Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 29: Dari padi yang ditanam pun bisa tumbuh ilalang (Part 03)



 


 


Berjalan menyusuri tempat tersebut, Odo dan Fiola kembali mampir ke beberapa tempat di distrik pengrajin itu. Mereka sempat masuk ke tempat peracik obat-obatan herbal, pengrajin kaca, perkumpulan tukang, pengrajin tembikar dan terakhir adalah toko yang menjual alat-alat sihir. Setiap masuk ke dalam tempat-tempat tersebut, anak itu melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan saat dirinya mendatangi bengkel pandai besi.


 


 


Ia memesan atau membeli barang-barang yang mereka jual, lalu mulai melakukan pembicaraan untuk mendapat informasi. Tentu saja tiap uang yang dikeluarkan untuk itu selalu Odo minta dari Fiola, dan tiap kali dimintai itu Huli Jing tersebut sedikit memasang wajah enggan. Anak itu melakukannya dengan benar-benar tekun dan rapi, meski mendapat informasi yang sama dari beberapa orang pun ia tetap mendengarkan dengan seksama dan teliti mencari perbedaannya.


 


 


Fiola hanya bisa kagum melihat anak itu dengan telaten melakukannya hampir pada tiap bangunan yang membuka pintunya. Ia tahu apa yang Odo lakukan itu untuk meningkatkan relasinya dengan mereka, tetapi dirinya tidak mengira kalau anak itu akan melakukannya dengan sangat serius.


 


 


Selesai mendatangi semua bangunan yang membuka pintunya di distrik pengrajin tersebut, tak disadari hari sudah mulai gelap dan lentera-lentera mulai dinyalakan. Salju tidak turun begitu lebat, meski begitu hawa dingin terasa semakin jelas saat kota mulai menggelap.


 


 


Pada distrik pengrajin, Odo dan Fiola keluar dari toko penjual alat-alat sihir setelah membeli barang dari tempat itu dan melakukan pembicaraan kecil dengan pemiliknya. Memegang sebuah kertas perkamen dengan struktur lingkaran sihir di atasnya, Odo memasang wajah kagum seakan menemukan hal baru lainnya.


 


 


“Ternyata sihir tingkat rendah banyak juga yang berguna untuk kebutuhan sehari-hari, ya. Aku belajar banyak,” ucap anak itu dengan kagum, wajah berseri-seri dan terlihat begitu polos.


 


 


Fiola yang berdiri di sebelahnya memasang ekspresi heran, ia menepuk pundak anak itu dan berkata, “Kembali ke kenyataan, Tuan Muda ....” Odo tersentak, anak itu keluar dari imajinasinya dan menoleh dengan wajah tersenyum lebar.


 


 


“Maaf, maaf .... Habisnya dari tadi aku banyak mendapat hal baru. Hmm! Banyak hal menarik di tempat ini, rasanya menyesal dulu setiap kali datang ke sini aku tidak sempat mampir ke tempat ini.”


 


 


Odo memasukkan kertas di tangannya ke dalam dimensi penyimpanan, lalu merentangkan kedua tangannya ke samping. Berbalik ke kanan dan mengambil dua langkah ke depan, ia berputar dan kembali menatap Fiola. “Kalau begitu, tinggal ke panti asuhan itu dan istirahat di sana!” ucapnya dengan ceria.


 


 


“Istirahat? Apa Anda berniat menginap di sana?”


 


 


“Ya!”


 


 


“Eeeeeeeeeh ....” Fiola memasang wajah enggan dan sedikit memasukkan bibirnya ke dalam mulut saat mendengar itu. “Lebih baik sewa saja penginapan, kita masih punya banyak uang,” bujuknya dengan wajah enggan dengan perkataan Odo.


 


 


“Enggak, ah .... Penginapan katanya banyak orang barbar.”


 


 


“Kata siapa? Yah, memang sih itu ada benarnya. Tapi kalau pilih penginapan yang harganya sedikit lebih mahal, kurasa orang-orang seperti itu tidak ada. Ya, kita ke penginapan saja?”


 


 


“Ogah ....”


 


 


Anak itu berbalik, lalu mulai berjalan menyusuri jalan utama distrik untuk menuju panti asuhan yang terletak di daerah dermaga. Wajah pasrah terlihat pada raut Fiola, ia menghela napas ringan dan terpaksa mengikuti kehendak anak itu.


 


 


Saat menyusuri jalan mereka baru sadar kalau saat malam Kota Pesisir sangatlah terlihat sepi, hanya beberapa orang yang masih keluar dan itu pun kebanyakan adalah penjaga kota yang sedang berpatroli seraya membawa lentera. Mereka berdua sempat didatangi oleh penjaga dan ditanyai identitasnya. Tetapi saat Fiola menunjukkan sebuah perkamen sebagai tanda seorang Shieal, penjaga tersebut langsung berlutut dan meminta maaf karena sudah mengambil waktu mereka. Itu terjadi tidak hanya satu atau dua kali, tetapi sampai lima kali sampai akhirnya tiba di depan panti asuhan yang mereka tuju.


 


 


Fiola merasa enggan saat melihat bangunan tersebut, ekspresinya tidak jauh berbeda saat dulu pertama kali Odo mengajak Julia ke tempat itu. Berbalik menghadapnya, anak berambut hitam itu bertanya, “Kenapa kalian tidak suka dengan tempat seperti ini?”


 


 


“Kalian? Si Julia juga enggan masuk ke tempat ini, ya? Kalau sudah tahu, kenapa Anda membawa saya kemari? Sedang usil?” Fiola menatap datar, wajahnya sedikit kesal dan benar-benar tidak ingin menginjakkan kaki ke dalam bangunan di depannya.


 


 


“Enggak, kok. Aku juga ada keperluan, makanya ke sini .... Lagi pula kenapa? Apa seburuk itu tempat ini?” tanya Odo dengan heran.


 


 


“Auranya ....”


 


 


“Aura?”


 


 


“Auranya ada sedikit hawa-hawa sucinya. Saya dan Julia memiliki penciuman yang tajam soal seperti ini, jadi rasanya tidak nyama.”


 


 


“Hawa suci?” Odo sedikit memiringkan kepalanya. “Kalau Nekomata memang wajar karena mereka tidak suka seperti itu, tapi bukannya Mbak Fiola tergolong Hewan Suci?”


 


 


“Sudah kuduga Tuan Odo sedang usil .... Diriku memang hewan suci dan aroma ini memang tercium wangi bagi saya. Tetapi ..., memangnya Anda akan betah saat berada di ruangan yang udaranya penuh dengan aroma parfum yang menyengat? Waktu menjemput Anda juga saya mati-matian menahannya ....”


 


 


“Ah ....”


 


 


Odo memahami hal tersebut, itu memang terasa sangat mengganggu dan tidak menyenangkan. Apa lagi kalau sedang menyantap makanan atau ingin tidur, aroma wangi menyengat memang sangatlah mengganggu. Tetapi saat kembali mencermati perkataan Fiola, anak itu merasa sedikit ada yang aneh.


 


 


“Kalau hawa suci bagi Mbak Fiola seperti aroma harum, kok betah dekat-dekat terus dengan Ibuku?”


 


 


“Ah? Tentu saja karena aromanya berbeda .... Nyonya harumnya pas, tidak menyengat seperti tempat ini ...”


 


 


“Kalau begitu silakan tidur di luar.” Odo mengacuhkan perkataan tersebut dan membuka pintu pagar tempat tersebut.


 


 


“Eh? Sudan dijelaskan kok malah tidak peduli?!”


 


 


Odo menoleh, menatap datar dan berkata, “Peduli? Sejak kapan aku peduli pada Mbak Fiola?”


 


 


“Kejinya!”


 


 


“Hmmm.” Odo tersenyum tipis, lalu berkata, “Bercanda, kok .... Tapi ... jujur aku harus masuk ke tempat ini. Kalau Mbak Fiola tidak suka, silakan saja cari penginapan terdekat. Nanti pagi-pagi datang ke sini ....”


 


 


Huli Jing tersebut menatap ragu, rasa tidak percaya terlihat jelas pada raut wajahnya. Menggelengkan kepala, ia berkata, “Tidak usah, saya ingin melaksanakan kewajiban yang diberikan Nyonya.”


 


 


“Terserah saja, sih.”


 


 


Odo kembali melihat ke arah panti asuhan dan berjalan menuju pintu. Saat hendak menyentuh pintu, kakinya menginjak sebuah struktur sihir tidak kasatmata yang terasa aneh dan itu pun hilang dengan cepat. Tidak ada efek dari itu, Odo pun tidak sempat melihatnya dengan jelas karena terlalu tiba-tiba.


 


 


“Apa tadi?”


 


 


Pintu bangunan panti asuhan terbuka, Siska dengan ekspresi tergesa-gesa terlihat di sana. Ia berbeda saat Odo melihatnya di Gereja Utama, perempuan berambut pirang itu mengenakan tunik sederhana untuk sehari-hari. Tetapi saat anak itu mencium aroma wangi dan melihat rambutnya yang masih basah, ia tahu kalau perempuan itu baru saja selesai mandi.


 


 


“Hmmm, sampo juga terjangkau untuk kalangan bawah, ya. Kurasa tidak juga, Siska termasuk ...,” benak Odo, ia sesaat terdiam mengamati perempuan itu.


 


 


“Tuan Odo ...? Kenapa Anda menatap saya seperti itu?” tanya Siska.


 


 


“Habis mandi? Pakai sampo?” Dengan santai Odo melontarkan pertanyaan yang tidak ada tata krama pada seorang perempuan. Fiola menjewer telinga anak itu dari belakang dan menegur, “Kalau tanya yang wajar, Anda itu seorang bangsawan ....”


 


 


“Sakit ...,” ucap anak itu dengan nada datar.


 


 


Berhenti menarik telinga anak itu, Fiola menatap ke arah Siska. Mengamati perempuan tersebut, dirinya sedikit paham mengapa biarawati itu baru saja mandi dan menggunakan sampo wangi seperti itu. “Ah, dia baru pulang dari tempat kerjanya, ya. Pasti dia juga mendapat sampo dari Imam itu setelah mendengar Tuan Odo akan datang,”  benak Fiola dengan ekspresi paham akan hal tersebut.


 


 


Odo sedikit kesal karena Huli Jing terebut paham sendiri dan tidak memberitahunya. Melihat ke arah Siska, ia bertanya, “Boleh aku masuk?”


 


 


“Ya ..., tentu saja. Tapi ..., tidak apa-apa datang malam-malam? Tidak pulang dulu?”


 


 


“Hmm? Kenapa?”


 


 


“Itu ... anak kecil berdua keluar malam-malam .... Ya, saya tahu kalau Tuan Odo kurasa tidak masalah, tapi gadis di samping Anda ....”


 


 


“Tenang saja, dia bukan gadis.”


 


 


“Maaf sebelumnya tidak memperkenalkan diri, Nona Siska.” Fiola sedikit menunduk memberi rasa hormat, kembali berdiri tegak ia berkata, “Saya adalah salah satu dari Shieal, Fiola. Ini adalah salah satu wujud saya ..., karena beberapa alasan saya harus menggunakan wujud ini saat mendampingi Tuan Odo.”


 


 


“Fiola ...? Fiola sang Hewan Suci itu?!” tanya Siska panik.


 


 


“Ya ....”


 


 


“Apa  ... itu sihir transformasi?”


 


 


“Benar.”


 


 


“Ehem! Boleh kami masuk?” sela Odo.


 


 


Pembicaraan panjang dihentikan oleh anak itu, setelah itu pun mereka bertiga masuk ke dalam bangunan Panti Asuhan Inkara. Saat melangkahkan kaki ke dalam, hidung Fiola berkedut-kedut dan ia memasang wajah sedikit enggan dengan aroma yang dihirupnya.


 


 


.


.


.


.


 


 


Ruangan dengan kesan klasik tersebut sudah tidak lagi membuat Odo merasa tertarik saat memasukinya. Di dalam panti asuhan, mereka bertiga duduk di ruang makan yang berada di ruangan tengah bangunan tersebut. Lilin dinyalakan, lentera minyak digantung, dan ruangan terlihat cukup rapi meski suasana sunyi terasa kuat. Di atas meja terdapat taplak anyaman biru yang di atasnya terdapat stoples manisan kering dan cemilan lain sebagai jamuan.


 


 


Fiola duduk bersebelahan dengan Odo, sedangkan Siska duduk di seberang mereka. Menatap perempuan itu sudah mengeringkan dan menata rambutnya dengan ikat kepang tunggal, anak dengan sorot mata biru itu memasang wajah heran. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa atmosfer di ruangan tempatnya berada terasa begitu berbeda.


 


 


Siska melepaskan pita biru yang menghiasi rambutnya, lalu meletakkan itu ke atas meja dan menatap ke arah Odo dengan wajah sedikit memerah. Anak itu semakin heran, sedikit memiringkan kepala dan benar-benar memikirkan apa maksudnya itu.


 


 


Tidak bisa menangkap apa yang ingin disampaikan Siska, anak itu malah dengan terang bertanya, “Kok kelihatannya banyak makanan, ya? Apa tidak masalah? Bukannya persediaan katanya sedang menipis?”


 


 


Perempuan rambut pirang itu tercengang anak itu malah menanyakan hal tersebut, ia sedikit menghela napas dan tersenyum tipis. Fiola menatap jengkel anak itu dari samping, bibir atasnya sedikit masuk ke mulut dan matanya terbuka lebar. Mendapat reaksi seperti itu Odo semakin tidak paham apa yang sedang terjadi.


 


 


“Yah, ini hanya saran iseng Tuan Andreass, kurasa salahku mengikutinya,” ucap Siska.


 


 


“Maafkan ketidaktahuan Tuan Odo, ia masih belum mendapat pendidikan semacam itu. Nona tahu, usianya masih ...,” balas Fiola.


 


 


“Tak apa, saya juga tidak tahu diri melakukan ini kepada Anak Marquess.”


 


 


“Jangan rendah diri, soal ini semua orang punya kesempatan.”


 


 


Alis Odo terangkat karena mereka melanjutkan pembicaraan tanpa dirinya. Menghela napas dengan berat, ia menyela, “Apa yang kalian bicarakan?”


 


 


“Hmm, tak apa. Nanti Tuan juga tahu,” ucap Fiola dengan tersenyum senang. Itu terasa seperti sindiran, kembali membuat alis anak itu terangkat.


 


 


“Jadi, Tuan Odo sebenarnya datang ke sini untuk apa?” tanya perempuan rambut cokelat kehitaman itu. Telinga rubah yang dirinya sembunyikan dengan sihir transformasi mulai muncul kembali dan bergerak-gerak.


 


 


“Ceramah.”


 


 


“Hah?” Fiola terkejut bingung, begitu pula Siska. Mereka berdua saling menatap, lalu menggelengkan kepala dan sama sekali tidak tahu-menahu tentang apa yang dikatakan anak itu.


 


 


“Lebih tepatnya menceramahi seseorang ....” Odo menatap Siska, dengan ekspresi serius anak itu bertanya, “Apa Nanra ada? Dia tidak kabur, ‘kan?”


 


 


Siska terlihat cemas mendengar itu, ia dengan ragu berkata, “Dia ada ..., anak itu berada di kamarnya dengan yang lain.”


 


 


“Hmm, kalau begitu syukurlah.”


 


 


Odo terlihat kehilangan rasa tertarik dengan hal itu. Ia mulai mengambil kertas perkamen dan alat tulis tinta dari Gelang Dimensi, lalu memulai mengisinya dan sibuk dengan itu. Siska bingung melihat anak itu malah menyibukkan diri, dirinya kira Odo datang dengan maksud menghukum Nanra saat anak itu bertanya seperti tadi.


 


 


“Apa ... Anda tidak ingin menghukumnya?” tanya Siska.


 


 


 


 


“Anak itu ..., Nanra adalah orang yang menusuk Anda. Meski dirinya hanya dihasut, tetapi fakta itu tetap ada.”


 


 


Mendengar itu Odo berhenti membuka buku catatannya. Ia meletakkan itu ke atas yang tingginya sampai sedada saat dia duduk di atas kursi. Menarik napas dalam-dalam, anak itu merasa resah dan terlihat tak ingin membahas hal tersebut.


 


 


“Kak Siska, jujur aku juga bingung dengan masalah ini .... Kalau bisa, aku juga tidak keberatan Nanra diurus dengan hukum resmi. Tidak ada alasanku untuk melindunginya .... Alasanku meminta Nona Lisia untuk tidak memasukkannya ke dalam sel penjara hanya satu, aku tak ingin panti asuhan ini tercoreng .... Kak Siska tahu alasannya, bukan?”


 


 


Siska menundukkan kepala, ia paham akan hal tersebut setelah melakukan pembicaraan dengan Odo di Gereja Utama sebelumnya. Dalam rencana yang anak itu buat, nama baik dan wajah depan sangat diperlukan untuk keberhasilan. Siska adalah orang cukup ternama dari Pihak Religi kota, kalau ada rumor salah satu anak asuhnya masuk bui karena kasus tersebut bisa sangat berakibat fatal bagi rencana.


 


 


Suasana berubah senyap seketika, tidak ada yang berbicara lagi dan angin malam yang masuk melalui sela-sela dinding menambah hawa dingin. Fiola sama sekali tidak merasakan itu, baik hawa dingin atau suasana canggung yang ada. Ia menatap datar Siska, lalu menyipitkan matanya tanpa berkata apa-apa.


 


 


Di tengah suasana senyap tersebut, perlahan pintu di ruang tersebut yang terhubung dengan dapur terbuka. Gadis yang dikira sedang berada di kamarnya dengan anak yang lain berada di sana dan mendengarkan semua pembicaraan dari dapur. Rambut putih yang mencolok, sorot mata biru violet yang tak asing, serta penampilan sederhana dari gaun putih polos. Dengan jelas Odo tahu kalau gadis itu adalah Nanra.


 


 


“Kenapa kamu ada di situ?” Siska bangun dari tempat duduk, menatap anak itu dengan panik seraya berkata, “Kenapa kamu tidak mau menuruti perkataan Kakak, sudah kubilang kamu harus menunggu di kamar dengan yang lain sampai pembicaraan selesai ....”


 


 


Nanra sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalahnya, baik tentang larangan Siska atau kejadian di dermaga menyangkut Odo. Ia menatap gelap anak berambut hitam itu dan Fiola, menunjukkan kebencian pada bangsawan dan kalangan atas. Meski setelah apa yang terjadi, rasa benci pada diri Nanra sama sekali tidak berkurang.


 


 


“Kenapa kau kemari lagi?” tanya gadis berambut putih itu.


 


 


“Kamu ini ....” Siska kehabisan kesabarannya.


 


 


Odo bangun dari tempat duduk dengan tiba-tiba sebelum Siska melangkah, lalu berjalan menghampiri gadis tersebut. Berdiri di hadapan dan menatapnya dengan datar, anak bermata biru itu bertanya,  “Apa kau sudah baikkan? Lihat gigi depanmu hampir habis semua ....”


 


 


“Apa kau datang hanya ingin berkata itu, Tuan Anak Marquess?”


 


 


Gadis itu menatap dengan tajam, penuh kebencian yang meluap. Itu sangat tidak berdasar, hanya sebuah rasa pelampiasan yang diarahkan dengan salah. Odo memahami itu, dirinya berusaha memaklumi hal tersebut dan menahan rasa kesal yang juga mulai meluap.


 


 


“Hmm, sama sekali tidak merasa bersalah meski sudah terjadi seperti itu, ya?” tanya anak rambut hitam itu dengan nada santai.


 


 


“Merasa bersalah? Untuk apa?! Aku bahkan sekarang masih berharap kalau kau sebaiknya mati saja saat itu!” ucap Nanra dengan amarah meluap. Gadis itu benar-benar tidak menunjukkan rasa bersalahnya.


 


 


“Apa tidak cemas dengan tempat ini? Bisa s—”


 


 


“Cemas?! Aku bukan anggota tempat bobrok ini!? Memangnya siapa yang sudi!” Menunjuk Siska, gadis itu dengan tidak tahu diri mencaci, “Perempuan munafik itu yang seenaknya saja membawaku ke tempat ini setelah aku kehilangan keluargaku! Aku sama sekali tidak meminta untuk ditolong! Lagi pula ....”


 


 


“Lagi pula?”


 


 


“Ini semua kesalahan para bangsawan ..., andai saja mereka lebih kompeten ... pasti Ibu dan Ayahku masih hidup. Aku benci para bangsawan!!”


 


 


Odo menatap semakin datar, ia mendengarkan tetapi tidak merasakan empati pada gadis itu. Sedikit menghela, ia berkata, “Aku tahu itu, kau sebelumnya pernah memberitahuku.” Memasang wajah muram dan sedikit menyipitkan mata, ia kembali berkata, “Tapi ..., kau yang secerdas ini dan sudah paham masalah-masalah itu seharusnya tahu kalau menusuk orang adalah kejahatan, bukan?”


 


 


“Itu ....” Gadis itu terdiam, ia tidak bisa berargumen dan menyadari kalau hal tersebut memang kejahatan.


 


 


“Kamu tahu ..., Nanra .... Ditusuk dari belakang itu sangat menyakitkan, apa lagi dengan pisau beracun seperti itu.”


 


 


“....” Nanra melangkah mundur, merasa bersalah soal itu.


 


 


“Karena itu ..., paling tidak kau tahu konsekuensinya, bukan?” Menatap rendah gadis di hadapannya, Odo mulai mengeluarkan pikiran keruh yang ditahannya. Ia berkata seperti itu bukan karena alasan logis, tetapi benar-benar terbawa emosi.


 


 


“Apa kau akan memenjarakanku ... dengan wewenangmu sebagai anak bangsawan?”


 


 


Benang kesabaran anak rambut hitam itu putus. Ia mengerutkan wajahnya dan termakan emosi yang mulai naik ke permukaan. Dengan kesal, ia berkata, “Haaah! Kenapa kau sangat membenci bangsawan seperti itu? Apa kau bodoh?”


 


 


“Ketidakbecusan mereka membunuh keluargaku! Mereka yang bodoh!”


 


 


“Kau salah membenci .... Yang membunuh keluargamu adalah para bandit, kenapa bangsawan yang malah kau benci?”


 


 


“Karena mereka para bandit merajalela! Karena mereka tidak komp—”


 


 


Odo memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ke mulut Nanra sebelum dia menyelesaikan perkataan, terus ke dalam sampai gadis itu tersedak dan mendorong balik. “Ugh! Apa yan—” Odo menjegal kaki gadis itu, lalu menjatuhkannya ke lantai. Menaikinya tubuhnya dan duduk di atasnya, anak itu menahan Nanra supaya tidak bangun.


 


 


“Jadi ..., apa kau ingin bilang kalau kau berada di posisi pemimpin bisa memberikan hasil yang lebih baik, bocah? Jangan pikir hanya karena sudah tahu satu atau dua kata sulit kau seakan memahami segalanya ....”


 


 


“Itu ....” Nanra mulai gentar, Odo benar-benar menatapnya dengan gelap.


 


 


“Kau tahu, Nanra .... Karena tindakkan bodohmu— dengan menusukku di pelabuhan, menurutmu berapa orang mati? Berapa orang yang harus kubunuh saat kau melakukan hal bodoh itu? Pemberani? Kau pasti berpikir kalau tindakanmu itu perwakilan mereka, tapi ... aku tahu orang sepertimu ..... Kau ... menyesal setelah menusukku, bukan? Dikhianati seperti sampah ....”


 


 


“Orang-orang Kerajaan Moloia itu yang salah! Bukan aku!”


 


 


Odo benar-benar kehabisan kesabaran saat mendengar itu, ia menatap rendah dengan penuh amarah gelap. Dengan suara serak, ia berkata, “Sekarang malah menyalahkan orang lain dari kesalahan sendiri? Dasar tidak tahu malu! Radahan ....”


 


 


“Berisik! Memangnya kau tahu apa soal orang-orang seperti kami! Kami itu lemah, tak punya kekuasaan atau kekuatan! Yang bisa kami lakukan hanya hal seperti ini! Kami selalu ditindas dan terpuruk! Apa kau tahu perasaan kami!!?”


 


 


“Aku tak tahu .... Memangnya aku tahu perasaan orang-orang sepertimu .... Tapi ... paling tidak kau tahu kalau hanya dimanfaatkan oleh mereka, bukan?”


 


 


“Bukan! Aku tidak dimanfaatkan! Aku yang memanfaatkan mereka! Aku pasti akan membunuhmu!”


 


 


Mendengar perkataan dari gadis keras kepala itu, Odo memasang wajah menyerah dengan penuh rasa lelah. Ia dalam benak memutuskan berhenti untuk meyakinkan gadis tersebut dengan perkataan. Mengepalkan tangan dan mengangkatnya, anak itu berancang-ancang melancarkan tinju ke wajah Nanra.


 


 


“Tuan, tungg—!!”


 


 


Suara Fiola tidak didengarkan Odo, anak itu melancarkan pukulan dengan keras ke wajah gadis itu dan membutanya memar. Buark! Kembali mengangkat tangan, ia memukul dan memukulinya sampai wajah gadis itu berdarah dan tangannya sendiri terluka.


 


 


Fiola bergegas menghentikan Odo dan memisahnya dari Nanra. Gadis itu meringkuk dengan ketakutan dan Siska langsung memeluknya. Dengan sorot mata Odo sangat murka, meski telah ditahan oleh Fiola anak itu tetap mengepalkan tangannya sampai berdarah.


 


 


“Membunuhku? Biar kubunuh kau BOCAH GOBLOK!! Mungkin saat mati kebodohanmu itu bisa sembuh! Biar kurobek mulutmu itu! Kupenggal lehermu itu!! Kupotong lidahmu supaya tidak bicara tolol seperti itu lagi!!”


 


 


Odo benar-benar kehilangan pikiran tenangnya, anak yang biasanya terlihat kalem dan sabar itu sangat murka. Ia meronta-ronta dan berusaha menerjang ke arah Nanra, kalau tidak ditahan sekuat tenaga oleh Fiola mungkin dirinya memang akan membunuh gadis itu.


 


 


Mendapat murka seperti itu, Nanra gemetar ketakutan dan meringkuk dalam pelukan Siska. Ia tidak tahu kalau Odo akan semenakutkan itu saat marah. Sifat keras kepala pada dirinya berganti dengan sesal dan takut, ia tak bisa apa-apa selain menatap gentar dari balik pelukan Siska.


 


 


“Apa yang kamu lakukan, cepat bawa anak itu pergi dulu!!” ucap Fiola.


 


 


Segera Siska menggendong Nanra, lalu berlari keluar dari ruangan untuk melindungi anak itu dari amukan Odo. “Lepaskan! Biar aku beri pelajaran pada si bodoh itu!”


 


 


Odo meronta-ronta, sampai tak sengaja memuluk kepala Fiola dengan keras dan membutanya berdarah.  Tetap menahan anak itu, Fiola tidak melepaskannya. Ia tahu kalau Odo benar-benar akan membunuh gadis itu dengan kondisi seperti sekarang, dan kelak ia akan menyesalinya kalau melakukan itu.


 


 


“Tuan Odo ..., kumohon tenanglah ....”


.


.


.


 


 


 


 


Beberapa menit kemudian, sedikit demi sedikit amarah Odo mulai mereda dan ia berhenti meronta. Fiola berhenti memeluknya dari belakang saat anak itu mulai lemas, ia menatap muram anak yang terduduk lesu di lantai tersebut.


 


 


Ruangan terlihat kacau, stoples dan cemilan berserakan, tinta berceceran dan meja sampai terbalik karena amukkan Odo. Darah menetes keluar dari kepala Fiola, perempuan itu mengambil kursi yang tergeletak dan duduk sampai memegang kepalanya yang terluka.


 


 


“Tuan ..., apa tujuan Anda datang ke tempat ini untuk mengamuk? Kalau iya, memang sebaiknya kita pergi ke penginapan saja tadi ....”


 


 


Odo tidak menyaut, ia duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya. Menoleh ke arah Huli Jing tersebut, anak itu berkata, “Maaf ..., aku ... hanya lelah. Padahal sudah berusaha sekeras ini ..., tapi mengapa aku harus dimaki seperti itu? Kenapa sampai dia sampai berkata seperti itu ...? Apa ... karena aku lahir dari keluarga bangsawan?”


 


 


Fiola terbelalak melihat ekspresi anak itu. Air mata menetes membasahi pipinya, layaknya seorang anak kecil yang tidak berdaya. Benar-benar lemah, tanpa perlindungan dan sangat rapuh. Melihat ekspresi itu dalam dada Fiola terasa sesuatu yang berdenyut, sakit dan membuatnya memasang wajah menyesal.


 


 


Bangun dari kursi, Fiola langsung berlutut di hadapan Odo dan memeluknya dengan erat. “Maaf ..., Tuan. Saya tidak sadar kalau selama ini Anda memaksakan diri .... Padahal dari tadi saya berada di samping Tuan dan tahu apa saja yang telah Anda lakukan, tapi malah berkata seperti itu,” ucap Fiola.


 


 


Kreek!


 


 


Suara pintu terbuka, dan itu membuat mereka sedikit tersentak. Melihat ke arah tersebut, anak-anak lain panti asuhan mengintip dengan rasa cemas. Nesta, Daniel, Firkaf, dan si kembar Erial dan Mila, mereka semua keluar dari kamar setelah mendengar kegaduhan yang dibuat Odo.


 


 


Melihat mereka menatap takut, Odo segera mengusap air mata dan berhenti memasang wajah sedih. Tersenyum dengan kaku, ia berkata, “Maaf membuat kegaduhan. Apa itu mengganggu kalian?”


 


 


Mereka semua masuk ke dalam ruangan. Berdiri di depan pintu, kelima anak itu melihat ruangan yang kacau dengan bingung. Daniel bertanya, “Kenapa ruangan ini? Apa terjadi sesuatu, Tuan Penyihir?” Anak lelaki bermata merah itu yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada wajahnya. Ia berjalan ke depan, lalu kembali bertanya, “Kenapa ... tadi Kak Siska berlari keluar membawa si Nanra?”


 


 


Odo terdiam mendapat pertanyaan itu, ia memalingkan wajahnya dengan rasa bersalah. Si kembar Erial dan Mira berlari ke arah Odo, lalu ikut memeluknya bersama Fiola. Menatap Daniel, si kembar bersamaan berkata, “Kak Dani jahat! Jangan jahili Tuna Penyihir!” Odo terkejut mendengar perkataan dari kedua anak polos itu.


 


 


Mengangkat wajah dan benar-benar menatap mata mereka semua, Odo kembali meneteskan air mata dan menyesali apa yang telah dirinya perbuat sebelumnya. Itu sudah tidak bisa diulang kembali, kesalahannya saat terbawa amarah dan memukul Nanra, serta berkata seperti sangat membuat hatinya sakit. Itu terasa lebih menyakitkan dari pada dirinya ditusuk dengan pisau, terasa dalam dan benar-benar membuat napasnya sesak.


 


 


Mereka hanya polos, murni dan mengikuti apa kata hati mereka saja. Anak-anak panti asuhan masihlah seorang anak-anak, begitu pula Nanra. Mengatakan hal seperti itu dan membentaknya dengan amarah, apalagi melakukan kekerasan adalah tindakan tidak beradab yang paling Odo benci. Melakukan hal seperti benar-benar membuat dirinya merasa hina.


 


 


Sekilas kenangan dari kehidupan sebelumnya terlintas dalam kepala Odo. Itu saat dirinya bertengkar dengan anak tetangga dan dalam pertengkaran itu ia membuat anak tetangga itu babak-belur. Itu hanyalah sebuah pertengkaran biasa seorang anak kecil, sangat wajar dan sering terjadi pada anak-anak seusianya saat itu. Tetapi saat orang tua dari anak tetangga itu protes kepada kedua orang tuanya, Odo benar-benar dimarahi oleh kedua orang tuanya sendiri.


 


 


Dia ditampar dengan keras di depan anak tetangga dan tetangganya itu. Di rumahnya sendiri, ia serasa seperti tidak ada tempat tinggal. Dengan dalih, “Kamu membuat Ayah dan Ibu malu! Kenapa kau tidak bisa menjadi anak baik?!” Kedua orang tuanya memukulnya dan lebih membela anak tetangga itu, mereka memilih membela mereka dari pada anak sendiri.


 


 


Odo merasa itu sangatlah hina dan tidak ingin menjadi orang tua seperti mereka. Tetapi melakukan hal kurang lebih serupa dengan kekerasan seperti itu, Odo benar-benar merasa sama sekali tidak jauh berbeda dengan sifat yang dibencinya itu.


 


 


“Maaf .... Maafkan aku ....”


 


 


\==========================


 


 


Catatan:


 


 


Me (Sebelum buat CH ini):  “Yosh! Buat yang santai dan build-build!”


 


 


Me (Setelahnya): “Kok begini ....”


 


 


 


 


Setelahnya, “Ya udahlah, terlanjur:v”


 


 


\=================


See You!