Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 33: Sesuatu yang tak jauh dari tempatnya (Part 02)



 


 


Duduk bersama di ruang makan untuk sarapan, ada sesuatu yang berbeda terasa oleh anak-anak panti asuhan dan Siska. Menu sarapan mereka sederhana seperti biasanya, hanya roti hangat yang baru saja diangkat dari pemanggangan dan sup kaldu susu dengan isi potongan wortel kering dan suiran daging asap. Semua porsi dibagi rata di atas meja, siap disantap dan masih hangat.


 


 


Meski makanan telah tersaji rapi, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang mulai menyantapnya. Erial sempat ingin mengambil roti dan menggigitnya, tetapi tangannya di tahan Siska yang melarangnya untuk memakannya dulu. Berbeda dengan kembarannya, Mila terlihat kalem dan duduk tenang di depan sarapannya. Meski sudah tidak sabar makan dan air liur mulai luber keluar mulut, ia hanya menatap diam.


 


 


Dalam posisi duduk di meja persegi empat tersebut, Siska duduk di antara Mila dan Erial. Di samping Mila duduk Nesta, lalu di sebelahnya, di sisi lain meja duduk Daniel yang berseberangan dengan Firkaf.  Di seberangan Siska dan kedua anak kembar, duduk Nanra, dan di sebelahnya terdapat Odo dan Siska.


 


 


Apa yang mereka semua tunggu dan membuat mereka tidak segera menyantap makanan di meja adalah karena Odo— anak rambut hitam itu masih belum sedikit pun menyentuh sendok dan hanya menatap makanan dengan hening. Fiola menoleh heran, merasa sedikit terganggu dan mulai risih dengan sikap anak itu.


 


 


“Ada apa, Tuan Odo? Kenapa tidak makan? Kalau Anda belum makan, yang lain tidak akan mulai makan, loh ....”


 


 


Odo melirik datar mendengar perkataan Siska, lalu berkata, “Duluan saja, kenapa harus menungguku?”


 


 


“Itu tata krama ..., di tempat ini statusnya Anda yang paling tinggi.”


 


 


“Ah ..., begitu.” Odo bangun dari tempat duduk, lalu menggeser kursinya sendiri dan melangkah keluar dari lingkup meja makan. “Tunggu!” ucap Fiola seraya memegang tangan anak itu sebelum ia pergi. “Kenapa malah seperti itu? Apa tidak perlu sarapan?” tanya Fiola.


 


 


“Ya, sebenarnya aku tidak makan juga tak masalah. Mbak Fiola tahu alasannya, bukan?”


 


 


“Eng ..., memang benar, sih. Tapi ...! Anda harus menghormati Nona Siska yang sudah membuatkan makanan ini, jangan begitu, Tuan Odo.”


 


 


Fiola melepaskan tangan Odo, anak itu pun berbalik dan kembali duduk. Hanya menatap makanan yang ada, ia tidak menyentuh rotinya atau bahkan mengangkat sendok sup. Nanra yang melihat kelakuan anak itu mulai terusik, ia menyendok sup Odo, lalu bersiap menyuapinya.


 


 


“Buka mulutmu!”


 


 


“Apaan?”


 


 


“Sudahlah, makan saja! Ini aku juga yang membuatnya, kamu harus sarapan!”


 


 


“Aku tak lapa—!!”


 


 


Nanra langsung menyuapi Odo saat anak itu membuka mulut dan membuatnya memakan sup tersebut. Menarik sendok dari dalam mulut anak lelaki itu, Nanra menyendok sup dari mangkuk kayu dan bersiap untuk menyuapi anak itu lagi.


 


 


Melihat Odo sudah makan suapan pertama, semua anak panti asuhan dan Siska mulai menyantap sarapan mereka dengan lahap. Fiola tidak jauh berbeda dari mereka, mengambil roti panggang kering dan mulai memakannya seraya sedikit melirik ke arah Odo yang disuapi Nanra.


 


 


“Uhm, dagingnya keras, bumbunya cuma garam lagi,” ucap Odo dengan mulut penuh. Sebelum anak lelaki itu berkomentar pedas lagi, Nanra mengambil roti dan mencuilnya cukup besar, lalu memasukannya ke dalam mulut anak lelaki itu setelah mulutnya kosong. Sebelum semuanya selesai makan sarapan, porsi untuk Odo sudah habis lebih dulu dan Nanra tersenyum lega karena hal itu.


 


 


“Hah, kamu ini memang aneh, makan sendiri tidak bisa apa?”


 


 


Odo terdiam mendapat perkataan tersebut, matanya seakan mengatakan sesuatu dan hal tersebut tersampaikan cukup jelas pada Nanra. Memalingkan pandangan, gadis rambut putih itu baru menyantap sarapannya sendiri dengan sedikit tergesa-gesa.


 


 


“Ugkh! Ugh ....” Nanra tersedak. Tanpa berkata apa-apa, Odo menggeser gelasnya ke depan Nanra, dan gadis itu pun segera meminumnya.


 


 


Melihat tingkat komunikasi semacam itu, Fiola sempat merasa heran dengan hubungan kedua anak tersebut. Seraya menikmati sarapan yang disajikan, Huli Jing tersebut mengamati mereka dengan tatapan datar. Odo sekilas merasakan hawa tak wajar yang terpancar dari sisi lain tempatnya duduk, tetapi ia tak terlalu memedulikan hal tersebut dan tidak menoleh ke arahnya.


 


 


Saat semuanya menyelesaikan sarapan dan alat-alat makan dibereskan oleh Siska, anak-anak panti asuhan bangun dari tempat duduk dan segera menghampiri Odo. Yang paling cepat adalah si kembar, Mila dan Erial, kedua anak gadis berambut cokelat itu segera menarik-narik lengan tunik Odo.


 


 


“Tuan Penyihir! Tuan Penyihir! Apa kamu akan mengajari kami sihir lagi?” tanya Erial.


 


 


“Tolong ... ajari kami lagi,” sambung saudara kembarnya, Mila.


 


 


Kedua anak gadis berusia sekitar enam tahun itu terlihat sangat mirip, dari tinggi badan, gaya rambut terurai pendek dan warna cokelatnya, semuanya itu sangatlah mirip. Hal yang membedakan mereka secara fisik hanya dua, Mila mengenakan gaun merah pudar dan memiliki kornea mata cokelat keemasan, sedangkan Erial mengenakan gaun biru pudar dan memiliki kornea mata cokelat gelap.


 


 


Nesta berjalan ke arah kedua anak kembar tersebut, tersenyum ringan ke arah Odo dan berkata, “Maaf, Tuan .... Mereka mulai sangat tertarik pada sihir sejak Anda menjelaskannya kepada kami.”


 


 


“Bukannya Kak Nesta juga ingin belajar sihir? Tak perlu mencari alasan, aku juga suka membagi ilmu, kok.”


 


 


Anak perempuan berusia 14 tahun itu tersentak mendengar perkataan Odo, anak lelaki itu seakan melongok ke dalam kepalanya dan memahaminya dari dalam. Nesta hanya tersenyum dengan wajah memerah, tidak bisa mengelak dari perkataan tersebut. Daniel yang berdiri di belakang gadis itu tersenyum meledek, lalu berkata, “Tuh, dengar. Jangan sok alim begitu, deh. Kalau mau diajari, minta saja Apa kamu tidak tahu caranya meminta tolong?”


 


 


Nesta menoleh kesal, ingin menjitak Daniel tetapi anak lelaki itu menjauh kabur terlebih dulu. Tidak memedulikan mereka berdua, Firkaf yang terlihat selalu memegang buku mendekati Odo dan bertanya, “Tuan Odo, bisa Anda ajari saya tentang sihir untuk penempaan?”


 


 


Nesta dan Daniel terkejut, mereka didahului oleh anak yang biasanya terlihat lambat dan lemas itu. Merasa kesal, mulai menggeram di belakang Firkaf dan membuat anak kembar yang sedang memegang kedua lengan pakaian Odo gemetar takut.


 


 


“Ahaha, kalian menarik sekali, ya. Ramainya,” ucap Odo seraya tersenyum kecil. Menatap ke arah Firkaf, Odo menjawab permintaan anak itu, “Maaf, keahlianku hanyalah sihir Alkimia, soal penempaan aku baru paham dasarnya.”


 


 


“Begitu ..., ya ....” Firkaf sedikit kecewa, menundukkan wajahnya dengan murung.


 


 


“Tapi aku punya kenalan pandai besi yang cukup berpengalaman, loh .... Apa kamu ingin belajar darinya?”


 


 


“Sungguh?! Apa boleh?” Wajah Firkaf kembali berseri, menatap dengan semangat dan mengangkat bukunya tinggi-tinggi.


 


 


“Eng, entahlah. Kurasa tergantung sikapmu, nanti akan aku coba memperkenalkanmu padanya.”


 


 


“Hmm! Terima kasih!” Memeluk bukunya dengan ceria, anak lelaki yang terlihat lebih kurus dan tidak berisi itu menatap penuh rasa bahagia.


 


 


Melihat Firkaf mendapat apa yang diinginkannya, Daniel dan Nesta menatap iri dari belakang anak itu dan dengan jelas Odo merasakannya. Meski mereka seharusnya lebih dewasa dari Odo secara fisik, tetapi keduanya masihlah sangat kekanak-kanakan dan sama sekali tidak menyembunyikan rasa iri mereka.


 


 


“Kak, ajari kami sihir lagi, dong!” ucap Mila seraya menarik lengan kiri pakaian Odo. Ditarik ke sisi lain oleh Erial, anak itu juga berkata, “Aku juga! Aku juga! Ajari aku!”


 


 


Odo hanya memasang senyum pasrah, ia tidak terlalu suka berinteraksi dengan anak-anak meski dirinya mahir mengurus mereka. Melihat Daniel dan Nesta yang juga mengharapkan hal serupa, anak lelaki rambut hitam itu menghela napas ringan.


 


 


“Baiklah, aku akan ajari beberapa hal lagi. Duduklah!”


 


 


Wajah anak-anak itu langsung berseri senang, mereka pun langsung duduk di seberang Odo duduk. Nesta memangku Mila, sedangkan Daniel memangku Erial, hanya Firkaf yang duduk tanpa beban kecuali buku tentang bahan-bahan logam yang dipangkunya.


 


 


Mendapatkan tatapan aneh dari Nanra yang masih duduk di sebelahnya, sekilas Odo melirik dan berkata, “Nanra, kalau kamu sih, mau ikut?”


 


 


“Hmp! Terserah saja! Aku akan mendengarkan di sini.”


 


 


“Hah, malu-malu kucing nih ceritanya?” benak Odo seraya sedikit memalingkan wajahnya. Tetapi yang menunggunya saat berpaling adalah tatapan Fiola yang selalu mengawasi isi kepala anak itu, dan tentu saja perempuan itu mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.


 


 


Mendapat tatapan seakan mengintimidasi itu, Odo hanya merapatkan mulut dan kembali melihat ke arah Nesta dan lainnya yang duduk di seberang meja. Menghela napas ringan, ia bertanya, “Sampai mana kalian mendalami apa yang kuajarkan sebelumnya?”


 


 


Daniel mengangkat tangan kanan dengan cepat, lalu berkata, “Imajinasi! Dalam sihir itu sangat diperlukan! Gambaran jelas dari sihir harus bisa dipahami dan bentuknya harus jelas sebelum merapalkan mantra! Jika itu sudah dikuasai, sihir juga bisa aktif tanpa perapalan mantra!” Anak lelaki bermata merah itu melirik sombong ke Nesta, lalu menyeringai seakan memang dirinya bersaing dengan gadis itu.


 


 


“Hmm, kamu mengingatnya dengan tepat,” ucap Odo. Melihat ke arah yang lainnya, ia bertanya, “Apa kalian juga pemahamannya sampai pada tingkat itu juga?”


 


 


“Iya!”


 


 


“Hmm!”


 


 


“Ya~!


 


 


“I-Iya ....”


 


 


Jawab Nesta, Firkaf, Erial dan Mila secara serentak. Mendengarkan tersebut, Odo mengacungkan jari telunjuk kanannya dan berkata, “Kalau begitu, mari kita lanjut ke tahan selanjutnya. Untuk sekarang materi dulu tidak masalah, ‘kan?”


 


 


“Ya ..., itu terserah Anda, Tuan Odo. Kami akan mengikuti apa yang Anda ajarkan,” ucap Nesta.


 


 


“Hmm, Anda yang mengajari kami,” sambung Firkaf.


 


 


“Yah, kalau boleh aku sebenarnya ingin prakteknya .... Terutama ..., teknik pedang yang Tuan Odo miliki ...,” ucap Daniel.


 


 


Mendengar itu, Nesta dan Firkaf melirik tajam anak yang duduk di antara mereka, bahkan Erial yang duduk di pangkuannya dan Mila yang duduk di pangkuan Nesta menatap tajam anak lelaki yang selalu terlihat ceria tanpa beban itu.


 


 


“Teknik seperti itu hanya boleh dipelajari oleh Keluarga Luke,” ucap Fiola masuk ke dalam pembicaraan. Memberikan tatapan datar kepada anak lelaki bermata merah itu, ia kembali berkata, “Meski Tuan Odo mau mengajari kalian, tolong jangan terlalu besar kepala ....”


 


 


Mereka semua menundukkan kepala dengan rasa bersalah, perkataan itu membuat anak-anak itu kembali menyadari perbedaan derajat dan kembali paham dengan jarak kasta yang ada. Berbeda dengan Daniel, Nesta, dan Firkaf, kedua anak kembar menunjuk Fiola dan secara bersamaan berkata, “Kakak kecil galak~!”


 


 


“Pffft!” Odo tertawa kecil saat Fiola dikatai seperti itu. Menoleh ke arah Huli Jing tersebut, ia pun berkata, “Jangan cemas seperti itu, Mbak Fiola. Lagi pula, teknik yang kumiliki kebanyakan hanyalah teknik dasar dari keluarga Luke .... Mbak Fiola tahu aku belum diajari langsung oleh ayah, bukan?”


 


 


“Tapi ... Anda menguasai banyak teknik secara autodidak, ‘kan?”


 


 


“Iya juga, sih ....” Odo hanya tersenyum tipis, itu fakta nyata kalau dirinya memang sudah menguasai hampir semua teknik pedang dasar Keluarga Luke dan bahkan sudah menguasai teknik senjata lain.


 


 


 


 


Perkataan itu membuat suasana berubah sedikit canggung, secara tidak langsung perkataan Fiola kembali menyinggung kejadian dimana Nanra menusuk Odo di dermaga. Anak-anak di seberang Odo duduk menatap ke arah Nanra dengan sedikit kesal, seakan menganggapnya adalah pengganggu dan tidak diharapkan.


 


 


Menyadari itu sepenuhnya, Odo sedikit memasang wajah iba dan memegang pundak gadis rambut putih di sebelahnya. Dengan suara pelan, ia berkata, “Jangan murung seperti itu, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.” Nanra hanya mengangguk saat mendengar perkataan itu, menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa.


 


 


Melirik ke arah Fiola, Odo paham kalau perempuan itu sama sekali tidak paham dengan unsur dasar dari teknik pedang Keluarga Luke. Secara bentuk seni berpedang, keluarga Luke tidaklah memiliki aturan resmi karena pada dasarnya Aliran Luke hanyalah semacam wadah dari berbagai seni senjata yang ada di daratan Michigan.


 


 


Secara mendasar nama Luke sendiri memiliki beberapa makna. Selain bermakna dekat dengan Roh dan hal mistis, Luke juga memiliki karakteristik mudah beradaptasi dan perlambangan hasrat untuk berkembang serta meraih sesuatu. Melihat Fiola sama sekali tidak memahami filosofi keluarga yang dilayaninya cukup lama, Odo sedikit menghela napas dengan sedikit rasa sesal karena dirinya tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu dari orang-orang terdekatnya.


 


 


Mengangkat tangan dari pundak Nanra dan kembali menatap ke arah anak-anak lainnya, Odo berkata, “Kita lanjut saja pembahasannya, jangan pedulikan ucapan gadis cebol ini,”


 


 


“Cebol~!”


 


 


“Ce~bol~!”


 


 


Mila dan Erial menunjuk ke arah Fiola, lalu secara bersamaan kembali berkata, “Cebol!”


 


 


Fiola benar-benar merasa kesal, bukan kepada anak kembar tetapi kepada Odo. Menatap majikannya itu dengan kesal, ia hanya terdiam tanpa bisa berbicara apa-apa karena merasa akan kalah kalau berdebat dengannya. Sedikit menghela napas, ia memalingkan wajah dan mengembungkan pipinya seperti tupai yang mulutnya penuh dengan biji-bijian.


 


 


“Hmm, kalau begitu, mari kita bicara soal struktur sihir!” ucap Odo seraya mengacungkan telunjuk tangannya. Menunjuk ke arah Nesta, ia bertanya, “Pertanyaan, mengapa dalam mengaktifkan sihir memerlukan struktur sihir?”


 


 


“Itu ..., karena struktur sihir berfungsi sebagai jalur Mana dalam tubuh?” ucap Nesta dengan tidak percaya dengan jawabannya sendiri.


 


 


Sedikit memalingkan pandangan, Odo berkata, “Hmm, kurang lebih tepat. Apa itu yang kalian pelajari dari sekolah mingguan?”


 


 


“Ya ....”


 


 


Melihat memindai ke arah anak-anak di hadapannya, tidak terlihat ada yang ingin menyampaikan jawaban berbeda. Dari itu Odo paham kalau tingkat pengetahuan tentang struktur sihir mereka memang secara mendasar berbeda dan hanya sebatas itu, sangat berbeda dengan apa yang Odo pahami.


 


 


“Kalau begitu, aku tinggal menambahkan sedikit masukan saja,” ucap Odo. Menatap mereka dengan santai dan bersandar pada kursi, ia berkata, “Struktur sihir memang berfungsi sebagai jalur Mana, entah itu dari Inti Sihir atau hasil pengolahan Ether yang disuplai dari luar. Tetapi, secara mendasar struktur itu hanyalah sebuah media. Apa kalian tahu cara menciptakan struktur sihir?”


 


 


Nesta mengangkat tangannya lebih cepat dari Daniel, lalu menjawab, “Dengan mantra! Pada dasarnya mantra itu berfungsi untuk membentuk struktur, tetapi dengan menggunakan imajinasi untuk menggambarkan struktur, mantra juga bisa diloncati dan sihir bisa langsung aktif seperti yang pernah Tuan ajarkan! Kami telah mencobanya dan itu cukup efektif!”


 


 


“Hmm, kalau begitu, itu sama saja struktur sihir tidak diperlukan dalam penggunaan sihir, dong.”


 


 


“Eh? Benar juga ....” Nesta baru menyadari kejanggalan itu, begitu pula Daniel dan Firkaf. Mereka salah memahami konsep struktur sihir, mengira kalau itu hanyalah sebuah kerangka dari sihir.


 


 


“Daniel, Firkaf, kalau kalian? Apa kalian tahu apa itu sebenarnya unsur struktur sihir dari proses penggunaan sihir?” tanya Odo dengan sedikit menatap sipit. Duduk tegak, anak berambut hitam itu menunggu jawaban.


 


 


“Maaf, tidak tahu.”


 


 


“Eng, aku juga kurang paham ....”


 


 


Jawaban mereka tidak seperti yang diharapkan. Berpindah melihat ke arah kedua anak kembar, Odo bertanya, “Kalau Mila dan Erial, apa kalian tahu?”


 


 


Kedua anak kembar itu hanya memasang wajah bingung, meski mendengarkan tetapi bukan berarti mereka mengikuti pembicaraan. Mereka berdua hanya suka melihat Odo berbicara dengan serius dan mengajari yang lain.


 


 


Sedikit menarik napas ringan, Odo berkata, “Secara tidak sadar struktur sihir sudah terbentuk dalam kepala kalian. Penggunaan sihir, secara sederhana itu adalah akses awal ke Inti Sihir dan dialirkan melalui struktur sihir pada tubuh, lalu melebarkan struktur sihir itu keluar dan aktiflah sihir. Itulah fungsi imajinasi, untuk mempermudah pelebaran dan tak usah ada perapalan mantra. Singkatnya, itu adalah sebuah aliran Mana dalam tubuh.”


 


 


Mereka mengangguk paham, baru menyadari fungsi tersebut. Merasa ada berbeda dengan apa yang dipelajarinya, Nesta bertanya, “Berarti dalam tubuh manusia sudah ada struktur sihir dari awal?”


 


 


“Tidak, bukan dari awal,” koreksi Odo. Tersenyum senang mendapat pertanyaan seperti itu, ia mulai menjelaskan, “Itu awalnya terbentuk dengan sendirinya, dari informasi yang didapat melalui buku. Secara mendasar, seseorang bisa menggunakan sihir setelah memahami satu atau dua struktur sihir, lalu mengasahnya terus menerus dan barulah bisa menggunakan sihir dan Inti Sihir bisa aktif. Kalian bisa menggunakan sihir setelah belajar dan membaca buku tentang konsep sihir, bukan?”


 


 


“Benar juga ..., awalnya aku bahkan tidak bisa menggunakan sihir,” ucap Daniel dengan mata sedikit terbuka lebar, merasa ada sesuatu terhubung dalam kepala dan apa yang dirinya tidak dimengerti mulai jelas bentuknya. Menatap ke arah Odo dengan penuh rasa kagum, anak bermata merah itu berkata, “Setelah belajar konsep dan membaca beberapa struktur sihir, aku baru mulai bisa memanipulasi Mana. Yah, itu butuh waktu lama sekali, kurasa baru setahun aku baru bisa membuat api kecil.”


 


 


“Bukannya kamu baru saja bisa membuat suhu telapak tangan hangat?” singgung Nesta.


 


 


“Diamlah! Jangan sombong hanya karena sudah pakai sihir penyembuh!”


 


 


“Uhu~hu~”


 


 


“Hmm, kurang lebih seperti itu,” ucap Odo. Melihat ke arah Firkaf, ia bertanya, “Kalau kamu, sih?”


 


 


“Aku ... hanya baru memanipulasi api kecil. Setelah menggunakan metode yang Tuan Odo ajarkan tentang imajinasi, saya bisa membuat api biru kecil,” jawab Firkaf.


 


 


Mendengar jawaban tersebut, Nesta dan Daniel merasa disalip oleh anak yang terlihat lambat itu. Mereka berdua terbelalak, benar-benar meremehkan saingan mereka itu dalam bidang pembelajaran sihir.


 


 


“Hmm, itu tanda kalian masih tahap awal dan Inti Sihir kalian masih belum berkembang.” Odo tersenyum ringan, paham kalau tingkat sihir mereka masihlah sangat dasar dan Inti Sihir sama sekali belum dikembangkan.


 


 


“Tuan, caranya bagaimana supaya sihir kami cepat berkembang?” tanya Firkaf.


 


 


“Berlatih, hanya itu yang bisa aku sarankan,” jawab Odo. Menunjuk ke arah Firkaf, ia menegaskan, “Kalian harus memperbanyak pengetahuan, mendalami bagian yang ingin dikasai dan terus mengasahnya. Tidak ada jalan pintas dalam berlatih sihir, kalaupun ada itu taruhannya nyawa dan aku tidak menyarankannya ....”


 


 


Mereka bertiga memasang wajah murung, rasa percaya diri mulai turun karena mereka sadar tidak memiliki hak untuk terus belajar semacam itu terus menerus. Dalam kategori aturan Kerajaan Felixia bagi anak yatim piatu seperti mereka, paling tidak saat berusia di atas tujuh belas tahun mereka harus masuk ke dalam sekolah militer dan menjadi kadet yang paling tidak mengikuti masa latihan dua tahun. Itu merupakan wajib militer yang tidak memandang perempuan atau laki-laki, meski sudah tidak ada perang peraturan itu masih tetaplah berlaku untuk anak-anak yang tidak memiliki Keluarga.


 


 


Setelah lulus sekolah militer mereka harus menjalani wajib militer selama tiga tahun, lalu barulah mereka diberikan kebebasan untuk mendapat hak layaknya yang didapat oleh semua warga negara Kerajaan Felixia. Dalam kasus tersebut, kebanyakan anak laki-laki yang masuk ke dalam ranah militer lebih memilih menetap dan bagi perempuan masuk ke dalam ranah puritan. Sangatlah jarang ada anak-anak yatim piatu mengejar cita-cita setelah menyelesaikan wajib militer, kesempatan dan waktu mereka sangat sedikit untuk mengejar impian.


 


 


“Jangan memasang wajah seperti itu .... Aku tahu ada wajib militer yang akan memakan waktu kalian beberapa tahun untuk berbakti pada negeri, tapi bukannya kalian masih ada waktu mulai dari sekarang? Akan kuberitahukan beberapa metodenya ..., tapi kalau pembelajaran kalian cari sendiri.”


 


 


Mendengar itu, wajah mereka sedikit kembali ceria dan menatap dengan penuh rasa senang. Dengan serentak, mereka bertiga menjawab, “Ya!” Mila dan Erial ikut senang kakak-kakaknya itu kembali ceria, tersenyum lebar dan menatap ke arah Odo dengan wajah penuh bahagia.


 


 


Odo merasa sedikit lega dapat melihat ekspresi seperti itu. Sedikit menyipitkan mata, sekilas ia merasa ingin mencegah mereka terkena wajib militer. Tetapi karena memang sangatlah sulit menghindari hal semacam itu bagi anak-anak yang tidak memiliki latar belakang yang kuat untuk menghindarkan mereka dari itu, Odo hanya bisa menarik napas dalam dan berusaha fokus dengan topik.


 


 


“Baiklah, aku jelaskan,” ucap anak itu dengan ceria. Meletakkan kedua telapak tangan ke atas meja kayu, ia menjelaskan, “Pertama adalah kultivasi yang berorientasi pada Inti Sihir. Dengan meningkatkan kualitas Inti Sihir dan kuantitas Mana yang bisa diproduksi, secara langsung itu bisa meningkatkan sihir kalian.”


 


 


Bangun dari tempat duduk dan naik ke atas kursi, anak itu membungkuk ke atas meja dan mulai mengalirkan Mana pada ujung telunjuk kanan untuk menggambar sesuatu pada permukaan meja kayu. Odo menggambar ilustrasi orang dalam bentuk sederhana dengan teknik menulis Rune tersebut, lalu membuat bertulisan Core di tengah ilustrasi orang di atas meja.


 


 


“Metode ini paling sering digunakan oleh kebanyakan orang yang ingin menguasai Sihir dan Teknik Bela Diri,” jelas Odo. “Dalam kultivasi, biasanya dilakukan dengan cara meditasi secara rutin untuk meninggikan sihir. Dengan memasukkan dan mengeluarkan Mana secara rutin, itu dapat meningkatkan ketahanan sirkuit sihir dan pemulihan energi dalam Inti Sihir,” lanjutnya seraya kembali menggambar ilustrasi sederhana keluar masuk Mana dalam Inti Sihir memalui sirkuit sihir.


 


 


Nesta dan yang lainnya melihat penuh antusias, bahkan Nanra ikut bangun dari tempat duduk dan mengamati penjelasan Odo dengan ilustrasi gambar bercahaya di atas meja tersebut. Saat mereka selesai memahaminya, anak rambut hitam itu menggebrak meja dan membuat semua gambar melayang ke udara dan menghilang.


 


 


Kembali duduk ke kursi, Odo berkata, “Cara kedua adalah menyerap vitalitas dari Kristal Sihir.” Anak itu mengambil kristal sihir dari saku celana yang sebenarnya ia ambil dari dimensi penyimpanan pada gelang, lalu meletakkannya ke atas meja. Fiola sempat terkejut melihat Odo mengeluarkan Kristal Kualitas Terbaik yang harganya sangat malah itu, menatap cemas dan berharap Odo segera menyimpannya.


 


 


Odo mengangkat kristal itu, lalu menggenggamnya dengan erat dan langsung menyerap energi dari kristal itu sampai warnanya berubah pucat dan hancur menjadi abu. Fiola menganga saat anak itu menggunakan kristal berharga super malah tersebut dikonsumsi dengan cepat seperti itu, kehabisan kata-kata dan mulai mengerti mengapa anak itu bisa memiliki tekanan sihir tak wajar di usianya yang masih belia.


 


 


Tidak memedulikan ekspresi Fiola, Odo kembali menjelaskan, “Cara ini memang lebih cepat dari kultivasi yang cenderung harus tekun dilakukan, tetapi biayanya sangat banyak karena seperti yang kalian tahu kristal sihir itu sangat mahal .... Selain itu, ini bisa merusak sirkuit sihir kalau tidak diselingi dengan meditasi. Yah, mungkin ini kejam, tapi pilihan ini tidak dapat kalian dapat.”


 


 


Anak-anak itu tidak mempermasalahkan hal tersebut, mereka memang dari awal seakan tidak berharap dengan cara seperti itu dan telah terpaku pada cara yang Odo jelaskan paling awal. Tersenyum ringan melihat ekspresi mereka, anak rambut hitam itu melanjutkan penjelasannya, “Cara terakhir adalah membuat variasi dalam struktur.”


 


 


“Variasi?” tanya Nesta bingung, kata itu cukup asing baginya dan anak-anak lain.


 


 


“Hmm, dalam pembuatan struktur sihir ada berbagai macam cara,” jawab Odo. Mengacungkan telunjuk kanan setinggi dada, ia tersenyum ringan dan berkata, “Contohnya, kerajaan kita ini cenderung membuat struktur sihir dengan perapalan mantra, kekaisaran cenderung menggunakan segel tangan, sedangkan Kerajaan Ungea cenderung menggunakan Lambang Sihir yang diwariskan secara turun-temurun.”


 


 


Mendapat wawasan baru, wajah mereka berseri. Nanra yang tadi tidak tertarik ikut terbawa suasana dan menikmati pembelajaran tersebut. Dalam pengetahuan mereka, struktur sihir yang dipelajari hanyalah struktur sihir dari mantra saja yang memang menjadi ciri khas dari Kerajaan Felixia yang dikenal dekat dengan para Roh dan makhluk-makhluk mistis.


 


 


Tidak selesai dengan itu, Odo kembali berkata, “Selain tiga metode tersebut, ada juga cara dengan menggunakan medium seperti alat sihir atau artifak. Tetapi cara tersebut bukan berarti pengguna sihir menjadi kuat, itu hanya karena benda yang mereka gunakan.”


 


 


“Tapi kata Mbak Siska ... alat sihir itu sangat membantu saat menggunakan sihir. Pengguna sihir itu sangat dekat dengan alatnya, karena itu kebanyakan penyihir yang sudah handal malah menggunakan tongkat,” ucap Nesta.


 


 


“Yah, pada dasarnya alat sihir itu mengurangi beban struktur pada tubuh,” ucap Odo. Tidak menyanggah fakta tersebut, ia berkata, “Saat pengguna sihir mengaktifkan sihir, secara langsung aliran Mana dalam tubuh akan meningkat dan cenderung mengakibatkan beban pada tubuh. Kalau berlebihan pembuluh darah bisa pecah, bahkan berakibat kematian. Untuk itulah alat sihir ada.” Sebelum anak-anak kembali bertanya, Odo menambahkan, “Tidak semuanya Inti Sihir dan struktur sihir itu seimbang ketahanannya dalam tubuh, malah kasus di saat kedua itu seimbang sangatlah jarang. Tongkat Penyihir adalah alat untuk menyeimbangkan itu.”


 


 


Nesta dan yang lain menatap heran Odo. Kalau benar apa yang dikatakannya memang seperti itu, mereka bertanya-tanya mengapa anak rambut hitam tersebut bisa dengan bebas menggunakan sihir tanpa memiliki tongkat untuk menyeimbangkan kedua hal dalam sihir tersebut. Paham apa yang mereka rasakan dan terlihat dari ekspresi yang ada, Odo pun menjelaskan, “Aku tak perlu tongkat. Asal kalian tahu, tubuhku sendiri sudah menjadi medium atau juga bisa menjadi katalis dalam sihir. Tubuhku sudah seperti alat sihir sendiri, dengan intinya ada di sini.” Odo menunjuk keningnya sendiri, menyampaikan kalau apa yang mereka sebut struktur sihir tersimpan dalam kepala anak itu.


 


 


“Kita kesampingkan hal itu, mari kita bahas lainnya,” ucap Odo dengan santai tanpa memedulikan reaksi heran anak-anak di hadapannya.


 


 


Setelah itu, sampai Siska selesai beres-beres di dapur, mereka pun melanjutkan pembelajaran dan pembahasan sihir tersebut. Selain struktur-struktur sihir untuk pemahaman mereka, Odo juga mengajarkan metode meditasi paling dasar yang bisa dilakukan tanpa bantuan kristal sihir untuk mempercepat peningkatan Inti Sihir.


 


 


Metode meditasi itu adalah Jalan Permulaan, sebuah meditasi efektif tetapi jarang digunakan oleh para penyihir karena terbilang cukup memakan kalori tubuh dan membuat pemakai metode ini cenderung tidak bisa gemuk. Konsepnya hampir sama dengan yoga, menjernihkan pikiran dan memanfaatkan ketenangan serta pernapasan. Meski lambat, metode tersebut hanya perlu dilakukan satu kali sehari secara rutin dan dengan sendirinya Inti Sihir akan berkembang. Kelebihan dari metode itu hanya satu, porsi latihan bisa diatur sendiri secara bertahap dan tidak seperti meditasi lain yang memiliki batasan tertentu dalam pelatihannya.