Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 4: Tahap awal kebangkitan yang tak disadari (Bagian 02)



 


 


Pada tengah malam, di saat semua anak di dalam Panti Asuhan telah tidur Odo tetap membuka matanya dengan lebar. Ia benar-benar tidak bisa tidur, bukan karena kamar kasurnya tidak enak, tetapi karena Daniel tidur tidak beraturan dan selalu berputar-putar posisi tidurnya.


 


 


Menyerah dengan situasi, Odo bangun dari tempat tidur dan melihat Daniel yang tidur menindihi Firkaf. Anehnya juga, anak yang terlihat pendiam itu tidak bangun dan tetap tidur nyenyak meskipun ditindihi Daniel dengan posisi terkapar.


 


 


"Aku kalah darinya soal ketahanan," ucap Odo dengan wajah malas.


 


 


Paham kalau dirinya benar-benar tidak bisa tidur di tempat tersebut, Odo keluar dari kamar dan berniat pergi ke Ruang Utama. Meskipun terlihat kecil dari luar dan hanya memiliki satu lantai dengan loteng, tetapi bangunan Panti Asuhan itu tergolong besar memanjang ke belakang.


 


 


Setelah keluar dari kamar, lorong utama dengan nuansa Gothic langsung menyambut. Sepanjang lorong itu terlihat beberapa pintu dari beberapa kamar, dapur, serta gudang, dengan ujung sebuah pintu yang berupa pintu menuju ruang utama dan di ujung lain adalah tembok yang memiliki kaca hias di bagian atasnya.


 


 


Setelah menarik napas ringan, Odo berjalan menuju pintu Ruang Utama. Ia memegang daun pintu, kemudian membukanya. Ia terkejut, melihat Ruang Utama dengan pintu utama Panti Asuhan terbuka lebar dan membiarkan angin malam masuk.


 


 


Yang membuat Odo terkejut bukanlah pintu utama yang terbuka malam-malam, tetapi Siska yang berdiri di depan pintu dengan hanya mengenakan pajama tidur berbahan tipis. Penampilan itu terasa asing, untuk perempuan yang selalu terlihat mengenakan pakaian biarawati.


 


 


Dengan rambut pirang yang terurai dan berkibar tertiup angin malam, Siska menoleh ke arah Odo. Sambil menyingkirkan poninya yang menutupi wajah, Ia bertanya dengan nada halus, "Belum tidur, Tuan Odo?"


 


 


"Belum ...." Odo kembali terdiam. Saat melihat perempuan itu, untuk pertama kalinya Ia merasa benar-benar percaya adanya Gadis Suci. Meskipun ibunya juga dikenal dengan Saint, tetapi Siska terasa berbeda.


 


 


"Aura sucinya memang tidak lebih kuat dari ibu, tapi orang ini .... benar-benar ...."


 


 


Melihat Odo yang terdiam, Siska sedikit tersenyum seraya bertanya, "Kenapa melamun? Memangnya ada apa di wajahku?"


 


 


"Tidak, hanya saja ... apa Kak Siska seorang Saint seperti ibuku?" tanya Odo.


 


 


"Saint? Seperti Nyonya Mavis? Senangnya aku disamakan dengan beliau. Tapi sayang, aku hanya manusia biasa, aku sama sekali tidak sebanding dengan sosok seperti malaikat itu. Kakak hanya benar-benar manusia biasa yang diberkahi kekuatan suci, hanya itu. Tidak lebih dan tidak kurang."


 


 


"Malaikat ...? Ibuku?" tanya Odo dengan bingung.


 


 


"Hem, Anda tidak tahu? Nyonya Mavis adalah salah satu pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis dalam perang besar dua puluh tah⸻"


 


 


"Kalau itu aku sudah tahu," potong Odo.


 


 


"Kalau soal Nyonya Mavis adalah seorang anak malaikat anda juga sudah tahu?"


Perkataan itu membuat Odo terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka kalau fakta semacam itu akan muncul.


 


 


"Ma-Malaikat?" tanya Odo sambil berjalan mendekati Siska dan berdiri di hadapannya.


 


 


"Ya, dari pada disebut keturunan, beliau malah lebih mirip disebut malaikat itu sendiri. Beliau bagaikan seorang malaikat yang turun dari surga ke dunia ini."


 


 


"A-Apa maksudnya? Aku baru dengan itu? Malaikat? Ibu?" tanya Odo dengan panik.


 


 


"Tenanglah, Tuan Odo. Itu hanya desas-desus saat masa peperangan berlangsung. Kalau beliau benar-benar seorang malaikat, mana mungkin Ia jatuh sakit seperti sekarang."


 


 


Perkataan itu membuat Odo sedikit tenang. Ia mulai berpikir dan menganalisis informasi, dari apa yang dikatakan Siska dan kondisi yang sedang dialami ibunya.


 


 


"Ngomong-omong, apa Kak Siska tahu alasan ekspedisi Dunia Astral kali ini diadakan?" tanya Odo.


 


 


"Hem, tentu untuk mencari bahan yang hanya ada di Dunia Astral untuk membuat obat untuk Nyonya Mavis. Bukannya kabar itu telah tersebar ke penjuru kekuasaan Marquess Luke?"


 


 


"Kalau begitu, apa Kakak tahu apa bahannya ...?"


 


 


"Kalau bahannya Kakak tidak tahu, tapi kata prajurit kota yang diikutkan dalam ekspedisi katanya mereka hendak melawan ......."


 


 


Jawaban itu benar-benar membuat Odo terkejut. Pada saat itu juga, Odo langsung paham mengapa saat ekspedisi pertama ayahnya mengalami kegagalan besar. Bahan itu bukanlah sebuah bahan yang mudah didapat seperti rerumputan herbal yang tumbuh dari tanah atau dari binatang melata, melainkan harus didapat dari dua monster legenda dari masa Peperangan Kuno.


 


 


"Naga Hitam dan Dryad Pohon Suci ....?" ucap Odo dengan wajah benar-benar terkejut.


 


 


.


.


.


.


Dini harinya, saat semua anak-anak Panti Asuhan belum bangun, Odo lekas pergi setelah meninggalkan beberapa daging rusa, ayam hutan, beberapa buah-buahan dan jamur yang diambil dari Jubah Dimensi kepada Siska.


 


 


Tanpa berpamitan dengan yang lain dan hanya berkata ada tempat yang harus dituju kepada Siska, Odo mengenakan Jubah Dimensi dan lekas menggunakan sihir elemen petir untuk meningkatkan mobilitasnya, kemudian meloncat jauh menggunakan sihir pelontar.


 


 


Tempat yang Odo tuju bukanlah Mansion tempat kediamannya, melainkan sebuah gua di daerah perbukitan berbatu tempat para monster liar tinggal.


 


 


««»»


Tepat di depan gua tempat sarang Orc yang Ia temukan saat menyelamatkan Nanra dua hari yang lalu, Odo berdiri dengan tatapan tajam dan penuh akan Mana yang membara menyelimuti tubuhnya. Mayat dari para Orc yang telah dihabisinya telah menghilang entah ke mana, yang tersisa hanya bekas seretan di tanah yang mengarah ke dalam gua.


 


 


"Sepertinya makhluk itu masih ada ...," pikir Odo dengan ekspresi datar.


 


 


Tujuan Odo datang ke tempat itu tidak lain adalah untuk membunuh monster yang hawa keberadaannya dirasakan dirinya saat menyelamatkan Nanra. Karena saat itu tidak ada alasan untuk membuat keributan dengan penghuni gua, Odo memilih untuk pergi dengan damai. Tetapi sekarang berbeda, Ia memiliki alasan dan tekad yang kuat untuk menghabisi monster yang bersemayam di dalam sana.


 


 


Alasannya sederhana, Ia ingin menyerap Inti Sihir makhluk tersebut untuk menambah kekuatannya sampai dirasa cukup untuk bisa menjelajah Dunia Astral. Odo sangat paham, dua monster yang memuat ayahnya pulang dengan kegagalan itu bukanlah monster receh yang bisa dibinasakan dengan mudah. Butuh persiapan matang dan strategi lebih untuk menaklukkannya.


 


 


Meskipun begitu, tidak ada jaminan ayahnya bisa kembali membawa keberhasilan dalam ekspedisi kedua Dunia Astral yang sedang berlangsung sekarang. Terlebih lagi, Odo tidak suka melihat ibunya sakit-sakitan lebih lama dari ini.


 


 


Odo melangkahkan kaki masuk ke dalam gua, dalam waktu bersamaan Ia meningkatkan tekanan sihir pada tingkat maksimal dan menggunakan sihir sensor getaran tanah untuk memetakan seluruh isi gua dalam pikirannya.


 


 


"Daratan tempat ku berpijak adalah Ibu dari semua makhluk hidup, dia mengetahui semua penghuninya dan memberitahukannya padaku ...."


 


 


Tekanan Mana yang melesat masuk ke dalam gua melalui permukaan tanah langsung mengirimkan lokasi makhluk yang ia cari. Tanpa membuang waktu, Odo mengibarkan Jubah Dimensi ke depan dan menekan salah satu Rune untuk mengeluarkan pedang. Pedang keluar dengan momentum ringan, kemudian Odo memegang gagangnya dan membuang sarung pedang ke lantai gua.


 


 


"Kau ..., monster yang bersemayam di dalam sana .... Maaf saja, ini mungkin tidak masuk akal bagimu yang hanya ingin berdiam diri , tapi aku punya alasan kuat untuk membunuhmu."


 


 


Odo membuat sebuah Rune dimensi pada punggung tangan kanannya dalam skala kecil, kemudian memasukkan Jubah Dimensi ke dalamnya untuk menjaga alat penyimpanan tersebut tetap aman. Rune pada punggung tangan kanan Odo berubah menghitam, dan setelah itu Ia membuat sebuah lingkaran sihir di telapak tangan kirinya sebagai kunci akses ruang dimensi tersebut.


 


 


"Persiapan, oke."


 


 


Setelah masuk beberapa langkah ke dalam gua, Odo berhenti melangkah dan memasang kuda-kuda. Ia memajukan kaki kanan ke depan dengan merendahkan posisi tubuhnya, kemudian memegang pedang pendek dengan kedua tangan dan mengarahkan mata pedangnya ke depan.


 


 


"Halilintar adalah bagian dari komponen dunia ...."


 


 


Seketika seluruh Mana yang menyelimuti tubuhnya berubah menjadi petir putih terang benderang yang menyambar lantai dan dinding gua. Permukaan gua tempatnya berpijak sedikit meleleh karena panas, sepatu yang dikenakannya mulai terurai menjadi butiran debu karena petir, pakainya sebagian terbakar karena itu, dan bahkan tubuhnya sendiri yang mengeluarkan sihir petir tersebut ikut terkena luka bakar pada bagian lengan dan bahu.


 


 


Tanpa memedulikan semua itu, Ia memusatkan seluruh petir putih di sekitar tubuhnya pada mata pedang yang ujungnya lurus ke depan. Dalam hitungan detik, mata pedang pecah dan berubah menjadi Mana padat yang memiliki unsur petir kuat.


 


 


 


 


Duazz!! Ngiiing!!


 


 


Kilatan petir putih dengan kecepatan cahaya melesat ke dalam gua diikuti suara melenting. Kurang dalam hitungan detik, semua yang dilewati kilatan petir sebesar pedang tadi membuat dinding dan lantai di depan Odo meleleh panas. Dilihat dari cahaya yang mulai masuk dari sisi lain gua, Ia dapat tahu kalau serangan tadi sampai melubangi bukit di sisi lain.


 


 


Sesaat setelah sihir petir tersebut ditembakkan, mata pedang yang berfungsi sebagai medium berubah menjadi abu dan menghilang. Napas Odo seketika terasa berat, gagang pedang dijatuhkan, dan pandangannya benar-benar mulai pudar karena menggunakan Mana dalam jumlah terlalu banyak.


 


 


Di saat dirinya terjatuh berlutut dengan lemas, getaran dari arah gua terasa begitu jelas. Saat Odo mengangkat kepala dan melihat ke depan, Ia benar-benar terkejut dengan makhluk yang melaju sangat cepat ke arahnya.


 


 


"Meleset ...? Tidak mungkin, seharusnya serangan tadi sudah tepat sasaran!"


 


 


Monster yang melesat ke arahnya adalah ular raksasa yang memiliki sisik hijau menyala. Ukurannya hampir memenuhi gua, memiliki taring yang mengeluarkan Bisa Asam Pelebur dan napas yang mengeluarkan gas beracun.


 


 


"Eh, ularnya ... ukurannya ...."


 


 


Seketika rasa takut menyelimuti Odo. Kemarahan yang terpancar dari Ular Raksasa itu tidak diragukan lagi bercampur dengan hasrat membunuh yang dahsyat.


 


 


Berkat sihir Auto Senses yang telah aktif sejak awal, secara insting tubuh Odo bergerak sendiri di tengah rasa takut yang membuatnya membatu. Ia lekas berbalik , kemudian menggunakan sihir pelontar dengan secuil Mana yang tersisa untuk meloncat keluar dari gua.


 


 


Duar!!


 


 


Ular raksasa itu menerobos keluar dan menghancurkan mulut gua. Sesaat sebelum ular itu menghancurkan jalan keluar gua, Odo berhasil keluar terlebih dulu dengan meloncat dan berguling di atas permukaan tanah.


 


 


Odo berlutut lemas di hadapan ular yang menegakkan badannya dan mendesis keras penuh murka. Dengan segenap tenaga yang tersisa, Ia berusaha berdiri. Sambil menarik napas, Odo berusaha menenangkan diri untuk tidak termakan rasa takut dan kehilangan pemikiran rasional di situasi genting.


 


 


"Senses ... Akses, Mengacuhkan Rasa Sakit, Meningkatkan Refleks, Analisis."


 


 


Seketika sirkulasi Mana yang benar-benar tersisa sedikit dalam tubuh Odo mengalami perlambatan. Tanda-tanda kehidupan Odo berkurang, tetapi hawa membunuh dalam tubuh anak itu meningkat drastis.


 


 


Pupil mata Odo melebar sampai hampir semua bagian putihnya menghilang, dan bola matanya berputar dengan cepat memindai monster ular raksasa di depannya secara visual. Dalam hitungan detik, seluruh informasi yang diperlukan didapatnya dari pengamatan tersebut. Odo berkedip, pupil matanya berubah normal kembali.


 


 


"Giftmelata,Ular Raksasa Hijau Beracun ya .... Hah, aku kira apa? Ternyata monster sihir tingkat menengah ke atas. Bikin keget aja, berengsek!!"


 


 


Dengan darah yang mengalir keluar dari hidung dan mulutnya, Odo menatap ular raksasa sepanjang 30 meter lebih tersebut. Tubuh selebar kurang lebih lima meter, monster itu menegakkan badannya dan seakan berdiri dengan setengah panjang badannya. Kulitnya yang bercahaya hijau terlihat memancarkan tekanan sihir yang sangat kuat dan sekilas terlihat petir yang menjalar di sekujur tubuh ular raksasa itu.


 


 


 


 


 


 


"Shaaas!!" Giftmelata menyemburkan Bisa Asam ke arah Odo. Menyadari kalau serangan seperti itu akan datang, Odo telah meletakkan telapak tangan kirinya ke atas punggung tangan kanan.


 


 


"Terbuka!"


 


 


Syuut!


 


 


Dengan cepat Odo menarik keluar Jubah Dimensi dari Rune penyimpanan di punggung tangan kanan dengan menggunakan lingkaran sihir pada telapak tangan kiri sebagai kunci akses. Sesaat sebelum Bisa Asam mengenai Odo, Ia merentangkan Jubah Dimensi dalam keadaan aktif untuk menutupi tubuh dan memasukan seluruh Semburan Bisa Asam tersebut ke dalam ruang di dalam jubah tersebut.


 


 


Shuut!


 


 


Bisa yang disemburkan tersebut benar-benar tertelan dimensi penyimpanan pada jubahnya.


 


 


"Semuanya ditelan oleh ruang," ucap Odo dengan nada gelap.


 


 


Ia segera memakai Jubah Dimensi dan memberikan tatapan mengintimidasi ke arah Giftmelata. Dalam sekejap, tatapan itu seakan memutar hierarki antara pemburu dan buruan di antara mereka.


 


 


"Monster jenis sepertimu seharusnya hanya memiliki Racun Asam, Napas Racun, serta Sisik sekuat baja saja. Tapi ..., kenapa sekarang tubuhmu penuh dengan sihir petir yang membuat sisikmu bercahaya ya ....? Apa kau makan kristal sihir? Tidak ... bukan!?"


 


 


Odo tahu kalau kesempatannya menang sangatlah tipis. Tubuh yang terlalu terbebani karena menggunakan sihir petir sebelumnya, Vitalitas yang benar-benar hampir sampai pada batasnya, dan luka bakar di kedua tangannya benar-benar memperburuk keadaan.


 


 


Tetapi itu juga berlaku pada Giftmelata, sekujur tubuh monster itu telah pada batasnya. Serangan pembuka yang digunakan Odo sebelumnya tidaklah meleset, serangan itu dengan telak mengenai monster itu tetapi hanya saja tidak menghabisinya karena struktur sisik yang ada.


 


 


Kulit sekeras baja, dengan kata lain itu juga bisa berarti memiliki unsur logam yang dalam beberapa kasus ada yang bisa menjadi penghantar elektrik yang buruk. Meskipun karena struktur kulitnya Giftmelata selamat, tetapi tanda-tanda kehancuran pada tubuhnya benar-benar terlihat. Retakan bercahaya pada tubuhnya adalah tanda paling jelas.


 


 


Giftmelata melata ke arah Odo, kemudian mengibaskan ekor besarnya dengan sangat cepat. Melihat serangan itu, Odo tersenyum gelap sambil memasang Jubah Dimensi sebagai tameng.


 


 


"Semuanya ditelan oleh ruang."


 


 


Syuu!!


 


 


Saat ekor monster ular raksasa hijau menyentuh Jubah Dimensi, seketika ekor monster itu terserap masuk ke dalam ruang di dalam jubah. Ketika ruang akan penuh, Odo langsung menutup paksa ruang dan ....


 


 


Crak!!


 


 


"SHAAAAA!!"


 


 


Dimensi yang tertutup cepat lebih tajam dari senjata apapun memotong ekor monster ular itu. Giftmelata berguling-guling kesakitan, Mana dan darah cair berwarna hijau keluar dari luka ekornya yang terpotong.


 


 


Melihat itu, senyum dalam sensasi hidup dan mati terlihat jelas pada wajah Odo. Ia berjalan dengan tubuh gentayangan ke arah monster yang benar-benar berubah menjadi mangsa itu


 


 


"Kau ... jadilah ...tumbalku ....!!"


 


 


Perkataan Odo langsung tersampaikan pada Giftmelata melalui hasrat membunuhnya. Walaupun tubuh anak itu bahkan tidak lebih besar dari ukurannya, dengan amat jelas Giftmelata dibuat gemetar ketakutan olehnya.


 


 


Setelah itu, dengan tanpa ampun, bagaikan dirinya sendiri seorang monster, Odo memotong-motong tubuh Giftmelata menggunakan Sihir Dimensi yang ada pada jubahnya.


 


 


Odo memotong dari ekor, terus bertahap dan bertambah 1,5 meter sampai menyisakan bagian kepalanya. Saat monster itu sampai pada penghujung hidupnya, tanpa ragu Odo memotongnya lagi menggunakan Jubah Dimensi dan dengan itu seluruh anggota tubuh Giftmelata benar-benar tersimpan dalam ruang di jubahnya.


 


 


Odo berdiri lemas setelah menghabisi monster ular tersebut, tubuhnya ambruk ke belakang dan terjatuh ke atas permukaan tanah penuh ceceran darah monster tadi. Pandangannya mulai pudar, kesadarannya seakan mulai melayang ke atas.


 


 


Sebelum kesadaran Odo benar-benar menghilang, Ia mengaktifkan Auto Senses pada tingkat pertahanan terkuat dengan dasar mempertahankan kehidupan.