta perkataan yang bisa saja dikatakan oleh Midir.


“Kalau Moloia ingin menyerang Felixia, mereka pasti akan memulainya dari Wilayah Luke ini,”  tambah Odo untuk melanjutkan pembicaraan.


“Lalu kenapa?! Daripada diserang, lebih baik kita menyerang dulu!” ungkap Midir dengan penuh ambisi.


“Tenanglah sedikit, Tuan Midir. Kita bicara baik-baik,” tegur Raja Gaiel saat melihat veteran tersebut mulai termakan emosi.


Midir tersentak mendengar itu dan terlihat ingin memaksa Odo. Paham posisinya sendiri di tempat tersebut, ia segera menurunkan tangan dan menghadap ke arah sang Raja seraya menundukkan kepalanya. Dengan penuh rasa hormat ia pun berkata, “Baiklah, Yang Mulia ….”


Setelah mengucapkan itu, ia kembali duduk dan sekilas mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuknya. Itu membuat suasana di dalam ruangan tersebut berubah menjadi tak nyaman, terasa tegang karena pria tua itu terus menatap tajam ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke.


“Jadi, apa yang mendasari dirimu tak ingin menggunakan kekuatan itu untuk kepentingan Felixia?” Raja Gaiel tersenyum tipis ke arah Odo. Sembari menajamkan tatapannya ia kembali bertanya, “Tentu bukan karena kau kesal karena dulu diriku terlalu membebani Ayah dan Ibumu, bukan?”


Odo hanya terdiam mendengar itu, menatap datar dan merasa kalau Raja Gaiel sedikit menganggap remeh pembicaraan. Mengambil sarung tangan di atas meja dan mengenakannya kembali, pemuda itu sejenak memejamkan mata.


“Setelah perang, memangnya apa yang kalian dapat?” Odo kembali membuka kedua matanya, menatap datar ke depan dan berkata, “Jika kalian semua menganggap sebuah perdamaian adalah fase sebelum perang selanjutnya, berarti kalian sama sekali tidak menghargai nyawa orang-orang. Kalian tidak menghargai darah yang tumpah di medan perang.”


“Perkataanmu seperti orang yang pernah mengarungi banyak medan perang.” Raja Gaiel duduk tegak, meletakkan tangan kanannya ke dagu dan dengan nada remeh ia kembali bertanya, “Memangnya apa yang dirimu tahu soal peperangan, Nak Odo?”


Tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan perkataan, Odo memancarkan nafsu membunuh yang sangat kuat ke arah sang Raja. Itu membuat udara di ruangan terasa sesak untuk dihirup, membuat hampir setiap orang menggigil dingin merasakan nafsu membunuh tersebut.


Ditatap langsung oleh sumbernya, Gaiel seketika memucat dan kesulitan bernapas. Suara tidak bisa ia keluarkan, hanya bisa perahan mengangkat tangannya ke depan dan dalam benak ingin meminta Odo menghentikan aura membunuh tersebut.


“Anda paham, Yang Mulia?” ucap Odo seraya menghilangkan nafsu membunuhnya.


Dalam hitungan detik, Raja Gaiel kembali bisa bergerak bebas dan segera menarik napas dalam-dalam. Namun karena nafsu yang terpancar sebelumnya, itu membuat Midir, Rick, dan tangan kanan mereka memberikan tatapan waspada ke arah Odo.


“Aura seperti itu …, berapa orang yang telah kau bunuh sampai-sampai bisa memancarkan aura semacam itu?” tanya Raja Gaiel.


Odo sekilas memalingkan pandangan ke arah perempuan rambut putih dari kalangan Tetua. Meski sang Archbishop juga terpengaruh oleh nafsu membunuh, perempuan itu sama sekali tidak terpengaruh dan hanya tersenyum tipis ke arahnya dengan penuh keramahtamahan.


Kembali menatap ke arah Raja, Odo sejenak menghela napas dan menjawab, “Aku hanya pernah membunuh beberapa orang saja, saat Ekspedisi Pembasmian Bandit yang dipimpin Nona Lisiathus.”


“Lisiathus?”


“Putri Tunggal Tuan Argo Mylta. Seharusnya Yang Mulia membaca soal itu di laporan dikalahkannya Raja Iblis Kuno.”


“Ah ….” Raja Gaiel baru mengingatnya. Sembari menurunkan kedua ke atas meja, ia dengan heran kembali bertanya, “Hanya belasan saja dan aura membunuhmu sudah sekuat itu. Engkau tahu, Nak Odo …. Bahkan ayahmu tidak bisa memancarkan aura semacam itu di masa keemasannya.”


Odo sesaat terdiam dan terlihat mulai malas melanjutkan pembicaraan yang menurutnya terlalu berkelit. Aura seekor Naga tanpa disadarinya mulai luber keluar, lalu pada saat bersamaan kornea mata berubah menjadi merah darah. Namun itu dengan cepat dirinya tahan dan warna matanya kembali normal.


Namun karena perubahan kondisi tersebut, emosi dalam benaknya untuk sesaat tak terkendali dan dengan kasar ia berkata, “Kau serius ingin membahas hal semacam ini? Baik kau dan aku tidak punya banyak waktu untuk bicara hal seperti ini, tanyakan saja hal penting dan jangan buang-buang waktu?”


“Tenang saja, para Tamu lain sudah masuk dan sekarang sedang istirahat⸻”


“Aku punya urusan lain ….” Odo menatap tajam, mulai terlihat kesal dan tidak suka dengan pembicaraan panjang lebar.


Melihat perubahan sikap yang begitu signifikan, Gaiel merasa kalau Odo mirip dengan ayahnya karena sedikit temperamental. Menarik napas dan memikirkan beberapa pertanyaan yang penting, sang Raja kembali meletakkan tangan kanan ke dagu.


“Baiklah, mari kita persingkat pembicaraan ini ….”


Raja Gaiel menatap serius. Sedikit membungkukkan posisi duduknya ke depan dan meletakkan siku tangan kanan ke atas meja. Sembari menyangga kepala dengan punggung tangan, ia kembali bertanya, “Jika engkau merupakan pemilik simbol Khanda, apa tugas dan kewajibanmu saat terlahir ke dunia ini? Setiap pemilik simbol tersebut selalu memiliki ambisi dan gairah pada sebuah hal, lalu mereka juga selalu bisa mewujudkannya. Entah sesulit apapun itu, bahkan seperti membangun kerajaan dari nol sekalipun.”


“Tugas dan kewajiban, ya?” Odo sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Membuka telapak tangan kiri dan melihatnya sendiri, ia sejenak merenungkan jawaban untuk sang Raja dengan sungguh-sungguh. Sembari menatap ke depan ia pun menjawab, “Aku hanya ingin memperbaikinya ⸻ Dunia ini.”


“Memperbaiki?” Raja merasa heran mendengar jawaban itu, begitu pula orang-orang yang ada di tempat tersebut. Sebuah kata “Memperbaiki” merupakan hal yang terdengar aneh bagi mereka, apalagi untuk diarahkan kepada dunia. “Memangnya ada yang salah dengan dunia ini?” lanjut sang Raja.


“Jika Yang Mulia merasa dunia ini baik-baik saja, Anda sebaiknya segera mengubah cara pandang sebelum terlambat.” Odo menutup telapak tangan kiri, menghela napas ringan dan sekilas menundukkan kepala. Menarik napas dalam-dalam dan merasa tak tenang di dalam ruangan, ia mulai terlihat gelisah akan sesuatu. “Ini hanya cara pandang secara pribadi, Anda tak perlu berusaha memahaminya,” tambahnya seraya berusaha untuk tidak termakan emosi dalam benak.


“Baiklah, tapi secara spesifik  kau ingin memperbaiki seperti apa?” tanya Raja.


“Jujur ini pasti terdengar munafik dan naif, tapi akan tetap aku katakan di sini.”


Odo bangun dari tempat duduknya, menatap satu persatu semua orang yang ada di dalam ruangan. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, ia dengan jelas berkata, “Aku ingin menghilangkan peperangan. Paling tidak, selama aku masih hidup peperangan dalam lingkup benua tak boleh terjadi.”


Tak ada yang tertawa atau meremehkan perkataan tersebut. Meski itu terucap dari mulut seorang anak, tidak satu pun orang dewasa bisa meremehkan. Ekspresi, tatapan, nada suara dan karisma yang ada pada pemuda itu benar-benar penuh keteguhan dan tak bisa dibelokkan hanya dengan perkataan saja.


“Diriku rasa itu mustahil, Nak Odo.” Raja menyangga perkataan tersebut setelah sekilas terkesima. Dengan segenap apa yang dirinya tahu, Raja Felixia memaparkan kenyataan, “Sekarang Moloia dan Kekaisaran telah memulai peperangan, Ungea juga telah menunjukkan gerak-gerik militernya di perbatasan laut. Jujur tahun ini perang besar pecah pun diriku tidak terkejut.”


“Apa karena itukah Anda ingin segera menunjuk penerus?” tanya Odo.


“Iya, itu salah satu alasannya.”


Odo sesaat terdiam, memikirkan hal lain dalam benaknya dan sekilas menurunkan tatapan sampai ke atas meja. Memutuskan sesuatu dalam benak, ia segera mengangkat wajahnya dan berkata, “Peperangan baru akan sampai di Felixia tahun depan, serangan pertama kemungkinan besar datang dari Moloia di awal musim semi.”


Raja tak mengerti kenapa pemuda itu berkata demikian. Namun saat melihat sorot matanya yang begitu kukuh, ia merasa kalau itu bukanlah sebuah bualan belaka. Raja Gaiel lekas menatap ke arah Thomas Rein dan memastikan, “Tuan Thomas, menurut pendapat Anda berapa lama lagi perang di Pulau Barat Kekaisaran akan melebar sampai ke Kerajaan kita?”


“Hmm ….” Thomas meletakkan telapak tangannya ke depan mulut, memikirkannya baik-baik dengan semua informasi yang pernah dirinya dengar. Meletakkan kedua tangan ke atas meja dan menatap ke arah sang Raja, ia dengan sedikit ragu menjawab, “Ini hanya pendapat pribadi, mungkin itu sekitar delapan sampai sebelas bulan lagi. Melihat gelagat para pedagang asing di Ibukota dan pergerakan para bangsawan kekaisaran di perbatasan, kurasa tidak akan sampai satu tahun.”


Odo membuat tatapan datar, merasa pembicaraan kembali berjalan lambat karena rasa penasaran sang Raja. Setelah menarik napas dalam-dalam ia hanya menjawab, “Aku punya kenalan seorang Orakel.” Perkataan tersebut sebuah kebohongan besar, di ruangan itu Fiola langsung tahu hal tersebut. Namun membaca pikiran Tuannya lebih dalam, ia lebih memilih untuk tidak mengungkapkan.


“Ouh, tak diriku sangka. Kalau boleh, bisakah kau beritahu kami siapa⸻?”


“Tak bisa,” jawab Odo sebelum Raja menyelesaikan pertanyaannya.


“Alasannya?”


“Aku juga tidak bebas meminta jasanya. Salah satu syarat yang diajukannya untuk memberitahuku hasil ramalan, ia tak ingin diekspos oleh orang-orang seperti kalian.”


Raja sesaat terdiam, bisa memahami hal tersebut karena memang kebanyakan Orakel tak ingin keberadaannya diketahui oleh khalayak. “Ramalan juga ada batasannya, dan bukan berarti itu bisa dirubah seseorang setelah tahu. Lagi pula, diriku juga tak percaya hal semacam itu,” benak Raja Gaiel sembari menarik napas ringan.


“Baiklah, diriku paham ….” Raja Gaiel menegakkan posisi duduknya, meletakkan tangan ke dagu dan mulai memegang janggut tipisnya. Dengan tatapan tajam ia mulai bertanya, “Kalau begitu, bagaimana caranya engkau mencegah peperangan sampai ke Felixia? Tadi kau bilang, bukan? Tak ingin menggunakan kekuatan itu untuk peperangan. Lantas, bagaimana caranya?”


“Entahlah, aku juga sedang memikirkannya,” ucap Odo dengan nada ringan.


Fiola yang membaca pikiran Tuannya dengan jelas tahu itu kebohongan, pemuda itu telah memikirkan caranya dengan pasti dan sudah melakukan tindakan. Namun untuk kedua kalinya, Huli Jing tersebut hanya memilih untuk diam karena merasa tak ada untungnya memberitahu sang Raja.


Raja Gaiel memasang mimik wajah meremehkan untuk memprovokasi, memasang tatapan datar dan bertanya, “Memangnya dirimu bisa memikirkannya? Meskipun bisa, engkau mampu mewujudkannya?”


“Tentu saja tidak mampu, karena itulah aku mau bicara seperti ini.” Odo membalas dengan tersenyum tipis, meletakkan telunjuknya ke kening dan kembali berkata, “Aku ingin meminta bantuan Anda, Raja Gaiel ….”


“Apa yang membuat Kerajaan Felixia ⸻ Lebih tepatnya, diriku harus membantu dirimu? Kau tak punya gambaran serta langkah yang pasti untuk merealisasikan gagasan yang dirimu berikan. Untuk apa diriku mengeluarkan sumber daya untukmu?”


Odo menurunkan tangan dari kening, memasang senyum tipis dan menjawab, “Aku akan menjadi tunangan Putri Arteria, untuk itu sebuah gelar akan diberikan kepada diriku. Sudah sewajarnya engkau memberikan bantuan padaku, bukan? Wahai bapak mertua.”


Kening Raja Gaiel langsung mengerut kencang mendengar itu, merasa kesal mendengar ucapan penuh rasa percaya diri tersebut. Pada saat yang hampir bersamaan, Mavis dan Dart tertawa ringan mendengar ucapan gila putra mereka.


Bagi patriark keluarga Jakall dan Garados, perkataan tersebut juga terdengar gila dan merasa pemuda itu bisa memanfaatkan situasi yang ada. Para tangan kanan mereka pun terlihat menahan tawa saat mendengarnya.


Sang Archbishop juga sekilas tersenyum kecil, merasa pemuda rambut hitam tersebut sama sekali tidak memedulikan status sang Raja dan mengungkapkan isi kepalanya dengan murni. Perempuan rambut putih yang duduk di sebelahnya pun sedikit menahan tawa, meletakkan tangan kanannya ke depan mulut dan memalingkan pandangan.


Berbeda dengan mereka semua, Pangeran Ryan terlihat tak suka dengan perkataan Odo. Ia segera bangun dari tempat duduk dan berkata, “Mana mungkin Ayahanda akan menikahkan Adinda dengan orang sepertimu! Lagi pula, Adinda juga tak sudi bersamamu!”


“Hmm, apa benar begitu?” Odo menatap datar ke arah Pangeran, lalu dengan senyum tipis berkata, “Coba saja tanya sendiri ke orangnya. Kalau ia tak mau, aku akan mundur dan menyerah. Dengan berat hati diriku juga akan mematuhi kebijakan yang akan dicetuskan Raja.”


Setiap orang di dalam ruangan seketika menatap ke arah Putri Arteria yang sedari tadi hanya diam. Meski perempuan rambut putih tersebut tidak bisa melihat secara normal, namun dengan jelas ia bisa tahu kalau semua orang menatapnya secara serempak.


Putri pemalu tersebut segera ingin menyembunyikan wajah ke belakang Pangeran Ryan di sebelahnya. Tetapi saat dirinya sadar kakaknya tersebut juga memberikan tatapan yang sama seperti yang lain, ia hanya bisa gemetar dan terlihat bingung.


“Putriku, apakah engkau tak masalah berpasangan dengannya? Jika engkau menginginkannya, diriku tak akan menolak kehendakmu,” ucap sang Raja.


Mendengar hal tersebut, Arteria segera menoleh ke arah ayahnya. Dengan mimik wajah bimbang ia bertanya, “A-Ayahanda, apakah Arteria harus menjawabnya sekarang juga? A-Arteria belum terlau kenal Tuan Odo ….”


“Ungkapkan saja apa yang engkau rasakan sekarang, Putriku. Jika engkau merasa sedikit saja enggan dengannya, Ayahanda akan membatalkan rencana pertunangan ini.”


Mendengar hal tersebut, sekilas Odo mengerutkan kening dan merasa itulah yang diharapkan oleh sang Raja. Namun sebelum dirinya berbicara, sang Putri dengan cepat berkata, “Arteria tidak enggan!” Jawaban tersebut sempat membuat Pangeran Ryan dan Raja sangat terkejut.


“Tetapi ….” Arteria menundukkan kepalanya, menjalin jemari kedua tangannya dan dengan gugup menambahkan, “Arteria belum terlalu kenal Tuan Odo …. Arteria tahu kalau ia bukanlah orang jahat, namun tetap saja seharusnya itu tidak buru-buru diambil keputusannya.”


“Belum ⸻ Berarti engkau ingin lebih kenal dengannya?” tanya Raja.


Tidak menjawab dengan perkataan, wajah Putri Arteria seketika memerah dan mengangguk ringan. Pangeran Ryan seketika terperangah dan kembali duduk di tempatnya, terlihat tak percaya dengan jawaban adiknya tersebut.


Melihat reaksi Arteria, sang Raja hanya bisa menghela napas. Ia kembali menatap ke arah Odo dan bertanya, “Sebenarnya apa yang engkau lakukan pada putriku sampai-sampai ia seperti ini?”


“Bertanya seperti itu lagi?” Odo kembali duduk di tempatnya, memasang ekspresi datar tanpa rasa senang meski telah mendengar keinginan Tuan Putri. Dengan nada datar pemuda itu pun bertanya, “Itu keputusannya sendiri, kenapa Anda meragukannya?”


“Kalau begitu, bagaimana perasaanmu? Apakah engkau ingin bersama dan menjadi pasangannya? Meski baru bertemu kemarin?”


Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut, hanya tersenyum ringan seakan menertawakan pertanyaan emosional tersebut. Sekilas memalingkan pandangan ke sudut ruangan, pemuda itu meletakkan tangannya ke dagu dan menjawab, “Diriku juga tak tahu. Meski terlihat sudah dewasa dan bisa berkata banyak seperti ini, aku masih seorang anak kecil. Hal seperti itu masih terlalu sulit kupahami.”


“Serius? Sekarang kau malah bicara seperti itu, Odo?” Raja Gaiel terlihat sedikit heran saat pemuda itu malah mengelak.


“Hmm ….” Odo mengangguk ringan. Sembari menatap ke arah Putri Arteria, ia kembali berkata, “Namun, paling tidak sekarang orang yang aku cintai di dunia hanyalah Ibu dan Ayahku.”


“Hmm?” Fiola sedikit tersentak.


Saat mendengar perkataan tersebut, Fiola dengan jelas tahu hal tersebut adalah kebohongan. Dalam benak Odo ia memiliki seseorang yang telah singgah di hatinya, namun Fiola tidak mengenalnya karena apa yang pemuda itu bayangkan begitu samar.


Merasa Fiola terkejut akan sesuatu, Mavis menoleh ke belakang dan bertanya, “Ada apa?”


“Tidak apa, Nyonya ….”


Raja yang melihat reaksi tersebut merasa kalau telah Fiola menyadari sesuatu, namun memilih untuk tidak mengungkapkannya. Merasa hal semacam itu wajar karena dirinya adalah seorang Shieal yang melayani keluarga Luke, Raja Gaiel tidak mempermasalahkan itu dan kembali menatap ke arah Odo.


Setelah itu, pada akhirnya Raja Gaiel pun mengajukan banyak pertanyaan dan membuat pembicaraan tersebut menjadi panjang. Itu berlangsung selama lima jam lebih, sampai matahari terbenam dan membuat para bangsawan lain menunggu dengan cemas di kamar tamu mereka masing-masing.


Setelah pembicaraan selesai dan mereka pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh, setengah jam kemudian barulah diadakan pesta penyambutan di Aula Utama. Karena menunggu terlalu lama, tentu saja makanan yang tersedia tidaklah terlalu segar meski telah dipanaskan kembali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan :


See You Next Time!


Proses pembuatan Cover untuk musim kedua dan Arc 03 telah dimulai.


Hahah, masih sebentar lagi Arc 02 ini selesai.


04 chapter lagi + epilog nanti.