
Wujud tempat itu mulai hancur. Langit retak layaknya sebuah kaca yang dipukul dengan keras, lubang hampa muncul di mana-mana, bangunan-bangunan yang melayang di udara mulai bertabrakan satu sama lain. Kepingan-kepingan lantai hitam putih terangkat satu persatu, melayang ke udara dan terombak ambing dengan kacau. Distorsi tercipta dan pergeseran Alam Jiwa mulai terjadi secara tidak sempurna.
“Dasar lemah ....”
Perkataan yang didengarnya menghentikan tangisan Seliari, terdiam membisu dan perlahan menatap dengan benak berharap Odo masih hidup, meski dirinya sendirilah yang telah membunuh pemuda itu. Melihat jasad pemuda yang ia tindihi, seketika Seliari menggigil ketakutan melihat apa yang ada di hadapannya.
Odo tidak pulih layaknya mengaktifkan sihir regenerasi, namun ia kembali bangkit dengan wujud kacau tanpa beregenerasi sedikit pun. Bola mata yang keluar dari rongga mulai berputar, tangan yang terputus mulai bergerak, jantung yang seharusnya sudah hancur kembali berdetak.
“Menyingkir!” Dengan tangan kanan yang terpotong sampai siku, Odo memukul Seliari sampai terpental jauh.
“Ugh!”
Itu telak mengenai pinggang gadis itu, membuatnya muntah darah dan gemetar lemas dan tak bisa segera bangun. Mengangkat wajah dan melihat apa yang ada di hadapannya, rasa takut gadis naga itu menjadi pasti.
“Siapa ... dirimu ... sebenarnya?”
Tubuh yang bagian atasnya sudah terpotong-potong dan hancur itu benar-benar bergerak, partikel hitam seperti Dark Matter menyatukan bagian-bagian tubuhnya yang terpotong sampai kepingan terkecil. Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, tubuh pemuda itu kembali menyatu sepenuhnya dan berdiri tegak diselimuti aura hitam mengerikan. Ia perlahan membuka mata, mendongak ke atas dengan seringai lebar layaknya Iblis.
“Tak kusangka belahan jiwaku tak melawan sama sekali .... Aaa~ah, padahal kuingin ia paling tidak bisa menyingkirkan kadal itu dari tempat ini.”
“Kau ... bukan Odo, ‘kan?”
Seliari mengulurkan tangan kanannya ke depan, tombaknya yang tergeletak langsung melayang kembali ke tangannya dan ia langsung meloncat ke belakang untuk menjaga jarak. Dengan tubuh gemetar, ia meninggikan suara dan kembali bertanya, “Siapa kau sebenarnya?! Cepat jawab!”
“Eng?” Pemuda berselimut kegelapan itu menatap, memasang senyum menghina dan berkata, “Kadal rendahan sepertimu bicara seakan seorang penguasa, lucu sekali .... Bukankah kau mengharapkan pemuda ini mati? Kenapa sekarang malah menanyakannya?”
Aura hitam yang menggelora di sekitar tubuh pemuda itu mulai memusat pada satu titik di hadapannya, membentuk senjata sabit besar dan mulai mendapat bentuk fisik konkret. Sisa dari aura kembali menyelimutinya, lalu mengubah struktur tubuhnya secara penuh. Saat aura itu menghilang, wujud pemuda itu berubah sepenuhnya.
Rambut hitam panjang sepunggung, kornea mata merah darah yang menyala dan kulit putih pucat, lalu pakaian yang dikenakannya berubah menjadi gaun hitam polos. Ia benar-benar terlihat berbeda, menjadi perempuan yang sama sekali tidak mirip dengan Odo Luke.
Melangkahkan kaki tanpa alas di atas lantai, tiba-tiba sosoknya menghilang dari penglihatan sang gadis naga. Saat terlihat kembali, perempuan rambut hitam itu telah berdiri di hadapannya dan tanpa ragu mengayunkan sabitnya ke arah Seliari.
Gadis naga itu menahan serahan tersebut dengan mudah menggunakan tombak, namun aura yang ada pada sabit tersebut mulai mengontaminasi senjatanya dan membuatnya gagang kristal berwarna biru perlahan menghitam. Dengan cepat, itu hancur berkeping-keping.
Mengambil langkah pendek ke depan, perempuan rambut hitam itu berputar menggunakan kaki kiri sebagai tumpuan dan kembali mengayunkan sabitnya ke arah Seliari.
Saat ujung sabit akan menghujam dada gadis naga itu, pergerakan perempuan rambut hitam tersebut tiba-tiba terhenti pada detik terakhir. Memanfaatkan kesempatan itu, Seliari langsung memukul wajahnya dengan keras dan membutanya terpental jauh. Berkali-kali berguling di lantai dan baru berhenti setelah menabrak salah satu menara yang ada di tempat tersebut sampai ambruk.
“A-Apa tadi? Dark Matter? Kenapa ... dia berhenti?”
Seliari gemetar, melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Secara persepsi sosok tersebut memang tidaklah terlalu kuat, namun ada sesuatu yang berbeda dan membuatnya tak berhenti gemetar saat berada di hadapannya. Merasakan hawa yang ada terpancar dari perempuan rambut hitam tersebut, insting gadis naga itu menjerit ingin kabur dan membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan baik.
Kematian, wujud itu seakan jelmaan dari unsur tersebut. Begitu pekat, dingin, dan tidak bisa ketahui esensinya. Setiap yang hidup seakan hanya mangsa di hadapannya.
“Akh, kesadarannya mulai kembali, ya? Cepat sekali dia pulihnya .... Paling tidak biarkan aku menghabisi kadal ini dan sepenuhnya menelan kekuatannya. Huh, padahal aku melakukan ini demi kebaikannya, tapi ini yang kudapat? Sungguh sedih rasanya ....”
Sosok itu keluar dari reruntuhan menara, dengan luka pada wajahnya yang dengan cepat kembali pulih. Menciptakan sabit besar menggunakan partikel hitam pada tangan kanan, ia melangkahkan kakinya dan mulai menyeringai.
“Si-Siapa kau! Kenapa bisa ....”
“Kau tak perlu tahu itu.” Dalam hitungan detik, sosok itu tiba-tiba berdiri di belakang Seliari dan memegang kedua sisi pundaknya. Mendekatkan mulut ke telinga, sosok itu berbisik, “Aku adalah kegelapan, penderitaan, keputusasaan, dan kekacauan dunia ini. Kau tahu, kadal kecil. Dunia ini dari awal selalu tercipta seimbang. Kalau para dewa yang memiliki dan membagi Berkah pada makhluk hidup, menurutmu siapa yang memiliki Kutukan di dunia ini?”
“Memangnya diriku peduli!” Seliari langsung mengayunkan tangan kanannya ke belakang dan memukul sosok tersebut dengan punggung tangan. Namun apa yang dirinya serang hanyalah ilusi yang tercipta dari rasa takutnya, sosok itu dari tadi hanya berdiri pada tempatnya dan sama sekali tidak bergerak.
Seketika dirinya sadar apa yang sedang dirinya hadapi itu benar-benar berada pada tingkat yang berbeda. Bukan dalam segi kekuatan, namun keberadaannya sudah masuk ke dalam ranah yang benar-benar berbeda. Seliari tidak bisa berhenti gemetar, melangkah mundur dalam ketakutan sampai suaranya tidak bisa keluar.
“Ya, seperti apa yang ada dalam pikiranmu.” Sosok itu mengangkat sabitnya tinggi-tinggi, melangkah ke depan dan bersiap memenggal kepala gadis naga tersebut. Sembari mengayunkan sabitnya, dengan suara kelam ia berkata, “Aku adalah Unsur Hitam! Wujud yang akan menyelimuti—”
Sekali lagi sabitnya terhenti saat akan menghujam tubuh Seliari, dorongan kuat dari dalam bentuk sosok itu menghentikannya. Sabit dari pemadatan aura gelap itu langsung terurai kembali ke bentuk awalnya, lalu bergerak ke arah penggunanya. Itu berubah menjadi sebuah pedang yang melayang di udara, lalu menusuk sosok itu tepat pada bagian dada.
“Tingkahmu sudah kelewatan, kembalikan dia sekarang juga!”
Alam Jiwa yang milik Seliari seketika hancur, semuanya pecah menjadi berkeping-keping dan tempat kembali berubah. Sebelum Seliari dan perempuan rambut hitam itu menyadarinya, mereka telah kembali ke Alam Jiwa sebelumnya — Sebuah tempat dimana Pohon Besar berdiri kokoh dan padang rumput terbentang luas.
Melihat ke kanan dan kiri dengan bingung, perempuan rambut hitam itu mencari-cari sumber suara yang seakan menggema ke penjuru tempat. Namun sebelum dirinya menemukan sang pemilik suara, tiba-tiba salah satu akar pohon raksasa keluar dari dalam tanah. Itu menggeliat bagaikan ular raksasa, lalu ujung runcingnya langsung menusuk tubuh perempuan rambut hitam tersebut dari depan dan menggantungnya tinggi-tinggi.
Setelah diombang-ambingkan akar raksasa yang menghujam perutnya, dengan keras tubuh perempuan itu dibanting ke atas batu besar sampai suara remuk tulangnya terdengar jelas. Darah mengalir dari mulut dan hidung, sebelah matanya memerah karena pembuluh daranya pecah. Meski sebagian besar tulangnya seharusnya patah karena itu, perempuan bergaun hitam tersebut kembali bangun dan turun dari batu besar.
“Sialan! Dasar imitasi sialan!”
Perempuan itu tidak lagi memedulikan Seliari, dengan putus asa ia berlari menjauh dari Pohon Besar yang mulai menaikan beberapa akar raksasanya ke atas tanah. Itu bagaikan sekumpulan ular yang hidup, menggeliat dan mulai bergerak menyerang perempuan itu.
Sembari berlari, perempuan rambut hitam tersebut menciptakan sabit dan memotong beberapa akar kayu yang menyerangnya. Tubuh yang sudah rusak dipaksa bergerak, pembuluh darah yang pecah dan tulang yang patah membuat gerakannya terbatas.
Salah satu akar datang dari depan layaknya ular raksasa, lalu dengan cepat menusuk ke arah perempuan itu. Ia berusaha mengayunkan sabit, namun tulang tangan kanannya sampai pada batasnya dan patah. Itu membuat ayunan melenceng jauh dari sasaran. Ujung runcing akar raksasa langsung menghujam perutnya, lalu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke atas. Sabit pada tangannya menghilang, sekujur tubuhnya mati rasa. Meski begitu, kesadaran perempuan itu sepenuhnya masih ada.
Akar-akar lain mendekat, lalu menusuk kedua tangan dan mengikat kedua kaki perempuan itu. Darah menetes keluar dari tubuhnya, membahasi akar-akar tersebut dan jatuh ke atas rerumputan. Meski tubuh perempuan itu seharusnya telah sekarat dari tadi, ia masih bisa bergerak dan dengan lantang berkata, “Sialan kau! Itu kau, ‘kan!? Boneka sialan! Kepribadian buatan sepertimu jangan ikut campur urusanku!! Beraninya kau mengakses kekuatan Cabang Pohon Dunia saat aku mengambil alih jiwa ini! Keluar ka—!!”
Sebuah galah kayu tercipta pada batang pohon raksasa, lalu melesat kencang ke arah perempuan itu dan menusuk mulutnya sampai tembus ke belakang. Rahangnya hancur, lehernya patah karena hentakan dan darah mulai berceceran ke bawah.
Melihat apa yang terjadi, Seliari hanya bersimpuh lemas di atas rerumputan dengan tatapan bingung. Selama ia tinggal di Alam Jiwa milik Odo, gadis naga itu sama sekali tidak pernah melihat Pohon Besar yang selalu menjadi peneduhnya itu bergerak seagresi sekarang.
“A-Apa yang terjadi? Apa-apaan Alam Jiwa ini ...?”
Pada batang tempat galah kayu melesat, sebuah bongkahan kristal perlahan keluar dan memancarkan cahaya keemasan yang terang. Kristal itu segera pecah sesaat setelah terpapar hembusan angin dari luar, lalu dari dalamnya keluar seorang wanita berambut pirang yang mengenakan gaun putih polos.
Seliari lansung mengenali wajah wanita itu, ia bangun dan dalam benak berkata, “Dia ... ibunya Odo?”
Sebuah Halo muncul di atas kepala wanita rambut pirang tersebut, lalu sepasang sayap yang tercipta dari partikel cahaya yang terkumpul pada punggungnya. Dilihat dari manapun, itu adalah wujud seorang malaikat utuh. Ia melayang ke depan, mengepakkan sayap bulunya dan terbang ke arah perempuan yang disalib oleh akar-akar raksasa.
Perempuan bergaun hitam itu tetap bisa bergerak meski mulutnya tertusuk galah, ia menarik tangan kanannya yang terpasak sampai putus dan berusaha kabur. Terus meronta, melawan — Perempuan rambut hitam itu menatap murka sosok wanita yang terbang ke arahnya
Melayang di hadapan perempuan rambut hitam itu, sosok malaikat tersebut mengulurkan tangan kanannya ke depan dan berkata, “Keluar darinya sekarang juga, dasar cacat ....”
Ledakan cahaya seketika menghancurkan tubuh perempuan itu bersama akar-akar yang menyalibnya. Daging dan tulang yang gosong terpencar-pencar kacau ke atas rerumputan. Tubuh tanpa kepala, tanpa kaki, dan tanpa kedua tangannya terpental ke arah Seliari, menggelinding di atas rerumputan dan berhenti di hadapannya.
“Hiii!!”
Gadis naga itu menggigil ketakutan, segera bangun dan melangkah mundur dengan gemetar melihat potongan tubuh gosong tersebut. Wajahnya yang pucat mendongak ke arah sosok malaikat berambut pirang, gemetar di hadapan sosok yang berasal dari dimensi yang lebih tinggi tersebut.
“Ke-Kenapa bisa ... ada malaikat di Alam Jiwa ini?”
“Kenapa? Huh, itu pertanyaan konyol ....” Malaikat itu melayang turun, memijakkan kaki tanpa alasnya di atas rerumputan. Sembari berjalan ke arah Seliari, ia memasang senyum tipis dan berkata, “Dari awal akulah yang menjaga anak ini, dari awal akulah yang menghuni Alam Jiwa ini, dan dari awal akulah yang mengawainya.”
“Si-Siapa kau? Kenapa bisa ... bentukmu ..., wajahmu itu ....”
“Meski telah mengintip ingatan putraku dari tempat ini, engkau masih tak tahu?” Wanita rambut pirang itu menyipitkan mata hijaunya, lalu sembari menatap kesal ia berkata, “Memang ... Ras Naga Agung penuh dengan keangkuhan, begitu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Padahal putraku telah melakukan banyak hal untukmu sampai menyerahkan kepingan emosinya, tapi engkau dari awal sampai sekarang hanya memikirkan diri sendiri.”
“Putramu?” Seliari menatap tajam, merasa wanita rambut pirang di hadapannya itu memang Mavis Luke. Namun saat menatap matanya secara langsung dan merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda pada wanita itu, Seliari langsung sadar bahwa dirinya salah mengira.
“Aku adalah Mavis yang asli, mangsa mengenaskan Monster Iblis yang mengamuk di kota Gahon belasan tahun silam. Seri Intara Hexe menyedihkan yang kepribadiannya rusak setelah menggunakan manifestasi malaikat ....”
Kedua mata Seliari terbuka lebar saat mendengar itu. Dari ingatan Odo, gadis naga itu tahu tentang tragedi kota Gahon dan sekarang yang menjadi Mavis di Dunia Nyata bukan jiwa Homunculus kelima dari seri Intara Hexe, melainkan Proten yang merupakan jiwa purwarupa dari para Intara Hexe.
Meski mengetahui hal tersebut, tetap saja itu tidak masuk melihat jiwa yang seharusnya telah rusak tersebut berdiri di hadapannya dan menggunakan kekuatan malaikat dengan bebas. Gadis naga tersebut kembali melangkah mundur, lalu dengan gemetar bertanya, “Ke-Kenapa bisa? Bukannya jiwa Mavis yang asli itu telah ....”
“Aku memang telah rusak. Namun ....” Langkah wanita itu terhenti, sejenak menundukkan wajah dan berkata, “Bukan berarti jiwaku lenyap. Saat berada di dalam Monster menjijikkan itu, jiwaku ikut terikat di dalam jiwa Odo Luke. Meski dalam kondisi sangat lemah dan rapuh, keberadaanku tetap ada dan seiring berjalannya waktu terus tumbuh sampai sekarang. Menjadi konstruksi dasar yang mengolah ingatan dan sihirnya, menjadi bagian dari jiwa Penguasa Masa Lampau ini.”