
Matahari sudah mulai meninggi, tetapi awan yang menghiasi langit di awal tahun menghalangi cahayanya dan membuat daratan masih terlihat kelabu. Dari dalam panti asuhan Odo keluar, lalu berjalan di halaman dan keluar melewati pagar yang masih terbuka. Sekilas menoleh ke belakang, anak rambut hitam itu menatap datar bangunan itu diselingi hela napas.
“Kurasa mempercayakan semua itu pada mereka tidak masalah .... Yah, lagi pula sekarang ini aku harus mengantarkan ini pada pemimpin kota ini.”
Anak itu memegang sebuah kertas perkamen cokelat di tangannya, sebuah surat pengantar yang akan diberikan kepada Walikota sebelum dirinya mengajukan proposal rencanan. Ia lekas memasukkan kertas perkamen di tangan ke dalam saku, lalu memikirkan kembali apa yang dirinya percayakan pada Julia dan Siska.
Anak itu meminta kedua orang tersebut untuk membagi surat-surat yang telah dibuat dan akan dikirimkan kepada nama-nama pedagang serta instansi yang telah Odo cantumkan pada setiap surat. Anak rambut hitam tersebut tidak mengincar semua instansi yang ada di Wilayah Luke, Ia hanya menyebar secara berpola menggunakan data daftar instansi yang dianggapnya vital dalam momen krusial Kerajaan Felixia yang sekarang akan mengalami keguncangan kekuasaan setelah meninggalnya sang Ratu.
Odo berbalik dan mulai berjalan pergi dari daerah pelabuhan tersebut. Seraya melangkahkan kaki dengan tatapan malas di atas jalan susunan batu yang tertutup salju, anak itu bergumam, “Haah, semoga saja mereka selesai memasukkan surat-surat itu dan menulis nama tujuan sebelum aku kembali ... Yah, kalau aku tidak dapat persetujuan dari Walikota Mylta semua akan percuma juga.” Tatapannya semakin menyipit, terlihat tidak senang dengan apa yang sedang dirinya sendiri lakukan.
Dirinya memang pada awalnya bermaksud ingin meminta Siska menjadi untuk perantara pertemuan. Tetapi saat tahu kalau pihak religius kota pelabuhan dengan pemerintah di tempat tersebut tidak terlalu dekat dan malah renggang, Odo memutuskan untuk memilih mengajukan sendiri surat pengantar proposalnya.
Kembali mengingat apa yang dikatakan Siska seperti, “Pemerintah tidak terlalu dekat pada pihak religius, mereka bahkan tidak memberikan bantuan pada pihak gereja. Pihak pemerintah kota pelabuhan cenderung membantu penduduknya secara langsung karena beberapa alasan dan cara pandang penguasa,” Odo langsung bisa memaklumi hal tersebut. Tetapi, dari itu dirinya haru mengubah beberapa alur rencana karena tidak adanya relasi yang bisa digunakan lagi.
Pemerintah Kota Mylta sekarang melemah karena menurunnya tingkat ekonomi secara drastis sebab terputusnya rute perdagangan dalam satu dekade terakhir. Karena tingkat kepercayaan berkurang drastis sebab perubahan kondisi ekonomi yang mulai turun, maka mereka pihak pemerintah memilih untuk menghentikan bantuan pada pihak religi karena takut akan ancaman semakin kuatnya pihak itu dan akan melebihi kepercayaan penduduk pada pemerintah kota.
“Ini wajar ..., itu masuk akal ..., sangat logis. Tapi ..., jujur mereka tidak tahu kalau pemikiran seperti itu tidaklah sempurna untuk menangani masalah seperti ini. Manusia itu tidak semuanya bergerak secara akal sehat, mereka cenderung akan bertindak mengikuti kata hati dan hasrat, terutama dalam situasi terdesak atau tertekan ....”
Berjalan cukup lama, akhirnya Odo sampai di daerah balai kota yang merupakan tempat berdirinya bangunan-bangunan instansi pemerintahan. Di sekitar balai terlihat danau buatan yang sebagian isinya membeku, pepohonan yang tertutup salju dan sebuah air mancur yang airnya membeku membentuk kristal mengkilat di tengah-tengah tempat tersebut.
Dibangun dengan mengelilingi kota, gedung-gedung instansi yang ada memang lebih megah dari bangunan penduduk lainnya. Semua bangunan tersebut rata-rata memiliki empat lantai, dibangun dari kayu jati kokoh dan dikombinasikan dengan bebatuan besar yang dibentuk menjadi batu bata dan digunakan untuk dinding.
Berdiri di depan sebuah bangunan dengan papan tanda “Kantor Pusat” di depan pintunya, Odo sesaat terhenti dan ragu untuk masuk. Selain sedikit rasa malu masuk ke dalam bangunan yang tidak dirinya kenal, ada juga rasa malas harus menyusun kata-kata untuk meyakinkan Walikota atas proposal yang akan dirinya ajukan.
“Menyusahkan .... Auto Senses, apa kau ada pengaturan supaya bisa melewati ini secara auto? Jujur aku malas sekali ...,” benak Odo.
“Tentu saja ada, tetapi pasti hasilnya tidak sesuai dengan keinginanmu, wahai diriku,” suara sihir pertahanan terakhir menggema dalam kepalanya.
“Ada toh, pengembangan dirimu sungguh praktis, ya. Apa itu kamu ambil dari data pemikiranku?”
“Eh ..., belakangmu ..... Di belakangmu!”
“Hah? Ada apa? Meman—Eh?”
Odo berbalik dan dirinya langsung terkejut melihat seseorang telah berdiri di belakangnya. Saat dirinya sibuk bicara sendiri dengan sihir pertahanan terakhirnya, seseorang tanpa dirinya sudah berdiri cukup lama dan menatapnya dengan mata merah darah.
Perempuan rambut merah bergelombang itu memberikan tatapan datar, memasang ekspresi angkuh dengan sedikit membusungkan dadanya. Meski perempuan itu terlihat dewasa dengan mengenakan gaun berwarna hitam yang sedikit terbuka dan memamerkan kulit pucatnya, tetapi dengan jelas Odo tahu kalau usia perempuan itu masih sekitar belasan tahun saat mengamati parasnya yang sangat muda.
Sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping dan mengangkat dagunya, perempuan berambut merah itu berkata, “Apa Anda Tuan Odo Luke? Kalau benar, berarti anda memang bodoh sekali ..., kenapa orang sepertimu bisa menjadi anak Tuan Dart dan Master Mavis?” Perkataannya tidak mengusik Odo, tetapi ada satu kata yang membuat anak itu sedikit tertarik.
“Master? Kenapa kau menyebut ibuku Master .... Terlebih ..., kau siapa?”
Odo menyipitkan tatapannya. Dalam ingatan anak itu sama sekali tidak ada informasi tentang perempuan yang tiba-tiba menggunjingnya itu. Sedikit menghela napas, anak rambut hitam itu menyadari sesuatu yang mungkin berkaitan tentang perempuan itu.
Sebelum Odo kembali bertanya, perempuan itu berkata, “Kau, ya .... Anda sangat tidak sopan, apa anda tidak mendapat pendidikan sopan santun dan kewibawaan bangsawan? Padahal anak seorang Marquess, tetapi anda ini sungguh .... tidak tahu untung.”
Perkataan perempuan itu kali ini benar-benar membuat bendung emosi Odo bobol. Ia berhenti menyipitkan mata dan menatap datar, lalu berjalan mendekati perempuan yang lebih tinggi darinya itu. Tepat berdiri di hadapan perempuan rambut merah tersebut, Odo langsung mengulurkan tangannya ke leher perempuan itu.
Seketika bulu kuduk perempuan itu merinding sebelum Odo menyentuhnya. Rasa takut, kengerian, dan kesadaran diri kalau sosok di hadapannya jauh lebih superior membuatnya melangkah ke belakang dengan gemetar.
“Hmm, ada apa? Kenapa kau melangkah mundur?” tanya Odo dengan menatap rendah perempuan itu. Sedikit menarik napas dalam-dalam, anak itu bergumam, “Delete.” Ia segera memasang wajah rama dan menghilangkan hasrat membunuhnya yang terpancar kuat. Meski begitu, perempuan rambut merah itu tidak berhenti gemetar. Ia benar-benar sadar kalau dirinya salah memilih orang untuk diajak ribut.
“Jadi, kau siapa? Orang yang tak sopan santun dan tiba-tiba memakiku ini siapa?” tanya Odo seraya sedikit memiringkan kepalanya dan menatap datar.
Perempuan itu terdiam membisu dalam rasa takut. Saat Odo bertanya kembali, “Kau siapa?” tubuh perempuan itu tambah gemetar dan ia menjawab dengan rasa takut, “Sa-Saya Lisiathus Mylta ....” Odo kenal nama marga perempuan itu, Mylta adalah nama dari Kota Pesisir dan merupakan nama dari keluarga bangsawan yang menguasai kota tempat Odo berdiri sekarang.
“Oh, apa kau anaknya Tuan Argo?”
“Ya ....”
Melihat perempuan itu benar-benar kehilangan tingkah arogan dan kesombongan yang dipamerkan tadi, Odo sedikit merasa bersalah karena menakutinya. Dalam persepsi anak rambut hitam tersebut rasa sombong bukanlah hal yang salah, kesombongan adalah salah satu emosi yang berharga, patut untuk dipertahankan.
“Yah, kalau singa yang kehilangan kesombongannya hanya akan tinggal menjadi kucing. Sepertinya aku melakukan hal yang tidak perlu ...,” benak Odo.
“Sebaiknya kau tidak menekan perempuan itu lagi .... Bisa-bisa sifat dan kepribadian gadis itu akan hancur karena apa yang dianggapnya betul benar-benar dibantah oleh keberadaanmu. Kau tahu, bangsawan itu cukup angkuh untuk hidup dengan kesombongan mereka,” kata Auto Senses dalam kepala Odo.
“Yah, kurasa masih untung karena ini pertama kalinya bertamu. Kalau karena ini dia jadi dendam kesumat padaku, itu bisa gawat juga, sih ....”
Mengulurkan telapak tangannya ke depan dengan posisi terbuka ke atas, anak itu berkata, “Engkau tidak perlu takut seperti itu padaku, Nona Lisia. Saya juga tahu tentang sopan santun .... Anda tidak memperkenalkan diri terlebih dulu dan berkata seperti itu, saya hanya membalas perlakuan kasar Nona.”
“Sa-Saya minta maaf atas tindakan tidak sopan ini. Su-Sungguh ..., saya hanya ingin mengetahui kepribadian sang Pembunuh Naga.”
Melihat perempuan itu membungkukkan tubuh dan meminta maaf, Odo hanya menatap datar dengan mata biru gelapnya. Itu bukan berarti Odo langsung percaya dengan perkataan Lisia, tetapi melihat orang lain menunduk seperti itu adalah salah satu kenikmatan bagi anak itu.
Sekilas senyum gelap nampak pada raut wajahnya. Saat Lisia kembali mengangkat kepalanya dan berhenti menunduk, segera Odo memasang ekspresi datar dan tersenyum simpul. “Ngomong-omong, kenapa anda bisa tahu kalau saya Odo Luke?” tanya anak rambut hitam itu dengan ramah.
“Tentu saja dari surat yang anda tunjukkan kepada penjaga di gerbang masuk. Mereka melaporkan kalau ada orang dari Mansion tempat Marquess tinggal datang membawa surat pemerintahan pusat. Saat melihat anda berdiri di depan bangunan, saya langsung tahu kalau anda orangnya ....”
“Hmm, apa saya seterkenal itu?”
“Tentu saja .... Meski tidak semua penduduk kota ini tahu wajah anda, tetapi paling tidak ciri rambut hitam anda sangat mencolok. Keluarga Luke bukannya selalu berambut hitam pekat seperti anda?” Lisia mengangkat jari telunjuk kanannya, kemudian kembali berkata, “Yah, meski dikatakan almarhum Tuan Griad berambut kecokelatan, sih. Tetapi, itu pun warnanya gelap.”
Odo baru mengetahui fakta tersebut. Ia tidak memiliki kerabat yang masih hidup, dan garis keturunan murni Keluarga Luke hanya dirinya dan ayahnya. Karena hal tersebut, Odo sama sekali tidak tahu kalau keturunan Luke selalu terlahir dengan warna rambut hitam. Arsip yang menjadi andalan sumber informasi juga tidak mencantumkan informasi profil tubuh seperti warna rambut.
“Hmm, jadi dari itu Nona meledekku?” tanya Odo dengan nada bercanda.
“Bu-Bukan seperti itu! Saya hanya ingin tahu sifat anda seperti apa .... Itu dari prosedur bernegosia— Maksud saya, banyak orang-orang yang bersyukur karena anda menghabisi Naga Hitam dan menghentikan kemungkinan adanya ekspedisi Dunia Astral ke tiga dan seterusnya ..... Jadinya saya ....”
Sekilas Odo tersenyum ringan melihat tingkah gugup perempuan itu. Sedikit memutar bola matanya ke kiri, anak itu menyadari kalau perempuan di hadapannya tidak segalak yang dirinya kira di awal.
“Ah, begitu rupanya.” Odo mengangguk paham. Tetapi, pada kenyataannya dirinya tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Menarik napas ringan, ia bertanya, “Oh, iya. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan Tuan Argo, Nona?”
“Ayah, ya .... Beliau ... sekarang tidak bisa berangkat dan masih di rumah. Hawa dingin membuat ayah sakit, karena itulah saya berada di sini menggantikannya mengurus beberapa pekerjaan yang bisa saya selesaikan ....”
“Sakit ...?”
Mendengar perkataan terebut, Odo baru sadar kalau perempuan di hadapannya anehnya mengenakan gaun minim dan terbuka di tengah hawa dingin. Itu sangat janggal. Meski Odo sendiri mengenakan pakaian tipis sekarang, tetapi melihat perempuan rambut merah itu juga mengenakan pakaian terbuka itu sangat membuatnya heran.
“Eng ..., ngomong-omong ...., apa Nona pengguna sihir atribut api?” tanya Odo.
“Ya ..., kurang lebih begitu ....” Perempuan rambut merah itu tersenyum tipis. Sedikit memalingkan pandangan, ia melihat ke arah bangunan kantor di belakang Odo.
“Tuan Odo ..., kalau mau berbincang, sebaiknya kita masuk dulu saja. Membicarakan hal penting dengan Ombudsman di luar seperti ini kurasa kurang ada tata keramannya,” lanjut perempuan itu seraya menatap Odo ringan.
“Ombusdman?” Odo sedikit mengangkat alisnya saat mendengar hal tersebut.
“Ya ..., anda pejabat pemerintah yang datang untuk memeriksa kondisi kota ini, bukan? Anda perwakilan dari bidang kemasyarakatan, ‘kan?”
Mendapat pertanyaan seperti itu Odo baru paham mengapa dirinya dianggap sebagai pejabat pemerintah. Surat yang dirinya tunjukkan kepada penjaga gerbang sebelumnya benar-benar membuat kesalahpahaman besar, stempel yang ada benar-benar berfungsi efektif lebih dari yang anak berambut hitam itu harapkan.
“Bukan ..., saya bukan pejabat dari pemerintahan pusat, Nona. Saya datang ke sini hanya untuk mengajukan beberapa proposal,” ucap Odo. Anak itu memasang senyum ramah dan berharap tidak merusak suasana yang ada.
“Bukan? Hmm, apa laporan para penjaga itu salah? Tapi ..., katanya ada Shieal datang dengan anda ke kota ini?” gumam Lisia seraya memegang dagu dengan tangan kanan dan sedikit menundukkan kepala.
“Eh? Apa hubungannya Obudsman dengan Sheial?” tanya Odo penasaran.
“Tentu saja ada .... Mereka ..., para Pelayan Utama yang bekerja di kediaman Marquess Luke itu memiliki wewenang setara dan bahkan lebih tinggi dari pejabat pemerintahan. Dalam struktur pemerintahan bukannya sudah ada? Setelah Marquess dan istrinya, baru mereka para Shieal memegang otoritas tinggi juga .....”
“Eeeh? Pelayan otoritasnya lebih tinggi dari pejabat? Baru tahu aku ...,” benak Odo, ia sedikit menipiskan senyumnya dan terlihat ingin terkejut. Menarik napas dalam-dalam, ia menenangkan diri dan mencerna fakta mengejutkan lainnya itu. “Yah, jelas saja mereka terlihat terlalu menjunjung tinggi gelar Keluarga Cabang itu ...., jadi ini alasannya,” benak anak itu seraya sedikit memutar bola matanya ke samping.
“Kata Tuan Odo tadi, anda ingin mengajukan proposal? Memangnya untuk apa proposalnya?” tanya Lisia.
“Hmmm, itu .... Aku ingin merombak besar-besaran kota ini .....”
“Eh ....?” Lisia benar-benar terkejut bingung mendengar perkataan tersebut. Memang anak di depannya tidak memiliki wewenang seperti itu untuk melakukan perombakkan atau semacamnya. Tetapi saat melihat Odo mengeluarkan sebuah kertas perkamen dan menunjukkan pada dirinya, Lisia hanya bisa menganga karena itu sudah dicap oleh pemerintahan pusat Wilayah Luke
“Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam dan bicarakan ini. Tenang saja, saya jamin pemerintahan kota ini dan keluarga Mylta tidak mendapat dampak buruk .... Yah, malahan aku akan jamin kalian pasti akan mendapat banyak keuntungan di kota ini ....”
Menggulung kembali kertas di tangannya, anak rambut hitam itu tersenyum dengan ekspresi datar penuh rencana. Setelah itu, kedua orang itu pun masuk ke dalam bangunan Kantor Pusat pemerintahan kota tersebut untuk melakukan beberapa pembicaraan.