Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 23: Sebelum malam akhir tahun (Part 01)



 


 


Salju turun dengan lambat di sekitar kediaman Keluarga Luke, menutupi halaman dengan warna putih serta membekukan saluran irigasi di sekitarnya menjadi es transparan. Pagar besi dan gerbang tak luput dari selimut butiran beku, membalut tempat itu dengan suasana senyap di hari terakhir tahun tersebut.


 


 


Sebuah gerobak besar dan kereta kayu berlambang Kerajaan Felixia terparkir di halaman. Drake yang tadinya menarik transportasi itu sekarang telah masuk ke dalam kandangnya kembali dan memasuki masa hibernasi yang seharusnya ia dapat. Rombongan Odo dan yang lainnya telah kembali saat kemarin malam, dengan membawa kuota kristal yang bisa dikatakan lebih dari yang diperkirakan.


 


 


Masih terlihat lalu-lalang para Sheal yang mengangkut kotak-kotak berisi kristal monster dari gerobak, mereka juga membereskan beberapa peralatan yang digunakan selama ekspedisi untuk dibersihkan sebelum kembali disimpan ke gudang. Berdiri sebagai mandor di antara para Shieal, Fiola mengawasi mereka dan benar-benar memastikan tidak ada sesuatu yang hilang dari hasil ekspedisi yang dibawa.


 


 


Fiola berjalan menghampiri Minda di dekat kereta kayu, lalu bertanya, “Apa masih banyak kristalnya?” Sesaat perempuan rambut hitam panjang itu tersentak mendengar suara tegas Fiola, ia berbalik dan menatap dengan mata terbuka lebar.


 


 


“Tidak ..., sudah hampir selesai. Tapi ..., untuk peralatan masih banyak yang harus dibersihkan dulu sebelum disimpan ke gudang.”


 


 


Sekilas mereka berdua melihat ke arah beberapa senjata penuh bercak darah kering di atas gerobak. Mempertimbangkan perawatan senjata, Fiola berkata, “Baiklah, bersihkan dulu supaya benar-benar hilang kotorannya. Pisahkan dengan senjata lain di gudang, nanti saat musim semi senjata-senjata itu akan dibawa ke pandai besi untuk diberi perawatan rutin.”


 


 


Minda mengangguk, ia segera kembali melakukan pekerjaannya bersama Gariadin dan Linkaron untuk mengangkut peralatan dan hasil ekspedisi. Sebenarnya bisa saja mereka membongkar semua barang-barang tersebut setelah sampai kemarin malam. Tetapi karena saat mereka sampai terjadi badai salju cukup lebat, pembongkaran barang-barang baru bisa dilakukan sekarang.


 


 


Waktu berselang beberapa jam setelahnya. Meski sinar matahari tak terlihat tertutup awan mendung, dengan jelas waktu sudah mulai beranjak siang. Pada tempat lain, lebih tepatnya pada ruang kerja Kepala Keluarga Luke di dalam Mansion. Xua Lin dan Imania duduk pada sofa memanjang di ruangan seluas kurang lebih 20 meter persegi itu. Terlihat beberapa dokumen pembukuan di atas meja depan sofa, kotak berisi kristal yang diletakkan tidak jauh dari meja, dan Mavis yang duduk pada meja kerja berisi berkas-berkas penting di atasnya.


 


 


Ruang kerja itu tidak terlalu megah seperti ruang-ruang lain di Mansion, hanya terdapat dekor kaca hias yang menghiasi jendela dan sebuah guci ukiran bertema laut di sudut ruang sebagai dekorasi. Selain semua itu, ruang kerja tersebut penuh dengan warkat dan beberapa lembar hasil perhitungan dari ekspedisi. Xua Lin dan Imania bertugas untuk menilai kualitas kristal dengan timbangan kecil di atas meja, lalu diukur tingkat kepadatan sihir kristalnya menggunakan cara pengukuran manual dengan merasakannya langsung dengan kulit.


 


 


Mereka berdua juga bertugas untuk menghitung jumlah kristal monster, sedangkan Mavis sendiri melakukan pencatatan untuk mengklarifikasi jumlah pasti dari kristal yang didapat dan memasukkannya dalam pembukuan. Ia memegang pena bulu, lalu mulai mencatat hasil keseluruhan kristal monster yang didapat.


 


 


“Jumlah keseluruhan dari semua kotak ini adalah 700 kristal Tingkat Rendah kualitas C, 120 kristal Tingkat Menengah Kualitas B, dan 100 kristal Tingkat Rendah kualitas A,” ucap Xua Lin seraya meletakkan kembali kristal terakhir yang telah dihitung ke dalam kotak kayu.


 


 


Dalam standar penilaian umum yang digunakan di Kerajaan Felixia, kristal monster menurut tingkatnya dibagikan menjadi Tingkat Rendah, Tingkat Menengah, Tingkat Atas, dan Tingkat Terbaik. Dalam pembagian tingkat tersebut, nilai jualnya adalah pada Tingkat Rendah 5 Rupl/gram, Tingkat Menengah 10 Rupl/gram, Tingkat Atas 50 Rulp/gram, sedangkan Tingkat Terbaik mencapai 500Rupl/gram.


 


 


Dalam penggolongan tingkat kristal tersebut, ada pula penggolongan berdasarkan kualitas berdasarkan berat kristal. Kualitas tiap-tiap tingkat dinilai dari A sampai E yang pembagiannya berdasarkan rinciannya, yaitu kualitas A untuk kristal yang memiliki berat lebih dari 1 kilogram, B untuk berat sekitar 500 gram ke atas, C  untuk 200 gram ke atas, D untuk 150 gram ke atas, E untuk sekitar 50 gram.


 


 


Setelah Mavis melakukan kalkulasi dari penilaian dan penghitungan yang dilakukan Imania dan Xua Lin, wanita rambut pirang bergelombang itu sesaat berkeringat dingin melihat hasil kalkulasi yang ada. 700 Tingkat Rendah Kualitas C, 120 Tingkat Menengah Kualitas B, 100 Tingkat Rendah Kualitas A. Dari perhitungan berat saja, semua itu sudah mencapai 300.000 gram. Dalam penggolongan, itu setara dengan 300 kilogram keseluruhan hasil ekspedisi. Memang sebagian besar kristal adalah tingkat rendah, tetapi tetap saja jumlah yang didapat benar-benar di luar perkiraan yang ada.


 


 


“Xua Lin ..., Imania ..., bukannya kata Odo ekspedisinya cuma mencari 50 kilogram saja? Tapi kenapa ... ini sampai 300 kilogram sendiri? Enam kali lipatnya sendiri ....”


 


 


Mavis meletakkan kertas perkamen berisi hasil kalkulasi ke atas meja, lalu menyeka keringat yang membasahi keningnya. Dari jumlah kristal sebanyak itu bisa dipastikan utang wilayah Keluarga Luke benar-benar tertutupi, dan bahkan memiliki kelebihan yang cukup banyak. Perkiraan keseluruhan hasil ekspedisi tersebut mencapai sekitar 1.800.000 Rupl. Pengategorian hasil tersebut hampir setara dengan penghasilan Wilayah Luke dalam satu tahun.


 


 


“Nyonya ..., kurasa jumlah ini wajar kalau melihat jumlah monster yang dilawan saat itu. Para Goblin itu banyak yang bermutasi Tahap Awal, jadi banyak juga kristal kualitas B rendah yang bisa didapat ....”


 


 


Mavis mengangkat wajahnya yang sedikit memucat, menatap dengan sedikit pusing membayangkan jumlah monster yang mereka bunuh selama ekspedisi. “Apa kalian benar-benar membantai monster sebanyak ini? Kalian tahu, ini jumlahnya sudah seperti satu divisi sendiri,” ucap Mavis seraya bangun dari tempat duduk.


 


 


Berjalan ke arah mereka berdua dengan membawa kertas hasil perkiraan, wanita itu duduk di sofa yang sama dengan mereka berdua dan meletakkan kertas di tangannya ke atas meja. Meski hawa cukup dingin mengisi ruangan, tetapi keringat Mavis tidak bisa berhenti keluar. Menyeka keringat wajah dengan lengan gaun hitam berenda yang dikenakan, wanita itu sesaat menghela napas penuh rasa cemas.


 


 


Mavis menatap Xua Lin di sebelah kanannya, lalu bertanya, “Pasti sebagian besar Odo yang membunuh para monster ....” Tatapan tajam wanita rambut pirang itu membuat Xua Lin dan Imania sulit menjawab.


 


 


Karena mereka berdua juga diperintahkan oleh Odo untuk tidak memberitahukan kalau anak rambut hitam tersebut sempat menghilang, wajah yang sekilas sedang menyembunyikan sesuatu nampak pada Xua Lin dan Imania. Perempuan rambut abu-abu yang duduk di sisi lain Xua Lin memberanikan diri untuk menjawab, ia melakukan komunikasi dengan bahasa isyarat. Melihat gerakan tangan gadis berseragam pelayan, Mavis tidak memahaminya.


 


 


“Hmm, Xua Lin ..., tolong terjemahkan apa yang ingin disampaikan Imania.”


 


 


“Eh?” Gadis Demi-human tipe beruang itu tersentak kaget, itu sama saja dirinya harus menjawab pertanyaan Mavis menggantikan Imania. Menatap dengan mata hijau yang terlihat canggung, ia berkata, “Yang membunuh sebagian besar monster memang Tuan Odo .... Ya, bisa dibilang beliau yang melakukan hampir semua perburuan monster .... Kami rasanya hanya bertugas seperti pemungut kristal saja.”


 


 


Mavis tidak memerahi mereka atau semacamnya karena membiarkan Odo melakukan hal-hal berbahaya, wanita rambut pirang yang selalu mengenakan gaun warna gelap itu sudah bisa memaklumi tindakkan anaknya itu yang pada dasarnya memang tidak masuk akal. Menarik napas ringan, Mavis berkata, “Ya sudah, kalau itu Odo yang melakukan semuanya kurasa tidak ada masalahnya .... Selama dia baik-baik saja, itu sudah cukup ....”


 


 


Mavis berhenti menatap tajam Imania dan Xua Lin, ia mengambil perkamen bersisi hasil perhitungan. Sekilas melirik ke arah mereka, wanita rambut pirang itu bertanya, “Ngomong-omong, untuk upah tambahan dari ekspedisi ini akan saya berikan nanti saat Dart pulang .... Dia dan Thomas harus melihat laporan ini dulu .... Kalian berdua tidak keberatan, bukan?”


 


 


“Ya ..., tentu saja tidak, Nyonya ....”


 


 


Xua Lin dan Imania sedikit bingung dengan reaksi Nyonya mereka. Setahu kedua orang tersebut, saat menyangkut anaknya Mavis akan selalu cemas berlebihan dan sering marah-marah. Tetapi saat melihat wanita tersebut tenang seperti sekarang, kedua gadis pelayan tersebut sedikit merasa aneh dan sedikit takut.


 


 


“Oh, iya .... Odo nya sekarang ke mana? Apa dia sedang tidur di kamar?” tanya Mavis dengan wajar ceria.


 


 


“Kalau Tuan Odo ..., Julia sedang membangunkannya .... Tapi, tadi sepertinya Julia bingung bolak-balik di lorong dengan wajah cemas ....”


 


 


Tanpa diberitahukan dengan jelas, Mavis langsung paham kalau Odo sudah tidak ada di kamarnya. Wanita itu tersenyum tipis, lalu bersandar pada sofa dan sedikit menarik napas lega. Dirinya tahu anaknya sedang berada di mana. Melihat ke jejeran kunci yang di gantung di dinding, Mavis tahu kalau salah satu kunci yang tergantung pada ruangan tersebut tidak ada di tempat. Kunci yang hilang tersebut adalah ruangan yang masih berada dalam lingkungan Mansion, yaitu Ruang Arsip Utama Wilayah Luke yang berada di halaman belakang.


 


 


««»»


 


 


Dinginnya udara karena salju yang turun di luar tidak mengusik konsentrasi anak berambut hitam tersebut. Duduk di lantai keramik Ruang Arsip Utama, ia memangku sebuah perkamen yang merupakan akta kelahirannya sendiri. Pada pojok kertas tersebut tertera catatan tahun pembuatan surat tersebut pada tahun 2.690 Kalender Pendulum, dengan kata lain sekitar delapan tahun lalu.


 


 


“Hmm, jadi begitu rupanya .... Saat aku lahir banyak juga para tabib yang dipanggil. Dari dulu Ibu sudah seperti itu, ya .... Terlalu cemas seperti itu dari dulu ..., Ayah pasti repot juga.”


 


 


Odo meletakkan kembali akta di tangannya ke dalam folder dari kayu di dekatnya. Pada folder tersebut terdapat ukiran penanggalan tahun 2.690 yang berisikan apa saja kejadian penting yang terjadi pada tahun tersebut. Tidak jauh dari tempatnya duduk, terdapat juga beberapa folder dari kayu yang berisikan catatan dari tahun 2.670 sampai 2.698 sekarang ini. Semuanya menggunakan penanggalan Kalender Pendulum, sebuah sistem penanggalan yang digunakan oleh Benua Michigan yang dihitung dari awal mula peradaban di daratan tersebut setelah beberapa perubahan masa.


 


 


Odo telah membaca semua arsip yang ingin dirinya ketahui, dari tahun 2.670 saat awal dimulainya Konferensi Keempat Negeri dan menjadi awal mula perdamaian Benua Michigan, sampai dengan yang terakhir masuk dalam Arsip milik Keluarga Luke berupa utang pada tahun 2.698 bulan 12.


 


 


Dalam penanggalan Kalender Pendulum, hari yang ada dalam 1 tahun ada 365 ¼ hari, dan dalam 1 tahun ada 12 bulan yang memiliki rata-rata empat minggu setiap bulannya. Hal itu tidak ada bedanya dengan cara penanggalan yang Odo ketahui di kehidupan sebelumnya, tetapi dalam hal bulan yang digunakan dalam Kalender Pendulum tidak ada konsep penamaan. Hanya ada bulan 1 sampai 12 saja yang digunakan untuk penanggalan.


 


 


“Tidak kusangka hal-hal seperti itu pernah terjadi .... Selain para Shieal, ternyata Ibu dan Ayah juga masa lalunya ....”


 


 


Mengingat kembali apa yang dirinya baca tadi dalam arsip, anak rambut hitam itu membayangkan apa saja yang terjadi pada kedua orang tuanya saat muda. Arsip awal yang Odo baca tadi adalah tentang terbentuknya Konferensi Keempat Negeri pada 2.670 di Kota Miquator setelah peperangan di Lembah Gersang.


 


 


Catatan pada tahun tersebut adalah yang terburuk, ada beberapa catatan kematian Keluarga Luke yang baru dicatatkan di tahun tersebut. Musnahnya Keluarga Shieal asli yang merupakan garis cabang asli juga dicatat dalam folder periode tersebut. Fakta perdamaian benua seakan berbanding terbalik dengan apa yang diterima Keluarga Luke yang kehilangan hampir semuanya dan hanya menyisakan Dart Luke.


 


 


Pada awak tahun 2.671, tercatat secara resmi pernikahan Dart dan Mavis di Kota Miquator. Odo sangat sadar bawah pernikahan tersebut adalah pernikahan politik karena tertera beberapa saksi yang bisa dikatakan orang-orang penting di rana politik Keempat Negeri. Pada tahun-tahun berikutnya, selama periode perpindahan ke masa perdamaian sekitar tahun 2.671 akhir sampai 2.683 tercatat beberapa Surat Titah yang diterima oleh Dart. Pada periode tahun tersebut tidak jelas apa saja yang telah terjadi, tetapi pada saat itu Dart Luke dikatakan mendapat beberapa penghargaan karena banyaknya sertifikat dari orang-orang penting di Konferensi.


 


 


Pada tahun 2.683 juga tercatat hal paling menyedihkan bagi Mavis, sebuah surat tanda kematian satu-satunya saudaranya terdapat pada folder tahun tersebut dan juga adanya sebuah pencatatan tentang Tragedi Kota Gahon di Kekaisaran. Pada tahun selanjutnya ada beberapa surat lain yang mengatakan tanda pensiun dari tugas atas nama Mavis dan Dart, dan pada tahun tersebut juga Dart Luke kembali ke wilayahnya sendiri sebagai seorang Marquess. Pada tahun yang sama, diadakan sebuah perekrutan besar untuk ranah pemerintahan dan perombakan sistem pemerintahan wilayah Luke.


 


 


Satu tahun setelah itu, barulah diadakan Seleksi Shieal secara formal pada tahun 2.685. Pada tahun yang sama, Perpustakaan Luke Scientia selesai dibangun setelah hampir dua tahun proses pembangunan. Ada juga beberapa catatan menarik lainnya pada tahun tersebut, tetapi di antaranya adalah catatan tentang Pembasmian Iblis di Dunia Astral pada 2.687 dan Vil menjadi Roh Agung Penjaga perpustakaan secara resmi satu tahun kemudian.


 


 


Setelah catatan kelahiran Odo pada tahun 2.690, ada juga beberapa catatan tentang persiapan Ekspedisi Dunia Astral Pertama dan Kedua beserta persiapannya selama periode waktu 2.693 sampai 2.698.


 


 


Selesai membaca semua itu, anak rambut hitam itu menata folder-folder yang ada kembali ke dalam rak-rak besi sesuai dengan sumbernya. Menghela napas karena tidak mendapat informasi yang paling dicarinya, Odo berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar. Melewati lemari-lemari rak yang berjejer rapi, sekilas tatapannya matanya melihat ke kanan dan kiri mengamati ukiran huruf pada beberapa folder yang menarik perhatiannya.


 


 


“Arsipnya benar-benar rapi .... Kalau tidak salah cara perekaman ini dicetuskan oleh Raja Gaiel sendiri setelah naik Tahta untuk mengurangi korupsi. Bertemu dengannya sepertinya menarik.”


 


 


 


 


“Mau apa, Mbak?”


 


 


Julia terkejut anak itu menyadarinya, niat mengejutkan Odo langsung hilang. Memasang wajah cemberut, Ia mencubit pipi Odo dari belakang. “Mau apa? Lihat mulut siapa yang bicara ini? Padahal suruh istirahat di kamar malah main,” ucap Julia dengan nada menasihati. Saat melepaskan cubitan, pipi kiri anak itu sedikit memerah.


 


 


Berbalik dan menatap Demi-human tipe kucing rambut perak tersebut, Odo menatap datar seraya berkata, “Siapa yang main-main? Aku cari informasi tahu ....”


 


 


“Informasi?” Julia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dengan bingung. Baru sadar kalau bangunan tempat Odo keluar adalah Ruang Arsip Utama, wajah gadis kucing perak itu sedikit memucat. Rasa cemas kalau masa lalunya yang kelam diketahui Odo sedikit membuatnya takut dibenci anak tersebut.


 


 


“A-Apa saja yang Tuan Muda cari di dalam?”


 


 


Odo menyadari ekspresi Julia dan apa penyebabnya, anak itu kurang lebih telah mengetahui latar belakang gadis kucing tersebut. Tidak terlalu memasalahkan hal semacam itu, Odo menjawab pertanyaan gadis kucing tersebut dengan nada santai, “Surat-surat menyangkut Kota Pesisir, aku butuh itu untuk melakukan beberapa hal penting untuk wilayah yang ayah pimpin ....”Wajah tidak puas terlihat pada raut wajah anak tersebut, menandakan Ia tidak mendapat apa yang dicari.


 


 


“Kota Pesisir? Maksud anda kota pesisir yang letaknya beberapa kilometer ke tenggara itu?”


 


 


“Iya, memangnya mana lagi?”


 


 


Julia memasang senyum meledek. Ekornya bergerak ke kanan dan kiri, bahagia menemukan kelemahan tuannya yang tidak disangka-sangka. “Sepertinya anda salah informasi. Apa anda saat mencarinya di ruang arsip, anda mencari nama Kota Pesisir?” tanya Julia seraya tersenyum sombong.


 


 


Odo tidak memedulikan senyum tersebut, ia langsung berkata tegas, “Iya, memangnya apa lagi? Kota pesisir ya kota itu.”


 


 


“Anda pikir hanya kota itu yang berada di daerah pesisir? Apa anda yakin Kota Pesisir itu sebuah nama kota?”


 


 


Mendengar itu, Odo paham apa yang ingin disampaikan Julia. Odo salah memahami informasi, Kota Pesisir itu bukanlah sebuah nama. Karena itu bukan nama, tentu saja itu tidak akan bisa ditemukan dalam susunan kompleks sebuah pengarsipan. Memasang wajah datar, anak itu bertanya, “Aaah, sudah kuduga pasti itu bukan nama. Jelas saja dicari tidak ketemu-ketemu. Jadi, apa nama kota itu? Kenapa juga sering disebut Kota Pesisir padahal punya nama sendiri ....”


 


 


Julia kembali tersenyum sombong. Seraya mengangkat jari telunjuknya ke depan mulut, Ia berkata, “Apa, ya? Saya beritahukan tidak, ya?” dengan nada sedikit meledek.


 


 


Odo hanya menatap datar. Sesekali ia terangguk-angguk karena rasa kantuk mulai menguasainya. Dari saat dirinya kembali setelah ekspedisi kemarin malam, anak itu belum tidur sama sekali dan terus memeriksa arsip untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Meski kantung matanya tidak terlihat menghitam, tetapi dengan sangat jelas dirinya sangat kurang tidur.


 


 


“Tuan Odo?” tanya Julia bingung.


 


 


“A ... pa ...?”


 


 


Tubuh anak itu ambruk ke depan , dan Julia langsung memeluknya dengan terkejut. “EH! Tuan Odo? Kenapa? Apa sedang sakit? Tuan?!” ucap Julia seraya berusaha membangunkan anak yang kedua bola matanya tertutup itu.


 


 


“Ngantuk .... Tolong gendong sampai kamar, dong ....”


 


 


Gadis rambut keperakan itu sesaat terdiam dengan tatapan datar. Mengelus anak berbadan bongsor yang menyandarkan tubuhnya itu, Julia berkata, “Sudah besar, kok minta gendong?” Odo tidak menanggapi, anak itu tetap diam seraya menenggelamkan wajahnya ke perut gadis kucing tersebut.


 


 


“Haaah, baiklah. Berdiri dulu yang benar ..., Tuan.”


 


 


“Ya ....”


 


 


Julia berbalik, lalu berjongkok dan menawarkan punggungnya kepada anak rambut hitam tersebut. Odo langsung gendong dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Julia. Saat gadis kucing itu hendak berdiri, dirinya langsung sadar kalau berat badan majikannya tersebut lebih dari yang dikiranya. Julia tidak bisa bangun, meski sudah mengeluarkan tenaga lebih ia tetap saja tertahan dalam posisi jongkok.


 


 


“Tuan Muda ..., kok berat sekali, sih?”


 


 


“Berat badanku sudah sampai seratus kilo,” bisik Odo lirih.


 


 


“EH!?”


 


 


“Bercanda, kok .... Aku menggunakan sihir pertahanan untuk mempertahankan posisi Mbak Julia supaya jongkok terus,” jelas Odo seraya tambah memeluk erat gadis rambut keperakan itu dari belakang.


 


 


“Oh, sihir tipe itu berfungsi mempertahankan kondisi objek sih, jadi bisa digunakan seperti in— Bukan itu maksud saya! Kenapa juga anda menggunakannya? Bukannya minta gendong ke kamar?” Julia merasa kesal. Dirinya ingin meronta dan menurunkan anak itu, tetapi posisinya yang terkunci oleh sihir pertahanan membuat gadis itu hanya bisa berteriak jengkel.


 


 


“Mbak ..., nama Kota Pesisir itu apa?” tanya Odo.


 


 


“Eh? Apa anda ingin mencarinya lagi? Sudah! Istirahat dulu di kamar! Anda belum istirahat dari kemarin, bukan?”


 


 


“Ya .... Tapi, sebelum itu aku ingin tahu .... Apa namanya?” tanya tegas anak itu.


 


 


Julia sesaat terdiam, sifat keras kepala Odo membuat gadis kucing itu menyerah. Menarik napas dalam-dalam, ia pun menjawab, “Mylta .... Nama kota itu Mylta, diambil dari nama Keluarga Bangsawan di kota itu yang menjabat sebagai Walikota sekaligus gelar sekarang memiliki bangsawan Baron ....”


 


 


Odo sesaat terdiam, ia mengingat-ingat kembali nama tersebut yang memang ada dalam arsip yang tadi dirinya baca. Tetapi dalam pengetahuan anak tersebut, penggambaran kota dalam arsip dan kenyataannya sangat berbeda.


 


 


“Terus kenapa bisa disebut Kota Pesisir, Mbak Julia?” tanya Odo.


 


 


 


 


“Yah, di wilayah Tuan Luke kota itu lebih terkenal dengan sebutan Kota Pesisir. Sebenarnya banyak lagi kota yang letaknya di daerah pesisir, tetapi kota itu dipanggil demikian karena memang dulu selama masa peperangan ada perekonomian maritim besar di sana,” jelas Julia.


 


 


Odo memahami kata lampau tersebut. Berakhirnya perang juga berarti sebuah revolusi dalam berbagai aspek sebuah negeri. Saat masa Perang Besar berakhir, Odo memperkirakan kalau jalur perdagangan yang seharusnya melewati kota tersebut telah terpotong oleh jalur perairan lain. Dibukanya pasar bebas dan jalur perairan dalam Konferensi Keempat Negeri mungkin menjadi penyebab utama kota tersebut tidak lagi menjadi primadona untuk singgah dalam jalur perdagangan.


 


 


“Terjadang kebijakan tidak memberi dampak baik secara menyeluruh, ya. Ada juga hal seperti itu meski kebijakan yang dikeluarkan maksudnya baik,” benak Odo saat menyadari penyebab kota pesisir tersebut mengalami kemunduran dalam beberapa dekade.


 


 


“Eng, ngomong-omong bisa anda lepaskan dulu sihirnya ....” Julia mulai kesemutan. Kaki dan tubuhnya gemetar.


 


 


“Ya ..., maaf.”


 


 


Saat Odo menonaktifkan sihirnya, Julia langsung berdiri dan meloncat-loncat untuk peregangan. “Kalau begitu, langsung tidur di kamar, ya! Jangan keluyuran lagi!” ucap Julia seraya berjalan kembali ke dalam Mansion. Saat menggendong anak tersebut, dirinya sadar berat badan Odo memang sudah lebih berat dari yang dirinya ingat. Itu bukan karena sihir atau semacamnya, berat badan anak itu memang sudah bertambah sangat banyak jika dibandingkan terakhir kali Julia menggendongnya.


 


 


“Anak-anak memang tumbuh sangat cepat, ya ....” Gadis kucing itu tersenyum lepas sampai matanya sekilas terpejam, ekornya bergerak meriah sampai mengusik Odo yang membaringkan wajahnya pada punggung gadis tersebut. Anak rambut hitam yang gendong pada Julia perlahan memejamkan mata kembali, sejenak beristirahat setelah melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan anak seusia dirinya.


 


 


Setelah sampai di kamar Odo, Julia langsung membaringkan anak rambut hitam itu dan menutupinya dengan selimut berlapis. Sekias tersenyum bahagia melihat raut wajah Odo yang tertidur dengan damai, Julia mencium kening anak tersebut.


 


 


“Selamat tidur ....” Ia berbalik, lalu pergi dari kamar anak tersebut. Setelah menutup pintu dengan perlahan supaya tidak membangunkan Odo, ia lekas menuju ke ruang kantor Dart seraya meloncat-loncat kecil penuh riang.