
Kembali menatap Odo dengan tatapan murni penasaran, pemuda rambut cokelat itu bertanya, “Kau mengolahnya untuk bahan nugget? Eng ..., tetap saja ini membingungkan. Kenapa roti bisa membuat tekstur renyah begini? Roti ... digoreng?”
“Arca, apa kau pernah makan roti murah di toko?” Odo mulai terliat enggan untuk menjelaskan, lalu dengan tatapan datar kembali bertanya, “Apa kau pernah memanggang roti? Apa kau pernah tanpa sengaja memanggang roti tapi malah terlalu matang dan jadinya sangat keras?”
“Kenapa kau tanya seperti itu?” Arca mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang terasa tidak ada hubungannya dengan pembicaraan. Balik menatap kesal, putra sulung keluarga Rein tersebut berkata, “Memang ini terdengar sombong, tapi aku lahir di keluarga bangsawan. Kalangan atas! Mana mungkin aku pernah melakukan hal seperti itu! Kau sendiri, bagaimana?”
“Aku pernah melakukannya, aku juga pernah mengacau dan malah menghabiskan adonan karena coba-coba.” Odo sekilas memalingkan pandangan, mengingat-ingat kelakuannya dulu saat masih sangat kecil yang sering mengacau di dapur dan memakan makanan tanpa izin.
Menghela napas ringan dengan tatapan datar ke arah Arca, pemuda rambut hitam itu sesaat mengangkat kedua sisi bahu dan berkata, “Yah, dulu selain sihir aku juga cukup tertarik dengan dapur karena suka pilih-pilih makanan, sih.”
“Terus apa hubungannya?”
“Kau tahu, permukaan roti yang terlalu matang akan menjadi sangat kasar bahkan keras. Konsepnya seperti itu, menggunakan remah roti. Tapi, mendapatkan remah roti itu butuh biaya besar. Mencari alternatif, aku memilih roti tawar murah untuk mengatasinya.”
“Kau ... bisa mengolah roti supaya bisa jadi tepung?” Arca terlihat begitu penasaran. Ia bangun dari tempat duduk, berdiri di hadapan Odo dan dengan lurus bertanya, “Caranya?!”
“Mudah ....” Odo mengacungkan jari telunjuk ke depan, lalu dengan nada sedikit malas menjawab, “Pertama potong kecil, lalu dihaluskan dengan blender manual—”
“Tunggu!” Arca menyela, dengan penuh rasa penasaran ia kembali bertanya, “Blender? Apa lagi itu?”
“Alat penghalus.” Odo meletakkan kedua tangannya ke pinggang, sedikit menatap datar dan kornea matanya sekilas berubah hijau. Tahu kalau Arca akan terus bertanya selama penilaian untuk memilih menu, Odo menghela napas dan dengan rasa malas menjawab, “Itu juga bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu. Yah, anggap saja seperti alat cincang atau potong praktis.”
“Hmm ....” Sesaat memalingkan wajah dan memagang dagu, pemuda itu mengingat-ingat sesuatu. Arca kembali menatap Odo dan bertanya, “Jadi itu alat-alat baru yang dikatakan Dwarf dari serikat tukang?”
“Kau pernah dengar itu?”
“Ya, Dwarf dari Serikat Kurcaci Merah saat membawakan pesanan furnitur berkata seperti itu.”
Berhenti memegang dagu, Arca melangkahkan kaki melewati Odo dan ingin melihat secara langsung alat-alat tersebut. Pundak putra sulung keluarga Rein tersebut segera dipegang Odo dengan kencang dan langkahnya dihentikan. Sadar kalau pemuda rambut hitam tersebut sedang sedikit kesal, Arca mengurungkan niatnya dan kembali menghadap lawan bicaranya.
“Maaf .... Kita kembali ke topik, Odo. Setelah dihaluskan, kau melakukan apa lagi? Kurasa roti halus itu tidak jauh berbeda dengan tepung gandum.”
Odo menatap datar karena Arca tetap lanjut bertanya setelah ditatap tajam. Menghela napas dengan penuh rasa resah, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Setelah jadi butiran-butiran kasar, panir dicampur beberapa bumbu rahasia, lalu dipanggang. Saat sudah benar-benar kering dan menjadi renyah, panir sudah bisa digunakan atau disimpan dalam stoples.”
“Bumbu ... rahasia?” Arca kembali terlihat penasaran, mendekatkan wajah dan membuat Odo melangkah mundur.
“Itu rahasia dapur, mana mungkin aku beritahu.”
Putra sulung keluarga Rein tersebut tersentak, sadar kalau dirinya terlalu banyak bertanya dan segera mengambil satu langkah mundur untuk menjaga jarak. “Benar juga,” ucapnya pelan.
Sekilas Odo memberikan ekspresi datar menyadari rasa canggung yang ada. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?”
“Masih ada ....” Meski paham kalau Odo sudah terlihat enggan, Arca tetap tidak bisa menahan rasa penasarannya. Pemuda rambut cokelat itu kembali ke meja, mengambil ayam fillet berlapis tepung renyah yang telah digigit. Menunjukkan itu dengan tatapan ingin tahu, pemuda rambut cokelat tersebut kembali bertanya, “Untuk ayam renyah ini ..., cara membuatnya bagaimana? Apa menggunakan tepung lagi?”
“Untuk pelapisnya memang iya, itu dari tepung terigu dan maizena. Tentu saja ada tambahan bahan kuning telurnya.”
“Terigu? Maizena?” Arca terlihat bingung.
“Tepung jagung dan tepung gandum!” bentak Odo dengan jengkel. “Kau awam sekali soal dapur, ya ....”
“Kau yang terlalu tahu!” Arca membentak balik. “Bangsawan mana juga yang mau susah-susah belajar cara masak.”
“Bangsawan di depanmu, loh.”
“Tch!” Arca menggertakkan giginya dengan ekspresi kesal mendengar argumen semacam itu. Dengan cepat ia melupakan rasa canggung dalam benak, lalu dengan lantang berkata, “Kurasa itu hanya kau!”
Odo sekilas tersenyum melihat Arca tidak lagi ragu-ragu atau enggan untuk mengutarakan isi benaknya. Sedikit memalingkan pandangan dari pemuda itu, dengan nada sedikit malas Odo berkata, “Yah, kita kesampingkan itu. Apa ada lagi yang membuatmu bingung?”
“Ada ....” Arca meletakkan kembali ayam yang dibawanya ke atas piring, lalu dengan suara tegas berkata, “Ayamnya, kok gak ada tulangnya?”
“Eeeeh? Itu juga kau tanyakan? Apa kau tak berpikir kalau tulang ayam bisa diambil sebelum dimasak? Itu fillet, loh. Ayam Fillet ....”
“Ouh, benar juga.” Arca mengangguk paham, menangkap itu dengan serius seakan memang hal tersebut sangat menarik untuknya. Menatap lawan bicaranya dengan heran, pemuda itu kembali berkata, “Kalau tulang ayam dikeluarkan dulu sebelum diolah, saat disantap itu bisa menambah rasa bumbu. Itu juga bisa mempermudahnya saat disantap, terutama untuk orang tua atau anak-anak.”
Odo merasa tak peduli dengan pendapat bersifat analisa tersebut. Menarik napas dalam-dalam dan bertambah malas, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Jadi, sudah semua, ‘kan? Aku ingin melanjutkan penilaian ini.”
“Masih ....” Arca memegang dagu, menatap sedikit curiga dan dengan nada sedikit angkuh bertanya, “Untuk yang seperti rumah siput itu ... makanan apa?” Putra sulung keluarga Rein itu menunjuk ke makanan yang sedang disantap oleh keluarga Demi-human dengan garpu mereka.
Itu membuat Sittara dan saudara-saudarinya terhenti, menatap dengan heran pemuda rambut hitam tersebut. Dengan polos Sittara mengangkat Rolade yang masih tinggal sedikit dengan garpu, lalu berkata, “Kakak galak, ini daging sapi! Masa tidak tahu?”
Arca sedikit tersentak mendengar itu, menatap datar gadis kecil tersebut dengan alis kiri berkedut. Menghela napas dan kembali menatap ke arah Odo, pemuda rambut cokelat tersebut menunggu jawabannya.
Odo memutar kedua bola mata ke samping, terlihat sedikit bosan dengan pembicaraan dan dengan acuh tak acuh menjawab, “Kau tahu siput tapi tidak tahu jenis tepung yang paling umum digunakan di dapur, bangsawan memang aneh. Haaah .... Bahkan kau tak tahu soal makanan seperti. Asal kau tahu, makanan tersebut tidak terlalu asing, loh. Ada beberapa yang sejenis itu untuk kalangan atas.”
“Sialan, kau juga aneh!” Arca menunjuk dengan kesal pemuda di hadapannya, lalu dengan emosi berkata, “Dasar bangsawan tukang masak!!”
“Hah! Terserah ....” Pemuda rambut hitam itu menatap tak peduli dengan perkataan tersebut. Menarik napas dalam-dalam, ia kembali berkata, “Jadi, tadi soal Rolade?”
“Itu namanya Rolade?” ucap Arca seraya melihat ke arah masakan tersebut.
“Ya .... Seperti namanya, itu digulung. Hanya potongan pipih daging sapi yang digulung memanjang dan direbus, lalu dipotong-potong lagi sebelum digoreng.”
“Hanya itu?” Arca menatap dengan curiga, kembali meletakkan tangannya ke dagu dan bertanya, “Lalu bagian yang menyatukannya ini apa? Telur?”
“Iya, telur.”
“Terus yang hijau-hijau apa?”
“Itu daun seledri.”
“Untuk bumbu tambahannya? Yang rasanya menyegarkan, unik dan warnanya putih dan sedikit kecut itu apa?”
“Mayones ....”
“Apa lagi itu? Kenapa rasanya sedikit kecut tapi segar?”
“Itu terbuat dari telur ayam, minyak nabati, dan cuka yang dimasukkan ke dalam blender untuk diaduk sampai kental.”
“Cuka? Zat asam terbuat dari alkohol?”
“Aku tidak pakai alkohol, itu hanya proses fermentasi dari apel matang. Aku mendapatnya dari Lokakarya di distrik pengrajin.”
“Oooh, sedikit berbeda, ya.”
“Kalau yang ada di samping mayo— Mayo .... Mayones! Yang warnanya sedikit merah ini apa?”
“Itu hanya mayones yang dicampur dengan bubuk cabai merah dan merica. Aku memanggang cabai dalam oven supaya kering, lalu dihaluskan dengan blender.”
“Tadi kau juga bilang Oven. Sebenarnya itu apa, sih? Semacam alat pemanggangan?”
“....”
Odo terdiam senyap dengan ekspresi benar-benar malas meladeni semua pertanyaan yang terlontar seakan tidak ada hentinya tersebut. Kesabaran Odo sampai pada batasnya dan benar-benar risihnya tidak bisa ditolerani. Mengepalkan tangan kanan dan mengangkat tinjunya ke arah Arca, pemuda rambut hitam itu berkata, “Banyak cakap kau ini, ingin ku hajar apa?”
“E—Eh?” Arca seketika gentar dan melangkah mundur melihat wajah murka Odo, rasa trauma karena pernah dipecundangi tertanam jelas dalam benaknya. Dengan gagap pemuda itu bertanya, “Ke-Kenapa marah?”
“Enggak, kok. Hanya saja ....” Odo menatap gelap, sekilas memancarkan nafsu membunuh dan membuat atmosfer di ruangan tersebut berubah drastis. Setiap orang tersentak, berhenti bergerak, gemetar dalam tempat kecuali Suigin dan Sittara yang tidak terpengaruh. Arca yang dengan jelas diarahkan aura seperti itu langsung mati kutu, tak bisa berkata apa-apa dan keringat dingin bercucuran dengan deras sampai merembes keluar dari setelan jasnya.
Menghela napas dan menghentikan aura intimidasi tersebut, Odo kembali berkata, “Jujur ini menjengkelkan saja kalau ditanya beruntun seperti itu. Lagi pula, kau tak punya adab orang bertanya?”
“A-Adab?”
“Kalau orang meminta sesuatu atau bertanya paling tidak tambahkan kata tolong atau maaf, lalu sopanlah sedikit.”
“Ma-Maaf ....”
Sekilas suasana berubah canggung karena hal tersebut, setiap orang ikut berkeringat dingin merasakan hawa mematikan yang sekilas terpancar tersebut, kecuali Suigin dan Sittara. Sadar dengan tatapan mereka yang sedikit takut, Odo menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Setelah makan, kalian juga pasti haus. Silakan minum minuman kalian ....”
Tak ada yang berani mengangkat gelas kayu karena atmosfer yang ada masih terasa canggung. Segera menatap datar Arca, Odo memberi kode pada putra sulung keluarga Rein tersebut untuk duduk dan mulai terlebih dulu mencicipi minuman.
“Uwah~! Apa ini! Segar sekali! Apa ini—?”
Seketika perkataan Arca terhenti, ia takut untuk bertanya pada Odo setelah apa yang terjadi tadi. Memalingkan pandangan dan menatap ke arah Logi di sebelahnya, pemuda rambut cokelat itu berkata, “Coba kau juga cicipi, rasanya enak, loh!”
Odo jelas-jelas tahu kalau Arca berniat tanya melalui bawahannya tersebut. Membiarkan hal itu dan hanya menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut membiarkan semua orang terlebih dulu mencicipi minuman yang tersaji tersebut.
Mereka memperlihatkan reaksi yang tak jauh berbeda dengan Arca, terkejut akan segarnya minuman tersebut meski seharusnya tidak ada bahan segar yang dijual di pasar karena musim masih pertengahan semi dan buah-buahan baru bisa dipanen awal musim panas atau mendekati musim gugur.
“Tu-Tuan Odo, memangnya ba-bahan apa yang anda gunakan untuk membuat minuman ini? Ra-Rasanya ini apel, bukan?” tanya Logi dengan gemetar karena terus ditekan oleh Arca yang terlihat sangat ingin tahu.
“Ini hanya apel dan Prem kering yang diblender, lalu dijadikan teh dan diseduh air panas. Setelah suhunya turun, itu didinginkan ke lemari es.”
“Lemari ... es?” Logi terlihat bingung mendengar itu, namun tatapan tajam dari Arca membuat tubuhnya berkeringat dingin.
“Lemari pendingin.” Odo sedikit menikmati situasi konyol mereka berdua, sembari tersenyum tipis ia berkata, “Alat yang bisa juga membuat balok es ....”
“Ouh, alat sihir?”
“Ya ....” Pemuda rambut hitam tersebut sekilas memalingkan pandangan, lalu dengan nada sedikit acuh menjelaskan, “Karena keterbatasan bahan, aku hanya bisa membuat satu jenis. Buah segar tidak bisa kompromi musimnya, sih.”
Setelah semua menu makanan dan minuman selesai dicicipi mereka semua, Odo berdiri sebagai pusat perhatian semua orang di tempat tersebut. Melipat kedua tangannya ke depan dada, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Jadi, setelah makan semua itu, mana yang paling enak? Itu akan keluar nanti besok lusa saat toko kita buka.”
“Besok ... lusa? Tidak besok?” tanya Nanra dengan tatapan sedikit heran dengan keputusan tersebut.
Odo menatap gadis rabut putih keperakan itu, lalu mengacungkan telunjuk kanan ke depan dan menjawab, “Ya, besok lusa.”
“Memangnya kau ada perlu apa lagi besok?” tanya Arca dengan heran.
Menatap ke arah putra sulung keluarga Rein tersebut, Odo menjawab, “Masih ada banyak hal yang perlu diurus, nanti akan kujelaskan lanjutannya.”
Odo menghela napas ringan, satu persatu melihat mereka yang ada di ruangan untuk memastikan sesuatu. Paham dengan rasa cemas mereka semua yang merasa tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan meski bergabung dalam perusahaan, pemuda rambut hitam tersebut bertepuk tangan satu kali dan berkata, Untuk besok, kalian siapkan bahan-bahannya saja. Karena itulah aku memberitahukan menunya sekarang dan melakukan penilaian seperti itu. Jadi, menu apa yang paling enak?”
“Nugget ayam!” jawab Logi.
“Nugget sapi!!” jawab Ligh.
“Rolade!” jawab Sittara.
“Ayam Fille!” jawab Arca.
“Nugget ayam ...,” jawab Arca.
“Nugget sapi,” jawab Matius.
“Rolade ...,” jawab Isla.
“Nugget ... ayam,” jawab Totto.
“Nugget ikan ...,” jawab Ritta.
“Nugget ayam,” jawab Mattari.
Dari semua orang yang ada di dalam ruangan, hanya Mavis yang tidak memberikan suaranya. Menggunakan sistem mayoritas, menu awal dari tempat mereka diputuskan akan membuat Nugget ayam sebagai menu utama dan jus apel untuk minuman.
Setelah penilaian selesai, Odo memberikan tugas pada mereka masing-masing seperti membeli daging ayam lagi untuk bahan utama, buah apel dan beberapa hal lainnya untuk mempersiapkan operasional restoran mereka besok lusa. Semua itu didelegasikan kepada Elulu sebagai kepala dapur, lalu lainnya bertugas membantu dan di akhir akan dicatat laporan keuangannya oleh Nanra.
Setelah membahas hal tersebut, barulah mereka membicarakan laporan Arca yang tadi sore melakukan lobi dengan Serikat Dagang Lorian. Dari kegiatan tawar menawar tersebut, dengan jelas sebuah lampu hijau memang terbuka sejak awal. Odo mengirim Arca ke tempat Aprilo hanya untuk melakukan konfirmasi atas kerja sama yang sebenarnya telah mereka lakukan jauh sebelum putra sulung keluarga Rein tersebut datang ke kota Mylta.
Perjanjian tersebut adalah sebuah pembagian saham antara dua perusahaan, saling membeli dan menjual aset satu sama lain untuk menjalin kerja sama. Mengetahui bahwa dari awal ada perjanjian antara Serikat Dagang dan Odo dari awal, Arca merasa tidak berguna karena lobi yang dilakukannya berjalan dengan cepat. Dengan kata lain, Arca datang hanya bertugas untuk mengantar pembayaran dari pembelian saham dari Serikat Dagang Lorian.
Sebab hal tersebutlah Arca terlihat kesal dari awal dan menekan-nekan Odo untuk segera mendengar protesnya. Namun setelah apa yang terjadi sebelumnya dan diintimidasi, pemuda rambut cokelat tersebut tidak protes dan hanya menyerahkan beberapa kertas saham kepada Odo.
.
.
.
.
.
Setelah selesai membahas beberapa hal lainnya, Odo melepaskan celemek dan menaruhnya di atas salah satu kursi dengan sembarang. Pemuda itu menyingsingkan lengan kemejanya sampai siku, sejenak menghela napas dan memasang ekspresi jenuh penuh beban pikiran pada sesuatu yang berbada. Kening mengerut, sorot mata terlihat kosong dan bibir sedikit dimasukkan ke dalam mulut.
Sesudah piring-piring dibereskan oleh Elulu dan yang lainnya, mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing untuk mendengar pemberitahuan tambahan dari Odo Luke. Berjalan ke arah salah satu kursi tempat dirinya meletakkan jubah hitam, pemuda rambut hitam tersebut mengenakannya kembali dan langsung menghadap ke arah Nanra.
“Nanra, kau besok kembali dulu ke panti asuhan saja ....”
“Eh?” Nanra terlihat bingung mendengar pertataan tiba-tiba tersebut, kedua matanya terbuka lebar dan mulutnya hendak ingin mengatakan sesuatu namun kembali rapat.
Menatap dengan pandangan sayu yang terlihat kosong, sekilas kornea mata Odo berubah hijau dan ia berkata, “Mbak Siska pasti cemas kalau kau menginap di luar terus, kembali dulu ke sana. Sekalian ganti pakaian, kau belum ganti sejak kemarin, ‘kan?”
“Ta-Tapi ....” Nanra bangun dari tempat duduk, berjalan mendekat ke arah Odo dan dengan wajah sedikit cemas berkata, “Bukannya kamu tadi bilang aku harus mengurus keuangan perusahaan ini? Kamu memerintahkan Mbak Elulu buat beli bahan baku dan sekalian cari pakaian yang lebih pantas untuk Sittara dan yang lainnya, ‘kan? Kalau begitu, sudah tugasku untuk—”
“Ada kuitansi atau noda, kau bisa menggunakan itu untuk pembukuan. Tak perlu kau harus selalu ikut mereka.”
Nanra terdiam, memalingkan pandangan dan merasa itu memang benar. Dalam benak gadis rambut putih keperakan tersebut, berada di toko lebih nyaman daripada terus-terusan tidur di panti asuhan Inkara tanpa melakukan sesuatu yang produktif di sana. Di tempat yang sudah dirinya anggap rumah tersebut, hanya Nanra yang tidak memiliki kegiatan pasti dan merasa seperti benar-benar ditinggalkan yang lain.
“Kenapa murung?” tanya Odo melihat ekspresi gadis tersebut.
“Kalau di tempat itu ... rasanya aku hampa.” Mengangkat wajahnya dengan penuh rasa enggan, gadis itu berkata, “Daniel sering pergi ke barak untuk berlatih menjadi Tamtama di sana, Nesta sibuk berlatih untuk menjadi biarawati, Firkaf belakangan ini sering sekali keluar dan katanya sedang berlatih menjadi penempa .... Bahkan, Mila dan Erial lebih sering ikut Mbak Siska ke Gereja Utama karena di sana sedang sibuk .... Aku ....”
Odo paham perasaan Nanra, mereka yang tinggal di panti asuhan hampir semuanya telah mulai melangkah maju untuk menggapai cita-cita mereka masing-masing. Berusaha dalam keterbatasan, memanfaatkan kesempatan yang ada dan terus berkembang. Tinggal di lingkungan seperti itu tanpa melakukan apa-apa sangatlah berat, Odo paling mengerti hal tersebut karena dulu di kehidupan sebelumnya ia juga merasakan hal yang tidak jauh berada.
Meletakkan tangan kanan ke atas kepala gadis tersebut, Odo Luke berkata, “Aku paham apa yang kau rasa, memang menyebalkan saat melihat orang lain bekerja keras meraih mimpi namun diri sendiri tidak punya sesuatu yang bisa dilakukan. Rasanya dalam dada ada yang muncul, seakan mendorongmu untuk bergerak dan berkata, ‘Sudah melakukan apa kau sampai sekarang? Apa kehidupanmu ada artinya di dunia ini? Untuk apa kau ada di tempat ini?’ atau semacam itu.”
Mengangkat wajah dan menatap Odo, kedua mata Nanra sedikit berkaca-kaca dan ia pun bertanya, “Apa ... kamu juga pernah merasakan hal itu?”
“Pernah, malah sering ..., bahkan sekarang aku masih mempertanyakannya.”
Odo sekilas terdiam, menatap gadis yang lebih pendek darinya itu dan memasang senyum sayu. Sembari mengelus kepalanya, pemuda itu kembali berkata, “Apakah aku sudah melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri? Untuk waktu yang kumiliki dan demi orang lain. Kau tahu, Nanra .... Aku menganggap setiap apa yang diriku miliki ada jatahnya masing-masing.”
“Jatah?” tanya Nanra bingung.
“Ya, jatah. Kau bisa menyebutnya hak.” Odo sekilas memalingkan pandangan dari sorot mata polos gadis itu, lalu dengan hela napas ringan berkata, “Jumlah aku bisa berkedip, jumlah aku bisa menghirup dan menghembuskan napas, jumlah aku bisa tidur dan bangun, semua itu ada jatahnya. Saat semuanya berakhir, kelak pasti semua itu akan dipertanggungjawabkan. Apa yang bisa kita dilakukan sekarang hanyalah melakukan yang terbaik, tak perlu pusing memikirkan orang lain. Mereka berusaha sendiri dalam kemampuan mereka.”
“Kemampuan .... mereka?”
Sekilas Nanra memikirkannya, anak-anak panti asuhan memang hanya berusaha dalam kemampuan mereka dan tidak meminta lebih. Entah itu Nesta bahkan Firkaf, mereka semua hanya mengharapkan apa yang bisa mereka ingin capai dan tidak serakah untuk menguasai banyak hal sekaligus. Menatap ke arah Odo, Nanra merasakan hal yang berbeda. Pemuda di hadapannya seakan tidak mengharapkan semua keahlian yang ada, namun keahlian-keahlian yang ada pada dirinya hanya ada untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.
“Ya, kemampuan mereka.”
Odo mengangkat tangannya dari kepala Nanra, lalu berbalik dan berjalan ke arah Mavis yang duduk pada meja di dekat pintu keluar. Wanita rambut pirang itu segera bangun dari tempat duduk, dan mereka berdua pergi ke arah pintu bersama.
Saat hendak membuka pintu dan keluar, Arca bertanya, “Kau mau ke mana memangnya? Malam-malam begini ....” Pertanyaan itu mewakili rasa penasaran semua orang. Odo memang menjelaskan semua apa yang harus dilakukan besok, namun pemuda rambut hitam itu tidak menjelaskan akan ke mana dirinya pergi sekarang.
“Hmm?” Odo berbalik dan menatap ke arah Arca, lalu dengan senyum tipis ia pun menjawab, “Tentu saja cari pelengkap lainnya untuk tempat ini. Kalian kerjakan saja apa yang kita bahas tadi, aku akan kembali besok siang atau sorenya. Ingat ya, Arca. Jangan sampai naik pitam dan mengacau, loh. Aprilo lumayan benci kau, kalau dia naik pitam dan memutuskan kerja sama bisa runyam nanti.”
“Hah!” Arca mengendus, bangun dari tempat duduk dan melipat kedua tangannya ke depan. Dengan nada angkuh pemuda rambut cokelat itu berkata, “Kalau begitu kita lakukan saja sendiri! Modal di pihak kita lebih besar! Bila perlu, aku juga sekalian keluar dana!”
Mendengar jawaban seperti itu, Odo merasa kalau Arca memang tidak paham. Odo mengerti Pola pikir semacam itu memang sangatlah wajar untuk bangsawan yang selalu berada di atas, bahkan ayahnya juga sering bertingkah angkuh dalam memutuskan sebuah kebijakan. Tidak ingin berdebat soal sifat, Odo hanya berkata, “Ya, itu memang bisa. Tapi pasti butuh waktu, dan aku tak ingin itu ....”
“Memangnya sangat mendesak, ya?” Arca berjalan mendekat ke arah Odo dan Mavis yang berdiri di depan pintu, lalu dengan heran bertanya, “Bukannya masih ada beberapa bulan lagi?”
Odo terdiam, sekilas melirik ke arah Mavis dan terlihat tidak ingin mengatakan alasannya dengan jelas. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu menatap Arca dan secara implisit menjawab, “Aku ... tidak punya waktu lagi.”
“Tak punya waktu?”
“Yah ....” Odo berbalik, membuka pintu dan berkata, “Kelak kau akan tahu. Saat itu, kuserahkan semuanya padamu dan Nanra.”
Dengan perkataan yang membingungkan tersebut, pemuda itu keluar dari ruangan bersama perempuan rambut pirang yang datang bersamanya. Arca hanya terdiam, ia akan paham perkataan itu kelak dalam waktu yang akan datang dan pasti pemahaman tersebut akan datang dalam bentuk penyesalan.
««»»