Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 45 : Mutual-Evîn 5 of 10 “Red Rot” (Part 03)



Di dalam hutan cemara, Di’in berlari sekencang sembari mungkin memanggul Ra’an. Mata perempuan rambut cokelat itu berkaca-kaca, benaknya penuh rasa sesal karena salah menerjemahkan perintah Tuannya.


 


 


Ragu Khusus memang dibentuk untuk mengurangi perbedaan pendapat dari para A.I Super Cerdas. Lalu, perintah untuk sabotase diberikan kepada mereka yang tergabung dalam regu tersebut. Di’in mengira kalau dirinya dipilih menjadi pemimpin untuk menyukseskan rencana sabotase tersebut.


 


 


Namun itu salah besar, dirinya dijadikan pimpinan regu dengan anggota dari berbagai fraksi itu bukan untuk tersebut. Setelah melihat gambaran dan rencana apa yang Odo ingin lakukan dengan Rhea, Di’in langsung sadar apa yang telah dirinya lakukan bertentangan dengan tujuan Tuannya.


 


 


“Dia ... benar-benar bukan musuh! Dia tidak boleh dijadikan musuhku! Tuan tidak mengharapkan itu ...! Dia juga ingin mengurangi dampak peperangan sama seperti Tuanku! Lalu ... kenapa aku ...!!”


 


 


Di’in terus berlari dengan berlinang air mata, menyesali perbuatannya karena termakan hasrat untuk berkontribusi besar dan meraih kehormatan sampai ia teledor dan tidak menyadari perintah Tuannya yang pergerakannya sedang dibatasi.


 


 


Ia seharusnya menyadari itu karena Rhea pada dasarnya tidak akan memberikan perintah untuk berperang atau menghancurkan sesuatu. Sebuah sistem untuk Pengembangan Teknologi dan Penelitian, dari itu dengan jelas kalau tidak ada satu pun fungsi Rhea untuk merusak.


 


 


Saat berlari melewati jalan di tengah hutan, Di’in berpapasan dengan kereta kuda yang dikendarai oleh Canna. Matanya bertatapan dengan sang penyihir dari Miquator itu yang duduk di kursi kusir itu dan seorang perempuan rambut biru yang naik di kereta.


 


 


Seketika Di’in merasakan pertanda bahaya dari mereka yang naik di kereta kuda. Ia langsung memalingkan wajah, lalu terus berlari dan mengurungkan niat untuk menjarah alat transportasi mereka.


 


 


««»»


 


 


Struktur sihir Odo kembali aktif bersama kesadarannya yang mulai kembali. Masih memejamkan mata dengan rapat, apa yang dilihatnya adalah susunan struktur lingkaran sihir yang saing terhubung dalam kesatuan Formula Infinity. Terdapat sebuah garis retak besar pada susunan tersebut, partikel-partikel cahaya yang merupakan Mana keluar dari retakkan dan tersebar luas dengan kacau.


 


 


“Menggunakan kekuatan Raja Iblis itu untuk menambal struktur cacatku memang kesalahan fatal. Semuanya tambah rusak ....”


 


 


Odo masuk ke dalam susunan tersebut dengan kesadarannya, memperbaiki lingkaran-lingkaran sihir yang ada dan mengganti beberapa Rune yang sudah tidak bisa digunakan. Namun sebelum seluruhnya selesai, tiba-tiba kesadaran Odo tertarik keluar dan dirinya perlahan membuka mata dengan berat.


 


 


Langit-langit kayu menjadi pemandangan yang pertama kali dirinya lihat saat terbangun di atas kasur lipat yang isinya berasal dari jemari. Odo telanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam panjang. Kedua tangan, kepala, dan pinggangnya diperban dengan kain kasa.


 


 


Melirik ringan ke samping, dirinya langsung paham sedang berada di aula bangunan utama milik Tetua Klista saat melihat para perempuan suku itu merawat orang-orang yang terluka. Segera duduk dan hendak mengangkat tangan kanan, ia baru sadar kalau Vil terbaring lemas di sebelah kasur lipat dan menggenggam tangannya dengan erat.


 


 


Seketika kornea pemuda itu berubah hijau, lalu kembali biru dan mendapat beberapa kesimpulan. Ia paham kalau satu hari beralu sejak kejadian itu, intensitas cahaya yang masuk melalui pintu utama memberitahunya.


 


 


Menatap Vil dengan sorot mata lemas, lalu melihat ke arah orang-orang yang sedang merawat mereka yang terluka, Odo memahami sesuatu karena di antara mereka ada yang mengenakan zirah lengkap namun helm besi dilepas.


 


 


Odo menarik paksa tangannya dari genggaman Roh Agung tersebut. Itu membuat perempuan rambut biru tersebut terbangun, lalu mengangkat wajah dengan cepat dan menatap pemuda itu dengan penuh rasa lega. Air mata bercucuran, mengair membahasi pipi merah perempuan itu dan jatuh ke lantai kayu.


 


 


“Syukurlah .... Akhirnya ... kamu bangun, Odo. Hiks .... Odo ... Odo ....”


 


 


Vil langsung memeluk pemuda itu dan menangi kencang. Suaranya memecah keheningan tempat itu, membuat para Klista melihat ke arah mereka berdua. Namun, rasa cemas Roh Agung itu sama sekali tidak sampai ke hati Odo. Pemuda itu hanya memasang wajah datar saat dipeluk perempuan yang sangat mengkhawatirkannya tersebut.


 


 


Sadar akan keanehan itu, Odo dalam benak merasa, “Ah, benar juga .... Aku tadi sudah membuangnya. Informasi untuk merasakan kehangatan seperti ini ....” Odo balik memeluk Vil. Bukan karena ingin berbagi kehangatan dan memahami rasa cemas perempuan itu, namun hanya karena keharusan.


 


 


Di tengah momen tersebut, Odo terkejut karena melihat orang yang paling tidak diinginkannya ada malah hadir di pemukiman Klista. Duduk bersama para perempuan suku Klista dan merawat mereka yang terluka, sosok dengan rambut merah terang itu menatap ke arah Odo.


 


 


“Lisia ...?”


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut gemetar, diserang rasa bingung harus menjelaskan apa kepada perempuan yang memiliki hubungan erat dengan pemukiman Klista. Namun saat bangun dan menghampiri Odo, perempuan yang mengenakan blus dan bawahan celana ketat dirangkap rok pendek itu langsung sujud tanpa membuat suara.


 


 


Odo bingung melihat itu. Melepaskan pelukan Vil, ia bertanya, “Kenapa ... kenapa kau melakukan itu, Lisia?”


 


 


“Maaf .... Maafkan saya, Tuan Odo.”


 


 


“Kenapa kau malah minta maaf? Aku ... aku tidak bisa melindungi orang-orang di tempat ini!! Seharusnya kau menyalahkanku! Kau menyerapah dan memakiku! Kenapa malah ....”


 


 


Odo benar-benar kebingungan sampai tidak sempat menggunakan kalkulasinya untuk mencari jawaban. Tubuhnya gemetar dipenuhi rasa bersalah, merasa tak pantas mendapat permintaan maaf seperti itu.


 


 


Berhenti bersujud, perempuan rambut merah itu memperlihatkan wajah berlinang air mata. Semua anak buah Lisia yang berjumlah 11 orang mendekat, lalu berlutut kepada Odo di belakang perempuan itu sebagai tanda permintaan maaf.


 


 


Itu benar-benar membuat Odo bingung. Menarik napas dan menenangkan pikiran, ia segera menggunakan kalkulasi dan mencari tahu kenapa orang-orang dari kota Mylta tersebut ada di pemukiman Klista.


 


 


“Apa ... kalian mau pergi ke Rockfield untuk melakukan pertemuan?” tanya Odo.


 


 


Dengan lirih Lisia menjawab, “Ya ..., kami sedang dalam perjalanan ke sana.”


 


 


Jawaban itu memberitahu Odo situasi yang ada. Pertemuan yang hendak dilakukan Lisia dan para anak buahnya itu kemungkinan besar untuk membahas masalah terkait kejadian musim dingin lalu. Kemungkinan besar mereka hendak transit di pemukiman Klista. Namun melihat kondisi desa yang ada, mereka terkejut dan pada akhirnya mendapat penjelasan tentang kejadian dari penduduk.


 


 


Odo sekilas mengingat kembali pembicaraannya dengan Lisia saat masih di Mylta beberapa hari lalu. Memang perempuan itu pernah berkata akan melakukan perjalanan dan akan semakin sibuk dengan beberapa hal.


 


 


“Ah, kurang lebih aku paham apa yang penduduk Klista jelaskan pada mereka,” benak Odo.


 


 


Sekilas ia melirik ke arah Vil dan hendak bertanya tentang rencana untuk menangkap Kolt Luis. Mendapat jawaban dengan gelengan kepala satu kali, Odo memahaminya kalau Lisia belum tahu hal tersebut. Memasang wajah malas dan menaik napas dalam-dalam, pemuda itu sedikit mendongak dengan penuh beban pikiran dan berkata, “Lalu, kenapa kalian meminta maaf?”


 


 


Para prajurit berzirah tanpa helm di belakang Lisia mengangkat wajah mereka. Memasang ekspresi menyesal dan tidak menjawab. Mewakili mereka, Lisia menyampaikan, “Tuan Odo .... Kami ... sebelumnya memeriksa tubuh Anda. Karena pertarungan yang Anda lakukan untuk melindungi tempat ini ..., hampir seluruh struktur sihir Anda rusak dan kemungkinan besar Anda ... tidak bisa menggunakan sihir lagi.”


 


 


Suasana hening terasa, hembusan angin dingin masuk dari luar dan menyusuri kulit mereka seakan mengusik ketegangan yang ada. Memutar bola mata ke samping, Odo hanya terdiam tanpa membalas perkataan Lisia.


 


 


Odo paham mengapa mereka terlihat sangat menyesal. Bagi seorang bangsawan kerajaan Felixia, kehilangan kemampuan untuk menggunakan sihir itu sangatlah berat. Itu sama saja dengan kehilangan masa depan. Bagi mereka yang berada di bawah kepemimpinan Marquess Luke, itu adalah kesalahan fatal karena tidak bisa mencegah hal tersebut. Bagi mereka beberapa nyawa suku Klista tidak sebanding dengan masa depan calon pemimpin, menganggap hal itu terjadi karena keteledoran mereka.


 


 


Seakan tidak memedulikan itu, Odo hanya berkata, “Oh ....”


 


 


Lisia terkejut pemuda itu menganggap remeh masalah yang ada. Bangun dengan rasa kesal dalam benak meluap, ia keras berkata, “Apa Anda benar-benar paham?! Anda tidak bisa lagi menggunakan sihir lagi, loh! Sirkuit sihir yang Anda kembangkan selama ini sudah rusak sepenuhnya!”


 


 


“Kau marah karena itu?” Odo menatap datar.


 


 


“Karena itu ...? Anda ini ...! Apa Tuan Odo benar-benar paham masalahnya?!”


 


 


Perempuan itu benar-benar lepas kendali dan tidak memedulikan kesopanan. Lisia memang merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada Odo, namun dirinya juga marah atas apa yang telah terjadi pada penduduk suku Klista. Menundukkan kepala dan gemetar, ia terdiam dan paham marah pun tidak bisa mengubah fakta yang ada.


 


 


Odo dengan tanpa beban berkata, “Lisia ..., bagiku nyawa penduduk ini lebih berharga daripada struktur sihirku yang telah rusak. Lagi pula ..., aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Aku juga telah gagal.”


 


 


“Apa yang kau katakan! Orang-orang di sini kau anggap apa? Kau berhasil menyelamatkan mereka saat saya tida—”


 


 


“Berapa orang yang mati?”


 


 


“A—!” Lisia tersentak.


 


 


“Dari reaksimu, kau datang sejak kemarin atau tadi malam, ‘kan?”


 


 


“Itu ....”


 


 


“Berapa? Berapa yang mati?”


 


 


Dengan tubuh gemetar, perempuan itu kembali duduk dan menjawab, “Penduduk Klista yang menjadi korban sekitar 14.”


 


 


“Kau tidak menghitung anak-anak dan perempuannya?”


 


 


“Jika ditambah anak-anak dan perempuan, semuanya 27 orang. Lebih dari 2/3 penduduk pemukiman ini ... meninggal dunia.”


 


 


Suasana berubah senyap kembali. Pewaris keluarga Mylta itu memegang bahu kirinya sendiri, menundukkan wajah dengan pucat dan benar-benar menyesal sebagai pemimpin tidak bisa mencegah tragedi tersebut.


 


 


Menatap serius, Odo bertanya, “Setelah ini kau mau melakukan apa, Nona Lisia?”


 


 


“Apa ... maksud Tuan Odo ...?” Perempuan rambut merah terurai itu menatap bingung dengan tubuh gemetaran.


 


 


“Kau punya hubungan dekat dengan pemukiman ini, ‘kan? Kau juga kenal dengan para penduduknya,” usik Odo.


 


 


“Saya ....”


 


 


“Kau tahu yang menjadi dalang tragedi ini orang-orang Moloia, ‘kan?”


 


 


Lisia mengangguk. Perempuan rambut merah itu menatap gentar, lalu menjawab, “Iya .... Saya diberitahu Bibi, katanya yang menjadi dalang dan memanipulasi para bandit adalah orang-orang dari Moloia yang menyusup masuk ke wilayah Luke ini .... Mereka ....”


 


 


“Jadi, kau mau apa setelah ini? Pergi ke Rockfield untuk rapat? Fokus membangun kembali pemukiman ini? Mengejar mereka? Atau melakukan hal tindakkan lain? Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?”


 


 


Lisia menundukkan wajah, tubuhnya gemetar dengan emosi yang meluap-luap dengan keruh. Dengan lirih, ia bergumam, “Mana saya tahu ....”


 


 


“Hah?”


 


 


“Mana mungkin saja tahu!!” Emosi Lisia lepas, ia bangun dan dengan histeris membentak, “Kenapa Anda bisa setenang itu?! Baru saja banyak orang tak berdosa mati dan Anda berkata seakan tidak terjadi masalah besar!! Anda melihat mereka mati, bukan?!! Kenapa Anda bisa setenang itu?!!”


 


 


“Sialan ..., siapa juga yang tenang ....”


 


 


Odo menatap murka. Itu membuat Lisia tersentak, menghapus amarahnya dan memuat perempuan itu menundukkan wajah dengan muram. Odo memaklumi reaksi seperti itu. Bagi Lisia seharusnya penduduk Klista di dataran tinggi Rockfield sudah seperti kerabat. Kehilangan mereka dalam waktu singkat tentu saja sangat membuatnya terpukul.


 


 


Berusaha memberikan toleransi pada hal tersebut, Odo menghapus amarahnya sendiri dan memasang ekspresi tenang. Menatap ringan, ia berkata, “Aku juga bingung harus melakukan apa .... Apa pilihan yang tepat untuk situasi seperti ini? Karena itu aku bertanya padamu.”


 


 


 


 


“Apa maksudmu, Nona Lisia?”


 


 


“Biasanya Anda pasti telah merencanakan semuanya, ‘kan? Hah, Anda selalu saja seperti itu memanipulasi orang lain .... Padahal Anda seharusnya tidak benar-benar peduli dan telah merencanakan semuanya dengan rapi, menggunakan semuanya layaknya bidak.”


 


 


Odo paham perkataan itu keluar dari orang yang sedang terpukul, frustrasi atas apa yang terjadi dan sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya. Tahu pembicaraan tidak akan berjalan ke arah yang tepat jika dilanjutkan, Odo berkata, “Baiklah, terserah kau saja. Kalau Nona Lisia tidak ingin melakukan sesuatu pada orang-orang Klista ini, aku yang akan menanganinya.”


 


 


««»»


 


 


Siangnya di hari yang sama. Pemukiman Klista lebih sunyi dari biasanya, terasa senyap dan benar-benar tidak ada suara canda tawa anak-anak di sepanjang jalan atau gurauan ibu-ibu di teras rumah-rumah.


 


 


Semuanya terasa hening di pemukiman yang telah hangus tersebut. Duduk di atas genteng bangunan utama yang menjadi satu-satunya tempat yang tidak ambruk, Odo menatap datar ke arah bekas kekacauan di bawah.


 


 


Anak buah Lisia terlihat membantu para penduduk Klista untuk membereskan kekacauan yang ada. Di dekat bangunan utama, mayat-mayat orang Klista dengan kondisi mengenaskan dibaringkan berjejer dan ditutupi kain putih dengan sulaman Kamboja khas warna hitam untuk upacara pemakaman. Kebanyakan yang bertugas melakukan persiapan pemakaman adalah mereka yang tinggal bersama Tetua Suku — Mereka dibantu oleh para prajurit untuk mengangkat mayat-mayat.


 


 


Melihat itu pikiran Odo bertambah kacau, merasa semua rencana yang dirinya banggakan tidak berguna sama sekali. Pemuda itu merasa seperti orang naif dan bodoh yang menganggap semua rencana yang dibuatnya pasti akan berhasil, menyesal dan meringkuk di atas genteng.


 


 


“Odo ....”


 


 


Perempuan rambut biru naik dari sisi lain atap. Menoleh dan sadar kalau perempuan itu adalah Vil, Odo tersenyum tipis dengan ekspresi kacau. Tidak berkata apa-apa, ia kembali meringkuk dan memasukkan wajahnya ke sela kedua lutut.


 


 


Vil berjalan tertatih-tatih di atas genteng, mendekat ke Odo dan duduk di sebelahnya. Ia hanya menemani, tidak berkata apa-apa dan menatap ke bawah— Mengamati orang-orang yang menyiapkan pemakaman dengan cara penguburan dengan dibungkus kain tradisional.


 


 


“Vil ..., Nanra dan Canna di mana? Dari tadi aku tidak melihat mereka,” ucap Odo tanpa mengangkat wajahnya.


 


 


“Mereka tidak ada di sini .... Seharusnya kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan. Kamu memberitahu kami soal rencananya dan kami melakukan itu. Apa kamu lupa?”


 


 


Odo mengangkat wajah dan sejenak menghela napas dengan resah, merasa tidak bisa melempar rencana begitu saja dan merenung seperti orang lemah. Dirinya sudah menyeret Vil, Canna, dan Nanra ke dalam masalah, tentu saja dirinya tak bisa kabur begitu saja.


 


 


Melirik ringan, pemuda itu bertanya, “Kalian sudah menangkapnya?”


 


 


“Hmm, kami sudah menangkapnya sebelum orang-orang Mylta itu datang. Canna dan Nanra menyembunyikan orang itu ke dalam hutan.” Vil menatap Odo, menggenggam tangan pemuda itu dan mendekatkan wajah. Dengan nada cemas, ia berkata, “Tolong jangan menanggung semuanya sendirian seperti itu. Kamu bisa membaginya padaku, Odo ... Kamu bisa mengandalkanku untuk hal seperti ini.”


 


 


Perkataan itu keluar dengan tulus, Odo memahaminya dengan jelas. Namun, sayangnya hal seperti itu sudah takkan bisa menyentuh benak pemuda itu. Tersenyum tidak dari lubuk hatinya, Odo berkata, “Terima kasih, Vil .... Aku sungguh lega mengajakmu keluar dari perpustakaan .... Kalau kau tidak ada, mungkin aku sudah melempar masalah ini dan meringkuk acuh.”


 


 


Vil melepaskan tangan Odo, tersenyum ringan dan meletakkan kedua telapak tangannya sendiri ke depan dada. Dengan senyuman lepas kepada pemuda di sebelahnya, ia berkata, “Diriku juga, Odo .... Meski apa yang diriku lihat tidak semuanya hal baik, namun lega rasanya jika berjalan bersamamu. Berbagi pemandangan, saling berbagi masalah seperti ini ....”


 


 


Odo hanya menatap datar, lalu matanya tertuju pada Gelang Dimensi yang dikenakan perempuan rambut biru tersebut. Sekilas dirinya ingin meminta itu kembali. Namun saat melihat ekspresi Vil, ia mengurungkan niat dan memutuskan untuk merelakan gelang itu padanya.


 


 


Menarik napas dan menghembuskannya dengan berat, ia berkata, “Kurasa aku sudah lebih baikkan.”


 


 


“Sungguh?”


 


 


“Mungkin ....”


 


 


Odo bangun, menatap Vil dan mengulurkan tangan kepadanya seraya berkata, “Maaf membuatmu cemas.”


 


 


“Huhuh, kapan kamu tidak membuat diriku cemas. Kamu selalu membuat orang-orang di sekitarmu cemas,” balasnya seraya meraih tangan pemuda itu dan ikut bangun.


 


 


“Hmm, sungguh kali ini aku menyesalinya.” Odo kembali memasang wajah murung, melihat ke arah rumah-rumah yang ambruk dan gosong.


 


 


“Jangan pasang wajah cemberut seperti itu.” Vil mencubit pipi kiri pemuda itu. Menatap dari dekat dan penuh senyuman, ia berkata, “Kamu telah memberi diriku perasaan ini, membuatku bisa kembali tersenyum .... Wajah seperti itu tidak cocok untukmu, Odo. Mari kita tersenyum.”


 


 


Odo meraih tangan kanan Vil, menggenggamnya dengan erat sembari memasang senyuman kaku dan berkata, “Aku akan berusaha ....”


 


 


“Tuh, muram lagi.”


 


 


“Maaf.”


 


 


“Huh, sudahlah.”


 


 


Perempuan itu tersenyum tipis, wajahnya menunjukkan ekspresi sedikit pasrah dengan sifat Odo yang seperti itu. Dengan nada sedikit sendu ia berkata, “Diriku tidak terlalu memaksa, hanya saja jangan pendam semuanya sendirian. Ingat kalau kamu bisa mengandalkanku juga, Odo. Ayo kita turun, kita harus menyelesaikan rencana ini ....”


 


 


“Hmm ....”


 


 


Setelah itu, mereka berdua turun ke teras dan berniat masuk ke dalam bangunan utama untuk bicara dengan Lisia. Namun sebelum sampai di depan pintu masuk, Tetua Suku menghadang mereka. Perempuan bertanduk dengan rambut keperakan dikepang panjang tersebut terlihat berbeda dari sebelumnya, lebih rapi dan mengenakan pakaian adat suku Klista dengan selendang hitam melingkar di bahunya.


 


 


Berdiri dan saling menatap di atas teras kayu dengan tiang-tiang penyangga yang berjejer bersama pembatas, mereka hanya saling menatap dalam suasana senyap. Dua perempuan yang merupakan pelayan Tetua Suku berdiri di belakangnya dan hanya menundukkan wajah, tak berani berbicara atau protektif pada orang yang mereka hormati.


 


 


Menatap datar dan kembali terusik akan perbedaan cara pandang, Odo dengan kasar berkata, “Apa? Kenapa kau berdiri di depanku? Apa ada yang ingin kau bicarakan, Perantara?”


 


 


Tetua Suku tersebut hanya memasang ekspresi datar dan menatap kosong. Sedikit membuka mulutnya, ia dengan lambat berkata, “Aura yang engkau miliki ... berubah lagi, ya. Padahal baru beberapa jam saja, namun dirimu terlihat seperti sudah melewati waktu empat sampai lima hari.”


 


 


Itu terdengar seperti sindiran bagi Odo. Berusaha tidak memedulikan hal tersebut, ia memalingkan pandangan dan melihat rumah-rumah kayu yang hangus. Aroma arang tercium bersama dengan bau daging gosong, begitu menyengat dibawa oleh angin pegunungan.


 


 


Kembali menatap perempuan rambut perak tersebut, Odo tegas berkata, “Roro Nia’an, jujur aku tak suka berbelit-belit .... Kau orang yang punya koneksi dengan mereka yang di atas, ‘kan? Apa kau tadi malam mendapat ramalan lagi?”


 


 


Tetua itu terkejut, menutup mulut dengan lengan longgar pakaiannya dan berkata, “Engkau juga ... punya hubungan dengan mereka?”


 


 


“Aku tidak kenal satu pun dari mereka ....” Sekilas tatapan benci terpancar dari pemuda itu. Berkedip satu kali, itu hilang dengan cepat dan ia berkata, “Dari pada membahas itu, bukannya ada yang ingin kau katakan?”


 


 


“Hmm, benar juga ....” Roro berhenti menutup mulut, menatap lesu dan berkata, “Ini hanya pertanyaan, engkau bebas menjawabnya atau tidak. Engkau ini ... kawan atau lawan para Dewa?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Vil dan pelayan Tetua terkejut, namun Odo sendiri seakan tidak memedulikan hal tersebut dan tetap memasang ekspresi tenang yang terkesan muram. Mengendus malas, pemuda itu berkata, “Entahlah .... Aku tak tahu. Apa hanya itu?”


 


 


“Begitu, ya. Diriku rasa hal seperti itu tak bisa diriku ketahui dengan mudah.”


 


 


“Kalau sudah selesai, boleh aku tanya sesuatu?”


 


 


“Kalau memang diriku ini bisa menjawabnya.”


 


 


“Kenapa ... kau rela menjadi budak takdir?”


 


 


“Eh?”


 


 


Tetua Suku tercengang saat mendapat pertanyaan frontal terebut. Itu seakan menusuk dadanya, penggunaan kata yang tidak diperhalus itu memang sangat tepat untuk Roro Nia’an yang selalu mengikuti kekuatan ramalannya dan tak pernah benar-benar berusaha melawan ketentuan.


 


 


Sebelum Tetua itu menjawab, Odo kembali bertanya, “Kau bisa meramal, ‘kan? Kau sudah tahu kalau kejadian ini akan terjadi? Lalu kenapa kau tidak melawan?”


 


 


Roro mengerti pemuda itu marah karena hal itu. Layaknya hamba yang taat dan menerima takdir, ia dengan ringannya berkata, “Kita di dunia ini hanyalah makhluk yang lemah, tak selayaknya ketentuan langit ditentang. Engkau tahu, kita takkan bisa melawan ketentuan alam, layaknya kita tak bisa mencegah bencana.”


 


 


“Lalu ... kenapa kau masih hidup?”


 


 


“Itu ... karen—”


 


 


“Karena aku menyelamatkanmu?” potong Odo. Pemuda itu menatap tajam penuh amarah dan kembali berkata, “Yang benar saja ...! Aku tidak menyelamatkan pengecut sepertimu ...!” Tubuhnya gemetar menahan amarah, tangan mengepal dan seakan ingin menghajar perempuan di hadapannya


 


 


“Namun tetap saja diriku memang berhutang nyawa padamu.”


 


 


Itu membuat Odo tersentak, hal tersebut memang fakta yang tidak terelakkan. Sedikit terdiam dan merenung, pemuda itu kembali bertanya, “.... Kenapa kau tidak melawan? Padahal kalau kau setidaknya mengarahkan orang-orangmu itu untuk pergi dari pemukiman beberapa jam saja, mungkin aku bisa punya waktu dan korban tidak jatuh sebanyak ini.”


 


 


“Wahai keturunan sang pemuda dari Lucania, mengapa kau begitu memedulikan penduduk tempat ini? Seharusnya engkau pernah singgah di tempat ini hanya sebentar saja, bahkan engkau tidak banyak bertukar kata dengan orang-orang suku Klista. Kenapa engkau sampai seperti itu peduli ...?”


 


 


“Kau seharusnya tahu apa yang dirasakan oleh orang yang memiliki pengetahuan lebih dari yang lainnya.” Odo menghela napas, sedikit memasang wajah kesal dan berkata, “Saat tahu kejadian buruk akan terjadi dan tidak bisa mencegahnya, itu seakan yang membuat kejadian buruk itu adalah diriku sendiri.”


 


 


“Diriku rasa bisa memahami hal tersebut .... Diriku juga merasa sangat menyesal melihat mereka meninggal seperti itu. Setiap yang hidup punya cara kembali yang sesuai, bukan dengan cara keji seperti itu.”


 


 


Sekilas Odo melihat mata Tetua Suku tersebut berkaca-kaca. Paham kalau memang perempuan di hadapannya masih memedulikan orang-orang yang melayaninya, Odo memasang senyum sedih dan bertanya, “Tetua Klista, sebagai orang yang pernah menyelamatkanmu, boleh ku minta satu hal?”


 


 


“.... Apa pun itu, diriku akan berusaha memenuhinya. Sebutkan, pemuda ....”


 


 


“Jika kau meramalkan tragedi lagi, kumohon padamu ... lawan itu! Lawan sampai titik darah penghabisan dan peras pikiranmu sampai habis. Tolong ... jangan menyerah semudah itu. Kau tahu, aku ... di sini juga berusaha mati-matian.”


 


 


Tetua Suku itu hanya terdiam, tidak menjawab jelas dan sekilas memejamkan mata. Setelah itu, Odo segera menggandeng Vil dan berjalan maju setelah diberikan jalan oleh mereka. Sekilas melirik, Roro, sebagai Perantara dirinya tahu kalau pemuda itu kelak akan mengiring orang-orang yang mempercayainya untuk melawan Langit.


 


 


Namun bukan berarti dirinya akan mencegah atau melakukan sesuatu. Perantara hanya sebagai penyampai, tidak akan mengubah sesuatu karena memang seperti itulah kodratnya, paling tidak itulah yang Roro percayai sampai dirinya diselamatkan oleh Odo.


 


 


“Engkau tahu, pemuda. Diriku juga masih bingung mengapa sampai sekarang masih hidup dan bernapas di dunia ini,” benak Tetua Suku Klista tersebut.