
Hembus angin terasa jelas, menghanyutkan awan putih di langit dan melawan arus ombak yang menuju ke daratan. Suara dedaunan kelapa yang tertiup terdengar jelas terdengar—bersama dengan irama air laut yang saling bertabrakan dengan liar.
Pemandangan pegunungan terlihat di kejauhan, pemukiman sepi menghiasi daerah pesisir tempatnya berada. Meski dengan jelas menerima semua informasi seperti itu dengan indranya, Odo Luke tetap hanya melihat dua warna di tempat tersebut—hitam dan putih.
Ia berdiri dengan kemeja hitam rusak terbakar pada bagian lengan sampai siku, mengenakan celana panjang hitam yang juga terbakar sampai lutut. Berdiri di atas tanah berpasir, Odo masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan orang di hadapannya tersebut.
Wajah, tinggi badan dan sorot matanya terlihat sangat mirip dengan Odo. Itu seperti sosok yang dapat dilihat dalam cermin, hanya rambut ikal panjang sebahu yang membedakan kedua orang yang saling menatap tersebut. Seakan menunggu jawaban Odo, pemuda yang mengaku dirinya Odrania Dies Orion itu tersenyum ringan dan menghentikan langkah kaki.
Saat mengamatinya dengan seksama, Odo baru sadar kalau pemuda itu mengenakan jubah putih khas laboratorium, merangkap kaos hitam polos. Kepala Odo seketika berdenyut sakit, sekilas gambaran tentang sebuah ruangan penuh besi terbayang dalam kepala. Menatap dengan penasaran, ia pun bertanya, “Kau ... siapa?”
“Bukannya aku sudah memperkenalkan diri tadi? Aku adalah Odrania Dies Orion, Raja Iblis Kuno sekaligus penguasa asli 72 pilar sebelum Solomon. Pewaris Otoritas Dewa Iblis, Odrania Karln .... Eng, apa kau jadi tuli karena tadi aku remukkan tubuhmu, Ayahanda?”
“Ayah? Sejak kapan aku punya anak ....”
Odo menarik napas dalam-dalam, tidak memedulikan cara Raja Iblis itu memanggilnya. Memalingkan pandangan ke arah laut, luas perairan hitam itu terbentang sampai batas cakrawala. Angin kembali berhembus kencang, mengibarkan rambut hitam mereka dengan kasar.
Saat kembali menoleh ke arahnya, Odo bertanya, “Kenapa aku ada di sini? Lagi pula, tempat apa ini? Apa tujuanmu?”
“Wah, wah, langsung beruntun pertanyaannya.”
Pemuda rambut ikal itu memasang senyum seraya mengangkat kedua tangan. Kembali menurunkan, ia memasang wajah seakan-akan melepas rasa rindu. Berjalan semakin mendekati Odo dan berdiri beberapa meter di depannya, Raja Iblis itu menjelaskan, “Tempat ini adalah Reş û Rabe— sebuah Realms yang tercipta dari kepribadianku, tempat dengan dua warna, hitam dan putih.”
Odo menatap dengan penuh kecurigaan, ingatan saat tubuhnya diremuk oleh tangan tengkorak raksasa masih jelas terukir dalam benak. Rasa sakit, kengerian dan ketidakberdayaan masih tersimpan lengkap dalam diri Odo. Sedikit melangkahkan kaki tanpa alas ke belakang, ia hendak menggunakan sihir untuk berjaga-jaga.
Namun, Mana sama sekali tidak merespons dan lingkaran sihir tidak bisa terbentuk. Mencari inisiatif lain dengan hendak mengambil pedang dari Gelang Dimensi, alat sihir penyimpanan tersebut tidak ada pada lengan kanannya.
“Tenang saja, Ayahanda! Kau tak perlu cemas seperti itu. Tempat ini adalah dunia kesadaran milikku, semua kekuatan yang Ayahanda miliki tak akan bisa masuk ke tempat ini. Entah itu segala jenis sihir, kekuatan pohon suci, atau bahkan Putri Dewa Naga itu ....”
Odo terdiam sesaat, dirinya ingat kalau Raja Iblis Kuno di hadapannya itu adalah biang keladi dari Kutukan Kegilaan yang diderita para Putri Naga dan membuat ras Naga Agung hampir punah. Sekilas memejamkan itu dan berhenti memikirkan tentang perasaan Seliari yang mungkin dendam pada Odrania, Odo berusaha tidak mengungkit hal tersebut.
“Hmm, kau meneliti banyak tentangku, ya. Bagaimana caranya kau tahu semua itu? Membaca pikiran?”
Odrania tersenyum ringan. Memalingkan pandangan dan menghadap ke arah laut. Sedikit menoleh, ia dengan remeh menjawab, “Tempat ini konsep waktunya hampir mirip seperti Dunia Astral, tak selamanya satu detik berlaku satu detik di Dunia Nyata. Ayahanda tahu, kita sudah di tempat ini lebih dari dua tahun dalam jangkauan durasi .... meski di luar sana baru kurang dari tiga detik saja. Dalam perhitungan tetap, tempat ini seharusnya lebih cepat 31.536.000 kali lebih cepat.”
Odo sama sekali tidak terkejut, hanya menganalisis menggunakan akal sehatnya sendiri dan tetap diam. Seperti apa yang dikatakan Raja Iblis tersebut, semua kekuatan yang dimiliki Odo memang tak bisa digunakan, bahkan Auto Senses yang seharusnya bersamanya terus tidak bisa diakses. Mempertimbangkan hal semacam itu, Odo menganggap apa yang dikatakan Odrania tentang durasi waktu itu juga kenyataan, tak ada alasan untuknya bohong seperti itu.
“Dua tahun, ya .... Kalau waktu sudah berlalu selama itu, apa kau tidak bosan?”
“Bosan? Lucu sekali ..., menunggu sudah biasa untukku. Bertahun-tahun, beratus tahun, beribu tahun, ratus ribu, bahkan jutaan tahun, itu sudah biasa untukku. Lagi pula ..., Ayahanda sudah terlalu sering membuat orang lain menunggu.”
“Eng?”
“Ah ....” Raja Iblis itu menatap ringan, melihat sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada pada diri Odo.
Berjalan menghampirinya, Odrania langsung memasang kuda-kuda—merendahkan posisi tubuh dan membuat jarak antara kedua kaki dengan menekuk lutut. Bersiap dengan posisi kaki kiri lebih maju, Raja Iblis itu langsung melancarkan tendangan kaki kanan diagonal ke atas dan mengincar kepala Odo.
“!!!”
Odo terkejut, tak sempat bereaksi dan hanya menahan tendangan itu dengan lengan kiri. Itu tepat mengenai sasaran, suara tulang retak terdengar jelas dan membuat tubuhnya terpental, berputar di udara dan jatuh ke permukaan pasir. Sebelum sempat bangun, Odrania meloncat ke arah Odo dengan kaki kiri terangkat vertikal lurus ke atas, lalu diayunkan dengan kencang ke bawah untuk menginjak.
Odo berguling, menghindari serangan itu dan segera bangun. Mengambil pasir yang ada di sekitar tempatnya berpijak, pemuda itu melemparkannya ke arah Odrania dan masuk ke matanya. Mendapat titik buta yang jelas, Odo segera menyerang dengan pukulan mentah tangan kanan.
Kurang dari satu detik sebelum pukulan mengenai wajah Raja Iblis itu, ia menghilang dari tangkapan visual Odo dan tanpa dirinya sadari pemuda itu dilempar ke permukaan tanah. Odo Luke hanya bisa bingung, terkapar di atas permukaan pasir dan melihat ke arah langit.
“Apa ... tadi? Lagi pula, kenapa kau menyerangku?!”
“Hmm, sepertinya itu memang benar. Ayahanda ..., kau terlalu mengandalkan kalkulasi internal. Kalau tidak salah, itu Ayahanda panggil Auto Senses, bukan?”
“Hah?”
“Nah, ayo bangun dulu. Kita bicara ..., sambil beradu tinju seperti tadi.”
“Eh?”
Odrania mengulurkan tangannya kepada pemuda itu. Dengan rasa sedikit ragu dan bingung, Odo meraihnya dan kembali bangun. Namun sebelum bersiap, Raja Iblis itu melancarkan pukulan ke arah wajah dan membuat Odo jatuh kembali ke atas permukaan pasir.
Rasa sakit memang terasa jelas, dan darah hitam keluar jelas dari hidung. Namun luka yang ada sembuh dengan cepat, bahkan tulang tangan kiri yang seharusnya retak sama tidak meninggalkan rasa sakit berkepanjangan. Merasakan hal itu, Odo sedikit terdiam dengan rasa bingung. Pada kondisi normal biasanya ia langsung menggunakan Auto Senses untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, namun sekarang dirinya tak bisa.
“Ada apa, ayo bangun, Ayah!”
“Berisik kau ....”
Odo segera bangun, menatap datar dan baru benar-benar sadar apa yang dikatakan Raja Iblis di hadapannya itu sangat tepat. “Ah, tanpa Auto Senses rasanya seperti ini, ya .... Memang ini sudah seperti aku tergantung pada alat bantu itu, rasanya menyebalkan diberitahu oleh orang dengan wajah yang mirip denganku ini,” benak Odo seraya sedikit menyipitkan mata dan memasang kuda-kuda.
Menganalisa Odrania yang berdiri dengan kuda-kudanya, Odo baru sadar kalau kuda-kuda itu sangat mirip dengan Zen-Ketsu-Dachi— sebuah kuda-kuda dalam Karate dimana kaki kiri berpijak ke depan, sedangkan titik berat dari tubuh dipusatkan pada kaki kanan yang berada di belakang dan sedikit ditekuk. Memasukkan tangan kiri ke belakang dan mengencangkan otot kaki, Odrania langsung menerjang lurus ke arah Odo dan melancarkan pukulan ke purut.
“!!!”
Itu sangat cepat dan tidak bisa Odo hindari meski tahu akan datang ke arah perutnya. Tinju itu mentah-mentah menghujam perut, membuat Odo langsung mual dan melangkah mundur memegang perut penuh kesakitan. Ia memuntahkan cairan putih, darah hitam keluar dan beberapa organ tubuhnya benar-benar rusak karena pukulan tersebut.
“Gawat ..., beberapa organku kena. Sakit ..., sakit sekali,” benak Odo dengan meringkukkan tubuhnya di atas permukaan pasir.
Pemuda itu tidak bisa mengandalkan sihir untuk mengurangi rasa sakit atau meregenerasi tubuh, benar-benar menerima langsung kerusakan serangan bagai pukulan master karate tersebut. Mengangkat wajah dan melihat ke arah Odrania, Odo benar-benar mulai kesal dan segera bangun.
“Hmm, kekuatan jiwa Ayahanda memang luar biasa! Sudah mau lanjut lagi?” ucap santai Odrania.
Melihat senyuman cengar-cengir orang dengan wajah mirip sepertinya itu, Odo benar-benar naik pitam. Namun saat rasa sakit berdenyut kembali pada perut, pikirannya tiba-tiba berubah sangat tenang bersama hembusan angin. Ia menarik napas, mengamati dan menggunakan perhitungan internal tanpa bantuan dari Auto Senses.
“Apa maksudmu dengan Kekuatan Jiwa?” tanya Odo.
“Kekuatan Jiwa, ya Kekuatan Jiwa. Ketahanan pembungkus informasi kompleks sebuah kepribadian. Ayahanda tahu perbedaan Roh, Jiwa, dan Raga, bukan?”
“Apa itu ada hubungannya dengan tempat ini?”
“Ya, tempat Hitam dan Putih ini adalah Realms— sebuah dunia kesadaran, memiliki peraturan sendiri.”
“Peraturan?”
“Ya.”
Odrania segera memasang kuda-kuda yang sama seperti sebelumnya, lalu langsung melancarkan tinju berat ke arah Odo. Tidak seperti tadi, serangan tersebut dengan jelas terlihat dan Odo tepis menggunakan telapak tangan kanan— mengalirkannya ke samping dan balik memukul dengan tapak tangan kiri.
Serangan Odo tepat mengenai dada Odrania, namun Raja Iblis itu tak bergeming dan hanya menatap santai. Pemuda itu langsung tahu apa maksudnya Kekuatan Jiwa yang dibicarakan tadi. Sebelum Odrania menangkap tangan dan membantingnya seperti sebelumnya, Odo segera meloncat menjauh.
“Peraturan apa itu?” tanya Odo.
“Peraturan duniaku ini .... Pertama, warna hanya ada putih murni dan hitam pekat!”
Odrania mendekat ke jangkauan Odo dan langsung melancarkan tendangan diagonal mengincar kepala. Pemuda rambut hitam tersebut merunduk dan menghindar. Melangkah masuk ke dalam kuda-kuda lawan dengan posisi tubuh rendah, Odo langsung menjegal kaki Odrania dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Kedua! Waktu dunia ini berjalan sangat cepat!”
Saat hendak memukul dengan tapak dan menjatuhkannya ke bawah, tiba-tiba Odrania mengganti gaya bertarungnya. Raja Iblis itu berdiri dengan satu tangan sebagai titik berat di atas permukaan pasir, lalu salto ke belakang seraya melancarkan tendangan dengan kaki kanan yang tadi dijegal.
“Capoeira?!” benak Odo sembari memiringkan posisi tubuhnya, menghindari tendangan itu dan segera memantapkan kuda-kuda.
Odrania beberapa kali salto ke belakang dan menjauh. Melihat kuda-kuda Raja Iblis itu berubah dari karate menjadi bela diri yang karakteristiknya sangat berbeda, Odo benar-benar memastikannya dengan jelas kalau Odrania memang mengetahui sesuatu tentang dunia sebelumnya. Odrania menggerakkan tubuhnya seperti sedang menari, membuat Odo sulit membaca langkah selanjutnya Raja Iblis itu.
“Ketiga! Dunia ini takkan ada kekuatan supranatural, hanya ada fisik dan kinetik yang menjadi faktor penentu pertarungan kita!”
Menarik napas dalam-dalam dan menenangkan pikiran, Odo bertanya, “Kau ..., apa kau juga tahu tentang dunia sebelum kiamat?”
“Hmm, begitulah Apa Adinda tidak memberitahumu, Ayahanda?”
“Adinda?”
“Ya, saudara perempuanku, Korwa.”
“A—? Korwa? Dia adikmu!?”
Odrania bergerak zig-zag dengan langkah kanan kiri kecil ke arah Odo, lalu berputar cepat dan melakukan tendangan dengan tumit kanan secara diagonal. Itu ditahan dengan lengan kiri oleh Odo, namun kekuatan dari momentum yang dikumpulkan dalam putaran cukup kuat untuk membuat pemuda itu berlutut. Tanpa membiarkannya melawan balik, Odrania berdiri dengan tangan kanan dan langsung mengayunkan tendangan kaki kanan secara vertikal ke wajah Odo.
Buark!
Itu tepat sasaran dengan keras. Tubuh pemuda itu terpelanting, berguling beberapa kali di atas permukaan pasir pantai dan segera berdiri kembali. Napas terengah-engah, rasa sakit yang terasa sangat jelas dan membuat penglihatan Odo sedikit buram.
“Apa ... maksudnya ... dia Adikmu? Kalau tidak salah ..., Korwa bukannya terkenal dengan julukan Iblis Api?”
“Sedang pura-pura bodoh? Ayahanda tahu sendiri, dia adalah kepribadian yang datang dari dasar dunia dan tidak terkena siklus, membelah kepribadian dan membuat berbagai macam versi dirinya.”
“Apa ... kau ... juga semacam itu?”
“Ah, diriku memang bisa mempertahankan informasi selama siklus, tapi kemampuan untuk membelah kepribadian seperti yang Adinda miliki tak ada padaku. Aku hanya memiliki Unsur Tunggal, jadi meski di dalam dunia paralel aku hanya akan ada satu. Di paralel lain tidak akan ada aku, karena itu di dimensi dasar aku tak bisa bertambah.”
Rasa sakit pada tubuh Odo sepenuhnya menghilang dalam beberapa detik. Menarik napas dan menenangkan diri, pemuda itu berusaha membiasakan diri dengan rasa sakit yang diterima secara langsung seperti itu. Berdiri tegak tanpa memasang kuda-kuda mencolok, ia menatap datar.
“Kalau kau memanggilnya Adinda, berarti kau juga kepribadian yang lahir dari ingatanku yang dihapus—Maksduku, ditarik keluar dariku?” tanya Odo seraya meloncat-loncat kecil, layaknya petinju yang sedang melakukan pemanasan.
“Benar, aku adalah salah satu kepribadian yang lahir dari ingatan Ayahanda. Karena itulah ..., kami semua memanggilmu seperti itu!!”
Odrania kembali bergerak zig-zag, melakukan gerak tipu dan mendekat ke arah Odo dengan cepat. Saat sampai pada jarak jangkau, ia segera berputar dan menendang secara diagonal ke atas— mengincar dagu Odo. Layaknya telah belajar dari gerakan Raja Iblis itu, Odo yang telah mengumpulkan momentum dengan meloncat-loncat kecil segera menghindar ke belakang.
Mencengkeram kaki kanan Odrania saat akan turun, Odo langsung melancarkan tinju pada bagian betis dan mengincar ototnya. Namun seperti sebelumnya, pukulan tak berdampak sama sekali dan Raja Iblis itu malah meloncat menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan. Berputar di udara dan memaksa Odo melepaskan kaki yang dicengkeram, Odrania langsung melancarkan tendangan berputar dan tepat mengenai tengkuk leher Odo.
Tubuh pemuda rambut hitam itu langsung jatuh ke atas pasir dengan keras, wajahnya membentur permukaan lebih dulu dan membuat bekas lubang. Saat Odrania masih berada di udara, ia sekali lagi mengayunkan kaki secara vertikal ke bawah dan hendak menginjak Odo.
Odo berguling, memaksakan tubuh bergerak menghindar dan segera bangun. Meloncat ke belakang untuk menjaga jarak, tubuh pemuda itu tiba-tiba lemas dan seketika berlutut. Tendangan tadi sangat berdampak padanya, membuat gegar otak dan pandangan pudar seperti sedang mengantuk berat.
“Dia benar-benar tidak menahan, ya .... Penglihatanku ....”
Tidak memberikan ampun, Raja Iblis itu langsung bergerak zig-zag meloncat pendek kanan kiri. Masuk dalam jangkauan, ia langsung berputar untuk mengumpulkan momentum dan melancarkan tendangan.
Melemaskan tubuh, Odo menjatuhkan tubuh ke atas permukaan pasir dan menghindar. Segera merangkak, pemuda itu langsung mencengkeram kaki kiri Odrania yang menjadi satu-satunya titik tumpu berat. Meninju betisnya dan membuat Raja Iblis itu benar-benar kehilangan keseimbangan, Odo langsung bangun dan menyeruduk ke arahnya.
Berhasil menjauhkan Odrania, Odo menungganginya dan mengunci tubuh Raja Iblis itu di atas permukaan pasir supaya tak bangun. Menduduki tubuhnya, Odo benar-benar unggul dan langsung melancarkan tinju tangan kanan secara beruntun. Saat Odrania akan melawan balik, Odo menepisnya dan mengganti tinju beruntun dengan tangan kiri.
Itu dirinya lakukan dengan bertubi-tubi, tanpa henti dan memanfaatkan kondisi dimana dirinya tak akan merasa lelah meski terus bergerak. Meski Odrania terlihat kebal terhadap pukulan pada awalnya, namun setelah dipukul secara beruntun seperti itu Odo tahu kelemahan yang ada. Kekebalan hanya secara bentuk fisik, nyatanya Raja Iblis itu juga bisa merasa sakit saat diserang.
“Ada apa!!? Kenapa kau bertahan!?”
Odo terus menghajarnya, tanpa membiarkan Odrania menyerang balik dan memaksanya tetap melindungi wajah dengan kedua lengan. Saat pasir tempat raja Iblis bergerak kacau karena Odo memukul secara brutal, secepat kilat Odrania melancarkan pukulan balik dan itu tepat mengenai wajah pemuda rambut hitam tersebut.
Pukulan beruntun terhenti, darah hitam mengalir keluar dari hidung. Namun—
Tak selang dua detik, Odo langsung melancarkan pukulan beruntun dan kali ini bertambah cepat dan kuat— sampai-sampai kulit tangannya sendiri terkelupas sedikit demi sedikit. Odrania benar-benar kebingungan dalam posisi bertahan, seharusnya tadi adalah pukulan telak yang bisa membuat Odo terpental. Merasakan tinju pemuda itu makin kuat dan cepat, Raja Iblis itu benar-benar dipaksa bertahan.
Odo berhenti meninju beruntun, langsung cepat mengulurkan tangannya melewati pertahanan Odrania dan mencengkeram kepala Raja Iblis itu saat ia terlalu fokus bertahan dari pukulan. Seperti yang diprediksi, Odrania melepas pertahanannya dan berusaha melepaskan tangan Odo yang mencengkeram kepalanya.
Melihat kesempatan itu, Odo langsung melancarkan tinju luar tangan kiri dan langsung mengarah ke telinga kanan Odrania. Croooks! Tinju itu tidak mengepal, melainkan jari tengah diacungkan dan menancap masuk ke dalam telinganya.
“AKHHH!!!”
Raja iblis itu menjerit dan meronta sekuat tenaga, memukul secara membabi-buta dan berusaha menjatuhkan Odo dari atas tubuhnya. Namun saat itulah momen paling lemah yang pemuda rambut hitam itu tunggu-tunggu, ia langsung mencolok mata Odrania dan merebut penglihatan.
Unggul dalam dua indra, Odo melancarkan pukulan beruntun dengan dua tangan ke arah wajah Odrania dan membuat Raja Iblis itu babak belur. Satu menit, sepuluh menit, dan sampai setengah jam, pada saat itulah Odrania baru benar-benar menyerah.
“Ak—guh! Me—GUH!—Me—Gay! Rah!”
Odo menghentikan pukulan saat mendengar perkataan yang keluar samar itu. Melihat wajah Odrania yang benar-benar bonyok dan berlumuran darah hitam, beberapa gigi rontok dan tulang hidungnya patah, Odo merasa kalau apa yang telah dilakukannya berlebihan.
Menatap dingin pemuda itu bertanya, “Bukannya kau tadi kebal? Kenapa bisa bonyok?”
“Ukh, kejamnya .... Siapa yang kebal, aku hanya menggunakan Ketahanan Jiwa untuk menjaga bentuk tubuh di Realms ini ...”
Odrania mengusap darah hitam yang mengalir keluar dari mulut. Wajahnya mulai sembuh kembali dalam hitungan detik, gigi yang lepas dan tulang hidung patah pun ikut pulih dengan mudahnya. Menatap ke arah Odo yang menduduki tubuhnya, Raja Iblis itu bertanya, “Apa Ayahanda tidak menahan diri meski melawan anak sendiri?”
“Aku tak pernah ingat punya anak! Jangan panggil aku seperti itu! Ingin aku buat kau bonyok lagi?!”
“Ahah, tolong ja—”
Odo menghajar wajahnya Odrania yang terlihat meremahkan. Mencekik lehernya, pemuda itu menegaskan, “Jangan remehkan aku .... Kau tahu, aku benci jenis sepertimu. Kau mirip dengan Korwa, aku sangat benci jenis sepertinya.”
Odrania sedikit menyipitkan mata, menatap sedih dan berkata, “Sebaiknya Ayahanda tidak mengatakan itu kepada Adinda, dia akan menangis kalau mendengar itu .... Ayahanda tahu, dari kami semua dialah yang paling bekerja keras.”
“Kami?” Alis Odo sedikit terangkat.
“Ya, kami ... para kepribadian yang lahir dari ingatan tentang seseorang yang diambil dari Ayahanda. Kami semua adalah orang yang dulu dikenal Ayahanda, itulah konstruksi informasi yang membentuk kepribadian kami.”
“Ah .., apa itu ulah makhluk yang mengaku Dewi bernama Helena itu?”
“Ya, kami diciptakan Ibunda berdasarkan informasi Ayahanda.”
Cara Raja Iblis itu memanggil Dewi Helena membuat Odo terganggu. Kalau memang makhluk-makhluk seperti Raja Iblis dan Korwa lahir darinya, berarti itu juga sumber kekacauan sebenarnya adalah Odo Luke sendiri dan Dewi yang menyeretnya dalam semua masalah yang ada.
“Kalian ... ada berapa? Selain Korwa dan kau ... ada lagi, bukan?”
“Jumlah kami hanya ada empat, tak lebih dari itu. Satu sebagai simbol kehancuran, satu sebagai simbol kejahatan, satu sebagai simbol ketertiban, satu sebagai simbol cahaya. Itulah kami, makhluk yang mendambakan pertemuan denganmu, Ayah.”
Kening Odo mengerut, ia menatap tajam dan menggerutu, “Sudah kubilang, aku tak pernah punya anak.”
“Kami tahu itu .... Meski begitu, ikatan ini dengan jelas terukir dalam benak kami. Ayahanda, mungkin ingatan ini direbut darimu oleh Ibunda, namun tolong jangan membencinya. Itu ... terjadi karena harus terjadi, layaknya sebuah ribuan pertemuan dan perpisahan yang telah Ayahanda lalui.”
“Hah?” Odo menganga, sama sekali tidak mengerti maksudnya.
“Apa yang ingin Ayahanda lindungi saat ini, itu semua tak ada kaitannya dengan masa lalu. Kami ... telah memutusnya, jadi bergeraklah sesuai apa yang Ayahanda inginkan di dunia ini. Sampai waktunya tiba, kami berjanji akan berdiri di sisimu untuk kembali melawan musuh abadi kita.”
Itu benar-benar membuat Odo terbungkam, ia sama sekali tidak mengerati siapa yang disebut Musuh Abadi. Kalau Raja Iblis sendiri berkata seperti itu, Odo merasa kalau ras iblis sendiri tidak jauh berbeda dengan manusia dan mereka bervariasi secara kepribadian— tak bisa ditetapkan semua iblis adalah kejahatan dan musuh mutlak.
Memalingkan pandangan dan melihat ke arah laut, Odo Luke memasang wajah sedih seakan merasa rindu dengan pemandangan hitam putih yang ada. Sekilas berkedip dan kembali melihat laut yang menghilang di ujung cakrawala, tiba-tiba warna mengisi segalanya. Pemandangan senja kemerahan, matahari yang terbit di ujung cakrawala dan burung laut yang terbang berkelompok.
Namun saat kembali berkedip dan melihat, pemandangan itu hilang dan apa yang dilihatnya menjadi hitam dan putih lagi. Odo merasakan nostalgia dengan pemandangan sekilas tersebut, menoleh ke arah Odrania dan bertanya, “Apa yang kau tahu tentang diriku? Siapa aku sebelumnya? Apa yang aku ingat ini benar-benar diriku? Atau ... hanya sebagian saja?”
Odrania tersenyum dengan ekspresi santai, dengan ceria ia membalas, “Ayahanda adalah orang yang mengagumkan. Pemimpin, Peneliti, Penyelamat, dan Dewa, Ayahanda pernah menjadi semua itu. Kalau tidak karena Ayahanda, mungkin dunia ini tidak akan ada dan segalanya masih dalam siklus penciptaan dan kehancuran tanpa kehidupan berakal seperti badai kosmik kacau.”
“Seingatku ... aku hanya seorang mahasiswa biasa sebelum mati. Aku tak pernah melakukan sesuatu yang mengagumkan.”
Odrania terdiam, berhenti menatap Odo dan mendongak ke arah langit. Merentangkan kedua tangan ke samping, Raja Iblis itu menjawab, “Batas kehidupan adalah apa yang tersimpan dalam memori. Saat seseorang tidak mengingat sesuatu yang telah dilakukannya, maka ia akan berpikir dan bertindak layaknya apa yang dilakukannya tidak pernah terjadi. Hal itu juga sebaliknya, seseorang yang salah ingat akan bertindak layaknya pernah melakukan meski itu sebenarnya tidak.”
“Apa ... yang kau bicarakan? Kenapa dengan itu memangnya?” tanya Odo dengan nada datar.
“Itu tentangmu, Ayahanda. Padahal kau telah melakukan banyak hal, namun bertindak seperti tidak pernah melakukan semua itu hanya karena tidak ingat .... Aku juga seperti itu, karena ingatan ini aku bertindak seperti itu dan menantang langit sebagai Raja Iblis. Mungkin, inilah kondisi terbaik untukmu yang telah berjuang terlalu keras. Aku sendiri tak ingin menawarkan ini, tapi kurasa memang inilah yang harus kuberikan padamu, Ayahanda.”
Angin bertiup cukup halus, mengibarkan rambut Odo dan udara menghantarkan perkataan Odrania padanya. Terbelalak mendengar apa yang diucapkan Raja Iblis itu, kedua mata pemuda tersebut terbuka dan mulutnya sedikit menganga. Merapatkan kembali dan menggeretak, tegas ia bertanya, “Apa ... kau benar-benar memilikinya? Ingatanku yang dihapus itu?!”
“Ya ..., aku memilikinya. Kami semua memilikinya .... Jika Ayahanda ingin mengingat kembali segalanya, ambil itu dari kami. Kami akan menyerahkannya dengan senang hati .... Tapi tolong ingat ini, ada kalanya yang terlupakan itu sebaiknya terlupakan. Penyesalan dan segala hal buruk biasanya selalu datang dari masa lalu.”
Peringatan itu benar-benar terucap tulus dari Raja Iblis dengan bentuk fisik manusia itu, berasal dari lubuk hatinya dan menatap penuh rasa cemas kepada Ayahnya. Tersenyum ringan dengan wajah cerianya yang kaku, Odrania berkata, “Apa Ayahanda mau mengambilnya?”
“Tentu saja ..., aku akan mengambilnya.”
“Begitu, ya. Leganya, aku sangat senang Ayahanda persis seperti yang kami kira. Kau selalu melangkah maju meski paham apa yang ada di depan adalah jalan penuh duri.”
Odrania mengulurkan kedua tangannya ke arah Odo. Menyentuh dada pemuda itu, seketika tubuh Raja Iblis memancarkan warna putih pekat. Perlahan kedua tangan Odrania masuk ke tubuh Odo, perlahan-lahan terus menjadi satu dan pada akhirnya seluruh tubuhnya terhisap masuk dalam tubuh pemura rambut hitam tersebut.
Duduk di atas permukaan pasir sendirian, Odo menatap lurus ke depan dengan kedua mata terbuka lebar. Air mata perlahan mengalir, menetes ke permukaan tanah dan langsung mengubah Realms tempatnya berada.
\======================================================