
Dari jawaban itu Odo dari basis yang digunakan oleh para penyihir Miquator dalam menerapkan sihir dan penggunaannya. Itu cenderung menggunakan pendekatan Teologi daripada pendekatan Sains. Memang tak ada salah dari pemahaman seperti itu, bahkan ada beberapa filsuf yang meyakini itu benar meski pada akhirnya banyak yang dikoreksi oleh murid-muridnya.
Memasang wajah sedikit heran, Odo dengan malas berkata, “Ah, ternyata dari situ ya ....”
“Hmm?” Perempuan rambut putih itu heran melihat ekspresi Odo.
“Canna, itu memang tidak sepenuhnya salah, tapi ada sesuatu yang kurang tepat.”
“EH!? Apa jawabanku salah?!” Canna panik, bangun dari tempat duduk dan sampai menggebrak meja. Cangkir pun meloncat dan hampir tumpah.
“Tidak salah,” ucap Odo. “Duduklah, jangan babar ....”
“Eng ....” Perempuan itu pun duduk, kembali memikirkan jawabannya dan mencari bagian apa yang salah.
Melihat Canna sangat serius dan berpikir keras, Odo tersenyum ringan dan menjelaskan apa yang salah, “Canna, dengar aku! Dalam pemahaman sihir memang Empat Elemen Utama atau dikenal juga Empat Elemen Dasar adalah pembangun dunia, fondasi dunia. Tapi ... secara mendasar meteri tidak sepenuhnya tersusun dari itu, masih ada hal yang lebih kecil. Lagi pula, dari keempat itu ada yang bukan elemen tapi malah dikategorikan elemen.”
“A-Apa itu?” Canna terpancing, menatap penasaran dan berargumen, “Ini pemahaman umum yang dipegang semua penyihir Miquator, loh!”
“Jelas saja kalian tidak sampai-sampai pada kesimpulan.” Odo tersenyum kecil, membalik cangkir yang kosong di atas cawan piring dan berkata, “Akan aku koreksi, pertama Api bukanlah elemen.”
“A—! Api elemen, loh!” bantah Canna. Ia bangun dan melontarkan sanggahan, “Kalau bukan, sihir tidak mungkin bisa aktif!”
“Dengarkan dulu .... Akan aku jelaskan Keempat elemen dasar itu, duduklah.”
“Iya.” Canna kembali duduk, menatap penuh semangat dan menunggu penjelasan.
Mendapat tatapan antusias seperti itu sedikit membuat Odo terganggu. Menarik napas ringan, ia mengacuhkan hal seperti itu dan menjelaskan, “Pertama, Air terdiri dari Hidrogen dan Oksigen. Kedua, Tanah terdiri dari mineral dan senyawa organik. Ketiga, Udara atau Angin terdiri dari berbagai kandungan Gas. Namun, untuk api tidak masuk ke dalam materi. Api adalah hasil dari reaksi, sesuatu yang muncul karena perubahan.”
“Kenapa seperti itu?” tanya Canna heran. Ia memegang dagunya sendiri, lalu mengungkapkan pendapatnya, “Api ... bukannya tersusun dari panas dan energi? Energi itu mengakibatkan cahaya .... Itu sudah menjadi dasar hubungan antar elemen. Kalau Api keluar dari susunan itu, berarti cahaya harus dikeluarkan juga dan yang lainnya juga harus dihilangkan. Akhirnya malah tidak masuk semua!”
Mendengar itu, Odo menambahkan, “Cahaya itu juga sebenarnya tidak masuk dalam elemen, namun energi murni. Karena itu sihir cahaya bisa bersifat memurnikan sesuatu. Api ..., untuk membuat api memerlukan tiga hal utama, gas berupa oksigen, bahan bakar yang bisa berupa karbon, lalu yang terakhir adalah panas. Dari reaksi yang ditimbulkan ketiga hal itu, api bisa terbentuk. Jadi, api adalah hasil reaksi kimia.”
Dari penjelasan itu Canna membayangkan proses pembakaran. Dalam pembakaran secara umum, memang ketiga hal yang disebutkan Odo sangat diperlukan. Pada sisi lain, dalam penggunaan sihir api bahan bakar yang digunakan posisinya digantikan dengan Mana.
“Kalau dipikir-pikir lagi, benar juga .... Api berbeda dengan ketiga Elemen Dasar lain, api tidak bisa bertahan lama, berbeda dengan air, tanah, dan udara yang jumlahnya tetap. Perubahan jumlah merupakan prinsip dari sebuah reaksi, perubahan massa—”
“Api sebenarnya tidak memiliki masa,” potong Odo. “Yang memiliki massa itu oksigennya atau bahan bakarnya.”
“Ah, benar juga!” Sorot mata Canna langsung berseri saat mengetahui hal tersebut, benar-benar paham kalau hal seperti itu juga merupakan jawaban tepat dan ia pun dengan lantang berkata, “Saya baru menyadarinya! Ja-Jadi selama ini para penyihir Miquator menggunakan dasar yang salah dalam meneliti! Jelas saja—!”
“Tidak salah, hanya saja pendekatan kalian itu berbeda,” ucap Odo.
“Tapi penjelasan Ayahanda tadi sangat masuk akal! Kenapa malah dibantah sendiri?”
“Dunia ini memang dibentuk oleh Empat Elemen Dasar. Para penyihir melakukan pendekatan yang berbeda, apa yang kupahami itu cenderung ... mirip dengan orang-orang Moloia, tepatnya mungkin peneliti di sana. Bukti dari itu adalah adanya senjata api.”
“Memangnya apa perbedaannya?”
Sesaat Odo terdiam, cukup sulit mencari perbedaan tersebut. Dari pendekatan para penyihir Miquator dan orang-orang Moloia memang ada beberapa perbedaan, namun akar dan tujuan mereka adalah sama.
Dari hal tersebut, Odo mengambil satu perbedaan dan berkata, “Unsur imajiner .... Kalian lebih cenderung menggunakan itu untuk meneliti.”
Ekspresi Canna seketika berubah kesal, duduk memalingkan wajah dan melipat kedua tangannya ke depan. Ia pun mulai menggerutu, “Apa Ayahanda sedang meledek kami para penyihir? Kami bukan pengkhayal!”
“Bukan begitu ....” Odo tersenyum ringan, memegang dagu dan sedikit memalingkan pandangan ia berkata, “Asal kau tahu, penelitian juga memerlukan unsur itu. Kalau kalian tidak menggunakannya, mana mungkin sihir bisa kalian gunakan. Para penyihir bisa menarik Personal Realitas mereka ke kenyataan dan menciptakan sihir menggunakan Mana dari dalam tubuh, dengan memakai struktur sihir sebagai medium atau formula sebagai katalis. Hal seperti itu berbeda dengan orang-orang Moloia.”
Canna sedikit mengerti apa yang dikatakan Odo. Dalam sihir yang digunakan para penyihir, terutama penyihir Miquator, itu cenderung lebih kuat dengan konsep membayangkan sihir untuk memperkuat struktur sihir dan menghasilkan kekuatan yang dapat mempengaruhi realitas dengan jelas. Faktor imajiner adalah hal tersebut.
“Itu benar juga .... Dalam menggunakan sihir kalau ditinjau ulang memang perlu Unsur Imajiner. Tapi ... kenapa bisa ada dua pendekatan seperti itu? Bukannya jalur menuju Awal Permukaan itu satu?” tanya Canna.
Odo menduga pertanyaan seperti itu akan muncul. Mulai serius, pemuda itu balik bertanya, “Memangnya apa yang kamu bayangkan soal Awal Permulaan?”
Canna sedikit bingung mau menjawab seperti apa. Melihat ke langit-langit ruangan dan membayangkannya, ia dengan ragu menjawab, “Itu ... sebuah singgasana? Puncak putih yang terang?”
Odo tidak membantah hal tersebut. Juga tidak menyetujuinya, pemuda itu memberikan pendapatnya sendiri, “Kalau menurutku, Awal Permulaan cenderung terlihat seperti Pohon dengan akarnya adalah pengetahuan-pengetahuan yang ada di dunia ini.”
“Pohon ...?” Canna menatap gentar, menelan ludah dengan berat dan bertanya, “Apa Ayahanda pernah melihatnya? Cara bicara Ayahanda seakan ....”
“Entahlah, bagian itu masih rahasia.”
“Eeeh?” Canna terlihat kecewa, lalu mulai merajuk, “Bukannya Ayahanda datang ke sini untuk bicara itu?”
Odo mengendus ringan, dengan ekspresi seakan meremehkan ia berkata, “Aku berubah pikiran. Kau dasar saja belum paham sepenuhnya. Kalau aku memberitahumu soal itu, bisa bahaya nanti.”
“Kenapa ... memangnya?” tanya Canna.
“Kalau orang dengan pengetahuan yang belum cukup tahu apa itu sebenarnya Awal Permulaan, bisa dijamin kalau orang itu akan gila dan kepribadiannya rusak. Paling tidak kuasai 40% pengetahuan dasar dunia ini, setelah itu mungkin kau pasti akan mendapat kesimpulan. Lagi pula ..., Awal Permulaan itu bukan sesuatu yang indah seperti yang kau bayangkan.”
“Apa .... Ayahanda pernah melihatnya?”
Odo terdiam tak menjawab, memalingkan pandangan dan memasang wajah penuh beban. Canna tidak mengerti apa yang sedang pemuda itu pikirkan, namun yang jelas wajah itu bukanlah wajah dari orang yang terpuaskan karena telah mengetahui sesuatu.
Kembali menatap Canna, dengan nada lemas pemuda itu menjawab, “Malah aku memanjatnya, pernah berdiri di puncaknya dan melihat dunia secara keseluruhan. Asal kau tahu, Canna. Dunia ini, tempat ini sangatlah kecil. Meski kau berhasil naik ke puncak, itu bukan berarti kau menjadi besar. Kau yakin ingin terus mengejarnya?”
Itu sama sekali tidak membuatnya gentar, sebagai seorang pelajar wajar ingin mengejar pengetahuan. Menegakkan posisi duduk dan menatap lurus, ia menjawab, “Ayahanda tahu, semua penyihir selalu mencari kebenaran. Kami penyihir Miquator menginginkan itu bagaimana pun bentuknya nanti.”
“Begitu, ya .... Kalau memang seperti itu, akan aku beri beberapa petunjuk. Seterusnya kalian harus cari tahu sendiri, itu bukanlah sesuatu yang diberi tapi harus didapat sendiri melalui usaha. Yah, petunjuk ini juga bisa membawa keuntungan bagiku.”
“Keuntungan?” Canna menaikkan alisnya.
“Itu ada kaitannya dengan rencanaku. Mungkin ini juga bisa menjadi sumber dana kalian dalam meneliti .... Ah, lebih tepatnya sumber dana si Luna, ya.”
Perempuan rambut putih tersebut terheran mendengarnya. Dengan rasa penasaran ia pun bertanya, “Memangnya apa yang ingin Ayahanda lakukan?” Ia sedikit memalingkan pandangan dan berpikir. Tidak bisa menemukan kesimpulan jelas, ia berkata, “Setahu saya, bukannya Ayahanda ingin membuat sebuah toko untuk memajukan kota ini dan membuat lapangan kerja bagi para pengangguran, terutama imigran gelap ....”
“Kamu mendengarnya dari Luna? Ya, kurang lebih memang begitu. Tapi, untuk itu aku perlu beberapa hal. Salah satunya bantuan Atelier ini.”
Canna kembali terdiam, berpikir keras mencari tahu apa yang diinginkan oleh Odo. Tidak dapat menemukan yang sesuai dalam pikiran, pada akhirnya perempuan rambut putih itu bertanya, “Untuk apa?”
“Itu .... “ Odo membuka mulut dan hendak memberitahukan. Namun saat mengingat sesuatu yang terlewat, ia langsung berhenti dan berkata, “Ah, tunggu! Sebelum itu ada beberapa hal yang ingin aku pastikan. Kamu tinggal di Miquator cukup lama, ‘kan? Bisa ceritakan padaku perkembangan sihir di sana?”
“Eh?” Canna sekilas bingung. Menuruti perkataan Odo, ia mengingat-ingat apa saja yang ada di Miquator selama dirinya tinggal di sana. Dengan ekspresi ragu, ia pun berkata, “Eng, perkembangannya, ya. Jujur di sana sudah sangat lebih maju daripada kota ini.”
Odo tidak terlalu peduli dengan alat seperti itu. Mulai menegakkan posisi duduk, pemuda itu bertanya, “Apa di sana sudah ada kertas? Bukan kertas yang perkamen lusuh, tapi kertas putih yang terbuat dari serat yang telah diolah dengan zat kimia.”
“Oh, kalau itu sudah banyak. Itu biasanya digunakan untuk menyalin buku-buku kuno atau buku kurikulum untuk para pelajar. Mungkin yang Ayahanda maksud itu pasti mesin cetak kertas, ‘kan?”
“Serius? Dia sana sudah ada mesinnya juga?” Odo benar-benar terkejut mendengar alat yang seperti itu ada di Miquator.
“Hmm, sudah ada.” Canna mengangguk, mengangkat cangkirnya dan meminum teh Rosella sampai setengah ia pun berkata, “Meski saya kurang paham cara kerjanya karena itu masuk bidang Jurusan Sihir Kristal, tapi kurang lebih setahu saya itu menggunakan algoritma tindakkan mekanik atau semacamnya dan digunakan untuk mengolah serat-serat kayu untuk membuat kertas dengan mesin.”
“Jurusan Sihir Kristal?” tanya Odo.
“Ya, itu jurusan baru di Miquator. Ada juga yang menyebutnya sihir mekanik atau Magic Toolcraft.”
“Kalau kau, jurusannya apa?”
“Kalau saya masuk ke jurusan sihir Alkimia, itu pun cenderung ke biotik daripada yang manipulasi mineral dan logam.”
“Selain alat cetak, alat-alat apa lagi yang sudah dikembangkan di sana?”
“Ada banyak sekali ..., saya bingung mau menjelaskan apa ....”
“Yang paling sering kamu lihat saja.”
“Eng, yang paling sering saya lihat .... Ah, di kelas sering menggunakan proyektor sihir. Itu kami pakai saat pelaja—”
“Di sana sudah ada proyektor?!” sela Odo. Meski dirinya sudah pernah mengira-ngira kalau hal seperti itu bisa saja ada, namun saat memastikannya dari orang yang pernah melihatnya langsung tetap membuatnya terkejut.
Canna sedikit takut karena Odo tiba-tiba berteriak. Meletakkan cangkir, ia sedikit gemetar bertanya, “A ...., iya. Ayahanda tahu itu?”
Odo menenangkan diri, menarik napas dan berkata, “Itu alat untuk memanipulasi intensitas cahaya dengan lensa, kurang lebih begitu, ‘kan?”
“Hmm ....” Perempuan rambut putih itu mengangguk.
Suasana sekias menjadi hening, tanpa pembicaraan dan berubah cukup canggung. Mereka berdua sadar kalau hari sudah semakin malam. Namun karena Odo merasa masih banyak yang perlu dibicarakan, ia kembali bertanya, “Apa ... itu sudah tersebar ke negeri lain? Kertas dan proyektornya .... Di sini hampir tak ada yang menggunakan kertas putih, loh. Kebanyakan masih perkamen tua.”
“Untuk kertas memang itu tidak dijualbelikan ke negeri lain karena kami para Miquator tidak suka kalau informasi tentang kertas tersebar. Tapi ... proyektor sihir di beberapa negeri seharusnya sudah beredar.”
“Eh?” Itu sedikit membuat Odo heran, dengan ragu ia bertanya, “Kenapa kertas belum tapi proyektor malah disebar?”
“Sudah saya bilang, kertas lebih berharga. Kalau saja alat itu dibuat di tempat lain, bisa-bisa pohon yang menjadi bahan utama digunakan habis dan Miquator akan sulit mengimpor bahannya karena bisa saja harganya semakin mahal.”
“Ah, tingkat konsumtif, ya.” Odo mengangguk ringan, memahami hasrat para penyihir Miquator ingin memonopoli hal seperti itu.
“Ya, kami sangat sering menggunakan kertas. Meski sudah ada cara daur ulang, tapi untuk arsip nyata biasanya masih tetap memerlukan kertas untuk menyimpan informasi.”
Odo menunduk dan mendongak secara bergantian, memikirkan hal lain yang tidak bertentangan dengan Miquator untuk barang jualannya nanti. Mengambil salah satu ide yang didapat, ia bertanya, “Kalau plastik, apa di sana ada?”
“Plastik?” Canna menatap bingung, benar-benar tidak tahu hal terebut.
Memegang dagunya sendiri dan menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri, Odo menjelaskan, “Itu, loh. Bahan yang sifatnya sedikit mirip dengan karet, tapi tidak terlalu lentur. Hasil dari kondensasi organik, bahan utamanya polimer.”
“Penggunaan karet memang sudah banyak di Miqutaor, tapi ... plastik itu apa?” Canna benar-benar tidak mengerti apa yang disebut Odo. Penyihir itu mulai terarik, rasa penasarannya mulai naik karena berhadapan dengan hal yang benar-benar baru baginya.
“Padahal karet sudah ada tapi plastik belum, ya?”
“Ayahanda, plastik itu apa?” tanya Canna.
“Hmm, itu polimer. Plastik itu bahan yang mirip seperti karet tapi tingkat elastisitasnya sangat lebih rendah. Memiliki ketahanan kuat, namun tak tahan panas. Hasil dari kondensasi organik dan juga bahan utamanya adalah polimer.”
“Polimer?”
“Salah satu hasil olahan minyak bumi mentah, tepatnya Etana dan Propana. Kedua olahan itu diproses dalam tungku panas untuk menghasilkan Etilana dan Propilena. Kedua bahan itu akan diproses kembali dalam reaktor, lalu digabungkan dan menghasilkan zat seperti tepung. Itulah polimer plastik, masih mentah dan akan diolah lagi menjadi cair, lalu dijadikan bijih-bijih plastik.”
“Eh? Eng? Apa itu ....?”
Canna benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Odo, ia berpikir dengan sangat keras dan berusaha untuk menangkap maksudnya. Meski Canna cukup paham dengan perubahan zat dalam Alkimia, namun ia tidak terlalu tahu tentang hal seperti itu dan memang hal tersebut adalah hal yang belum ditemukan di Miquator.
Melihat rasa penasaran penyihir di hadapannya, Odo tersenyum kecil karena menemukan hal menarik. Dengan nada ramah ia berkata, “Mau coba membuatnya? Kalau tidak salah di sini ada alat-alatnya, ‘kan?”
“Sungguh?! Bisa dicoba di sini?!”
“Hmm, mungkin ..... Tapi kau harus memenuhi beberapa syaratku ....”
“Tentu!” jawab Canna tanpa berpikir dua kali.
Itu terasa seperti ikan yang dengan mudah terjerat bagi Odo, membuatnya sekilas menyeringai dan mulai mempengaruhi perempuan yang dengan polosnya hanya menginginkan pengetahuan. Dipenuhi hasrat ingin tahu layaknya anak-anak.
Setelah itu, Odo dan Canna mencoba membuat plastik dengan bahan-bahan sederhana dan bantuan transmutasi untuk mempermudah prosesnya. Selain membuat produk polimerisasi tersebut, Odo juga memberitahukan beberapa hal lain seperti bahan pembuatan insektisida dan cara pembuatannya secara sederhana. Mereka juga membahas beberapa hal tentang gas, terutama terkait tentang sifat hidrogen dan penggunannya.
\============================
Catatan:
Ditutup dengan obrolan Ayah dan Putrinya(?)
Eng? Jujur masih bingung hubungannya para Korwa dengan Odo itu seperti apa .... Padahal gak ada hubungan darah:v
Tapi basis para Korwa itu ... adalah .... (Jawabannya ada di seri The Courtesan nanti, mungkin)
See You!!