Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 14 : Pada diri sendiri (Part 01)



|POV Odo|


Meringkuk di bawah pohon rimbun dengan warna dedaunan tajam, Aku memikirkan kembali apa yang dikatakan Reyah saat masih berada di dalam Pohon Suci. Fakta itu, kenyataan yang diucapkannya, memang saat dipikirkan lagi itu tidak bisa diacuhkan begitu saja ataupun diterima mentah-mentah.



Pikirkan lagi, apa semua itu benar-benar terjadi? Apa mungkin? Sejauh yang kutahu, dunia paralel merupakan sebuah dunia yang seharusnya berjalan sejajar dengan dunia realita yang ditepati⸻ tunggu! Dalam hal ini, aku masuk entitas realita mana?



Dunia ini? Atau duniaku dulu? Tidak ..., kata Reyah dunia ini sudah tidak ada yang namanya dunia paralel yang benar-benar berbeda, di luar semesta ini katanya hanya ada kehampaan. Kalau begitu, apa faktor kemungkinan yang bisa menciptakan dunia paralel seperti halnya kasus kucing Schrondinger tidak mungkin terjadi di dunia ini?



Mengapa? Seharusnya menurut mekanika kuantum⸻ tidak, itu saja tidak cukup menjadi pacuan untuk benar-benar menyatakan kalau faktor kemungkinan tidak bisa ada.



Tidak ..., tidak, tidak, ini tidak mungkin. Kalau dipikir lagi, semua tindakan Reyah sangat dipenuhi keyakinan, dia tidak seperti sedang mengira-ngira. Katanya dia menungguku di sini, jadi kenapa? Kenapa dia bisa tahu aku akan datang?


Padahal saat itu baru pertama kali bertemu .... Apa karena teks kuno yang Ia tahu? Atau karena aku dari garis dunia lain pernah datang dan bertemu dengannya?



Tunggu, kalau begitu kenapa dia berkata tidak ada semesta lain? Apa dia berbohong padaku? Tidak, tidak, untuk apa dia berbohong disaat seperti itu?



Pikirkan lagi ..., pikirkan lagi kemungkinan yang ada .... Pada saat kehidupanku dulu, kebenaran tentang dunia paralel masih menjadi perdebatan. Ada juga Ilmuwan pada saat itu mengatakan kalau dunia paralel itu semacam zona di luar kolam yang tidak bisa diketahui oleh entitas di dalam kolam.



Meskipun tidak bisa melihat secara langsung, riak yang tercipta dari getaran di luar kolam bisa dirasakan oleh entitas yang ada di dalam kolam. Dalam hal itu, meski tak bisa melihat atau membuat kontak secara penuh, tetapi entitas dalam kolam masih bisa tahu kalau benar-benar ada kehidupan di luar kolam. Tidak bisanya melakukan kontak dengan dunia lain adalah karena terbatasnya teknologi.



Jadi, apa? Apa setelah kiamat ada teknologi berkembang sangat pesat sampai-sampai tidak hanya melakukan kontak, tetapi sampai bisa menggabung⸻ tunggu, apa benar ini dunia ini bergabung?



Kalau telah terjadi kiamat, bukannya dunia paralel lain dihancurkan, dan dunia baru ini adalah satu-satunya dunia yang tersisa ..., apa benar itu yang terjadi?



Lagi pula, konsep dunia paralel dan dunia lain itu sedikit berbeda. Kalau dunia paralel terjadi karena faktor kemungkinan sehingga terciptanya jutaan dunia yang tak terhitung banyaknya di semesta, sedangkan dunia lain adalah sebuah dunia yang benar-benar berbeda.



Seperti saat melihat kaca, ada dunia di dalam kaca yang merupakan dunia yang sejajar, tetapi bukan berarti itu percabangan dari dunia tempat orang tersebut yang sedang melihat kaca. Tapi, apa benar memang seperti itu perbedaannya? Alam gaib? Akhirat? Neraka? Surga? Apa itu juga masuk ke dalam dunia lain? Atau hanya dunia paralel yang berkembang jutaan kali lebih cepat sehingga mendapat teknologi yang bahkan bisa memberikan pengadilan dan pengaruh bagi dunia paralel lain yang tertinggal?


“Odo ....”



Ada juga faktor ketidakterbatasan jagat raya. Itu membuktikan kalau galaksi juga banyak sekali dulu, tapi apa sekarang jumlah galaksi juga masih sama? Apa aku harus membuktikannya dulu ..., pergi ke angkasa? Apa benar ada ruang di sana?



Ada planet lain? Apa matahari hanya satu? Apa semesta ini masih tatanan tata suryanya sama? Apa⸻”



“Odo!!!”



Eh ....?



Aku mengangkat wajah dan melihat ke sumber suara yang memanggil namaku. Di sana terlihat Reyah, Roh Agung berambut hijau yang entah mengapa melihatku dengan penuh rasa cemas. Tiba-tiba Ia berlutut dan memelukku dengan erat.



Tak tahu mengapa, tetapi itu terasa sangat membawa perasaan lega. Hangat, sungguh sangat menenangkan dan menghilangkan rasa cemas beserta semua apa yang aku pikirkan. Kenapa dia memelukku? Pertanyaan terbesit dalam benak.




Dia menangis, meski diriku tak bisa melihat wajahnya karena Ia sedang memelukku, tetapi yang jelas dia sedang menangis. Kenapa dia sebegitu pedulinya denganku? Pertanyaan lain terbesit kembali.



“Reyah ..., aku ingin bertanya lagi. Kenapa ..., kau sangat yakin tidak ada semesta lainnya? Apa ....” Anehnya pikiranku kembali ingin menguak keraguanku, tanpa memedulikan perempuan yang memulukku dengan rasa cemas tersebut.



Ia melepaskan pelukan, memegang kedua pundakku dan menatap tajam. Sorot matanya yang hijau begitu tajam ,terlihat basah karena air mata, dan wajahnya dengan jelas menunjukkan rasa khawatir. “Kenapa ... sampai sebegitunya, engkau ....”



“Aku harus tahu .... Harus .... Paling tidak sampai rasa yang mengganjal ini hilang ....”



Reyah terlihat enggan untuk berbicara. Setelah beberapa saat menundukkan wajar, pada akhirnya Ia menjawab dengan suara penuh rasa sukar, “Baiklah ..., akan diriku beritahu padamu ....”



Setelah itu, Ia menjawab dan menjelaskan hampir semua pertanyaan yang aku lontarkan, tentu saja hanya pertanyaan yang bisa dijawabnya.



Dari semua itu, sebuah kesimpulan mutlak tercapai. Dunia ini memang benar-benar dunia yang sama dari duniaku dulu, bukan dunia paralel atau dunia lain, ini benar-benar sama. Dalam teks kuno yang diberitahukan Reyah padaku, di sana tertera kalau memang dunia sebelum kiamat itu terdiri dari jutaan dunia yang setiap detiknya bertambah, dengan kata lain itu terjadi karena konsep kemungkinan masih berlaku untuk menciptakan dunia paralel. Setelah kiamat, atau lebih tepatnya pada permulaan zaman Awal Kiamat, konsep kemungkinan menghilang dan dunia menjadi tempat dengan rute yang tak bisa terbagi.



Tetapi, ada hal lain yang membuatku terkejut. Menurut Reyah, ada satu lagi garis dunia yang melaju lebih cepat dari dunia ini. Sayangnya, dunia itu hancur pada satu titik perkembangan tertentu dan dunia terulang.



Kesimpulan dari itu, dunia ini adalah hanyalah sebuah pengulangan dari garis dunia yang telah hancur di masa depan itu. Itulah yang menjadi alasan Reyah sangat tahu kalau diriku akan datang, karena dia sendiri menyimpan ingatan dari garis dunia yang hancur itu. Reyah menyebut garis dunia sekarang ini dengan sebutan If.



Para Dewa Tertinggi juga tahu akan adanya hal tersebut, Reyah sendiri pernah dikontak mereka karena memiliki memori dari garis dunia yang telah hancur tersebut meski tidak secara utuh dan hanya bagian awalnya saja.



Meski memiliki pengetahuan akan apa yang bisa terjadi nantinya, baik Roh Agung tersebut atau para Dewa Tertinggi tak ada yang bisa mengubah laju takdir karena memang faktor kemungkinan sudah tidak bisa menciptakan dunia paralel yang bisa membebaskan dunia dari takdir kehancuran.



Bukti dari tidak bisanya takdir diubah, itu adalah Perang Besar beberapa puluh tahun lalu yang bahkan di zaman para Dewa berkuasa ini tidak bisa dihentikan oleh mereka.



Karena itulah aku ada di dunia ini, jiwa yang direinkarnasikan dari dunia yang telah hancur. Karena dengan adanya aku yang menjadi faktor abstrak dalam jalur dunia, jalur takdir akan menjadi kacau dan mungkin laju dunia akan dibawa ke arah yang berbeda. Karena itulah dalam catatan kuno, anak berambut hitam dikatakan sebagai Pembawa. Tetapi, meski begitu, tetap saja ada satu pertanyaan yang tersisa dalam benakku.



“Kenapa harus aku? Siapa sebenarnya aku sampai-sampai terpilih dari ribuan jiwa dari masa lalu untuk mempertaruhkan keberlangsungan dunia di masa kini?”



Meski telah menyusun pertanyaan untuk menjawab rasa penasaran itu, tetapi tetap saja tak bisa. Ada masih banyak hal yang tidak bisa dijawab Reyah dan ada juga yang tidak diketahuinya.



Aku tak merasa kesal karena itu, paling tidak rasa penasaran dalam pikiran berkurang dengan ini. Setidaknya itu sudah cukup untuk mengurangi rasa yang mengganjal dalam benak ini dan membantuku menetapkan tujuan hidup yang lebih jelas.



Meski ini terasa tidak berbeda dengan kehidupanku yang dulu yang selalu terbawa lingkungan dan orang-orang sekitar, tetapi paling tidak ini lebih baik karena memang bermakna bagi banyak orang.