Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 52 : Toward (Part 05)



 


 


Di depan mulut gua berbatu, para Minotaurus terlihat kebingungan mencari sosok yang telah memprovokasi mereka. Para monster berkepala banteng itu berkerumun, melihat tajam ke kanan dan kiri dengan napas terengah-engah penuh nafsu membunuh. Di antara para Minotaurus, sosok yang lebih superior berdiri tegak dengan postur tubuh lebih ramping dari kawanannya. Bulu putih, berdiri tegap setinggi tiga meter dengan tubuh kekar yang terlihat kurus. White Bull tersebut lebih cenderung mirip dengan manusia secara postur tubuh, tidak seperti kawanannya yang cenderung membungkuk.


 


 


“Khaa! Ukah!!”


 


 


Monster berbulu putih itu memerintah, layaknya memang memiliki kecerdasan tinggi dan mengatur para Minotaurus lain untuk mencari orang yang memprovokasi mereka. Namun sebelum para monster itu berpencar, seorang pemuda keluar dari pepohonan dan berjalan dengan santainya ke arah para monster.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut adalah Odo Luke, ia memegang pedang di tangan kanan dan menatap datar ke arah para monster. Berhenti melangkah dan berdiri sejauh dua puluh meter di depan kawanan Minotaurus, sekilas pemuda itu membuka telapak tangan kirinya ke depan dan menghela napas. Udara yang mengenai telapak tangannya memberikan beberapa informasi tentang para Minotaurus tersebut.


 


 


“Aku memang sudah bisa mengendalikan Aitisal Almaelumat. Tapi, tetap saja tetap saja kalau tanpa sarung tangan memang informasi yang masuk tidak konsisten. Datanya terlalu kacau.”


 


 


Kornea mata Odo berubah hijau, menggunakan Spekulasi Persepsi dan memulai analisa semua monster yang ada di hadapannya. Saat tahu kalau para Minotaurus itu hanya berjumlah 22 ekor termasuk White Bull yang memimpin mereka, Odo menurunkan tangan kiri dan memasang ekspresi datar.


 


 


“Moogghhh!! Aghh!!! Uagkkhh!!!”


 


 


The White Bull memerintahkan kawanannya, mereka langsung berlari ke arah Odo dan menyerang secara serentak. Paham kalau menghadapi makhluk dengan kemampuan fisik tinggi itu dari depan adalah tindakkan bodoh, Odo menggunakan kekuatan manipulasi informasi dan mengubah kemampuannya dari Magus ke Swordman. Tekanan sihir menurun drastis, digantikan dengan pancaran aura tipis dari seorang pengguna pedang.


 


 


Menekan dada kiri dengan telunjuk kiri untuk melakukan stimulasi pada jantung, ia mengatur sirkulasi Mana dalam tubuh dan benar-benar mengubah sirkulasi energi kehidupannya. Dengan cepat otot-otot pemuda itu mengencang, postur tubuhnya sekilas mengecil karena massa otot tubuhnya dipusatkan dan dimaksimalkan. Menekan bagian punuk leher dengan ibu jari, pemuda itu memaksimalkan sensorik tulang belakang miliknya menggunakan dasar teknik akupunktur sederhana.


 


 


“Upgrade Type, Swordman to Sword Master. Proses penyesuaian dimulai, tingkat pengalaman dalam tipe ketentuan awal disesuaikan, selesai. Penerapan awal, penyelarasan disesuaikan, mode diterapkan. Memasang data taktik pertarungan. Melepas dasar awal Tubuh Fisik, Etheric Body diakses. Penyesuaian simpul energi, tahap pembentukan tulang, daging dan darah selesai. Ranah Jiwa diakses, membuka konsep Mata Ketiga! Eksekusi!”


 


 


Dalam sekejap pemuda itu merombak hampir seluruh tahap kultivasi Inti Sihir miliknya. Ia menyimpan informasi yang sebelumnya telah ada, lalu menimpa tubuh dengan informasi berbeda untuk mengubah kemampuan baik secara raga maupun sukma. Aura yang terpancar darinya berubah, seakan-akan yang berdiri di hadapan para monster tersebut adalah orang yang berbeda.


 


 


Odo tidak memasang kuda-kuda, ia hanya berdiri tegak meski kawanan Minotaurus itu akan menerjangnya dengan brutal. Menarik napas dalam-dalam, ia memaksimalkan Spekulasi Persepsinya dan menganalisai segala jenis pergerakan para monster itu. Pernapasan, gerak otot, alur langkah kaki, ayunan senjata, tatapan mata dan nafsu membunuh, semua itu dimasukkan ke dalam kepala dan dianalisa sepenuhnya.


 


 


“Teknik Pedang Utama ....”


 


 


Odo mengambil satu langkah ke depan, seketika pancaran aura menyebar dan gerakan para monster tersebut terlihat sangat lambat di matanya. Itu bukan karena aura yang tersebar membuat mereka semakin lambat, namun karena memang pikiran Odo menjadi semakin cepat. Selama aura tersebar dalam jangkauan lima puluh meter dari tubuhnya, pemuda itu bisa mengikuti laju pikirannya yang meningkat lebih cepat sampai puluhan kali lipat.


 


 


Ia menyalurkan Mana pada pedang, mengaktifkan Rune bercahaya dan membuat senjatanya bergetar dengan kecepatan hipersonik. Menggunakan sihir pelontar dalam sekala kecil pada telapak kaki kanan, Odo melesat dengan kecepatan tidak masuk akal dan langsung memenggal kepala dua ekor Minotaurus berada di barisan paling depan. Sebelum kepala mereka jatuh ke tanah, Odo langsung berpijak lutut salah satu monster yang terpenggal dan kembali meloncat ke arah Minotaurus lain.


 


 


Pedang diayunkan, langsung mengoyak leher salah satu Minotaurus dan dilanjutkan dengan tebasan horizontal yang sampai membuat tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Bergerak di antara monster bertubuh besar dan tinggi tersebut, pemuda itu seakan menari-nari di antara kematian, terus mengayunkan pedangnya dan mengoyak leher serta tubuh mereka tanpa keraguan sedikit pun.


 


 


Di mata kawanan monster itu pergerakkan Odo sangatlah cepat, meski pada kenyataannya ia hanya melangkah dan meloncat biasa untuk menebas serta memenggal kepala. Sebelum mereka sempat bereaksi, pemuda itu langsung meloncat ke arah Minotaurus lain di hadapan dan kembali memenggal para monster berkepala banteng tersebut. Menggunakan cara yang sama, dalam waktu kurang dari sepuluh detik mereka semua tumbang dan hanya menyisakan The White Bull yang masih berdiri.


 


 


Splaaat!!! Splat! Craat! Croat! Krayak!!


 


 


Saat Odo menghentikan tekniknya, efek tebasan baru terlihat dan darah muncrat dari tiap leher Minotaurus yang telah ditebasnya. Ada beberapa yang kepalanya terpenggal, dan ada juga yang terbelah menjadi dua bagian secara horizontal. Berdiri di antara para mayat Minotaurus yang bertumbangan, pemuda rambut hitam itu mengayunkan pedangnya ke samping untuk membersihkan darah yang membasahi mata pedang yang sudah tidak lagi bergetar tersebut.


 


 


“God Step Vedîtin ....”


 


 


Padang yang dipegang Odo sampai pada batasnya, mata pedangnya retak karena tidak bisa lagi menahan getaran selama digunakan untuk menebas dan pada akhirnya mata pedang patah menjadi beberapa kepingan. Membuang pedang tersebut ke tanah, pemuda rambut hitam itu menatap tajam ke arah sang monster putih yang masih berdiri.


 


 


Sang White Bull seketika gemetar melihat momen tersebut. Pada sorot matanya, pemuda rambut hitam itu sama sekali tidak bisa ditangkap secara visual dan apa yang dilihat sang monster tadi hanyalah momen satu persatu kawanannya tumbang dalam waktu yang sangat singkat. Monster berbulu putih itu melangkah mundur, benar-benar ketakutan sebelum mencoba untuk melawan.


 


 


“Ada apa? Bukannya kau tadi sombong, kerbau? Ayo, coba serang aku! Bantu aku bereksperimen sebentar ....” Odo menunjuk, lalu menatap dengan sorot mata datar dan berkata, “Kau, sampai pada tahap mutasi lanjutan, bukan? Berarti seharusnya bisa menggunakan sihir. Coba gunakan padaku.”


 


 


“Moogghhh!!”


 


 


Monster itu terprovokasi dengan mudahnya. The White Bull mengulurkan kedua tangannya ke depan, membuat lingkaran sihir lebar dan menembakkan sihir meriam air dengan tekanan tinggi. Itu melesat dengan sangat cepat, namun dengan gerakan sederhana dan cepat Odo menghindarinya, dan itu hanya menyerempet tipis pelipis kirinya. Meriam air dengan tekanan tinggi itu mengenai pepohonan, membuat beberapa pohon berlubang dan tumbang.


 


 


Odo bertepuk tangan, menatap rendah seakan menghina sihir yang digunakan makhluk berakal rendah itu. “Hebat. Aku baru pertama kalinya melihat monster rendahan bisa menggunakan sihir seperti itu.” Tersenyum ringan dan berhenti bertepuk tangan, pemuda itu dengan nada merendahkan berkata, “Yah, jujur saja itu masih sangat sederhana untuk disebut sihir. Strukturmu masih kacau dan sangat boros Mana .... Akan kutunjukkan apa itu sihir yang sebenarnya, lihat baik-baik karena ini akan menjadi pelajaran terakhir dalam hidupmu, monster.”


 


 


Odo mengulurkan tangan kanannya ke depan, membuat lingkaran sihir yang sekilas mirip dengan apa yang monster itu gunakan tadi. Namun saat dimodifikasi, lingkaran sihir tersebut bertambah menjadi empat lapis namun ukurannya semakin mengecil dan menjadi hanya sebesar telapak tangan.


 


 


“Wahai embun, jadilah air dan biarkan aku menguasaimu.”


 


 


Dalam hitungan detik kabut dalam jumlah tak wajar berkumpul, bergerak cepat dari hutan yang masih berembun menuju ke arah pemuda itu. Kabut mulai memusat pada telapak tangannya, membentuk sebuah pola air padat sebesar telapak tangan. Perlahan bentuknya berubah menjadi kerucut, dengan ujung lancipnya mengarah ke monster berbulu putih di hadapan pemuda itu.


 


 


 


 


Sihir meriam air langsung melesat ke arah The White Bull dengan kecepatan tinggi, dalam satu hentakkan kuat.


 


 


Crakt!


 


 


Tanpa bisa menghindar, dada monster itu berlubang sebesar bola sepak dan tubuhnya langsung tumbang tanpa bisa mengeram menjelang ajalnya. Monster yang dikatakan butuh satu regu untuk ditaklukkan dengan mudah dihabisi dengan sekali serang.


 


 


Sekilas ekspresi Odo merasa kecewa, tidak merasa puas setelah mengalahkan lawannya. Namun tiba-tiba darah mengalir dari hidung pemuda itu, bahkan sampai mulutnya juga sedikit mengeluarkan darah. Mengusap darah dan segera memegang kening karena denyut sakit dalam kepala, ia memasang tatapan datar.


 


 


“Tubuh ini memang sudah tidak cocok. Meski aku mengubah komposisi tubuh supaya bisa menyesuaikannya, tetap saja sihir sudah tidak lagi menjadi bidang keahlianku. Apa kerusakannya bersifat permanen? Padahal sekarang hampir 50% sirkuit sihirku sudah pulih, tapi kenapa efek sampingnya malah ....”


 


 


Odo berjalan mendekati monster berbulu putih tersebut, melewati mayat-mayat Monotaurus yang bergelimpangan. Berjongkok di depannya dan memegang permukaan kulit dada monster itu dengan tangan kiri, pemuda itu menggunakan kekuatannya untuk mencari tahu sesuatu. Dengan satu sentuhan dirinya langsung paham apa yang membuat monster itu bisa bermutasi, sekias fakta yang didapatnya membuat pemuda itu memasang wajah sedih.


 


 


“Sudah kuduga, mana mungkin monster bisa menggunakan sihir seperti itu meski telah bermutasi pada tahap lanjutan. Sialan ini, bukan hanya pernah membunuh penyihir ..., dia juga memakannya.”


 


 


Ada perbedaan besar antara Demi-human dan monster, yaitu kemampuan perkembangan mereka yang secara konteks dasar sangatlah berbeda. Tahapan perkembangan Demi-human sangatlah dekat dengan manusia, perlu latihan dan waktu untuk terus berkembang secara kekuatan dan pengetahuan yang dimiliki didapat dari pembelajaran.


 


 


Berbanding terbalik dengan hal tersebut, monster dapat menjadi lebih kuat dengan memangsa yang lain. Dalam beberapa kasus, ada juga monster yang bisa merebut kekuatan jenis monster lain dengan dimangsanya. Mereka juga tidak jarang melakukan kanibalisme, reproduksi silang jenis dan bahkan memangsa anak mereka sendiri. Dalam kasus langka, monster yang memakan manusia atau makhluk berkecerdasan tinggi lain mereka bisa menjadi lebih mirip dengan apa yang mereka mangsa tersebut. Tidak hanya mendapat kekuatan dari makhluk yang dimangsa, namun mereka juga bisa mendapat pengetahuan dari otak yang mereka makan.


 


 


Sekilas ia terlihat benar-benar resah dengan hal semacam itu. Di benua Michigan, kekacauan dan mara bahaya timbul tidak hanya dari peperangan, namun para monster juga. Hal tersebut menjadi salah satu pokok permasalahan utama untuk setiap negeri, namun secara permukaan memang jarang dibahas karena Keempat Negeri Besar terlalu sibuk dengan urusan yang lain dan cenderung tidak memikirkan hal tersebut.


 


 


Kejahatan yang ditimbulkan bandit, masalah politik, rencana penyejahteraan, potensi perang, pembagian wilayah, dan beberapa hal lainnya, masalah-masalah seperti itulah yang kebanyakan masuk ke dalam rapat utama di Ibukota Kerajaan Felixia. Soal perkembangbiakan monster dan bahaya yang dihasilkannya cenderung dilimpahkan kepada pemimpin masing-masing wilayah, itu menjadi tugas dan kewajiban mereka sendiri tanpa bisa meminta bantuan kepada wilayah lain karena masalah harga diri.


 


 


Meski jatuh banyak korban, pemimpin tidak akan meminta bantuan terkait masalah seperti itu. Meskipun meminta, selama tidak menyangkut pautkan ada kaitannya dengan iblis atau sejenisnya wilayah lain tidak akan dengan sukarela memberikan bantuan.


 


 


Odo kembali berdiri, berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut dan segera menatap ke arah gua. Dengan apatis dan berusaha melupakan penyihir yang telah dimangsa oleh Minotaurus tersebut, pemuda itu masuk ke dalam gua seperti apa yang dirinya tuju saat datang ke sarang para monster tersebut.


 


 


“Kekuatan ini memang praktis untuk mencari informasi, tapi kalau seperti ini memang efek baliknya parah. Rasanya—Ueekk!!”


 


 


Langkah kaki Odo terhenti dan ia muntahkan makanan yang sedikit bercampur dengan darah. Gambaran saat The White Bull masih menjadi Minotaurus biasa dengan jelas terngiang dalam kepala pemuda itu. Momen saat monster tersebut menyantap sang penyihir malang dengan brutal benar-benar terasa. Gambaran penglihatan tanpa warna sang Minotaurus saat menyeret gadis berjubah ke dalam gua, lalu membantingnya ke tanah dan dinding terngiang di dalam kepala Odo.


 


 


Sensasi mengunyah daging lembut seorang gadis muda, mematahkan tulangnya, dan memakan tiap serat daging, semua itu dirasakan Odo dengan jelas karena sebelumnya ia menggunakan persepsi sang monster putih untuk mencari informasi.


 


 


“Sialan ...! Lebih baik aku tidak usah menyentuh monster lagi, rasanya menjijikkan ....”


 


 


Setelah itu, pemuda itu pun masuk ke dalam gua yang semua penghuninya sudah dibinakan. Seperti yang diduga, di ujung gua tersebut terdapat kolam nektar sihir. Itu merupakan sebuha kumpulan energi alam berbentuk cair sebelum mengalami kristalisasi, masih murni dan bisa diberikan atribut dengan bebas. Karena tidak memiliki alat untuk menampung semua isi kolam yang menggenang seperti danau bawah tanah tersebut, Odo memutuskan untuk masuk ke dalamnya dan menyerap semua energi cair tersebut untuk memulihkan tubuh dan berkultivasi sampai menghabiskan semua cairan energi tersebut.


 


 


Di dalam sana ada juga beberapa kristal kualitas rendah yang terlihat setelah genangan energi mulai surut. Odo memungut semua itu setelah selesai bermeditasi lebih dari dua puluh menit, lalu keluar dari gua membawa beberapa kepingan kristal dengan kualitas menengah C sampai B.


 


 


 


 


\=======================


Catatan :


 


 


Aku melihat sebuah pola. Ah, sudahlah ....


Ternyata kali ini banyak yang berubah dari rencana sebelum buat.


 


 


Akhirnya udah mending tangan kiriku ....


 


 


See You!!