Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 61 : Aswad 8 of 15 “To know who I am” (Part 04)



 


 


 


 


««»»


 


 


Berjalan meloncat-loncat ringan, rambut putih keperakan gadis tersebut terurai lepas ke udara dengan indah. Ia sesekali bersenandung, begitu tak sabar memulai hari pertama di toko tempatnya bekerja. Nanra berjalan melewati jalan utama dan sampai pada balai kota, lalu tanpa berhenti kegirangan ia segera berbelok ke arah jalan yang mengarah ke distrik perniagaan.


 


 


Namun saat pada persimpangan jalan tersebut, rasa girangnya mulai berganti dengan heran. Beberapa prajurit dan penjaga berjaga di sekitar balai kota sampai persimpangan distrik perniagaan, terasa suasana sedikit mencekam dan kesunyian di pagi hari baginya terasa berbeda dengan biasanya.


 


 


Sejenak menghentikan langkah kaki di pinggir jalan, gadis itu menatap ke arah beberapa prajurit yang sedang berkumpul di persimpangan. Ia ingin menghampiri mereka dan bertanya, namun rasa ragu dalam benak membuatnya terhenti. Sekilas menundukkan wajah cemas, lalu hendak kembali melangkah.


 


 


“Mau datang pagi-pagi begini, Dik?” sapa seseorang dari arah belakangnya.


 


 


Segera menoleh, Nanra melihat kedua Butler yang bekerja untuk Arca Rein — Ligh dan Logi, kedua pria bersaudara yang kembar tidak identik. Satu memiliki kulit sedikit pucat dan rambut cokelat, lalu yang satunya lagi kulitnya sedikit eksotis dengan rambut pirang. Keduanya mengenakan seragam pelayan berupa setelan tuksedo, terlihat rapi dan baru saja datang dari arah gerbang utama kota.


 


 


“Hmm, saya mau ke toko sekarang.” Nanra membungkuk hormat, lalu kembali berdiri tegak dan memasang senyum ramah. “Yah, karena kemarin Tuan Odo mengerjai saya sampai-sampai tak bisa menginap di toko, hasilnya saya harus bersiap dari panti asuhan,” ujarnya dengan sedikit nada gurau.


 


 


Ligh dan Logi menatap satu sama lain dengan mimik wajah sedikit cemas. Dari ekspresi dan perkataan Nanra, mereka berdua bisa tahu kalau anak tersebut tidak mendengar kabar tentang apa yang terjadi kemarin. Memikirkan kalau anak-anak pada kejadian itu tidak boleh keluar oleh para orang dewasa, mereka berdua memilih untuk diam dan tidak memberitahukannya.


 


 


“Kalau begitu, ayo kita ke sana. Kami juga ingin menjemput Tuan Arca,” ucap Logi.


 


 


Meletakkan tangannya ke depan dada dan sedikit membungkuk, Ligh ikut mengungkapkan, “Beliau menginap di sana dan belum pulang ke penginapan, mungkin saja itu alasan Tuan Odo membuat Dik Nanra pulang. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal penting ....”


 


 


Nanra sedikit memiringkan kepala ke kanan. Sembari meletakkan jari telunjuk ke bawah bibirnya sendiri, ia memasang wajah penasaran dan berkata, “Ayo kita lekas ke sana, Tuan Logi, Tuan Ligh. Saya jadi penasaran apa yang mereka lakukan tanpa saya.”


.


.


.


.


 


 


Sesampainya di depan toko Ordoxi Nigrum, mereka bertiga sesaat terhenti sejenak dan tidak langsung masuk. Suara-suara debat beberapa orang terdengar merembes keluar dari balik pintu, membuat ketiga orang tersebut merasa bingung dan sedikit enggan untuk membukanya. Suara Arca terdengar paling sering dan keras, lalu di antaranya terdengar juga suara seorang perempuan.


 


 


“Pagi-pagi sudah ramai sekali mereka,” gumam Logi.


 


 


Dengan senyum ringan Ligh menyambung, “Yah, jarang-jarang kita melihat Tuan Arca sesemangat ini, ‘kan? Kalau di rumah, beliau muram terus, sih.”


 


 


“Benar juga katamu!” balas Logi seraya menepuk punggung rekannya.


 


 


Nanra tidak terlalu paham apa yang mereka bicarakan. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis tersebut membuka pintu toko dan melihat ke dalam. Pada salah satu meja di dalam terlihat Odo, Arca, Elulu, dan Lisia terlihat sedang berdebat tentang sesuatu. Kantung mata mereka semua sedikit menghitam karena kantuk, kecuali Odo yang terlihat sangat segar bugar.


 


 


Seketika perhatian semua orang di dalam tertuju pada pintu yang terbuka, menatap tajam ketiga orang yang baru saja datang tersebut. Arca langsung segera duduk kembali, memijat keningnya sendiri dan benar-benar terlihat kelelahan setelah beradu argumen dengan Odo dan Lisia.


 


 


Menunjukkan gelagat yang tak jauh berbeda, Lisia menjatuhkan wajahnya ke atas meja dan merasa kepalanya akan meledak setelah digunakan berpikir lebih dari tiga jam tanpa henti. Duduk tak jauh dari Pengganti Walikota tersebut, Elulu terlihat kacau mendengar pembicaraan-pembicaraan gila orang-orang tersebut.


 


 


Satu-satunya yang masih dalam kondisi prima adalah Odo, pemuda rambut hitam itu menatap ke arah Nanra dan yang lainnya. “Yo! Bagus pagi-pagi sekali kalian sudah datang,” ujar pemuda itu sembari bangun dari tempat duduk. Langsung beralih fokus pada pekerjaan, Odo Luke menatap ke arah si gadis rambut perak keputihan tersebut dan bertanya, “Nanra, berarti pekerjaanmu hari ini melanjutkan pembukuan di lantai dua, ‘kan?”


 


 


Melihat pemuda itu bertingkah tanpa kelelahan sedikit pun setelah memikirkan banyak hal sekaligus, Arca dan Lisia memberikan tatapan penuh rasa kesal. Putra dari keluarga Rein merasa terpancing, ia segera bangun dan berteriak, “Mana mungkin aku kalah lagi, dasar sialan!”


 


 


“Be-Benar ....” Dengan lemas, Lisia memaksa tubuh bangun dengan gemetaran. Dari ketiga orang tersebut, perempuan rambut merah itulah yang paling pucat wajahnya dan terlihat begitu lemas sampai-sampai bisa saja ambruk karena tiupan angin.


 


 


“Hmm ....” Odo menoleh, memasang senyum tipis dan berkata, “Bagus kalian semangat. Tapi kalau kurang istirahat begitu, kalian gak bakal tahan sampai sore, loh.”


 


 


“Nih, anak.” Dengan lemas, Arca mengepakkan tangan dan mengeluh, “Memangnya salah siapa coba? Debat sampai matahari mulai terbit begini ....”


 


 


Odo berbalik, sembari berjalan kembali ke meja tempat mereka berada ia berkata, “Yah, tak masalah, ‘kan? Kita bisa mendapat banyak kesimpulan dari ini.” Mengangkat tangan kanan dengan punggung sarung tangan menghadap ke depan, pemuda rambut hitam itu mengaktifkan dimensi penyimpanan dan mengambil tiga buah botol Potion. Meletakkan itu ke atas meja, Odo dengan santai berkata, “Minum ini! Lumayan buat tambah stamina.”


 


 


Kedua alis Arca dan Lisia sekilas berkedut, benar-benar habis pikir dan merasa begitu lelah untuk terkejut. Ramuan yang pemuda rambut hitam itu letakkan jelas-jelas adalah obat pemulih kualitas atas, gemerlap dan pancaran aura yang terlihat di dalam botol bening tersebut memberitahu mereka tentang itu.


 


 


“Ini bukan karena mataku kunang-kunangan, ‘kan?” ujar Arca.


 


 


“Saya rasa bukan, di mata saya juga melihat gemerlap di dalam botol ini,” balas Lisia.


 


 


Menarik napas dalam-dalam, Arca membuang keraguan dan mengambil botol tersebut. Ia segera membuka penutup dan langsung menenggak habis ramuan tersebut, lalu setelah habis botol kosong langsung dilempar ke lantai sampai pecah.


 


 


“Uwah~! Rasanya ena—Ugk!”


 


 


Odo terkejut dan langsung menghajar wajah Arca dengan keras. Putra keluarga Rein itu jatuh ke lantai bersama kursi di dekatnya.


 


 


“Anjing! Kenapa dibanting segala!” bentak Odo.


 


 


Semua orang terkejut melihat itu, sempat panik karena pemuda rambut hitam tersebut tiba-tiba marah dan meninju Arca dengan keras. Kedua Butler sempat ingin berlari ke arah mereka, namun terhenti karena merasa itu bukanlah sebuah perkelahian.


 


 


“Sialan! Apa yang kau lakukan?! Sa—!” Perkataan Arca terhenti, rasa sakit yang seharusnya ia rasakan sama sekali tidak terasa. Bukan hanya itu saja, luka memar tidak muncul, kelelahan dan bahkan sampai letih benar-benar menghilang.


 


 


Ia ingin bertanya pada Odo soal khasiat tersebut. Namun melihat pemuda rambut hitam itu berlutut meratapi botol ramuan yang pecah di lantai, Arca merasa sedikit bersalah karena telah memecahkannya. Pemuda rambut pirang itu segera bangun, membersihkan pakaiannya dan memalingkan wajah.


 


 


Dengan keras kepala ia berkata, “Itu hanya botol, kau tak perlu meratapinya sampai begitu. Paling harganya hanya seberapa.”


 


 


 


 


“Tunggu! Tunggu!” Arca melepaskan tangan Odo dari kerahnya, lalu dengan tatapan wajah sedikit memucat mengelak, “Kau juga dari keluarga aristokrat, ‘kan? Tak perlu marah sampai seperti itu, memangnya kau bocah!”


 


 


Odo meletakkan telapak tangan kanan ke wajahnya sendiri, menatap dari sela-sela jari dan kembali mengintimidasi. Itu benar-benar membuat Arca menggigil ketakutan, merasa seperti ditatap oleh makhluk dari kegelapan pekat. Namun saat Odo menghela napas dan berhenti meletakkan tangannya ke wajah, aura semacam itu menghilang darinya.


 


 


“Haaaaah, terserahlah.” Odo menggaruk bagian belakang kepala, terus menghela napas beberapa kali dan berkata, “Kalau kau melakukan hal seperti itu lagi, akan kupastikan pukulanku selanjutnya akan membuat kepalamu lepas dari tubuh.”


 


 


“Kau ... bercanda, ‘kan?” tanya Arca cemas.


 


 


Tidak menjawab pertanyaan tersebut, Odo berbalik menghadap ke arah Lisia dan Elulu dan berkata, “Kalian berdua juga minum itu, lumayan untuk mengembalikan stamina, loh. Tapi tolong jangan dibanting botolnya, buatnya sulit.”


 


 


“Bilang kalau itu bercanda, Odo!” ucap Arca panik.


 


 


Putra keluarga Luke hanya menoleh ringan, lalu melempar seringai tipis tanpa berkata apa-apa. Itu tambah membuat Arca gemetar dan merasa kalau ucapan sebelum itu bukanlah sekadar gurauan belaka.


 


 


Setelah Lisia dan Elulu meminum ramuan tersebut, wajah mereka kembali cerah dan semua rasa lelah dengan cepat menghilang. Terkejut dengan khasiat instan tersebut, Elulu berkata, “Bukannya kalau dijual bisa dapat untung banyak?”


 


 


“Ah, aku juga sempat berpikir begitu.” Odo segera menatap ke arahnya dan menunjuk. Dengan sedikit menyesal, ia mengungkapkan, “Tapi kalau diproduksi secara massal, bisa-bisa ekosistem di sekitar sini bisa rusak. Sayang sekali ramuan itu tak bisa diproduksi dalam jumlah banyak untuk dijualbelikan.”


 


 


Elulu kembali bertanya, “Apa karena botolnya?”


 


 


“Bahannya juga.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu dengan sedikit kecewa berkata, “Aku tak bisa menyebut semuanya, tapi salah satu bahannya itu adalah ekstrak Ether murni yang jadikan gas, lalu diendapkan sampai menjadi cairan. Bahan lainnya juga cukup langka.”


 


 


“Bukannya kalau seperti itu harganya malah bisa naik pesat?”


 


 


Odo memalingkan pandangan, lalu dengan sedikit muram menjawab, “Aku tak mau ada konflik dari racikanku. Itu sangat mujarab, bisa menyembuhkan banyak penyakit dan pasti kalau dijual harganya sangat mahal. Karena itu aku tidak mau menjualnya.”


 


 


“Dan kau menggunakannya layaknya itu obat tambah stamina di pasaran?” singgung Arca dalam pembicaraan.


 


 


Odo menatap ke arah pemuda rambut pirang itu, lalu sembari tersenyum berkata, “Kalian bukan orang asing bagiku. Jadi, kurasa tak masalah .... Hari ini akan menjadi hari yang berat, bisa gawat kalau kalian tidak prima, bukan?”


 


 


Perkataan tersebut dengan aneh menyentuh benak mereka bertiga, begitu asing dan menyusup masuk ke dalam dada. Kepercayaan yang diberikan Odo Luke dan karisma aneh yang ada pada dirinya, hal-hal seperti itu membuat mereka bertiga ingin membantu dengan segala yang mereka bisa lakukan.


 


 


Odo bertepuk tangan satu kali, memecahkan suasana yang ada dan menyingkirkan kecanggungan. Pemuda rambut hitam tersebut mengambil berkas-berkas terkait toko dari atas meja, lalu segera berbalik dan menyerahkannya kepada Nanra.


 


 


“Tolong arsipkan berkas-berkas ini, urutan berdasarkan tanggal dan kelompokkan berdasarkan asal surat,” perintah Odo dengan senyum ramah.


 


 


“Hmm! Tentu!”


 


 


Setelah menerima berkas-berkas tersebut dengan kedua tangannya, Nanra segera berbalik dan melangkah cepat keluar untuk naik ke atas. Namun pada saat mau keluar, ia berpapasan dengan Mavis yang baru saja turun dari atas.


 


 


Gadis itu langsung terpana akan kecantikan sang Penyihir Cahaya, ia tak sempat menyapa karena malu dan langsung kembali masuk ke dalam toko lalu bersembunyi di belakang Odo. Logi dan Ligh memberikan jalan untuk sang Penyihir Cahaya, menundukkan kepala mereka dengan penuh rasa hormat.


 


 


“Engkau sudah bangun dari tadi, putraku? Kenapa tidak membangunkan Bunda juga?” tanya Mavis seraya melangkah masuk ke dalam toko.


 


 


Saat wanita rambut pirang tersebut memasuki ruangan, wibawa serta karismanya yang terpancar kuat membuat semua orang di dalam menundukkan kepala dan memberikan penghormatan dari lubuk terdalam mereka. Meski ia masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin dan hanya merapikan rambut setelah bangun, karismanya sama sekali tidak berkurang. Satu-satunya orang yang tak terpengaruh adalah Odo, pemuda itu menatap datar dan merasa kalau apa yang dimiliki ibunya tersebut memang benar-benar asli untuk seorang Saint.


 


 


Mengingat apa yang terjadi semalam, Arca dan Elulu sedikit cemas pada Odo dan takut kalau ia bertengkar lagi dengan ibunya. Putra keluarga Rein itu melirik ke arah pemuda rambut hitam tersebut tanpa mengangkat kepalanya, lalu dalam benak berkata, “Jangan membuat Lady marah lagi, Odo!”


 


 


“Ya, dari tadi.” Ia berjalan ke arah Mavis, memasang senyum ramah seakan sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang terjadi tadi malam. “Bunda sendiri sudah cukup istirahatnya?” tanyanya untuk memulai pembicaraan.


 


 


“Hmm, meski tidak seempuk tepat tidur di rumah, Bunda senang bisa tidur bersamamu meski sebentar.”


 


 


Mavis sekilas menatap ke arah Nanra, mulai merasa sedikit heran karena putranya benar-benar ingin mempekerjakan gadis sekecil itu sebagai sekretarisnya. Kembali menatap ke arah putranya, wanita rambut pirang itu bertanya, “Apa kamu mau mempekerjakan anak kecil sepertinya? Gadis itu ..., dia sudah melakukan upacara kedewasaan, ‘kan?”


 


 


Odo menoleh ke arah Nanra, lalu mewakilkannya bertanya, “Apa sudah, Nanra?”


 


 


Gadis itu melihat ke kanan dan kiri dengan cemas, begitu grogi ditatap sang marchioness. Gemetaran menundukkan wajah, dengan suara lirih ia menjawab, “Be-Belum, tapi tahun ini saya sudah 11 tahun dan tahun depan akan mengikuti upacara kedewasaan ....”


 


 


“Masih 11 tahun, ya?”


 


 


Mavis memasang ekspresi sedikit ragu, merasa kalau mempekerjakan anak di bawah umur itu bukanlah hal yang baik. Namun saat menatap ke arah Odo, hal tersebut juga terasa seperti itu. Putranya tersebut baru akan genap usia 9 tahun nanti akhir bulan, dengan kata lain ia juga masih di bawah umur.


 


 


“Kalau digolongkan magang, bukannya tidak masalah dia bekerja untukku?” tanya Odo seraya menatap ke arah Mavis.


 


 


“Hmm, untuk masalah itu Bunda juga merasa tak masalah. Tapi ....” Mavis menatap datar putranya, meletakkan tangan kanan ke depan mulut dan memikirkan beberapa hal. Menghela napas sekali dan mengangkat tangan dari depan mulut, ia memegang pundak kiri Odo dan berkata, “Kata Fiola, kamu membuat identitas palsu supaya bisa mengurus surat-surat perusahaan ini dan membangunnya, ya? Padahal kau sendiri belum melakukan pembaptisan pertama, tapi malah ....”


 


 


Odo sedikit tersentak, memalingkan wajahnya dengan cemas dan benar-benar tak mengira kalau ibunya tersebut akan membahas hal seperti itu sekarang. Arca mengangkat wajahnya, berjalan mendekat dan bertanya, “Nyonya Mavis, apa Odo belum dibaptis? Kalau tidak salah, usianya sekarang ....”