Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 55 : Aswad 2 of 15 “To Be Hire” (Part 03)



 


 


 


 


“Kalian memang iblis!!”


 


 


Perkataan anak kecil berambut cokelat tersebut melenting keras di markas depan pasukan gabungan fraksi-fraksi. Setelah kembali dari medan perang dan mendarat di lapangan dengan tenda-tenda besar berjejer di sekitarnya, anak yang mereka selamatkan dari medan perang tersebut benar-benar menyerapah para Prajurit Peri.


 


 


“Apanya yang peri!! Kalian lebih mirip iblis!! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian! Memangnya salah apa kami?! Kalian bukan prajurit terhormat! Akan kubunuh kalian! Aku pasti akan membunuh kalian! AKU BERSUMPAH ATAS NAMA ORANG-ORANG YANG KALIAN HABISI DI KOTA!! KALIAN PASTI AKAN MATI DI TANGANKU!!”


 


 


Suara lantang anak itu membuat semua prajurit yang berjaga di benteng melihat ke arahnya, penasaran mengapa anak kecil sepertinya bisa memasang ekspresi penuh kebencian yang amat dalam dan berkata seperti itu. Beberapa Prajurit Peri terlihat cemas dengan dendam yang diarahkan pada mereka, terutama Elf berambut hijau pucat yang secara langsung memberikan perintah untuk menggunakan sihir ke dalam bangunan panti asuhan tanpa mengecek dulu siapa saja yang ada di dalamnya.


 


 


Sersan berambut hijau tersebut dengan gemetar melangkah ke depan dan hendak menjelaskan, namun ia dihentikan oleh atasannya. Menoleh dan menatap ke arah bawahannya tersebut, Laura berkata, “Kau ingin apa? Meminta maaf?”


 


 


“I-Itu ....”


 


 


“Kau pikir dosa dari merenggut nyawa akan hilang dengan itu? Kau pikir anak tersebut akan memaafkanmu?”


 


 


Elf rambut hijau pucat itu terdiam, memalingkan pandangan tanpa bisa berargumen. Sadar kalau bawahannya tersebut memang memiliki sifat seperti itu meski sering terjun ke medan perang, Laura hanya menghela napas dan segera menatap datar ke arah Di’in kecil. Prajurit Peri yang kedua telapak tangannya diperban tersebut berjalan mendekat, berdiri di depan anak yang bahkan tingginya bahkan tidak sampai 100 sentimeter tersebut.


 


 


Di’in langsung berlari dengan kepalan tangan kanan siap meninju. Seraya mengayunkan pukulannya, ia berteriak, “Maaaatii—!! Ugh!”


 


 


Laura langsung mendupak wajah anak kecil itu, membuatnya terpelanting ke tanah dan hidungnya mengeluarkan darah. Berjalan mendekat, Letnan itu kembali menendang wajah Di’in sampai beberapa giginya lepas dan meringkuk gemetar kesakitan. Menjambak anak kecil tersebut dan memaksanya berdiri, Laura menampar pipi kirinya dengan keras.


 


 


“Membunuh kami? Tidak memaafkan kami? Memangnya kau punya hak untuk itu? Hah?!” Mendekatkan wajah dan melotot tajam, Laura dengan tegas berkata, “Di dunia ini hanya yang memiliki kemampuan yang mendapat hak, yang lemah hanya bisa mengikuti kewajiban yang dibebankan kepada mereka .... Kau paham, bocah tengik?”


 


 


Tatapan itu benar-benar membuat Di’in kecil gemetar, kebenciannya dengan cepat berubah menjadi rasa takut dan secara insting dirinya paham sangat mustahil mengalahkan perempuan Elf di hadapannya tersebut. Melepaskan rambut anak kecil itu dan membiarkannya berlutut lemas, Laura hanya menatap rendah dengan ekspresi datar.


 


 


“Jika kau memang ingin membunuh kami, aku tak keberatan .... Masuklah ke dalam militer, asah kemampuanmu, raih prestasi dengan kontribusi sampai statusmu bisa mencapai kami ....” Berbalik dan melangkah pergi meninggalkan anak gadis tersebut, Laura sekilas melirik dan berkata, “Aku akan menunggu cakar dan taringmu tajam .... Bunuhlah kami jika kau bisa.”


 


 


Perkataan itulah yang membuat Cornelisa Di’in memutuskan masuk ke dalam militer, terutama ke Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian (PTP) yang merupakan tempat para Prajurit Peri tersebut berasal. Terasa ironi dan menyedihkan, anak kecil itu melatih kemampuan dan pengetahuannya dengan kelompok yang membunuh orang-orang terkasihnya.


 


 


Namun, tanpa sempat menunjukkan hasil pelatihannya atau menantang Letnan Laura, satu setengah tahun setelah tragedi Penghapusan Kota tersebut perang sipil yang bergejolak di kerajaan Moloia berakhir. Atas syarat yang diajukan oleh Fraksi Militer yang mengakui kekalahannya dalam perang sipil, Peleton Pasukan Khusus yang terdiri dari para Prajurit Peri harus dipecah dan anggotanya dipencar ke Fraksi-Fraksi lain dengan alasan menjaga keseimbangan kekuatan.


 


 


Laura sebagai kekuatan terbesar dipaksa masuk ke dalam Fraksi Militer, dibatasi pergerakannya dan secara formal dilarang lagi menggunakan sihir Parva Nuclear yang dianggap sebagai senjata pemusnah massal. Setelah bubarnya pasukan khusus milik Fraksi PTP dan anggotanya dipencar ke fraksi-fraksi lain, dibentuk sebuah unit baru yang sepenuhnya berisi oleh ras manusia karena alasan politik.


 


 


Anggota dari Unit Khusus PTP tersebut diambil dari anak-anak yang kehilangan keluarganya dalam perang, beranggotakan lebih sedikit dan cenderung menjadi badan intel daripada militer secara terbuka. Mereka didik langsung oleh salah satu A.I Super Cerdas pada Fraksi PTP, Rhea, untuk bisa menggunakan senjata-senjata asimilasi sihir meski tidak memiliki aktivasi sihir yang kuat seperti para Elf.


 


 


Ironisnya dari hal tersebut — Di’in yang awalnya masuk ke dalam militer untuk membalaskan dendam pada para Prajurit Peri, ia malah harus menggantikan kekosongan orang yang paling dibencinya. Tanpa sadar ia memiliki rumah baru, keluarga baru, dan orang-orang yang ingin dirinya lindungi di Unit tersebut. Lalu pada akhirnya, anak yang tumbuh penuh dendam tersebut menjadi Letnan di Unit tersebut dan menjadi orang kepercayaan Rhea di garis depan.


 


 


««»»


 


 


[Tahun 2.699 Kalender Pendulum, Pada Waktu Sekarang]


 


 


Di dalam hutan perbatasan antara teritorial Mylta dan Rockfield, terjadi sebuah reuni dari dua orang yang seharusnya tidak boleh bertemu kembali. Todongan senapan pada belakang kepalanya membuat Di’in terdiam, melirik siapa yang mengarahkan senjata dan tertegun dalam perasaan yang bercampur aduk. Meski bisa kembali melihat orang yang menjadi sasaran dendamnya, anehnya amarah tidak bergejolak dalam benak Di’in dan malah dirinya dipenuhi rasa cemas pada Ra’an yang benar-benar kehilangan kesadaran.


 


 


Bulan separuh yang bersinar terang di langit menjadi satu-satunya sumber pencahayaan di dalam hutan pepohonan cemara. Hembusan angin dalam malam tanpa bintang menciptakan suara gesekan dedaunan, kesenyapan yang ada membuat keringat dingin perempuan rambut cokelat ikat kucir tersebut mengalir deras. Ia tetap mengangkat kedua tangannya ke belakang, berlutut dan tidak melakukan pergerakan mencurigakan.


 


 


“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Di’in seraya menganalisa situasi.


 


 


“Kau tak perlu tahu ....”


 


 


“Apa Tuan Putri kalian akhirnya menunjukkan sifat aslinya seperti mendiang selir pembuat masalah itu?”


 


 


“Kau tak perlu tahu.”


 


 


“Tindakan kalian atas perintah siapa? A.I dari Fraksi Militer? Atau dari Tuan Putri kalian?”


 


 


“Itu rahasia ....”


 


 


“Tch !”


 


 


Di’in mulai terdiam, melipat kedua tangannya ke belakang kepala dan berhenti menoleh ke belakang. Namun dari perkataan-perkataan yang dirinya lontarkan tersebut, ia bisa tahu kalau orang-orang yang ada di belakangnya itu berjumlah lebih dari lima orang— Itu terlihat dari jumlah pasang bola mata yang seakan bersinar dalam kegelapan.


 


 


“Benar .... Jangan bertindak gegabah, kau sadar kalau di belakangmu bukan hanya aku saja, bukan?” ucap Laura seraya tetap menodongkan senapan lontaknya ke kepala perempuan rambut cokelat tersebut.


 


 


Mantan Pemimpin Prajurit Peri itu perlahan berjalan mendekat, lalu membungkuk dan hendak mengambil senapan milik Di’in yang dijatuhkan ke tanah. Menyadari Laura semakin mendekat, dengan cekatan Di’in menurunkan kedua tangan dan berbalik menyikut ujung laras senapan High Elf tersebut untuk mengubah arah bidikan.


 


 


Secara refleks Laura menarik pelatuknya dan peluru sihir bercahaya ungu melesat, menghantam tanah sampai berlubang dan hampir mengenai kepala Ra’an. Paham bahwa senjata senapan lontak Prajurit Peri bisa menembak lebih dari satu kali karena peluru yang digunakan adalah sihir, Di’in mencengkeram kencang bagian ujung laras senjata Laura dan langsung berdiri untuk menguncinya supaya tidak bisa menembak.


 


 


 


 


Laura mengangkat tangan kanannya dari senapan dan mengambil pisau tempur pada sabuk di belakang pinggangnya. Pada waktu yang bersamaan, Di’in ikut mengangkat tangan kanannya dan mengambil sesuatu dari balik pinggang. Gerakan Laura lebih cepat dan ia yang pertama kali mengayunkan pisaunya ke arah leher perempuan rambut cokelat tersebut. Namun sebelum lehernya terpotong, Di’in segera menyilangkan tangan kanannya dan menahan pisau dengan tabung besi yang dirinya ambil dari sabuk.


 


 


“A—! Itu!”


 


 


“Heh!”


 


 


Laura sadar kalau tabung yang digunakan Di’in untuk menahan itu biasanya berisi bubuk mesiu karena berasal dari militer kerajaan yang sama. Ia merelakan senapan serta pisau yang menancap pada tabung, lalu seraya menyilangkan kedua tangannya ke depan Laura meloncat ke belakang dan bersiap menahan ledakan.


 


 


“Tidak meledak? Apa bukan mesiu?” benak Laura.


 


 


Setelah mendarat dan memasang posisi siaga, Laura dengan cepat menyiapkan sihir dan lingkaran sihir terbentuk dalam ukuran kecil di atas telapak tangannya.


 


 


“Mati!” Di’in melemparkan tabung besi sebesar telapak tangan beserta pisau tempur ke arah Laura.


 


 


Dengan lingkaran sihir yang telah siap di telapak tangan kanan, Laura memanipulasi gravitasi untuk membuat tabung besi tersebut dengan cepat berbelok tajam ke samping sampai menghantam batang pohon. Suara dentang besi yang jatuh pada batu menjadi tanda bagi mereka berdua untuk kembali menyiapkan serangan selanjutnya.


 


 


Setelah membuang senapan sihir milik Laura yang tidak bisa dirinya gunakan, Di’in yang telah bersiap lebih cepat mengambil stun grenade pada sabuknya. Ia menarik pengaman dan segera menutup mata dengan lengan kiri, lalu melemparkannya ke arah Laura karena sadar di belakang High Elf tersebut telah bersiap para bawahannya yang siap menembak.


 


 


Laura kembali membuat lingkaran sihir gravitasi pada telapak tangan kanan. Ia segera mengayunkan tangannya ke kiri untuk memanipulasi gravitasi dan membelokan arah granat tersebut. Namun, itu terlambat dan—


 


 


Dziing!!


 


 


Granat Kejut meledak — Kilauan cahaya dan suara denging kencang merebut indra pendengaran serta penglihatan semua orang di sekitar ledakkan. Anak buah Laura yang fokus membidik langsung menutup mata mereka, buta sementara dan membuat ruang Di’in untuk bergerak bebas tanpa harus memperhatikan sudut atau menggunakan Laura sebagai tempat berlindung.


 


 


Saat cahaya terang dan suara bising dari granat menghilang, Di’in segera membuka kedua matanya. Denging masih menjalar sampai ke dalam kepala perempuan itu, pandangannya sedikit pudar karena pendengarannya benar-benar terganggu sampai gendang telinganya mengeluarkan darah. Memaksakan tubuh bergerak meski rasa ngilu dari getaran masih meresap sampai tulang, ia mengambil senapan Springfield di tanah dan menarik tuasnya untuk memasukan peluru ke dalam selongsong.


 


 


Mengandalkan penglihatan yang masih pudar dan kesadaran yang seakan melayang hilang, Di’in membidik Laura yang masuk dalam jangkauan pandangnya yang terbatas. Namun sebelum perempuan rambut cokelat itu menarik pelatuk dan menghabisi High Elf tersebut, tanpa dirinya sadari peluru cahaya melesat kencang dan menembus bahu kanannya.


 


 


“Eh ...?”


 


 


Hanya suara denging yang dirinya dengar. Tembakan itu mengenai saraf tangan kanan Di’in dan membuatnya tidak bisa menarik pelatuk, menjatuhkan senapannya dan darah berceceran ke tanah. Saat penglihatannya mulai membaik dan melihat ke arah seseorang yang berdiri beberapa meter di belakang Laura, seketika Di’in paham mengapa ada yang bisa membidik dengan baik meski di tengah efek dari granat kejut.


 


 


Di sana berdiri seorang Prajurit Peri yang dulunya menjadi anggota Unit Khusus saat Perang Sipil, sosok yang paling Di’in benci karena menjadi penyebab kematian orang-orang di panti asuhan tempatnya tinggal dulu. Rambut hijau pucat, mata merah darah, dan kulit pucat. Meski masih terkena efek granat kejut, Prajurit Peri itu tersebut bisa mengetahui lokasi Di’in dan menambak dengan akurat berkat kemampuan pendeteksi kehidupan serta biosonar tingkat tinggi.


 


 


“Tch! Javelin!!! Sialan ka— !!”


 


 


Sekali lagi peluru cahaya melesat kencang arah Di’in, kali ini tepat mengenai dada kanannya sampai tembus mengenai paru-paru. Darah bercucuran deras, ia melangkah mundur sampai kaki kanannya menyentuh Ra’an yang terbaring tak sadarkan diri.


 


 


Wajahnya semakin pucat, kantung mata menghitam dan tanda-tanda kekurangan darah mulai muncul dengan jelas. Kedua kakinya mulai lemas dan pada akhirnya berlutut, seraya menutup luka pada dadanya kanannya dengan telapak tangan ia menatap penuh kebencian ke arah mereka.


 


 


Saat efek dari granat kejut hilang, Laura dan pasukannya langsung bersiaga dengan senjata mereka masing-masing. Seperti dugaan Di’in, mereka hanya berjumlah 8 orang termasuk Laura. Setengah dari mereka adalah Prajurit Peri, lalu selebihnya hanyalah prajurit ras manusia yang terlihat masih pemula karena mereka masih memakai senapan lontak tanpa tambahan sihir atau semacamnya.


 


 


Laura sekilas terkejut saat melihat Di’in telah tertembak dua kali dan benar-benar di ujung tanduk kondisinya. Saat para bawahannya hendak menarik pelatuk dan menghabisi Letda dari Fraksi PTP tersebut, Laura mengangkat tangan kirinya dan memberikan kode untuk menahan serangan.


 


 


Salah satu bawahan Laura yang sebelumnya menembak Di’in berjalan mendekati atasannya tersebut, berdiri di sebelahnya dengan membawa senapan mirip model lontak yang bentuknya benar-benar dimodifikasi dan diasimilasikan dengan karakteristik sihir pengguna. Sekilas High Elf rambut hijau pucat tersebut memperlihatkan ekspresi bersalah, ingin berkata namun kalimatnya kembali ditelan dan memalingkan pandangan dengan sorot mata menyesal.


 


 


“Bu-Bukannya ekolokasi ... juga akan terganggu karena suara, Javelin?” tanya Di’in.


 


 


“A—”


 


 


“Kau diam saja, Notmarina ....” Laura memegang pundak rekan sejawatnya tersebut, menatap datar ke arah Di’in dan berkata, “Kau kurang belajar! Biosonar bukanlah kemampuan untuk mendeteksi suara, tapi mendeteksi dengan menggunakan pancaran suara. Frekuensi granat kejut sangatlah mencolok, itu dengan mudah dihapus dari persepsi untuk mengubah fokus ke getaran suara yang lain ....”


 


 


Di’in terlalu lemas untuk memikirkan perbedaan hal tersebut, ia berlutut sempoyongan dan kesadarannya benar-benar hampir hilang. Mengambil serum adrenalin yang dirinya ambil dari salah satu tentara yang sebelumnya dirinya bunuh, dengan segenap kekuatan yang tersisa ia menyuntikkannya ke pundak dan memaksa kesadarannya bangkit.


 


 


Meski begitu, tubuhnya sudah terlalu lemah dan ia bahkan tidak bisa berdiri kembali. Laura hanya menatap datar, sedangkan rekannya, Notmarina, melihat dengan sorot mata sedih seakan mengasihani perempuan tersebut.


 


 


Sekilas Notmarina mengingat sosok Di’in yang masih kecil, membuatnya semakin tidak tega. Elf yang mendapat julukan Javelin tersebut kembali mengangkat senjatanya, menyalurkan Mana dari telapak tangan ke senapannya dan bersiap menembak.


 


 


“Laura ..., biar aku yang mengakhiri penderitannya,” ucap Notmarina seraya membidik kepala Di’in.


 


 


“Apa ... kalian ... akan merebut semuanya dariku lagi ...?” Air mata mencucur keluar bersama darah yang mengalir dari luka perempuan rambut cokelat tersebut. Hanya dengan tangan kirinya yang masih digerakkan, ia merentangkan tangannya ke samping dan berkata, “Apa ... kalian akan membunuh keluargaku lagi?”