Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 53 : Ordoxi Nigrum (Part 04)



 


 


Kota Mylta, distrik perniagaan. Hiruk-pikuk kegiatan perekonomian menjadi hal wajar di tempat tersebut, berbagai golongan berkumpul untuk menyambung hidup dan mencari keuntungan melalui transaksi-transaksi. Suara ramai tawar-menawar sangatlah wajar, gerobak yang ditarik kuda mendominasi bagian tengah jalan utama. Kedai-kedai berjejer, pemilik toko memanggil-manggil dengan menawarkan barang dagang mereka, pedagang kecil dan besar melihat-lihat apa yang mereka jual, saling bertukar dengan koin serta barang, dan kaum konglomerat mengamati untuk meraup keuntungan besar dari semua kegiatan perniagaan tersebut.


 


 


Pada ujung salah satu distrik besar di kota pesisir tersebut, terlihat sebuah toko yang bangunannya masih baru dan belum menjalankan bisnisnya. Sebuah gerobak kayu terparkir di depan bangunan berlantai tiga tersebut, lalu dari dalam keluar beberapa Dwarf yang baru saja mengantarkan pesanan furnitur.


 


 


Di dalam lantai satu toko tersebut, telah disusun rapi beberapa meja dan kursi untuk duduk pelanggan nantinya. Mebel yang dibeli bukan hanya meja dan kursi di lantai satu, untuk lantai dua juga meja kerja telah disiapkan dan beberapa lemari untuk pengarsipan telah disediakan di lantai atas tersebut.


 


 


Di depan toko Ordoxi Nigrum, seorang pemuda rambut cokelat berdiri di hadapan lima orang Dwarf yang mengantarkan furnitur pada toko. Ditemani oleh kedua Butler pribadinya, putra sulung keluarga Rein itu menghadap sang bos dari para pengrajin kota dan berkata, “Bisa aku memastikan lagi kuitansinya?” Pemuda itu mengulurkan tangan, menatap datar dan meminta laporan pembelian dan penyerahan uang.


 


 


Sekilas Dwarf berambut merah gelap pendek tersebut terlihat risih, merasa kalau pemuda di hadapannya terlalu cemas dan kurang mempercayai orang lain. Dengan volume suara yang ditinggikan, pria pendek dengan wajah tua tersebut berkata, “Bisa kau percaya sedikit dengan bawahanmu sendiri? Kami sudah menerima uangnya, untuk apa kau periksa lagi?” Pria yang bicara tersebut adalah Harka Nog, ketua dari Serikat Tukang dan Pengrajin Kurcaci Merah. Berbeda dengan kebanyakan kurcaci, pria pendek itu tidak memiliki berewok atau jenggot. Ia terlihat lebih rapi meski wajahnya memang terlihat tua seperti pria paruh baya.


 


 


“Sudahlah, tunjukkan saja, Pak Nog! Tidak ada ruginya untukmu, bukan?” paksa Arca.


 


 


“Hah, terserah saja ....” Bos pengrajin itu menoleh ke salah satu bawahannya, lalu dengan nada sedikit enggan berkata, “Ambil kuitansinya di kereta!”


 


 


“Siap, bos!”


 


 


Sembari menunggu bawaannya mengambil perkamen berisi data transaksi, pria tua berambut cepak merah tersebut meletakkan kedua tangan ke pinggul dan melihat bangunan toko dengan bangga. Toko tersebut dibangun olehnya bersama dengan Kov Osel, ia merasa puas akan hal tersebut dan merasa kalau bangunan tersebut memang sebuah mahakarya meski dari luar terlihat biasa-biasa saja.


 


 


Bawahan Nog datang, lalu menyerahkan kuitansi langsung ke Arca. Memeriksa laporan tersebut, pemuda dari keluarga Rien itu mengangguk karena memang semuanya sesuai dengan apa yang dirinya hitung. Harga, jumlah, kualitas dan jenis kayu, semua itu tertera dengan tepat pada kertas perkamen tersebut.


 


 


Mengembalikannya kepada Nog, pemuda berjas merah itu berkata, “Terima kasih, semuanya memang tepat. Meski kayunya kualitas menengah, harganya bisa dikatakan cukup murah menurutku.”


 


 


“Cukup murah??” Nog sedikit terusik, keningnya mengerut dan ia berkata, “Ini sudah saya turunkan, loh. Karena ini toko Tuan Odo, aku beri diskon untuk furnitur dari bahan jati dan mahoninya! Jangan bicara yang tidak-tidak .... Apa kau benar-benar tahu kualitas mebel?”


 


 


“Maaf, sayangnya tidak. Itu bukan keahlianku ....” Arca sedikit memalingkan pandangan, lalu dengan suara datar berkata, “Tapi, daganganmu memang bagus. Model meja dan kursimu sesuai dengan yang ku perlu. Aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.”


 


 


“Tentu saja!” Pria pendek itu menatap penuh percaya diri, lalu sembari tersenyum lebar berkata, “Modelnya baru semua! Putar Lord itu benar-benar tahu cara membuat desain! Aku tidak tahu kalau meja bisa dibuat sedemikian rupa, terutama untuk yang meja kantornya!”


 


 


Arca sekilas terkejut mendengar itu. Ia berbalik ke belakang dan menatap ke bangunan toko, lalu dengan penasaran bertanya, “Odo ... membuat desainnya? Aku dengar Tuan Odo juga membuat desain bangunan ini, apa itu benar?”


 


 


“Memang!” Hog menjawab penuh semangat, lalu dengan bangga berkata, “Dia yang membuat desainnya! Yah, meski aku hanya sebentar bertemu dengannya! Yang memandori si Osel saat kami membangun ini!”


 


 


Arca terdiam mendengar itu, ia memang tidak bisa percaya kalau Odo Luke juga memiliki keahlian layaknya seorang arsitek handal. Ilmu membuat kerangka bangunan bukanlah sesuatu yang mudah didapat, bahkan di kekaisaran Felixia tidak banyak yang menyandang gelar insinyur. Melihat hasil bangunan yang ada, Arca sedikit menyipitkan mata karena arsitektur dasarnya benar-benar berbeda dengan kebanyakan bangunan di Felixia meski dari luar kelihatan sama.


 


 


“Apa kau perlu sesuatu lagi, Tuan Arca?” tanya Nog.


 


 


Berbalik menghadap pria tua tersebut, pemuda rambut cokelat itu dengan ramah menjawab, “Terima kasih, tidak ada lagi. Pak Nog bisa pulang, semoga ada kesempatan lain kita bisa berbisnis lagi.”


 


 


“Ya! Tentu! Tapi ....” Hog sekilas menyipitkan pandangan dan menatap sedikit kecewa. Sembari menghela napas, pria tua itu berkata, “Kalau bisa aku ingin bertemu dengan Tuan Odo dan bicara dengannya lagi! Dia pasti masih punya banyak desain lagi!”


 


 


“Kurasa ... kalaupun dia punya, Odo tidak akan memberikannya begitu saja.”


 


 


“Siapa saja yang mau minta gratis!” Hog menjawab dengan sedikit tersinggung. Sembari menunjuk Arca ia berkata, “Aku tahu bertapa berharganya sebuah cetak biru! Aku ini seorang tukang veteran, loh ....”


 


 


“Maafkan perkataan tak sopanku.”


 


 


Arca sedikit menundukkan kepala. Kedua Butler pribadinya yang melihat itu sempat terkejut, kepribadian Arca yang mereka tahu bukanlah orang yang dengan mudahnya menundukkan kepala dan mengucapkan permintaan maaf


 


 


“Tak masalah! Kha! Kha!” Dwarf tersebut tertawa lemas, penuh rasa bangga atas pekerjaannya. Sembari berbalik ke arah gerobak kuda bersama para bawahannya, Dwarf rambut merah itu berkata, “Kalau begitu, kami pergi dulu!”


 


 


“Ya ....”


 


 


.


.


.


.


 


 


Arca masuk ke dalam toko Ordoxi Nigrum bersama kedua Butler pribadinya. Melihat penataan meja dan kursi yang ada di lantai satu, pemuda itu tidak mengerti bedanya dengan penataan meja kebanyakan restoran yang dirinya tahu. Namun melihat bahan kayu yang digunakan sebagai bahan utama furnitur itu, pemuda rambut cokelat tersebut memang merasa kalau penggunaannya bisa sangat menghebat biaya.


 


 


“Kata mereka ... nama bahannya Teakblock, ‘kan? Apa benar ketahanannya terjamin?”


 


 


Arca berjalan ke salah satu meja, menyentuh permukaannya dan memang ia tidak mengerti apa-apa soal kayu semacam itu. Teakblock merupakan sebuah papan dengan bahan utama kayu jati, namun tidak solid. Secara bentuk itu adalah sebuah papan yang sangat mirip dengan jati dengan pola yang alami, namun komposisi bagian tengahnya hanyalah jenis kayu lunak karena secara dasar itu hanyalah tiga papan kayu yang disatukan dengan cara penekanan dengan konsep tripleks.


 


 


“Meja di lantai atas juga pakai bahan ini ....”


 


 


Arca sedikit menghela napas, secara model meja dan kursi yang ada di lantai satu tidaklah terlalu spesial dan modelnya seperti yang sering digunakan pada kebanyakan restoran. Tidak mempermasalahkan itu lagi, pemuda rambut cokelat itu menatap datar ke arah orang-orang yang menjadi pegawai dari toko yang akan diolahnya.


 


 


Mereka semua duduk di lantai yang telah dipel, memotong-motong roti tawar menjadi dadu-dadu kecil. Entah itu keluarga mantan bandit atau Demi-human, mereka semua melakukan pekerjaan yang bagi Arca terlihat sangat tidak penting. Bersama mereka duduk di lantai, gadis kecil rambut putih keperakan terlihat sedang mengurus pembukuan dari pengeluaran uang toko kemarin.


 


 


Melihat gadis itu dengan mahir menggunakan sempoa dan menulis laporan keuangan meski tempatnya berada tidak kondusif, Arca sekilas kagum dan mendekat ke tempat gadis tersebut. Ia duduk di lantai bersamanya, lalu dengan senyum tipis bertanya, “Nanra, jumlah pengeluarannya menyentuh berapa kemarin?”


 


 


“Hmm? Masih aman .... ” Gadis bergaun putih yang duduk sila itu mengangkat wajah, menatap heran pemuda di depannya dan balik bertanya, “Malah pengeluaran paling banyak hari ini. Apa harga mebelnya tidak bisa turun lagi? Bawahanmu sungguh bisa menawar barang?”


 


 


“Tentu saja bisa!” jawab Logi yang merasa tersinggung mendengar perkataan gadis itu. Salah satu Butler yang masih berdiri di belakang Arca itu sedikit menatap tidak suka ke arah Nanra yang bertingkah seakan dirinya pemimpin sejak kemarin, pria tersebut mengerutkan kening dan terlihat ingin membentaknya.


 


 


Nanra balik menatap dengan sorot mata datar. Kembali menundukkan kepala ke arah kertas yang ada di depannya, perempuan itu hanya membalas, “Baiklah ....” Ia kembali mencelupkan pena bulu ke bak tinta dan lanjut membuat laporan. Tangan kanan menulis, tangan kiri menghitung menggunakan sempoa. Untuk anak seumuran dirinya, Arca merasa kalau Nanra memang sangatlah ahli dalam pekerjaannya.


 


 


“Kau bisa periksa laporan keuangan kemarin,” ucap Nanra dengan tetap fokus.


 


 


 


 


“Ada ....” Nanra menghentikan tangan, mengangkat penanya dan berkata, “Sementara aku tulis di balik laporan pertama itu. Lima digit awal 001.01 untuk pembelian, 002.01 untuk pengeluaran biaya, dan kode baru di laporan hari ini 003.01 untuk furnitur yang akan masuk ke dalam modal.”


 


 


Melihat pengodean yang dipakai Nanra, sekilas kening Arca mengerut karena nomor yang digunakan sangatlah banyak. Memang kode awal yang digunakan hanyalah lima digit, namun secara keseluruhan sampai sepuluh digit sendiri kalau ditambahkan dengan kode tanggal serta jenis transaksi.


 


 


Tidak memasalahkan cara pengarsipan tersebut karena memang itu tugas garis tersebut, Arca kembali meletakkan perkamen ke atas lantai dan berkata, “Laporannya memang rapi .... Tapi ....”


 


 


“Tapi?”


 


 


“Apa kita hanya seperti ini? Aku rasa dari kemarin kita belum menjalankan usaha, loh.”


 


 


Nanra menghentikan tangannya. Meletakkan pena dan menatap datar ke arah Arca, gadis rambut putih keperakan itu berkata, “Aku juga merasa begitu, Tuan Arca. Sebenarnya apa yang sedang kita lakukan, sih? Buang-buang uang?”


 


 


Arca memalingkan pandangan mendengar itu, ia juga tidak mendapat penjelasan lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk membangun sebuah toko. Pemuda dari keluarga Rein itu memang pandai dalam mengatur, namun ia belum pernah belajar soal tugas seorang manajer sebuah toko.


 


 


Di tengah rasa bingung kedua orang tersebut, tiba-tiba pintu toko terbuka dan seorang pemuda rambut hitam masuk ke dalam bersama dengan perempuan berambut pirang di belakangnya. Arca menoleh, kedua matanya terbuka lebar dan terlihat bingung karena seharusnya pemuda itu sedang menjadi tahanan rumah sebab masalah yang dibuatnya beberapa hari lalu.


 


 


“Odo ...?”


 


 


“Yo! Apa kalian sudah menyiapkan apa yang kuminta?”


 


 


Pemuda berjubah hitam itu menyapa dengan santainya, tersenyum ringan dan melihat memindai bagian dalam toko tersebut. Menarik napas dengan rasa lega karena semua anggota lengkap, dengan semangat ia berkata, “Sepertinya kau mengumpulkan mereka dengan baik, Arca.”


 


 


“Oi, tunggu sebentar ....” Arca bangun, sedikit mengerutkan keningnya dan menghadap putra tunggal keluarga Luke tersebut. “Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau sedang jadi tahanan rumah?” tanyanya sedikit kesal.


 


 


“Aku tak pernah bilang kalau jadi tahanan rumah ....” Odo menatap ringan, menepuk dua kali pundak Arca dan kembali berkata, “Dan juga, kenapa kau kesal seperti itu?”


 


 


“Kau menyerahkan tugas ini padaku!”


 


 


Putra keluarga Rien itu menatap kesal dan suaranya meleting di dalam ruang, membuat orang-orang yang sedang bekerja di ruangan tersebut menatap ke arah mereka berdua. Selain keluarga Demi-human, semua orang yang ada di ruangan tahu kalau pemuda yang datang tersebut adalah Odo Luke, namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu kalau perempuan yang ada di sebelahnya adalah Mavis Luke.


 


 


“Biar aku menyelesaikannya!” Arca merasa tidak dihargai karena Odo sendiri datang ke tempat meski telah mempercayakan tugas padanya, dengan kesal ia bertanya, “Kenapa malah datang ke sini! Untuk apa?!”


 


 


“Mempercepat ....” Odo hanya menatap datar, lalu dengan nada serius menjelaskan, “Waktunya semakin terbatas, aku ingin menyelesaikannya minggu ini. Paling tidak sampai toko ini bisa berjalan sendiri tanpaku.”


 


 


“Biar aku yang melakukannya!”


 


 


Sekilas Odo terdiam, dirinya memang paham sifat Arca yang seperti itu namun tetap saja menyerahkan semuanya putra sulung keluarga Rein itu akan memakan waktu. Memasang ekspresi datar dan menatap tajam, Odo berkata, “Tenang saja, aku juga akan memberikan tugas untukmu. Aku ke sini untuk pengaturan awal saja .... Santai saja, Arca.”


 


 


Odo menatap ke arah orang-orang yang duduk di lantai dan sedang memotong-motong roti di atas talenan. Di sana duduk Isla, Matius, keluarga Demi-human, dan Elulu. Paham kalau potongan roti yang telah disiapkan lebih dari cukup, pemuda rambut hitam itu langsung berjalan melewati Arca ke arah gadis rambut putih yang masih terduduk di lantai.


 


 


Berlutut satu kaki dan mengambil laporan keuangan, sekilas kornea mata pemuda itu berubah hijau dan menganalisa apa saja yang telah dipenuhi kemarin. Menarik napas dan menatap Nanra, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kau bekerja dengan baik, lanjutkan pekerjaanmu nanti di lantai dua.”


 


 


“Ukuran kursinya tidak pas, Odo.” Nanra meletakkan pena ke lantai, menatap datar pemuda di hadapannya dan berkata, “Mejanya tidak bisa kucapai ....”


 


 


“Hmm, benar juga.” Odo sekilas membayangkan posisi Nanra yang tidak mencapai meja meski duduk di atas kursi karena tinggi badanya. Mengangguk satu kali, pemuda mata biru itu berkata, “Nanti aku belikan bantal supaya pas.”


 


 


Odo berdiri dan sekilas meregangkan leher, lalu menghadap ke arah pegawai lain di ruang tersebut. Dengan suara ditinggikan ia berkata, “Kalian semua, bisa tolong bangun? Tinggalkan dulu pekerjaan kalian ....”


 


 


Semua orang yang duduk di lantai sekilas bingung mendengar perintah itu dan akhirnya bangun, kecuali Nanra yang masih harus menyelesaikan laporan dan agendanya. Menatap mereka satu persatu, pemuda dengan sorot mata biru itu paham kalau orang-orang tersebut memang belum mendapat pembagian kerja yang rapi.


 


 


Menatap lurus keluarga Demi-human, Odo sekilas tahu kalau kemeja dan celana hitam yang dikenakan mereka didapat dari dimensi penyimpanan. Ukurannya tidak sesuai dengan mereka, bahkan yang paling kecil dari keluarga Demi-human tidak mengenakan bawahan dan hanya memakai kemeja yang kedodoran.


 


 


“Apa kalian sudah dapat upah awalnya?” tanya Odo pada mereka.


 


 


“Be-Belum,” jawab yang paling tua di keluarga tersebut. Menatap dengan penuh rasa ragu, Demi-human tipe garbil itu bertanya, “Siapa Anda? Apa ... anda kenalan Tuan Odo?”


 


 


“Oh, kalian belum melihat wujud ini, ya?” Odo berjalan ke depan mereka, lalu dengan senyum ramah berkata, “Aku ini Odo Luke, anak yang kalian temui saat itu.”


 


 


“Eh? Tuan Penyihir Kecil?” ucap kakak perempuan termuda.


 


 


“Kalau dilihat-lihat, memang sedikit mirip,” sambung kakak perempuan tertua.


 


 


“Kakak penyihir!” Adik termuda mereka berjalan ke arah Odo, lalu memeluk dan mengendus-endus. “Ini memang kakak! Baunya sangat mirip!”


 


 


“Oh, kau bisa tahu rupanya! Hebat, hebat ....” Odo mengelus kepala gadis kecil tersebut, lalu tersenyum ramah dan membiarkannya tetap memeluk.


 


 


“He~he~!” Gadis kecil berambut krem bercorak gelap itu tersenyum lebar, menggerak-gerakkan kedua telinga tikusnya dengan meriah.


 


 


Sedikit menghela napas dan menatap ke arah ketiga Demi-human di hadapannya, Odo dengan serius bertanya, “Biasanya kalian kalau bekerja di tempat lain dapat upah berapa?”


 


 


“““Eh?”””


 


 


Ketiga Demi-human yang ditanyai itu bingung mendapat pertanyaan seperti itu, saling menatap dan tidak tahu harus menjawab apa.