
“Hahah, memang benar.” Odo menatap ringan pria rambut pirang di sebelahnya, lalu dengan nada santai berkata, “Aku tidak menanyai mereka satu persatu, aku tanya pada Madam di sana dan dia memberikan data para pelanggan rutin yang sering datang.”
“Madam Theodora?” ucap Aprilo.
“Tuan ....” Butler pribadinya memegang erat pundak Aprilo dan semakin menatap tajam, membuat eksekutif itu kembali memucat.
“Hmm ....” Odo mengangguk ringan, menatap ke arah Aprilo dan menjawab, “ Itu dari Madam Theodora. Lebihnya rahasia, tapi aku hanya bisa bilang kalau aku sudah melakukan transaksi dengan salah satu pemimpin di sana. Sekarang seharusnya rumah bordil Alms Lilac yang diolahnya itu akan menjadi satu-satunya saat akhir musim gugur tahun ini.”
“Eh? Kenapa ...?” tanya Iitla.
Odo menatap Kepala Prajurit tersebut, lalu menjawab, “Rahasia .... Selebihnya anggap saja rahasia perusahaanku. Intinya, tempat itu akan berubah total.”
“Berubah? Berubah seperti apa memangnya?” tanya Aprilo. Meski mendapat tatapan tajam dari Butler pribadinya, eksekutif itu tetap bertanya dengan rasa penasaran.
Odo kembali menatap eksekutif tersebut, lalu berkata, “Aku balik tanya, Tuan Aprilo .... Kau datang ke tempat seperti untuk apa?”
Eksekutif itu tersentak, sesaat membisu dan tidak bisa menjawab langsung. Memalingkan wajah dan memasang ekspresi penuh rasa bersalah, ia ragu-ragu menjawab, “Saya ... datang ke sana untuk bersenang-senang. Tapi!!”
Aprilo menatap lurus ke arah Odo, lalu dengan segenap mengumbar segenap alasan, “Aku sama sekali tidak ada niat mengkhianati istri dan keluargaku! Mungkin Tuan Odo tidak paham, tapi bagi pria untuk berhari-hari terus bekerja tanpa ada sesuatu untuk melepas stres itu sangat berat! Saya datang ke sana hanya untuk mengurangi beban pikiran! Bukan karena ingin selingkuh atau semacamnya! Saya bukan pria yang suka main perempuan!”
Dari sudut pandang perempuan pernyataan itu hanya sebuah bualan dari pria yang telah melakukan perselingkuhan dengan pelacur, Lisia dan Vil menatap datar dan menganggap rendah perbuatan semacam itu tanpa memberikan toleransi sama sekali. Arca juga tidak jauh berbeda dengan kedua perempuan itu, merasa jijik dan langsung menurunkan rasa hormatnya pada eksekutif tersebut.
Odo berbeda, tidak langsung mengambil kesimpulan seperti mereka. mencerna baik-baik alasan tersebut dan berusaha memahaminya. Dengan tenang pemuda rambut hitam itu bertanya, “Tuan Aprilo... melakukan prostitusi sesuai prosedur, bukan?”
“Tentu saja! Saya memilih tempat terbaik dan tidak memaksa! Saya hanya ingin melepas stres, bukan menambah stres atau membuat masalah di sana!”
“Hmm, he-hem .... Aku paham.” Odo mengangguk dan perkataan itu membuat Arca, Vil dan Lisia terheran. Tidak memedulikan tatapan mereka, dengan jelas Odo berkata, “Aku juga sering merasa stres dan terkadang ingin dekat dengan perempuan. Memang ... perempuan itu salah satu cara penghilang stres terbaik.”
Setiap orang terkejut, perkataan itu seakan-akan Odo sudah terbiasa bermain perempuan meski usianya masih sangat muda. Wiskel menatap datar pemuda rambut hitam tersebut, lalu langsung berkata, “Kalau Lord atau Lady mendengar itu pasti akan sedih, tidak mereka sangka anak semata wayang mereka malah suka bermain wanita.”
Odo langsung menatap datar pria tua itu, lalu tanpa dengan kasar berkata, “Aku tidak ingin mendengar itu darimu! Bukannya kau orang yang waktu muda paling sering main perempuan dan bahkan menghamili pelacur langganmu?”
“Ak—!”
Wiskel seketika terbelalak saat mendengar itu, benar-benar menganga saat Odo mengungkap aib yang dirinya pendam selama lebih dari satu dekade. Pria tua itu benar-benar gemetar dalam tempat duduknya, tambah cemas saat Lisia menatapnya dengan penuh rasa jijik dan kecewa.
“Aku tidak akan menyalahkan dan bilang mana yang lebih benar,” ucap Odo seraya berhenti menatap dan menundukkan wajahnya.
Sekilas pemuda itu menghela napas, lau kembali berkata, “Seperti yang kubilang tadi, pria itu bisa menjadi lemah saat sendirian. Memang ada yang malah kuat saat sendirian, namun itu pasti akan menghancurkan dirinya sendiri ....” Odo menatap datar perempuan rambut biru depan hadapannya, lalu dengan nada yang terkesan sedih ia berkata, “Aku suka bicara dengan perempuan, membahas sesuatu atau berdiskusi. Vil dan Nona Lisia juga enak kalau kuajak bicara, dan aku suka saat bicara dengan mereka. Kurasa itu tidak terlalu berbeda dengan apa yang kalian lakukan. Aku semua orang di dalam ruangan ini berpendidikan, punya moral dan nilai yang baik. Tapi ... sifat-sifat buruk yang manusiawi itu tidak bisa dihilangkan.”
“Berbicara dan meniduri orang berbeda, Odo!” bentak Vil kesal karena perkataan tersebut. Roh Agung itu sampai berdiri, menatap tajam dan menegaskan, “Kedua itu sangat berbeda!”
Odo mengangkat wajah dan menatap lurus perempuan rambut biru tersebut. Dengan senyuman lemas ia menjawab, “Aku paham itu berbeda.” Pemuda rambut hitam itu memasang ekspresi sedikit sayu, memalingkan pandangannya dan sesaat terdiam. Kembali melihat ke arah Vil, Odo sesaat menghela napas dan kembali berkata, “Ini bukan soal pria saja. Perempuan juga tidak bisa hidup sendiri, semua makhluk hidup tidak bisa memuaskan diri mereka sendiri. Karena itu mereka mencari sesuatu untuk mengisi diri mereka .... Kebetulan orang-orang di tempat ini bisa mengisi kekosongan dengan melakukan sesuatu seperti itu, dengan menggunakan prostitusi. Itu tidak jauh berbeda dengan para penyihir yang memenuhi hasrat mereka dengan ilmu pengetahuan, itu tidak jauh berbeda dengan para aristokrat yang memenuhi kepuasan mereka dengan kekuasaan.”
“Tapi tetap saja semua itu salah!” tegas Vil dengan emosi yang meledek-ledek, itu sampai orang-orang di ruangan tersentak saat perempuan yang terkesan pendiam itu sampai marah. Roh Agung itu menggebrak meja, lalu dengan kesal berkata, “Meski memang itu sifat alami makhluk hidup tetap saja salah! Kalian manusia! Bukan hewan! Mau apa pun alasannya , itu tetap saja itu salah! Kalau mereka melakukan itu tanpa berpikir, mereka sama tidak ada bendanya dengan binatang dan monster!”
Odo sekilas terdiam mendengar sanggahan penuh emosi itu. Suasana sekilas menjadi senyap setelah suara Vil memenuhi ruangan. Namun seakan tidak sepenuhnya menangkap amarah Roh Agung tersebut, Odo malah merasa senang dan dengan senyuman berkata, “Itu benar .... Mereka salah, cara pemenuh kepuasan seperti itu salah. Hak yang ada tidak sesuai dengan tuntutan. Mereka hanya membayar wanita, menggunakan jasa mereka dan pergi meninggalkannya. Jujur itulah yang menjadi masalah.”
Vil menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang, masih menatap kesal dan bertanya, “Lalu kenapa kau ingin mengembangkan tempat itu?”
“Karena hanya itu yang bisa dilakukan para perempuan yang tinggal di distrik rumah bordil.”
Vil sesaat terdiam, tidak mengerti apa maksud perkataan Odo tersebut. Terdiam, sejenak berpikir dan berusaha memahami, namun tetap saja apa yang diucapkan pemuda rambut hitam itu tidak bisa dirinya pahami.
“Kau tahu, Vil ....” Raut wajah sedih nampak pada raut wajah Odo, ia menatap dengan lemas dan berkata, “Posisi Perempuan yang tidak masuk dalam keluarga aristokrat atau bangsawan di negeri ini sangat lemah, pekerjaan yang bisa mereka lakukan sangat terbatas karena pendidikan yang ada sangat rendah. Bagi mereka yang tidak memiliki orang tua, pilihan mereka hanya menjadi pelacur atau gelandangan. Memang ada yang bernasib beruntung dan ditampung ke panti asuhan atau gereja, namun tidak selamanya tempat-tempat itu mau membuka pintu dan menyambut hangat kedatangan mereka. Jumlah yang bisa diurus sangat terbatas ....”
“Tetap saja ....” Vil mengerutkan keningnya, tetap tidak setuju dan menyangga, “Pasti ada pekerjaan yang lebih baik untuk mereka! Pelacuran itu salah! Meski diriku tidak paham moral dan nilai manusia, tapi sekali lihat saja diriku tahu kalau pelacuran itu salah!”
“Aku tahu ..., karena itu perbaikan moral perlu dilakukan.” Odo menghela napas kecil, menatap datar dan ia kembali membujuk, “Aku ingin mengubah tempat itu menjadi sebuah kawasan hiburan. Bukan melayani pelanggan dengan tubuh mereka, namun dengan keahlian dan permainan mereka.”
“Permainan?” Vil menatap kesal, menatap tajam dan berkata, “Ujung-ujungnya pasti ....”
“Kau tahu, Vil .... Para pria yang datang ke tempat itu kebanyakan ingin melemaskan bahu mereka dan bersenang-senang, bukan untuk mendengar cerita menyedihkan dari para pelacur .... Hal seperi melayani pelanggan dengan tubuh itu terjadi karena pelacur di sana tidak paham menangani harapan pria yang menjadi pelanggan mereka.”
“Tapi ujung-ujungnya para pria pasti mengincar tubuh perempuan saat datang ke tempat seperti itu?!”
“Memang ....” Odo tidak menyanggah hal tersebut, tempat pelacuran secara harfiah memang berfungsi untuk hal semacam itu. “Namun kalau perempuan tahu cara menangani mereka, para pria akan berhenti mengincar tubuh dan akan terpuaskan dengan hanya mengobrol atau bermain permainan papan dengan para pelacur,” ujar Odo.
Vil sesaat terdiam, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pemuda itu tentang kepuasan para pria atau semacamnya. Pada dasarnya Vil tidak mengerti kenapa para manusia menggunakan cara reproduksi digunakan untuk bersenang-senang, namun satu hal pasti yang menganggap hal itu salah memang ada dalam benak Roh Agung tersebut.
“Kau yang datang denganku seharusnya tahu hal itu, Vil .... Sejak Madam mengolah rumah bordilnya, ia hanya menerima beberapa tamu eksekutif dan bahkan tidak perah tidur lagi dengan pria. Ia hanya memuaskan mereka dengan bicara, menemani dan menghilangkan kelelahan pelanggannya.”
Vil menatap gelap dan dengan tegas bertanya, “Kamu percaya ucapan pelacur itu?”
“Dia tidak punya alasan untuk berbohong soal itu.”
“Mungkin itu hanya untuk menggoda kamu, Odo.”
“Dia bukan standarku.”
“A—! Bukan itu maksudnya ....”
“Apa yang ingin kau sampaikan memangnya? Langsung saja, tak perlu berkelit.”
“Memang .... Hal seperti itu memang benar.” Odo mengangguk, tersenyum ringan dan bertanya, “Jadi, apa kau tahu alasannya?”
“Tingkat pendidikan wanita itu berbeda dengan para pelacur lain .... Sangat berbeda.”
“Karena itu aku ingin memberi mereka pendidikan. Memberikan keahlian untuk mereka untuk memperluas pilihan mereka. Itulah perbaikan moral .... Saat mereka mendapat pendidikan dan keahlian, mereka akan mendapat pilihan lain untuk hidup mereka. Apa yang menjadikan mereka pelacur adalah keterbatasan keahlian, mereka tidak punya pilihan kerja.”
“Apa kau pikir mereka mau belajar?” Vil menatap datar, benar-benar tidak memperlihatkan ekspresi setuju dan menyanggah, “Mereka, orang-orang seperti mereka hidup hanya untuk hidup, bukan hidup untuk berkembang .... Apa kamu yakin mereka mau berubah?”
“Entahlah ....” Odo sekilas mengangkat kedua bahu, tersenyum ringan dan berkata, “Soal itu hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, kalau mereka bisa membaca dan mulai membaca banyak buku, aku rasa sudut pandang para pelacur di sana akan berubah. Manusia itu selalu berkembang, Vil ....”
“Tetap saja .... Memangnya ... kalau mereka ingin berhenti menjadi pelacur, siapa yang akan menerima mereka?!” bentak Vil.
“Perusahaanku akan menerima mereka,” jawab Odo langsung.
“A—!” Aprilo terkejut karena hal itu dan menyadari sesuatu, dengan segera ia pun berkata, “Apa ... itu alasan Anda ingin memasukkan imigran gelap? Untuk membuat gambaran kalau orang-orang terbuang itu bisa berubah dan masih memiliki masa depan?”
Menatap eksekutif itu, sembari tersenyum Odo menjawab, “Ya, benar.”
Aprilo meragukan, “Tapi ... apa mereka bisa didik dan diarahkan? Orang-orang dengan pendidikan rendah itu .... Anda tahu, mereka bermasalah dan sulit diatur. Karena itulah mereka menjadi gelandangan.”
“Ah, soal itu .... Aku menyerahkannya pada Arca.”
“Eh?” Arca yang sedari tadi hanya mendengarkan langsung bingung dan menatap heran. Ia dengan panik berkata, “Tunggu! Kenapa main lempar seperti itu! Bukannya kau menunjukku hanya sebagai manajer saja?!”
Menatap putra sulung keluarga Rein itu, Odo meletakkan jari telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Mengolah SDM juga merupakan pekerjaan manajer.”
“Aku tidak tahu cara mengurus orang-orang bodoh itu! Memangnya kau anggap aku apa?! Itu diluar keahlianku!” ucap Arca panik karena merasa itu diluar kemampuannya.
“Tenang saja, itu sesuai keahlianmu.”
“Hah?” Arca merasa heran, menatap datar dan tidak mengerti kenapa Odo bisa dengan santai berkata seperti itu.
Odo menunjuk lurus ke arah Arca, lalu menyeringai dan berkata, “Kau pandai memanipulasi orang lain dan membuat mereka merasa bersalah dengan tekanan mental, bukan? Gunakan saja hal itu untuk mengubah para imigran gelap itu. Ancam mereka, bimbing mereka, lalu kendalikan mereka. Mungkin ini terdengar kejam, tapi bawahan atau kasarnya kacung itu paling tepat tetap bodoh supaya mudah diatur. Malah memang seharusnya mereka tidak boleh lebih pintar dari pimpinan. Kau seharusnya tahu maksudnya, bukan?”
“Kau ... ingin memeras tenaga mereka, ya?”
“Kejamnya, bukan memeras ....” Odo berhenti menunjuk, memasang senyum tipis dan menjawab, “Apa yang kulakukan adalah hubungan timbal balik. Mutualisme. Daripada mereka terus menjadi gelandangan dan bisa mati kapan saja setiap musim, jadi kenapa tidak bekerja untukku dan akan kuberi mereka makan? Kasih mereka pekerjaan sederhana, berikan upah yang setara dan bimbing mereka sesuai kebutuhan usaha.”
“Memangnya kau ingin mereka melakukan apa? Toko yang ingin kau buat itu tipe distributor, bukan? Mengurus ekspor dan impor antar kota, menggunakan koneksi kerja sama serikat dagang! Memangnya kau ingin memerintahkan para gelandangan itu untuk jadi tukang antar! Bisa-bisa barang dagangmu malah dicuri!”
“Siapa yang bilang kalau aku akan mempekerjakan mereka ke dalam tokoku?”
“Eh?” Arca terkejut, begitu pula Aprilo dan orang-orang dari pihak serikat dagang.
“Mereka akan menjadi sumber barang-barang mentah.”
“A—!” Aprilo menangkap maksud Odo, lalu dengan semangat berkata, “Begitu, ya! Tuan Odo ingin menggunakan sistem seperti itu! Membeli bahan mentah dari mereka dengan harga murah, lalu mengolahnya dan menjualnya! Hmm, memang benar! Kalau seperti itu pasti risikonya berkurang, tapi ....”
“Memangnya apa yang bisa mereka berikan? Bahan menatah apa memangnya?” tanya Arca yang juga kurang lebih paham apa yang ingin disampaikan Odo.
“Pengusaha adalah orang yang bisa memanfaatkan perkembangan, mencari cara untuk mendapat keuntungan dari itu dengan inovasi-inovasi baru dan ide kreatif. Soal apa yang ingin aku lakukan, akan kuberitahu nanti .... Di sini ... ada saingan kita.”
Aprilo tersentak, segera menyeringai semangat karena mendapat sensasi tantangan dari perkataan Odo tersebut. Memasang senyum yang sudah lama tidak dirinya perlihatkan, eksekutif itu bertanya, “Begitu, ya .... Rahasia perusahaan lagi?”
“Hmm ....” Odo menoleh ke arah Aprilo, lalu menjawab, “Ya, rahasia perusahaan.”
Bruak!!
Pintu kantor tiba-tiba terbuka, lalu seorang prajurit yang mengenakan zirah ringan tampa helm masuk dan berkata, “Pak Iitla! Ga-Gawat! Lady Mavis dan para Shieal datang ke kota! Mereka sedang menuju ke barak ini!”
“Lady?!” Wiskel terkejut, begitu pula orang-orang di ruang kantor tersebut, kecuali Odo, Arca, dan Vil.
Menghela napas ringan, Odo Luke bangun dari tempat duduk dan mengulat lepas untuk meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku. Melihat ke arah Arca dan Vil, pemuda rambut hitam itu berkata, “Kita kehabisan waktu, ya. Padahal masih ada beberapa hal yang perlu dijelaskan .... Hah, ya sudahlah ....”
Tanpa berbicara lebih lanjut kepada mereka yang ada di ruang kantor, ketiga orang itu beranjak dari tempat dan berjalan ke arah pintu untuk keluar. Langkah Odo terhenti sesaat, lalu menoleh ke orang-orang di dalam ruangan dan berkata, “Sebaiknya kau benahi cara pikirmu .... Kau berbakat dan punya banyak pengalaman, namun pola pikirmu sempit.”
Tak jelas Odo mengatakan itu pada siapa, namun Wiskel sepenuhnya menangkap perkataan itu diarahkan padanya. Wakil Walikota itu menundukkan wajahnya, sejenak memikirkannya lagi dan berusaha untuk memahami perkataan Odo tersebut.
“A-Apa Tuan Odo ingin langsung menemui Lady?” tanya Lisia seraya bangun dari tempat duduk.
“Hmm, tentu saja. Sebagai seorang anak sudah seharusnya aku menyambut kedatangan Ibuku.”
\======================
Catatan:
See You! Silakan like, comen, dan bantu promo seri ini untuk tetap mempertahankan keberlangsungannya.
Btw, minggu ini full percakapan ternyata....