Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 29: Dari padi yang ditanam pun bisa tumbuh ilalang (Part 01)



 


 


Lalu-lalang penduduk semakin ramai saat Odo dan Fiola mulai memasuki kawasan pasar pada distrik perniagaan kota. Gerbang depan tempat tersebut terletak pada jalan utama yang menghubungkan antara balai kota dan Gereja Utama di arah barat, tepat di dekat jalan utama dan dapat dengan jelas terlihat karena keramaian orang yang keluar masuk dari tempat tersebut.


 


 


Tadi sebelum Odo pergi ke Gereja Utama untuk melakukan pembicaraan, dirinya sempat berjalan melewati jalan yang berhubungan langsung dengan bagian depan pasar. Kembali ke tempat tersebut, masih terlihat keramaian yang seakan sama sekali tidak ada tanda mengurai meski hari sudah semakin sore. Entah itu manusia atau Demi-human, semuanya dengan sistematis melakukan kegiatan perekonomian masing-masing di tempat tersebut.


 


 


Berdiri gerbang masuk pasar yang berada di sekitar pertigaan, Odo sesaat memasang wajah berseri dan menghentikan langkah kakinya di pinggir jalan. “Meski kota terlihat sedikit suram, tapi bagian ini sangat hidup .... Memang ..., pusat perputaran uang akan selalu lebih bersinar dari tempat lainnya,” benak anak itu seraya sedikit menyeringai.


 


 


“Tuan?” Fiola menatap bingung melihat seringai itu.


 


 


“Ah, tanah yang aku beli katanya ada di ujung sana. Ayo kita lihat dulu, Mbak Fiola.”


 


 


Odo kembali melangkahkan kaki dan masuk ke dalam distrik perniagaan. Dengan sedikit rasa heran masih tertinggal dalam benaknya, Fiola mengikuti dan berjalan di samping anak itu. Di daerah pasar tersebut memang benar-benar ramai meski rute perdagangan kota masih tertutup karena tingkat bahaya dari potensi badai salju dan bandit.


 


 


Beragam kedai terlihat di pinggir jalan, bangunan toko pun tidak kalah menarik untuk didatangi. Meski sebagian besar bangunan yang ada di sepanjang jalan terlihat tua, tetapi itu terlihat sangat dirawat dan menjadi tanda bawah pemiliknya masih belum menyerah dengan potensi perubahan yang ada untuk mengeluarkan Kota Mylta dari kondisi ekonomi yang terpuruk.


 


 


Dalam sepanjang jalan di distrik niaga, tidak terlihat kereta kuda atau gerobak lalu-lalang. Itu bukan karena tempat tersebut khusus untuk pejalan kaki, melainkan karena mereka tidak memerlukan hal tersebut sebab tidak ada mobilitas barang yang cukup besar sampai memerlukan alat-alat angkut seperti itu. Kegiatan jual beli yang ada hanya untuk kebutuhan pokok, bentuk barter atau semacamnya, serta transaksi kecil lainnya tetapi dalam jumlah banyak. Benar-benar tidak ada sekala besar dalam kegiatan mereka.


 


 


Meski salju masih turun dengan pelan dan hawa masih dingin, orang-orang dengan pakaian kulit hangat itu tetap melakukan rutinitas jual beli di tempat tersebut. Mereka membeli bahan pokok seperti gandum, daging buruan, atau pun bahan makanan lainnya.


 


 


Seraya berjalan di atas jalan dari susunan batu yang rapat dan tertutup salju, pandangan Odo sempat terpaku pada salah satu sudut tempat tersebut. Itu bukan karena rasa kagum seperti sebelumnya, melainkan terbelalak miris dengan apa yang dilihatnya. Langkah kaki anak lelaki itu terhenti, matanya menatap ke dalam salah satu gang dari toko yang cukup sepi pembeli.


 


 


Dari semua orang yang lalu-lalang di tempat tersebut dan mengenakan pakaian hangat, di dalam gang terlihat sekelompok anak-anak ras Demi-human dari jenis manusia setengah gerbil. Mereka duduk di atas tanah, sangat dekil dan bahkan lebih miris dari gelandangan yang pernah Odo lihat di kehidupan sebelumnya. Mereka hampir mirip dengan setengah tikus, tetapi kecenderungan ras tersebut adalah ketahanan mereka hidup dalam kondisi minim air atau gurun.


 


 


Mereka sama seperti Demi-human lain secara rupa, memiliki tubuh manusia dan pada beberapa bagian terdapat unsur hewan sesuai jenis mereka. Keempat Demi-human dalam gang tersebut persis pada kategori seperti itu, sosok mereka seperti manusia tetapi memiliki ekor, telinga, taring dan cakar seekor garbil.


 


 


Langkah kaki Odo berubah haluan menuju sekelompok Demi-human  tersebut. Melihat mereka berbagi kain kusam untuk penghangat dan api unggun kecil, sekilas raut wajah sedih terlihat pada Odo. Dilihat dari penampilan mereka yang masih kecil dan memiliki rambut krem dengan corak gelap yang mirip satu sama lain, anak rambut hitam itu bisa tahu kalau mereka berempat itu adalah satu keluarga.


 


 


Mengetahui kedatangan Odo, salah satu Demi-human tipe gerbil yang paling besar dan tua segera menyembunyikan anggota keluarganya yang masih kecil ke dalam selimut kain kusam. Ia menatap tajam dengan mata merah, mencicit seakan menandakan permusuhan.


 


 


“Apa kalian imigran gelap dari Kerajaan Ungea?” tanya Odo saat berdiri di hadapan mereka. Tidak menjawab, keempat Demi-human tersebut tambah memberikan respons permusuhan.


 


 


Odo menghela napas ringan, menoleh ke arah Fiola yang menatap tajam keempat Demi-human tersebut. “Mbak, bisa berhenti mengintimidasi mereka seperti itu?” ucapnya dengan nada lesu.


 


 


“Eh? Intimidasi ....” Fiola terlihat bingung, dirinya sama sekali tidak berniat melakukan hal tersebut. Secara insting dirinya memberikan tatapan tajam seperti itu.


 


 


“Apa Mbak Fiola dapat uang dari Bunda?”


 


 


“Emm, saya dapat beberapa koin perak dan emas dari Nyonya. Katanya paling tidak untuk uang saku Tuan Muda. Tapi ..., sep—”


 


 


“Tolong belikan keju dan gading asap di sekitar sini,” potong Odo. Anak itu kembali menatap para Demi-human kumuh itu, lalu berjongkok di hadapan mereka dan mulai tersenyum tipis. “Cepat, ya. Nanti aku ganti kalau Mbak Fiola tidak mau mengeluarkan uangnya, sekarang aku hanya membawa kristal sihir doang ...,” lanjutnya seraya sedikit menoleh ke belakang.


 


 


“Apa Anda berniat menolong mereka? Memangnya apa untungnya? Menolong seperti ini memang memuaskan hati, tapi itu hanya sementara. Me—”


 


 


“Tolong, ya ....” Odo menatap gadis rubah itu dengan datar. Seakan mendapat tekanan dari tatapan senyap yang terasa begitu dalam itu, Fiola mengangguk dan berkata, “Baiklah. Tunggu sebentar, jangan ke mana-mana, ya.”


 


 


“Ya ....”


 


 


Saat Fiola pergi untuk membelikan makanan sesuai dengan yang Odo minta, anak itu kembali menatap keempat Demi-human terebut dengan wajah ramah. Menekan permukaan Gelang Dimensi dan mengaktifkan salah satu Rune di permukaannya, Odo mengeluarkan sebotol Potion dari dimensi penyimpanan.


 


 


Menawarkannya ke mereka, ia berkata, “Minumkan ini pada anggota keluarga kalian yang paling kecil itu ..., dia sedang demam, ‘kan? Kalau dibiarkan begitu, bisa-bisa dia mati kedinginan, loh.”


 


 


Yang paling tua dari mereka menatap tajam, ia tidak percaya dengan perkataan anak itu. Merasa wajar atas reaksi tersebut, Odo kembali mengeluarkan sesuatu dari Gelang Dimensi. Kali ini ia mengambil kain jubah yang di atasnya sudah diberikan struktur sihir untuk memuat suhu hangat secara otomatis. Struktur tersebut menggunakan Ether dari udara dan mengubahnya menjadi Mana untuk aktivasinya.


 


 


Melemparkan itu kepada mereka, para Demi-human itu sempat panik dan mereka mengira kalau anak itu ingin menangkap mereka. Tetapi saat merasakan suhu yang jelas lebih hangat dari kain kusam yang mereka gunakan, keempat Demi-human tersebut menatap bingung Odo.


 


 


Yang paling kecil dari anggota keluarga Demi-human itu berhenti menggigil, merasakan hangat yang terpancar dari kain jubah tersebut. “Hmm, seperinya barang eksperimenku berfungsi seperti semestinya. Jangan sampai ada orang lain tahu benda itu adalah alat sihir jika kalian tidak ingin dapat masalah,” ucap Odo.


 


 


Anak itu meletakkan Potion di depan mereka, lalu bangun dan sedikit menghela napas seraya menoleh ke belakang dengan berharap Fiola cepat datang. “Kenapa Tuan menolong kami?” tanya Demi-human yang paling tua di antara mereka.


 


 


Meski paling tua di keluarga kecilnya, Demi-human tersebut terlihat seperti pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahunan dengan wajahnya. Odo menoleh melihat Demi-human itu yang akhirnya berniat melakukan komunikasi ramah


 


 


Anak itu mengamati dengan cermat dan baru benar-benar melihat keempat Demi-human tersebut. Dari mereka semua, selain yang paling tua lainnya berjenis kelami perempuan—dua di antara mereka memiliki paras wajah sekitar tujuh belas tahunan dan yang paling kecil masih terlihat berumur kurang dari sepuluh tahun. Dari pengamatan tersebut, Odo kurang lebih tahu mengapa bisa Ras Demi-human jenis seperti mereka yang biasa hidup di gurun bisa sampai ke Kerajaan Felixia.


 


 


“Hmm, memangnya kenapa menurutmu?” tanya balik Odo seraya tersenyum kecil.


 


 


“Kami tidak tahu ....” Mereka terlihat bingung, saling menatap satu sama lain, kecuali yang paling kecil dari mereka yang sedari tadi dengan polos menatap ke arah Odo. “Hitam ...,” ucap Demi-human mungil tersebut.


 


 


“He, he .... Rambut Kakak memang hitam,” ucap Odo dengan wajah ceria.  “Apa Adik kecil sedang demam?” tanyanya seraya kembali berjongkok.


 


 


“Eng, kepalaku sakit .... Sesak ....”


 


 


“Kalau begitu, minum ini supaya lekas sembuh ....” Odo mengambil Potion yang tadi diletakkan, lalu menawarkannya kepada Demi-human kecil tersebut. Merangkak keluar dari pelukan keluarganya, ia mengambil botol obat tersebut.


 


 


“Jangan minum ...., nanti ada apa-apanya ....”


 


 


“Barangkali itu rancun ....”


 


 


Kedua kakak perempuan Demi-human kecil itu berbisik-bisik dengan cemas, Odo dengan jelas mendengar itu dan hanya memasang ekspresi wajah kalem tanpa mempermasalahkannya. Yang paling tua di antara mereka mengangguk saat di tatap oleh para anggota keluarganya, lalu memperbolehkan Demi-human kecil itu meminum Potion.


 


 


Demi-human kecil tersebut meminum obat tersebut seperti sedang kehausan, sampai habis dan sampai menjilati moncong botol tersebut. “Enak  ..., rasanya manis,” ucapnya dengan ceria.


 


 


“Itu salah satu obat buatan kakak, dikombinasikan dengan beberapa jenis beri untuk membuatnya mudah diminum .... Jadi, bagaimana kondisimu sekarang, adik kecil?”


 


 


“Hmm, entahlah .... aku tidak tahu. Tapi ... sudah tidak dingin lagi, rasanya ... hangat. Enak! Apa kakak seorang penyihir?” ucap Demi-human kecil itu dengan wajah bingung. Ia bangun, lalu meloncat kecil dengan energik.


 


 


“Hmm, kurang lebih seperti itu. Kalau begitu, boleh kakak minta kembali botolnya? Sebenarnya malah itu yang lebih sulit dibuat olehku ....”


 


 


“Hmm!”


 


 


Demi-human kecil itu mengembalikan botol kaca tersebut kepada Odo. Setelah menyerahkan itu, gadis bertubuh mungil tersebut langsung memeluknya dengan erat. Odo sama sekali tidak enggan meski aroma yang keluar dari tubuh gadis kecil itu tercium tidak sedap, ia hanya sedikit tersenyum simpul dan memasukkan botol ke dalam dimensi penyimpanan.


 


 


Fiola datang membawa kantung anyaman kecil berisi keju dan daging kering yang dibelinya dari toko terdekat. Melihat Odo dipeluk seperti itu oleh gadis Demi-human kecil tersebut dan yang lainnya sudah tidak lagi memberikan tatapan permusuhan, Fiola sempat terkejut dengan tingkat sosialisasi anak berambut hitam itu.


 


 


“Tuan ..., apa yang terjadi?”


 


 


“Oh, sudah dapat makannya.” Odo menoleh, ia sedikit tersenyum simpul dan berkata, “Berapa harganya?”


 


 


“Satu koin perak kecil dan perunggu kecil .... Eh, bukan itu! Kenapa Anda sudah akrab seperti itu ...? Bukanya mereka imigran gelap dan katanya beringas pada penduduk lokal? Kenapa bisa Anda ....”


 


 


“Oh, pasti dapat informasi itu dari Mbak Minda?”


 


 


“Ya ....”


 


 


“Haha!” Odo tertawa kering. “Lebih baik jangan percaya informasi menyangkut Demi-human dari Mbak Minda. Selain anggota Shieal, dia cenderung membenci ras selain manusia,” ucapnya dengan datar.


 


 


Demi-human kecil melepaskan pelukannya pada Odo, lalu segera masuk ke dalam selimut bersama keluarganya saat mendapat tatapan tajam Fiola. Menerima makanan dari Huli Jing tersebut, Odo meletakkannya di depan para Demi-human tipe gerbil tersebut.


 


 


“Tu-Tuan ..., kenapa Anda memberikan ini semua? Bukan hanya memberikan selimut dan obat pada adik kami ..., tapi makanan juga ....” Wajah mereka kecuali yang paling kecil terlihat bingung sekaligus takut, menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal memang bisa menimbulkan rasa seperti itu.


 


 


 


 


“Informasi ...?”


 


 


“Ya, informasi. Sebenarnya Aku adalah calon pedagang di kota ini, karena itu aku ingin informasi. Kalian dari Kerajaan Ungea, ‘kan? Apa imigran gelap seperti kalian masih banyak?” tanya Odo dengan nada ramah. Mendapat alasan jelas dari kebaikan anak itu, mereka mulai berhenti memperlihatkan ekspresi takut dan gelisah.


 


 


Setelah itu, mereka pun mulai berbicara sebagai tanda balas kebaikan Odo. Imigran gelap, mereka biasa ada pada kota-kota pelabuhan. Sebenarnya mereka sama sekali tidak memiliki niat menetap dan menjadi imigran, para Demi-human yang cenderung menjadi pekerja kasar di Kerajaan Ungea itu dibawa oleh saudagar untuk dijadikan buruh angkut dalam perdagangan melalui jalur laut.


 


 


Pada masa sebelum Perdagangan Bebas belum diperlakukan dan Kota Mylta masih dijadikan jalur utama perdagangan, buruh seperti mereka sering keluar masuk selama masa Perang Besar sebagai buruh kasar. Karena telah berakhirnya masa tersebut, para buruh yang statusnya kalau di Kerajaan Unga itu adalah budak ditinggalkan pemiliknya karena bangkrut atau alasan lain.


 


 


Kerajaan Felixia berhenti menggunakan sistem perbudakan saat Raja Gaiel dan Ratu Dalia naik tahta. Setelah Konferensi Keempat negeri terbentuk, sistem perbudakan berhenti sepenuhnya pada Kerajaan Felixia dan para Demi-human yang kebanyakan berasal dari negeri tetangga itu menjadi imigran ilegal karena tidak bisa membeli status warga negara dengan membayar pajak. Memang ada beberapa yang menjadi penduduk tetap dan mendapat status warga negara, tetapi itu sangatlah minim dan bahkan bisa dihitung dengan jari sebab upah miris yang selalu ditetapkan untuk mereka.


 


 


Dari informasi yang Odo dapat dari keluarga Demi-human kecil tersebut, para imigran gelap seperti mereka cukup banyak di Kota Pesisir. Mereka tidak mendapat tempat yang layak dari pemerintahan dan tidak mendapat perlindungan dari Pihak Religi karena bukan berasal dari Kerajaan Felixia. Mereka juga buta huruf, tidak bisa berhitung, dan memiliki standar kehidupan yang rendah.


 


 


Memang secara garis besar Kerajaan Felixia tidak mendiskriminasi Demi-human setelah adanya Konferensi Keempat Negeri, tetapi dengan jelas perbedaan kasta mereka dengan manusia murni tidak bisa dihilangkan dalam masyarakat. Pengetahuan dasar seperti, Demi-human identik pekerja kasar sedangkan manusia memerintah atau pekerjaan yang menggunakan keahlian sudah melekat kuat. Mereka yang bahkan tidak memiliki tanda warga negara berada di posisi rendah dalam hierarki tersebut dan tidak bisa menuntut jumlah upah, hasilnya adalah kehidupan gelandangan yang dimiliki para imigran gelap.


 


 


Mengingat kembali laporan dari insiden di dermaga, selain nelayan jumlah penduduk umum yang ikut ambil adil dalam kasus tersebut juga terdapat beberapa imigran gelap. Kalau ditinjau lagi, Odo merasa kalau hal seperti itulah yang membuat para penduduk merasa tidak puas dengan pemerintahan yang ada.


 


 


Setelah berbincang-bincang kembali dan mendapat informasi lainnya dari mereka, Odo meninggalkan tempat tersebut dan berpesan beberapa hal pada keluarga kecil gelandangan tersebut. Melihat tindakkan anak itu yang ternyata memiliki tujuan yang jelas saat menolong orang lain, Fiola kembali mengoreksi cara pandannya terhadap anak dari majikannya tersebut.


 


 


Kembali menyusuri jalan di distrik perniagaan, tidak butuh waktu lama Odo dan Fiola akhirnya sampai di lahan tanah kosong yang rencananya akan digunakan untuk membangun kantor. Tempat tersebut terletak di luar daerah pasar, tetapi cukup dekat dengan kantor Guild cabang Kota Mylta.


 


 


Tidak ada alasan khusus Odo memilih tanah tersebut, bahkan dirinya tidak diberikan kesempatan untuk itu. Secara sistem jual beli lahan yang ada di Kota Mylta, tanah masihlah milik pemerintahan dan Odo hanya diberikan hak untuk mengolah secara penuh dengan beberapa ketentuan. Setiap bangunan di kota juga seperti itu, lahan mutlak milik pemerintah dan rakyat hanya mendapat hak mengolah. Surat izin yang dibuat Odo berfungsi untuk memberikannya hak untuk mengoperasikan sebuah usaha, itu pun masih dalam ketentuan dan terkena pajak tambahan.


 


 


Di sekitar tanah milik Odo masih belum terdapat bangunan, ia benar-benar mendapat tanah paling ujung dari distrik perniagaan. Tempatnya dekat dengan tembok raksasa yang mengelilingi kota tetapi akses jalannya hanya satu dan harus melewati daerah pasar.


 


 


Melihat lahan tertutup salju yang bahkan belum dibangun fondasi tersebut, Fiola spontan berkata, “Sempit sekali lahannya.”


 


 


Odo seketika melirik tajam mendengar itu. Menghela napas, ia memalingkan pandangan seraya berkata, “Yah, aku tidak berharap banyak dari kemurahan perempuan itu, sih.”


 


 


“Memangnya Tuan Muda membeli ini dengan harga berapa?”


 


 


“Satu Kristal Sihir Kualitas Terbaik.”


 


 


“Eh?! Yang mirip seperti untuk dana Pihak Religi!?” Fiola terkejut. Melihat lahan yang bahkan tidak lebih dari seperlima puluh hektar tersebut, ia sedikit mengerutkan dahinya. “Saya akan protes! Gadis itu pasti korupsi! Bagaimana mungkin cuma dapat ini!” ucap Fiola kesal.


 


 


“Tak usah ..., itu memang perjanjiannya. Lagi pula, ini sudah cukup.” Odo memegang tangan Fiola dan menghentikannya.


 


 


Mengurungkan niat tersebut, Huli Jing itu menatap heran seraya bertanya, “Perjanjian? Tuan waktu bicara dengannya juga mengatakan itu, sebenarnya perjanjian apa yang Anda sepakati dengannya?”


 


 


“Nanti juga tahu ....” Odo balik menatap dan menyeringai kecil. Fiola sedikit kesal mendengar jawaban seperti itu lagi, rasa penasaran membuat wajahnya cemberut.


 


 


“Memangnya bangunan seperti apa yang ingin Anda bangun di tanah sesempit ini?” tanya Fiola sedikit ketus.


 


 


“Sempit? Yah, kalau dibandingkan Mansion yang luas lahannya hampir empat hektar sendiri memang ini sempit kelihatannya .... Ini sudah cukup, kok. Luasnya sekitar 200 meter kubik, dengan pola 10 x 20 meter. Hmm, kalau luasnya seperti ini berarti disainnya ....”


 


 


Odo berhenti menggenggam tangan Fila dan meletakkan tangan kanan ke depan mulut, lalu mulai bergumam sendiri seraya menatap ke arah lahan. Dalam kepala anak itu kalkulasi dimulai secara signifikan, ia mengukur luas hanya dengan penglihatan dan memperkirakan jumlah material yang diperlukan serta disain bangunan. Ruang-ruang yang diperlukan telah terbentuk jelas dalam kepala anak itu, hanya tinggal menyesuaikan ukurannya dengan lahan yang ada.


 


 


“Hmm, memang sedikit kurang .... Kalau bangunan tiga lantai, gudang utama dan ruang penyimpanan lainnya masih kurang,” gumam anak itu.


 


 


“Eh? Tiga lantai?” Fiola terbelalak mendengar itu, kedua alisnya berkedut.


 


 


“Ya ...,” jawab santai Odo seraya tetap memperkirakan bentuk bangunan.


 


 


“Bisa ambruk, loh! Memangnya siapa yang ingin membuat cetak biru bangunannya?”


 


 


“Aku ....” Anak itu menatap Fiola dengan datar, menjawab seakan itu memang adalah ha yang biasa dan wajar.


 


 


“Eh? Tuan Odo juga bisa membuat desain bangunan? Punya ilmunya?” Wajah Fiola terlihat tidak percaya, ia sedikit meremehkan perkataan anak itu.


 


 


“Ya, kurang lebih. Aku bisa meniru desain fondasi perpustakaan di rumah. Desain itu sangat bagus dan kuat, minimalis dan kokoh untuk bangunan bertingkat.” Odo kembali melihat ke arah lahan, lalu membayangkan lagi bentuk bangunan dan memperhitungkannya.


 


 


“Anda bisa membuat yang seperti itu?” tanya Fiola tidak percaya.


 


 


“Hanya meniru .... Aku sangat ahli meniru .... Lagi pula, di perpustakaan juga ada beberapa teknik pembangunan moder— legendaris di sana.”


 


 


“Eng, apa itu autodidak lagi?”


 


 


“Ya ....”


 


 


Suasana sempat senyap sesaat, sedikitnya orang di sekitar tempat tersebut menambah jelas suasana canggung yang terasa sesaat. Memalingkan wajah dengan berat, Fiola menghela napas, lalu berkata, “Bakat Anda banyak sekali, ya. Napas saya sampai sesak tiap kali tahu kelebihan Anda, Tuan Odo.”


 


 


“Tidak juga ....” Odo tidak menoleh dan tetap melihat ke arah lahan. “Aku ... sebenarnya malah tidak punya bakat,” ucap anak itu dengan suara lirih.


 


 


“Terus Anda sebut apa keahlian-keahlian yang Anda miliki itu? Pada usia Anda sekarang, kalau itu bukan bakat apa lagi namanya?”


 


 


Mendengar pertanyaan itu tidak membuat hati Odo senang. Ia menatap dengan lesu, sorot matanya terlihat kesal dan sedikit disipitkan. Itu pertama kalinya Odo dengan jelas memperlihatkan ekspresi tidak suka pada sesuatu di hadapan Fiola secara terang-terangan.


 


 


“Mbak Fiola tidak pernah melihat usahaku, karena itu Mbak Fiola bisa mengatakan itu.”


 


 


“Meski tak pernah, tapi saya tahu perbedaan mana bakat dan usaha .... Apa yang dimiliki Tuan adalah bakat, kenapa Anda bersikeras menolak hal itu?” ucap Fiola. Ia balik menatap datar, lalu kembali berkata, “Saya dengar Anda juga mengatakan hal semacam kesetaraan kesempatan dan bakat kepada Julia saat di panti asuhan biarawati itu .... Saya rasa itu bukan tindakkan bijak berkata seperti itu dan membuat Julia kehilangan rasa percaya dirinya sebagai seorang Shieal.”


 


 


“Apa itu alasan Mbak Fiola menggantikannya?” tanya Odo.


 


 


“Ya ..., karena Anda berkata seperti itu Julia sampai-sampai bicara tidak pantas atau semacamnya. Dia dari dulu memang punya masalah batin seperti itu, jadi tolong jangan jahil padanya ....”


 


 


“Aku hanya mengatakan fakta,” ungkap Odo.


 


 


Fiola menghadap tegas anak itu, lalu menatapnya lurus. Ia mulai menunjukkan rasa tidak suka dengan cara pandang Odo mengenai hal tersebut. Saking kesalnya, telinga rubah yang disembunyikannya dengan sihir transformasi terlepas dan mulai terlihat.


 


 


“Tolong jangan salah memahami yang mana bakat dan mana kerja keras. Anda cerdas, tetapi mengapa tidak paham perbedaan itu?” tanya Fiola dengan nada yang mulai menampakkan rasa kesal.


 


 


“Apa Mbak Fiola berpikir kalau diri Mbak Fiola diberkahi oleh bakat?” tanya Odo seraya balik menghadap tegas Huli Jing tersebut.


 


 


“Tentu saja, diriku sangat diberkahi bakat. Karena itulah diriku adalah Hewan Suci.”


 


 


Mendengar jawaban tersebut, Odo sedikit menghela napas dan memahami cara pandang perempuan rambut cokelat kehitaman di hadapannya. Odo tidaklah keras kepala dan angkuh untuk mengubah cara pandang makhluk yang mendekati kata abadi seperti Fiola, ia sadar kalau cara pandang seperti itu sudah tidak bisa diubah dari Huli Jing tersebut.


 


 


Memalingkan pandangan, anak itu berkata, “Kita sudahi pembicaraan ini, kita lanjutkan kalau ada waktu. Ini sudah sore, ada beberapa tempat yang perlu didatangi lagi.”


 


 


Fiola paham kalau Odo hanya tak ingin membahas masalah seperti itu lagi. Saat melihat sorot mata anak itu yang bahkan tidak berniat menatapnya, ia tahu kalau anak itu benar-benar tidak mau menganggap kalau apa yang dimilikinya adalah bakat, sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.


 


 


“Baiklah .... Tolong maafkan tindakkan lancang saya, Tuan Odo.”


 


 


Fiola menunduk hormat, menunjukkan kepatuhannya pada anak itu. Melihatnya menundukkan kepala setelah pembicaraan tadi, Odo memastikan kalau loyalitas bukanlah jaminan yang bisa menolongnya kelak.


 


 


“Para Shieal memang loyal, tapi itu hanya pada Luke .... Tidak padaku,” benak Odo.